Limit?
By : cronos01
Cast : Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon
Zhang Yixing/ Wu Yixing
Wu Yifan/ Kris
Huang Zitao
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
Kim Jongdae
Kim Minseok
Genre : Romance, Angst, Friendship
Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D
Warning : Yaoi, Typo's. Don't Like, Don't Read. Simple!
So, Enjoy it!
Chapter 8
Previously...
. Ia melihat namja yang tengah berdiri didepan Luhan, namja berambut merah dan kacamata. Walau, penampilan namja itu berubah drastis, Sehun masih dapat mengenalnya dari bentuk bibir dan mata itu. Kini mereka saling berhadapan, tidak hanya Sehun yang kaget, Kyungsoo pun kaget.
"Sehun?"
"D.O?
~LIMIT~
Next...
Setelah menjalankan terapi selama 1 jam, kini Baekhyun dan Tao sudah dalam perjalanan pulang. Senyum bahagia tak lepas dari wajah namja panda tersebut. Bahagia karena kemajuan terapinya dan bahagia karena Kris namja yang masih menjadi kekasihnya sempat melihat proses terapinya. Berbanding terbalik dengan sang sepupu, Baekhyun. Namja manis pertubuh lebih pandek dari Tao itu tampak lebih diam. Mata itu tampak kosong walau Baekhyun masih terlihat konsentrasi dengan kemudinya. Tao mencoba untuk mengajak berbicara sepupunya itu.
"Baekhyun hyung?"
Tanpa mengeluarkan suara, Baekhyun hanya menoleh.
"Sikapmu aneh sekali, hyung. Kau tidak bahagia ya sebentar lagi aku akan bisa berjalan lagi?"
"A-ani. Tidak begitu, Tao." Jawab Baekhyun langsung.
"Lalu?" Tanya Tao dengan memiringkan kepalanya lucu.
Merasa ada yang perlu Baekhyun tanyakan secara serius dengan Tao, ia memarkirkan mobilnya ke tepi jalan. Baekhyun menatap Tao intens.
"Tao, kau dan Kris-kalian benar-benar saling mencintai?"
Tao hanya memberi respon diam.
"Jawab, Tao"
"A-pa yang membuat hyung sangat ingin aku menjawabnya?"
Baekhyun membetulkan duduknya dan mengcengkram stir mobil erat, sesaat ia mengalihkan pandangan pada jalanan Seoul yang terlihat ramai, hingga tiba-tiba ia menyerbu Tao untuk memeluk namja itu.
"Hyung?"
"Tinggalkan Kris, Tao. Lupakan dia."
Baekhyun berisik didalam pelukan, tanpa Tao ketahui pun Baekhyun menangis.
"W-waeyo?" Tao bertanya dengan gagap.
"Untuk kebaikanmu dan Kris, Tao. Jebal." Lirih Baekhyun.
Suasana menjadi berubah. Rasa kecewa, kesal dan marah kini menguasai Tao. Sepupunya yang beberapa hari lalu mengatakan menyetujui hubungannya dengan sang kekasih, tiba-tiba namja manis yang merupakan sepupunya ini berubah pikiran. Tidak tau kah Baekhyun, jika semangat Tao, kebahagiaannya dan senyumannya selalu ia pertahankan dan ia perjuangkan karena Kris. Setelah kedua orang Tao meninggal selain keluarga Baekhyun, Tao mendapatkan ketenangan dan kenyamanan hati. Orang yang memberikan itu semua adalah, Kris. Kekasihnya.
~LIMIT~
Chanyeol kini tengah berdiri didepan pintu apartemen Kris, ditangannya sekantung plastik belanjaan terdapat disana. Namja tinggi itu memencet bel apartemen Kris sedangkan, didalam Lay tengah membersihkan apartemen. Mendengar suara bel Lay meninggalkan pekerjaannya dan berjalan menuju pintu.
Pintu pun terbuka, Chanyeol tersenyum dan menundukan tubuhnya untuk memberi salam.
"Annyeong hasseyo, eomonie."
"Ne, annyeong Chanyeol. Silahkan masuk."
Setelah dipersilahkan Chanyeol pun masuk kedalam. Chanyeol meletakan plastik belanjaannya di ruang tengah. Namja tinggi itu menatap ke sekeliling apartemen, melihat sebuah pembersih kaca tengah menganggur di atas meja makan, Chanyeol mengambil barang tersebut. Lay melihat Chanyeol yang sepertinya ingin membantu membersihkan apartemen, ia cegah.
"Chan, mau apa kau? Sudah tak perlu repot-repot."
Chanyeol tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Gwaenchana, eomonie."
Melihat Chanyeol yang sepertinya sungguh-sungguh ingin membantu, lay tidak mencegah lagi. Sementara Chanyeol membersihkan kaca, Lay melanjutkan pekerjaannya di dapur. Lay tersenyum saat sesekali ia melihat Chanyeol. Chanyeol, Sehun, Kai bahkan kekasih mereka sudah Lay anggap seperti anaknya sendiri, itu sebabnya Lay tidak membedakan perhatian bahkan kasih sayang yang ia berikan.
"Chanyeol, gomapta."
Disela pekerjaannya, Chanyeol tertawa mendengar ucapan terimakasih dari Lay.
"Ini bukan perkerjaan yang berat, eomonie."
"Ani, bukan itu. Terima kasih karena sampai sekarang kau masih ada untuk Kris. Terima kasih kau sudah mempercayainya, Chanyeol."
Gerakan tangan Chanyeol yang tengah membersihkan kaca berhenti, ia sempat memandang kosong pemandangan diluar gedung apartemen itu. Kembali tersadar namja tinggi itu berbalik badan, melangkahkan kakinya ke namja paruh baya yang merupakan ibu dari sahabatnya. Chanyeol mengelus lembut bahu Lay.
"Kris, sudah aku anggap sebagai hyung ku sendiri, eomonie. Mempercayainya bukanlah suatu hal yang harus kupertimbangankan, itu memang kewajiban ku sebagai seorang dongsaeng. Bukan begitu, eomonie?"
Lay tersenyum dan mengangguk sambil mengelus tangan Chanyeol yang ada di bahunya. Tiba-tiba sebuah suara pintu yang terbuka terdengar dari àrah kamar Kris. Pemilik kamar itu, masih dengan penampilan yang berantakan. Surai yang belum tertata dengan benar dan mata yang terlihat masih setengah terbuka.
"Eomma?"
Tatapan seketika jatuh ke namja yang berada disamping ibunya. Kedua mata yang tadi masih sedikit terpejam itu, kini terbuka lebar.
"Chanyeol?"
Dengan fake smilenya, Chanyeol membalas kebingungan Kris.
"Sedang apa kau disini? Kau bahkan baru pulang kuliah." Sergah Kris.
"Berkunjung dan membantu." Jawab Chanyeol sambil mengangkat alat pembersih kaca yang digunakannya tadi.
Air muka Kris terlihat berubah. "Pulanglah." Dinginnya.
Melihat sang anak yang sepertinya tidak suka dengan keberadaan sahabatnya, Lay angkat bicara.
"Kris, dia disini untuk membantu eomma. Kau tidak ingin ada seseorang yang membantu eomma?" Lembut Lay.
Kris menatap sang ibu nanar. Dengan tubuh yang masih lemas, Kris memaksakan dirinya untuk bergerak lebih membuktikan bahwa dirinya juga bisa diandalkan oleh sang ibu namun, baru saja ia ingin melangkahkan kakinya kearah Chanyeol, langkahnya oleng, beruntung Chanyeol berhasil menopangnya.
"Kau masih lemas, Kris. Kembalilah beristirahat." Ujar Lay.
Kris mencoba melepaskan tangan Chanyeol yang menopangnya berdiri namun, namja yang memiliki senyum lebar itu tidak berusaha untuk melepasnya.
"Eomonie, lebih baik aku bawa Kris hyung ke kamar dulu, ne?" Tanya Chanyeol.
Kris memandang Chanyeol dengan tatapan tajam dari mata elangnya. Lay mengangguk. Chanyeol langsung mengalungkan lengan Kris di lehernya dan membawa namja berdarah eropa itu untuk masuk kedalam kamar. Tepat setelah Chanyeol ingin membantu Kris untuk berbaring, tangannya, melihat ke lengan Kris yang terdapat sebuah luka. Luka itu, Chanyeol tau. Itu masih merupakan gejala umum penyakit yang diderita Kris. Sebuah ruam yang awalnya muncul perlahan-lahan dan menghilang lalu menjadikannya sebuah luka yang terlihat meradang. Seperti sebuah penyakit kulit, luka itu terasa gatal dan panas pada saat-saat tertentu. Melihat Chanyeol yang tidak kaget, Kris pun tidak mencoba menyembunyikan luka tersebut.
"Istirahatlah, hyung."
Setelah membantu Kris, Chanyeol hendak keluar dari ruangan yang sangat luas itu. saat sudah berada didepan pintu, Kris memanggilnya.
"Chan, pulanglah."
Tidak berniat menjawab, Chanyeol menutup pintu ruangan itu. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil alat pembersih kaca tetapi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama sang kekasih, Baekhyun terpampang di layar ponselnya. Chanyeol tersenyum kepada Lay sebagai isyarat untuknya izin menjawab panggilan dari Baekhyun.
"Channie, kau sudah pulang kuliah?" Tanya namja manis itu.
"Sudah, Baek. Kurang lebih setengah jam yang lalu. Wae?"
"Gwaenchana, aku sedang dalam perjalanan menuju mansion mu. Neo eoddiya?"
"Ah, jinjja? Aku dirumah Kris hyung."
Terdengar hening sesaat dari Baekhyun.
"K-Kris?" Ujar Baekhyun gagap.
Dengan mantap Chanyeol menjawab, "ne, wae? Kau ingin kesini?"
Secara langsung Baekhyun menolak dengan nada tinggi.
"Ani! Pulanglah sekarang, Chan."
Kedua kening Chanyeol bertaut, "Yak! Aku sedang membantu Lay eomma, Baek."
"Kumohon, Chan. Pulanglah sekarang aku menunggu mu." Suara Baekhyun terdengar bergetar, namja itu menutup begitu saja sambungan telepon. Chanyeol panik, ia khawatir. Suara Baekhyun terdengar aneh di telinganya dan permintaan pulang yang kekasihnya sampaikan terdengar sangat mendesak. Setelah memasukan ponsel kedalam saku celananya, Chanyeol masuk kedalam rumah untuk berpamit dengan Lay dan setelah itu Chanyeol bergegas keluar dari apartemen Kris.
~LIMIT~
Luhan berdiri diantara Sehun dan Kyungsoo. Seketika ia terkejut saat mendengar Kyungsoo mencelotehkan nama kekasihnya namun, ada yang tidak beres saat Luhan mendengar sang kekasih justru menyebut nama bermata besar itu dengan sebutan D.O.
"Y-yak, apa-apaan ini? Kau sudah kenal dengan Sehun, Kyung?"
Setelah menatap kearah Kyungsoo, Luhan menjatuhkan tatapannya kepada Sehun.
"Geundae, Hunnie kau memanggil nama Kyungsoo keliru. Ini Kyungsoo bukan D.O"
Namja berdarah cina itu benar-benar tidak mengerti dengan situasi saat ini. Sehun yang sedari tadi hanya berdiri terpaku memandang Kyungsoo, tiba-tiba menerjang namja pendek itu. Sehun mencengkram keras bahu Kyungsoo dan berteriak tidak karuan.
"Ani! Neo d.o. Beritahu padaku, dimana Kai sekarang? Kai eoodiya?!"
Sudah lama, Luhan tidak melihat Sehun yang seperti ini. Berteriak dan memaksa seseorang untuk mengikuti kemauannya. Ia cukup paham dengan posisi Sehun yang merasa bersalah karena tidak bisa melindungi sang sahabat tapi, setidaknya Sehun bisa meredam emosi. Luhan menyentuh bahu Sehun lembut seakan meminta Sehun untuk melepaskan cengkraman di bahu Kyungsoo.
"Hunnie, geumanhae. Ada apa denga-"
"KAU TIDAK USAH IKUR CAMPUR, LUHAN!" Ucapan manis dan lembut dari Luhan kepada Sehun di potong begitu saja oleh bentakan kasar yang Sehun keluarkan.
Luhan dengan mata yang seketika berkaca-kaca, ia menggelengkan kepalanya menatap sang kekasih.
"Kau-membentakku, Hun?"
Sehun tidak goyah ia masih terus mendesak Kyungsoo. Sementara Kyungsoo, yang sedari tadi mencoba menahan kesakitan di bahunya, ia menepis pelan tangan Sehun yang mengcengkram bahunya dan mencoba menggeliat keluar dari kekangan Sehun. Dengan airmata yang sudah mengalir, Kyungsoo mencoba menjelaskan semuanya. Namja bermata besar itu melepaskan kacamata bulat yang ia gunakan dan ia mengatur surainya seperti dulu saat terakhir kali Sehun bertemu dengannya.
"Mianhae. Apa yang dikatakan Sehun itu benar. Aku D.O"
Luhan langsung berkata, "A-pa maksudmu, Kyung? Kau menipu ku?"
Dengan sigap, Kyungsoo menjawab. "Tidak. Tidak, Lu. Aku tidak menipumu. Aku juga Kyungsoo. Nama lengkap ku Do Kyungsoo. Aku adalah D.O dan aku juga Kyungsoo."
Sejenak Kyungsoo diam untuk menarik nafas.
"Kyungsoo adalah sebutan khusus yang Kai berikan kepadaku. Aku ingin orang-orang memanggil ku dengan sebutan itu agar aku bisa terus merasa Kai memanggil namaku biarpun itu melalui bibir orang lain."
Luhan menatap nanar Kyungsoo. Merasa sangat bodoh, bagaimana mungkin Luhan tidak menanyakan dulu, siapa nama suami Kyungsoo. Luhan memeluk Kyungsoo yang menangis.
"Lalu dimana Kai sekarang?" Suara dingin tiba-tiba terdengar dari Sehun.
Kyungsoo mengangkat kepalanya yang berada dipelukan Luhan. Menghapus bekas airmata di pipinya, ia memberanikan diri menatap Sehun.
"Kai tidak di sini Sehun."
Sebuah helaan nafas kasar Sehun keluarkan.
"Aku tau. Kai memang tidak berada di Korea, ia mengambil studi di Vancouver. Benar begitu?"
Luhan menatap sang kekasih, ia hanya dapat diam membeku. Luhan mengetahui segalanya. Kini ia mengerti. Kai, sahabat dari kekasihnya itu sudah tiada.
"Hunnie.." lirihnya.
Kyungsoo menepuk lembut lengan Luhan, ia mengisyaratkan akan menjelaskan semuanya kepada Sehun sendiri.
"Kai sudah tidak ada, Hun." Ujar Kyungsoo mantap.
Masih dengan tatapan datar Sehun bertanya tidak mengerti. "Maksudmu?"
"Kai meninggal, Sehun." Lirih. Terdengar sangat lirih. Kata-kata itu keluar begitu saja. Air mata kembali mengalir dari mata Kyungsoo.
Sementara, Sehun ia tertawa tidak percaya. Biarpun ia tertawa, mata itu. Mata Sehun menyiratkan ketakukan akan kebenaran dari ucapan Kyungsoo.
"Gotjimal."
Luhan mengusap punggung Sehun, melihat kekasihnya yang tampak kaget dan juga tidak percaya.
"Katakan ini bohong kan, Hannie. Eoh?" Ujar Sehun pada Luhan.
"Mianhae, Hun. Itu benar." Ucap Luhan.
Sehun menggelengkan kepalanya dan berlari begitu saja meninggalkan kekasihnya dan Kyungsoo. Luhan tidak berniat mengejar kekasihnya, menurutnya Sehun butuh waktu untuk sendiri. Setelah menatap kepergian kekasihnya, Luhan kembali menjatuhkan perhatiannya kepada Kyungsoo. Namja itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kertas.
"Tolong berikan surat ini pada Sehun, Lu." Ucapnya.
Luhan mengambil surat itu.
"Aku akan memberikan surat ini kepada Sehun. Kau jangan khawatir."
Kyungsoo menghapus bekas airmatanya, ia mengangguk dan seulas senyuman terpancar dari wajahnya.
~LIMIT~
Chanyeol telah sampai didalam rumahnya. Ia melempar tas ransel miliknya ke king sofa yang berada ruang tengah. Kakinya ia langkahkan menujut lantai 2, kamar pribadinya.
Chanyeol tidak terlalu pandai dalam bermain sebuah piano tetapi didalam kamarnya yang luas ini, Chanyeol menyediakan sebuah grand piano. Bukan untuknya tapi spesial untuk sang kekasih yang sangat ia tau pandai dalam bermain piano dan disana kini Baekhyun berada. Memandang kosong tuts-tuts piano. Chanyeol berjalan menuju kekasihnya dengan langakah sadar seseorang tengah berjalan menghampirinya, Baekhyun bangkit dari dunianya. Sedikit berjarak, Chanyeol berdiri tersenyum padanya. Secara tiba-tiba Baekhyun langsung menyerbu Chanyeol dengan pelukan. Sedikit heran dengan tingkah Baekhyun namun, Chanyeol tidak ambil pusing, ia membalas pelukan kekasihnya yang lebih pendek darinya.
"Igo mwoya? Wae geurae? Tidak biasanya kau akan bermanja-manja seperti ini." Ujar Chanyeol sambil mengusap lembut surai sang kekasih.
Baekhyun yang tadi menenggelamkan wajahnya ke dada Chanyeol, kini ia menyembulkan kepalanya keluar, menatap mata Chanyeol membuat jarak kedua wajah mereka sangat pendek.
"Aku sudah tau, Chan. Aku sudah tau semuanya." lirih Baekhyun seakan sebuah bisikan.
Kedua kening Chanyeol berkerut, "Mwo? Apa yang sudah kau ketahui, katakan dengan jelas, Baek." Jawab Chanyeol sambil mendekatkan kedua dahi mereka. Suasana hening dan intim seperti ini membuat Chanyeol tidak bisa menahan kemesraannnya kepada Baekhyun lebih dalam. Lain halnya dengan Chanyeol, Baekhyun yang saat ini tengah sangat serius, melepaskan pelukannya dari sang kekasih. Berdiri didepan sana dan menatap Chanyeol intens.
"Kris." Singkatnya.
Sebuah nama yang berhasil membuat Chanyeol tertegun.
"Aids?" Lanjut Baekhyun kembali dengan lirih.
"Baekkie..." ucap Chanyeol.
Hening. Baekhyun berdiri sambil menopangkan tangan sebelah kananya di pinggang, ia menundukan kepalanya lalu helaan nafas lelah terdengar setelahnya.
"Kenapa kau menyembunyikannya?" Kembali terdengar suara dari Baekhyun.
Chanyeol menggelengkan kepala, ia tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal tersebut. Tiba-tiba setetes air mata jatuh dari mata bening Baekhyun.
"Chan, aku merasa bersalah."
Chanyeol mendekati sang kekasih dan membawa Baekhyun kedalam pelukannya.
"Aku merasa menjadi teman yang begitu kejam kepadanya."
"Tidak, kau tidak bermaksud seperti itu, Baek." Tukas Chanyeol langsung.
Baekhyun menatap Chanyeol nanar.
"Aku ingin Tao bahagia, Chan." Tuturnya.
Chanyeol mengangguk.
"Menurutmu setelah mengetahui hal ini, apa aku akan merestui mereka?"
seketika pelukan Chanyeol melonggar, ia menatap aneh kepada Baekhyun. "Maksudmu apa, Baek."
"aku tidak mungkin merestui mereka, chan. Kita bahkan tidak tau sampai kapan, Kris akan bertahan. Dan-dan bagaimana jika Kris melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Tao? Kau pasti tau akan konsekuensi hal itu, Chan." celoteh Baekhyun dengan air mata yang menggenang.
Chanyeol menatap miris kekasihnya, kedua matanya memicing. "Kau mendoakan Kris untuk dia mati secepatnya, Baek?"
Sesaat Chanyeol menarik nafas. "Kris hyung. Aku sangat mengenalnya, Baek. Dia tidak mungkin menyakiti orang yang ia cintai. sejak ia jatuh cinta dengan Tao, aku yakin Kris pun sudah memikirkan hal itu."
Dengan cepat Baekhyun langsung mencelah omongan Chanyeol.
"Benar. Memang Kris akan sangat memikirkan Tao. Tapi bagaimana saat mereka sudah menikah nanti? Untuk mendapatkan sebuah keturunan, mereka harus melakukan hal intim, Chan. Jika mungkin penyakit itu tidak mengalir di tubuh Tao, penyakit itu akan menggeroti anak mereka nanti."
Chanyeol tertawa remeh, ia benar-benar tidak mengerti dengan pikiran kekasihnya.
"Mereka yang menjalani hubungan ini, kenapa kau sangat paranoid, Baek. Mereka bisa mengadopsi anak." Ucap Chanyeol.
Tidak Chanyeol yang tertawa remeh, Bakehyun juga meremehkan ucapan kekasihnya.
"Adopsi? Kau pikir Tao akan bahagia dengan anak adopsi itu?" Tukasnya.
Chanyeol benar-benar mulai kesal. Sudah cukup kesabarannya terhadap sang kekasih.
"Baek, aku sudah cukup sabar denganmu. Semua kekhawatiranmu itu, bukanlah semata-mata kekhawatiranmu terhadap Tao. Itu hanya emosi mu saja! Tao bukanlah boneka yang bisa kau atur kehidupannya, Baek." Bentak Chanyeol sebelum pergi meninggalkan Baekhyun yang berdiri mematung menatap kepergiannya.
Baekhyun duduk di depan grand piano yang Chanyeol berikan kepadanya sewaktu ulang tahunnya. Ia memukul tuts-tuts piano itu sehingga menimbulkan bunyi nada yang sangat mememakan telinga. Ia menangis.
~LIMIT~
Malam ini Luhan kini sudah berada didalam kediaman keluarga Oh. Rumah itu sepi hanya ada beberapa pelayan yang sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing. Ya, Ayah Sehun merupakan seorang pengusaha besar san ibunya merupakan seorang designer terkenal. Itu sebabnya rumah selalu dalam keadaan sepi, tak jarang Sehun akan tingga seorang diri dengan para pelayan, sang ibu yang terkadang harus tour keluar negeri begitupula, sang ayah yang harus menemui para customer luar negeri. Biasanya, jika Sehun minta ditemani, ia akan tidur beberapa malam untuk menemani kekasihnya.
Namja berdarah Cina itu kini sudah berada didepan kamar sang kekasih, ia mengetuk pintu dengan pelan.
"Ne."
Sebuah jawaban singkat terdengar dari dalam. Luhan masuk kedalam kamar itu. Didalam kamar, Sehun tengah bergelut sendiri dengan laptop seakan ia tidak menyadari kehadiran sang kekasih.
Mencoba mencairkan suasana. Luhan menyapa Sehun.
"Hunnie.."
"Hn?" Jawaban singkat Sehun berikan.
Luhan menyodorkan bubble tea yang tadi sengaja ia beli untuk Sehun. Seketika perhatian Sehun terbagi, ia melirik kearah bubble tea yang berada disampingnya.
Sehun tersenyum, "Gomawo, Hannie."
Luhan tersenyum senang. Ternyata kekasihnya itu masih gampang dirayu dengan sebuah bubble tea. Ia berdiri disamping kursi kerja kekasihnya, mencoba melihat apa yang kekasihnya lakukan.
"Sedang apa, Hunnie?"
"Sedang mengerjakan tugas kuliah, Han."
Luhan mengangguk mengerti. Sesaat Luhan terdiam mencoba mencari cara yang tepat untuk berbicara tentang Kai.
"Aku cemburu dengan D.O" celetuk Luhan.
Mendengar ucapan kekasihnya, jari-jari Sehun yang sedang mengetik seketika berhenti sesaat lalu kembali mengetik.
"Cemburu? Wae?" Tanya Sehun.
"D.O sudah dipinang oleh Kai. Chanyeol sudah melamar Baekhyun didepan Xiumin eomma dan Chen abeoji. Kapan aku akan seperti mereka?" Ujar Luhan dengan nada yang manja.
Mendengar ucapan sang kekasih Sehun tertawa, ia mencoba menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan tangan kananya. Merasa dipermainkan karena nada tertawa Sehun, Luhan cemberut.
"Y-yak Hunnie! Kenapa kau tertawa?" Gerutunya.
Sehun mencoba menghentikan tawanya dan menjawab pertanyaan sang kekasih.
"Ini merupakan sebuah kode?" Tanyanya dengan senyuman.
Luhan tersipu malu saat ia baru menyadari bahwa ia menginginkan untuk dilamar.
"A-ni.. aku hanya-hanya kagum dengan mereka. Di umur yang semuda itu seseorang sudah mengikatkan janji sehidup semati." Kata Luhan gugup.
Sehun tersenyum, ia menghela nafas. Namja berwajah datar itu berdiri dari kursi kerjanya, ia berjalan menuju lemari putih yang memiliki laci-laci kecil. Salah satu dari laci-laci itu Sehun buka sesuatu ia ambil dari dalam sana. Setelah itu Sehun berjalan menuju sang kekasih.
Sehun memperlihatkan sebuah kotak cincin kecil berwarna putih kepada Luhan. Kedua mata kecil Luhan terbuka lebar saat melihat kotak cincin itu. Sehun mulai membukanya. Dua buah pasang cincin berwarna hitam. Cincin itu bukan cincin seperti kebanyakan. Cincin itu berasal dari batu marmer pilihan karena itu juga warna dari cincin itu bukanlah putih atau emas melainkan warna hitam.
"Mianhae karena memesannya tanpa sepengetahuan darimu." Ujar Sehun.
Luhan terharu, air mata kebahagiaan jatuh di pipi miliknya.
"Aku bahkan bisa menikahimu sekarang, Hannie. Malam ini." Tukas Sehun.
Kedua pipi Luhan memerah masih dengan bekas airmata kebahagiaannya Luhan memukul bahu Sehun malu.
"Y-yak! Enak saja."
Sehun tertawa melihat tingkah laku kekasihnya.
Tiba-tiba Luhan mengeluarkan sebuah surat dari dalam saku celananya dan menyodorkannya kepada Sehun.
"Igo mwoya?" Tanya Sehun.
"Surat dari Kai." Jawab Luhan hati-hati.
Tatapan mata Sehun berubah tajam dan dingin. Ia mengambil surat itu.
"Bacalah saat kau sudah hendak tidur, Hun." Ucap Luhan.
Sehun menatap Luhan dan mengangguk.
Luhan melirik pada jam dinding yang tertempel di dinding kamar kekasihnya itu.
"Hun, sudah malam aku harus pulang." Ucapnya.
Sehun menatap Luhan dengan senyuman tulus.
"Temani aku malam ini, Hannie."
~LIMIT~
Kris keluar dari kamarnya. Penampilannya masih sangat berantakan, surai yang tidak beraturan dan wajah yang masih terlihat bengkak karena baru bangun tidur. Tampak seperti seorang anak kecil, Kris berjalan menuju dapur dengan mata yang setengah terbuka. Ia mengisi air mineral ke dalam gelasnya dan meneguknya. Setelah nyawanya mulai benar-benar terkumpul entah mengapa tiba-tiba Kris mendengar suara televisi yang menyala. Kris melangkahkan kakinya pelan, jujur biarpun ia berpenampilan dingin didepan orang-orang, Kris tidak akan bisa berpenampilan dingin didepan hantu. Kris takut hantu, sedikit. Ketika ia sudah berada diruang tengah Kris merapatkan tubuhnya pada dinding dan menyalakan saklar.
"Eomma?"
Ya, Lay sedang duduk di sofa sambil menonton televisi. Mendengar suara anaknya, perhatian Lay terbagi. Ia melirik kebelakang dan sang anak tengah berdiri tak jauh dari sofa.
"Kau sudah bangun, Kris?" Tanya Lay.
Kris mengangguk dan berkata, "hn. Eomma tidak pulang kerumah tadi malam?"
"Tidak. Bagaimana mungkin eomma meninggalkan mu sendiri." Jawab Lay.
"Loh? Lalu eomma tidur dimana?" Tanya Kris lagi.
Lay tersenyum. " dikamarmu. Disampingmu." Jawab Lay.
Kris memicingkan matanya kepada sang ibu.
"Eomma tidak bohong kan? Eomam tidak tidur di sofa kan?" Tanya Kris meyakinkan.
Lay mengangguk mantap dan berjalan menghampiri Kris.
"Sudah lama eomma tidak tidur denganmu, Kris. Salahkah jika eomma ingin tidur disamping anak eomma?"
Kris menggeleng. "Tidak, sama sekali tidak salah." jawab Kris.
Lay tersenyum lembut, ia mengecup pipi sang putra.
"Kau tidur sangat nyenyak tadi malam." Cicitnya.
Kris tersenyum, ia mengangkat tangan kanan sang ibu dan menempatkan telapak tangan ibunya pada pipinya. Mencoba merasakan kehangatan dari namja itu.
"Karena ada eomma disampingku" ujar Kris.
Lay tertawa. Anaknya ini bisa dibilang sudah tidak muda lagi. Usia sang anak sudah memasuki 20 tahun dan dua hari lagi umur anaknya akan semakin menua. Diumur yang sudah tidak muda itu, Lay tidak pernah kehilangan sosok manja Kris, perhatian Kria dan cerita-cerita kehidupan Kris. Putranya itu akan selalu membagi apapun cerita dan kejadian yang terjadi dikehidupannya. Lay bangga dan sangat bersyukur memiliki Kris.
"Eomma menyayangimu. Nae adeul." Ujar Lay.
~LIMIT~
Sebuah weker digital diatas meja kerja Sehun berbunyi. Meskipun weker itu tidak menimbulkan suara yang memekakan telinga seperti weker umunya, sang pemilik kamar terbangun. Namja muda itu masih dengan mata tertutup ia meraba-raba meja kerjanya dan weker itu akhirnya ia temukan, Sehun memencet sebuah tombol di weker itu membuat bunyi itu tidak didengarnya lagi. Sehun yang baru merasa tidak nyaman dengan posisinya diatas kursi kerjanya mulai melenguh. Ia merintih saat merasakan kram dileher jenjangnya. Setelah mata mulai terbuka kedua mata Sehun mengelilingi sekeliling kamarnya. Diatas tempat tidurnya ia melihat Luhan yang masih tertidur dengan nyenyak. Sehun melangkahkan kakinya mendekati king bednya. Ia memperbaiki selimut sang kekasih.
Namja berkulit putih pucat itu melihat surat yang tadi malam kekasihnya berikan tergeletak diatas nakas disamping king bednya. Matanya menatap tajam surat itu, dengan perlahan tangannya bergerak meraih surat tersebut. Dibukanya penutup amplop berwarna hitam itu, sebuah kertas terlipat dua yang berada di dalam amplop Sehun buka.
Annyeong Sehun...
Mianhae, mianhae, mianhae... Itu adalah serangkaian kalimat yang pantas untuk pertama kali kuucapkan.
Kau ingin marah? Mencaci? Menghinaku? Silahkan, datangilah aku, kunjungilah aku... aku pantas menerima itu semua. Satu yang aku pinta saat kau mengunjungi ku. Tidak ada airmata. Arra?
Sehun, aku sudah menikahi D.O . Bagaimana menurutmu? Namja brengsek sepertiku sudah mendahului start darimu? Hahaha.. Mian,
Aku ingin ia bahagia, Hun. Sebelum aku meninggalkannya. Kedua orang tuaku, mereka akan bahagia jika begini, lebih baik seperti ini. Kau pasti sudah tau kalau aku menggunakan obat-obat itu. Aku sadar dan aku tau apa konsekuensi dari aku menggunakan mereka semua. Hanya barang-barang itu yang bisa membuatku tenang, Hun. Kalian, aku tidak ingin kau, Kris hyung dan Chanyeol hyung terbebani dengan masalahku. Cukup dengan kehadiran kalian aku merasa sedikit tenang, setidaknya. Lagipula ini takdir, Hun. Tuhan selalu adil kepada hambanya, aku percaya itu.
Aku pergi ke Vancouver tanpa sepengetahuan kalian agar aku ingin kalian bisa hidup tanpa diriku. Mianhae. Aku bahkan berusaha melepaskan obat-obat itu dan hasilnya? Tidak bisa.
Aku menyayangi kalian. Sahabatku. Aku titip D.O padamu.
Temanmu, Kai.
Tinta surat itu pudar. Tetesan air mata Sehun memudarkannya. Tanpa suara, tanpa isakan tapi, air mata jatuh begitu deras. Sehun menyesal, merasa tidak berguna. Tangannya menggenggam surat itu erat, ia juga berusaha tetap berdiri tegak tidak ingin sang kekasih bangun dari tidurnya karena mendengar Sehun menangis. Sehun butuh penjelasan lebih. Ia butuh cerita sahabatnya dan orang yang bisa menjelaskan itu semua kepadanya adalah D.O. Tatapan mata Sehun jatuh kepada ponsel sang kekasih yang terletak diatas nakas, ia meraih ponsel itu. Mencari nama kontak orang yang dicarinya dan tak lama ia dapatkan. Sehun mengirim pesan kepada orang tersebut.
D.O temui aku pukul 10 ditaman sungai Han. Gomawo.
-Sehun-
~LIMIT~
Setelah beberapa saat berada didalam lift, kini pintu lift itu terbuka. Namja tinggi berjuluka Park Dobi itu keluar dari lift dari kejauhan ia melihat Kris yang tengah berdiri ditengah keramaian gedung kampus. Melihat Kris yang tampaknya kebingungan, Chanyeol menghampiri sahabatnya itu.
"Hyung?" Panggil Chanyeol sambil menepuk bahu Kris.
Sontak orang yang ditepuk bahunya tersadar dan membalikan tubuhnya kehadapan Chanyeol masih dengan wajah kebingungannya.
"Apa yang kau lakukan disini, hyung?" Tanya Chanyeol lagi..
"Ah itu-hanya sedang berdiri saja. Kau ada urusan apa ke lantai 5?" Jawab Kris gugup.
Chanyeol memicingkan matanya melihat Kris yang masih tampak kebingungan.
"Aku ingin ke ruang musik. Kenapa kau terlihat sangat kebingungan, hyung?"
Kris tersenyum gugup dan menggaruk kecil kepalanya bagian belakang.
"Chan, mianhae. Bisa-kau antarkan aku ke ruang Jung sonsaengnim?" Ujar kris gugup.
Chanyeol tertawa. "Haha, apa maksudmu hyung?"
"A-aku lupa dimana letak ruangan Jung seonsaengnim." Jawab Kris lirih.
Seketika raut wajah Chanyeol berubah datar, ia menatap mata Kris yang- ya, tampak gelisah. Chanyeol menyentuh bahu Kris lembut.
"Hyung, neo gwaenchana?" Tanya Chanyeol hati-hati.
Kris mengcengkram kecil surainya dan menatap Chanyeol.
"Entahlah, Yeol. Kepalaku terasa sedikit pusing." Jawabnya.
Tanpa berpikir panjang Chanyeol mengajak Kris duduk di bangku panjang, Kris langsung menyandarkan tubuhnya pada kursi tersebut dan memejamkan matanya sedangkan, Chanyeol meraih tas Kris dan memeriksa setiap isi kantung tas tersebut. Setelah ditemukannya sebuah tabung obat disana, Chanyeol membuka tutup tabung itu dan mengeluarkan beberapa butir isinya.
"Aku tau kau pasti belum meminumnya, hyung." Ujar Chanyeol sambil menyodorkan obat tersebut kepada Kris.
Kris membuka matanya dan melirik ke Chanyeol. Tanpa penolakan Kris meraih obat yang berada ditangan Chanyeol dan meminumnya dan Chanyeol memberikan air putih miliknya agar membantu Kris untuk menelan obat itu dengan mudah.
"Lay eomma bahkan sudah memperingatkanmu untuk tidak melwatkan waktu minum obat itu, hyung" ujar Chanyeol.
"Aku hanya ingin tidak bergantung pada obat itu,Yeol" jawab Kris.
Helaan nafas terdengar dari Chanyeol. "Jangan memaksakannya, hyung." Tukas Chanyeol.
Kris tertawa, menertawakan dirinya sendiri tepatnya.
"Aku rasa daya mengingatku sudah mulai terganggu. Bagaimana dengan beberapa bulan kedepan? Aku akan bahkan mungkin melupakanmu, Chan."
Chanyeol sempat diam saat mendengar penuturan pasrah dari Kris namun, sebisa mungkin ia tidak ingin terlihat sangat serius.
Chanyeol berdecih, "Bagaimana mungkin kau bisa melupakanku yang disetiap sudut selalu terlihat olehmu."
"Justru itu. Aku ingin melupakanmu yang selalu menggangguku." Tukas Kris.
"Aish!" Gerutu Chanyeol.
Chanyeol berdiri dari duduknya dan mengalungkan kembali tas ranselnya dipunggung hendak pergi meninggalkan Kris. Baru saja hendak melangkah suara Kris menghentikan langkahnya.
"Chanyeol!"
Dengan malas ia berbalik. "Wae?!"
Kris memasang wajah bodohnya dengan senyuman yang lebih pantas disebuat cengiran diberikannya kepada Chanyeol.
"Kau belum memberitahuku dimana ruang Jung seonsaeng."
"Kau benar-benar lupa, hyung?"
Kris mengangguk menjawab pertanyaan Chanyeol.
Chanyeol menghela nafas dan mengacak surainya kasar.
"Yasudah. Ayo kuantar."
Kris berdiri dari bangku dan Chanyeol langsung mempimpin langkah didepan Kris. Tak lama Chanyeol dan Kris sudah memasuki sebuah lorong yang cukup sepi. Terlihat Kris yang tampaknya ia sudah mengingat dimana letak ruangan sang dosen. Langkah kaki mereka berdua pun berhenti didepan sebuah pintu yang bermotif classic.
Chanyeol meletakan tangannya di pinggang dan menatap Kris.
"Otte? Kau sudah mengingatnya?" Tukasnya.
Kris mengangguk mengiyakan.
"Nice! Kalau gitu kau masuk sekarang, hyung."
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Chan?"
"Menunggumu diluar sini, hyung."
Kedua kening Kris bertaut, "Ikut masuk saja kedalam." Ucapnya.
Chanyeol bingung. Mulutnya terbuka lebar begitu pula dengan matanya. Sahabatnya ini tampak berubah. Sejak kapan Kris ingin urusannya diketahui orang lain? Biasanya namja bermata elang itu akan mengusir Chanyeol jika urusannya sudah selesai tetapi, tidak dengan sekarang. Tanpa berpikir panjang Kris tiba-tiba menarik bajunya begiti saja memasuki ruangam sang dosen.
"Jung Seonsaengnim." Sapa Kris sambil menundukan badan diikuti Chanyeol.
Sang dosen bangun dari duduknya dan mempersilahkan Kris duduk. Sementara, Chanyeol merasa tidak memiliki sama sekali kepentingan, ia tetap berdiri dibelakang kursi Kris. Jung seonsaengnim menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat kehadapan Kris. Bingung dengan benda yang disodorkan kepadanya, Kris meraih amplop tebal itu dan melihat isinya. Seketika matanya melebar begitu juga dengan Chanyeol yang dari belakang melihat. Sebuah duit yang terbilang cukup banyak.
"Jweosongmanida, Seonsaengnim. Anda salah, saya tidak meminta dana apapun." Kata Kris gugup dan kembali mengembalikan amplop tersebut.
Jung seonsaengnim tertawa kecil, ia mengembalikan amplop tersebut kehadapan Kris.
"Kau memang tidak meminta dana apapun, Kris. Ini adalah hasil pameran lukisanmu di San Francisco. Mereka sangat tertarik sekali dengan lukisanmu." Kata Jung Seonsaengnim.
Raut muka Kris berubah, ia terlihat sangat senang begitupula dengan Chanyeol. Namja fake smile itu memang tidak mengerti apapun tetapi, mendengar kabar bahagia itu entah mengapa membuat senyum Chanyeol tiba-tiba terpancar.
"Mereka menginginkan dan menunggu karyamu lagi, Kris." Lanjut Sang dosen.
Senyum yang tadi mengembang tiba-tiba memudar.
"Maaf, Seonsaengnim. Saya tidak bisa." Ujar Kris.
Chanyeol kaget dengan pernyataan Kris begitupula dengan dosennya.
"Anda tau saya tidak akan mampu memenuhi permintaan mereka."
"Wae? Kau sangat berbakat, Kris"
"Say-"
Baru saja Kris ingin melanjutkan alasannya, Chanyeol menyambar begitu saja.
"Mianhaeyo, jika saya ikut campur. Saya pikir Kris tidak perlu melukis sesuatu hal yang baru. Di apartemennya Kris memiliki banyak lukisan-lukisan karyanya yang sengaja ia pajang."
Ucapan Chanyeol sontak membuat Kris menatap horor sahabatnya itu namun, Chanyeol tidak goyah.
"Bukannya begitu, hyung?" Tanya Chanyeol sambil menatap Kris.
Dengan kaku Kris mengangguk.
Setelah sedikit lama beragumen dengan sang dosen, Kris akhirnya harus mengalah saat sang dosen memohon kepadanya agar mengirimkan lagi karya-karya nya. Kini Kris keluar dari ruangan dosennya diikuti Chanyeol dibelakangnya. Diluar ruangan Kris menatap Chanyeol tajam.
"Waeyo? Aku rasa aku tidak melakukan kesalahan." Kata Chanyeol.
Kris menghela nafas dan mencoba menyudahi sedikit rasa kesalnya. Sebenarnya Kria tidak marah kepada Chanyeol hanya saja ia merasa bahwa dirinya bukan apa-apa. Kris menolak permintaan sang dosen karena ia merasa tidak akan bisa memberikan yang terbaik kedepannya.
Kris mengangkat amplop berisikan uang dari hasil penjualan lukisannya.
"Mau kau apakan uang itu, hyung?" Tanya Chanyeol.
Kris sesaat menatap kearah Chanyeol dan berpikir.
"aku akan memberikan ini kepada eomma dan sisanya kita gunakan untuk bersenang-senang. Otte?" Jawab Kris.
Chanyeol menatap horor kearah Kris.
"Bersenang-senang? Yak!jangan gila kau, hyung. Kau tidak boleh meminum alkohol lalu kau ingin mengajak kita minum alkohol? Tidak, tidak! Kalau kau tetap memaksa aku dan Sehun saja yang minum alkohol, kau minum orange juice." Tukas Chanyeol panjang lebar.
kris hanya menatap Chanyeol sambil sesekali tertawa.
"Memangnya siapa yang mau mengajak ke pub? Kau ini, lihat aku. Aku sudah sakit seperti ini, berhenti bermain-main di pub apalagi yeoja-yeoja disana." Ujar Kris.
Chanyeol sempat diam mendengar nasehat dari Kris. Mendengar Kris seakan pasrah dengan penyakitnya Chanyeol bungkam.
"Kita bisa minum di cafe milik Sehun dan Luhan nanti malam." Lanjut Kris.
Chanyeol hanya bisa mengangguk dan tersenyum aneh.
~LIMIT~
Ditengah keheningan suasana perpustakaan, seorang namja panda yang berada di kursi rodanya itu tengah kesulitan meraih sebuah buku yang berada cukup tinggi darinya. Mungkin Tao akan bisa mencapainya jika ia tidak duduk di kursi roda melihat tinggi badannya yang cukup berlebih. Namja itu terus berusaha mencoba meraih membuatnya harus sedikit mengangkat tubuhnya dan menopangkan tubuhnya di Kaki. Meski terasa sakit Tao tetap mencoba namun, tiba-tiba buku tersebut diraih oleh seseorang. Tao langsung menoleh kebelakang, Kris berdiri disana. Ternyata namja yang mengambil buku tersebut Kris, kekasihnya.
Kedua mata Tao terbelalak. "Gege?"
Kris tersenyum dan menyerahkan buku yang tadi ia ambil.
"Gomawo, ge"
Kris hanya menjawab mengangguk dan setelah itu membalikan tubuh hendak meninggalkan Tao. Tao sempat mematung memandang Kria nanar. Tao merindukan namja itu. Ia ingin menghabiskan sebentar waktunya dengan namja bermata elang itu.
"Gege!" Panggil Tao.
Jarak mereka kini cukup jauh, mendengar panggilan Tao langkah Kris berhenti. Ia berbalik menatap Tao dari kejauhan.
"Ne?" Jawab Kris lembut.
Tao menatap Kris dalam dan seulas senyuman terpancar dari wajahnya.
"Temani Tao disini sebentar, gege" kata Tao dengan kelembutan.
~LIMIT~
"Sehun!" Panggil D.O dari kejauhan.
Namja itu berlari menuju Sehun yang sudah 10 menit lalu menunggu.
"Ah, mianhae Sehun. Taksinya tadi terjebak macet. Kau sudah lama menunggu?" Tanya D.O sambil mengambil posisi duduk disamping Sehun.
Dengan wajah datar Sehun menggeleng dan menjawab, "Ani. Aku baru sampai kurang lebih 10 menit yang lalu."
D.O mengangguk.
Sehun sedari tadi hanya fokus menatap air sungai Han yang tampak terlihat tenang. D.O menyadari sikap namja yang terpaut lebih muda darinya ini berubah dari segi perilakunya. Tatapan mata yang tajam mengarah kepada satu titik yaitu di pertengahan sungai Han. Meski mata itu menatap tajam, kekosongan terlihat disana.
D.O mengulurkan tangannya kearah tangan Sehun, ia meletakan tangannya diatas tangan namja itu dan mengelusnya pelan.
"Kau sudah membaca suratnya ya?"
Namja muda yang berada disampingnya itu sontak menoleh kepadanya dan menatap matanya.
"Ceritakan semuanya."
D.O menghela nafas. Sudah ia duga Sehun ingin mengetahui kronologis kejadian yang dialami Kai.
"Mianhae, Sehun. Kai tidak mengizinkanku menceritakan semuanya secara detail kepadamu. Ia tidak ingin kau akan menyalahkan dirimu sendiri."
Sehun menatap harap kearah D.O. "Jebal." Pintanya.
D.O mengehelakan nafas dan menjauhkan tangannya dari Sehun. Beralih memainkan kecil jari-jari tangannya.
"Aku tau kau pasti sudah mengetahui permasalahan keluarga Kai. Seminggu sebelum kepergiannya, saat aku tidak sengaja dibawa oleh Kai kerumahnya. Aku melihat appanya Kai menggugat cerai sang Eomma-"
Sesaat D.O berhenti, mencoba melihat reaksi dari Sehun dan yang didapatkan Sehun hanya diam tidak berkomentar seakan bukan baru sekali ia mendengar masalah tersebut.
"Kau mengatakan padaku 'anggap saja kau tidak melihat dan mendengarkan apa yang terjadi. Apapun yang kulakukan anggap saja kau tidak melihatnya ne, Kyungie' Itu kata dia."
"Kai memukul appanya. Setelah kejadian itu kai memutuskan untuk tinggal di apartemen milik keluarga. 3hari dia tidak masuk kampus dan ponselnya mati. Betapa khawatirnya aku tapi setiap kali aku mendatanginya di apartemen dia tidak ada. Saat itu padahal kami sedang mengalami masa-masa gembira setelah 1 bulan ia menikahi ku."
Airmata sudah tak terbendung lagi, D.O kembali menangis.
"Tiba-tiba ia memintaku untuk datang mengunjunginya. Apartemennya benar-benar kacau. Botol alkohol dimana-mana, kantung mata berwarna gelap dan wajah pucat kudapatkan darinya."
D.O tidak sanggup untuk menceritakannya lebih banyak, ia berhenti. Kepala menunduk seolah menyembunyikan wajahnya diantara bahu nya.
"Lalu, bagaimana dengan kedua orang tua Kai sekarang?" Lirih Sehun.
"Ayahnya Kai memasukan ibunya kedalam rumah sakit jiwa di Vancouver. Eomma tidak berhenti menangis setiap malamnya jika ingin kusuapkan makanan ia selalu bilang bahwa ia akan makan jika Kai pulang dan memaafkannya." Jawab D.O
Sehun mengepalkan tangannya. D.O tiba-tiba tertawa seolah menghibur dirinya sendiri.
"Tapi aku percaya, Tuhan itu memberikan yang terbaik buat hambanya. Kai ternyata terinfeksi virus HIV."
Satu lagi fakta mengejutkan yang Sehun dengar, membuat hatinya seolah" dicambuk.
"Mungkin jika Kai masih ada, ia akan mengalami masa sulit melawan penyakit itu. Tuhan bahkan sangat menyayanginya Sehun."
Suara Sehun kembali terdengar.
"Dimana ia dimakamkan?"
"Di pemakaman keluarga besar Kim. Kau pasti tau itu."
Sehun sontak bergegas berdiri meninggalkan D.O. Baru beberapa langkah saja, D.O menyuarakan namanya.
"Sehun! Ada satu hal yang ingin ku tanyakan kepadamu. Apa kau benar-benar tidak mengetahui bahwa kai mengunakan obat-obat itu?"
Sehun berbalik dan menggeleng. D.O mengerti.
"Berarti Kai tidak ingin membuatmu khawatir Sehun. Karena Kai menuliskan surat kepadaku, bahwa ia hanya menceritakan ini semua kepada Kris."
Sehun berbisik, "Kris?"
~LIMIT~
Setelah jadwal kuliah berakhir, Chanyeol memutuskan untuk bermain-main sebentar di apartemen sahabatnya, Kris. Tengah asik menonton sebuah film sambil menghabiskan cemilan yang beberapa hari lalu ia berikan untuk Kris namun, pada akhirnya ia makan sendiri. Sang pemilik apartemen tengah sibuk didalam kamarnya memilih lukisan mana yang akan ia serahkan untuk pameran. Tiba-tiba terdengar bunyi bel apartemen.
"Kris hyung, ada tamu!" Teriak Chanyeol.
Namun, dari dalam kamar dengan samar Chanyeol mendengar jawaban dari Kris.
"Kau saja yang buka! Aku sedang sibuk!" Begitulah teriak Kris.
Dengan kesal Chanyeol menghela nafas dan menjeda sesaat film yang tengah ia tonton. Chanyeol berjalan menuju pintu sambil menghentakan kakinya.
"Siapa yang punya apartemen ini sebenarnya!" Gerutu Chanyeol.
Seorang tamu yang dari tadi memencet bel secara berulang-ulang membuat Chanyeol gusar. Ketika pintu terbuka seseorang tiba-tiba saja langsung masuk menabrak Chanyeol.
"Sehun! Tidak tau sopan sekali kau ini."
Ya. Seseorang itu, Sehun. Namja itu masuk begitu saja kedalam apartemen, tatapannya menajam kearah Chanyeol.
Dengan dingin ia bertanya kepada Chanyeol, "Dimana, Kris hyung?"
Chanyeol merasa apa yang dilakukan Sehun itu terlihat tidak sopan. Mulai dari memencet bel dengan tidak sabar, masuk begitu saja ke apartemen, bertanya dengan nada dingin.
Berusaha tetap terlihat tenang, Chanyeol membalas ucapan dinging Sehun.
"Kris hyung? Ia sedang dikamar. Wa-"
Belum selesai Chanyeol berucap Sehun langsung pergi begitu saja menuju kamar Kris. Namja tinggi itu hanya bisa menghela nafasnya. Chanyeol kembali memasuki euang tengah untuk melanjutkan filmnya namun, belum saja Chanyeol mendudukan dirinya di sofa besar milik Kris itu sebuah suara yang terdengar sangat kencang terdengar dari kamar Kris. Sebuah suara yang menggambarkan sebuah barang terlempar begitu saja. Panik, Chanyeol langsung bergegas menuju kamar Kris. Sebuah pandangan yang mengejutkan ada didepan matanya. Lukisan milik Kris tergeletak begitu saja di lantai.
"Kris hyung?!"
To be continue...
Haaaaaiiii...author kembali. Mianhae, jeongmal mianhae readers, author sangat lama mengupdate ff ini.. maklum author baru masuk kuliah, jd sibuk ngurusin masalah kuliah.. Yang penting sekarang sudah update, semoga readers suka yaa.. Author membawa chap lebih panjang.. Gomawo sudah manunggu ff ini cukup lama..
Tetap berikan review kalian yaa.. Gomawo buat yg sudah favorite dan Follow ff ini.. Saranghae yeorobeun!
Reply for Review&Big thanks:
angel sparkyu: udah lanjut yaa.. Gomawo reviewnya^^
tanda centang: huft...syukurlah. Gomawo pujiannya dan semangatnya yah, Chap ini lebih fokus ke fakta Kai dulu, tapi nanti chap dpn udh detik" ketahuan sama Sehun dan kawan" kok.. ditunggu aja ya... Gomawo^^
ChanKai Love: udah update yaa, Mianhae lama nih.. Gomawo reviewnya^^
Kim -Jung- Hyewon: chap depan aku bikin flashback Suho deh, soalnya chap ini msh fokus ke d.o dulu.. mianhae.. untuk Tao, awalnya dia emang udh pernah liat Kris minum obat jadi dia udh gak kaget kok.. udah lanjut ya.. Gomawo reviewnya^^
aldif.63: maafkan author yang kejam.. semoga chap ini tetap memukau ya, Gomawo reviewnya^^
Aiko Michishige: udah lanjut yaa.. Gomawo semangat dan reviewnya^^
celindazifan: mohon bersabar menunggu endingnya yaa.. wkwkkw semoga chap ini tetap membuat menguras emosi.. Gomawo reviewnya Celin..^^
LVenge: belum putus kok, mereka bakalan tetap saling cinta wkwk.. Baekhyun dia sati sisia sedih sama Kris tapi dia jg khawatir dg masa depan Tao.. di chap ini dijelasin kok, Kris gak bakal ngelakuin hal intim apapun sama Tao... udah update nih.. Gomawo reviewnya yaa^^
