Limit?

By : cronos01

Cast : Kim Junmyeon/ Wu Junmyeon

Zhang Yixing/ Wu Yixing

Wu Yifan/ Kris

Huang Zitao

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Oh Sehun

Xi Luhan

Kim Jongdae

Kim Minseok

Genre : Romance, Angst, Friendship

Rate T+ karena kata-katanya sedikit kasar. :D

Warning : Yaoi, Typo's. Don't Like, Don't Read. Simple!

So, Enjoy it!

Chapter 11

Previously...

Sedikit bingung saat ia tidak mendengarkan jawaban dari Kris, saat ia melihat dengan langsung wajah kekasihnya ternyata namja berdarah Kanada itu tertidur. Tao tersenyun dan kembali mengeluskan kepala Kris dengan lembut sambil bernyanyi lirih.

Next...

Mobil sport berwarna hitam berhenti didepan restoran bergaya klasik milik Luhan. Dengan langkah cekatan sang pemilik mobil, Chanyeol masuk kedalam restoran. Sampai didepan pintu restoran, Chanyeol langsung disambut ramah oleh salah satu teman dan pelayan Luhan yang ia kenali.

"Hey, Chan!"

Chanyeol melepas kacamata hitamnya dan tersenyum kepada seorang yeoja yang menyapanya didalam cafe.

"Ah, Tiffany. Apa Luhan ada?"

Tiffany yeoja itu merengut dan menggeleng.

"Biasanya jam segini dia sudah ada disini tapi sekarang ia belum terlihat."

Chanyeol menghela nafas bingung.

"Kau sudah mencoba menghubunginya, Tif?"

"Ajik, karena biasanya saat Luhan ada keperluan Sehun akan datang. Jadi aku dan yang lainnya menunggu Sehun."

"Kau menunggu, Sehun?"

Tiffany mengangguk.

"Aku bahkan sedari pagi tadi menghubungi Sehun tapi tidak ada jawaban."

"Jinjja?"

Chanyeol mengangguk tak lama ponsel miliknya berbunyi menampilkan nama orang yang sedang dicarinya saat ini.

"Yak, Luhan! Aku menelponmu tapi kenapa tidak kau angkat?"

"Mianhae, Chan. Aku sedang di rumah sakit sekarang."

"MWO?!"

"Saat aku berbicara pada Sehun di kamarnya tiba-tiba saja Sehun mengeluh pusing dan tak lama pingsan. Jebal, temani aku disini, Chan. Aku takut terjadi sesuatu dengan Sehun."

"Tenanglah, semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku akan segera menyusulmu."

Chanyeol pun langsung memutuskan begitu saja sambungan telpon mereka. Tiffany yang masih berdiri disamping Chanyeol memasang wajah bingung, mencari penjelasan dari Chanyeol. Belum sempat Tiffany mengetahui apa yang terjadi, Chanyeol sudah pergi begitu saja.

"Yak, Chanyeol! Park Chanyeol! Aish, main pergi saja dia." Gerutu Tiffany.

~LIMIT~

Chanyeol berlari di sepanjang koridor rumah sakit, membuat beberapa keluarga dan suster kebingungan melihatnya. Hingga dari kejauhan Chanyeol melihat Luhan yang sedang berbicara dengan seorang suster.

"Luhan,"

"Chanyeol,"

Dengan nafas yang terengah-engah Chanyeol menatap suster yang berada di hadapannya.

"Bagaimana keadaan Sehun, ganhosa?"

"Bisa, ikut saya keruangan Park uisa?"

Chanyeol menatap Luhan, memberi isyarat izinkan ia untuk menghadap sang dokter. Luhan mengangguk dan tersenyum.

"Nde, ganhosa"

Tak lama Chanyeol pun telah sampai di ruangan Park uisa. Chanyeol membungkuk kepada uisa itu dan sang uisa membalasnya serta mempersilahkan Chanyeol duduk.

"Bagaimana keadaan Sehun, uisa?"

"Gwaenchana, ia pingsan karena begitu banyak alkohol yang ia konsumsi. Tidak perlu khawatir."

Mendengar penjelasan sang dokter, Chanyeol menghela nafas lega.

"Tapi-"

Tubuh Chanyeol yang sempat tidak menegang kini mulai menegang lagi.

"Tapi-tapi apa, uisa?"

"Apa Sehun pernah mengkonsumsi obat penenang?" Tanya uisa.

Kedua bola mata Chanyeol melebar dan bibirnya terasa kaku untuk menjawab.

"Mo-mollaseo, uisa."

Dokter yang usia belum terlalu tua itu terlihat menghela nafas dan melepas kacamatanya.

"Beruntung dia belum dalam kondisi yang sangat ketergantungan. Hanya saja, harus dihentikan."

"Nde, akan saya awasi dia, uisa." Jawab Chanyeol dengan pandangan yang kosong.

~LIMIT~

Luhan menatap sendu kekasihnya yang kini telah sadar. Seakan tidak ada apa-apa yang terjadi, justru namja bermarga Oh itu tersenyum.

"Sungguh tidak lucu, Sehun!"

Sehun mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi kekasihnya yang terdapat jejak air mata.

"Berhenti untuk terus menangis seperti itu, Hannie."

Mendengar perkataan Sehun, bukannya menurut Luhan justru menumpas kasar tangan kekasihnya yang mengusap pipinya.

"Ini semua tidak lucu, Sehun!" Teriak Luhan.

Ini semua terasa sulit bagi Luhan. Tidak pernah sekalipun ia melihat Sehun dalam keadaan selemah ini. Luhan tau kekasihnya menyimpan dan mencoba untuk terlihat baik-baik saja selama ini. Keluarga yang tidak pernah memperhatikan Sehun membuat Sehun semakin tegar dan belajar menerima setiap masalah sendiri. Tetapi, manusia bisa mencapai titik jenuh mereka dan saat inilah. Saat inilah Sehun menjadi sangat lemah dan mencoba menelan pahit sendiri masalah-masalah yang kembali bertambah.

Sehun menghela nafas, menyesal telah membuat kekasihnya menangis terpuruk seperti itu dihadapannya. Dengan gerakan lemah dan pelan Sehun kembali menggenggam tangan kekasihnya. Seolah menyalurkan kekuatan kepada kekasihnya dan meyakinkan kekasihnya yang berdarah Cina itu bahwa, ia sudah baik-baik saja.

"Xi Luhan, tatap mataku."

Masih dengan air mata yang menggenang dan wajah yang kesal, Luhan menatap Sehun.

"Aku benar-benar tidak apa-apa. Maafkan aku yang membuatmu khawatir dan kacau seperti ini."

Tidak bisa merespon apapun, Luhan menunduk memandang lantai kamar inap itu. Tak lama terdengar suara pintu yang diketuk. Setelah terbuka, terlihatlah Chanyeol yang tengah berdiri didepan sana disertai tatapan mata yang kosong juga datar.

"Bisa aku bicara sebentar dengan Sehun, Luhan?"

Luhan menatap Sehun dan Kekasihnya itu pun memberikannya senyuman.

"Nan jinjja gwaenchana," kata Sehun.

Luhan pun balik menatap Chanyeol dan memberi anggukan. Chanyeol pun masuk kedalam kamar dan duduk di kursi yang tadi di tempati Luhan. Setelah Chanyeol duduk, ia menoleh kebelakang. Disana Luhan masih berdiri dan Chanyeol rasa apa yang harus diperbincangkannya dengan Sehun merupakan sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh Luhan. Chanyeol pun menatap Luhan dan mengerti dengan maksud tatapan Chanyeol, Sehun angkat bicara.

"Hannie, tinggalkan aku dan Chanyeol hyung sebentar, ne?"

Tatapan curiga ia jatuhkan pada Chanyeol. Luhan bahkan bisa merasakan sesuatu yang sangat genting dari mata Chanyeol.

"Hanya masalah kecil antara aku dengan Sehun, kau tidak perlu khawatir." Ujar Chanyeol.

Dengan berat hati pun akhirnya Luhan pergi keluar dari ruangan itu.

Kini hanya tersisa Chanyeol dan Sehun. Sehun memainkan jarinya gugup, ia tau ada sesuatu yang baru Chanyeol dengarkan dari dokter yang memeriksanya.

"Bisa kau jelaskan semuanya, Oh Sehun?" Tanya Chanyeol dingin dan datar.

Sehun dengan keberaniannya mencoba untuk mengangkat wajahnya menatap Chanyeol.

"Hyung-"

"Sudah berapa kali kukatakan untuk jangan mempersulit posisiku, Sehun." Ujar Chanyeol tajam.

"Karena aku juga tidak pernah mempersulitmu!" Lanjut Chanyeol berteriak.

Mata Sehun mulai berair, ini pertama kalinya Chanyeol membentaknya.

"Hyung," lirih Sehun.

Chanyeol berdiri dari duduknya, ia mondar-mandir sambil sesekali memijat pelipisnya yang sakit.

"Jalani saja semua ini, Sehun. Aku mohon padamu, kau hanya perlu ikhlas dan menjalani kehidupan baru." Ucap Chanyeol pelan.

"Jangan menekan ku seperti ini." Lanjut Chanyeol.

Chanyeol menatap Sehun lembut, ia tau sahabat yang sudah dia anggap sahabat ini menyesal dengan perbuatan bodohnya. Chanyeol berjalan menghampiri Sehun.

"Jangan pernah mengkonsumsi obat itu lagi,"

Sehun menatap Chanyeol lembut.

"Eoh?" Tanya Chanyeol lagi karena ia belum mendapatkan jawaban.

"Nde, hyung." Lirih Sehun.

~LIMIT~

Dilain tempat Kris kini tengah berjalan atau lebih tepatnya berlari mungkin. Ia mencari-cari keberadaan kedua sahabatnya. Memeriksa kelas demi kelas yang ada di lantai 5 sambil sesekali berhenti untuk bertanya pada mahasiswa-mahasiswa yang tengah berkumpul di koridor. Setelah cukup lama dan mulai lelah mencari, Kris menyerah ia menjatuhkan tubuhnya begitu saja pada kursi kosong yang tersedia di koridor. Mencoba menetralkan nafasnya yang berderu cepat sambil memejamkan matanya untuk menetralisir rasa pusing yang datang tiba-tiba.

"gege,"

Sebuah suara yang sangat familiar terdengar ditelinga Kris. Kris membuka matanya dan tersenyum melihat seseorang yang sangat dicintainya. Kris menepuk kursi disebelahnya seakan memberi kode sang kekasih untuk duduk disampingnya. Tao paham dengan senyuman lemah Kris, ia membuka tas ranselnya lalu mengeluarkan sebotol air mineral dan ia berikan pada kekasihnya.

Kris tersenyum dan menerima botol itu bersamaan dengan jam tangan putih milik Kris dan Tao berbunyi. Ya, mereka memang sama-sama membuat pengingat untuk waktu Kris minum obat.

"Ah, ge. Kenapa diam saja? Kau tidak membawa obat mu?"

Ya, Kris mendengar alarm itu namun, Kris mencoba masa bodoh saja tidak seperti biasanya, ia akan langsung bergegas mencari botol-botol obatnya. Setelah tersadar dari lamunannya Kris menggeleng dan tersenyum pada Tao. Di rogohnya kantung jaket kulit berwarna hitam yang kini ia gunakan dan sekarang ditangannya sudah ada sebotol obatnya.

"Dua botol yang lainnya sudah gege minum tadi." cicit Kris setelah menutup tabung obatnya dan menegak dua pil obat yang sama.

"Jinjja? Baguslah kalau gege bisa mulai meminum obat tanpa alarm pengingat." jawab Tao.

Kris tersenyum mengangguk disusul bunyi dering telepon Tao. Tao memalingkan pandangannya pada ponselnya yang kini menampilkan nama kontak yang menelponnya.

"Baekhyun hyung?" Ujar Tao pada Kris.

"Angkat saja," kata Kris selanjutnya.

Tao pun menjawab telpon tersebut.

"Nde, hyung. Kau kemana saja? Kenapa tidak terlihat di kampus?"

"Mwo? Kau sedang studi lapangan? Kenapa mendadak sekali?"

Tao memandang kearah Kris karena kaget dengan berita yang Baekhyun berikan, Kris hanya bisa mengangkat bahunya pertanda ia juga tidak tau apapun.

"2 hari? Lalu kau baru kembali besok?"

Tao nelambangkan jarinya seperti angka 2 didepan Kris, kedua kening Kris pun bertaut. Tanpa suara namun seakan sebuah isyarat, Kris mengulang pernyataan Tao.

"Dua? Dua hari?"

Tao mengangguk dan menggigit kecil bibir bawahnya.

"Chanyeol hyung juga bersama mu kan, hyung?"

"Apa? Sehun dan Luhan Gege juga bersama kalian?"

Kris langsung menegakan tubuhnya yang tadinya bersandar pada dinding putih dibelakangnya ketika nama Sehun terucap dari bibir kekasihnya.

"Kalian studi lapangan atau piknik, hyung? Kenapa bisa bersama-sama seperti ini?!"

Tao menghela nafas mendengar jawaban sepupunya diseberang sana.

"Yasudah, hati-hati ya, Baekhyun hyung."

Dan perbincangan pun berakhir.

"Baby, sepertinya selama 2 hari ini kita menghabiskan waktu berdua saja tanpa gangguan dari mereka." Tutur Kris sambil menjatuhkan tatapan menggodanya.

"Yak! Gege!" Teriak Tao malu.

~LIMIT~

Ditengah tumpukan berkas yang menggunung, Suho justru memandang kosong setumpuk berkas-berkas itu. Pikirannya terus melayang, mengingat perkata istrinya tadi pagi.

FLASHBACK ON

"Suho,"

Suho menghentikan langkahnya tepat didepan pintu rumah saat mendengar suara istrinya pertama kali pagi ini.

"Aku tau kau masih mencintai Yoona."

Wajah Suho yang awalnya tenang kini berubah.

"Aku-"

"Putuskan saja. Aku tidak ingin dijadikan yang kedua. Kau bisa hidup bahagia dengan Yoona sedangkan aku, akan hidup bahagia bersama Kris." Ujar Lay tegas dan terlihat sangat serius.

"Lay, aku tidak ingin kita seperti ini. Kau hanya emosi,"

"Harusnya aku yang mengatakan itu, Suho. Aku tidak ingin kau hidup denganku tapi hati dan pikiranmu pada wanita lain."

Suho menggeleng menatap Lay seakan memohon untuk mengerti.

"Aku mencintaimu juga, Lay."

Lay tertawa.

"Juga? Itu artinya kau mencintai dua wanita, Suho."

Suho tidak sadar akan hal itu.

FLASHBACK OFF

Suho mengusap wajahnya kasar. Menyesal.

"Abeoji,"

Suara anaknya yang sudah cukup lama tidak ia dengar itu terngiang di telinya. Tidak hanya terngiang, sosok itu kini berdiri didepannya. Suho memasang wajah keras.

Kris membungkukan badannya memberi hormat.

"Mau apa kau kesini?" Tanya Suho.

"Apa abeoji dan eomma bertengkar?" Tanya Kris hati-hati.

Suho terlihat kaget. Berusaha mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan keadaan anak tunggalnya itu.

"Kau sudah baik-baik saja?"

Bukannya menjawab, Kris justru kembali mengembalikan pembicaraan.

"Eomma menelpon ku dan menangis. Bukankah eomma tidak pernah menangis kecuali ia dikecewakan?"

Suho menghela nafas. Ia pura-pura sibuk dengan berkas-berkasnya tak berniat menatap mata Kris.

"Biar abeoji dan eomma mu yang menyelesaikannya. Bukankah kau tidak boleh terlalu banyak berpikir. Urus saja penyakit mu itu." Tukas Suho.

Sekali lagi ah, bukan, kesekian kalinya Kris mendengarkan ucapan ayahnya yang seakan ia hanyalah sebuah kuman yang tidak pantas ada dihadapannya. Kris menelan salivanya.

Selintas Suho ingat dengan salah satu rumah sakit ternama di Korea Selatan yang terdengar cukup ahli mengobati HIV/AIDS. Suho membuka laci kecil mejanya dan mengambil sebuah kartu nama yang lalu ia sodorkan untuk anaknya itu.

"Kunjungilah rumah sakit itu. Abeoji dengar disana memiliki serangkaian pengobatan yang baik." Tutur Suho tenang.

Kris menatap kartu nama itu nanar. Berbagai macam perasaan bergemuruh di dalam dadanya. Dalam pikirannya, ayahnya memperhatikannya dan khawatir padanya.

"Bukan karena abeoji perhatian atau apapun itu, perusahaan ini-harus segera mencari wakil pemimpin. Kita tidak bisa terus-menerus mempercayai orang luar." Tukas Suho seakan bisa membaca pikiran Kris.

"Nde, abeoji." Jawab Kris lirih menggenggam kartu nama itu erat.

~LIMIT~

Kris membuka pintu mobilnya didalam sang kekasih terlihat begitu antusias melihat kembalinya Kris.

"Gimana? Abeoji baik-baik saja kan? dia sehat kan, Ge?" Tanya Tao.

Kris tersenyum, seakan tidak ada hal keruh apapun yang terjadi.

"Hn, abeoji sangat sehat tapi dia terlihat sangat sibuk, baby. Berkas menumpuk," tutur Kris sambil memasang ekspresi mengerikan.

Tao menghela nafas tertawa.

"Ya, memang seperti itu, ge. Nanti kalau gege memimpin pun akan seperti itu." Jelas Tao.

"Kau ingin gege memimpin?" Tanya Kris kaget.

Tao mengangguk, "Itu adalah kewajiban mu sebagai anak, Ge. Menggantikan orang tua mu jika mereka tidak mampu lagi."

Kris menatap kekasihnya kagum. Ia melayangkan tangannya mengusap lembut pipi halus kekasihnya itu.

"Gege pasti bisa, Tao yakin." Tutur Tao lagi.

Kris tersenyum menatap Tao dan menarik kepala namja itu lalu mencium dahi kekasihnya.

~LIMIT~

Sehun membuka matanya saat ia mendengar pintu rawatnya di geser. Sosok yang sudah selama 2 minggu ini tidak ditemuinya hadir didepannya. Menjenguknya.

"Eomma?"

Wanita yang melahirkannya itu tersenyum mendekat ke ranjang Sehun. Kulit tangannya yang mulai terlihat sedikit berkerut itu menghelus rambut Sehun lembut.

"Maafkan eomma baru bisa datang untuk menjenguk,"

Sehun menggeleng, "gwaenchanayo, eomma." Ia mengelus tangan ibunya itu.

"Appa mu masih harus ada urusan di Taiwan, ia titip salam saja dan menitipkan ini pada eomma."

Sebuah kotak putih persegi panjang disodorkan pada Sehun dan ia pun menerimanya. Ia buka kotak tersebut, didalamnya terdapat sebuah dasi berwarna biru tua.

"Dia tidak pernah melihatmu menggunakan kemeja berdasi, karena itu ia memberimu dasi." Tutur ibunya.

Sehun tersenyum dan memandang ibunya. Sang ibu mengelus lembut surai Sehun. Setelah cukup lama bercerita, Sehun terlihat mengantuk. Sang ibu menarik selimut Sehun dan menaikannya sampai dada.

"Sudah malam, jelas kamu mengantuk." ujar Sang ibu.

"Hn," jawab Sehun mengangguk.

Sehun terlihat belum berniat memejamkan matanya, ia justru menatap intens wajah ibunya. Sehun sangat bersyukur ternyata ibunya masih menyayanginya. Sehun meraih tangan ibunya dan menggenggam erat tangan itu seakan tidak ingin melepaskannya.

"Arra, eomma akan menemanimu." ujar sang ibu mengerti dengan maksud genggaman itu.

Sehun membetulkan selimutnya dan berusaha berbaring dengan nyaman.

"Jaljayo, eomma." Lirih Sehun yang mulai terlihat sedikit terpejam.

Sang ibu tertawa melihat raut wajah Sehun yang terlihat menahan kantuk. Ibunya mengelus tangan Sehun dan mencium tangan anaknya.

"Jaljayo, nae adeul." Jawab Sang ibu.

~LIMIT~

Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, Kris dan Tao akhirnya sampai di apartemen milik Kris.

Kris menghela nafas lelah lalu membuka jaket miliknya dan berkata, "Tidurlah, baby." Singkatnya lalu masuk kedalam kamar meninggalkan Tao sendiri di ruang tengah.

"Gege?" Panggil Tao.

Kris menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Tao.

"Aku harus tidur dimana?" Tanya Tao.

Kris menghela nafas kembali, memejamkan matanya dan menjawab, "Maaf, Tao. Kita tidak bisa tidur bersama malam ini. Gege lelah sekali, perlu kasur yang luas untuk menghilangkan lelah ini."

Tao menatap kekasihnya nanar lalu ia membawa langkahnya pada Kris. Ia mengecup dahi Kris dan memeluk kekasihnya itu sambil berbisik, "Yasudah, istirahatlah, Ge. Saranghae."

Kris mengangguk dalam pelukan itu dan berlirih, "Ne. Gomawo, baby."

Dan Kris pun menghilang dibalik pintu kamar. Tao menghembuskan nafasnya pelan lalu membawa langkah masuk kedalam kamarnya.

~LIMIT~

Tao tampak terus membolak-balikan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Malam ini entah mengapa ia sulit sekali tertidur. Hujan turun sangat deras, membuat suasana sangat dingin hingga ia tidak bisa tertidur. Sebenarnya bukan hanya kedinginan ia juga memikirkan Kris.

Sejak kembalinya Kris dari ruang ayahnya, ia terlihat begitu lusuh. Sorot mata kekasihnya itu meredup meskipun Kris tetap berusaha tersenyum dan menyembunyikannya. Begitupula dengan tatapan yang Kris berikan sebelun tidur tadi. Tao kembali menghela nafas lelah memikirkan hal itu, ia melirik jam digital putih diatas nakas. Waktu menunjukan pukul 1 pagi. Tao memukul kepalanya pelan.

"Aish, yak Zitao! Bagaimana mungkin kau begadang hingga semalam ini, eoh?" Tanya nya pada dirinya sendiri.

Ia menurunkan kakinya ke lantai kamar. Lantai itu terasa sangat dingin hingga Tao mengangkat kembali kakinya dan dengan hati-hati memakai sandalnya. Diraihnya hoddie hitam miliknya dan ia kenakan. Pintu kamar pun terbuka, ia berjalan hati-hati untuk mencari saklar lampu. Setelah lampu menyala, Tao berjalan menuju dapur untuk membuat secangkir coklat panas.

Setelah cukup lama membuat dan menghabiskan coklat panasnya sendiri, Tao berjalan kembali kearah kamarnya namun, saat ia melewati kamar Kris, entah mengapa ia ingin sekali masuk kedalam sana. Hanya ingin memastikan kekasihnya itu tertidur.

Tao pun membuka pintu kamar itu, diatas tempat tidur berukuran besar itu ada Kris yang tertidur menghadap ke pintu yang menyambungkan kamar itu ke ruang kerja Kris. Tao menutup pintu itu pelan dan berjalan hati-hati mendekati kekasihnya. Tampak Kris yabg tertidur namun, kening namja Kanada itu berkerut seperti menahan sakit. Dengan cepat Tao langsung mendekati Kris dan menggenggam tangan Kris.

"Ge?"

Tiba-tiba terdengar rancauan dari Kris.

"Abeoji, mianhae. Mianhae," lirih Kris diantara nafasnya yang memberu.

Tao yang mendengar rancauan itu langsung menatap Kris prihatin.

"Ada apa denganmu, Ge?" Tanya Tao lirih.

Tangan Kris yang digenggam Tao bergerak gelisah dan malah mengeratkan genggaman itu pada Tao. Tao menatap tangannya yang dicengkaram sangat erat, erangan tertahan dari Kris didengarnya.

Tao menghela nafas lelah dan kembali berucap pada Kris yang sama sekali tidak akan menjawab ucapannya.

"Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu sendiri disini, ge?"

"Aku akan tidur disini menemanimu, ge. Tidurlah yang tenang, ge."

Namja panda itu mengusap dahi Kris yang berkeringat dan mengecup dahi itu.

~LIMIT~

Tao yang sedang bergulung didalam selimut putih milik Kris terusik saat cahaya matahari mengganggu tidurnya.

"Good morning, baby."

Tao hanya berdehem dan kembali menarik selimutnya hingga kepalanya namun tiba-tiba Tao tersadar. Ia membuka matanya dan langsung merubah posisinya terduduk. Akibatnya, ia merintih karena pinggulnya terasa nyeri.

"Jangan bergerak tiba-tiba seperti itu, baby." Kata Kris sambil berjalan menghampiri Tao lalu naik keatas tempat tidur dan mengurut pinggul kekasihnya.

Tao menatap intens Kris yang jaraknya sangat pendek darinya.

"Wae?" Tanya Kris karena kekasihnya itu terus menatapnya.

Tangan Tao menyentuh dahi Kris dan turun menuju pipi Kris.

"Gege, gwaenchana?"

Kedua kening Kris berkerut mendengar pertanyaan kekasihnya.

"Tentu, baby. Wae?"

Tao menghembuskan nafas lega dan kembali menatap Kris.

"Gege demam tadi malam,"

Air muka Kris berubah.

"Ah, gege memang setiap malam selalu demam, baby. Gwaenchana,"

"Tapi tidak begini, ge." Sanggah Tao.

Kris mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

"Ge, dimana sebenarnya rasa sakit yang gege rasakan, eoh?" Tanya Tao tenang, awalnya.

Hingga Tao kembali mendesak Kris.

"Kenapa terus merasakan sakit setiap malam, ge?! Buat apa semua obat-obat itu?" Tanya Tao dengan suara yang mulai meninggi dan air mata pun terjatuh.

Kris tersenyum, seakan berusaha meyakinkan kekasihnya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Baby, dengarkan gege." Bisik Kris sambil memeluk Tao.

Sebelum berbicara, Kris menghela nafas lelah.

"Semua, ada prosesnya. Kita sudah berusaha, gege sudah berusaha. Tidak terjadi apapun, gege akan berusaha untuk bisa terus hidup bersamamu, disampingmu dan memelukmu erat seperti ini."

Tangisan Tao perlahan-lahan mengecil.

Kris mengelus punggung kekasihnya itu lembut hingga Tao tenang.

"Jadi kau tidur di kamar gege karena hal ini?" Tanya Kris.

Tao langsung melepas pelukannya.

"Tentu saja lah,ge!" Bentak Tao lalu kembali merengut manja.

Kris menghela nafas dan tertawa.

"Bukan karena hantu yang kau lihat di kamar sebelah?"

"Yak! Gege!"

Tbc...

Haaiii... mianhaee, baru muncul lagi... ini ada sedikit update dr aku, mudahan kalian seneng ya, maaf belum bisa balas commant lg... byee..

Saranghae,