Limit?
By : cronos01
Cast : Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon
Zhang Yixing/ Wu Yixing
Wu Yifan/ Kris
Huang Zitao
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
Kim Jongdae
Kim Minseok
Genre : Romance, Angst, Friendship
Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D
Warning : Yaoi, Typo's. Don't Like, Don't Read. Simple!
So, Enjoy it!
Chapter 7
Previously...
Kris tertawa dan mengangguk. Ia pun mencoba menutup kedua matanya, berharap rasa sakit yang ia rasakan segera hilang. Sehun berdiri dari duduknya, mendekati ranjang besar Kris. Sehun meraih tangan Kris yang masih terdapat bekas darah, ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam bajunya dan membersihkan bekas darah itu. Pandangannya mengabur, Sehun menangis.
Ditengah heningnya suasana, Sehun berlirih, "Ada apa dengan mu, hyung?"
~LIMIT~
Next...
Ditengah keramaian cafe, namja bermata besar itu tengah membuka lembaran kian lembaran sebuah album. Album yang berukuran tidak terlalu besar itu berisikan foto-foto dirinya dengan sang suami dulu. Disana Kai, sang suami dengan kemeja berwarna putih tengah berpose layaknya model diatas ranjang King size miliknya. Senyuman khas yang tidak pernah hilang dari sosok itu membuat hati Kyungsoo bergetar. Di lembaran selanjutnya, ia melihat foto Kai dan dirinya yang tengah berselfie ria di sebuah tempat piknik. Raut wajah jelek yang Kai keluarkan sama sekali tidak membuat Kyungsoo minder, justru ia tertawa melihat wajah itu. Kyungsoo bersumpah, ia tidak pernah menyesali pertemuannya dengan Kai. Kyungsoo juga tidak pernah menyesal, saat harus sadar dan mengakui bahwa dia bukanlah namja satu-satunya yang pernah menyentuh Kai walau, Kyungsoo tau dihati namja berkulit gelap itu, hanya ada dirinya seorang.
Tak dirasakannya, airmata kembali menetes. Mengenang masa-masa indah itu selalu membuat Kyungsoo menangis. Ingatannya kembali pada 6 bulan yang lalu. Saat sang suami dulu melamarnya. Kai datang tanpa membawa apapun, tidak seperti namja pada umumnya, Kai hanya membawa dirinya kehadapan Kyungsoo dan orang tua Kyungsoo. Perdebatan terjadi. Kedua orang tua namja bermata besar itu, mengenal Kai baik. Mereka tau bahwa Kai berasal dari keluarga yang bermasalah. Bukan hanya perihal masalah itu, mereka juga cukup tau bahwa Kai merupakan namja yang- bisa dikatakan, brengsek. Walaupun, masih bisa di hitung jumlah yeoja yang sudah pernah Kai tiduri, tetap saja sebuah kesalahamn besar sudah Kai lakukan.
FLASHBACK ON
Merasa tidak disetujui, Kyungsoo memberontak. Ia pergi dari rumah. Mendatangi Kai. Saat ia sampai di rumah kekasihnya itu, sebuah pandangan yang mengejutkan Kyungsoo dapatkan. Kai tangan kanannya yang terdapat cairan berwarna merah pekat, sebuah vas bunga yang Kyungsoo tau itu merupakan barang kesayangan ibu dari kekasihnya itu kini sudah hancur berkeping-keping, tidak berdaya. Kyungsoo melihat deru nafas Kai yang tidak beraturan.
Sebuah perkatàan keluar dari bibir namja berkulit sedikit gelap itu. "Apakah dengan kematianku, kalian akan berubah?" Lirihnya.
Kyungsoo menutup mulutnya dengan tangan kanannya, kaget.
"Kai. jangan bicara seperti itu, Nak" ujar sosok paruh baya yang sudah berlinangkan air mata.
Kyungsoo melihat sebuah senyum remeh terlihat dari wajah Kai.
"Asal kalian tau. Kehancuranku nantinya, bukan karena kemauan ku sendiri. Tapi karena kalian." Tukas Kai terakhir kali dan meninggalkan ibunya yang masih menangis diruang tengah.
Hari ke hari mereka berdua jalani. Kyungsoo memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Hingga pada suatu malam, sebuah kebahagian datang. Kai yang tau bahwa ia tidak akan diterima oleh kedua orang tua Kyungsoo, ia mengupayakan diri untuk berbicara dengan Kyungsoo lewat jendela kamar. Kyungsoo yang sedang membaca buku tiba-tiba mendengar suara lemparan ke jendela kamarnya. Ia buka jendela itu, ternyata Kai berada di bawah sana. Senyuman khas, Kai berikan untuk Kyungsoo. Kai melempar sebuah gumpalan kertas kearah Kyungsoo, dengan sigap Kyungsoo menangkapnya.
Didalam kertas itu, Kai mengatakan,"Keluarlah. Aku ingin membawamu ke suatu tempat."
Kyungsoo menatap kearah bawah, gerakan mulutnya terlihat mengucap sebuah kata, "Kemana?"
Kai hanya membalasnya dengan kepalanya yang mengisyarat Kyungsoo untuk keluar dulu dari rumah.
Kyungsoo tersenyum, ia menutup jendelanya dan mengambil sweater yang tersampir di kursi belajarnya.
Setelah Kyungsoo keluar dari perkarangan rumahnya, Kai sudah menyambutnya didepan gerbang rumah yang sangat megah itu. Kai meraih tangan Kyungsoo dan menggandeng tangan kekasihnya erat. Sedikit khawatir saat Kyungsoo merasakan hawa dingin dari tangan Kai tapi Kyungsoo mencoba untuk menghiraukannya. Setelah cukup lama mereka diperjalanan. Kai menghentikan mobilnya di sebuah perkarangan gereja.
"Gereja?" Tanya Kyungsoo
Kai tersenyum, mengangguk.
Kyungsoo tersenyum, dipikirannya saat ini tampaknya kekasihnya itu ingin mereka berdoa bersama, meminta restu dari Tuhan mereka untuk kelanjutan hubungan itu. Saat mereka sudah memasuki Gereja, semua yang ada dipikiran Kyungsoo buyar. Seorang pendeta tengah berdiri diatas altar. Tatapan bingung Kyungsoo layangkan kepada Kai sedangkan yang ditatap hanya memberikan senyum yang terlihat sangat bahagia. Kai menyuruh Kyungsoo untuk berdiri di depan pintu gereja, sementara namja berkukit gelap itu dia berjalan menuju altar, dia membisikan sesuatu kepada sang pendeta. Sang pendeta tersenyum dan mengangguk mengerti.
"Silahkan naik keatas altar." Ujar pendeta tersebut kepada Kyungsoo.
Kyungsoo yang berdiri didepan pintu gereja ternganga.
Kai didepan altar sudah menunggu Kyungsoo dengan senyuman bahagia. Kyungsoo berjalan pelan mendekati Kai. Setelah jaraknya sudah dekat dengan Kai, namja itu mengulurkan tangannya kepada Kyungsoo dan Kyungsoo menyambut tangan itu. Kini mereka berdua sudah berada diatas altar. Sang pendeta mulai membuka kitab mereka dan membacakan janji suci yang nantinya akan diucapkan ulang oleh Kai dan Kyungsoo. Selama mengucapkan janji itu, Kai dan Kyungsoo saling bertatapan. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang terpancar disana. Hingga saat mereka sudah saling mengucapkan janji, Kai mengeluarkan kotak berukuran kecil berwarna biru tua. Kotak itu dibuka dan menampakan dua pasang cincin berwarna putih. Kai mengambil cincin itu dan memasangkannya kepada Kyungsoo, begitupula sebaliknya. Setelah memasangkan cincin, Kai mencium Kyungsoo di dahi dan memeluk namja itu erat.
"Kita telah menikah, kyung." Bisik Kai.
FLASHBACK OFF
Kyungsoo yang sedang menangis terkaget saat seseorang tiba-tiba memukul punggungnya dan memanggil namanya.
"Kyungsoo? Kau menangis?" Tanya orang itu, Luhan.
Dengan cekatan Kyungsoo menghapus airmata nya dan tersenyum.
"A-ni. Aku tidak menangis, Lu" jawabnya
Luhan menatap mata Kyungsoo dalam. "Gotjimal." Sergah Luhan.
"Jangan kau simpan sendiri masalahmu, Kyung." Lanjut Luhan.
Kyungsoo tersenyum dan memainkan jemarinya gugup. Luhan melihat jemari Kyungsoo, disana sebuah cincin terlihat yang bisa dipastikan itu merupakan cincin nikah.
"Mian, jika aku lancang, kyung. Itu cincin nikah?" Tanya Luhan hati-hati.
Kyungsoo menatap cincinnya, tersenyum lalu mengangguk.
"Jinjayo? Kau sudah menikah? Waàh, diumur mu yang muda ini kau sudah menikah. Haaah, kapan aku bisa sepertimu." Ucap Luhan diakhiri dengan helaan nafas.
Luhan terlihat sangat tertarik dengan cerita Kyungsoo. Ia membetulkan posisi duduknya dan memangkukan wajahnya dengan tangannya.
"Ceritakan apa yang kau rasakan saat orang-orang datang ke pelaminan mu dan memberi ucapan selamat kepadamu? Rasanya pasti sangat bahagia ya?" Tanya Luhan, excited.
Kyungsoo menggeleng dan mengedikan bahunya. Member jawaban ia tidak tau. Tidak puas dan tidak mengerti dengan jawaban Kyungsoo, Luhan kembali bertanya.
"Kau tidak tau? Bagaimana mungkin?" Tanyanya.
Kyungsoo menarik nafasnya. Ia rasa tidak ada salahnya kalau menceritakan semuanya kepada Luhan. Kyungsoo tersenyum.
"Aku tidak mengalami masa-masa itu, Lu."
Sesaat Kyungsoo berhenti berbicara.
"Dia-suami ku. Kami menikah tanpa restu kedua orang tua kami." Ujar Kyungsoo mantap.
Luhan kaget, ia merasa tidak enak.
"Mianhae, Kyung. Aku tidak tau, harusnya aku tidak menanyakannya." Tukas Luhan
Kyungsoo tersenyum, ia mengelus tangan Luhan.
"Gwaenchana, Lu. Aku siap untuk menceritakannya." Jawab Kyungsoo.
Luhan hanya bisa menatap Kyungsoo sedih.
"Malam itu, dia mendatangi rumah ku. Karena tau bahwa appa dan eomma tidak akan membolehkan ia masuk, dia mengirimkan surat ke jendela kamar ku. Meminta ku untuk keluar dari rumah." Lanjut Kyungsoo bercerita.
"Lalu?" Respon Luhan.
Kyungsoo dengan mata yang merawang melanjutkan ceritanya.
"Dia membawa ku ke gereja. Sedikit bingung awalnya. Mengapa dia membawaku kesana. Ternyata saat kami sudah masuk seorang pendeta berdiri diatas altar."
Luhan mulai mengerti, ia mencoba menebak.
"Dia mengajakmu menikah malam itu?" Tanya Luhan.
Kyungsoo menoleh dengan sangat bersemangat dan mengangguk.
"Jinjayo?" Tanya Luhan meyakinan.
"Ne," jawab Kyungsoo.
"Lalu? Kalau gitu kalian hidup dengan bahagia kan? Orang tua kalian mau gak mau harus merestui kalian, kalian sudah terikat janji suci." Ujar Luhan memberikan banyak pertanyaan.
Kyungsoo tersenyum nanar mendengar pertanyaan namja manis berdarah China itu.
"Bulan pertama hingga bulan terakhir, kami sangat bahagia. Kedua orang tua kami mulai merestui kami." Jawab Kyungsoo.
Mendengar ucapan Kyungsoo mengenai bulan terakhir, Luhan kembali terbingungkan.
"Bulan terakhir?" Cicit Luhan.
"Ya, bulan terakhir-sebelum dia pergi dari dunia ini." Ucap Kyungsoo.
Sontak Luhan langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Ya Tuhan. Maafkan aku, Kyung. Aku-aku tidak tau. Aku turut berduka." Kata Luhan sambil mengelus tangan Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum walau airmata terurai.
"Gwaenchana, Lu." Lirih Kyungsoo.
"Karena apa ia pergi, Kyung?" Tanya Luhan.
Helaan nafas terdengar dari Kyungsoo.
"Overdosis." Jawab Kyungsoo
Sejenak Kyungsoo menarik nafas mencoba menahan air matanya.
"Begitu bodohnya aku tidak mengetahui ia serapuh itu. Bagaimana mungkin aku yang selalu berada disampingnya tidak mengetahui kalau ia menggunakan obat terlarang." Lanjut Kyungsoo
"Tapi aku percaya. Tuhan memang memberikan yang terbaik untuknya. Mungkin jika Kai masih ada disini, dia akan mengalami masa-masa yang lebih sulit dan berat." Lanjut Kyungsoo sambil menatap Luhan.
Luhan mengangguk mengerti, ia tidak berhenti mengelus tangan namja bermata besar yang ada disampingnya.
"Jadi itu sebabnya hingga sekarang kau sibuk mencari sahabat suami mu? Menyampaikan ucapan terakhir, untuk mereka dari suami mu?" Tanya Luhan.
"Hn," jawab Kyungsoo ambil mengangguk.
Luhan menatap namja yang didepannya intens dan menggenggam tangan itu, seakan menguatkan.
"Aku akan membantu mu mencari mereka." Tukas Luhan.
Kyungsoo menatap Luhan, mencari keyakinan disana dan ia melihat Luhan sangat serius dengan ucapannya. Kyungsoo tersenyum mengangguk.
"Gomawo." Singkat Kyungsoo. Ia memandang cincin nikahnya dan mengelus cincin itu lembut.
~LIMIT~
Dengan wajah yang pucat Kris turun dari dalam mobilnya. Ia berjalan dengan sangat pelan, hingga saat ia sampai didalam gedung, langkahnya sedikit oleng untung saja ada seseorang yang langsung menopangnya. Kris tersenyum pada orang itu, Luhan.
"Kau sakit, Kris?"
Kris menggeleng, "Hanya sedikit kecapekan."
"Harusnya kau istirahat saja dirumah."
"Aku tidak akan bisa beristirahat kalau dirumah, Lu. Kau tau itu."
"Kau itu keras kepala." Ujar Luhan sambil memukul pelan lengan Kris.
Luhan masih terus membantu Kris berjalan hingga memasuki lift.
"Kau bertengkar dengan Tao?"
Kris melirik kearah Luhan saat mendengar pertanyaan itu.
"Dia menangis kemarin di perpustakaan."
Kris kembali melirik Luhan, kali ini dengan mata yang sedikit melotot karena kaget. Lift terbuka, mereka sudah sampai di lantai 5. Luhan melepaskan tangannya yang berada di lengan Kris.
"Kau bisa masuk ke kelasmu sendiri kan? Aku hanya bisa membantu mu sampai sini." Tanya Luhan.
Kris mengangguk dan berjalan keluar dari lift.
Luhan melambaikan tangan padanya dan pintu lift tertutup. Kris melihat jam tangannya, mata kuliahnya akan mulai setengah jam lagi, kris memutuskan untuk duduk dulu mengistirahatkan diri ditempat favoritenya. Kris membuka buku tebal miliknya dan mulai membacanya. Tak lama sebuah kursi roda terlihat berhenti didepannya. Kris mengangkat kepalanya dan menatap kedepan.
"Gege." Panggil sosok itu.
Kris hanya diam, menatap namja itu.
"Mianhae, mengganggumu. Aku-aku hanya ingin mengembalikan jaket ini." kata Tao sambil menyodorkan jaket hitam milik Kris.
Kris mengambil jaket itu namun, masih terdiam.
"Ge, terima kasih. Untuk segalanya. Untuk waktu mu, untuk pengorbanan mu. Aku-aku bukan namja yang baik untuk mu, ge. Kau sempurna dan aku tidak sesempurna dirimu. Sekali lagi, gomawo, Kris ge" ujar Tao diakhiri senyuman yang sangat manis.
Tao melayangkan tangannya, menyentuh tangan kurus Kris.
"Jaga kesehatanmu." Kata Tao terakhir kali sebelum kursi rodanya pergi dari hadapan Kris.
Jarak mereka sudah lumayan jauh, entah mengapa Kris baru mendapatkan kekuatan. Ia berdiri dari duduknya.
"Tao! Mianhae." Ujar Kris dari kejauhan.
Entah mengapa, Tao bisa mendengarnya tanpa berbalik Tao tersenyum dan kembali mengayuh kursi rodanya.
~LIMIT~
Luhan berdiri didepan kelasnya. Dari pintu kelas, ia melihat sang kekasih yang tengah menatap kosong buku yang terbuka di meja. Buku tampaknya tidak dibaca oleh Sehun karena, memang kekasihnya terlihat tidak fokus. Luhan masuk kedalam kelas, ia duduk hati-hati disamping Sehun. Kekasihnya itu, sama sekali tidak berkutik, tatapannya masih kosong. Luhan mencoba untuk menyentuh bahu Sehun lembut. Sehun langsung terkaget dan mengusap wajahnya kasar. Terlihat seperti orang yang sedang memiliki sebuah masalah.
"Kau bengong, Hun?"
Sehun tertawa mendengar pertanyaan Luhan.
"Haha, benarkah? Aku tidak menyadarinya."
Luhan menatap mata kekasihnya, mencoba membaca apa penyebabnya.
"Wae geurae?" Ucap Luhan.
Sehun menatap kekasihnya. Benar, ia tidak pernah bisa menyembunyikan kekalutannya dari hadapan kekasihnya ini.
"Kris hyung. Masalah Kris hyung"
"Kris?ada apa dengannya?"
Sehun menggelengkan kepala, ia mengisyaratkan kalau ia juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Sore kemarin saat aku kerumah aku menemukannya tidak berdaya, Han."
Luhan tertawa mendengar ocehan Sehun.
"Tidak berdaya? Maksudmu? Aku baru menemuinya tadi, ya memang dia terlihat sedikit tidak sehat hari ini."
Sehun langsung menolehkan kepalanya.
"Kris hyung masuk?"
Luhan mengangguk.
"Hannie, kemarin-kemarin aku menemukannya di kamar mandi apartemennya. Wajahnya sangat pucat, berdiri saja ia tidak memiliki tenaga dan lagi-"
"Dan lagi, mwo?" Tanya Luhan melihat Sehun berhenti.
"Terdapat darah di bibirnya, Han"
Mndengar ucapan terakhir kekasihnya, sontak Luhan menoleh.
"Mwo?"
~LIMIT~
Dari kejauhan Chanyeol hanya memandang. Merasa kesal sekaligus sedih, melihat sahabatnya yang tampak pasrah. Kris sama sekali tidak berniat memperbaiki hubungan dengan Tao. Chanyeol berjalan mendekati Kris. Ia duduk di samping namja yang tak kalah tingginya dengan dia.
"Kau berkelahi dengannya hyung?" Ujar Chanyeol bersuara.
"Aku bukan namja yang baik untuknya, Chan" jawab Kris.
Chanyeol tertawa remeh.
"Apa yang kau katakan, hyung."
"Kau pikir namja yang baik itu seperti apa? Keluar masuk gereja setiap menit untuk berdoa?" Lanjut Chanyeol bertanya.
Kris menggeleng. Ia memandang kosong pemandangan dari jendela kaca gedung 5 itu.
"Aku tidak sesempurna yang orang-orang lihat, chan. Termasuk kau."
Chanyeol menelan ludahnya susah payah. Mendengar ucapan Kris, Chanyeol malu.
"Hyung, jika kau bukan namja yang baik. Lalu aku dan Sehun itu apa? Brengsek?" Tukas Chanyeol.
Tanpa menatap Kris, Chanyeol melanjutkan ucapannya.
"Kau tidak tidur dengan yeoja murahan, hyung. Kau juga jarang meminum minuman keras. Sedangkan aku dan Sehun?"
"Sampai sekarang kadang kami masih ingin melakukan hal itu." Lanjut Chanyeol.
kris yang sedari tadi tidak menatap Chanyeol, kini menatap dalam sahabatnya.
"Aku tidak akan bisa memberikannya kebahagian." Tegas Kris.
Chanyeol membeku. Lalu kembali tersadar.
"Aku punya sahabat yang dia sudah ku anggap seperti hyung ku sendiri. Seperti kau."
"Lalu?"
"Aku menyesal karena tidak pernah mendengar keluh kesahnya. Dia memang orang yang dingin, cuek."
"Aku tidak percaya kau memiliki sahabat selain aku, Sehun dan Kai." Canda Kris.
"Kau bukan satu-satunya, hyung" bohong Chanyeol.
"Kau satu-satunya,hyung"
Kris tersenyum samar.
"Baguslah. Kau tidak boleh bergantung dengan ku terus." Ujar Kris.
Chanyeol menatap Kris nanar. Tak lama Kris berdiri dari duduknya dan mengalungkan tas ranselnya.
"Aku harus ke kelas, chan"
Belum terlalu jauh jarak antara Chanyeol dan Kris. Namja yang memiliki fake smile itu memanggil Kris.
"Hyung, kalau aku jadi kau. Aku akan memanfaatkan waktu yang ada." Teriak Chanyeol.
Sontak Kris langsung berbalik, memandang Chanyeol dengan tatapan aneh.
"Aku sudah tau semua, hyung. Aku sudah mengetahuinya." Lirih Chanyeol yang disudut matanya kini sudah terlihat air mata.
Chanyeol mendekati Kris. Sementara Kris menatap Chanyeol dengan mata yang membesar dan berkaca-kaca.
"Mianhae. Mianhae, hyung" Chanyeol kembali berlirih.
Selama Chanyeol terus meminta maaf, kris hanya membeku memandang sahabatnya itu
~LIMIT~
Langit mulai merubah warnanya menjadi kelam. Matahari yang tadinya kini menerangkan bumi, tergantikan dengan bulan yang bersinar terang. Di tengah kencangnya angin malam, Kris berdiri di balkon apartemennya. Di tangannya sebuah tabung kecil ia genggam. Namja bersurai emas itu menatap tabung tersebut nanar, ia membuka penutup tabung tersebut. Mengeluarkan 2 butir isinya dan meminumnya tanpa air. Kris terlihat biasa saja saat menelan obat yang pahit, kebal terhadap rasa pahit obat bisa dibilang.
Setelah puas bermanja dengan angin malam, kris membawa langkahnya masuk kedalam kamar. Namja itu duduk pada kursi yang berhadapan langsung dengan grand piano miliknya, ia letakan tabung obatnya diatas grand piano tersebut. Mulai memainkan pianonya. Sesekali berhenti, mencoba mengingat-ingat nada yang sempat dibuatnya beberapa hari lalu. Ya, Kris tidak hanya piawai dalam melukis, ia juga pandai membuat intrumental dengan grand pianonya. Sesaat Kris berhenti dari permainan pianonya, tiba-tiba wajah Tao terlintas di ingatannya, wajahnya yang kerap kali mengambek jika tidak ia penuhi kepenuhan namja bermata panda tersebut, wajah yang selalu tersenyum disetiap paginya saat melihat Kris. Selintas Kris menyesal belum sempat mengenalkan kepiawaiannya dalam bermain piano. Tanpa Kris sadari ternyata ia merindukan sosok itu.
Saat ia sedang tersenyum bahagia mengingat namja yang masih berstatus kekasihnya, sebuah rasa sesak timbul di dada namja bersurai emas itu, membuat Kris terbatuk untuk melampiaskan rasa sesak di dadanya. Sebuah cairan berwarna merah terlihat di sudut bibir namja itu.
"Akh!" Rintihan keluar dari bibir Kris.
Sakit. Itu yang ia rasakan sekarang. Paru-parunya terasa seperti di himpit oleh barang yang sangat besar. Terlintas obat yang dulu diberikan untuknya, obat pereda rasa sakit. Kris berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, ia menompangkan tubuhnya pada dinding kamarnya, masih terlihat jelas wajah kesakitan disana. Hingga akhirnya ia bisa mencapai nakas kecil dan membuka laci nakas itu. Dengan tangan yang bergetar Kris membuka tabung obat tersebut dan meminumnya. Namja itu bersandar pada dinding kamarnya, mencoba untuk menetralkan nafasnya kembali. Perjuangannya berhasil, tidak butuh waktu yang lama obat itu bereaksi. Rasa sakit itu berkurang walau ia masih bisa merasakannya sedikit. Ia mengambil tisu yang ada diatas nakas tersebut, masih menopangkan tubuhnya pada dinding kamar, Kris membersihkan darah yang berbekas ditangannya. Sebuah korek api Kris keluarkan dari dalam saku celananya, ia membakar tisu tersebut dan membuang ampasnya di dalam tempat sampah yang ada dikamarnya.
Bel apartemen Kris berbunyi. Sontak Kris yang masih terlihat sedikit lemah langsung mau tak mau keluar dari kamarnya.
"Chankaman" teriak Kris mencoba walau hasilnya suaranya terdengar sangat lemah.
Pintu apartemennya ia buka. Sang ayah berdiri didepan pintu apartemennya, masih lengkap dengan baju kerja. Kris tersenyum samar melihat ayahnya.
"Abeoji."
Suho, sang ayah langsung masuk kedalam apartemen, tak menghiraukan panggilan Kris. Suho sudah melangkahkan kakinya kedalam, matanya menatap sekeliling apartemen.
"Tidak perlu sebahagia itu. Aku hanya sedang mengecek keadaan apartemen." Tukas Suho.
Suho membawa langkahnya ke arah dapur, memasukan tangan sebelah kanan di saku celananya.
"Setelah aku menanyakan langsung kepada orang-orang di apartemen, apa saja yang kau lakukan disini. Mereka menjawab kau tidak pernah melakukan apapun."
Sejenak Suho diam.
"Entah kenapa, aku tidak percaya. Bisa saja kau menyimpan wanita di apartemen. Karena kalau sampai begitu, para wartawan akan datang ke apartemen dan menghancurkan kerjaan ku." Lanjut Suho dengan nada sinis.
Kris memandang ayahnya nanar. Ditengah keadàannya yang sangat lemah, sang ayah masih bisa bersikap sinis terhadapnya.
Ya, apartemen ini. Bukan hanya kamar Kris tapi, pemilik saham apartemen ini adalah Wu Corp. Milik Suho yang dulunya ingin Suho pindah alihkan kepada anak tunggalnya, Kris. Tapi sejak mengetahui anaknya memiliki penyakit itu, Suho mengubur dalam-dalam rencananya.
Setelah masuk kearea dapur, kini Suho sudah berada di dalam kamar Kris. Sebuah bercak kemerahan terlihat di salah satu sisi dinding kamar tersebut. Sempat kaget namun, Suho langsung mengalihkan pandangannya. Kris hanya berdiri di depan pintu kamar. Setelah berkeliling mengecek setiap sudut apartemen, Suho mengistirahatkan diri sesaat di ruang tengah. Dengan segala kekuatan, Suho menatap anaknya. Hatinya tiba-tiba merasakan keperihan, namja tinggi yang berasal dari darahnya sendiri terlihat sangat menyedihkan. Wajah yang menjadi dambaan para namja maupun yeoja itu, terlihat pucat, mata itu terbesit kelelahan tapi satu yang tidak pernah berubah. Senyum tulus dari sosok itu, selalu sama. Sontak Suho langsung mengalihkan pandangannya.
"Bagaimana keadaanmu? Kudengar dari eomma mu, kau sakit"
Kedua mata Kris sedikit tebelalak. Kaget mendengar sang ayah menanyakan keadaannya.
"Gwaenchanayo, abeoji. Hanya kelelahan."
Suho menghela nafas.
"Baguslah. Kalau kau terlalu lama sakit, eomma mu akan kecapekan bolak-balik apartemen ke mansion. Para wartawan akan menanyai sebab aku mengasingkan mu kesini."
Mengasingkan? Ya.
Kris merasa ia memang pantas untuk diasingkan
Suho melirik jam dinding yang tergantung pada ruang tengah. Waktu sudah menunjukan pukul setengah 9 malam. Suho bangung dari duduknya dan berjalan keluar dari apartemen, Kris membukakan pintu untuk sang ayah.
"Hati-hati, abeoji." Ucap Kris hendak memeluk sosok paruh baya itu namun, dengan sigap Suho langsung menghindar.
Kris tersenyum tipis melihat tingkah laku ayahnya.
"Aku harus segera pulang. Selamat tinggal." Singkat Suho lalu menghilang dari pandangan Kris.
Kris menopangkan tubuhnya pada sisi pintu apartemen, memandang dari jauh kepergian Suho.
"Bahkan tidak ada ucapan selamat malam untukku. Abeoji" lirihnya.
~LIMIT~
Sehun berjalan santai di koridor apartemen Kris, ia memasukan tangan kanannya ke saku celana sambil sesekali menggosokan kedua tangannya dan meniup tangannya. Sedikit menyesal karena tidak memarkirkan mobilnya di basement, akibatnya ia harus terkena dinginnya angin malam. Langkah kakinya ia percepat agar ia bisa segera menghangatkan badannya di apartemen Kris. Tiba-tiba saat di tikungan koridor, tubuhnya bertabrakan dengan seseorang yang sedikit lebih pendek darinya.
"Suho abeoji?"
Ya, orang yang Sehun tabrak adalah Suho.
"Sehun?"
Sehun mengeluarkan tangannya dari saku dan menundukan badan sebagai sapaan kepada Suho, lalu ia memasukan kembali tangannya ke saku.
"Apa yang kau lakukan disini, abeoji?"
Suho tertawa canggung.
"Haha, hanya mengecek aset ku. Ya, mengeceknya."
Sehun tercengang. Aset? namja ini lupa atau sengaja? Ia tidak ingat anaknya ia pindahkan ke tempat ini?
Suho pura-pura melirik jam tangannya.
"Ah, Sehun. Mian, abeoji harus segera balik kerumah. Malam." Ujar Suho lalu pergi begitu saja.
Belum lama Suho pergi, sehun bangun dari tatapan kosongnya.
"Suho abeoji" panggil Sehun.
Suho langsung membalikan badannya.
"Kris hyung, kenapa kau mengasingkannya ke tempat ini? Dia-anakmu sendiri."
Suho bungkam. Ia tidak menjawab, Suho melangkahkan kakinya pergi meniggalkan Sehun yang masih berdiri sambil mengepalkan tangan.
Setelah pertemuannya dengan Suho, Sehun melanjutkan perjalanannya. Tanpa mengetuk pintu apartemen Kris, Sehun langsung membuka pintu apartemen dan masuk. Melihat keadaan apartemen yang sangat sepi, ia berjalan menuju kamar Kris. Sehun berdiri di depan pintu kamar, menatap Kris yang sedang memainkan piano sedangkan, Kris ia menghentikan permainan pianonya saat merasakan seseorang sedang memperhatikannya.
"Sehun?"
Bukannya menjawab, Sehun balik bertanya, "Kau. Kenapa pergi ke kampus, hyung?"
Kening Kris bertaut.
"Memangnya kenapa?"
"Kau sedang sakit, hyung. Beristirahatlah di rumah."
Kris tertawa.
"Aku tadi hanya menjalankan 2 mata kuliah."
setelah menanggapi omongan Sehun, Kris bangkit dari duduknya.
"Apa yang ingin kau lakukan, hyung?"
"Tidur" singkat Kris
Sehun tertawa.
"Boleh ku tebak? Kau belum makan malam bukan? Tukas Sehun.
Kris memandang namja itu malas.
"Aku sedang tidak berselera"
Lalu Kris kembali melanjutkan langkahnya untuk naik ke atas King Bed nya. Sehun keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Kris terpaksa bangkit dari tempat tidurnya dan mengikuti langkah Sehun. Di dapur ia melihat Sehun yang tengah mengeluarkan beberapa bahan makanan.
"Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Kris dingin.
"Memasak" jawab Sehun singkat.
Sehun menaruh semua bahan yang sudah diambilnya di atas tempat masak.
"Aku akan membuatkan hyung sup." Cicit Sehun sambil mencuci sayur-sayur yang akan di potong.
Dengan wajah yang datar, Kris berujar, "Terserah kau saja." Lalu berlalu pergi masuk kedalam kamarnya.
Sehun menatap kepergian Kris dengan nanar dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Tak lama setelah Sehun memasak semuanya, ia membawa makanan tersebut ke kamar Kris. Kamar itu terdengar sangat hening, ternyata dari pintu kamar Sehun melihat sang pemilik kamar sudah tertidur. Dengan helaan nafas, Sehun melangkahkan kakinya mendekati ranjang Kris. Sesaat Sehun menatap wajah yang tengah tertidur itu. Tak tega untuk membangunkannya sebenarnya tapi sosok itu belum makan, Sehun tidak mungkin membiarkan hyung nya ini tidak makan malam.
Sehun mengguncangkan bahu Kris pelan. "Hyung. Ireona," ujarnya.
Tak lama sebuah respon Sehun dapatkan, kedua mata elang itu terbuka. Dengan suara yang serak, Kris berkata.
"Kau belum pulang?"
Sehun menggeleng. Ia mengangkat semangkuk sup, memperlihatkannya kepada Kris.
"Kau harus memakan ini dulu, hyung"
"Sehun, aku benar-benar sedang tidak berselera. Jangan memaksakannya."
Sehun mengheka nafas kasar.
"Lalu aku harus membuang nya? Hargailah jerih payah ku, hyung." Bentak Sehun.
Kris luluh. Ia juga tidak mungkin tega membiarkan makanan Sehun begitu saja. Kris sekuat tenaga mencoba bersandar pada kepala ranjangnya disampingnya Sehun membantu. Setelah Kris merasa nyaman, Sehun menyuapkan sup yang dibuatnya, kris sempat menolak untuk disuapi tapi melihat wajah Sehun yang memelas mau tak mau Kris menerimanya.
"Otte?" Tanya Sehun.
Kris mencoba merasakan baik-baik makanan itu. Tak lama ia memberikan respon.
"Not bad."
Sehun tertawa bangga.
Setelah cukup lama menyuapkan Kris, makanan akhirnya habis. Sehun memberikan segelas air putih kepada namja yang lebih tua darinya itu.
"Hyung, kenapa kau terlihat sulit sekali menelan? Semangkuk sup kau habiskannya setengah jam"
Mendengar pernyataan dari Sehun, Kris membeku. Ia hanya menatap namja itu.
"Sudah kukatakan kalau aku sedang tidak berselera. Kau tetap memaksanya. Itu sebabnya aku mengulur-ulur"
Begitulah jawaban Kris. Sehun tidak percaya, ia melihat dengan jelas bahwa Kris terlihat kesulitan menelan makananya dan namja itu juga tadi hampir saja tersedak.
"Sebebarnya ada apa denganmu, hyung."
"Tidak ada apa-apa."
Namja yang lebih muda dari Kris itu, menghela nafas.
"Hyung, sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan padamu."
Kening Kris bertaut.
"Tentang apa?"
"Kai. Hyung sudah tau kalau dia menggunakan obat-obat terlarang kan, hyung?"
Ucapan Sehun membuat kedua mata Kris terbelalak sementara Sehun menatap Kris datar.
~LIMIT~
Baekhyun masuk kedalam kamarnya. Dari pintu ia melihat sang sepupu yang tengah tertidur di meja belajar. Sebuah buku yang masih terbuka menjadi alas kepala Tao. Baekhyun memindahkan sepupunya pelan-pelan ke atas ranjang Tao dan dirinya. Setelah Tao sudah terlihat nyaman, Baekhyun menatap wajah sepupunya itu. Mata panda itu terlihat membengkak, tampaknya sang empu menangis sebelum tidur namun ternyata dugaannya salah. Tao menangis dalam tidurnya, air mata masih membekas di sudut mata panda itu. Baekhyun menghela nafas, ia membersihkan bekas air mata itu. Baekhyun berjalan menuju tempat tidurnya di samping Tao. Sebuah suara yang sangat khas berasal dari sebelahnya, Tao kembali mengigau.
"Mama. Baba. Bogoshipo," igau Tao.
~LIMIT~
Suho turun dari lantai atas rumahnya sambil merapihkan jas berwarna biru donker yang dikenakannya. Sebuah suara yang cukup berisik berasal dari dapur. Disana ia melihat sang istri tengah menyiapkan sarapan pagi namun, Suho dapat melihat Lay yang sepertinya bekerja dengan sangat terburu-buru dan sang istri terlihat sedang menelpon seseorang.
"Kris, hari ini jangan lupa ke rumah sakit ya, Nak"
"Izin dulu. Kau harus istirahat setelah transfusi, Kris."
"Iya. Eomma tunggu jam 8 tepat dirumah sakit ya. Bye."
Suho hanya mendengar setiap kata yang Lay ucapkan kepada sang penelpon. Setelah sang istri selesai menelpon anaknya, lay menaruh kembali ponselnya di meja dan saat ia membalikan badan. Suho, sang suami berdiri di sekat antara dapur dan ruang keluarga. Suho tersenyum, tidak biasanya. Namja pendek itu berjalan sambil membawa tas kerja dan duduk di kursi makan.
"Pagi, yeobo"
Lay tersenyum mendengar nada manis dari Suho. Sudah lama ia tidak mendengar nada itu. Lay meninggalkan pekerjaanya dan mencium dahi sang suami.
"Siapa yang kau telpon tadi?" Tanya Suho pura-pura tidak tau.
"Ah, itu Kris. Ia harus transfusi darah hari ini."
Suho bingung, ia mengehentikan sesaat kunyahan makanannya.
"Tranfusi darah?"
Lay mengangguk.
"Donghae mengupayakan pengobatan untuk Kris dan pengobatan itu memiliki efek samping yang akan membuat penderita cepat lelah. Itu sebabnya Kris harus transfusi darah."
Suho mengangguk, tiba-tiba sesuatu yang ia temui di kamar Kris kemarin malam terlintas di ingatannya.
"Lay, kau yakin Kris baik-baik saja?" Tanya Suho.
Lay mengangguk untuk mengiyakan.
"Dua hari yang lalu aku bertemu dengannya. Ia tampak terlihat sehat. Waeyo?"
Suho menatap Lay nanar.
"Aku menemukan bekas darah di wallpaper kamar kemarin." Ujar Suho.
Sontak Lay langsung menoleh.
"Mworago?"
~LIMIT~
Lay dan Kris kini tengah berjalan disepanjang koridor rumah sakit. Terlihat jelas sang ibu kini tengah mengoceh kepada anaknya yang hanya bersikap datar.
"Kenapa kau tidak bilang ke eomma, kalau kau sering mengalami itu Kris?"
"Eomma, Kris tidak apa-apa. Itu sudah biasa. Eomma tidak perlu sekhawatir ini."
"Bagaimana mungkin eomma tidak khawatir, gejala itu tidak bisa disepelekan ,Kris."
Kris terlihat menghela nafas.
"Memangnya apa yang bisa eomma lakukan kalau Kris melaporkannya? Gejala itu memang pasti terjadi kan eomma, tidak akan bisa dihindari."
Tepat saat Lay ingin menanggapi perkataan anaknya, dua orang namja tiba-tiba muncul dari tikungan koridor rumah sakit dan Lay hampir menabrak kedua orang itu.
"Eomonie?" Ujar salah satu dari kedua namja itu.
Kris justru secara reflek berucap memanggil nama seseorang yang pertama kali dilihatnya.
"Tao."
Baekhyun yang tadi secara tidak sengaja hampir menabrak Lay, menundukan badan meminta maaf.
"Jwoseonghamnida, eomonie."
Lay tersenyum, ia menganggukan kepala dan mengelus bahu Baekhyun lembut.
"Ah, gwaenchana Baek. Eomma juga tidak melihat jalan tadi."
Sementara balik kepada Kris dan Tao. Kris menatap Tao intens sementara, Tao menundukan kepalanya gugup.
Dengan segala keberanian, Tao mengeluarkan suara.
"K-kris ge, apa yang kau lakukan disini?"
Kris terdiam. Tidak tau harus menjawab apa, yang ada dipikirannya hanya, ia ingin memeluk 'kekasihnya' yang ada dihadapannya kini. Lay yang melihat Kris hanya membeku, namja itu angkat bicara.
"Kris mengantarkan eomma untuk menebus obat, Tao."
Tao mengangguk dan kembali menunduk.
"Kalau kau, apa yang kau lakukan disini, Tao?"
Suara itu, suara yang selalu mampu menggetarkan hatinya. Suara Kris yang berat dan serak itu mengalihkan perhatian Tao. Tao menatap mata itu, tak ada yang berubah. Namja panda itu masih bisa melihat kilatan cinta dimata namja yang masih berstatus kekasihnya ini. Melihat Kris yang menatap Tao intens, Baekhyun berdehem.
"Ekhem, ekhem. Tao kesini untuk terapi." Tukas Baekhyun.
Lay tertawa melihat tingkah Baekhyun yang sangat posesif terhadap Tao.
"Ah, eomoni. Mianhae, kami harus segera keruangan dokter. Sampai jumpa lagi, eomonie."
Tao dan Baekhyun pun pergi. Kini Kris dan Lay kembali melanjutkan perjalanannya. Tak lama mereka sampai didepan ruang dokter Donghae.
"Kau tunggu dulu disini. Eomma berbicara sebentar dengan Lee uisa, ne?"
Kris mengangguk dan Lay langsung masuk kedalam. Sementara Kris ia berjalan menjauh dari ruang Lee uisa.
~LIMIT~
Dari kejauhan Kris melihat Baekhyun yang tengah berdiri melipat tangan didada. Pandangan namja manis itu terfokus kedalam suatu ruangan. Kris mendekat ke Baekhyun. Merasa ada seseorang yang berdiri disampingnya, Baekhyun menoleh. Helaan nafas terdengar dari yang jauh lebih pendek dari Kris itu.
"Kau tidak suka dengan kehadiran ku?" Tanya Kris.
Dengan cepat Baekhyun menjawab, "Sejujurnya iya tapi kalaupun kau ku usir. Kau tidak akan pergi bukan?"
Kris tertawa kecil.
"Sebentar saja, izinkan aku. Nantinya tidak perlu kau usir aku tidak akan ada lagi dihadapanmu-juga Tao."
Baekhyun menoleh ke namja yang berada disampingnya, kata-kata itu terdengar aneh bagi Baekhyun. Setelah menatap Kris yang tak memberi respon, baekhyun kembali menatap kedalam ruangan. Disana Tao terlihat sangat bersemangat menjalankan terapi walau, dapat mereka berdua lihat, namja bermata panda itu kelelahan.
"Kau lihat, Kris. Dia melakukan ini semua. Untukmu."
"Aku bukan namja yang baik untuknya, Baek"
"Aku tau. Bahkan dari dulu."
Kris menggeleng medengar ucapan Baekhyun.
"Bukan, bukan dari segi perilaku. Aku-aku tidak akan bisa membahayakan Tao, nantinya."
Baekhyun tertawa remeh.
"Sudah kupastikan."
Tiba-tiba ponsel Kris berbunyi.
"Nde, eomma. Kris segera kesana" ujar Kria pada sang ibu yang menelponnya.
setelah menutup sambungan telpon, namja tinggi itu memasukan ponselnya kedalam saku lalu, menatap Baekhyun.
"Baek, aku harus pergi." Ujar Kris lalu berlalu meninggalkan Baekhyun.
Entah mengapa, terbesit rasa penasaran dalam dirinya. Baekhyun diam-diam mengikuti langkah Kris. Sedangkan Tao yang berada didalam ruang terapi, menoleh keluar saat kekasihnya pergi. Tao tersenyum.
~LIMIT~
Baekhyun melihat Kris memasuki sebuah ruangan. Didalam ruangan itu seorang dokter dan suster memasangkan sebuah selang ke tangan Kris. Selang itu berasal dari kantung infus yang isinya merupakan sebuah darah. Kening Baekhyun bertaut. Tak lama sang suster keluar sambil membawa peralatannya. Baekhyun menghentikan langkah suster itu didepan ruangan.
"Ah, ganhosa mianhae. Tuan Wu Yifan, apa yang sedang dilakukannya?"
Sang suster sempat curiga dengan Baekhyun.
"Maaf, anda siapanya Tuan Yifan?"
Dengan sigap Baekhyun menjawab, "Saya kerabatnya. Ya, kerabat. Saya kurang mengerti dengan apa yang dilakukan dokter kepada Yifan, makanya saya bertanya"
Suster itu mengangguk mengerti.
"Tuan Yifan sedang menjalani pengobatan"
"Pengobatan? Pengobatan untuk apa ya?" Tanya Baekhyun tidak mengerti.
"Beliau sedang menjalani pengobatan AIDS dan obat tersebut mempunyai efek samping yang akan membuat pengguna cepat kelelahan dan kurang darah. Itu sebabnya beliau harus melakukan transfusi."
Kedua mata Baekhyun terbelalak, pandangannya berkaca-kaca. Sesaat ia terbengong dan kembali sadar.
"Ah, algeuseumnida. Gamsahamnida untuk infonya, ganhosa." Tutur Baekhyun mencoba terlihat baik-baik saja.
setelah suster itu pergi, tubuh Baekhyun oleng. Membuatnya harus bersandar pada dinding rumah sakit tersebut. Air matanya menetes. Baekhyun menatap ke dalam ruangan tersebut.
Dengan lirih ia berujar, "AIDS? Tidak mungkin."
Ingatannya kembali kepada beberapa saat tadi Kris dan dia berbincang didepan ruang terapi Tao.
"Aku-tidak akan bisa membahagiakan Tao, nantinya."
Tubuh Baekhyun yang tadi bersandar pada dinding kini merosot begitu saja. Namja itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia menangis. Sama sekali tidak mencoba menahan isakan dan raungannya, Baekhyun menangis dengan kencang hingga sesegukan.
Didalam raungannya Baekhyun berujar, "Mianhae. Mianhae Kris, Mianhae!"
~LIMIT~
Luhan keluar dari perpustakaan kampus. Buku-buku tebal yang baru saja ia pinjam memenuhi tangannya membuat badannya menjadi keliatan kecil. Dari kejauhan seorang namja bermata besar tengah berdiri kebingungan sambil memegang secarik kertas kecil. Matanya tidak henti-henti menatap ke sekeliling gedung kampus. Tiba-tiba pandangannya jatuh kepada orang yang sangat ia kenal tengah berjalan kerepotan membawa buku.
"Luhan!" Teriak namja itu.
Dengan sedikit kerepotan Luhan mencari sosok yang memanggilnya dan matanya jatuh kepada Kyungsoo yang tengah berlari kearahnya dengan senyum bahagia.
"Hey! Apa yang kau lakukan disini, Kyung?"
Kyungsoo masih mencoba mentralkan nafasnya karena berlari.
"Hah, hah.. aku- aku mendapatkan petunjuk baru. Mereka-mereka sahabat suamiku, berkuliah disini!"
Bibir kucing Luhan terbuka, ekspresi gembira begiti tercampar diwajah cantik itu.
"Jinjjayo?"
Kyungsoo mengangguk gembira namun, tiba-tiba raut gembira di wajah Luhan meluntur.
"Yah, kalau begitu kau akan secepatnya kembali ke luar negeri dong. Ah,"
Kyungsoo tertawa melihat wajah cemberut Luhan. Kyungsoo mengelus lembut bahu namja yang ada didepannya dan berkata, "Aku akan sering-sering main ke sini, Lu. Tenang saja"
"Jinjjayo? Ah baiklah" ujar Luhan.
Dari kejauhan Luhan melihat kekasihnya yang tengah berjalan.
"Nah, itu dia kekasih ku. Kebetulan sekali, aku akan mengenlkannya padamu." Kata Luhan.
"HUNNIE!" teriak Luhan.
Sehun yang mendengar suara Luhan langsung mencari sumber suara itu, ia melihat tangan Luhan yang melambai-lambai kepadanya. Dengan senyuman Sehun berjalan cepat mendekati kekasihnya namun, Sehun nerasakan keanehan. Ia melihat namja yang tengah berdiri didepan Luhan, namja berambut merah dan kacamata. Walau, penampilan namja itu berubah drastis, Sehun masih dapat mengenalnya dari bentuk bibir dan mata itu. Kini mereka suka saling berhadapan, tidak hanya Sehun yang kaget, Kyungsoo pun kaget.
"Sehun?"
"D.O?
TBC...
Yuhuuuuuuuuuii, author kembali. Gimana? Gimana? Chap kemarin? Seru gak? Kali ini author membawa kembali chap yang gak kalah seru loh! berasa gak tegangnya? Feelnya? huft, author harap kalian puas ne...
Oh iya mengenai abang Tao. Author selaku EXO L kecewa dengan tindakan beberapa EXO L yang menjudge Tao, sedikit pesan sih dari author. Ex member adalah sosok yang dulu juga membuat kita bangga menjadi EXO L so, keep give support. Ambil sisi positif dari keputusan yang mereka ambil karena kita gak tau apa alasan sebenarnya mereka mengambil keputusan itu... EXO? SARANGHAJA!
Gomawo untuk review, follow dan favorite dari kalian untuk Ff ini. Tetap berikan review karena hanya dari kalian lah author menjadi bersemangat dalam menulis. Saranghae❤
BIG THANKS AND REPLY FOR REVIEW :
annisakimexo : ini udah lanjut kok, hehehe. Gomawo reviewnya^^
Kim -Jung- Hyewon : gomawo pujiannya :) udah next nih, kali ini Yifan sedikit menderita tapi mudahan kamu suka yaa.. gomawo reviewnya dan semangatnya^^
pantao : Mianhae atas kekejaman author.. gomawo reviewnya^^
Ammi Gummy: Mianhae, itu masih rahasia, Ammi. Kalau autjor ksh tau nanti gak surprise:( Mereka gak putus, org mereka masih saling anggal kekasih kok. Tao gk mau pisah dr Kris begitu juga Kris, ehm. Udah lanjut yaaa, Gomawo reviewnya^^
celindazifan: gak ketularan kok tenang aja... gomawo reviewnya^^
aldif.63: udah lanjut ya...gomawo reviewnya^^
ChanKai Love: terus dukung KrisTao dan author juga ya :D. Gomawo reviewnya^^
Blablabla: gomawo pujiannya.. udah lanjut nih... gomawo reviewnya^^
Aiko Michishige: udah lanjut yaaa, gomawo review dan semangatnya^^
Mislah: makasih pujiannya... gomawo reviewnya yaa^^
LVenge: mereka sama sama ngerasa gak sempurna sih.. hm,. mungkin chal depan Tao bakal tau, soalnya Baek udh tau nih.. Gomawo reviewnya dan semangatnya yaaa^^
Guest: iya dong author tepat janji:) Sehun masih masih belum tau semuanya nih, Luhan lagi difokusin buat Kyungsoo.. Suho muncul kok disini... semoga kamu suka yaa... Gomawo reviewnya^^
DAN UNTUK SEMUA SILENT READERS. GAMSAHAMNIDA^^
