Limit?
By : cronos01
Cast : Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon
Zhang Yixing/ Wu Yixing
Wu Yifan/ Kris
Huang Zitao
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
Kim Jongdae/ Byun Jongdae
Kim Minseok/ Byun Minseok
Genre : Romance, Angst, Friendship
Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D
Warning : Yaoi, sorry for Typo's. NO Bash! No copy. Don't Like, Don't Read. Simple!
So, Enjoy it!
Chapter 3
Previously…
"Ge, lain kali hati-hati. Kau mengagetkan ku, aku panik melihatmu seperti itu." Ujar Tao.
Kris tertawa dan mengacak surai Tao. "Hm, mianhae."
Dibalik tawa dan senyumnya, hati Kris berujar, "Apakah sudah separah ini? Kenapa terasa sulit sekali saat menelannya."
~LIMIT~
Next…
Waktu berlalu begitu cepat, tadi siang setelah Tao menyuapkan makan untuk Kris, Kris mengajak Tao untuk berjalan-jalan. Namja tinggi itu membawa Tao kesebuah tempat yang mungkin hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya. Sebuah taman yang dipenuhi oleh sekumpulan bunga warni-warni dan terdapat sebuah labirin-labirin yang dipercaya jika kedua pasangan bisa sampai pada titik tengah labirin tersebut secara bersama-sama maka hubungan mereka akan kekal dan lagi ditengah-tengah taman itu, terdapat sebuah air mancur yang cukup besar yang ditengahnya sebuah patung unik membentuk sebuah hati.
Kris mendorong kursi roda Tao untuk mendekati air mancur tersebut.
"Otte? Kau suka?" tanya kris.
Tao mengangguk lucu dan menatap sekelilingnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Kalau gege tidak mengajakku kesini, aku tidak akan tau tempat ini." Tukasnya.
Kris tertawa, "memang tidak banyak yang tau tempat ini, Tao."
Kris, matanya menatap intens wajah Tao yang terkena sinar matahari terbenam, ia menatap setiap titik diwajah namja manis itu. Tak disadarinya, tangannya berjalan menyentuh pipi Tao yang sedikit berisi itu, membuat sang empu sedikit kaget. Tao berjengit, ia menatap kearah Kris dan tersenyum menatap namja yang sangat tampan itu. Tao menggengam tangan Kris yang masih berada di pipinya, ia menatap dalam mata Kris dan tersenyum lembut.
Tao sadar. Ia mulai jatuh cinta. Jatuh cinta kepada seorang namja yang menjadi idaman para wanita, jatuh cinta kepada seorang namja yang datar. Dua hari perkenalan itu sangat singkat tapi entah mengapa Tao bisa sangat yakin terhadap namja yang ada didepannya kini. Segala hal buruk yang sepupunya katakan, Tao rasa itu hanya keparnoan sendiri untuk Baekhyun, buktinya Tao mengenal sosok Kris yang sangat baik dan lembut. Menurut Tao, Kris hanyalah seseorang yang mampu membuka hatinya dan membuka diri kepada beberapa orang, beberapa orang yang membuat namja itu yakin bisa menerima dirinya. Tao lah, Tao lah orang itu.
Tao menjauhkan tangan Kris dari pipinya dan menggenggam tangan itu. Ia dari jauh melihat beberapa pasangan yang keluar dari sebuah labirin dengan wajah kesal tampaknya pasangan itu tidak bisa sampai pada titik tengah labirin tersebut. Tao menatap Kris, ia memberi isyarat pada Kris untuk mencoba tantangan labirin tersebut, sebuah anggukan Tao dapatkan dari Kris. Mereka pun langsung menuju ke labirin tersebut.
Kris dan tao sudah berdiri di pintu masuk labirin yang berbeda. Tao di sisi kiri dan Kris disisi kanan.
"Kau siap, Ge?!" teriak Tao dikarenakan jarak mereka yang cukup jauh.
"Ne. kita masuk bersama-sama ya." Balas Kris berteriak.
Tao mengayuh kursi rodanya dengan sangat bersemangat, ia ingin memecahkan teka-teki mitos ditaman ini, Selain itu, Tao ingin hubungannya dengan Kris kekal. Tao berpikir mungkin ini kekanak-kanakan tapi tidak salahkan kalau ia berharap? Begitu juga dengan Kris, ia berjalan sangat bersemangat, Kris lupa kapan terakhir kali ia bisa sebahagia dan sesemangat ini. Matahari mulai terbenam, lingkungan sekitar taman pun mulai gelap. Kris, dia merasa dirinya sudah mulai lelah namun, ia tetap meneruskan langkah hingga ke titik tengah labirin, Tao berbeda dengan Kris, senyum dan semangat masih terpancar darinya. Tepat saat mereka sudah sampai di titik tengah, lampu-lampu disekitar taman menyala membuat lingkungan taman ini menjadi terang dan sangat romantis.
Tao sudah berada pada pintu tempat di berhasil masuk di titik tengah labirin, begitupula dengan Kris yang dari kejauhan memberikan senyuman samar untuk Tao. Kris berjalan lunglai ke titik tengah labirin, Tao pun mengayuh kursi rodanya menghampiri Kris. Mereka pun bertemu. Kris langsung memeluk Tao. Kris, penyakit itu datang lagi. Dibalik pelukan Tao, Kris menahan sakit yang ada ditubuhnya, namja yang dipeluknya pun sadar. Tao mendengar nafas Kris yang terdengar sangat pendek, ia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah pucat Kris dengan tangannya. Tao memaki dirinya sendiri dalam hati, bodohnya dia. Tao baru menyadari wajah Kris yang pucat dan banyak peluh yang turun dari wajah tampan Kris.
"Ge, gwaenchana? Wajahmu pucat sekali." Tanya Tao dengan nada khawatir.
Kris masih mencoba meredam rasa sakitnya tapi ia tetap mengeluarkan seulas senyum untuk Tao dan dengan lirih ia menjawab, "Hm, gwaenchana. Gege hanya kelelahan saja."
Tao tidak percaya, ia menggeleng dan membawa Kris kedalam pelukannya dan berkata, "Ani, aku tau gege bohong. Keluarkan saja ge, keluarkan saja rasa sakit itu." Air mata sudah mengalir dari pipinya.
Kris melepas pelukan Tao dan pura-pura tertawa tegar. "Gege tidak apa, Tao. Sungguh gege hanya kelelahan." Ujarnya sambil berusaha berdiri kokoh.
Tao tau, Kris hanya tidak ingin ia khawatir. Tao pun berpura-pura untuk percaya, ia menghapus bekas air matanya dan tersenyum.
"Jinjjayo? Syukurlah kalau gege memang tidak apa-apa. Sudah malam lebih baik kita pulang, Ge." kata Tao.
Kris harus segera istirahat, itu yang terpenting sekarang untuk Tao, itu sebabnya ia meminta pulang. Kris mengangguk, ia mendorong kursi roda Tao keluar dari labirin. Mobil sport putih milik Kris pun langsung melaju meninggalkan tempat bersejarah untuk mereka. Ya, mereka berhasil mencapai labirin itu, akan kah kekekalan mendampingi mereka? Hanya takdir yang akan menjawabnya.
~LIMIT~
Baekhyun didepan pagar rumahnya berjalan mondar-mandr sambil meremas tangannya cemas sedangkan, Chanyeol sang kekasih menatap heran padanya. Beginilah Baekhyun jika sudah menghadapi masalah yang ada kaitannya dengan Tao. Panik, emosi dan tidak mau mendengarkan orang lain, itu sebabnya Chanyeol hanya berdiri diam. Baekhyun menjatuhkan tatapannya pada Chanyeol, kekasihnya itu bukannya mencoba mencari Tao malah berdiri diam seperti patung. Baekhyun menghampiri Chanyeol dan memukul bahu bidang kekasihnya.
"Auw! Yak, Baekhyun, kenapa kau memukul ku, eoh?"
"Kau segala bertanya lagi. Mana perhatianmu sebagai calon kakak ipar? Kau keliling lah, mencari Tao. malah diam berdiri. Kau ingin ku putuskan?"
Chanyeol menghela nafas, mencoba meredam emosinya. Jika kekasihnya tidak semanis Baekhyun, mungkin Chanyeol akan langsung memarahi dan meninggalkan namja itu, sayangnya Chanyeol sangat kecanduan akan pesona Baekhyun, itu yang membuatnya sabar.
"Haish, baekkie kalau pun aku cari, aku tidak tau ia kemana. Lagian kalaupun juga kau memutuskan ku, emangnya kau sanggup menjauh dari kekasihmu yang ganteng dan punya fake smile ini? Aku yakin kau tidak akan mampu, Baek. Tenanglah, Aku punya feeling baik untuk Tao, dia kan pulang sebentar lagi." Ujar Chanyeol.
Ternyata apa yang dikatakan Chanyeol benar, mobil Kris tak lama datang dan berhenti di depan rumah Baekhyun. Baekhyun langsung beranjak dari posisinya, ia melihat Tao dipindahkan ke kursi roda dan tersenyum. Baekhyun memang tidak bisa marah pada Tao tapi, Kris. Baekhyun yakin dalang dibalik ini semua Kris.
Baekhyun menghempaskan kasar tangan Kris yang mendorong kursi roda Tao, ia mengambil alih kursi roda tersebut dan menatap Kris kesal.
"Kau bahkan sudah berani membawanya pergi begitu saja tanpa meminta persetujuan dariku, Kris." Tukasnya.
Kris yang memang sudah sangat lelah, ia hanya mampu menjawab singkat pernyataan Baekhyun."Mianhae."
"Mianhae? memang hanya dengan maaf kau bisa mengembalikan semua? Tao bahkan harus melewatkan terapinya yang pertama." tukas Baekhyun.
Kris kaget, terapi? Kenapa Tao tidak memberitahunya? Kris menatap Tao, Tao pun tidak hanya diam.
"Hyung, aku akan menjelaskannya nanti didalam. Biarkan Kris Ge pulang dulu, ini sudah malam, hyung." ujar Tao.
Baekhyun menghela nafasnya mencoba mengontrol emosi. "Geurae, urusan kita masih belum selesai, Kris. Kau mungkin bisa mempengaruhi Tao tapi kau tidak bisa mempengaruhi ku." Ujarnya lalu membawa Tao masuk kedalam rumah.
Kini tinggal Kris dan Chanyeol. Chanyeol melihat Kris yang hanya memandang nanar kepergian Baekhyun dan Tao. setelah baekhyun benar-benar pergi, Kris menatap Chanyeol. Chanyeol merasa sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja, bibir itu tampak pucat dan juga mata Kris terlihat lebih sayu.
"Kris, hyung. neo gwaechana?" tanyanya.
Kris tersenyum samar. "Hm, gwaenchana. Aku pulang dulu, Chan." Jawab Kris lalu pergi begitu saja.
Chanyeol tidak percaya dengan jawaban Kris, setelah melihat mobil Kris pergi. Chanyeol langsung berlari masuk kedalam mobilnya dan mengejar mobil Kris.
~LIMIT~
"Sekarang jelaskan. Kemana Kris membawamu dan apa saja yang ia lakukan kepadamu?" ujar Baekhyun lembut.
"Kris ge hanya membawa ku jalan ke sebuah taman, hyung. dia tidak melakukan apa-apa. Kenapa kau parno sekali sih, hyung? kris ge itu orang yang baik." Jawab Tao mulai dengan nada yang tinggi.
Baekhyun tertawa mendengar jawaban Tao.
"Kau itu baru mengenalnya dua kali Tao, dua kali. Kau tidak bisa mengambil begitu saja kesimpulan tentangnya." Geram Baekhyun.
Tao tetap pada penderiannya dan untuk pertama kalinya ia membuat Baekhyun bungkam.
"Memang Chanyeol hyung itu orang yang baik? Hyung bahkan sangat menyayanginya. Aku bukan seseorang yang lemah dan mudah terluka, hyung. Aku juga ingin merasakan apa yang hyung rasakan, aku juga ingin berdiri berdampingan dengan orang yang aku cintai. Apa itu salah?" tanya Tao mulai dengan suara yang bergetar.
Baekhyun diam, ia tidak bisa menjawab apapun.
"Hyung tidak bisa menjawabnya kan? Hyung bukan ingin melindungiku. Hanya keegoisanlah yang hyung jadikan pokok utama, bukan melindungiku." Ujar Tao lagi lalu pergi menuju kamarnya.
Baekhyun memandang kosong lantai rumahnya, ia merasa bersalah, ia baru menyadari. Sepupunya itu juga merasakan kesepian, kehadirannya tidak lah cukup dan Baekhyun harus menerima kenyataan itu.
~LIMIT~
Chanyeol mengikuti Kris memasuki parkiran basement apartemen.
"Apartemen? Kenapa Kris hyung pulang kesini?" ujar Chanyeol sendiri.
Chanyeol memarkirkan mobilnya jauh dari mobil Kris, walaupun jaraknya jauh, Chanyeol bisa melihat Kris yang berjalan dengan sangat lemah. Ia memutuskan untuk tetap berada dalam mobil, hingga Kris masuk kedalam gedung. Chanyeol masih terus mengikuti Kris tepat saat beberapa jarak lagi, Chanyeol melihat Kris hampir tumbang dengan cepat Chanyeol keluar dari tempat persembunyiannya dan menopang tubuh Kris. Chanyeol tidak percaya dengan apa yang ada didepannya, sosok yang ada didepan sama sekali tidak seperti sosok yang ia kenal selama 5 tahun belakangan ini. Kris terlihat sangat lemah.
Tanpa berlama-lama Chanyeol langsung membuka pintu apartemen dan membawa Kris ke kamar. Kris sebenarnya masih sadar, ia tau siapa orang yang membantunya tapi seolah Kris sudah tidak memiliki tenaga lagi, ia hanya bisa meringis dan mencoba untuk bernafas dengan normal. Chanyeol mengambil telponnya yang ada didalam kantung celananya dan dengan tangan yang bergetar ia memencet kontak ibunya Kris.
Tak lama Lay datang serta membawa seorang dokter. Lay dan Chanyeol duduk diruang makan apartemen itu dengan cemas, Chanyeol ia hanya memandang kosong meja makan sedangkan Lay ia meremas tangannya. Bunyi pintu dari arah kamar Kris menyadarkan Lay dan Chanyeol. Lee uisa menatap kearah Lay.
"Ah, Chanyeol. Eomma harus berbicara sebentar dengan Lee uisa. Eomma minta tolong kau untuk keluar sebentar." Ujar Lay.
Chanyeol mengangguk dan beranjak keluar, ia berdiri di depan pintu apartemen.
Balik kepada Lee uisa dan Lay. Lay dengan cemas bertanya kepada dokter yang menangani anaknya itu.
"bagaimana keadaaan Kris, Donghae?" tanya Lay.
Lee uisa menghela nafas dan melepaskan kacamata yang ia gunakan, menatap Lay serius.
"Aku tidak menyangka sudah sejauh ini. Fungsi paru-paru Kris mengalami penurunan, itu yang membuatnya mengalami sesak nafas dan mungkin belakangan ini ia sering kesulitan dalam menelan makanan." Jelas Donghae uisa.
Lay menutup mulutnya dengan tangannya, ia kembali menangis.
Dokter Lee tetap melanjutkan penjelasannya. "Memang tidak ada upaya lain, Lay. Penyakit ini memang belum ditemukan obat yang pasti tapi kita bisa memberikannya obat yang bisa membuat virus-virus lain tidak datang ke tubuhnya. Karena sebenarnya kematian untuk penderita AIDS itu berasal dari virus penyakit-penyakit ganas yang datang karena sistem imun penderita AIDS yang lemah."
Mendengar setidaknya ada titik terang untuk Kris, Lay bersemangat walau terlihat sedikit memaksa.
"Berikan, berikan obat itu untuk Kris. Berapapun akan ku bayar. Kau tau itu," Ujar Lay dengan air mata yang masih mengalir.
Lee uisa mengangguk dan berkata, "Aku bisa memberikannya kepada Kris, Lay. Tapi obat ini memiliki efek samping kedepannya. Obat ini membuat Kris cepat sekali lelah dan lagi ia harus melaksanakan transfusi darah setiap minggunya. Kau yakin akan tetap memberikan obat ini untuknya?" tanyanya.
Lay tetap bersikukuh, "Aku tidak peduli, asalkan Kris bisa terus hidup, aku tidak peduli, Donghae"
Lee uisa menghela nafas, "baiklah jika itu keinginan mu."
Chanyeol yang tadinya berdiri didepan pitu apartemen kini ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berdiri, tubuhnya luruh begitu saja dan juga menangis.
~LIMIT~
Chanyeol pagi tadi mendapat telpon dari ibunya Kris agar datang kembali ke apartemen pagi ini. Lay pagi ini memutuskan untuk balik dahulu kerumah, itu sebabnya Chanyeol diminta untuk menemani Kris hingga namja bersurai emas itu bangun.
Namja tinggi berjulukan fake smile itu duduk disebuah sofa yang ada didalam kamar yang sangat luas ini. Kursi itu berada berhadapan dengan ranjang king size milik Kris walaupun sedikit diberikan jarak agar sofa tersebut berdekatan dengan dinding berwallpaper berwarna hitam dengan sedikit corak-corak yang memberikan kesan mewah pada kamar yang sangat luas ini. Kris cukup piawai dalam bermain piano, itu sebabnya sebuah grand piano berwarna putih terletak di sudut pojok kamar.
Chanyeol menatap Kris yang masih tertidur dengan sebuah selang oksigen terpasang, Chanyeol menatap kosong sahabatnya itu, menghela nafas. Chanyeol merasa sangat berdosa, bagaimana mungkin ia tidak tau? Kris bukanlah orang yang suka melakukan tindakan-tindakan yang tidak senonoh, bagaimana Kris bisa mendapat penyakit itu. Chanyeol mengusap kasar wajahnya, bersandar pada sofa dan menutup matanya dengan lengan tangan kanannya, memikirkan apa yang dialami Kris tidak akan pernah ada habis-habisnya, hanya ada satu cara. Bertanya langsung kepada sahabatnya itu tapi Chanyeol tidak ingin menanyakannya sekarang, Chanyeol masih belum bisa kembali dekat dengan Kris dalam waktu dekat ini. Bukan karena penyakit Kris, tapi karena rasa bersalah Chanyeol yang sangat besar.
Tanpa disadari Chanyeol, namja yang berada ditempat tidur itu sudah membuka matanya. Kris tertawa tanpa suara melihat sahabatnya yang dianggap Kris tertidur padahal tidak. Kris mencoba untuk bangun dari posisinya tapi tubuhnya terasa sangat lemas dan juga rasa tidak enak di dadanya masih terasa. Kris merasa terganggu dengan selang oksigen yang dipasangkan untuknya saat ia hendak membukanya suara Chanyeol terdengar.
"Jangan dilepas, kata lay eomma." Ujar Chanyeol padahal Lay sama sekali tidak mengatakan hal itu. Chanyeol berbohong.
Kris langsung mengurungkan niatnya.
"Eomma? Tadi malam dia kesini?" tanya Kris lirih.
Chanyeol mengangguk, "Aku diminta untuk datang karena ia harus balik kerumah sebentar." Singkatnya.
Kris mengangguk mengerti.
Selintas sebuah kejadian tadi alam teringat oleh Kris, ia memandang sahabatnya.
"Chan, kau yang menolongku kemarin malam?"
Chanyeol mengangguk.
"Lalu?" tanya Kris lagi.
"Aku membawa mu ke tempat tidur dan aku menelpon Lay eomma, setelah itu aku pulang." Jawab Chanyeol. Bohong.
"Apa eomma membawa dokter kesini?" tanya Kris mencoba menggali apa saja yang sudah Chanyeol ketahui.
"Aku tidak tau, mungkin iya setelah aku pulang." Jawab Chanyeol seperlunya dan lagi berbohong.
Kris terlihat menghela nafas syukur, menurutnya Chanyeol tidak tahu apa-apa tentang penyakitnya sedangkan Chanyeol, ia memandang Kris dengan—tidak bisa diartikan, hanya saja Chanyeol merasa sahabatnya itu tidak ingin ada orang lain yang tau bahkan ia sendiri.
"Kau tidak kuliah?" suara Kris kembali terdengar.
Chanyeol melihat jam tangannya dan menjawab "Sebentar lagi, aku akan menunggu Lay eomma datang, lalu pergi." Ucap Chanyeol dan berjalan keluar dari kamar Kris.
Chanyeol tidak bisa, ia tidak bisa menganggap Kris baik-baik saja. Berhadapan terlalu lama dengan Kris membuat dirinya semakin merasa bersalah, itu sebabnya ia sedikit lebih datar. Setelah kepergian Chanyeol, Kris tersenyum dan berkata dengan lirih, "Kuharap kau tidak akan tau semuanya hingga akhir."
~LIMIT~
Tao masih belum mau berbicara sampai sekarang. Namja panda itu hanya sibuk melihat jalanan dan mengabaikan Baekhyun. Setelah mereka sampai dikampus pun, Tao masih diam.
"Tao, maaf—"
Tao sama sekali tidak ingin mendengar apa yang ingin Baekhyun katakan, namja itu mengayuh kursi rodanya menuju pintu kampus menjauhi Baekhyun. Baekhyun menghela nafasnya meredam amarah.
Chanyeol tiba-tiba datang, membuat baekhyun yang memang sudah emosi makin emosi.
"Kemana saja kau tadi malam kenapa pergi tanpa pamit?" tanyanya sedikit membentak.
Chanyeol yang memang suasana hatinya sedang tidak baik pun, ikut tersulut emosi.
"Baekhyun, apakah setiap kemana pun aku pergi aku harus memberitahumu? Aku juga punya keperluan sendiri, Baek." Jawab Chanyeol sedikit membentak juga.
"keperluan? Segitu pentingnya kah urusanmu sampai kau tidak pamit pada kekasihmu sendiri?!" teriak Baekhyun.
Chanyeol benar-benar tersulut emosi.
"Jadi sekarang apa mau mu?! Aku bahkan meninggalakn segala hal yang penting, aku bahkan ketinggalan banyak hal karena mu, Baek!" teriak Chanyeol tak kalah.
Baekhyun nafasnya memburu, air mata jatuh, pertama kalinya Chanyeol membentaknya. Dari kejauhan Luhan dan Sehun melihat keributan mereka.
Luhan datang menghampiri dan berkata, "Wae geurae? Baekhyun kenapa kau menangis?" tanyanya.
Sedangkan Sehun ia melihat kearah Chanyeol, sahabatnya itu terlihat sangat marah.
"Chanyeol hyung, wae? Kenapa kau berteriak pada baekhyun hyung."
Chanyeol yang saat ini memang sangat terbebani dengan masalah Kris berpikiran Baekhyun tidak mau mengertinya.
"Susahlah berbicara padamu, Baek. Kau selalu menganggap dirimu benar." Tukas Chanyeo lalu pergi.
Luhan tidak terima, ia berteriak memanggil Chanyeol. "Chanyeol!" namun yang dipanggil sama sekali tidak merespon.
Sehun menggelngkan kepalanya melihat Chanyeol. "Itulah Chanyeol hyung kalau sedang memiliki masalah." Ujarnya.
Baekhyun menggeleng tidak setuju, "Tapi sebanyak apapun masalah yang Chanyeol punya, ia tidak pernah berteriak seperti itu padaku." Tukasnya.
"Chanyeol hyung memang akan menghadapi puncak emosinya, Baekhyun hyung. Jadi bersabarlah, dia bukan tipe orang yang akan marah bertahun-tahun." Jelas Sehun.
Luhan mengangguk setuju. "Sudah jangan menangis lagi. Ini seperti bukan kau Baekhyun. Kau itu suka berteriak bukan menangis."
Baekhyun tertawa dan menghapus airmatanya.
~LIMIT~
Tao sudah mengitari setiap sudut lantai 5 gedung kampus ini, tangannya sudah merasa lelah terus mengayuh kursi rodanya. Ia sudah bertanya kepada beberapa mahasiswa yang ada dilantai 5 ini, apakah ada yang melihat Kris namun, jawaban mereka rata-rata sama, tidak melihat. Tao merasa sangat khawatir. Dipikirannya berbagai macam pertanyaan muncul. Apa Kris sakit? Apa Kris mengalami sesuatu hal? Apa Kris sakit karena membawanya jalan? Kalau memang pertanyaan yang terakhir itu benar, Tao tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Tepat saat Tao ingin mengayuh kursi rodanya ke lift, Chanyeol keluar dari lift tersebut.
"Eoh? Tao?"
Tao langsung dengan bersemangat bertanya pada Chanyeol. "Hyung apa kau melihat Kris ge?"
Chanyeol diam membeku, tak lama ia menjawab dengan gagap. "A—ani, Tao-ya."
Air muka Tao berubah kecewa. "Geurae? Kemana ya dia, apa Kris ge sakit?"
"Sa—sakit? Mollaseo, Tao. Kris tidak menghubungiku." Jawab Chanyeol kembali tergagap karena ia berbohong tidak tau.
Tao menghela nafas sedih. "Aku khawatir sekali dengannya."
Melihat wajah Tao yang bersedih, Chanyeol tidak tega membirkan Tao terus mencari Kris padahal orang yang dicarinya itu memang tidak ada di kampus.
"Kau—ingin ku antarkan ke apartemen Kris?" tanya Chanyeol
"Apartemen? Kris ge tinggal disana?" ujar Tao balik bertanya.
Chanyeol tersenyum dan mengangguk.
"Apa tidak merepotkanmu, hyung?" tanya Tao.
"Gwaenchana. Daripada kau mencari Kris disini mungkin dia memang tidak masuk." Jawab chanyeol
Chanyeol langsung mendorong kursi roda Tao memasuki lift dan mereka langsung berangkat ke apartement Kris.
~LIMIT~
Mobil yang Luhan kendarai berhenti karena lampu merah menyala, tepat saat lampu hijau menyala, Luhan langsung hendak menjalankan mobilnya tapi tiba-tiba seorang namja lewat membuat Luhan mengerem mobilnya dengan mendadak. Beruntung jalanan itu sepi, kalau tidak mungkin sebuah kecelakaan terjadi.
Luhan turun dari mobilnya, ia menghampiri namja yang tadi hamir ditabraknya.
"Jwoseonghamnida, neo gwaenchana?" tanya Luhan kepada namja tersebut
Saat namja itu mengangkat kepalanya, mata Luhan terbelalak.
"Hm, nan gwaechana. Aku yang harusnya meminta maaf." Balas namja itu.
Luhan tertawa.
"Yak, kau orang yang beberapa hari lalu datang ke café ku kan?" tanya Luhan.
Namja itu sedikit bingung, banyak café yang ia kunjungi belakangan ini, jadi café yang mana?
Namja itu bertanya, "Café? Aku terlalu banyak mengunjungi café jadi aku tidak ingat."
Luhan kembali tertawa, "café yang berada tak jauh dari sini. Daerah sini hanya memiliki satu café, ya café milikku." Jelas Luhan.
Namja itu baru ingat, benar orang yang ada didepannya ini adalah orang yang waktu itu melayaninya.
"Bagaimana? Kau sudah ingat?" tanya Luhan.
Namja bermata besar itu mengangguk dan tersenyum.
"Ah, kau mau kemana? Ikut dengan ku saja." Kata Luhan.
Namja itu merasa tidak enak, "Aku ingin pulang, tempatnya sudah tidak jauh kok dari sini, aku tidak ingin merepotkanmu." Jawab namja itu.
Luhan memukul bahu namja tersebut. "Lalu kau ingin berjalan? Sore ini angin kencang sekali tidak baik untuk badanmu yang pendek." Canda Luhan.
"Yak!" malu namja itu.
"Bercanda, ayo aku antar." Kata Luhan.
Namja itu dan luhan pun memasuki mobil. Luhan mencoba mencairkan suasana dengan mengajak namja yang cukup manis itu berbincang-bincang.
"Rumah mu berada di distrik mana?" tanya Luhan
"Ah, aku tinggal di hotel. Tepatnya di Hilton Hotel." Jawab namja itu.
"kau pendatang?" sergah Luhan.
Namja itu tertawa dan menggeleng. "Aku sesungguhnya berasal dari Korea tapi beberapa tahun belakangan aku tinggal diluar negeri karena mengambil studi disana." Jelasnya.
Luhan mengangguk mengerti. "Lalu ada keperluan apa kau di Korea? menjenguk orang tua ya?" tanya Luhan lagi.
Namja itu menggeleng, "Ani, aku harus menemui sahabat kekasih ku. Orang tua ku berada di tempat aku mengambil studi." Jawabnya.
"Hm, begitu… kenapa tidak kekasih mu saja yang menemui sahabtnya?" lagi-lagi Luhan bertanya.
Sontak namja itu diam dan sebuah senyum samar terpancar. "Ia tidak bisa menemuinya."
Luhan mengangguk dan berkata, "Pasti kekasihmu itu orang yang sangat sibuk ya." Canda Luhan.
Namja itu tersenyum miris.
Mobil Luhan pun berhenti didepan sebuah hotel yang sangat terkenal di kota Seoul ini. Namja itu keluar dari mobil Luhan, begitupula Luhan.
"Gomawo, untuk tumpangannya." Ujar namja bermata besar itu.
"Luhan mengangguk dan menyodorkan tangannya di depan namja itu. "Hm, sama-sama. Kita belum berkenalan loh. Aku Xi Luhan." Ujar Luhan.
Namja itu tersenyum dan menyambut perkenalan Luhan sambil berkata, "Nan, Kim Kyungsoo. Bangapseumnida."
~LIMIT~
Chanyeol dan Tao kini sudah sampai didepan apartement Kris.
"Ah, tao. aku harus segera pulang. Baekhyun mencari ku nanti. Kau bisa masuk sendiri kan?" tanya Chanyeol.
Sebenarnya Baekhyun tidak mencarinya bahkan mereka sedang bertengkar, Chanyeol hanya mencoba mencari alasan untuk tidak bertemu dengan Kris, lagipula Chanyeol juga berbohong tidak mengetahui keadaan Kris jadi lebih baik ia pulang.
Tao mengangguk, "Gomawo, Chanyeol hyung." ujarnya.
"Hm, cheonma. Hyung pulang dulu, neee"
Chanyeol kini sudah pergi menjauh dari apartemen Kris, tinggal Tao yang kini berada di depan pintu apartemen. Tao mencoba untuk memencet bel namun, bel itu sangat tinggi, Tao tidak bisa menggapainya, tepat saat ia sudah ingin mencapainya, pintu apartemen terbuka. Menampakan Lay yang membawa sekantung plastik kotoran yang memang hendak ingin dibuangnya.
Tao tersenyum dan membungkuk melihat namja paruh baya itu.
"Annyeong haseyo—" omongan Tao terputus ia tidak tau harus memanggil Lay dengan sebutan apa. Lay yang mengerti tertawa dan tersenyum.
"Eomonie, panggil saja aku dengan sebutan itu." Ujar Lay.
Tao tersenyum dan mengulang perkataan lay, "Tao imnida, Eomonie."
Lay tersenyum senang, namja muda yang ada didepannya ini sungguh lucu tapi melihat namja manis ini menggunakan kursi roda, Lay merasa sedih tapi ia tidak menampakan wajah sedihnya itu.
"Kau teman kuliah Kris ya? Pasti kau mendapat kabar dari Chanyeol kalau Kris sakit. Anak itu memang bandel, imunnya memang sudah tidak baik beberapa hari yang lalu tapi ia memaksakan untuk tetap kuliah. Makanya hari ini eomma memintanya untuk beristirahat." Ujar Lay menjelaskan.
"Sakit?" tanya Tao. Tao menampakan wajah bingungnya. Ternyata Chanyeol sudah tau kalau Kris sakit, lalu kenapa Chanyeol tidak memberi tahunya.
Lay mengangguk.
Lay membuang plastik kotoran tersebut dikotak sampah depan pintu apartemen dan mendorong kursi roda Tao masuk kedalam. ibu Kris itu mendorong kursi roda Tao menuju kamar sang anak.
Dalam perjalan menuju kamar Kris, Lay mengobrol dengan Tao.
"Kris, masih terlalu lemah. Jadi eomma langsung antarkan kau ke kamarnya saja, ne" ujar Lay.
Tao tersenyum mengangguk.
Mereka pun akhirnya sampai didepan kamar Kris. Lay mengetuk pintu kamar Kris.
"Kris, ada teman mu yang datang, nak." Kata Lay.
Tak lama sebuah jawaban dari dalam kamar terdengar, "Ne, eomma."
Lay menunduk kepada Tao.
"Kau ingin eomma antar masuk atau kau masuk sendiri, Tao?" tanya Lay.
"Aku masuk sendiri aja, eomonie." Jawab tao.
Lay mengangguk, "Yasudah, kalau gitu eomma tinggal dulu ya."
Tao mengangguk dan Lay pun langsung pergi meninggalkannya.
Tao menaruh tangannya diengsel pintu kamar Kris, dia gugup tak tau kenapa. Setelah menghebuskan nafas agar lebih tenang, Tao berani membuka pintu itu.
~LIMIT~
Kris menatap kearah pintu dengan terkejut. Tao berada disana sambil tersenyum kearahnya, Kris ingin beranjak turun dari ranjangnya untuk menjempt Tao dari sana tapi Tao menolak.
"Tidak usah, ge. kau berbaring saja." Ujar Tao.
Setelah menutup pintu, Tao mengayuh kursi rodanya ke arah ranjang Kris. Tao hatinya bergetar, namja yang ia cintai tampak sangat lemah. Ini sebabnya Tao merasa tidak nyaman sejak tadi pagi, Kris sakit dan feelingnya benar. Sementara, Kris ia tersenyum pada Tao, beruntung selang oksigen yang tadi pagi dipasangkan kepadanya kini sudah dilepas sehingga, Kris tidak membuat Tao terlalu khawatir.
Tao menggenggam tangan Kris dan menatap namja itu intens.
"Apa yang gege rasakan?" tanya Tao.
"gege merasa sangat baik. Mungkin karena kehadiranmu." Jawab Kris.
Jawaban Kris berhasil membuat Tao tersipu malu.
"Ge, sebenarnya kau sakit apa?" tanya Tao lagi.
Senyum yang tadi merekah di bibir Kris tiba-tiba hilang tapi tak lama Kris kembali tersenyum.
"Hanya demam." Jawabnya.
"Jinjja? Syukurlah." Ujar Tao.
Hening.
Tao mengambil sebuah kotak berbentuk persegi.
"Tao membawakan ini untuk gege."
Kris menatap tao dan mengambil kotak tersebut serta membukanya. Berbagai macam bentuk cokelat dan berbagai rasa terdapat didalam kotak tersebut.
"Coklat?"
Tao mengangguk.
"Gege, pernah mendengar mitos bahwa cokelat bisa menyembuhkan stress kan?" tanya Tao.
Kris mengangguk dan berkata, "hm, tapi gege tidak terlalu mempercayainya. Wae?"
"ah! gege tidak seru…" tukas Tao sambil cemberut membuat Kris gemas melihat ekspresi Tao.
"Wae? Wae?" tanya Kris sambil tertawa.
"Tao percaya dengan mitos itu. Gege tidak serasi ah dengan Tao." ujar Tao.
Kris kembali Tertawa dan mengusap surai Tao.
"Tao, setiap orang itu punya pendapat masing-masing. Kau tidak boleh marah dong. Memangnya apa alasanmu percaya dengan mitos itu, hm?"
Tao merasa senang saat Kris sepertinya tertarik dengan ceritanya, dengan mata berbina-binar Tao mulai bercerita.
"Hm, sebenarnya gak ada alasan khusus, Ge. Hanya saja kalau aku sakit Mama dan baba pasti membelikan aku cokelat. Memang sakitku tidak langsung sembuh sih tapi aku merasa jauh lebih baik kalau makan cokelat. Itu sebabnya aku membawakan gege ini." Ujar Tao panjang lebar.
Kris kembali tertawa, "Yak, Tao. kau ini sebenarnya umur berapa sih? Pikiran mu sungguh polos." Tukas Kris.
"Ih, Gege. Tao gak polos." Sergah Tao.
Tao mengambil salah satu cokelat tersebut dan menyuapkannya ke Kris, Kris dengan senang hati menerima suapan itu.
Mereka bercanda dan tertawa hingga Kris tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Tao, jarak mereka kini tinggal beberapa senti saja namun, Tao sama sekali tidak menjauh dari Kris. Kris menyatukan dahinya dan Tao. Tao merasakan hembusan nafas Kris begitupula dengan Kris. Kris hendak mempertemukan bibirnya dengan bibir Tao, Tao tau apa yang akan dilakukan Kris, membuatnya menutup mata dan menantikan bibir Kris yang akan mengecupnya. Bibir hangat namja tinggi itu sudah bersentuhan dengan bibir kucing milik Tao. tanpa berpikir namja panda itu membalas kecupan Kris, baru sesaat Tao mengecup bibir Kris, namja itu terbatuk. Tao langsung menjauhkan wajahnya dari Kris dan menyentuh pipi namja kurus itu.
"ge, gwaenchana?" tanya Tao panik.
Bagaimana mungkin ia tidak panik, Kris terbatuk-batuk dan Tao dengan jelas melihat namja itu seperti merasa sesak dan kesakitan. Walaupun Kris mengangguk mengisyaratkan ia tidak apa-apa, Tao tetap panik. Namja panda itu meraih segelas air putih diatas nakas dan membantu Kris untuk minum. Tao memang tidak mengerti segala hal yang berhubungan dengan dunia kedokteran, tapi Tao mengerti beberapa hal-hal kecil. Seperti halnya keadaan Kris sekarang, Kris terlihat kesulitan dalam menelan air putih dan nafas Kris saat terbatuk juga terlihat seperti sesak.
Tak lama batuk Kris menghilang, tampak lebih tenang, walau Kris terlihat sangat kelelahan. Tao membantu Kris untuk berbaring.
Dengan tersenyum dan wajah yang lelah, Kris berkata dengan lirih. "Gomawo, Tao."
Tao mengangguk dan tersenyum dan menyelimuti tubuh Kris. Ia menggenggam tangan Kris yang terasa panas.
"Mianhae, Tao." kata Kris dengan wajah penuh penyesalan.
Tao menggeleng, ia tidak ingin mendengar Kris meminta maaf. "Ani, gege tidak salah. Lebih baik gege istirahat. Tao akan temani hingga gege tertidur."
Kris mengangguk dan tak lama ia tertidur karena merasa sangat lelah.
ToBeContinue…
Huuuaaaaa! Author kembali… Chap kali ini ckup panjang, Author harap readers akan puas. By the way, lucu deh baca review2 dari para readers, bikin senyum-senyum sendiri dan ketawa ngebacanya, review kalian tuh manis banget. Gomawo readers,,,,
Nah di cahap ini, ada satu teka-teki yang sengaja author buat supaya beberapa readers penasaran, klo para readers jeli ngeliatnya pasti kalian akan bertanya, hehehe.. oh iya, kalau ada yang temenan sama author bisa invite pin bb author loh, 5736D8EF (mohon digunakan dg sebaik-baiknya ya^^)
Thanks for all viewers, review, followers and give favorite to my fics. I'll do my best. Keep give your opinion and review ne,,,,, Yeorobeun Saranghae
Big thanks and reply for review :
ariviavina6: iya kkamjong udah meninggal, yap benar sekali, itu Kyungie.. Udah next ya, Gomawo reviewnya….
BabyZi: iya benar itu Kyungsoo, iya Kyungsoo janda jadinya, wkwkkw. Author lagi berusaha untuk mencari ide sih, supaya happy ending. Iya dia dis chapt ini udah sadar kok, hehehe.. iya makasih semangatnya, mmuuuahh… gomawo reviewnya…
Guest1: udah lanjut kok, Gomawo reviewnya…
Guest2: iya author pengen buat yg beda soalnya, udh update nih… gwaenchana, yang penting kamu sudah ngasih review kok, Gomawo reviewnya…
ChanKai Love: udah lanjut nih… Gomawo reviewnya…
KTOdult: iya athor usahakan Kris gak mati kok…trima kasih pujiannya, udah lanjut nih…. Gomawo reviewnya..
Kim-Jung-Hyewon: ahhhh, terima kasih pujiannya. Channie belum tau, benar Sehun orang kedua stlah Kris. Iya atho usahakan yaa, klo Kai gak mungkin bangkit lagi kan? Hehe. Iya terima kasih, udah lanjut nih…
Aiko Michishige: udah lanjut nee, arigatou…
Aldif.63: udah lanjut nih.. Gomawo reviewnya…
Celindazifan: iya author lagi cari ide biar Kris gak mati kok celin…. Terima kasih untuk sarannya yaa..
Fa: udah lanjut yaa… Gomawo reviewnya….
LVenge: iya udah meninggal, mian. Ada kok mulai dari chap ini ada pengobatan untuk Kris. Udah lanjut yaaa, Gomawo semangatnya…
And para silent readers…. GAMSAHAMNIDA…. Mohon maaf jika ada salah dalam penulisan nama yaa..
