Limit?
By : cronos01
Cast : Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon
Zhang Yixing/ Wu Yixing
Wu Yifan/ Kris
Huang Zitao
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
Do Kyungsoo
Kim Jongdae/ Byun Jongdae
Kim Minseok/ Byun Minseok
Genre : Romance, Angst, Friendship
Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D
Warning : Yaoi, sorry for Typo's. NO Bash! No copy. Don't Like, Don't Read. Simple!
So, Enjoy it!
Chapter 6
Previously…
"Kris ge, gomawo." Ujar Tao dalam igauannya.
Baekhyun menghela nafas, ia meletakan handphone tersebut kembali. Niatannya untuk menghapus pesan tersebut tidak dijalankannya.
Baekhyun melipat tangannya di dada dan memandang wajah Tao yang tertidur.
"Kalau sudah saling mencintai seperti ini aku bisa apa." Gerutunya di keheningan malam.
~LIMIT~
Next…
Di keheningan jalan Seoul, angin malam berhembus cukup kencang. Chanyeol menatap hamparan air yang luas dari jembatan yang sangat terkenal di kota Seoul. Lampu berwarna pelangi menyinari jembatan itu setiap 5 menit sekali. Namja yang memiliki julukan Dobi ini memutuskan untuk keluar dari apartemen karena tidak bisa terlelap. Perbincangan singkat yang sempat ia lakukan tadi di apartemen bersama ibu sahabatnya, masih membuat Chanyeol berpikir keras.
Flashback On
"Sejak kapan, eomonie?" tanya Chanyeol duduk dihadapan Lay dan menatap intens namja itu.
Helaan nafas terlihat dari namja paruh baya itu.
"4 bulan yang lalu. Kris, eomma temukan diatas ranjang dalam suhu tubuh yang sangat tinggi lalu, eomma langsung membawanya ke rumah sakit. Dan pada hari itu juga vonis jatuh kepada dirinya." Jawab Lay masih dengan air mata yang menetes.
Chanyeol bingung, dengan dahi yang berkerut Chanyeol kembali bertanya. "Bagaimana—bagaimana mungkin Kris bisa menderita penyakit ini, eomonie?"
Lay menggeleng sambil memainkan ujung jarinya.
"Eomma, tidak berani menanyakannya, Chan. Hingga saat ini eomma tidak ingin Kris kembali mengingat bagaimana penyakit itu bisa ada didalam tubuhnya."
"Tapi—tapi eomma yakin. Kris tidak mungkin melakukan hal yang bisa mempermalukan keluarga. Eomma tau itu, Chan."
Lay menjawab terputus-putus dan menatap mata sahabat anaknya. Chanyeol bungkam. Tidak tega melihat sosok paruh baya ini menangis. Sorotan mata namja yang ada didepannya menggambarkan penyesalan. Penyelasan karena sosok itu merasa gagal. Chanyeol meraih tangan namja paruh baya itu dan menatapnya intens.
"Eomonie, bukan hanya kau. Aku pun percaya Kris hyung tidak mungin melakukan hal keji seperti apapun itu."
Menghentikan sebentar perkataannya, Chanyeol menelan salivanya dan kembali melanjutkan.
"Kris hyung, akan sembuh. Seseorang telah hadir. Seseorang ini akan mengubah Kris hyung yang mungkin sempat menyerah. Chanyeol yakin, eomonie."
Flashback Off
Namja tinggi yang merupakan kekasih Baekhyun itu, mengcengkram surai hitamnya. Pandangannya berkaca-kaca tanpa disadarinya tangannya memukul keras jembatan membuat tangannya memar.
~LIMIT~
Lay yang sudah berjanji pada Donghae untuk menemuinya di rumah sakit, kini kakinya sedang menyusuri koridor rumah sakit yang terlihat cukup ramai. Para pasien yang dituntun oleh perawat rumah sakit keluar dari kamar mereka untuk menikmati hangatnya sinar matahari pagi. Para perawat yang ia temui memberikan senyuman kepadanya dan Lay membalas senyuman untuk sambil menunduk kan badan. Ruangan yang ditujunya akhirnya sudah ada didepannya. Dengan langkah mantap ia menggeser pintu itu.
"Donghae." Panggil Lay.
Donghae yang sedari tadi sibuk dengan rekam medis para pasiennya langsung mengalihkan pandangannya kearah orang yang baru saja memasuki ruang kerjanya.
"Ah, Lay. Silahkan duduk." jawab Donghae sambil berdiri, mempersilahkan namja yang sama tingginya dengan dia itu untuk duduk.
Donghae melipat tangannya dan meletakannya diatas meja. Ia menatap Lay serius.
"bagaimana dengan Kris?"
"Dia baik. Sejauh ini dia, tampak lebih sehat walau, kenyataannya tidak kan?"
Donghae mengangguk mendengar jawaban Lay. Donghae membuka laci kerjanya, sebuah kertas ia sodorkan kedepan Lay.
Lay mengangkat kertas itu dan menatap Donghae.
"bacalah." Ujar Donghae.
Lay membaca isi kertas itu. Lay membaca dengan teliti setiap baris yang tertulis disana. Kertas tersebut mengandung isi, terapi-terapi pengobatan bagi penderita AIDS. Hatinya bergetar, ia bahagia tapi ia juga sedih. Sebuah pengobatan yang meyakinkan bisa memanjangkan umur penderita setidaknya hingga 7 tahun kedepan atau mungkin lebih, tapi sebuah efek samping yang tertulis disana membuat kebahagian Lay hilang begitu saja.
Dengan suara yang bergetar. Lay berkata, "Jelaskan ini lebih jelas, Donghae."
Donghae menghela nafas. "Aku akan menjelaskannya tapi ikutlah dengan ku sebentar. Ada yang ingin kuperlihatkan padamu."
Setelah mendapat anggukan dari Lay, Donghae mengajak Lay untuk keluar dari ruanganya. Setelah cukup jauh mereka berjalan, akhirnya mereka sampai. Di sebuah lorong rumah sakit yang lebih sepi, langkah kaki mereka bahkan sangat terdengar nyaring, karena terlalu heningnya suasana di lantai rumah sakit ini. Langkah kaki mereka berhenti didepan sebuah ruangan yang memiliki sebuah kaca transparan yang cukup besar. Menampakan seorang namja yang tampaknya umurnya tidak terpaut jauh dari umur anaknya, Kris.
Namja itu tampak berbeda, motoriknya yang tampak sudah tidak terlihat normal membuatnya tidak bisa melakukan semua hal sendiri. Saat ini keluarganya sedang menyuapkan sarapan pagi pada namja tersebut.
Lay bertanya, "Siapa dia?"
Donghae tersenyum.
"Ia pasien ku. Umurnya 4 tahun lebih tua dibandingkan Kris. AIDS menggerogoti tubuhnya sejak 6 tahun yang lalu. Dia jauh lebih parah dibandingkan Kris, awalnya."
Hening sesaat.
"Tapi sejak aku mengupayakan pengobatan untuknya, hingga sekarang ia masih bisa bertahan. Walau kau bisa lihat sendiri, ia sudah tidak bisa berbicara."
Mendengar ucapan terakhir Donghae, Lay menoleh.
"Tidak bisa berbicara? Waeyo?"
Donghae menatap Lay.
"Pengobatan yang ku upayakan untuk memperpanjang hidupnya, memiliki efek samping yang cukup besar, Lay. Untungnya keluarganya mau menerimanya, setidaknya mereka cukup bahagia masih bisa melihat senyum anak tunggal mereka."
Melihat Lay yang menundukan kepala, Donghae paham. Namja yang sudah tidak lagi muda ini, tidak bisa menerima begitu saja keadaan Kris kedepannya. Keadaan anak tunggalnya yang nantinya akan sangat berbeda. Donghae mengulurkan tangannya, mengelus lembut punggung itu.
"Aku tidak memaksanya jika kau tidak setuju, Lay."
Lay menghapus air matanya dan mengangkat wajahnya menatap dokter muda tersebut.
"Tidak, lakukan saja. Lakukan untuk Kris."
"Tidak, Lay. Jika kau tidak ingin aku bisa mencari cara lain."
Lay memberikan tatapan tajam kepada Donghae.
"Cara lain? Kau pikir cara lain itu akan lebih efektif?! Kau tau ini merupakan cara terakhir."
Sesaat lay diam dan kembali melanjutkan omongannya.
"Aku akan berusaha menerimanya. Ya, menerimanya." Lanjutnya lirih menjatuhkan tatapannya kedalam ruangan itu, pasien dokter yang ada disampingnya sambil sesekali tersenyum pada namja yang berada di ranjang pesakitan itu.
~LIMIT~
"Progress mu sangat bagus, Tao. Kalau kau terus seperti ini, aku yakin hanya dalam setengah bulan kau sudah bisa kembali berjalan." Ujar Kim uisa.
Namja bermata panda itu tersenyum riang, bagaikan seorang anak yang dibelikan ice cream.
"Jinjjayo, uisa?"
Kim uisa mengangguk. "Ya, tapi tetap kau belum boleh melepaskan kursi roda itu ya. Kalau kau memaksakannya tulang mu akan kembali lemah dan waktu mu untuk bisa berjalan menjadi tambah lama pula, arra?"
Dengan gembira, Tao mengangguk membalas ucapan dokter itu.
Pemuda berkantung mata panda itu membawa kursi rodanya keluar dari ruangan sang dokter. Didepan ruangan Baekhyun sudah berdiri dengan air muka yang cemas, tidak sabar mendengar keadaan sepupunya. Saat pintu terbuka Baekhyun langsung membalikan badannya.
"Tao, bagaimana? Terapi mu berjalan dengan baik kan? Dokter bilang kau akan bisa berjalan lagi kan? Iya kan? Katakan secepatnya." Sergah Baekhyun menghujani sepupunya itu seribu pertanyaan.
Sedangkan sepupunya itu memutar bola matanya malas dan keluarnya Kim uisa dari ruangan menjawab semua pertanyaan Baekhyun.
"Tao sangat bersemangat. Tidak lama lagi, dia akan bisa berjalan kembali. Setengah bulan lagi dia menjalankan terapi dan kursi roda itu akan segera kulepaskan."
Sontak namja bersuara cempreng itu melotot, "Jinjjayo? Eoh?! Huaaa, Tao akan berjalan lagi!"
Tak lama Tao langsung memukul bokong namja yang lebih tua darinya itu.
"Hyung, ini rumah sakit. Aku tidak ingin mayat-mayat di kamar mayat akan bangkit mendengar kau berteriak." Sergahnya.
Dengan cengiran khasnya, Baekhyun tertawa malu.
"Mianhae. ah, geurae, kalau gitu kita pulang dulu, Kim uisa. Gamsahamnida."
Setelah pamit kepada sang dokter Baekhyun mendorong kursi roda Tao meningalkan ruangan dokter tersebut. Di tengah perjalanan mereka menemukan berbagai macam pasien dan perawat namun, tiba-tiba dari kejahan Tao dan Baekhyun melihat Lay muncul dari koridor.
"I-itu bukannya, eomma nya Kris gege?" ujar tao.
Baekhyun langsung mengikuti arah pandangan Tao.
"Eoh, benar. Kau mengenalnya Tao?" tanya Baekhyun.
Tao mengangguk, "Hm, waktu aku menjenguk Kris ge."
Setelah dari tadi hanya mengamati sosok namja paruh baya itu dari jauh, sosok itu mulai melihat keberadaan mereka. Tao dan baekhyun memberikan senyuman kepada Lay yang berjalan mendekat.
"Tao? baekhyun? Sedang apa kalian disini?"
Tao tersenyum dan menjawab, "Aku kesini untuk terapi, eomonie."
Sedikit bingung, kedua kening Lay bertaut. Mengerti dengan kebingungan Lay, Baekhyun angkat bicara.
"Terapi untuk kakinya Tao, eomonie." Jelas Baekhyun.
"Kaki? Kedengarannya bagus. Rajin-rajinlah terapi agar kau bisa cepat sembuh." Ujar Lay tersenyum bahagia mendengar berita itu.
Tao tersenyum mengangguk.
"Eomonie, sendiri sedang apa disini?" tanya Baekhyun.
Sedikit bingung mencari alasan, Lay tetap tersenyum.
"Ah, hanya memeriksakan kesehatan saja." Jawab Lay akhirnya.
Raut wajah Tao langsung berubah khawatir. "Eomonie, sakit?" tanyanya.
Lay tertawa dan menggeleng. "Tidak. Eomma tidak sakit. Hanya pemeriksaan rutin."
Raut wajah Tao dan Baekhyun yang tadinya khawatir, langsung berubah tenang.
"Syukurlah." Ujar Tao.
"Eomonie, jagalah pola makanmu. Istirahat yang cukup. Agar kesehatanmu tidak terganggu. Kalau eomonie sakit, Kris ge pasti akan sedih." Lanjut Tao.
Baekhyun tersenyum mendengar omongan , sepupunya memnag sangat peduli pada orang lain tanpa memandang usia dan siapa orang itu. Sementara Lay, ia sedikit terkejut. Jarang sekali ada seseorang ank muda yang sangat peduli terhadap orang yang lebih tua kecuali, seseorang itu memang mengenal orang tersebut.
Lay tertawa sambil berkata, "Haha, ne. eomma akan selalu menjaga kesehatan eomma. Terima kasih atas perhatianmu, Tao"
Tao mengangguk lucu, mengiyakan jawaban terima kasih dari Lay.
Lay melirik jam tangan yang digunakannya.
"Mianhae. Eomma harus pergi dulu ya. Ada yang harus eomma urus. Eomma duluan, Tao, Baekhyun." Ujar Lay sebelum akhirnya pergi meninggalkan Tao dan Baekhyun yang tersenyum kepadanya.
~LIMIT~
Malam ini, mereka memutuskan untuk berkumpul di Café milik Sehun dan Luhan. Sebuah ruangan yang bergaya vintage ini sengaja mereka berdua bangun untuk tempat berkumpul. Ruangan yang diberikan sekat berupa kaca buran, di kaca buram itu terdapat sebuah air mengalir yang memberikan kesan sejuk pada ruangan berwarna dasar cokelat muda ini.
"Kalian jadian? Sejak kapan?" tanya Baekhyun dengan nada yang sedikit tinggi.
Dengan santai Tao menjawab, "Aku juga tidak tau pasti kapan kami jadian, hyung. semua terjadi begitu saja."
Mendengar jawaban dari Tao, Baekhyun melayangkan tatapan kearah Kris yang duduk persis disamping sepupunya yang bermata panda. Kris yang sedari tadi sibuk dengan buku tebal yang dibacanya, tidak merasa terganggu dengan tatapan Baekhyun. Namja tinggi itu, mengangkat kepalanya dan memandang Baekhyun.
Dengan tatapan mengintimidasi Baekhyun bertanya, "Apa saja yang sudah kau lakukan padanya, Kris."
Baru saja namja yang ditanya Baekhyun itu ingin menjawab, Chanyeol yang berada disamping Baekhyun langsung angkat bicara.
"Kris tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh, Baekki." Katanya.
Seakan tidak mendengarkan suara kekasihnya disamping, Baekhyun kembali bertanya, kali ini pada Tao.
"Katakan pada hyung, apa yang sudah namja tonggos ini lakukan kepadamu?"
Tao memejamkan matanya untuk meredam emosi dan menghela nafas.
"Memangnya harus kulaporkan semua yang sudah kris ge lakukan kepadaku? Sekarang kalau aku balik bertanya, apa saja yang sudah Chanyeol hyung lakukan kepada hyung. Hyung, akan menjawabnya?"
Mendengar ucapan Tao, Chanyeol langsung bangkit dari duduk santainya dan menatap Tao dengan malu.
"Y—yak! Tao, apa yang kau katakan. Jelas tidak mungkin baekhyun akan menjawabnya. Aish, kau ini." Tukasnya.
"Lagian, sudahlah, Baek. Tao bisa menentukan namja mana yang terbaik untuknya." Lanjut Chanyeol.
Baekhyun memutar bola matanya malas dan menyandarkan punggungnya dengan kasar ke kursi. Tak lama, Sehun dan Luhan datang membawa nampan yang berisikan semua pesanan yang mereka pesan. Semua orang yang berada di meja tersenyum senang melihat cake kesukaan mereka tertata rapih di meja. Setelah Sehun dan Luhan meletakan makanan tersebut mereka ikut bergabung.
Sehun menatap kearah Kris dengan aneh, sadar dengan tatapan Sehun, Kris menatap namja yang paling muda itu.
"Wae?" tanya Kris.
Sehun menggeleng dan meminum sodanya oneshoot lalu berkata, "Hyung, kau baik-baik saja? Bukan style mu hanya meminum air mineral. Biasanya kau akan meminta cola."
Pertanyaan Sehun sukses membuat seluruh orang yang berada di meja melirik kearah Kris, seolah menunggu jawaban dari namja tinggi berambut emas itu. Kris yang baru selesai dari meinum air mineralnya kembali berkutat dengan bukunya.
"Aku sedang tidak berselera minum cola." Jawab Kris untuk Sehun tanpa menatap namja muda itu.
Chanyeol yang memang sudah mengetahui alasan Kris, ia tidak menyimak namja itu terlalu serius. Chanyeol justru asik memakan cookiesnya.
"Hm, aneh saja. Tapi belakangan ini aku memang sudah jarang melihat mu membawa kaleng soda, hyung." tukas Sehun lagi.
Kali ini Kris menatap Sehun dan menjawab, "Haruskah aku melaporkannya padamu kalau aku membeli soda? Bicarakanlah hal yang penting." Tukasnya.
Mendengar nada kesal dan dingin dari Kris, Sehun tidak lagi membahas masalah tersebut. Tao berusaha untuk mendinginkan keadaan. Namja bermata panda itu, memotong sedikit cake strawberry miliknya dan menyuapkannya ke Kris, walau kekasihnya itu sempat menolak, Kris akhirnya menerima kue itu. Kris bukan menlak untuk disuapkan melainkan, ia menolak untuk memakan cake, daritadi rasa mual terus menghampirinya membuatnya tidak berselera memakan apapun.
Ditengah keheningan, suara Luhan tiba-tiba terdengar.
"Chan, boleh aku meminjam laptop mu? Besok mungkin akan ku kembalikan. Ada yang harus ku kerjakan." Tanya pada Chanyeol yang asik memainkan game di ponsel milik Baekhyun.
Tanpa melirik ke Luhan, Chanyeol mengangguk untuk mengiyakan.
Malam semakin larut, tak terasa sudah 1 jam mereka menghabiskan waktu bersama. Kini saatnya bagi mereka untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.
~LIMIT~
Setelah memarkirkan mobilnya, Kris turun dari dalam mobil dengan langkah yang lunglai namja itu berjalan menuju apartemennya. Tangannya yang kurus itu memijat pelipisnya yang terasa sakit. Sesekali namja tinggi itu memberhentikan langkahnya untuk mengambil nafas sejenak. Lelah, entah mengapa berjalan dari basement ke apartemennya terasa sangat jauh dan melelahkan. Setelah beberapa saat berjalan akhirnya ia sudah berada didepan apartemennya, Kris masuk kedalam dan langsung melemparkan tubuhnya di sofa besar miliknya. Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari dapur apartemen, Kris berdiri dari tidurnya dan berjalan menuju dapur. Ternyata sang ibu berada disana, berkutat dengan masakannya.
Lay yang sedari tadi sibuk sendiri, merasakan kehadiran seseorang disana. Ia mengangkat semua hidangan yang sudah dimasaknya dan berbalik kebelakang. Disana sang anak sedang berdiri menatapnya sambil tersenyum, Lay membalasnya dengan tersenyum juga, setelah meletakan masakannya, Lay menghampiri Kris. Keningnya sedikit bertaut saat dari dekat ia baru bisa melihat wajah anaknya yang tampak pucat. Kris tetap tersenyum, walau ia tau sang ibu menghawatirkannya. Lay meletakan tangannya di dahi Kris. Terasa panas, Lay langsung membawa Kris berbaring di ruang tengah.
"Apa yang kau rasakan, Kris?" tanya Lay setelah ia membukakan kancing kemeja anaknya yang paling atas guna membuat anaknya itu lebih nyaman.
Namja yang tengah berbaring itu hanya menjawab pertanyaan sang ibu dengan gelengan. Lay kecewa, ia tau anak tunggalnya ini berbohong.
"Sampai kapan kau akan seperti itu, Kris? Membuat orang lain menganggap kau baik-baik saja." Sergah Lay.
"Sampai aku tidak akan merepotkan orang-orang itu, termasuk eomma." Jawab Kris dengan suara yang terdengar serak.
Hanya sebuah helaan nafas terlihat dari Lay.
Kris sesekali memejamkan mata untuk menetralisir rasa sakit di kepalanya, Lay yang sadar akan hal itu, ia melayangkan tangannya ke kepala Kris dan mengelus kepala anaknya itu. Seakan rasa sakit Kris bisa tersembuhkan dengan sentuhan sang ibu. Kris tersenyum dan memejamkan matanya menikmati elusan dari ibunya.
"Harusnya kau beristirahat kalau sedang libur kuliah seperti ini." Ujar Lay ditengah keheningan.
Masih dengan mata yang terpejam. Kris menjawab. "Kris tidak mungkin membiarkan Tao pergi sendiri kan, eomma"
Sontak gerakan tangan Lay yang berada diatas kepala Kris berhenti.
"Tao? kau jalan dengannya tadi?"
Kris mengangguk.
Lay kembali mengelus kepala Kris, mendengar jawaban dari Kris, ia merasa sangat bahagia. Setelah bertahun-tahun ia menunggu sang anak akan membawa seseorang untuk dikenalkan padanya, penantian itu berakhir.
"Eomma senang dengannya, Kris." Ujar Lay tiba-tiba.
Mendengar ucapan sang ibu, kedua mata Kris yang tadinya terpejam kini terbuka.
"Dia anak yang sopan, baik dan dia juga sangat perhatian dengan eomma."
Kris masih mendengarkan dengan seksama apa yang ibunya katakan.
"Tadi eomma menemuinya dirumah sakit. Dia menanyakan apa yang eomma lakukan disana. Ya, eomma menjawabnya kalau eomma sedang memeriksakan kesehatan."
Kepala Kris mendongak menatap sang ibu. "Lalu?" tanyanya.
Lay kembali melanjutkan omongannya, "Dia kira eomma sakit. Dia terlihat begitu khawatir, dia juga menyuruh eomma untuk menjaga kesehatan eomma katanya, kalau eomma sakit nanti kau sedih."
Kris tertawa saat mendengar ucapan terakhir sang ibu.
"Tao memang begitu, Ma. Ia sangat perhatian terhadap siapa pun orang yang ada didepannya." Ujar Kris sambil berangan-angan mengingat kembali sosok Tao yang menolongnya dulu saat pertama kali bertemu.
"hm, kalau gitu jadikan ia calon istri mu, Kris." Tukas Lay tiba-tiba.
Permintaan dari Lay menjadi kabar baik sekaligus kabar buruk untuk Kris. Tetapi kabar buruk yang menjadi persoalan utamanya, senyum Kris memudar. Lay melihat raut wajah yang berubah itu, ia menghela nafas. Lay tau apa yang dipikirkan sang anak.
"Eomma." Panggil Kris lirih.
"Hm?" jawab Lay menatap mata Kris yang terlihat menerawang.
Kris menarik nafasnya dan berkata, "Eomma tau kan kalau Kris tidak bisa memberikan kebahagian untuk eomma, appa dan Tao nantinya?"
Sesaat terdengar jeda dari Kris.
"Kris akan sangat bersyukur kalau Kris bisa punya kesempatan emas itu. Tapi, semua itu tidak akan merubahnya kan, Ma?" tanya Kris kembali diakhir kalimat.
Lay menggeleng dan hendak berkata namun, Kris kembali berucap.
"Aku tidak kan bisa memberikan eomma cucu dan Tao juga akan hidup dengan seorang suami yang—mungkin membuat orang lain akan menjauh darinya kalau orang lain tau aku suaminya. Seorang suami penyakitan yang tidak bisa memberikan apa-apa untuknya." Lirih Kris sambil tersenyum pahit.
Kris melayangkan tatapannya kepada Lay. Dengan senyuman Kris kembali bertanya, "Iya kan, eomma?"
Lay menghapus setetets air mata yang berhasil jatuh ke pipinya. Ia tersenyum dan kembali mengelus kepala kris.
"Kris, dengarkan eomma."
Lay berhenti sejenak untuk menarik nafas.
"Kau satu-satunya anak eomma dan appa. Kehadiranmu di dunia ini membuat kami semua bahagia. Kau tidak perlu memberikan kebahagiaan itu karena melihat mu saja kami sudah bahagia, Nak."
Lay kembali berhenti dan tak lama melanjutkan.
"Tao. Eomma rasa hanya dengan kehadiranmu saja ia sudah sangat bersyukur, Nak. Kau bukan seseorang yang berpenyakitan, kau diberikan penyakit itu agar semua orang yang berada disekitarnya smemakin menyayangimu. Semakin sadar akan kehadiranmu. Penyakit itu membuat orang-orang yang berada disekeliling mu takut kehilanganmu, Kris."
Hening. Hanya sebuah isakan kecil Lay lah yang terdengar.
"Jadi—berjuanglah untuk kami semua. Berikan kami kebahagiaan hanya lewat kehadiranmu disamping kami."
Tanpa menjawab permintaan Lay, Kris mengahapus air mata yang ada di pipi ibunya itu.
~LIMIT~
Ditengah keheningan perpustakaan kampus, Luhan ia tengah berkutat dengan laptop Chanyeol yang ia pinjam kemarin malam. Saat Luhan tengah memeriksa dokumen-dokumen Chanyeol, sebuah dokumen yang janggal ia temukan. Dokumen yang berjudul mengenai HIV/AIDS.
"Aneh sekali, untuk apa Chanyeol menyimpan artikel ini." Gumamnya.
Luhan membuka dokumen itu. Isinya sangat lengkap. Mulai dari penyebab penyakit tersebut hingga pengobatannya. Sedikit penasaran tapi, Luhan tidak menghiraukan hal itu. Ia lebih memilih untuk mengerjakan dahulu tugasnya.
Dilain tempat, Sehun keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki café. Sebuah buku kuliahnya tidak sengaja tertinggal tadi malam. Ia berlari menyusuri ruangan kerja di cafenya dan cepat-cepat keluar dari café. Saat ia sudah berada didalam mobil, dari jauh ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang itu tengah berjalan di jalur khusus pejalan kaki. Sehun keluar dari mobilnya dan berlari ke tempat ia melihat seseorang tadi. Kerumunan orang yang begitu banyak membuat Sehun sedikit kewalahan mencari. Tepat saat seseorang itu sudah keluar dari kerumunan, Sehun dengan langkah hati-hati mengikuti orang itu dari belakang namun, orang itu kembali memasuki kerumunan orang-orang yang hendak menunggu lampu merah menyala agar mereka bisa menyebrang. Rintik hujan tiba-tiba turun, membuat pandangan Sehun sedikit terganggu, akhirnya ia menyerah. Sehun tidak mengejar orang itu lagi melainkan meneriakan nama orang itu.
"D.O!"
Hujan yang turun semakin deras membuat suara Sehun tidak terdengar. Hingga akhirnya pandangan Sehun menghilang dari seseorang itu.
Sementara, Kyungsoo yang merasa namanya dipanggil. Ditengah teduhannya, ia melirik kesana kemari untuk mencari seseorang yang memanggilnya namun, karena derasnya hujan pandangannya terhalangi oleh air hujan yang turun dengan deras.
~LIMIT~
Kris mendorong kursi roda Tao dengan cepat. Saat mereka sedang duduk berdua dua di taman belakang kampus, tiba-tiba rintik hujan turun, mereka pun bergegas untuk segera berteduh k gedung kampus namun, posisi gedung kampus yang cukup jauh membuat Kris dan Tao kebasahan karena hujan yang tiba-tiba deras.
Setelah berlari di bawah derasnya hujan akhirnya, mereka sampai. Tak lama mereka mendapatkan tempat untuk duduk, Kris memberhentikan kursi roda Tao. Melihat Tao yang sepertinya merasa kedinginan dengan tubuhnya yang basah, Kris membuka jaketnya dan memakaikannya ke Tao. Kaget karena tiba-tiba sebuah jaket tersampir di bahunya, Tao melayangkan pandangannya kepada Kris. Namja tinggi itu sibuk menghangatkan tubuhnya dengan menggosokan kedua tangan kurus itu lalu menggosokan badannya yang kini hanya dibaluti dengan kaos berlengan panjang. Tao tersenyum, ia melepaskan jaket yang tadi ada dibahunya dan memakaikannya ke Kris.
Kris menatap Tao heran.
"Kau kedinginan Tao, pakailah." Ujarnya sambil kembali menyampirkan kembali jaket itu ke bahu Tao.
"Tidak, Ge. Kris Ge tampak lebih membutuhkannya. Tao sudah biasa kedinginan." Tukas Tao dan kembali melepas jaket tersebut.
"Tidak Ta—"
Saat Tao hendak memasangkan kembali jaket tersebut ke bahu Kris, tatapan Tao secara tidak sengaja mengarah kepada lengan Kris yang terdapat sebuah ruam. Kulit yang putih itu terlihat dibeberapa sisi memerah dan sedikit membiru. Kris yang tadi hendak menolak jaket yang ingin Tao pasangkan langsung berhenti saat Tao melayangkan tatapan ke lengannya, Kris langsung dengan gugup menurunkan lengan tangannya, mencoba menutupi penampilannya yang kini sudah terlihat berubah.
Ya, penyakit itu. Beginilah reaksinya saat penyakit itu semakin parah. Obat yang Kris minum bukanlah untuk menyembuhkan dirinya, obat itu hanya meminimalisir virus-virus lain yang bisa menjadikan komplikasi bagi penyakitannya. Gejala tetap AIDS sendiri tidak akan bisa hilang dengan obat apapun. Gangguan pernafasan, kelelahan dan sekarang ruam kulit kulit terjadi kepada Kris. Ruam yang nantinya akan menimbulkan sebuah luka yang membuat orang-orang akan jijik.
Tao menatap nanar Kris yang mencoba menurunkan lengan bajunya untuk menutupi lengan itu. Tao langsung dengan sedikit kasar meraih tangan Kris dan mengangkat baju tersebut. Tangan Tao yang menggenggam lengan Kris bergetar, sebuah ruam yang terlihat seperti lebam entah apalah itu terlihat sangat mengerikan. Kris, ia pasrah. Sama sekali tidak melakukan perlawanan terhadap perilaku Tao, pikirnya toh Tao akan mengetahui semuanya cepat atau lambat.
"Ini kenapa, Ge?" tanya Tao lirih ditengah derasnya hujan diluar gedung.
"Gwaenchana, ini hanya ruam biasa. Nanti juga hilang sendiri." Jawab Kris santai.
Tao menggeleng, ia menatap kosong derasnya hujan.
"Gotjimal." Sergah Tao.
Mendengar ucapan Tao yang dingin, Kris menoleh ke namja bermata panda itu. Merasa Kris tengah menatapnya, Tao menatap tajam Kris. Ia marah dan kecewa saat ini.
"Sebenarnya kau anggap aku ini apa, Ge?" tanyanya.
Kris tertawa mendengar pertanyaan Tao. Melihat Kris yang tertawa, Tao semakin kesal.
"Aku serius, Ge. Berapa banyak hal yang gege sembunyikan dariku?" ujar Tao lagi.
Kris sadar, Tao benar-benar serius. Kris menghadapkan badannya kearah kekasihnya itu dan menyentuh bahu Tao namun, dengan sigap Tao langsung menepis tangan Kris. Kaget, Kris kaget melihat perilaku Tao tapi sesaat raut bingungnya itu hilang. Kris tertawa. Sesuai dugaan Kris, Tao akan menjauh darinya jika tau ia menderita penyakit yang menjijikan.
"Aku sama sekali tidak dianggap ya rupanya. Jika itu keinginanmu, aku pergi, Ge." tukas Tao sebelum akhirnya pergi.
Kris menatap nanar kepergian namja yang masih berstatus kekasihnya itu. Ia menunduk, mencoba menahan air matanya untuk keluar dan beralih menatap derasnya hujan.
"Aku memang bukan yang terbaik untukmu, Tao." lirihnya ditengah derasnya hujan.
Dari kejauhan, Chanyeol sedari tadi melihat semua yang terjadi. Matanya memandang Kris dengan nanar lalu, pergi berlalu.
~LIMIT~
Tao tidak fokus dengan buku yang dibacanya. Ditengah keheningan perpustakaan, Tao justru tengah mencoba melawan tangisannya. Sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara isakan. Mencoba untuk fokus dengan buku yang dibacanya namun, air mata kembali menetes. Dengan kasar Tao menghapus air mata itu. Ia menggigit bibir bawahnya masih mencoba unttuk berhenti menangis.
Tao kesal, kesal dengan dirinya sendiri. Seharusnya ia sadar kalau dirinya tidak akan bisa membuat Kris nyaman dengannya. Jika namja tinggi itu nyaman padanya, namja itu pasti akan mengatakan semua hal yang harus ia tau. Tao sadar bahawa dia hanya bisa merepotkan Kris dan ia benci akan hal itu.
Luhan saat ia sedang mencari buku yang harus dibacanya, langkahnya berhenti saat mendengar sebuah isakan. Saat ia mencari-cari sumber suara itu, pandangannya jatuh pada sosok yang sangat dikenalinya. Luhan berjalan dengan cepat menuju orang itu.
"Tao? wae geurae? Kenapa kau menangis, eoh?" tanya Luhan sambil menarik kursi kosong yang berada disamping Tao dan duduk.
"Hiks, hiks…Luhan Ge, a—aku m—"
"Ssst, tenangkan dulu dirimu, baru kau bisa menjawab pertanyaan ku. Kalau sambil menangis begini aku tidak mengerti." Potong Luhan dan meraih tubuh Tao untuk mengelus punggung itu.
Tak lama setelah Tao merasa tenang, didalam pelukan Luhan ia bersuara.
"Luhan Ge, harusnya aku tidak jatuh cinta dengan Kris Ge kan? Iya kan?"
Bingung dengan pertanyaan Tao, Luhan melepas pelukan mereka dan menatap mata Tao dalam.
"Apa maksud mu?"
Masih sedikit terisak, Tao mencoba untuk menjawab.
"Harusnya jika dua orang saling mencintai tidak ada hal yang disembunyikan kan, ge? apapun itu rahasianya harusnya kita saling bicara kan, ge?"
Luhan menghela nafas. Ia mengerti sekarang, tampaknya dua sejoli yang baru jadian ini mengalami kesalahpahaman.
Luhan mengangguk, mengiyakan.
"Harusnya begitu, Tao, tapi tidak semuanya bisa diungkapkan begitu saja. Perlu waktu."
"tapi itu demi kebaikannya sendiri, Ge. kenapa ia menyembunyikannya dariku?"
Luhan menghela nafas mendengar pertanyaan Tao.
"Dia belum siap untuk mengatakannya, Tao. Sudahlah, Kris itu namja yang sangat baik. Ia tidak mungkin merahasiakan hal yang penting darimu kecuali ia tidak ingin membuatmu khawatir."
"Khawatir?" ulang Tao.
Luhan mengangguk sambil tersenyum meyakinkan temannya itu.
~LIMIT~
Sehun berlari disepanjang koridor kampus, mahasiswa yang sedang menongkrong disepanjang koridor menatap Sehun dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak, baju namja itu terlihat basah walau ia sudah mengupayakanya dengan menutupi bajunya dengan jaket. Setelah berlari cukup lama akhirnya, Sehun sampai didepan kelasnya. Dari kaca pintu terlihat sang dosen yang sudah berada didalam, Sehun menghembuskan nafasnya mencoba untuk tenang, siap menerima konsekuensi akan keterlambatannya.
Pintu sudah Sehun buka. Seluruh orang yang ada didalam kelas menjatuhkan pandangan kepadanya tak terkecuali, Chanyeol yang kini memandang Sehun dengan mulut menganga.
Sebuah senyuman malu Sehun berikan kepada sang dosen dan seluruh orang yang didalam keas.
"Jweosonghamnida." Ujar Sehun.
Sedangkan sang dosen hanya menggelengkan kepalanya lalu memberi isyarat kepada Sehun untuk duduk. dengan senyuman senang, Sehun berjalan menuju bangkunya yang kosong disamping Chanyeol. Chanyeol menatap Sehun masih ternganga, Sehun yang berada disamping Chanyeol tertawa kecil.
"Hyung, wajahmu sungguh terlihat bodoh." Ujar Sehun berbisik.
"Ada apa dengan baju mu? Kau main hujan?" tidak menanggapi ucapan Sehun, Chanyeol malah balik bertanya.
"Nanti akan aku jelaskan, hyung." bisik Sehun.
Mereka pun kembali fokus dengan dosen yang ada didepan kelas. Setelah 15 menit menerima sedikit ilmu, sang dosen akhirnya keluar. Satu persatu mahasiswa pergi meninggalkan kelas, kini tinggal Chanyeol dan Sehun saja disana. Sehun tenang membereskan buku-bukunya sementara Chanyeol tengah duduk sambil menatap namja muda itu.
Setelah selesai Sehun mulai berbicara.
"Hyung, kau masih memiliki nomor telepon D.O?" tanya Sehun.
Pertanyaan Sehun sontak membuat Chanyeol sedikit kaget. Ia berikan respon gelengan untuk namja itu.
"Wae?" tanya Chanyeol.
Sehun mencoba mengatur kata serapih mungkin. Perihal masalah Kai, Sehun tidak ingin orang lain tau dahulu.
Dengan gugup Sehun menjawab, "A—ani, aku hanya bertanya saja."
Chanyeol mengangguk.
"Aku sudah tidak memiliki lagu nomor Kai maupun D.O. Lagipula nomor ia juga sudah tidak aktif, mungkin di Vancouver dia ingin hidup tanpa kehadiran kita." Tukas Chanyeol.
"Y—yak hyung. bukan itu maksud Kai. Dia hanya ingin melanjutkan dulu karirnya." Ujar Sehun
Chanyeol tertawa remeh. "Karir? Dengan menghilang begitu saja? Bullshit."
Sehun terdiam, tak bisa membuat apa-apa.
~LIMIT~
Setelah sekuat tenaga berusaha untuk tidak tumbang di koridor apartemen akhirnya Kris berhasil masuk kedalam apartemennya. Ia berlari menuju kamar mandi miliknya dan mengeluarkan semua isi perutnya. Pusing yang sedari tadi di kampus ia rasakan membuat Kris melemah. Setelah selesai mengelurakan semua isi perutnya, dengan langkah yang lemah Kris berjalan menuju wastafel dan membersihkan bibirnya. Kris berkaca, ia tertawa sendiri melihat wajahnya yang tampak sangat pucat.
"uhuk, uhuk.." tiba-tiba dada namja tinggi itu merasa sesak.
Kris sekuat tenaga untuk menopangkan tubuhnya pada dinding wastafel. Ia masih terus terbatuk, hingga entah mengapa kakinya merasa lemas. Tubuh Kris luruh begitu saja, ia kini bersandar pada dinding wastafel. Dengan tangan yang bergetar, namja itu masih berusaha untuk ingin berdiri tapi tubuhnya benar-benar tidak ingin berkompromi dengannya sekarang. Kris menyerah, ia bersandar lemah pada dinding wastafel tersebut. Tangan kanannya memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Kris masih terus terbatuk, nafas yang tadinya normal kini mulai terlihat ngos-ngosan. Sesekali Kris merintih untuk melampiaskan rasa sakit di dadanya.
~LIMIT~
Sehun dengan tas ransel yan berada di punggungnya, ia berkeliling mencari-cari Kris. Langkahnya membawanya ke lantai 5, Sehun berlari menuju kelas Kris dan yang ditemukannya hanya keheningan. Kelas itu sudah tidak ada orang. Sehun keluar dari kelas itu, ia berlari menuju ruang lukis, disana masih terdapat seseorang yang tengah sibuk membereskan ruangan, ia menghampiri orang itu.
"Mianhae, aku ingin bertanya. Kau melihat Kris? Wu Yifan?"
seseorang itu menjawab, "Aniyo, kelas sudah berakhir sejak sejam yang lalu. Tadi aku melihatnya langsung pulang."
"Pulang? Baiklah, gamsahamnida."
Sehun mengucapkan terima kasih lalu ia kembali berlari keluar dari ruangan itu. Ia berdiri didepan lift namun, karena teralalu lama Sehun akhirnya memutuskan untuk turun melalui tangga setelah sampai pada lapangan parkir, Sehun masuk kedalam mobilnya dan langsung pergi melanjutkan mobilnya.
Setelah beberapa menit terjebak macet, Sehun akhirnya sampai didepan kamar apartemen Kris. Kedua kening Sehun bertaut, pintu apartemen kris terlihat sedikit terbuka, dengan langkah hati-hati Sehun masuk kedalam sana.
"Hyung? Kris hyung!" teriak Sehun.
Namja itu sama sekali tidak mendengar sahutan. Sehun bejalan menuju dapur namun, saat ia sudah ingin masuk ke dapur ia mendengar suara keran air yang menyala dari dalam kamar Kris. Sehun berjalan pelan menuju kamar Kris, ia membuka kenop pintu itu perlahan. Saat sudah sampai didalam, Sehun melihat pintu kamar mandi yang terbuka. Terdengar suara yang memiluhkan dari dalam kamar mandi, sebuah suara rintihan.
"Hyung! Kau di dalam?!" kembali Sehun berteriak.
Dengan langkah yang cepat Sehun langsung masuk kedalam kamar mandi. Dari depan pintu, Sehun melihat Kris dengan wajah yang sangat pucat dengan terlihat kepayahan, bersandar pada dinding kamar mandi yang cukup luas itu. Sehun berlari menghampiri Kris.
"Hyung, wae geurae?" tanya Sehun dengan tangan yang bergetar ia meraih tangan Kris yang terdapat sebuah darah.
Namja yang tengah tak berdaya itu menumpas tangan Sehun lembut karena sudah tidak memiliki tenaga lagi.
"Jangan menyentuh tanganku." Singkat Kris dengan nafas yang pendek.
Sehun berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, ia meraih ponsel yang ada didalam jasnya. Hendak menelpon seseorang namun, tiba-tiba Kris mengambil ponsel tersebut.
"Jangan hubungi siapapun." Lirih Kris.
Sehun menatap Kris nanar. Sementara, orang yang ditatap hanya memberikan senyuman samar.
"Jebal. Lebih baik kau pulang." Lanjut Kris.
Sehun mulai tersulut emosi, ia memandang Kris tajam.
"Hyung! bagaimana mungkin aku bisa pergi meninggalkan kau yang seperti ini?!" bentak Sehun.
Kris tersenyum ditengah rintihannya. "Gwaenchana, pergilah."
Sehun menghela nafas kasar.
"Nde, nde! aku akan pergi tapi izinkan aku untuk membawa mu dulu ke tempat tidur, hyung. disini dingin." Ujar Sehun.
Kris tidak bisa menolaknya, ia sudah tidak memiliki tenaga lagi. Dengan anggukan pelan, Kris mengiyakan.
Sehun membantu Kris untuk berdiri ia mengalungkan lengan kurus Kris pada lehernya. Setelah Sehun berhasil membantu Kris untuk berbaring, Sehun berjalan duduk di sofa. Ia menatap Kris intens.
"Kau sudah berjanji akan pulang, Sehun." Lirih Kris.
Sehun menghela nafas sambil masih menatap Kris tajam.
"Aku akan pulang jika hyung sudah terlelap." Jawab Sehun singkat.
Kris tertawa dan mengangguk. Ia pun mencoba menutup kedua matanya, berharap rasa sakit yang ia rasakan segera hilang. Sehun berdiri dari duduknya, mendekati ranjang besar Kris. Sehun meraih tangan Kris yang masih terdapat bekas darah, ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam bajunya dan membersihkan bekas darah itu. Pandangannya mengabur, Sehun menangis.
Ditengah heningnya suasana, Sehun berlirih, "Ada apa dengan mu, hyung?"
TBC…
Haaaaaiiii….author kembali. Maaf lama update lagi, author baru pulang mudik soalnya. Nah untuk teka-teki kemarin selamat buat yang bisa menjawabnya yaah…. Di chap kali ini author sudah membuat apa yang readers minta, semoga kalian puas ya… Saranghae Yeorobeun!
Big thanks and Reply for review:
LVenge: iya, gapapa. Iya sih seharusnya gak dipermasalahkan Cuma pengen buat readers penasaran. Hehehe… di chap ini dia sudah terapi lagi kok. Udah lanjut ya, gomawo semangat sam review nya^^
anis. : mudahan sembuh, doakan saja, ne. udah next yaa… gomawo reviewnya^^
Aiko Michishige: udah lanjut yaa, Gomawo reviewnya^^
Tanda centang: gwaenchana, reader. Wkwkw, gapapa, jahat tuh sbnrnya gak kenal sama Kyungsoo, karena dia gak dikenalin langsung. Iya ff yang satunya sengaja belum di update, mau nyimbangin dulu sama ff ini. Setelah ff ini chap9 author akan lanjutin ff sebelah.. Gidaryeo juseyo… gomawo reviewnya^^
KTOdult: alhamdulillah kalau feelnya dapet.. udah dibuat tao nangis niih… iya mereka suami istri nanti akan dijelaskan di chap depan… Gomawo Reviewnya^^
ChanKai Love: udah next lagi ya.. Gomawo reviewnya^^
annisakimexo: iya udah nikah, nanti dijelaskan di chap depan kok… Gomawo reviewnya^^
celindazifan: gak, tao gak akan ketularan Kris, ditunggu aja yang kelanjutannya… Gomawo reviewnya^^
aldif.63: mudahan gak, doakan aja yaa.. udah lanjut, Gomawo Reviewnya^^
BabyZi: wkwkw author juga jomblo loh.. cabe mah emang gitu..
Suho dulu lebih brengsek dari Kris, wkwk, nanti dijelasin chap depan, Sehun gak tau dengan nama Kyungsoo yang sia kenal d.o… udah lanjut nih…. Gomawo reviewnya, muaahh..
Kim-Jung-Hyewon: selamat ya…sulay di ambang kehancuran, eh? Nih, udah author buat menderita lagi,, wkwkw. Ia jadi, Si Luhan itu memang gak pernah dipertemukan langsung dengan kyungsoo, nah sedangkan Sehun sendiri dia lebih mengenal kyungsoo dengan sebutan d.o. terima kasih reviewnya ne…udah lanjut nih, semoga makin menguras emosi yaa…^^
Ammi Gummy: yaaaaa benar! Jangan ledakin elpiji nanti author di tuntut….hm,,, wkwkw Baekhyun sudah pasrah dengan KrisTao. Udah lanjut nih, Gomawo reviewnya yaa…
Dan semua silent readers, GAMSAHAMNIDA….
