Limit?

By : cronos01

Cast : Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon

Zhang Yixing/ Wu Yixing

Wu Yifan/ Kris

Huang Zitao

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jongdae

Kim Minseok

Genre : Romance, Angst, Friendship

Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D

Warning : Yaoi, Typo's. Don't Like, Don't Read. Simple!

So, Enjoy it!

Chapter 9

Previously...

Sebuah suara yang menggambarkan sebuah barang terlempar begitu saja. Panik, Chanyeol langsung bergegas menuju kamar Kris. Sebuah pandangan yang mengejutkan ada didepan matanya. Lukisan milik Kris tergeletak begitu saja di lantai.

"Kris hyung?!"

~LIMIT~

Next...

5 bulan kemudian..

Kris tengah berdiri didepan pagar kediaman keluarga Byun. Berpakaian sangat rapi dengan balutan kemeja berwarna putih dan tuxedo berwarna biru dongker dipermanis dengan pantofel putih yang memberikan kesan elegan. Malam ini, Kris berniat mengajak Tao makan malam berdua. Setelah peristiwa tidak mengenakan 5 bulan lalu, Kris belum pernah sekalipun mengajak namja'nya' makan malam bersama disebuah tempat yang hanya ada mereka berdua.

Kris berbalik saat ia mendengar langkah kaki seseorang mendekatinya. Tao, namja yang beberapa bulan lalu ia ajak kembali untuk menjalani sebuah hubungan kasih sayang, kini berdiri malu didepannya, kemeja putih dan tuxedo hitam dipermanis dengan dasi kupu" berwarna hitam juga. Namja bermata panda itu kini sudah bisa berjalan kembali, jauh dari perkiraan sang dokter, tidak sampai sebulan penuh, Tao secara tidak sengaja di pagi hari ia bangun dari tidurnya dan tiba-tiba saat ia baru menyadarinya, ia tengah berdiri dengan kaki jenjangnya.

"Gege, jangan memperhatikanku seperti itu." Kata Tao malu.

Kria hanya membalasnya dengan senyuman khasnya, ia menaruh tangannya dipinggang memberikan ruang agar Tao bisa merangkul lengannya dengan malu pul Tao berjalan mendekati Kris dan merangkul namja tinggi itu.

Dari dalam rumah yang bisa dibilang cukup megah itu, Baekhyun memantau dari jendela kamarnya sosok sang sepupu yang kini tengah merangkul seseorang yang dulu tidak Baekhyun setujui.

"Aku harap kalian bahagia." Bisik Baekhyun dimalam yang temaram itu.

~LIMIT~

Cukup lama mereka berada diperjalanan, kini Kris dan Tao sudah sampai ditujuan mereka. Namja panda itu terlihat kebingungan saat ia melihat sebuah bangunan yang mungkin bisa dibilang sebuah cottage ada didepan matanya. Sementara, Tao menatap kagum cottage yang terlihat mewah itu, Kris turun dari mobilnya membuka dan berlari kecil untuk membuka pintu untuk Tao. Mereka saling berpegangan tangan. Namja bermata elang tersebut membawa Tao kedalam cottage namun, baru sampai didepan pintu, Tao berhenti, ia melepas genggaman tangan Kris.

"Ge, disini sepi sekali." bisik Tao.

Kris tersenyum ia meraih kembali tangan Tao dan menggenggamnya lagi, seakan tidak ingin berpisah sedikit saja.

"Hn. Gege memang sengaja mencari tempat yang hanya ada kita berdua."

Tao panik, kedua matanya terbelalak.

"Y-yak, Gege!"

Kris tersenyum, ia mengelus pipi chubby Tao lembut.

" Gege tidak akan melakukan apa-apa padamu, Baby."

Seketika tatapan mata Tao melembut, kata-kata itu selalu Kris berikan kepadanya. Kata yang membuat hati Tao bergetar, bagaikan sebuah alarm yang mengingatkan Tao bahwa Kris tidak bisa menyentuhnya lebih dalam.

"Kajja." Ujar Kris membangunkan Tao dari lamuanannya.

Mereka kini sudah memasuki cottage tersebut, semua interior berwarna memberikan kesan elegan sekaligus romantis. Kini mereka sudah berada ruang makan yang menjadikannya lebih istimewa adalah sebuah pintu kaca yang dibiarkan terbuka lebar memperlihatkan pemandangan pesisir pantai yang sangat indah. Birunya air dan pasir putih membuat Tao rasanya ingin langsung turun kesana tapi dengan sebuah tuxedo? Tampaknya tidak cocok. Kris memeluk Tao dari belakang dan menaruh dagunya di bahu sang kekasih.

"Kau ingin kesana?"

"Hn,"

"Tidak dengan pakaian seperti ini"

"Aku tau, ge"

Setelah memanjakan mata dengan keindahan pantai, Kris membawa Tao duduk meja makan yang sudah ia hias seindah mungkin. Hidangan-hidangan yang menjadi favorit Tao ia sediakan disana. Kris tertawa kecil saat melihat Tao yang tampaknya sudah tidak sabar ingin menyantap hidangan diatas meja itu.

"Kau bisa mulai duluan, baby."

Mendengar ucapan Kris, Tao tersenyum dan langsung mengambil hidangan yang ia sukai.

"Selamat makan, gege"

Kris mengagguk.

Selama Tao menikmati makanannya Kris hanya memperhatikan Tao dan sesekali memotret kekasihnya. Kris tertawa sendiri saat melihat rekam wajah kekasihnya yang terlihat lucu dengan berbagai ekspresi.

"Gege, jangan memotretku saat lagi makan. Sungguh tidak keren." Gerutu Tao.

Kris pura-pura tidak mendengar, ia tetap asik dengan hasil fotonya. Saat ia pas menemui hasil foto berupa ekspresi wajah Tao yang tampak terlihat seperti wajah panda yang isi mulutnya dipenuhi dengan makanan, Kris langsung tertawa lebar tapi tetap berusaha menjaga wajah coolnya.

Merasa tidak nyaman dengan suara tawa Kris, Tao meletakan sendok dan garpunya kasar.

"Gege, mengolok wajah ku ya? Kan sudah kubilang jangan memotret ku jika sedang makan." Ujar Tao tampak seperti beraegyo.

"Baby, ini sangat lucu dan manis." Jawab Kris sambil memperlihatkan hasil foto tersebut.

Tao meraih foto itu.

"Aaa~ gege! Lihat ini, kan jelek sekali." Rengeknya.

"Itu manis, baby Tao."

Setelah siang hari itu mereka habiskan berdua, kini matahari sudah mulai ingin kembali ke tempatnya. Ditengah senja ini, Kris dan Tao tengah duduk di tepi pantai.

Kris menatap wajah Tao yang terkena bias matahari senja.

"Sempurna." Ujar Kris tiba-tiba.

Tao mengalihkan pandangan dari pantai kearah kiri menatap wajah tampan sang kekasih.

"Kau juga sempurna, ge. Sangat sempurna."

Dengan cepat Kris menyanggahnya. "Ani." Tukasnya.

Tao memperpendek jarak mereka, ia menyatukan dahinya dan namja bermata elang itu.

"Aku mencintaimu, ge. Sangat mencintaimu."

Hari semakin larut, matahari kini sudah benar-benar menghilang digantikan dengan bulan. Beruntung Kris sempat meminta Tao untuk membawa beberapa baju karena Kris memang berencana mengajak Tao menginap.

~LIMIT~

Hari berganti, sekarang adalah hari kedua Kris dan Tao berada di cottage milik keluarga Kris. Tao sudah bangun dari tidurnya sejak 15 menit yang lalu. Setelah menikmati pemandangan pagi pantai tersebut, Tao berjalan menuju dapur kecil cottage tersebut. Mencari bahan-bahan yang ingin ia gunakan untuk sarapan pagi dan yang didapatkannya hanya beberapa kaleng makanan. Terlintas ide menu makanan pagi untuk mereka dipikiran Tao. Namja panda itu mencampurkan beberap bahan makanan tersebut dengan nasi putih ditambah dengan sedikit minyak ikan lalu ia mencampurkan semuanya. Selesai membuat sarapan, Tao berjalan menuju kamar, berniat membangunkan Kris.

Tao berjalan menuju sebuah sofa yang cukup besar. Ya, semalam Kris menyuruh Tao untuk tidur di king bed yang tersedia namun, Kris memutuskan dirinya untuk tidur di sofa. Kris tidak ingin terlihat berniat melakukan sesuatu kepada Tao untuk itu ia tidur di sofa. Padahal, Tao sama sekali tidak keberatan jika Kris ingin tidur disampingnya.

Namja yang memiliki badan cukup tinggi itu membuka pintu kamar, ia mendengar suara kran air yang menyala. Tao melangkahkan kakinya memasuki kamar dan melanjutkan langkah menuju kamar mandi. Dari pintu ia melihat Kris yang dengan lemah mungkin berusaha mengatasi mualnya di pagi hari itu. Kris yang merasakan kehadiran Tao langsung membersihkan mulutnya dan menatap Tao yang berada berdiri didepan pintu masuk kamar mandi.

"Kau harusnya tidak melihatnya, Baby." Lirih Kris.

Namja bermata elang itu kini menyanggakan tubuhnya dengan tangannya di pinggiran wastafel kamar mandi tersebut. Sudah beberapa menit berlalu Kris berdiri disana berusaha mengeluarkan rasa mualnya tapi tidak ada hasil justru ia merasa lemas sekarang. Tao berjalan mendekati Kris dan membantu kekasihnya untuk berjalan menuju ranjang mereka. Setelah membaringkan Kris, Tao mengambil sesuatu dari koper milik Kris, ia mengecek beberapa kantung kecil dalam koper tersebut dan apa yang dicarinya ditemukan. Tao kembali berjalan mendekati Kris, duduk di pinggiran ranjang. Ia membuka tabung obat tersebut dan memasukan obat itu kedalam mulut Kris lalu membantu Kris meminumkan air.

"Lebih baik kita pulang siang ini, ge." Kata Tao lembut.

Kris menggeleng lemah. "Tidak perlu, baby. Sebentar lagi aku akan membaik."

Selalu seperti itu, Kris selalu tidak ingin membiarkan orang lain harus kesusahan karenanya, khawatir karenanya dan membuang waktu karenanya. Namja berkantung mata panda itu hanya bisa menatap Kris dengan nanar berupaya menahan tangisannya yang ingin pecah. Sedangkan, Kris melihat Tao yang tampak menatapnya pedih, ia raih tangan kekasihnya itu dan mengelusnya memberikan senyum lemahnya.

"Semua akan baik-baik saja." Lirih Kris.

~LIMIT~

Sehun kembali mendatangi tempat ini lagi. Tempat dimana Kai kini berada. Diletakannya bunga lily putih di vas kecil yang sudah berisikan beberapa bunga yang masih tampak segar. Menyatukan kedua tangannya didada sambil menutup mata, berdoa. Setelah beberapa saat ia berdoa Sehun tersenyum menatap foto sahabatnya.

"Annyeong, Kai." Ujarnya ditengah keheningan.

Sehun memang selalu seperti itu, berbicara didepan makam Kai seolah sosok itu disana menjawab setiap kata yang ia ucapkan.

"Maafkan aku, mungkin sudah berulang kali aku mengunjungimu tapi aku masih belum tau bunga apa yang kau sukai, itu sebabnya aku membawa bunga yang berbeda setiap harinya."

Sehun tertawa. Sendiri.

"Kris hyung menitipkan salam padamu. Ia tidak bisa menjengukmu dalam 5 hari kedepan-"

"Mengajak calon pendampingnya menginap di pulau Jeju." Lanjut Sehun.

Sehun menghela nafas sesaat.

"Mencuri start dari Kris itu merupakan tindak kriminal dalam persahabatan kita. Kau lupa?" Tanya Sehun entah pada siapa.

Tiba-tiba Sehun mengangguk sambil tertawa seakan-akan ia mendengarkan jawaban dari Kai.

"Ah, eomma. Eomma mu sudah ku urus dengan sangat baik. Meskipun dia masih suka menangis karena mu, Kai."

Hening. Sebuah isakan kecil tiba-tiba terdengar dari Sehun. Ia menundukan kepalanya mencoba meredam tangisan tersebut. Cukup dekat jarak mereka, seseorang tengah berdiri memperhatikan Sehun dari jauh. Melihat Sehun yang menangis, seseorang itu mendekat kepada Sehun dan memeluk kekasihnya itu. Luhan mencoba menenangkan sang kekasih dengan pelukannya dari belakang.

"Aku merindukanmu, Kai." ucap Sehun ditengah isakan.

~LIMIT~

Tidak hanya Kris dan Tao yang minggu ini mengisi liburan mereka dengan menginap bersama. Chanyeol dan Baekhyun pun mengisi liburan mereka berdua. Chanyeol lebih memilih untuk menginap sebuah hotel, melakukan kegiatan yang bisa membuat Baekhyun tidak akan lupa dengan kegiatan itu maka dari itu Chanyeol hanya memutuskan untuk menginap sehari di hotel.

Meskipun tadi malam mereka sangat bahagia tidak dengan pagi ini. Chanyeol kembali dihadapkan dengan Baekhyun yang sangat posesif dengan Tao. Namja cantik itu tampak mondar-mandir didepan king bed hotel tersebut membuat Chanyeol yang sedang menonton televisi terganggu.

"Baek, mereka baik-baik saja." Kata Chanyeol.

Baekhyun mendengarnya namun, pura-pura tidak mendengar. Ia tetap mondar-mandir sambil mencoba menghibungi nomor sahabatnya itu. Setelah cukup lelah mencoba, Baekhyun putus aja. Ia duduk di kasur dan menatap Chanyeol kesal. Baekhyun lembar ponselnya ke arah Chanyeol dan mengenai dada bidang namja itu.

"Aw! Sakit Bakkie..." rintih Chanyeol.

"Siapa suruh. Kau itu selalu menganggap enteng semua hal. Bahkan Tao pun kau anggap gampang." Bentak Baekhyun.

Chanyeol mengusap kasar wajahnya dan membenarkan posisi duduknya.

"Ya Tuhan, Baek. Aku tidak pernah meremehkan apapun itu mengenai Tao. Aku bersikap tenang karena aku yakin dia baik-baik saja dan Kris akan menjaga Tao." Chanyeol menjelaskan.

Baekhyun pun langsung menyelak begitu saja . "Tapi bagaimana jika semua itu salah? Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada Kris? Dan Tao kebingungan mencari bala bantuan? Cottage Kris itu kan jauh dari keramaian pulau Jeju."

Chanyeol tertawa setelah mendengar penuturan Baekhyun.

"Kau mengkhawatirkan Kris?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun gugup. "Y-ya, bukan gitu maksud ku."

Baru saja Chanyeol ingin menertawakan Baekhyun lagi, ponsel Baekhyun yang berada digenggamannya berbunyi.

"Nugu?" Tanya Baekhyun antusias.

Karena terlalu antusias Baekhyun sampai meloncat ketempat tidur dan secara tidak sengaja ia bersandar begitu saja di dada bidang Chanyeol membuat Chanyeol seketika kaget sekaligus tersenyum jail. Tidak berniat memindahkan menjauh dari kekasihnya Chanyeol malah membenarkan posisi Baekhyun.

"Tao? Neo gwaenchana?" Tanya Baekhyun pada Tao yang ada diseberang sana.

"Nde, aku baik, hyung. Kita bahagia disini."

"Huft, syukurlah. Kenapa kau tidak mengabariku kemarin?"

Helaan nafas terdengar dari seberang sana.

"Banyak hal yang harus kita berdua lakukan. Apakah aku harus meninggalkan kegiatan itu dan mengabarimu, hyung?" Tao menjawab dengan berbisik sambil memamerkan pada sepupunya itu apa yang ia dan Kris lakukan.

"Jangan bercanda kamu, Tao! Kris tidak melakukan hal brengsek kan?!" Baekhyun bertanya dengan nada tinggi.

Terdengar suara tawa dari Tao.

"Hahaha, aku akan menjawabnya nanti setelah pulang ya, hyung. Bye, Baekhyun hyung."

Baru saja Baelhyun ingin berteriak marah pada Tao, namja panda sudah memutuskan begitu saja sambungan telepon mereka. Baekhyun langsung melempar begitu saja ponsel keatas meja kecil disamping ranjang.

"Bagaimana? Mereka baik-baik saja kan?" Tanya Chanyeol sambil memainkan surai lembut Baekhyun.

Baekhyun hanya membalas mengangguk, sibuk bermain sendiri dengan pikirannya.

"Baek?" Panggil Chanyeol.

"Hn?" Jawab Baekhyun.

" kau ingin melanjutkan yang tadi malam?" Tanya Chanyeol dengan nada nakal.

Baekhyun sontak langsung bangun dari posisi berbaringnya dari dada Chanyeol.

"Apa maksudmu? Kita akan check out jam 9 pagi nanti." Jawab Baekhyun dengan nada sedikit tinggi untuk menghilangkan rasa gugupnya.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan intens dan ia menyipitkan matanya. Bergerak maju dari posisinya lalu, berhenti tepat didepan wajah Baekhyun.

"Aku bahkan bisa memperpanjang hari menginap kita, Baekki." Ujarnya sambil berbisik diakhiri dengan smirk andalannya.

~LIMIT~

"Huft, Baekhyun hyung itu. Selalu saja seperti itu." Kata Tao yang sedang duduk disampin Kris yang masih berbaring.

"Seperti itu bagaimana?" tanya Kris dengan suara serak sambil mencoba untuk bangun dari posisinya dan bersandar pada kepala ranjang.

Tao mematikan televisi yang menyala dan mengalihkan pandangannya ke sang kekasih.

"Mengkhwatirkanku." Singkat Tao.

"Dia patut mengkhawatirkanmu. Terutama saat kau berada bersama ku." ujar Kris tenang.

Menatao kekasihnya iba, itulah yang Tao lakukan sekarang.

"Gege.."

Kris hanya menanggapi Tao dengan senyuman, ia beralih mengambil ponselnya diatas meja kecil di samping ranjang. Melihat waktu kini menunjukan pukul berapa.

"Aku sudah merasa lebih baik. Kita jalan-jalan, Baby?"

"Tidak. Aku tidak ingin pergi kemana-mana. Cukup dengan gege disini. Aku sudah senang."

Kris berdecih.

"Tidak bisa seperti itu, Baby. Kita kesini untuk menikmati indahnya Jeju, bukan hanya diam saja di cottage."

Tao menghela nafas pasrah.

"Gege benar sudah baik-baik saja?"

Kris mengangguk. Namja mata elang itu berusaha bergerak turun dari ranjang, ia berjalan meraih jaket kulit berwarna hitam miliknya dan mengenakannya.

"Gege sudah siap." Ujarnya kepada Tao.

~LIMIT~

Kris dan Tao jalan bergandengan menuju sebuah taman yang dihiasi oleh berbagai macam bunga. Selama perjalanan Tao tidak sedikitpun melepaskan pandangannya pada kekasihnya yang tingginya tidak jauh beda dengannya. Menggandeng dan bersandar pada bahu sang kekasih. Saat cukup puas mereka mengelilingi taman itu, Kris dan Tao memutuskan untuk duduk di hamparan rerumputan yang luas. Mereka berbaring, masih saling bergandengan tangan dan menatap birunya langit Pulau Jeju.

"Gege, lelah?" Tanya Tao sambil menatap kesampingnya.

Sementara yang ditanya tetap terfokus menatap langit dan hanya menjawab dengan gelengan.

Merasa kesal karena tampaknya langit Pulau Jeju jauh lebih menarik, Tao mendekatkan wajahnya kewajah Kris. Ia menatap mata Kris dengan jarak yang sangat pendek itu.

"Wae, hm?" Suara berat itu terdengar.

"Tatap aku, Gege. Apa langit itu sangat menarik untukmu!" Sergah Tao.

Kris tertawa, ia mengusap surai kekasihnya itu lembut.

"Gege, hanya sedang merasakan setiap udara yang bisa dengan mudahnya gege hirup, baby." Jawab Kris.

Tao hanya menatap Kris diam.

"Kau ingin gege gambar?" Tanya Kris.

Kris meraih buku sketsanya yang berada disampingnya dan membuka buku sketsa itu lembar ke lembar.

"Kau sama sekali belum ada di buku sketsa ini." Celetuk Kris lagi.

Tao menatap wajah Kris fokus. Tersenyum-senyum memandang setiap garis" tegas diwajah kekasihnya. Sementara, Kris menatap Tao dengan tatapan aneh.

"Aku sedang bertanya, Baby. Kau malah menatap ku seperti domba yang menginginkan singanya." Tutur Kris

Tao menyentuh wajah Kris yang tampak lebih tirus dibandingkan beberapa bulan yang lalu saat mereka pertama kali bertemu.

"Haruskah ku jawab pertanyaanmu itu? Lakukan saja Kris." Ujar Tao.

Kris tersenyum, ia mulai mengambil pensil gambarnya dan membuat rangkaian awal wajah Tao. Sementara Kris menggambar, Tao masih berada pada posisinya dekat dan memandang Kris dalam.

"Aku tidak bisa menggambarmu kalau kau menatapku terus seperti itu, Baby." Ujar Kris.

Tao tetap tidak merubah posisinya.

"Arra, arra.. Gege akan menggambarmu dalam posisi seperti ini." Kata Kris.

Perlahan-lahan Kris mulai menggoreskan garis-garis halus yang membentuk wajah Tao. Kris menggambar dengan sangat tenang namun, tampaknya ada sesuatu yang aneh dari gambar itu. Garis-garis yang tampak terlihat tidak sesuai dengan relief wajah Tao sesungguhnya, Kris mencoba menghapusnya dan membuat garisan baru. Baru disadarinya, tangannya yang dulu lihai dalam menggambar itu kini berbeda, tangan itu terasa kaku untuk menggambar setiap goresan-goresan wajah Tao.

Kris mulai panik, ia menghapus dengan kasar gambarnya. Tao mulai merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya itu, ia menatap Kris. Namja yang ditatapnya itu terlihat panik dan terlihat keringat mulai mengucur. Kris terlihat seperti seseorang yang putus asa. Tangan Tao bergerak menyentuh pipi tirus sang kekasih dan mengarahkan pandangan kekasihnya itu kepadanya.

"Gege, tenang-tenang. Tatap mataku. Ada apa denganmu?" Kata Tao.

Nafas Kris terlihat mulai tersendat-sendat. Mata elangnya yang tajam kini sayu.

"Tangan ini. Mengapa tangan ini tidak bisa menggambar wajahmu dengan benar, baby?" Tanya Kris lirih.

Yang ditanya hanya dapat menautkan kedua alisnya. Tao tidak mengerti.

"M-maksudmu apa, ge?"

Kris mengangkat tangannya kehadapan Tao.

"Terasa kaku. Tangan ini sulit digunakan untuk menggambar wajahmu, Tao!" Jawab Kris diakhiri dengan bentakan.

Tao mulai mengerti. Ia menutup mulutnya dengan tangannya dan menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang didengarkannya. Tao memeluk Kris, mencoba menenangkan kekasihnya. Menahan tangisannya agar kekasihnya itu kuat.

"Gwaenchana. Gege hanya kelelahan. Kau hanya butuh istirahat, Ge."

"Kau bisa menggambar ku nanti, setelah perasaan dan keadaan mu membaik. Arra?" Lanjut Tao.

Sementara Tao menenangkan kekasihnya didalam pelukan, kekasihnya sendiri. Kris memandang nanar taman disekitar mereka. Tangannya ia kepalkan erat dan tanpa Tao sadari, untuk pertama kalinya. Kekasihnya yang selalu terlihat kuat dan melindunginya itu, menangis.

~LIMIT~

Di siang yang tampak tidak bersahabat, hujan turun cukup deras. Meskipun hujan dan langit tampak berwarna pekat. Kyungsoo masih dengan setianya berada ditempat peristirahatan terakhir kekasihnya.

"Annyeong, yeobo."

Kyungsoo terlihat tertawa sendiri.

"Sudah cukup lama kita menikah ya. Tidak salah bukan kalau aku memanggilmu yeobo?"

Kyungsoo memandang foto kekasihnya yang ada dihadapannya.

"Kris dan Tao meraka hidup bahagia. Seperti keinginan mu."

"Saat ini mereka sedang berlibur. Aku iri dengan mereka, Kai. Aku merindukanmu."

Lagi-lagi air mata itu tidak dapat terbendung.

"Kau pergi terlalu cepat, Kai. Kau pergi terlalu cepat"

"Kita bahkan belum sempat memiliki seorang buah hati, Kai"

Kyungsoo tidak peduli dengan siapapun yang mungkin akan mengatainya gila. Berbicara didepan makam seseorang sambil menangis dan meraung-raung.

~LIMIT~

Siang itu, ditengah derasnya hujan. Suho berada didalam ruangan kerjanya menatap kosong keluar jendela ruangannya, derasnya hujan menimbulkan suara bising yang mengisi keheningan ruangan namja yang menjadi suami dari Zhang Yixing. Entah mengapa, beberapa hari ini dirinya merasa kalut.

Tiba-tiba sebuah ketukan terdengar.

"Sajangnim, ada seseorang yang ingin menemui anda" Kata seorang yeoja yang diangkatnya sebagai sekretarisnya.

Dengan cepat Suho menjawab, "Nugu? bilang saya se-"

Pembicaraan Suho terputus begitu saja saat seseorang yeoja lainnya masuk dan berkata, "Lama tidak bertemu, Suho."

Kehadiran yeoja itu membuat Suho sangat kaget. Tidak dapat berkata apa-apa, bibirnya bungkam disertai dengan kedua bola matanya yang membesar dan perasaan was-was entah mengapa tiba-tiba muncul. Yeoja yang dulu mengisi kekosongan hatinya, pemuas napsu nya belaka dan seseorang yang membuat Suho hilang akan kesadaran jiwanya.

"Yoona?" Lirih Suho dengan tangannya yang mengepal erat.

~LIMIT~

"Eomma kenapa tidak mengabariku dulu, kalau ingin berkunjung?" Kata Kris sambil membantu Lay membawa masuk beberapa kantong plastik yang berisikan bahan-bahan masakan yang dibawa oleh Lay dari Seoul.

"Memangnya eomma harus meminta izin dahulu untuk menengok putra eomma sendiri?" Bukannya menjawab pertanyaan Kris, Lay justru menjatuhkan pertanyaan kepada anaknya.

Tao keluar dari kamar milik Kris dan dirinya. Betapa terkejutnya Tao saat melihat orang tua dari kekasihnya ada disini.

"Lay eomma? Ya ampun, kenapa kau datang jauh-jauh tanpa mengabari kami?" Ujar Tao yang langsung berjalan menghampiri Lay dan memeluk orang tua dari Kris itu.

"Eomma hanya ingin tau apa yang kalian lakukan disini. Siapa tau eomma bisa menemukan kalian sedang melakukan hal-hal yang-"

"Hal-hal yang apa, eomma? Itu tidak akan terjadi." Potong Kris tiba-tiba.

Lay diam begitupula dengan Tao.

"Eomma membeli beberapa bahan untuk pesta barbeque?" Tanya Kris sambil mengobrak-abrik kantong plastik yang ada dihadapannya.

Lay tersenyum, "Jelas dong, Kris. Karena malam ini kita akan merayakan pesta barbeque bersama." Katanya.

"Bersama?" Ulang Kris.

Lay mengangguk semangat.

Tiba-tiba terdengar bunyi bel cottage tersebut.

"Tampaknya mereka sudah datang." Kata Lay dengan riang.

Ia berjalan menuju pintu diikuti dengan Kris dan Tao dibelakangnya. Pintu pun terbuka.

" SURPRISE!"

Didepan pintu itu begitu banyak orang. Ya, sahabat-sahabat dari Kris dan Tao sengaja Lay undang ke cottage itu. Sebuah senyuman gembira mengembang diwajah Tao, ia langsung berlari memeluk sepupunya, Baekhyun.

"Baekhyun hyung, aku sangat merindukanmu." Ujar Tao didalam pelukan.

Baekhyun tertawa, ia mengayunkan tubuh saudaranya itu kekanan dan kekiri.

"Hyung juga merindukanmu, Tao. Kau baik-baik saja kan?" Jaeab Baekhyun sekaligus bertanya.

Tao mengangguk, "Hm, i feel good, hyung." Jawabnya.

Berbeda dengan ekpresi yang dikeluarkan Tao, Kris justru tampak tidak senang.

"Untuk apa kau datang kesini?" Tanya Kris ketus kepada kedua sahabatnya.

Sehun dan Chanyeol hanya tertawa kecil, mengejek Kris.

"Aish! Pengganggu." Kata Kris lalu dia masuk begitu saja kedalam cottage meninggalkan para tamu diluar.

Mencoba mencairkan suasana, Lay angkat bicara.

"Hm, mianhae anak-anak. Mungkin Kris terlalu senang dengan kehadiran kalian. Ayo, silahkan masuk" ucap Lay sambil membawa masuk tamu-tamunya.

~LIMIT~

Luhan, Baekhyun dan Tao kini berada di dapur yang tidak ukuran tidak terlalu besar. Mereka dengan kompaknya membereskan setiap barang-barang yang dibawa untuk kelengkapan acara bakar-bakar mereka malam nanti. Disudut dapur ada Luhan yang tengah mencuci beberapa selada dan bahan-bahan lainnya.

"Bagaimana Tao? Apa saja yang sudah kalian lakukan?" Cicit Luhan.

Baekhyun yang sedang memotong bahan untuk sup langsung melirik kesampingnya yang disana terdapat Tao yang tengah berdiri.

" Tidak ada. Kita tidak melakukan apa-apa." Jawab Tao datar.

Gerakan Baekhyun langsung terhenti. Ia memandang ke Tao yang tengah berdiri bersandar sambil memakan buah apel merahnya.

"Wae? Kenapa kalian tidak melakukan apapun?" Tanya Baekhyun.

Luhan meletakan selada yang telah selesai dicucinya diatas meja makan dan duduk dikursi meja makan itu.

"Pasti karena Kris yang menahan dirinya ya?" tanya Luhan.

Tao menghela nafas dan menggeleng. Seakan ia sendiri tidak tau apa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.

"Aku sedang tidak ingin membahasnya." Cicit Tao.

Baekhyun menyadari ada yang aneh dari nada bicara Tao.

"Tao, neo gwaenchana?" Tanya Baekhyun memastikan ia meninggalkan pekerjaanya dan mencucui tangan lalu berjalan menghampiri Tao. Menatap mata sepupunya itu.

"Terjadi sesuatu?" Tanya Baekhyun lagi.

Di meja makan Luhan hanya menyaksikan mereka berdua dengan intens.

"Kris ge- tampaknya ia makin memburuk." Lirih Tao.

Ucapan yang dikeluarkan oleh Tao membuat Baekhyun dan Luhan kaget.

"Siang tadi. Saat kami sedang bersantai di taman bunga dekat sini, ia berniat menggambar wajahku pada buku sketsa nya." Ujar Tao.

"Lalu?" Tanya Luhan.

"sesuatu yang tidak berea terjadi padanya dan setelah itu dia mengatakan kalau-kalau tangannya terasa kaku untuk menggambar. Terasa sulit." Jawab Tao.

"Secepat itu?" Tanya Baekhyun.

Tao menggeleng tidak mengerti.

Luhan berdiri dari posisinya dan berjalan memeluk Tao.

"Gwaenchana, gwaenchana Tao. Everything gonna be alright, hn?" Bisiknya.

Tao menangis tanpa suara, ia menjawab ucapan Luhan dengan anggukan samar. Sementara Luhan menenangkan Tao, Baekhyun hanya dapat memandang sepupunya itu nanar.

Ini, ini menyebabkan Baekhyun tidak menyetujui hubungan mereka dulu. Baekhyun takut, Tao akan terus merasa sedih dan menangis setiap kali melihat Kris tidak berdaya. Baekhyun tidak bisa membiarkan sepupunya itu menangis.

~LIMIT~

Langit kini mulai menggelap. Malam yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, seluruh seme menyibukan dirinya dengan pekerjaan mereka sedangkan kali ini justru para uke bersantai menunggu hasil bakaran para seme.

Tao melihat kekasihnya dari dalam cottage sedang membakar beberapa bahan bersama Chanyeol. Angin malam cukup kencang, membuat Tao langsung bangkit dari posisinya, memasuki kamarnya dan Kris. Tak lama ia keluar sambil membawa syal rajutan yang dibelinya untuk Kris. Namja berkantung mata itu keluar dari cottage menuju halaman belakang cottage tempat dimana Kris dan para sahabatnya bekerja.

Kris tersenyum saat melihat kekasihnya menghampirinya. Tao menyampirkan syal rajut tersebut dileher Kris.

"Kau meninggalkan syal mu, Ge." Katanya.

"Gomawo, baby"

Disamping Kris, Sehun tersenyum-senyum sendiri melihat sahabatnya.

"Ekhem, aku izin keluar dulu, hyung. Ada yang tertinggal di mobil." Ujar Sehun.

Kris mengangguk mengiyakan.

Tak lama setelah kepergian Sehun, seseorang datang.

"Kyungsoo?" Tukas Luhan dari dalam cottage.

Chanyeol, Tao, Kris yang berada di halaman belakang cottage langsung mengalihkan pandangan mereka kedalam cottage.

"Akhirnya kau sampai juga, kyung." Tutur Baekhyun.

Dilain tempat, Sehun yang sudah selesai dengan urusannya mengambil ponselnya dari dalam mobil, ia melihat Lay yang sedang berbicara ditelpon dengan seseorang. Dengan langkah hati-hati, Sehun mendekat mencoba mendengarkan siapa yang berbicara ditelpon dengan orang tua sahabatnya itu.

"Ya, Donghae. Aku sedang di Jeju bersama Kris dan teman-temannya."

"Dia terlihat baik-baik saja. Tidak usah khawatir."

"Mwo? Terapi?"

"Aku tidak yakin Kris akan mau, Hae."

"Baiklah, aku akan mengatakan padanya nanti setelah ia liburan."

Dari kejauhan Sehun dapat melihat Lay hampir saja menangis.

"Aku hanya tidak ingin mengganggu kebahagiaannya, Hae!"

Cara bicara Lay kepada seseorang yang diduga Sehun merupakan dokter dari sahabatnya itu mulai terlihat berubah.

"Hn, aku akan mengabarimu nanti."

Pembicaraan Lay dan dokter itu pun akhirnya selesai. Lay terlihat menghapus air matanya dan hendak masuk kedalam cottage, dengan cepat Sehun keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Lay.

"Eommonie."

Kaget dengan suara yang didengarnya, Lay berbalik.

"Sehun?"

~LIMIT~

Lay cukup kaget dengan kehadiran Sehun yang tiba-tiba memanggil dirinya. Mencoba menetralkan kembali wajahnya agar tidak terlihat seperti usai menangis.

Dengan senyuman palsu Lay bertanya, "Eoh? Kenapa kau diluar, Hun?

"Handphone ku tertinggal di mobil, eommonie. Lay eomma sendiri, kenapa diluar?"

"Ada seseorang yang menelpon tadi. Tidak ingin menganggu acara kalian, eomma memilih menjawabnya diluar."

"Eoh, jinjjayo? Siapa yang menelpon, eommoni?"

Diam. Lay hanya bisa diam. Mencoba mencari jawaban yang tepat dari kepalanya.

"Ayahnya Kris."

Itulah akhirnya jawaban yang Lay berikan. Sehun tertawa kecil.

"Suho abeoji? Sejak kapan dia menanyakan keadaan Kris hyung, eommonie? dan- Terapi apa yang dimaksud oleh Donghae uisa?"

Disitu Lay langsung kaget, ia menatap Sehun dengan kedua kening yang berkerut.

"Mianhae, aku mendengar pembicaraan Lay eomma dan donghae uisa tadi."

Lay mengangguk mengerti. Menurutnya, tidak mungkin juga ia akan menyembunyikan segalanya lagi mengenai Kris kepada para sahabat anaknya itu.

Diawali dengan helaan nafas dan setelahnya, ia berbicara.

"Donghae uisa menyarankan Kris untuk melaksanakan terapi kecilnya. Mulai dari sistem motoriknya hingga terapi berbicara."

Sehun kembali tertawa, kali ini terlihat meremeh.

"Terapi? Kris hyung bahkan masih baik-baik saja. Uisa itu sepertinya mendoakan Kris hyung untuk cepat lumpuh ya?" Tukasnya dengan nada bicara mengejek.

"Sudahlah, Sehun. Donghae uisa hanya tidak ingin Kris akan semakin parah kedepannya, karena itu ia menyarankan."

"Ha! Bullshit!"

Sehun mengakhiri pembicaraannya dengan Lay dengan kata-kata kasar. Tidak bisa menahan emosinya, entah mengapa ia tidak bisa menahannya. Sehun pergi begitu saja meninggalkan Lay tepat saat jaraknya dan Lay cukup jauh, suara Lay terdengar. Memanggil Sehun.

"Tolong jangan beri tau siapapun, Sehun. Bahkan Kris sendiri. Jebal." Tutur Lay lembut.

Sehun berbalik dan tatapan matanya menyiratkan kekecewaan. Kekecewaannya terhadap keadaan.

"Entahlah, eommoni." Jawabnya.

~LIMIT~

Suasana malam ini cukup meriah dan menyenangkan. Semua orang yang berada disana terlihat gembira dan menikmati kebersamaan yang terjalin. Di sebuah sofa yang cukup besar disana mereka semua berkumpul. Kris dan Tao duduk bersampingan. Semua pasangan yang ada didalam ruangan itu terlihat iri dengan kedua pasangan itu.

Chanyeol berdiri dari duduknya bersama Baekhyun.

"Baiklah, malam semakin larut. Seperti aku dan Sehun harus pulang, Lay eomma." Tutur Chanyeol.

"Pulang?" Tanya Lay seakan menyayangkan.

"Menginap saja di cottage ini. Disini kan ada 3 kamar kosong." Lanjut Lay.

Terdengar decihan dari Kris. "Eomma, apa maksud mu? Biarkan saja mereka pulang." Katanya.

Lay langsung menatap anaknya dengan lembut.

"Kris... sudahlah. Semalam saja mereka mengganggu kesempatanmu dengan Tao." Tuturnya.

Disudut ruangan Sehun dan Luhan yang sedang bermesraan berdua hanya dapat tertawa mendengar penuturan Lay.

"Terserah eomma sajalah." ujar Kris akhirnya.

Tao menenangkan kekasihnya itu dengan sentuhan lembutnya pada lengan Kris.

~LIMIT~

Untuk pertama kalinya, Suho membawa seorang wanita yang 'bukan' merupakan amggota keluarganya. Yoona, seorang wanita yang dengan tiba-tiba datang kembali dan berkata bahwa ia tidak memiliki tempat untuk tinggal dan berlindung. Wanita itu hamil. Kehamilan itu tidak ada hubungannya dengan Suho, sebenarnya. Tapi bagaimana mungkin Suho bisa membiarkan seorang wanita yang tiba-tiba datang menangis. Bercerita bahwa dirinya ditinggalkan oleh wanita yang tidak bertanggung jawab. Pikiran dan hati kadanh memang tidak sejalan. Pikiran Suho berkata, bagaimana mungkin ia bisa menerima seorang wanita yang dulu meninggalkannya saat ia justru diambang kehancuran. Berbeda dengan pikiran, hati Suho berpendapat bahwa, semua adalah masa lalu. Apapun yang dulu Yoona lakukan padanya itu adalah keputusan dan takdir yang baik. Satu hal yang sebenarnya Suho sendiri tidak bisa meyakinkan kebenarannya, melihat wanita itu tiba-tiba datang kembali dalam kehidupannya, Suho merasa ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang sepertinya sama dengan apa yang dulu ia rasakan. Jatuh cinta? Lagi?

Suho membawa Yoona ke lantai dua rumahnya yang terlihat sangat megah itu. Berhenti didepan sebuah kamar.

" Kau bisa tinggal dulu disini. Kamar ini memang kosong."

Yoona dengan mata yang masih sembab hanya diam berdiri.

"Wae?"

Yoona menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Suho.

" apa tidak apa? Kemana anak dan Istri mu?"

Suho mengedikan bahu.

"Nan molla, aku baru pulang dari Shanghai kemarin dan langsung ke kantor. Jadi baru sekarang aku sampai dirumah. Mungkin Lay ada urusan."

Yoona mengangguk mengerti.

"Lalu Kris?" Tanya Yoona.

Air muka Suho terlihat berubah saat mendengar Yoona menyebut Kris.

"Aku tidak tau." Singkat Suho, bohong.

Sedikit janggal terdengar ditelinga Yoona sebenarnya namun, Yoona tidak ingin terlalu dalam mencampuri urusan keluarga Suho. Yoona pun berjalan masuk kedalam kamar. Suho yang berada didepan pintu tersenyum dan hendak menutup pintu. Saat Suho ingin menutup pintu Yoona memanggilnya.

"Suho, terima kasih." Tutur Yoona.

Suho mengangguk dan memberikan senyuman pada yeoja yang tengah mengandung itu.

~LIMIT~

Cahaya sang surya yang masuk melalui celah-celah jendela membuat Kris membuka matanya. Namja berparas bak pangeran itu berdiri dari tidurnya dengan perlahan-lahan. Takut mengganggu sang kekasih yang tampaknya masih setia dengan King bed tersebut. Kris berjalan memasuki kamar mandi, ia membasuh wajahnya dengan air dingin yang seakan langsung membangunkan jiwanya sepenuhnya. Kris memandang pantulan wajahnya dari cermin besar yang ada didepannya.

Uhuk!

Namja yang memiliki surai emas itu menatap nanar sebuah percikan cairan berwarna merah yang terlihat di tangannya. Kris langsung menyalakan keran wastafel tersebut dan membersikan percikan cairan itu.

Uhuk! Uhuk!

Lagi. Belum sempat Kris menutup keran tersebut, dadanya kembali terasa sakit sehingga membuatnya harus mengeluarkan sesuatu yang menganggu disana. Cairan merah itu terlihat lebih banyak, tangan yang mulai mengurus itu tampak bergetar. Memang hal seperti ini tidak terjadi pertama kalinya tapi, justru itu yang membuat Kris benci dan sedih terhadap dirinya sendiri. Namja itu mengusap tangannya pada bibirnya yang dirasanya masih terdapat cairan merah itu disana.

Cklek!

Mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka dengan cepat Kris membersihkan bekas cairan merah tersebut dari tangan dan bibirnya. Tak lama sebuah tangan melingkar di pinggangnya.

"Gege, kau sudah bangun?"

Ya, sosok itu Tao, kekasihnya.

Kris berakting seakan tidak ada apa-apa yang terjadi. Ia tertawa.

"Menurut mu, baby? Apakah aku berjalan ke kamar mandi dengan mata terpejam?"

Tao cemberut, ia menumpukan dagunya di bahu Kris.

" Bukan seperti itu, Ge. Aneh saja kau bangun lebih dulu dibandingkan aku"

Kris mengibas-ngibaskan tangannya dan berbalik menghadap sang kekasih yang daritadi membelakanginya.

"Gege, hanya tidak bisa tidur."

Kening Tao berkerut. Namja panda itu meraba dahi kekasihnya.

"Kau sedang tidak demam, ge. Mengapa kau tidak bisa tidur?"

Kris menangkupkan wajah Tao. Memandang mata kecil kekasihnya itu.

"Hanya kelelahan." Singkat Kris menjawab pertanyaan Tao.

Tao sangat peka terhadap segala hal yang terjadi dengan Kris. Mata itu, mata Kris menyiratkan sesuatu yang meresahkan batin kekasihnya itun

"What's wrong, ge?"

Kris menatap mata itu semakin dalam, memperpendek jarak antara dirinya dan kekasihnya. Menyatukan kedua dahi mereka. Bisa dirasakan oleh Tao setiap hembusan nafas Kris. Kris semakin mendekat, hanya beberapa centi lagi bibir milik Kris akan mengecup bibir kucing kekasihnya. Saat jarak benar-benar sudah dekat, Kris berhenti dan mengalihkan pandangannya menunduk. Sementara Tao hanya terheran-heran.

"Maafkan gege, Tao"

Itulah ucapan terakhir Kris sebelum ia pergi begitu saja meninggalkan Tao yang kini berdiri dengan tubuh yang bergetar menahan tangis.

~LIMIT~

Pagi ini, Lay memutuskan untuk kembali kerumahnya setelah semalaman mengadakan pesta kecil-kecilan untuk anaknya. Dengan langkah mantap Lay masuk kedalam rumahnya dengan wajah bahagia. Tetapi senyum bahagia hilang begitu saja saat ia sudah sampai didalam rumahnya namun, seorang wanita dengan perut yang membesar berdiri menyemprot bonsainya yang berada dimeja pojok ruangan televisi.

"Yoona?"

~LIMIT~

Lay bukanlah tipe namja yang akan langsung menyerang seseorang yang mendekati suaminya, terlebih jika lawannya itu adalah seorang yeoja. Dengan kepala dingin dan hati yang kuat, Lay mencoba bersabar. Mencoba meminta penjelasan dari ang suami dengan menarik Suho yang tiba-tiba datang dan terkejut melihat kehadiran Lay.

Setelah mencoba untuk tidak melakukan hal yang macam-macam didepan seorang wanita, Lay berhasil membawa suaminya kedalam kamar mereka berdua.

"Kau sama sekali tidak ingin memberikan penjelasan?" Tanya Lay dengan nada bicara yang dingin.

"Lay, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Dia-dia datang begitu saja kemarin dan bisa kau lihat sendiri. Dia hamil, Lay" jawab Suho.

Lay menatap Suho dengan nanar, ia tertawa kecil. Seakan tidak percaya dengan perkataan suaminya barusan.

"Lalu? Apa urusannya denganmu, Kim Junmyeon?"

Jeda.

"Saat kau membawa wanita itu. Apakah kau pikir bagaimana perasaanku?"

Lay kembali memberi jeda.

"Kau malah berpikir bagaimana nasib wanita itu? Oh God, disini mana yang menjadi istrimu sebenarnya? Aku atau dia, Junmyeon?!"

Setelah mencoba menahan emosi, tampaknya Lay tidak berhasil. Diakhir kalimat ia harus berteriak seakan melampiaskan kekecewaannya dan diselingi air mata yang menetes perlahan. Suho bungkam, ia benar-benar tidak bisa mengatakan apa-apa.

Diluar kamar Yoona berdiri menatap dan mendengar pertengkaran sepasang suami istri itu. Yoona tidak bahagia, ia turut merasa bersalah. Disudut matanya, air mata sudah menggenang. Yoona mengelus perutnya yang membuncit itu dengan lembut.

"Kau mengusir anakmu yang sakit dari rumah ini karena kau takut netizen akan mengetahui kebenaran tentang penyakit Kris-"

"Tapi kau tidak takut membawa seorang wanita tanpa sepengetahuan anak dan istrimu. Terlebih wanita itu tengah mengandung, Suho!"

Mendengar penuturan Lay didalam kamar Yoona semakin kaget. Suho mengusir anak kandungnya sendiri karena penyakit? Sebuah kebenaran yang baru Yoona ketahui.

Setelah sekian lama diam, Suho mencoba membuka suara.

"Lay, lelaki mana yang tega membiarkan seorang wanita ditengah hujan deras datang kepadanya dan menangis. Kau harus mengerti akan hal itu, Lay. Jebal,"

Lay tidak habis pikir dengan pikiran suaminya.

"Aku tidak mempermasalahkan wanita itu kau bawa kerumah ini, yang aku permasalahkan. Kau membawa dia tanpa persetujuan aku dan Kris."

Suho mencoba mendekat guna menenangkan istri namun, baru selangkah saja Lay langsung menjauh. Enggan disentuh atau didekati suaminya yang menurutnya sudah melukainya. Lay berjalan menuju lemari putih besar miliknya. Dikeluarkannya sebuah koper berwarna coklat dan membukanya. Suho panik dan bingung saat ia tau apa yang akan dilakukan istrinya itu.

"Lay, apa yang akan kau lakukan? Kita bisa membicarakan ini baik-baik."

"Baik-baik kau bilang? Kau sama sekali tidak mau mengerti, Suho. Kurasa tidak ada yang bisa kita bicarakan baik-baik"

Lay kembali melanjutkan kegiatannya memasukan beberapa potong bajunya kedalam koper tersebut. Sedangkan apa yang dilakukan Suho? Namja itu hanya diam berdiri membeku.

Selesai dengan kegiatannya, Lay langsung menarik koper tersebut. Tinggal selangkah lagi ia keluar dari kamar itu, Suho memanggilnya.

"Lay. Aku-aku tidak mencintai Yoona lagi."

Yoona yang masih berdiri didepan pintu kamar itu entah mengapa merasa kecewa mendengar penuturan Suho namun, ia sadar bahwa dia bukan siapa-siapa.

Sementara, Lay yang berdiri membelakangi Suho sama sekali tidak berniat membalikan badan.

"Buktikan perkataanmu itu, Suho. Karena aku tidak akan mungkin dengan mudahnya percaya." tukas Lay sebelum meninggalkan Suho.

Setelah sampai diluar kamar, Lay bertemu dengan Yoona yang berdiri menatapnya nanar.

"Permisi." Singkat Lay lalu berlalu.

~LIMIT~

Baekhyun yang tengah sibuk didapur langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Kris keluar dari kamarnya dan Tao.

"Sudah bangun, Kris? Tao masih terlelap?" Cicit Baekhyun.

Kris berjalan kearah dapur, mengambil gelas dan mengisinya dengan air mineral lalu meneguknya perlahan.

"Sudah bangun. Lagi mencuci muka dikamar mandi." Jawab Kris.

Setelah selesai minum ia berjalan membawa gelasnya dan mencucinya. Aneh dimata Baekhyun.

"Biarkan saja, aku yang akan cuci."

Kris menggeleng.

"Mulutku sedang luka, tadi setelah menyikat gigi aku baru sadar gusiku berdarah. Aku tidak ingin membuatmu tertular, jadi lebih baik aku yang cuci."

Baekhyun menghela nafas.

"Baiklah."

Kris mengambil tisu dan mengeringkan gelasnya tadi dengan tisu yang ia ambil lalu menaruhnya jauh dari perabotan yang lain.

"Jangan satukan dengan gelas yang lain. Bilang juga pada semuanya jangan gunakan gelas itu. Aku akan memberikan papan nama disana nanti. Aku pergi dulu." Ujar Kris lalu pergi begitu saja.

Baekhyun menatap kepergian Kris dengan sedih.

"Kau tidak harusnya seperti itu, Kris" lirih Baekhyun dan kembali melanjutkan pekerjaannya membuat Sandwich untuk sarapan mereka.

Tak lama, Tao keluar dari kamar dengan mata yang sembab. Baekhyun langsung meninggalkan pekerjaannya dan berlari menghampiri Tao.

"Tao? Y-yak, ada apa denganmu? Kau menangis?" Tanya Baekhyun.

Tao tidak mampu menjawabnya, ia langsung menunduk dan memeluk Baekhyun .

"Hiks, hiks. Hyung," isak Tao.

Baekhyun sepertinya mengerti. Ada sesuatu yang salah diantara Tao dan Kris pagi ini. Melihat ekspresi wajah Kria tadi Baekhyun semakin yakin, ada sesuatu yang terjadi didalam kamar mereka tadi. Merasa, Tao masih belum memungkinkan untuk menjelaskan masalah mereka, Baekhyun hanya mampu menenangkan Tao. Mengelus lembut punggung sepupunya itu.

"Ssst, keluarkan Tao. Keluarkan semuanya yang menyesakan dadamu. Hyung akan menemanimu disini. It's okay, everything's alright. Hn?"

~LIMIT~

Lay melempar begitu saja kopernya kedalam mobil sport miliknya lalu ia duduk dibelakang kemudinya. Walaupun ia sudah menangis tadi didepan Suho, itu belum seberapa. Ia belum sepenuhnya mengeluarkan kekecewaan di hatinya. Lay menumpukan kepalanya di kemudinya dan menangis sekencang-kencangnya.

Lay meraih handphonenya. Mencari nomor kontak sang ibu.

"Lay?"

"Eomma, hiks, hiks.."

"Ya? Kau menangis, Nak? Waeyo? Ada sesuatu terjadi?"

Hening. Sang Ibu, Heechul hanya bisa mendengar suara anaknya menangis.

"Tenang, Nak. Tenangkan dulu dirimu setelah itu kau baru jelaskan pada eomma."

Setelah beberapa menit Lay bisa menenangkan dirinya, namja itu angkat bicara.

"Suho, eomma. Suho membawa wanita itu kerumah."

"Wanita? Nu-"

"YOONA?!"

"Hn, hiks, hiks.."

Terdengar nada kesal dari seberang sana. Dulu sebelum Lay menikah dengan Suho, Heechul memang awalnya tidak setuju. Menurutnya, seorang lelaki yang suka meniduri beberapa wanita adalah namja yang tidak akan bisa berubah. Tetapi melihat Lay yang tampaknya sangat menyayangi Suho, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Eomma, akan terbang ke Korea. Gidaryeo, ne."

~LIMIT~

Chanyeol keluar dari dalam cottage untuk menikmati pemandangan pantai yang berada dibelakang cottage milik keluarga Wu ini.

Dari jauh Chanyeol melihat Kris yang berdiri menatap kosong pantai. Angin cukup kencang, Chanyeol saja menggunakan jaket, bagaimana mungkin Kris hanya berdiri dengan kaos putih bergaya V neck seperti itu.

Chanyeol mendekat, berdiri disamping Kris. Chanyeol terkejut, Kris hanya diam saja membeku.

"Hyung," panggil Chanyeol.

"Hn?" Singkat Kris.

Chanyeol berdecih.

"Apa yang kau lakukan? Hanya berdiri begitu saja seperti patung."

Kris menghela nafas dan berkata, "Entahlah. Aku lelah, Chan."

Dengan cepat Chanyeol langsung menatap Kris aneh.

"Y-yak! Apa maksudmu, hyung?"

Kris diam dan tiba-tiba hendak berlalu begitu saja. Dengan cepat Chanyeol langsung, menarik lengan baju Kris.

"Jelaskan ada apa, hyung?"

Kris menepis kasar tangan Chanyeol yang mencegahnya namun, baru selangkah Kris ingin meninggalkan Chanyeol, kakinya goyah. Tiba-tiba ia kehilangan keseimbangannya begitu saja dan anehnya dia sempat beberapa detik tadi tidak merasakan kakinya. Dengan sigap Chanyeol langsung menangkap Kris.

"Hyung? Gwaenchana?" Tanya Chanyeol panik.

To Be Continue...

Hhhhaaaaiiiiiii! Ya ampun para readers, maafkan author yang tidak tau diri ini. Sudah berapa abad ya gak update? Haah, kali ini aku author kembali.. Maklum mahasiswi baru jadi masih sibuk.. ㅋㅋㅋ

Semoga para readers akan hilang kekecewaannya saat membaca ff ini yaa, maaf klo ada typo... byee readers... saranghae...

Maaf gak sempat balas comment.. :(