"Awas!" pemuda pirang itu mencoba menghentikan tindakan anjingnya, tapi sepertinya terlambat. Langkahnya kurang cepat, sehingga tanpa menunggu lama lagi-

"Huwaaa!"

"Guk!"

Brukk!

Kuro langsung saja menerjang sang gadis kecil, membuat gadis itu tersungkur jatuh dengan wajah dan tubuhnya yang menempel pada jalan,

"Guk! Guk!" Sluurrpp~ dengan senangnya Kuro menjilati gadis kecil itu, ekornya bergoyang riang, tapi lain halnya dengan sang gadis kecil-

"Huwaa menjauh!" Ia malah berteriak histeris.

[...]

Naruto semakin mempercepat langkahnya, 'Gawat! Kuro kau benar-benar membuat majikanmu ini kerepotan!' batinnya kecil.

[...]

Benarkah kau akan kerepotan, kalau sampai akhirnya kau tahu siapa gadis yang sebenarnya tengah di terjang oleh Kuro~


Vampire-chan! I Will Get You!

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, A Little bit Humor, Fantasy, Friendship

Pair : Naru x Hina(RTN)

Warning : Typo, OOC luar biasa, plus rada-rada gaje hihi~

Sequel 'Vampire-chan! Please Love Me?!'

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Enjoy~

OooOOoOoOoOoOoO


Chapter 2 : Like Him?


Kembali pada Hinata~


Merasakan sebuah lidah menjilati wajahnya, sontak saja membuat Hinata tersadar dari jatuhnya. Apa yang terjadi?!

"Guk! Guk!" Slurrp~

"Su..ara ini jangan bilang!" Ia langsung mencoba bangkit saat dirasa tubuhya seperti di timpa benda berat, mencoba untuk tidak berkeringat. Gadis ini segera mengadahkan wajahnya, menatap takut-takut pada apa yang menimpanya saat ini-

Sampai-

"Guk!"

"Astaga! Huwaaa jangan mendekat!" Ya, perkiraannya benar. Seekor anjing yang sempat ia lihat tadi kini tengah berada di atasnya, dengan ekornya yang bergoyang-goyang, terlihat manis di mata orang-orang tapi tidak dengannya!

"Guk!"

"Hush, Hushh! Pergi! Huwaa aku tidak suka anjing!" tangan mungilnya mencoba menjauhkan hewan itu darinya. Kepalanya jadi tambah pusing, dan bukannya pergi. Anjing itu malah seperti suka dengannya, menjilati wajahnya, serta tak lupa mengeluarkan suara kerasnya.

"Kemana pemilikmu tadi! Pergi!" masih dengan posisi tersungkur tak bertenaga, Hinata mencoba mencari pemilik anjing ini. Sampai-

'Kami-sama tolong aku!'

"Kuro! Kesini kau dasar anjing nakal!" maniknya samar-samar melihat seorang pemuda berambut pirang perlahan menghampirinya,

'Oh, thanks Kami-sama, kau mengabulkan keinginanku!'

"Menjauh dariku, anjing nakal!" berdoa sambil sesekali tangannya terus mendorong wajah anjing yang entah kenapa seperti ingin sekali menjilat pipinya lagi. Berharap kalau pemilik anjing itu bisa berlari lebih cepat!

"Kuro!"

"Cepat jauhkan anjingmu ini dariku!" seru Hinata kesal, saat melihat pemuda berambut pirang yang tadi sepertinya pernah ia temui. Pemuda itu terlihat panik, dan cepat-cepat menarik ikat di leher anjingnya menjauh.

"Guk!" Seolah tidak mau pergi dari Hinata, tarikan anjing itu makin keras, membuat sang empunya kewalahan.

"Kuro! Jangan menyerang adik kecil di depanmu ini!"

"Guk! Guk!"

Bergidik ngeri saat di lihat anjing bertubuh lebih besar darinya itu, semakin mendekat lagi, tanpa basa-basi Hinata bangkit dari posisinya tadi meski sedikit susah, dan-

"Huwaa, menjauh!"

Berlari menuju ke belakang punggung pemuda pirang di depannya, mencoba berlindung dari serangan hewan yang paling ia benci itu. Mau bagaimana lagi, meski ia sebenarnya tidak mau, daripada berlari pergi dan di kejar anjing ini, lebih baik dia berlindung saja.

"Guk!" anjing hitam itu malah mencoba memutar mengikuti Hinata, entah apa yang menyebabkan gadis ini begitu di sukai.

"Kuro!" Ya, Naruto masih terus ikut-ikutan sibuk dan melindungi adik kecil di belakangnya.

"Hush, hush! Niisan, suruh anjingmu pergi!" kalau kalian bertanya kenapa dia begitu trauma dengan hewan imut ini, sebenarnya bukan hanya karena dirinya ini tidak di sukai sejak awal. Tapi saat kecil, Hinata yang tidak tahu apa-apa pernah mendekati anjing yang tak sengaja lewat di sampingnya. Tanpa menyadari geraman anjing itu, dia malah hendak mengelus kepalanya. Dan hal yang terjadi selanjutnya adalah-

Dirinya sukses digigit anjing, tepat di tangan kanannya. Membuat Hinata kecil menangis sakit, dan kakak sepupunya aka Neji Hyuga langsung saja membunuh anjing itu dengan cepat.

...

Oke, kembali ke cerita


"Sepertinya dia suka denganmu, jadi jangan salahkan aku." Ujar Naruto cepat, membuat Hinata makin kesal.

"Ya, sudah ajak dia pergi, tadi itu aku hampir mati ta-huaaa pergi!" belum sempat menyelesaikan kemarahannya, anjing tadi langsung muncul tiba-tiba di sampingnya.

Naruto makin panik, apalagi saat melihat kondisi teman-temannya, mencoba meminta bantuan, dan ternyata-

"..."

Maniknya hanya melihat dua orang gadis yang berdiri di sana sambil melambai-lambai indah. Kemana, sisanya?

"Lho! Shion, Sara! Mana Sakura-chan, Teme, Ino, dan Shikamaru?!" serunya kencang, terpaksa, karena tidak mungkin dia berlari ke sana hanya untuk bertanya.

Kedua gadis di sana terlihat saling memandang satu sama lain, sampai akhirnya mereka perlahan berjalan ikut menghampirinya

[...]

"Kau lama sekali~" gerutu Shion kesal, di jawab anggukan kepala Sara.

"Apa yang kau lakukan, mereka sudah pergi dari tadi." lanjutnya.

"..." sementara Naruto terdiam sejenak, memandang gadis kecil yang masih setia memegang bajunya erat, dan Kuro yang asyik mengejar-ngejarnya.

Kepalanya terangkat kembali ke arah dua gadis tadi, "Mereka lebih dulu ke Ichiraku?"

"Ha'i,"

"..."

Dengan perasaan tidak peka, pemuda pirang ini menaikkan alisnya singkat, sampai-

"Kenapa kalian tidak meninggalkanku juga? Nanti kan aku bisa menyusul," Tanya cepat,

Glek!

Baik Sara dan Shion sontak meneguk ludah mereka bersamaan, mencoba mencari-cari jawaban yang tepat-

"E..eto-"

"Ka..kami hanya-"

"Ya?"

"Kami hanya ingin memastikan kau tidak lupa dimana letak kedai Ichiraku, jadi terpaksa menunggumu!" seru keduanya kompak.

Membuat sang empunya, memiringkan wajahnya ke sampingnya sekilas, sampai akhirnya mengangguk paham, 'Padahal mereka kan tahu aku suka dengan ramen di sana, mana mungkin aku lupa dengan tempatnya? Ah, sudahlah~'

"..."

"Oh, Arigatou kalau begitu~" dengan senyum rubah khasnya, Naruto tersenyum memabukkan. Alhasil malah membuat kedua gadis di hadapannya itu blushing seketika.

[...]

Sedangkan Hinata,


Alis gadis ini naik satu centi, mendengar percakapan orang-orang yang tak ia kenal, membuatnya risih. Apalagi di tambah melihat wajah memerah dari kedua gadis yang jelas-jelas ber-blushing ria saat melihat senyuman pemuda pirang tadi,

'Hah, menyukai orang yang sama~ Ironis sekali~' desahnya dalam hati, menggeleng-geleng kecil.

"Oh, bukannya ini adik kecil yang tadi?" saat melamun, tiba-tiba saja kedua gadis itu mengalihkan pembicaraan padanya. Membuat Hinata sontak mengadahkan wajahnya singkat, masih dengan tangan mungil yang mencengkram baju pemuda pirang di sampingnya kini.

Tidak tahu harus menjawab apa, Ia hanya bisa mengangguk pelan.

"Cepat kau atasi Kuro-mu ini, dan segera menyusul teman-teman." Ujar Shion kembali.

'Ya, ya! Bawa anjing ini pergi!' batin Hinata senang.

Dan sebenarnya tujuan Naruto sejak tadi memang itu, tapi dia-nya saja yang tidak bisa menghentikan sikap anjing kesayangannya ini. Mencoba menarik Kuro dari gadis kecil tadi, tapi tidak bisa!

"Kuro! Jangan mempermalukan majikanmu, ayo pergi!" serunya cepat setelah berhasil mengalungkan lagi rantai yang sempat terlepas tadi tepat di leher hewan perliharaannya.

"Guk! Guk!" bukannya merasa setuju, anjing hitam itu malah mendekati gadis kecil yang bersembunyi di balik tubuhnya lagi.

Naruto jadi pusing.

"..."

"Kami menunggu." Gerutu Sara, mencoba sabar, seraya meletakkan kedua tangannya tepat di depan dada. Begitu juga dengan Shion,

Hah~

Tidak ada cara lain lagi selain, pemuda pirang ini memilih mensejajarkan diri dengan tubuh gadis kecil di belakangnya. Mencoba menenangkan anjing di hadapannya,

"Kuro diam."

"Guk!" tidak mendengarkan perkataan majikannya, Kuro kembali berlari menuju Hinata.

Oh, sepertinya pemiliknya ini sama sekali tidak dihiraukan.

[...]

Kepala pusing, tidak ada uang, keringat bercucuran. Oh, tidak adakah hal yang lebih buruk yang akan menimpanya hari ini?!

Kaget, Hinata benar-benar kaget saat melihat anjing besar itu perlahan mendekatinya lagi!

"Huwaa!" reflek, tidak ada lagi tempat ia bersembunyi, tubuhnya melemah. Dengan gerakan cepat, gadis indigo ini langsung saja-

Hup!

Ia melompat dan naik ke punggung kekar pemuda pirang yang melindunginya, memeluk erat leher pemuda itu dengan tangan kanannya, serta tangan kiri yang masih setia mengusir anjing hitam tadi.

"Niisan berdiri, berdiri!" serunya cepat,

"Ah, ba..baiklah," Naruto pun reflek berdiri dan menggendong tubuh mungil gadi indigo itu dengan cepat.

"Guk!" masih belum menyerah, Kuro kini dengan kemampuan pintarnya malah mencoba menggapai tubuh Hinata, berdiri singkat, lagi, dan lagi-

Grep, Hinata makin takut, Ia memeluk semakin erat, dan membenamkan wajahnya tepat pada leher pemuda pirang ini. Kepalanya kini benar-benar pusing, Ia tidak bisa lagi bersikap kuat, air mata perlahan turun dengan pelan. Sudah cukup dulu ia sudah pernah di gigit, di tambah melihat Neji-nii yang dengan gampangnya membunuh binatang itu tepat di depan matanya. Biarpun Hinata memang harus siap dengan kenyataan kalau lambat laun ia juga akan menyaksikan kematian yang lebih kejam lagi dari hal itu, tapi tetap saja-

Ia masih terlalu kecil untuk tahu tentang hal-hal kematian ataupun pembunuhan.

Memalukan sekali kan? Seorang Hinata Hyuga yang terkenal dengan sifat egois dan pemberaninya bisa bersikap dan menangis hanya karena hal sekecil ini?

Kalian boleh tertawa sepuasnya, kalau mau.

[...]

Sedangkan Naruto yang mulai merasakan sesuatu yang hangat membasahi lehernya, semakin panik. Apa gadis kecil di gendongannya ini menangis? Oh, Kuro! Kamu membuat seorang gadis kecil menangis!

Tidak gentleman sama sekali!

Mencoba menenangkan sang gadis kecil, "He..hei, jangan menangis. Sara, Shion bisa tolong kalian bawa Kuro pergi ke Ichiraku lebih dulu." ujarnya cepat, meminta bantuan pada kedua gadis di sana.

"Ha? Kami? Tapi kan-" kata-kata mereka langsung terpotong saat melihat tatapan memohon dari Naruto.

"Kumohon, kalian tidak ingin melihat adik kecil ini menangiskan?" tanyanya.

"..."

"..."

Diam.

"..."

Tidak ada pilihan lain lagi, menghela napas sejenak, baik Sara dan Shion akhirnya mengangguk kecil, "Hah~ baiklah kalau begitu, sini."

"Arigatou!" dengan cekatan, Naruto memberikan tali ikatan Kuro pada Sara.

"Tolong sekali lagi ya, kalian yang terbaik~" lanjutnya pelan.

"..."

Blush, Oh mulai lagi sifat polos sang Uzumaki Naruto. Pintar dalam memikat hati perempuan dengan kata-katanya.

"O..oke, tapi cepat menyusul kami!" seru Shion, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Siap!"

"Kami pergi dulu,"

Kedua gadis itu menarik keras Kuro, menjauh dari taman dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya benar-benar berhasil meninggalkan Naruto dan gadis kecil itu di sana.

.

.

.

.

.


Hinata Pov :


Air mata sialan ini masih terus saja mengalir, Argghh bisakah kau berhenti turun! Terus menerus aku merutukkan air asin yang turun tiba-tiba dari pelupukku ini. Benar-benar memalukan, jangan sampai ada yang tahu kalau saat ini aku sedang menangis,

"Adik kecil, kau tidak apa-apa?" suara itu lagi, pemuda pirang yang menggendongku ini masih saja terus mengoceh menanyakan keadaanku. Apa dia tidak sadar kalau saat ini aku sedang menangis, tentu saja aku sedang apa-apa kan!

Tapi demi harga diriku yang tinggi, mana mungkin aku mengatakan hal tadi semudah itu. Tangan mungilku segera menggosok keras kedua mataku, berharap kalau air asin ini berhenti mengalir.

"Aku tidak apa-apa!" seruku dengan suara yang sedikit serak.

"Benar?"

"..."

"Ya."

"Tapi kau menangis lho, aku belikan es krim ya?" ujar pemuda pirang itu lagi.

"..."

Es Krim dia bilang?! Dia ingin menghiburku dengan makanan anak kecil seperti itu?! Berani-beraninya!

Mengesampingkan ketakutanku, tiba-tiba saja tangan mungilku bergerak melayang tepat ke arah-

Pletak! Kepala pirang pemuda itu. Ya, aku memukulnya.

"Ittaai!" jeritnya.

"Jangan mengejeku!" ujarku kesal.

"Tapi tadi kau menang-Ittaai!"

Gyuutt, kembali aku mencubit pipi tan itu keras agar tidak berkata-kata lebih banyak lagi. "Kubilang aku tidak apa-apa!"

Kesal, meski rasa takut itu masih ada tapi karena anjing tadi sudah pergi jadi aku bisa bernapas lega untuk sekarang.

"Hei! Berhenti mencubit pipiku, atau kupanggil lagi Kuro-ku lagi!"

Glek, tegukan ludah cepat menelusuri tenggorokanku. Sial, sekarang dia tahu kelemahanku!

"Apa, aku tidak takut!"

"Oh, benarkah?! Kupanggil sekarang juga,"

"Panggil saja!" seruku kencang, masih tidak mau kalah. Mana mungkin dia bisa memanggil anjingnya kalau saat ini hewan itu sudah pergi bersama teman-temannya-

"Oke, Kupanggil teman-temanku untuk kemari lagi."

"..."

"..."

Teman-temannya mau kemari lagi?!

Tunggu...

Apa!

Oh, tidak jangan panggil mereka!

Tangan mungilku reflek melepaskan cubitan tadi, "Jangan!" bisa kupastikan seringaian kemenangan berkibar indah di wajahnya.

Ugh!

"Makanya kalau aku bertanya baik-baik, di jawab dengan baik-baik juga~" ujarnya.

Mendecih kesal, langsung kupalingkan wajahku ke arah lain. Tentu saja masih dengan posisi dia menggendong tubuhku.

"Nee, kenapa tadi kau terlihat takut seperti itu? Kuro tidak akan menggigitmu kok." Hah, dia bertanya lagi. Kenapa pemuda pirang ini ingin sekali tahu masalah orang, suka bertanya, dan entah kenapa-

"..."

Mirip sekali dengan bocah kecil itu.

"..."

Ah, tidak mungkin. Segera kutepis kembali pikiranku. Pasti hanya kebetulan saja,

"Bukan urusanmu." Jawabku singkat.

"..." dia terdiam, apa aku ada salah bicara?


Hinata Pov Off


[...]

Mendengar jawaban gadis kecil di belakangnya ini entah kenapa membuat tubuh Naruto membeku. Pikirannya melayang-layang,

Rasa penarasan langsung saja menghinggapinya, alisnya tertarik singkat, sampai-

"Aku hanya ingin tahu, memangnya tidak boleh?" kenapa dia tiba-tiba jadi ingin tahu seperti ini. Aneh~

"Tidak, dan terserah Niisan mau memikirkan apa, tapi yang pasti aku tidak akan memberitahunya." Ujar Hinata cepat, mana mungkin kan dia bilang kalau traumanya pada anjing karena dirinya ini seorang Vampire? Dia jadi di takuti dan digigit dengan menggenaskan?

"..."

Dejavu, itulah yang dirasakan Naruto. Kenapa sepertinya dia pernah mendengar kalimat itu sebelumnya, kalimat dingin, tegas, dan terdengar misterius. Pemuda pirang ini tidak sedang berlebihan, tapi memang itulah yang ia rasakan.

Dingin-

Tegas-

Dan terdengar misterius-

"Kau tidak perlu tahu, bocah."

"Arggh, terserah kau mau memanggilku apa!"

Deg! Jantungnya berdetak cepat, 'Tenang Naruto! Tidak mungkin ini dia, mana mungkin gadis kecil ini, dia. Tenang!" berusaha menenangkan detak jantungnya. Pemuda pirang itu menghirup napas dalam-dalam.

Tidak mungkin gadis yang pernah ia temui sepuluh tahun lalu, sekarang ada di belakangnya. Di tambah dengan tubuh mengecil seperti ini, pikirannya pasti sedang bercanda. Pasti hanya firasat tidak jelasnya saja.

Hanya sementara,

Ya.

"Oi, Niisan, kau bisa turunkan aku sekarang." suara panggilan dari belakang, membuatnya tersentak kembali.

"..."

Dia baru sadar kalau masih menggendong gadis itu, sedikit kikuk. Naruto segera menurunkannya hati-hati,

"Hah, bebas juga~" Hinata mendesah lega, meskipun kepalanya masih pusing tapi tidak apa-apa lah. Setelah turun dari gendongan pemuda pirang tadi, tangan mungilnya segera menepuk-nepuk bajunya yang sedikit kotor gara-gara aksi anjing hitam itu.

'Lebih baik aku pulang ke rumah saja hari ini, tubuhku lelah~" pikirnya dalam hati.

Sedangkan Naruto yang tak sengaja menangkap sebuah tanah menempel pada pipi gadis kecil di hadapannya, segera mensejajarkan pandangan. "Pipimu masih kotor," ucapnya seraya menggunakan jemari untuk membersihkan noda di sana.

"..." Hinata terdiam, saat manik Lavendernya tanpa sadar menoleh ke depan dan melihat dengan jelas iris Saphire milik pemuda pirang itu.

Dia menyentuh pipiku?!

Tunggu!

'Dia membersihkan dan menyentuh pipiku sembarangan!' tapi langsung saja batinnya keluar, dan tersadar sepenuhnya. Sudah dua kali dirinya kecolongan, dulu bocah pirang dan sekarang pemuda pirang lagi?!

Tangan mungilnya menepis cepat tangan pemuda itu, "Eiitt, Niisan tidak boleh seenaknya menyentuh pipi seorang lady sembarangan." Tukasnya, seraya menjulurkan lidah sekilas.

"..."

Perasaan itu lagi.

"Jangan seenaknya meminta ciuman dari seorang lady, Naruto~"

Seorang Lady? Sekarang yang berdiri di hadapannya ini hanyalah seorang gadis kecil yang cuek, dan kenapa gadis kecil itu bisa mengatakan kalau dirinya seorang Lady?

"..." pandangan Naruto makin menyipit, alisnya semakin tertekuk. Ia mengingat jelas hari perpisahannya sepuluh tahun yang lalu, saat gadis kecil ini benar-benar mengatakan hal yang sama dengan seorang Vampire cantik yang pernah ia temui dulu.

Kebetulan kah?

Merasakan pandangan dari pemuda pirang di hadapannya, lama-lama ia jadi risih juga. Kenapa dirinya di pandang terus? Ada yang salah dengan wajahnya? Masih membersihkan wajah kotor serta pakaiannya, Hinata melirik singkat-

"Niisan suka denganku ya?" ujarnya polos, membuat Naruto tersentak kecil.

"Ah, ti..tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya pemuda itu balik.

Masih dengan sifat cueknya, Hinata memutar bola matanya sekilas, "Habis, dari tadi aku di pandangi terus. Kan risih, kalau suka bilang saja deh~" jawabnya cepat.

"..."

Geli, ya Naruto merasakan lengkungan senyum terbentuk di wajahnya, melihat sikap dan jawaban to the point dari gadis kecil ini membuatnya tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum.

'Kenapa perasaanku mengatakan kalau gadis ini mirip sekali dengannya?' batin pemuda pirang itu pelan. Baik sikap cuek, polos, tegas, sedikit pemarah, dan yang lebih penting semua sifat itu membuatnya nyaman.

"Gomen, aku hanya sedikit memikirkan sesuatu saja." ucapnya kembali mencoba mengusap kepala gadis kecil di depannya, tapi-

"Eiit, kalau Niisan tidak mau kupukul lagi, jangan menyentuh kepalaku sembarangan." Tangan mungil gadis itu memegang lengannya erat, mengerucutkan bibirnya perlahan. Kesal, ya Hinata memang sedikit kesal karena pemuda pirang itu lagi-lagi mencoba menyentuh kepalanya.

Menarik kembali tangannya, entah kenapa perasaan kikuk menjalari Naruto. Tidak mungkin ia bisa segugup ini dengan seorang anak kecil! Suka? Arghh! Tidak mungkin, mereka baru saja bertemu. Hanya karena gadis kecil ini sedikit mirip dengannya, bukan berarti ia bisa suka semudah itu bukan?

Lagipula, dia ini tidak menyukai seorang gadis kecil. Dia bukan seorang pedhopille!

[...]

Sedangkan Hinata, alisnya terangkat sejenak melihat tingkah pemuda pirang di hadapannya. Aneh, pemuda itu terlihat gugup, dan kikuk?

'Untuk apa kupikirkan, lebih baik hari ini aku pulang~' desahnya dalam hati, kepalanya masih terasa pusing, dan entah kenapa malah semakin bertambah. Denyutan demi denyutan menghampirinya, tubuh kecilnya ini sudah tidak bisa menahan rasa sakit lagi.

Jadi daripada pingsan di tempat tidak jelas, pulang mungkin pilihan yang bagus. Sedikit menyayangkan juga tidak bisa bertemu atau sekedar melihat bocah pirang itu sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, kelemahan penyakit ini benar-benar merepotkannya.

Menghela napas singkat, Ia kembali menatap pemuda pirang di depannya, 'Yah, setidaknya aku bisa berpikir kalau bocah itu pasti sudah sebesar dia sekarang~' pikirnya. Dengan rambut pirang, kulit tan, cengiran lebar, dan-

"..."

Tanda lahir berbentuk kumis kucing yang masih setia di wajahnya-

"..."

Tunggu dulu,

Tanda lahir?

"..."

Seperti kumis kucing?! Dia tidak salah lihatkan? Manik Lavender Hinata kini mencoba menajamkan kembali penglihatannya. Mencoba memastikan, kalau perkiraannya salah.

'Di dunia ini memangnya ada tanda lahir yang persis sama dengan bocah itu?' pikirnya tak tenang.

Tiga garis yang dulu sekali pernah ia perhatikan, sebuah tanda lahir. Tidak mungkin menghilang saat bocah itu tumbuh besar bukan? Alisnya kini ikut terpaut, mulutnya bergumam kecil.

'Tidak mungkin,' Tanpa ia sadari, tangan mungilnya mencoba menggapai wajah pemuda pirang di hadapannya. Tidak percaya akan apa yang di lihatnya, pasti beberapa menit yang lalu ia terlalu lelah dan panik, sampai-sampai tidak menyadari kejanggalan penglihatannya tadi.

"..."

"Kau-"

Masih tidak sadar, tangannya semakin mendekat, sampai-

"..."

Plok, menyentuh lembut pipi kanan tepat di tiga garis yang menjadi perhatiannya. Mengusapnya pelan, dan tanpa aba-aba-

"Naru-"

"Ada apa?"

Deg! Suara pemuda pirang itu menyentakkan pikirannya, dan sukses menghentikan kata-katanya. 'Apa yang kulakukan, Baka!' tangan mungilnya segera ia tarik kembali, merasakan aliran panas yang menjalari wajahnya.

Sial, memalukan sekali sikapnya tadi! Tiba-tiba menyentuh pipi seseorang! Arghh!

Menelan ludahnya cepat, ia menggeleng kecil. "Ti..tidak apa-apa, gomen tadi aku menyentuh pipimu, Niisan." Ujarnya.

Seolah tidak mendengarkan perkataannya, pemuda pirang tadi kini malah semakin intens melihatnya. Atau lebih tepatnya curiga, buktinya saat tangannya ia tarik dan mencoba diam. Pemuda itu menghentikannya, memegang erat tangannya.

"Tadi aku mendengarmu bergumam Naru? Aku tidak salah dengar kan?" tanyanya.

Glek! Oh, tidak, dia pasti menganggapnya aneh! Hancurlah harga dirinya sebagai seorang Hyuga, yang terkenal menjaga image dan tidak ceplas-ceplos seperti tadi!

"Tidak! Kau salah dengar! Pasti!" seru Hinata cepat, singkat dan mencoba menarik kembali tangannya. Tapi-

"Kau tahu adik kecil, Naru itu nama panggilanku, darimana kau tahu?"

"..."

Terdiam, tubuh Hinata sontak membeku. 'Apa dia bilang? Naru..panggilannya?'

"A..apa?"

Wajah tan itu masih memandangnya lekat, dan entah kenapa Hinata merasakan jarak antara mereka berdua perlahan semakin dekat. Di tambah lagi, pandangan Saphire di hadapannya kini terus tertuju padanya, seolah-olah menghisapnya. Dan mengaburkan semuanya, Ia tidak tahu harus melakukan apa?!

"Niisan lepaskan tangan-" sebelum sempat Hinata memberontak, suara pemuda pirang itu langsung menginterupsinya, mengatakan hal yang membuatnya terkejut-

"..."

"Namaku Naruto Uzumaki, siapa namamu adik kecil?"

"..."

Naruto-

Uzumaki?

Maniknya terbelalak cepat, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Berlebihan kah reaksinya saat melihat dan mendengar suara dari seorang bocah yang sempat membuatnya tersenyum dulu, setelah sepuluh tahun ia tidak bertemu dengannya?

Terkejut.

"..."

Ah, Hinata tidak memikirkan itu, Ia tidak peduli, bibirnya tanpa sadar bergumam pelan. Memanggil seseorang yang ia kenal dulu,

"..."

Ternyata dugaannya salah-

"Bocah-" bocah pirang yang dulu sempat ia temui, kini berada di depan matanya. Memperkenalkan dirinya sekali lagi, dan-

"Aku merindukanmu, Vampire-chan~"

Masih mengingatnya.

oOoOoOoOoOoOoOo

"Kau tahu, seberapa jauhnya kita berpisah, kalau memang sudah takdir pasti nanti kita bertemu lagi. Entah kapan, tapi apa kau percaya itu?"

"Ya!"

"Saa, kita tebak apa kau masih mengingatku lagi kalau sudah besar nanti Naruto Uzumaki, bocah kecil yang merepotkan~"


TO BE CONTINUED~


A/N :


Yoshh sesuai janji Mushi apdet setiap hari Sabtu :D

Oh, sebelum itu Mushi mau ngucapin Arigatou buat yang para readers yang sudah mau menunggu sequel fic gaje ini, muehehe XD nggak nyangka kalo bakal banyak yang nunggu Kyaaa! #gampar#

Nah, buat fic ini Mushi sudah membataskan wordnya hanya boleh sampai 4000K aja, jadi nggak bakal ada penambahan, ehehe capek juga ngetik #plak#

OoOoOoOoOoOoO

Answer :

Apa Hinata dan Naruto bakal bersama? Saa naa, kita lihat saja nanti #gampar#

Kenapa Mushi nggak buat cerita ini langsung complete? Karena kalo Mushi complete-in, di jamin pasti bakal panjang, dan para readers bakal minta sequel lagi, soalnya Mushi pernah buat OneShotnya. NaruHina cuma bisa sampe ketemu aja, tapi nggak sampai bersatu.

Komik Throbbing Tonight? Huwaa, itu salah satu komik kesayangan Mushi, biar sedikit jadul tapi bagus banget. Ceritanya tentang seorang gadis keturunan Vampire dari dunia setan (Ayah : Vampire, Ibu-nya : Serigala, adik : Serigala) yang jatuh cinta sama manusia yang ternyata-nya adalah pangeran dunia setan yang telah lama hilang #sumpah itu bagus banget!# recomendded komik# Oh, itu ada versi baru-nya, Throbbing Midnight. Tapi masih bagusan versi lama-nya#lah kenapa jadi curcol#

Apa Naruto akan sadar dengan Hinata? Ahaha, liat aja chap ini :D

OOoOoOoOoOoOoO

Special Thanks untuk semua yang sudah riview, fav, dan follow cerita ini #Bow#


Nah, segitu aja deh Cuap-cuap dari Mushi

Kalau begitu Akhir kata kembali

SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7

JAA~