Limit?

By : cronos01

Cast : Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon

Zhang Yixing/ Wu Yixing

Wu Yifan/ Kris

Huang Zitao

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

Do Kyungsoo

Kim Jongdae/ Byun Jongdae

Kim Minseok/ Byun Minseok

Genre : Romance, Angst, Friendship

Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D

Warning : Yaoi, sorry for Typo's. NO Bash! No copy. Don't Like, Don't Read. Simple!

So, Enjoy it!

Chapter 3

Previously…

"Mianhae, Tao." kata Kris dengan wajah penuh penyesalan.

Tao menggeleng, ia tidak ingin mendengar Kris meminta maaf. "Ani, gege tidak salah. Lebih baik gege istirahat. Tao akan temani hingga gege tertidur."

Kris mengangguk dan tak lama ia tertidur karena merasa sangat lelah.

~LIMIT~

Next…

Namja tinggi bersurai emas atau yang sering dipanggil Kris itu, ia keluar dari kamarnya. Di ruang makan sang eomma yang sedang menyiapakn sarapan pagi tersenyum melihatnya. Kris, namja itu selalu rutin memberikan kecupan paginya untuk Lay, tak terkecuali hari ini. Lay yang ditangannya terdapat sehelai roti tidak bisa membalas pelukan Kris namun, ia balas mencium dahi sang anak. Selesai dengan ritualnya, Kris duduk di kursi makan. Sembari menunggu sang eomma yang menyiapkan sandwich untuknya, namja itu menuangkan susu putih dari dalam teko kedalam gelasnya. Lay bahagia, melihat kris yang sepertinya sudah lebih mendingan, anaknya sudah mulai terlihat ingin memakan sesuatu walau dalam porsi yang sangat kecil, menurut Lay itu cukup. Tiba-tiba Lay teringat dengan namja manis berkursi roda yang datang ke apartemen. Lay duduk dikursi makan dan menatap anaknya yang sedang menyantap sandwich buatannya.

"Kris, namja yang tadi malam itu, Kau menyukainya?"

Mendengar pertanyaan sang eomma, Kris tersedak. Dengan sigap lay menuangkan air putih dan meberikannya kepada sang anak, ia berdiri dan menepuk punggung kurus Kris sementara Kris ia menganggukan kepala memberi kode kalau ia tidak apa-apa. Lay sempat kaget saat Kris sudah tidak lagi tersedak namun, anak laki satu-satunya itu justru tertawa.

"Kris, kau mengerjai eomma ya?" kata Lay dengan wajah yang kesal.

Masih sambil tertawa, Kris menjawab, "Hahaha, eomma. Pertanyaan mu lucu sekali."

Lay dengan wajah yang suram ia kembali duduk dan memalingkan wajahnya dari anaknya yang berparas tampan itu. Melihat sang eomma yang tampaknya marah, Kris berhenti tertawa dan mengenggam tangan Lay diatas meja makan.

"Mianhae, eomma." Ujar kris benar-benar dengan nada bersalah.

Mendengar nada bicara Kris, Lay menatap kepada anaknya itu.

"hm, aku menyukainya, eomma."

"Apa tak apa?" lanjut Kris.

Lay kedua keningnya berkerut membuatnya kerutan di wajahnya terlihat dengan jelas.

"Tak apa, jika kau memang menyukainya, eomma merestuimu. Walaupun dia di kursi roda—dia namja yang manis juga sopan."

Kris menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi makan.

"Bukan—bukan hanya itu, eomma. Apa tak apa aku mencintainya? Waktu ku tak banyak kan, eomma?" tanya Kris, diakhir kalimat terdengar lirih.

Lay menatap mata anaknya itu. Jawaban singkat Lay berikan kepada anaknya.

"Maka jadikan ia salah satu alasan kau untuk bertahan, Nak."

~LIMIT~

Chanyeol ditengah keramaian suasana kantin kampus. Pagi ini, disebuah meja kantin yang menjadi tempat dia dan kawan-kawannya biasa menongkrong, ia tengah sibuk sendiri berkutat dengan laptop berwarna putih miliknya. Bukan mengerjakan tugas melainkan, mencari semua informasi, artikel-artikel mengenai AIDS. Mulai dari gejala, penyebab hingga pengobatan. Membaca semua informasi dari internet, memang harus waspada. Banyak berita yang simpang siur dan tidak tentu kebenarannya, itu sebabnya siang ini setelah ia selesai memasuki kelas, Chanyeol berniat pergi ke perpustakaan.

Namja itu merinding saat membaca semua artikel yang ada di dunia maya, membuat Chanyeol benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa orang seperti Kris menderita penyakit laknat seperti ini? Namja itu membaca satu persatu gejala-gejala penyakit tersebut.

"Lemah?"

"Berat badan berkurang?

"Batuk dan sesak nafas?"

"dan apa ini? Semua gejala tergantung kepada masa perkembangan penyakit itu sendiri. Tidak dalam jangka waktu dekat, penderita juga bisa mengalami gangguan saraf. Membuatnya akan sulit menjalankan aktivitas ringan."

Chanyeol bergumam sendiri. Tiba-tiba sebuah suara yang selama beberapa jam tidak didengarnya terdengar. Sontak Chanyeol langsung menutup laptopnya dan berbalik kebelakang dengan sedikit gugup.

"Baekki?"

Baekhyun melihat ada yang aneh dari sikap Chanyeol tapi saat ini ia tidak ingin membahas itu dulu, ia ingin meminta maaf kepada kekasihnya.

"Channie, mianhae."

"Aku—aku sadar selama ini aku egois kepadamu. Aku tidak sanggup, Chan. Aku tidak sanggup jauh darimu." Lanjut Baekhyun dan langsung berjalan memeluk Chanyeol.

Chanyeol membalas pelukan Baekhyun dengan lembut dan mengusap punggung kekasihnya yang lebih kecil dari punggungnya.

"Aku yang harusnya minta maaf, Baek. Tidak seharusnya aku membentakmu seperti kemarin." Ujar Chanyeol kepada baekhyun yang masih didalam pelukannya.

Baekhyun melepas pelukannya, mengangguk dan tersenyum pada Chanyeol.

"Chan, kau sedang ada masalah?"

Dengan helaan nafas, Chanyeol hanya bergumam mengiyakan.

"Masalah apa, eoh? Kenapa tidak kau ceritakan padaku?"

Chanyeol menatap Baekhyun dan meraih tangan sang kekasih.

"Belum saatnya, Baek. Aku masih harus mengklarifikasi lagi masalah ini."

"Apakah serumit itu?"

Chanyeol mengangguk, "Andai saja aku bisa tau dari awal, tapi aku harap sekarang pun belum terlambat."

Baekhyun mengelus tangan Chanyeol dan tersenyum.

"Aku siap mendengarkan ceritamu, kapan saja, Chan."

Chanyeol membalas senyuman Baekhyun sambil mengusap surai kekasihnya.

~LIMIT~

Setelah sehari ia tinggal menemani sang anak, Lay memutuskan untuk ulang kerumah, walau sesungguhnya hatinya tidak ingin meninggalkan sang anak. Lay turun dari mobil yang dikemudinya dan memasuki rumah. Sedikit kaget saat sebuah suara tegas memanggilnya. Sang suami berada diruangan tengah sedang menonton televisi tapi sepertinya saat melihat kedatangannya, Suho langsung mematikan televisi tersebut. Sang suami bangun dari duduknya, berjalan menghampiri Lay.

"Darimana saja kau? Aku sengaja pulang dari jepang lebih awal agar bisa bertemu denganmu tapi pelayan bilang kau pergi dari malam yang lalu. Kau sudah berani pergi tanpa meminta izin?"

Mendengar nada bicara Suho, Lay menyiapkan mentalnya. Ia tidak mengacuhkan begitu saja, ia justru berbalik dan menatap mata Suho.

"Mianhae, aku ke apartemen kemarin. Anak kita sakit."

Sebuah tawa remeh keluar dari bibir sang kepala keluarga.

"Bukannya dia memang sudah sakit? Sudah berada di apartemen saja masih merepotkan."

Lay murka, ia berjalan kehadapan sang suami dan menatap mata orang yang dicintainya tajam.

"Wu Junmyeon, kau benar-benar sudah buta akan ke eksisanmu, akan kekayaanmu. Dia—anakmu sendiri, kau berani membuangnya. Kenapa tidak kau singkirkan juga aku? Kau seperti orang yang kacang lupa akan kulitnya, Suho."

Suho mendengar kata-perkata yang diucapkan istrinya, tepat saat dikata terakhir, hatinya seperti ditusuk langsung oleh sebuah tombak.

"Kenapa kau tidak menjawab? Kau lupa? Sebelum kau bertemu denganku, apakah kau merupakan orang yang lebih baik dari anakmu? Kau bahkan lebih keji dibanding Kris, Suho. Jadi berhenti—berhenti untuk memikirkan keburukan yang anakmu buat sekarang, mungkin ini merupakan balasan atas dosa yang kau perbuat dulu, Suho."

Sederet kalimat yang terakhir kali ia ucapkan kepada sang suami sebelum melangkahkan kaki pergi. Suho, dengan tangan yang terkepal dan tak dirasakannya segenang air mata hendak keluar dari tampungan, sang empu pun tidak mengerti mengapa ia menangis. Suho berjalan meraih tangan sang istri.

"Lay." Panggilnya namun Lay sudah tidak kuat lagi. Tanpa berbalik ia mengempaskan dengan kasar tangan suaminya dan berlalu pergi.

Setelah kepergian Lay, remote televisi yang tadi ada ditangan kirinya, ia lempar begitu saja.

~LIMIT~

Kris setelah beberapa menit berada diperjalanan akhirnya ia sampai di kampusnya. Dengan wajah yang seperti biasanya, dingin, kaku dan datar. Kris melewati koridor kampus yang sangat megah itu. Tangannya yang sebelah kanan memegang kunci mobilnya dan sebelah kiri beberapa buku skets dan buku-buku tebal bacaannya. Inilah kebiasaan orang-orang yang ada dikampus tersebut, saat melihat namja bak pangeran ini berjalan di koridor, semua orang akan menatapnya dan Kris tidak menyukai itu karena, awalnya ia memang tidak menyukai kemaramaian. Untungnya jurusannya berada di lantai 5 gedung kamus, lantai yang paling sedikit ditemui manusia-manusia karena dilantai itu hanya ada perpustakaan dan ruang-ruang seni.

Saat sudah memasuki lift, raut wajah Kris berubah. Ya, biasa saja. Dingin, kaku itu hanyalah sebuah topeng. Tiba-tiba lift kembali berhenti di lantai 3, Kris kembali memasang wajah dinginnya, tapi ternyata yang masuk hanya Luhan. Kris tersenyum menyapa orang yang sedikit lebih tua darinya itu dan Luhan membalas senyuman pula.

"Kau kemana saja kemarin? Tidak kuliah?"

"Hm, ada urusan."

Luhan tertawa dan memukul bahu orang yang lebih tinggi darinya itu.

"Aku tau kau anak pengusaha terbesar di Korea, itu sebabnya jadwalmu padat." Tukas Luhan.

Dengan wajah yang masih datar, Kris tertawa kecil.

"Ah iya, kemari Jung Seonsaeng mencarimu."

Kris memalingkan wajahnya ke Luhan.

"Jung Seonsaeng? Ada urusan apa dia?"

Kedua bahu Luhan terangkat, "Aku tidak tau."

Setelah keluar dari Lift, Kris langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan sang dosen. Kris mengetuk pintu itu dan tak lama sang dosen menjawabnya dari dalam, Kris langsung membuka pintu besar berbahan kayu mahal tersebut dan masuk. Sebuah ruangan yang cukup besar, disetiap sudutnya terdapat lukisan-lukisan berkelas atas. Warni-warni yang tidak memiliki bentuk pasti, abstrak atau sering disebut lukisan tiga dimensi. Sang dosen yang tadi sedang sibuk membaca diatas meja kayu besarnya, mempersilahkan Kris untuk duduk di disebuah sofa berbau Klasik.

"Luhan hyung, mengatakan seonsaengnim mencariku kemarin. Wae geurayeo?"

Dosen seninya itu menutup buku tebal yang tadi dibacanya, ia berdiri dari King chair nya dan duduk disamping sang murid.

"Kris, kemarin salah satu rekan ku di San Fransisco mengatakan ada kompetisi sekaligus pameran seni lukis. Aku berencana dan mengingkinkan kau untuk mengikuti kompetisi tersebut. Bukankah kau memiliki mimpi seperti itu?"

Kris memandang nanar dosen yang sangat dipatuhinya. Ya, dulu Kris memiliki mimpi untuk mengikutkan semua hasil karyanya pada sebuah kompetisi besar, tapi sejak saat itu. Sejak kejadian buruk itu datang kepadanya, Kris mengubur dalam-dalam mimpi yang baginya hanya sebuah impian bukan kenyataan.

"Jung seonsaeng, mianhamnida. Bukan aku menolak hanya saja—hanya saja aku sudah tidak memiliki keinginan itu lagi. Aku hanya ingin melukis, cukup dengan melukis saja." Tukas Kris dan langsung berdiri dari duduknya, ia membungkukan badannya, menghormati sang dosen dan berlalu pergi.

Saat ia sudah membuka pintu ruangan tersebut, sang dosen memanggilnya.

"Kris, gwaechana jika kau tidak ingin ikut. Tapi izinkan aku untuk memamerkan satu saja lukisanmu, setidaknya anggap saja sebagai perwakilan dari kampus kita."

Mendengar permintaan Jung Seonsaengnim, Kris tidak bisa menolak. Ia membalikan badannya, tersenyum dan mengangguk, mengiyakan permintaan sang dosen. Jung seongsaengnim tersenyum. Kris keluar dari ruangan tersebut.

Di pintu kayu yang bergaya klasik itu, Kris menyandarkan badannya, ia memijit pelipisnya yang terasa sedikit pening. Namja tinggi itu kembali melanjutkan kegiatannya, ia melangkahkan kakinya menuju kelas untuk mengikuti mata kuliah jam pertama, dalam perjalanan dari kejauhan ia melihat namja manis yang tadi malam menjenguknya tengah berada di depan mading kampus, Kris dengan senyum yang merekah ia berjalan menuju namja yang sudah berhasil mengalihkan perhatiannya dan memberikan perubahan bagi dirinya.

~LIMIT~

"Yak! Igo nuguya?" teriak Tao ketakutan saat seseorang tiba-tiba menutup matanya

Ya, Kris lah pelakunya. Ia sengaja menutup mata Tao dengan kedua tangannya. Kedua tangan Tao menyentuh tangan yang menutup mata pandanya itu, ia mencoba mengenali hanya dengan menggunakan instingnya. Tao merasakan sesuatu yang tidak asing, tangan ini tampak sangat besar, jari-jarinya pun kurus, Tao tersenyum saat ia seperti mengenal siapa pelakunya.

"Igo, Kris hyung. matchi?"

Kris tersenyum bahagia, ia menjauhkan tangannya yang menutup mata Tao dan langsung menyambar pipi Tao, menciumnya.

"Selamat pagi, baby."

Sebuah sapaan yang membuat Tao melayang hingga langit ketuju dan sukses membuat wajah Tao memerah seperti buah strawberry kesukaannya. Tao memukul bahu Kris dengan malu.

"Gege! Sebutan apa itu. B—baby?" tanya Tao sambil menunduk masih merasa malu.

Kris berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan namja yang ada di kursi roda.

"Mulai sekarang, gege akan memanggilmu baby." Kata Kris sambil mengelus tangan Tao.

"Baby, mianhae. harusnya tadi malam gege mengantarkan mu pulang." Lanjut Kris dengan nada menyesal.

Tao menggeleng dan tersenyum, pertanda ia baik-baik saja pulang sendiri.

"Gwaenchana, ge. Baekhyun hyung menjemputku kemarin."

"Baekhyun?" tanya Kris memastikan.

Orang yang tadi dibicarakan oleh Kris dan Tao, tiba-tiba muncul.

"Ne, aku yang menjemputnya. Kau sudah baikan?" tanya Baekhyun kepada Kris.

"hm, aku sudah tidak apa-apa. Gomawo, Baek."

Baekhyun memasang wajah sedikit kesal, ia melipat kedua tangannya di dada.

"Harusnya kau yang mengantarnya pulang kemarin, sakit itu bukan alasan." Tukas namja pendek sekaligus manis itu.

"Hyung, sudahlah. Kau ini." ujar Tao memberi nasehat.

"Tao, kau ingin hyung antarkan ke kelas?" tanya Baekhyun.

Tao menggeleng, "Tidak usah hyung, aku sendiri saja."

Baekhyun menghela nafas dan memandang Kris dengan ekor mata. "Kau, jaga dia, Kris." Tukasnya

Kris mengangguk.

~LIMIT~

Di sebuah ruangan yang sangat hening, Chanyeol berjalan sambil sesekali melirik ke petunjuk rak-rak buku yang yang sangat tinggi dan besar. Tangannya yang sebelah kiri, ia masukan kedalam saku celana sedangkan, yang sebelah kanan ia gunakan untuk memegang sebuah kertas berukuran kecil yang ia dapatkan dari petugas perpustakaan itu bertuliskan judul buku yang dicarinya. Tepat saat ia mulai masuk kedalam kelompok rak buku kesehatan, langkah Chanyeol memelan. Dengan teliti ia melihat setiap petunjuk dan akhirnya apa yang dicarinya ia temui. Sebuah rak yang bertuliskan 'Virus/Kesehatan" . Jari-jari Chanyeol menujuk dari atas hingga kebawah, mencari judul buku yang ia cari dan gotcha! Ia menemukannya. Chanyeol mengambil buku itu dan langsung berjalan meninggalkan lorong dan duduk dibangku yang disediakan di perpustakaan.

"ARV?"

"Para dokter sudah menemukan obat untuk penyakit ini tetapi, obat ini masih menimbulkan efek samping. Obat ini memang akan membuat penderita hidup lebih lama walau, nantinya keadaan sang penderita akan jauh dari kesempurnaan?" Chanyeol mengeja dengan hati-hati isi buku tersebut namun saat kata terakhir ia sedikit bingung.

"Jauh dari kesempurnaan?" ujar Chanyeol kembali bertanya, entah pada siapa.

Seseorang tiba-tiba menyentuh bahunya dari belakang membuat Chanyeol langsung membuka majalah musik yang ada dibawah buku yang dibacanya. Dengan cengiran khasnya, Chanyeol membalikan badannya.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Pemilik suara yang berat dan serak, siapa lagi kalau bukan Kris. Chanyeol tersenyum dengan fake smilenya mencoba untuk terlihat tenang didepan sahabatnya itu.

"Aku? Membaca, ya membaca." Jawab Chanyeol sambil pura-pura membetulkan topi yang ia gunakan.

Kris hendak mengangkat buku yang Chnayeol baca namun, dengan sigap Chanyeol langsung mencegah tangan kurus Kris dan berkata, "Ah, hyung. Ini buku musik." Ujarnya.

Kris tertawa seakan melecehkan Chanyeol. "Kau tidak biasanya ke perpustakaan untuk membaca bukannya kau selalu ke perpustakaan untuk berpacaran dengan Baekhyun? Duduk dipojok ruangan perpus dan mencium Baekhyun sampai kakinya tidak kuat untuk berjalan."

Chanyeol meringis mendengar nada bicara Kris yang sinis.

"Manusia bisa berubah, hyung." tukas Chanyeol.

Chanyeol melirik jam tangannya dan mengambil buku yang ia bacanya tadi dan mengapitnya, tetap membuat buku itu tidak dapat terlihat oleh Kris. Chanyeol berdiri dan berkata, "Hyung, aku harus ke bertemu Baekhyun, nanti dia bisa mengamuk. Aku duluan, hyung." ujarnya lalu berlalu pergi.

Chanyeol memutuskan untuk tidak membaca buku itu di perpustakaan, tidak aman baginya untuk membaca buku itu di area kampus, itu sebabnya ia berpura-pura ingin menemui Baekhyun. Kris melihat kepergian Chanyeol dengan keningnya yang bertaut.

"Ada apa dengan anak itu? Aneh." Ujar Kris, sendiri.

~LIMIT~

Dikedua tangan Luhan yang dioenuhi dengan nampn yang isinya beberapa minuman, Luhan dengan lincahnya mengantarkan setiap pesanan tersebut. Meskipun Luhan pemilik café, ia tidak pernah duduk santai untuk melihat pelayannya yang kerepotan mengantarkan hidangan, namja manis berdarah China itu pasti akan turun tangan untuk membantu mereka. Sementara, saat Luhan tengah sibuk mengantarkan hidangan, Sehun menggantikan Luhan di meja kasir.

Luhan tersenyum bahagia saat ia kembali bertemu dengan Kyungsoo. Ya, namja bermata besar itu kembali datang ke cafénya dan memesan hidangan yang sama saat pertama kali Kyungsoo datang.

"Kau datang lagi?" tanya Luhan sambil meletakan minuman yang dipesan Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum dan menjawab, "Iya, kau tau sendiri café yang dekat dari hotel ku ya hanya café mu."

Luhan menaruh nampan yang dibawanya dan duduk di kursi yang ada di hadapan Kyungsoo.

"Jadi bukan karena hidangan café ku yang enak kau datang kesini?" ujar Luhan dengan nada sedih.

"Yak, bukan begitu Luhan. Hidangan yang ada di café mu ini enak sekali, itu juga menjadi alasan kenapa aku mau datang ke café mu lagi." Jawab Kyungsoo.

"Jinjja? Tapi hidangan yang kau pesan selalu sama dengan yang pertama kali kau pesan, kau tidak ingin mencoba yang lain?" tanya Luhan antusias.

Kyungsoo melihat hidangan yang ia pesan , tanpa disadarinya ia tersenyum walau pandangan matanya berkaca-kaca.

"Gwaenchana, ini menu favorite ku." Ujar Kyungsoo setelah beberapa saat diam.

Luhan dan Kyungsoo terus mengobrol, ditemani dengan penyanyi café yang membawakan lagu-lagu romantis. Malam makin larut, setelah hidangan Kyungsoo habis ia melihat ke jam tangannya yang bergaya klasik.

"Ah, Luhan. Ini sudah malam. Aku harus segera kembali ke hotel." Kata Kyungsoo dan mengambil jaket hangatnya yang tadi ia sampirkan di kursinya.

Luhan berdiri dan mengangguk.

"Hm, apa perlu ku antar?" tanya Luhan.

Kyungsoo menggeleng dan berkata, "Ani, aku akan naik taksi saja."

Luhan mengangguk mengerti. "Geurae, hati-hati dijalan, Kyungsoo."

Kyungsoo pun berjalan keluar meninggalkan café sementar, Luhan ia kembali ke belakang café. Ia harus membantu Sehun dan karyawannya membersihkan café.

Sehun yang sedang sibuk dengan piring-piring yang dibersihkan ia menoleh saat melihat Luhan yang masuk.

"Dia siapa, Hannie?" tanya Sehun dengan nada yang sedikit mengintimidasi.

Luhan paham sekali jika nada bicara Sehun sudah seperti itu, ia mendekati sang kekasih dan membantu Sehun membersihkan piring.

"Chingu. Dia hanya temanku, Hunnie." Jawab Luhan dengan nada yang manis.

"Tapi kenapa kau terlihat dekat sekali dengannya?"tanya Sehun tidak percaya.

Luhan tertawa, ia menyandarkan dagunya pada bahu Sehun.

"Aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu. Dia merupakan orang yang beberapa hari lalu datang ke café kita dan dia tinggal di hotel dekat sini. Dia itu merupakan mahasiswa yang mengambil studi diluar, itu sebabnya ia tinggal di hotel." Jelas Luhan panjang lebar.

Melihat Sehun yang hanya diam terpaku, Luhan tertawa.

"Otte? Kau sudah tidak curiga lagi? Dia itu sama halnya dengan Baekhyun dan Tao. Chingu."

Sehun menghela nafas, tampaknya ia terlalu khawatir dan curiga. Sehun mengecup dahi Luhan yang sangat dekat dengan wajahnya sebagai ucapan maaf.

"Bagaimana dengan Kai? Kau sudah dapat info tentangnya?" tanya Luhan sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.

Terdengar helaan nafas dari Sehun.

"Ajik, hanya saja aku menemukan sedikit titik terang walau, titik terang ini juga susah untuk dijangkau."

Luhan penasaran, "Mwoya?"

"D.O. Kau ingat dengannya? d.o adalah kekasih Kai." Jawab Sehun.

"D.O?" Gumam Luhan sambil menatap kekasihnya.

~LIMIT~

Dikediaman keluarga Wu, Lay sedang sibuk menyiapkan makanan untuk Kris, ia memasukan makanan itu didalam kotak-kotak makanan. Begitu banyak jenis makanan yang ia buat lengkap dengan sayur dan buah-buahan. Lay tau anaknya yang berada di apartemen itu akan malas memasak, itu sebabnya Lay membuatkan makanan yang bisa disimpan saja di kulkas supaya jika Kris ingin makan, anaknya tinggal memasukan saja makanan itu kedalam microwave. Handphone nya yang ada diatas meja makan berbunyi, membuat Lay menghentikan pekerjaannya dan mengangkat panggilan tersebut. Nama sang dokter yang merawat anaknya terlihat di layar handphone itu, Lay langsung memencet nada terima.

"Nde, Yeoboseyo, Donghae?"

"Lay, bagaimana dengan keadaan Kris?"

"Dia sudah baik-baik saja. Kris tampak lebih segar kemarin."

Terdengar helaan nafas syukur dari Donghae diseberang sana.

"Syukurlah. Kau sudah berikan obatnya?"

Lay menggeleng, "Ajik. Malam ini, aku akan ke apartemen. Aku akan memberikannya."

"Yasudah. Lay, bisakah besok kau ke rumah sakit? Banyak hal yang harus kita bicarakan."

Lay mengangguk, "Nde, aku akan datangbesok."

"Geurae, ku tunggu besok."

Setelah salam menutup dari Donghae, telepon tersebut terputus. Lay kembali mengerjakan pekerjaannya. Dibalik dinding dapur Suho berdiri sambil melipat tangannya di dada. Kepala keluarga itu mendengar percakapan antara Donghae dan istrinya dari awal. Dengan langkah tenang, Suho keluar dari persembunyiannya. Lay melihat Suho yang tiba-tiba muncul, mencoba tidak menghiraukan sang suami, Lau tetap fokus pada apa yang dikerjakannya.

"Kau akan kesana lagi?"

Lay tetap bungkam, tidak menjawab pertanyaan sang suami.

"Mianhae, aku tidak seharusnya mengekangmu seperti kemarin."

"dan—untuk Kris. Aku titip salam untuk anak itu." Lanjut Suho.

Setelah selesai dengan pekerjaannya Lay beranjak dari dapur dan saat ia sudah melewati sang suami langkahnya berhenti.

"Aku pergi." Singkatnya.

Lay pergi begitu saja meninggalkan Suho yang masih berdiir seperti patung, tangan kanannya mengepal hingga jari-jari tangannya memutih dan hanya menatap nanar kepergian sang istri.

~LIMIT~

Kris memandang kedua orang yang dengan seenaknya masuk kedalam apartemennya. Membawa beberapa belanjaan yang isinya snack-snack ringan. Kris tidak mempermasalahkan belanjaan yang berkantung-kantung itu tapi yang ia permasalahkan adalah kedua namja aneh yang sudah menjadi sahabatnya selama 5 tahun ini menjadikan apartemennya seperti kapal pecah. Beberapa kaleng soda berceceran di lain, makanan-makanan juga berjatuhan membuat apartemennya seperti kandang ayam, beberapa minuman soda yang tumpah di sofa mahal nan mewah itu membuat warna sofa menjadi tidak jelas dan lagi sekarang kedua orang itu dengan seenaknya bermain play station meninggalkan segala kekacauan yang ada.

Cukup, cukup sampai disini kesabaran Kris. Ia berjalan dari sofa dan mencabut kabel yang menyambungkan ke televisinya, membuat televisi itu mati. Dengan wajah yang datar namun, tatapan yang tajam Kris memandang Chanyeol dan Sehun.

"Kalian pulang." Ujar Kris singkat namun terdengar tajam.

Sehun meletakan stick PS nya dan menatap Kris.

"Hyung, biarkan kita menghabiskan malam ini bersama, ne? sudah lama bukan kita bertiga tidak seperti ini." Kata Sehun.

Chanyeol sadar Kris marah dengan keadaan apartemennya yang hancur balau, itu sebabnya Chanyeol harus angkat bicara.

"Kita akan membereskan ini semua, hyung. Kita janji." Ujar Chanyeol.

Kris menggelengkan kepalanya keras dan bertongka pinggang.

"Aku tidak peduli kalian harus pulang!" bentak Kris.

Tepat saat bentakan Kris keluarkan, Lay masuk kedalam apartemen. Kedua mata lay yang sipit itu terbuka lebar. Apartemen anaknya yang kemarin sangat rapi dan bersih kini berubah menjadi seperti kandang ayam. Melihat kehadiran Chanyeol dan Sehun, Lay paham. Ternyata mereka lah yang membuat apartemen ini kacau, tetapi bukannya marah, Lay justru tersenyum.

"Kalian disini?" ujar Lay lembut sambil berjalan menuju ruang makan.

"Kenapa kalian tidak bilang kalau ingin berkunjung, untung eomma membawa makan cukup banyak. Sini, kita makan malam bersama." Lanjut Lay berbicara.

Merasa tidak enak karena keadaan apartemen yang berantakan, Sehun dan Chanyeol berdiri dan menghampiri Lay.

"Eomonie, mianhae. Ini semua memang salah kami, apartemen ini jadi berhantakan karena kami." Ujar Chanyeol sambil membungkuk dan menggenggam tangan Lay.

"Nde, eomonie. Maafkan kami. Kami akan merapihkannya, tapi izinkan kami untuk makan terlebih dulu, eomonie." Ujar sehun tanpa rasa bersalah.

Chanyeol memukul bahu Sehun. Lay tertawa.

"Ne, gwaenchana. Kris juga tidak keberatan kok kalau kalian makan disini. Iya kan Kris?" tanya Lay.

Kris hanya diam berdiri memberikan deathglare kepada Sehun dan Chanyeol, dengan berat hati Kris menjawab, "Nde, eomma."

Mereka pun menghabiskan malam bersama-sama. Chanyeol dan Sehun selalu membuat lelucon, Lay tidak berhenti tertawa sedangkan Kris tetap dengan wajah datarnya walau sesekali ia ikut tertawa. Malam makin larut, Lay menyuruh Sehun dan Chanyeol untuk menginap saja di apartemen meskipun, Kris sempat membantah. Melihat sang eomma yang memohon padanya, Kris tidak bisa menolak. Kini apartemen yang tadinya berantakan sudah kembali rapi, Chanyeol dan Sehun benar-benar mengerjakan tugas mereka dengan baik, bahkan Sehun rela mengepel pada malam hari. Apartemen kini menjadi sangat sunyi, Sehun dan Chanyeol sudah tertidur di sofa. Kini tinggal Lay dan Kris yang masih berada didapur, mereka hanya berbincang berdua.

Lay mengeluarkan sebuah tabung obat dari dalam saku jaketnya, ia menyerahkannya kepada Kris.

Kris mengambil obat tersebut dan berkata, "Igo mwoya, eomma?"

Lay tersenyum, ia menaruhkan tangannya pada meja dan menatap Kris dalam.

"Ini obat yang Donghae uisa berikan padamu."

Kris menggenggam obat tersebut dan menatap sang eomma.

"obat ini memiliki efek samping kan, eomma?" tanya Kris lirih.

Lay menghela nafas, anaknya tampaknya lebih pintar darinya.

Lay mengangguk, ia meraih tangan Kris dan mengelus tangannya anaknya lembut.

"gwaenchana, setidaknya obat ini bisa membuat mu terlindung dari virus-virus diluar sana, Nak. Kau hanya perlu melakukan transfusi sekali seminggu untuk memulihkan tenaga mu karena obat ini membuatmu akan sedikit lemas."

Kris berusaha untuk tersenyum begitupula dengan Lay.

"Kris akan meminum ini untuk eomma." Ujar Kris.

Lay mengangguk mengiyakan.

"Yasudah, ini sudah malam. Lebih baik kau istirahat." Ucap Lay.

Kris mengangguk, ia berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Lay, mencium dahi sang ibu.

"Jaljayo, eomma." Bisik Kris.

Setelah Kris enar-benar menghilang dari pandangannya, Lay yang sedari tadi menahan tangisnya akhirnya pecaha. Air mata jatuh begiu derasnya, namja berkulit putih pucat itu mulai terlihat sesegukan, ia menangkupkan muutnya agar isakan tidak terdengar oleh siapapun.

Sedangkan, Chanyeol yang berbaring diatas sofa disamping Sehun, kedua matanya terbuka. Ya, namja yang memiliki postur tubuh yang besar itu belum terlelap sepenuhnya. Chanyeol, menatap langit-langit apartemen nanar, berkaca-kaca. Ia bangkit dari posisinya dan berjalan menuju dapur. Chanyeol menatap dari belakang orang tua sahabatnya itu, bahu kecil itu bergoyang kecil menahan isakan. Ia berjalan pelan menuju Lay dan mengelus punggung namja paruh baya itu.

"Aku sudah mengetahui semuanya, eomonie." Lirih Chanyeol

Lay, terkejut. Dengan kasar ia menghapus bekas airmata dan berbalik menatap Chanyeol.

"Chanyeol?"

~LIMIT~

Kris didalam kamarnya, ia termenung. Duduk bersandar pada kepala ranjang, tangannya menggenggm tabung obat yang diberikan oleh ibunya tadi. Tersenyum nanar. Terlihat sorotan matanya yang lemah. Bibir kecil itu berkata dengan lirih.

"Kau bahkan tidak bisa hidup tanpa benda-benda ini."

Hening.

"Menyedihkan."

Diakhiri dengan senyum meremehkan diri sendiri. Kris meletakan obat itu dan meraih ponselnya. Ia mencari kontak seseorang yang tadi pagi ia dapatkan. Sebuah senyuman terukir diwajah tampan itu. Sebuah nama kontak.

To : Baby Tao.

Aku tau kau sudah tidur. Tidurlah dengan lelap, cahayaku.

Aku berharap aku akan memimpikanmu, begitupula kau.

-WYF-

Dilain tempat, Baekhyun yang hendak naik keatas kasurnya terhenti saat mendengar bunyi handphone Tao. baekhyun dengan gerakan pelan turun dari kasur yang sudah setengah ia naiki, gerakannya sedikit hati-hahti karena disampingnya sang sepupu sudah terlelap. Saat handphone sepupunya itu sudah berada ditangannya, ia membuka pesan yang masuk.

Baekhyun berdecih.

"Cih, mengirim pesan sebelum tidur dan memberi inisial di bawah pesan?"

"Pasaran sekali. Terlebih lagi, ini teknik lama. Tua sekali."

Baekhyun terus berujar sendiri, ia hendak menghapus pesan yang dikirim oleh Kris namun, saat suara igauan sepupunya terdengar gerakannya berhenti.

"Kris ge, gomawo." Ujar Tao dalam igauannya.

Baekhyun menghela nafas, ia meletakan handphone tersebut kembali. Niatannya untuk menghapus pesan tersebut tidak dijalankannya.

Baekhyun melipat tangannya di dada dan memandang wajah Tao yang tertidur.

"Kalau sudah saling mencintai seperti ini aku bisa apa." Gerutunya di keheningan malam.

TBC…

Yuhuuuuuu! Author kembali,,,,, maaf ya updatenya lama, soalnya kemarin pas hari raya lebaran, author gak sempet buat update padahal chap ini udh diketik tinggal di post aja, mianhae readers. Oh iya, Selamat Hari Raya Idul Fitri yaa, minal aidzin wal faidzin bagi para readers yang menjalankannya. By the way, sebentar lagi, Tao comeback solo mini album ya? Wahh gak sabar lihat dia berkarya lagi, udah liat treaser mini albumnya, rasanya tuh….. sakit. Kenapa harus ada yeoja disana? Tapi gapapa deh, biar berasa feelnya pas nonton tuh MV. Semangat deh buat Abang Tao yang mau comeback. Tao jjang! ^^

Kembali kepada Ff. nah chap kemarin kan author kasih teka-teki ya? Tapi kenapa yang bisa jawab Cuma 1 reader sih? gwaenchana, yang penting ada beberapa readers yang sudah mencoba. Teka-tekinya adalah kenapa di chap kemarin Kyungsoo marganya jadi Kim? Nah jawabannya di chap2 selanjutnya yaaa, selamat buat readers yang udah bisa menjawab, hehehe… di chap ini author kembali memberikan yang terbaik buat readers, semoga kalian puas ya. Author juga mencoba untuk meminimalisir typo2 yang ada, :D

Gomawo buat para readers yang udh ngasih review, following, favorite dan juga para silent readers yang udah mampir. Tanpa kalian author bukan apa-apa loh.. keep give your opinion in review coloum, right? Cukup sampai disini dulu yaa, SARANGHAE YEOROBEUN!

BIG Thanks and Reply for review :

ChanKai Love: Udah update nih, maaf lama yaa… Gomawo reviewnya..^^

GingerBeep : Siip, author usahakan ne…. Gomawo reviewnya..^^

Baby Zi: Gak kok, mudahan Kris gak metong deh, justru yang Kris alami sekarang masih gejala AIDS tahap awal loh…hm, Kyungsoo datang untuk nyampein wasiat dari abang Kai sekaligus minta maaf juga, hehe… yang bisa bikin Kris sembuh itu sebenarnya Baby Tao loh :D gak, author gak sanggup bikin Tao janda, Kris menjaga banget hubungan intim jadi kemungkinan Tao gak kena kok… Gwaenchana gomawo semangatnya… Terimakasih juga ya buat reviewnya…^^

LVenge: teka-teknya tentang marga Kyungsoo yang berubah, LV. Kyungsoo mau nyampein wasiat dari abang Kai. Kai udah meninggal sayangnya…. Udah lanjut, gomawo semangatnya, terimakasih buat reviewnya yah…^^

KTOdult: iya nih, berasa gak feelnya?-_- yap, benar, dia mau nyampein wasiat. Untuk saat ini baru Chanyeol yang tau, kedepannya….liat nanti aja deh, bimil *ssst :D terimakasih pujian dan reviewnya^^

Celindazifan: siipp, aku akan cari cara… gomawo reviewnya^^

Guest: terimakasih untuk kesabarannya, maaf chap ini lama yaaa… gak yifan gak mati kok gomawo reviewnya^^

Ammi Gummy: Nah! Itu Ammi bisa jawab teka tekinya, yap marga Kyungsoo jadi Kim! Padahal mereka masih kuliah loh. Liat aja kelanjutannya kedepannya deh… oke oke? :D udah lanjut yaa… gomawo reviewnya^^

Anis. : sembuh, mudahan…. Doakan aja ya.. jangan nangis… puk puk puk.. gomawo reviewnya^^

Kim-Jung-Hyewon: boleh boleh… nah untuk point 1 sama 2 bener tapi yang point 3 gak karena kasusnya beda, Kai meninggal karena OD bukan AIDS jd kyungsoo gak bisa lakuin apa-apa gapapa kok, review mu author butuhkan . Terima kasih pujiannya, doakan author bisa terus mempertahankan feelnya yaaa. Iya nih, bingung juga sebenarnya, tapi mnrt author ada sedikit sifat Suho yang masuk dengan Kris makanya author pasangkan mereka menjadi keluarga… gapapa kok klo curcol… gomawo, jeongmal gomawo… udah next nih, maaf lama update yaa chingu… gomawo reviewnya^^

Aldif.63: udah lanjut nih.. gomawo reviewnya^^

Tatia: Hm, mian, tapi tebakanmu kurang tepat…. Teka tekinya itu kenapa marga kyungsoo jadi Kim. Menurut Tatia kenapa? Oh iya, Kai itu dia sakit AIDS tapi meninggalnya bukan karena AIDS loh tapi karena OD, jadi Kyungsoo sendiri gak bisa ngelakuin apa-apa buat Kris… Gomawo reviewnya^^

Dan para Silent readers, GAMSAHAMNIDA^^…..

Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan nama…