Maniknya terbelalak cepat, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Berlebihan kah reaksinya saat melihat dan mendengar suara dari seorang bocah yang sempat membuatnya tersenyum dulu, setelah sepuluh tahun ia tidak bertemu dengannya?

Terkejut.

"..."

Ah, Hinata tidak memikirkan itu, Ia tidak peduli, bibirnya tanpa sadar bergumam pelan. Memanggil seseorang yang ia kenal dulu,

"..."

Ternyata dugaannya salah-

"Bocah-" bocah pirang yang dulu sempat ia temui, kini berada di depan matanya. Memperkenalkan dirinya sekali lagi, dan-

"Aku merindukanmu, Vampire-chan~"

Masih mengingatnya.

oOoOoOoOoOoOoOo

"Kau tahu, seberapa jauhnya kita berpisah, kalau memang sudah takdir pasti nanti kita bertemu lagi. Entah kapan, tapi apa kau percaya itu?"

"Ya!"

"Saa, kita tebak apa kau masih mengingatku lagi kalau sudah besar nanti Naruto Uzumaki, bocah kecil yang merepotkan~"

Vampire-chan! I Will Get You!

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, A Little bit Humor, Fantasy, Friendship

Pair : Naru x Hina(RTN)

Warning : Typo, OOC luar biasa, Hinata RTN, plus rada-rada gaje hihi~

Sequel 'Vampire-chan! Please Love Me?!'

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Enjoy~

OooOOoOoOoOoOoO


Chapter 3 : Believe or Not?


Masih setengah tidak percaya, Hinata terdiam. Saat di rasakan sebuah tangan kekar tiba-tiba saja merengkuh seluruh tubuh mungilnya. Deru napas yang mengenai jenjang lehernya, membuat gadis itu sontak bergidik dan kembali sadar-

"Kau apa yang-" perkataan terpotong seketika saat mendengar perkataan pemuda pirang itu.

"Aku tidak bermimpi, tak kusangka aku bisa bertemu denganmu di sini." Gumamnya terus menerus. Hinata sukses terbelalak kembali,

Grepp, tangan itu semakin memeluknya erat, terasa possessive membuatnya sedikit sesak. Ternyata bukan hanya dirinya yang menganggap kalau pemuda ini adalah bocah kecil itu, tapi Naruto juga.

Entah apa yang merasukinya, sifat pemarahnya tiba-tiba menguap. Merasakan pemuda pirang itu memanggil namanya terus menerus. Tangan mungilnya reflek bergerak menuju kepala pirang pemuda ah, mungkin bisa ia bilang Naruto. Mengelusnya perlahan,

"Bocah, ternyata ini benar-benar kau?" tanyanya pelan, masih setengah tak percaya.

"Dan aku benar-benar tidak percaya ini kau Vampire-chan, padahal tadi aku ingin menepis semua dugaanku." Naruto malah bertanya balik,

"Kenapa kau berpikir kalau gadis kecil ini aku? Kukira kau sudah melupakanku." Ujarnya tak henti.

Sebuah gelengan singkat dari Naruto, masih dalam posisi memeluknya. Sampai-sampai Hinata bisa merasakan sendiri rambut pirang itu menggelitiki lehernya.

"Aku tidak akan lupa, kau tahu itu." jelasnya.

Gadis indigo ini tidak tahu harus merasa senang atau sedih, haruskah ia menangis terharu sekarang? Atau hanya berdiam diri, sampai pelukan Naruto lepas darinya?

"..."

Sedikit terkejut juga mendengar jawaban Naruto, sepuluh tahun tidak bertemu dan pemuda ini masih mengingatnya. Padahal seharusnya manusia sekecil dia dulu, pasti dengan mudahnya melupakan semua orang yang ia temui.

"Kau masih kecil saat itu bocah, kenapa kau bisa mengingatku terus? Apa pikiranmu dulu itu tidak pernah diisi?" tanya Hinata kembali, ya mungkin perkataannya sedikit pedas. Tapi memang beginilah sifatnya-

Seakan tidak tersinggung dengan ucapannya, Naruto malah mengangguk pelan. "Kalau kau masih mengingatku sampai sekarang, kenapa aku harus lupa? Lagipula, kau tidak menghapuskan ingatanku tentangmu saja, sudah membuatku senang. Jadi harus di jaga baik-baik,"

"..."

Blush~

Oke, sepertinya dia merasakan sebuah aliran panas menghampiri pipinya. Kemana sifat kerasnya, dan kenapa dia bisa semudah ini memerah hanya karena bertemu dan mendengar ucapan pemuda pirang tadi. Melancholy sekali~

Mengidahkan rasa malunya, "Bocah, sejak kapan kau pintar menggoda seperti ini?"

"Aku tidak menggodamu, aku berkata jujur Vampire-chan."

Oh, nama panggilan itu lagi. Nostalgia sekali~

OoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Di sisi Naruto~


Sungguh ia terkejut saat gadis kecil tadi tiba-tiba menyentuh pipinya, manik Lavender itu menatap polos ke arah kedua tanda lahirnya. Ada yang aneh?

Apalagi saat tiba-tiba saja gadis itu bergumam, 'Naru.' Pikirannya yang menepis kalau gadis kecil ini adalah orang yang pernah ia temui dulu. Langsung berbalik arah, Ia tidak pernah memberikan namanya pada gadis ini. Tapi kenapa tiba-tiba telinganya mendengar kata 'Naru'. Tidak mungkin Naruto salah dengar, karena jarak antara mereka berdua sudah terlalu dekat,

Pandangan yang di berikan gadis kecil itu pun sempat membuatnya bingung, ada perasaan kaget, dan sedih. Bolehkah ia berharap kali ini saja, dengan memanggil nama gadis yang pernah ia temui sepuluh tahun lalu.

Apa gadis kecil ini akan merespon perkataannya.

"Namaku Uzumaki Naruto, siapa namamu?" ujarnya cepat, dan saat dirinya menatap lekat sang gadis kecil. Ia mendapati sebuah tatapan kaget di wajahnya, gerakan tangannya membeku sesaat, dan samar-samar bahkan ia dapat mendengar gadis itu bergumam-

"Bocah-"

"..."

Hilang sudah semua keraguannya, di dunia ini hanya beberapa orang saja yang akan reflek memanggilnya bocah. Di tambah melihat umur yang berbeda dari gadis ini, saat mereka belum sedekat sekarang gadis di depannya memanggilnya dengan sebutan Niisan, dan saat ia mengatakan namanya-

Kalimat bocah langsung ia dengar.

'Aku tidak salah,'

Sebuah perasaan senang membuncah di dadanya. Kalian boleh menganggapnya berlebihan, tapi bagi Naruto satu kalimat itu mampu membuat tubuhnya bergetar, reflek bergerak, dan-

Grep, memeluk serta merengkuh sang gadis kecil ke dalam dada bidangnya.

"Aku merindukanmu, Vampire-chan." semoga saja ia tidak bermimpi, dan kalau pun iya tolong jangan ada yang membangunkannya untuk kali ini saja.

.

.

.

.

.

Merasakan pelukan Naruto kembali mengerat, "Bocah, lepaskan pelukanmu," perintahnya cepat.

"Tidak mau." Singkat dan cepat, jawaban pemuda pirang itu membuatnya kembali mengingat kalau sifatnya yang keras kepala sama sekali tidak berubah.

"Tubuhku sesak, kau memelukku terlalu kuat bocah!" Hinata berseru pelan, tapi Naruto sepertinya masih keukeuh memeluknya. Pemuda pirang itu menggeleng singkat,

"Kalau aku melepaskanmu, nanti kau pergi lagi." ujarnya cepat.

"..."

'Apa yang harus kukatakan?' Dia memang senang, Naruto masih mengingatnya, tapi tetap saja. Pelukan Naruto terlalu erat untuk tubuh mungilnya, ditambah saat ini kondisi kesehatannya sedang melemah. Pusing bercampur senang menjadi satu,

Harus kah ia berbohong?

Jii~

"..." merasakan semua pandangan orang-orang di taman langsung tertuju pada mereka. Hinata hampir sadar,

'Kami-sama, aku lupa sedang berada di mana sekarang!' batinnya keras, bisa gawat kalau mereka jadi pusat perhatian di sini. Pelayan-pelayan yang mencarinya sekarang pasti bisa langsung tahu!

Tangan mungilnya mencoba mendorong dada bidang Naruto menjauh darinya, "Bocah, semua orang melihat kita! Kau tidak mau di kira pedophille kan?" bisiknya,

"..."

Entah apa yang merasuki Naruto, pemuda pirang itu malah menjawab polos, "Aku tidak peduli."

Oh, Hinata bernostalgia lagi.

"..."

Eiitt! Sekarang bukan waktunya bermanis-manis ria di sini! Dia harus segera lepas dari pelukan Naruto!

"Bocah, aku mengerti perasaanmu. Tapi lepaskan dulu pelukanmu!" serunya kecil, hah kalau sekarang tubuhnya tidak mengecil seperti ini pasti ia bisa mendorong Naruto dengan cepat, memukul kepalanya seperti biasa, dan-

"Tidak."

'Arghh! Keras kepala sekali dia!'

Hinata benar-benar bingung bagaimana menghadapi pemuda pirang ini, mencoba memikirkan sesuatu yang pas, sampai-

"..."

Hyuungg~

Tubuhnya tiba-tiba kembali melemas, pusing di kepalanya bertambah sakit, tangan mungilnya yang sejak tadi masih mendorong tubuh Naruto perlahan turun.

'Kuso!!'

Kesadarannya semakin menghilang, "Bo...cah, kumohon lepaskan pelu..kanmu, ke..palaku pusing sekali-" ujarnya lemah, tidak menyangka kalau ia akan memohon seperti tadi.

"..."

Naruto yang merasakan kalau gadis indigo ini tidak bercanda, saat tangan mungil yang mendorongnya perlahan melemah. Reflek, Ia melepaskan pelukannya.

"Gomen, aku lupa kalau tubuhmu sekarang berubah!" serunya cepat, menatap gadis di hadapannya cemas, tatapan sayu ia lihat, serta deru napas yang terasa sangat panas menerpa sedikit wajahnya.

"Kau sakit?" tanyanya kembali,

"Kau li..hat sendiri, dan mem..buat penyakitku bertambah parah." Jawab Hinata.

"..."

Tertunduk pelan, "Gomen, tadi aku sedikit berlebihan. Sampai-sampai membuatmu seperti ini, aku tidak sadar kalau kau sedang sakit."

"..."

Terdiam, Hinata menatap lekat-lekat pemuda di depannya. Sosoknya yang berubah drastis menjadi sangat ehemtampanehem, Ia akui itu. Tapi ternyata-

'Sifatnya belum berubah sama sekali, masih polos seperti biasanya~' ya, entah kenapa hanya di depan bocah, ah pemuda pirang ini dia merasa nyaman. Sifat egois, keras kepala, dan pemarahnya pun menghilang entah kemana?

"Gomen."

'Dia memikirkannya serius sekali?' ingin sekali Hinata tertawa melihat sikap Naruto, percaya seratus persen kalau dirinya lah yang membuat penyakitnya bertambah parah. Padahal Hinata kan hanya bercanda, atau lebih tepatnya melebih-lebihkan sedikit saja, walau tadi sempat hampir pingsan juga~

"..."

Tangan mungilnya perlahan menepuk singkat kepala sang Uzumaki, 'Miris sekali melihat, kalau sekarang justru tubuhku yang mengecil.'

"Bocah, aku hanya bercanda. Lagipula kalau aku tidak mengatakan itu, kau pasti tidak akan mau melepaskan pelukan mautmu itu." ujarnya cepat.

Membuat sang Uzumaki mendongak pelan, "Kau benar bercanda?" tanyanya balik.

"Ya."

"Jadi aku boleh memelukmu lagi?"

"..."

Seseorang ada yang bisa tolong memukul kepala pirang di hadapannya ini?!

.

.

.

.

.

Menghela napas untuk yang kesekian kalinya, Hinata menatap pemuda pirang di depannya kesal. Kedua tangannya asyik berkacak pinggang, sedangkan bibirnya mengerucut sekilas.

"Kau tidak sadar kalau pelukanmu tadi itu kuat sekali untuk tubuh mungilku ini?!" tanyanya cepat.

"..." Naruto terdiam, sampai akhirnya mengangguk singkat.

"Aku memelukmu kan karena kita sudah lama tidak bertemu." ujarnya enteng.

Merasa tidak akan habis-habisnya berdebat dengan Naruto, "Hah, terserah kau saja. Sekarang aku mau pulang." Ucap Hinata, berniat untuk pergi dari sana. Waktunya menjadi manusia tinggal empat jam lagi. Di tambah kesehatannya yang semakin menurun.

Dan sebelum ia sempat berbalik pergi,

Grep, sebuah tangan kekar menggenggam tangannya erat, menghentikan gerakannya.

"Benarkan, kau mau pergi lagi." tepat saat gadis itu berbalik, maniknya melihat wajah Naruto yang menggerutu kesal. Alisnya tertekuk tidak suka,

Dia lupa!

Tidak tahu harus berkata apa, Hinata memilih memutar matanya sekilas, "Kesehatanku sedang tidak baik hari ini, bocah. Jadi aku harus pulang." Jelasnya.

"Kau tidak rindu denganku? Setidaknya diamlah di sini lebih lama lagi." rujuknya, mengeluarkan puppy eyes yang sudah lama tak Hinata lihat.

'Dia masih punya jurus itu?!' batinnya mulai tak beres.

"Jurus puppy eyesmu itu tidak mempan untukku,"

"Kalau kau mau pergi, aku peluk lagi nih! Mau?"

"..."

Sejak kapan sikap bocah polos di depannya bisa berubah menjadi agressive seperti ini! Oh, Kami-sama.

"Kau mau menerima pukulanku!"

Tidak mengidahkan perkataan Vampire manis di hadapannya, Naruto malah bergerak semakin dekat lagi!

"O..oi! Jangan mendekat, kau terlalu berlebihan bocah! Kita hanya-"

Manik Saphire di hadapan Hinata kini memandangnya intens, "Jarak sepuluh tahun bagimu mungkin singkat, tapi bagiku itu sangat lama. Kau tahu itu, Vampire-chan? Jadi jangan salahkan aku kalau berbuat seperti ini padamu." Ujar Naruto tiba-tiba-

"A..apa?"

"Meskipun kau tidak menungguku, atau bahkan tidak pernah memikirkanku sekejap pun. Tapi aku berbeda denganmu, bersikap berlebihan, memelukmu sampai sesak napas. Kalau perlu, aku bisa saja membawamu pulang ke rumahku hari ini, memperkenalkan pada kedua orang tuaku, supaya mereka tahu tentangmu."

"..."

"..."

Terdiam, membeku dengan mulut menganga tidak elitnya, apa dia tidak salah dengar?! Apa telinganya tadi tiba-tiba meledak sampai-sampai bisa mendengar ucapan nan serius seperti itu dari bibir Naruto?!

Kami-sama, kemana kau bawa bocah pirang polos yang dulu dengan senang hati bisa ia usili, lalu bisa ia lawan dengan mudah! Kemana?! Sekarang justru pemuda di hadapannya ini, berubah total menjadi-

Menjadi...

Arghh! Berapa kali lagi ia harus bersikap pura-pura cuek, kalau tadi dengan gamblangnya ia mendengar perkataan yang terdengar seperti lamaran dari Naruto! Sudah dua kali Hinata di lamar oleh pemuda pirang ini, meskipun tidak ia tanggapi sungguh-sungguh.

"..."

Haruskah ia menanggapi dengan serius sekarang?!

"..."

'Tidak, tidak, aku tidak boleh lengah! Aku sudah melihat jelas tadi betapa pintarnya dia menggoda kedua teman perempuannya! Jadi mungkin saja sekarang bocah ini melakukan hal yang sama!'

Mencoba memasang wajah cuek, nan garang andalannya, Hinata mendengus singkat, "Tidak semudah itu bocah. Seperti kau bisa saja membawaku ke rumahmu sekarang~ Jangan bermim-" dan sebelum sempat melanjutkan kata-katanya-

Grepp! Sebuah lengan kekar tiba-tiba menarik tubuhnya, dan langsung saja mengangkatnya dengan gampang.

"Ugyaaa! Eh! Eh! Apa yang kau lakukan bocah nakal!"

Kaget, Hinata benar-benar kaget, berani-beraninya Naruto memotong perkataannya tadi dengan tiba-tiba menggendongnya seperti membawa karung beras. Tangan mungil Hinata mencoba memukul keras, punggung sang Uzumaki tapi nihil. Mungkin yang Naruto rasakan hanya sebuah pukulan ringan saja.

"Aku serius."

"Turunkan aku sekarang!" seru Hinata cepat, tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang kini mulai mengerumuni mereka berdua. Dia sudah terlalu panik! Hancur sudah image kerennya selama ini!

"Tidak, sampai kau setuju untuk bersamaku hari ini." ucap Naruto singkat.

"Jangan bercanda!"

"Aku akan mempertemukanmu dengan kedua orang tuaku,"

'Baka! Aku tidak boleh melibatkan lebih banyak orang lagi! Bisa gawat kalau semua keluarga Hyuga tahu kalau aku berhubungan lebih jauh dengan seorang manusia!' Merasa tidak ada pilihan lain, Hinata menyerah.

"..."

"Baik, baik, aku mengerti. Turunkan aku sekarang." ujarnya cepat.

"Mengerti apa?"

"Arghh, aku mau bersamamu hari ini! Cepat turunkan aku!"

'Sebelum semua pelayan-pelayanku menyadari keberadaanku di taman ini!' lanjutnya dalam hati.

Senang dengan pengakuan sang Vampire, dengan cengiran andalannya, pelan-pelan Naruto menurunkan tubuh mungil gadis itu.

"Nah, kalau begitu kan lebih baik,"

Mengerucut kesal, Hinata bersidekap, "Dasar keras kepala!"

"Kau juga~"

'Percuma berdebat dengannya,' mengerang sekilas, Hinata memandang atau lebih tepatnya mengadahkan wajahnya melihat sang Uzumaki.

"Jadi kau mau membawaku kemana?" tanyanya cepat.

"Terserahmu, Vampire-chan~"

"..."

"Apa maksudmu? Tadi kau memintaku untuk diam di dekatmu, nah sekarang kutanya kita akan kemana. Kau bilang terserahku?! Bocah, jangan bercanda!"

"Kalau aku bilang ingin membawamu ke rumahku, kau mau?"

"Tidak!"

"Nah, kalau begitu kau saja yang pilih."

"..."

Kami-sama! Sepertinya Hinata benar-benar harus sabar menghadapi pemuda tahan banting seperti Naruto! Tidak terkekan sedikit pun saat mendengar kata-kata pedasnya, padahal semua pelayan dan Kabuto-san pasti langsung down dan menyerah saat mendengarnya angkat bicara.

Mencoba memikirkan tempat yang bagus, sampai akhirnya ia teringat sesuatu-

"O..oke, tapi cepat menyusul kami!"

Pikirannya terngiang-ngiang dengan kejadian gadis-gadis tadi, saat Naruto meminta kedua temannya untuk pergi mendahuluinya ke kedai ramen. Kalau di pikir sekali lagi,

'Sepertinya gadis-gadis itu suka dengan bocah ini,' batinnya kecil. Sedikit merasa kasihan juga, kalau Naruto menuruti keinginannya untuk pergi ke tempat lain, sedangkan di sana kedua, ah mungkin semua temannya menunggu.

Dia kan bukan orang yang egois, hanya karena keinginannya, semua teman-teman Naruto kena batunya.

'Itu lebih baik daripada memikirkan tempat yang lain lagi.' Desahnya dalam hati, seperti melupakan sesuatu yang penting, tapi segera diidahkannya-

"..." Menatap wajah sang Uzumaki sekilas, Hinata berdeham pelan, sampai-

"Kalau begitu kita ke kedai ramen yang dulu pernah kau perlihatkan padaku." Ucapnya cepat.

"..." Naruto terdiam sesaat,

"Benar mau ke sana?" tanyanya tak yakin.

"Ya, ya, lagipula semua teman-temanmu menunggu di sana kan. Jadi lebih baik ke tempat itu saja, kebetulan aku lapar sekarang." jelas Hinata singkat.

Tidak mau menunggu lebih lama lagi, Naruto mengangguk setuju, cengirannya semakin lebar, "Yoshaa! Kau yang terbaik, Vampire-chan!" teriaknya senang.

"Tolong sekali lagi ya, kalian yang terbaik~"

'Kata-kata itu lagi, apa dia mengatakan kalimat memalukan itu pada semua gadis?!' entah kenapa perasaan kesal menjalarinya. Mendengar kalimat tadi, dengan gampangnya keluar dari bibir Naruto. Sedikit mengerang kesal, tangan Hinata mengepal pelan, dan-

Tanpa sadar, "Kata-katamu itu bisa membuat semua gadis salah paham, kau tahu itu?" bisiknya.

Naruto yang saking semangatnya, sampai-sampai hanya samar-sama mendengar suara Vampire kecil di depannya, "Tadi kau bilang apa? Aku tidak dengar?"

'Hah, apa yang barusan kukatakan.'

"Lupakan." Ucapnya singkat, seraya meninggalkan sang Uzumaki di belakang.

.

.

.

.

.

Dengan senang, Naruto mengikuti langkah kaki gadis mungil di depannya. Senyuman lebar tak henti-hentinya terlihat di wajah tampannya. Maniknya tidak pernah lepas melihat sang Vampire, sejak keluar dari taman.

Tapi saat melihat gerak-gerik gadis di depannya, Ia sedikit menaikkan alisnya singkat, 'Kenapa dengannya?'

Vampire kecil itu terus menerus menengok ke kanan, ke kiri, bahkan ke atas sesekali. Seperti menghindari sesuatu, ada yang aneh?

Tidak tahan melihat sikapnya sejak lima belas menit yang lalu terus bergerak aneh, akhirnya Naruto memilih mendekati Vampire itu.

Plok, sebuah tepukan kecil ia berikan, "Kenapa kau terlihat waspada seperti itu?" tanyanya pelan.

Sang gadis mengadahkan wajahnya sekilas, dan menggeleng kecil, "Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lupa kemana arah menuju kedai, jadi melihat-lihat sebentar." Jawabnya singkat.

'Benarkah? Kurasa di memikirkan hal lain.' Batin sang pemuda pirang yakin. Meneliti sikap gadis yang kini sudah berdiri di sampingnya, sampai-

Hyuuungg~

"Cih, pusing sialan!"

Naruto terkejut saat melihat tubuh gadis itu terhuyung-huyung ingin jatuh. Tangan kanannya memegang kepalanya, dan tangan kirinya reflek memegang bajunya. Sepertinya sakit yang di katakan tadi ternyata benar, dia tidak sedang bercanda.

"Vampire-chan, kau benar-benar sakit?" tanya Naruto khawatir, mencoba memelankan langkahnya, saat melihat gadis itu menoleh padanya.

"Aku hanya sedikit pusing, bocah."

Perasaan bersalah sedikit menghinggapinya, sepertinya tadi ia terlalu memaksakan Vampire manis ini untuk bersamanya lebih lama. Padahal kalau dia menginjinkan gadis di sampingnya untuk pulang pasti-

"Jangan memasang wajah kusut seperti itu, aku sudah berjanji akan bersamamu hari ini. Jadi bergembiralah!" Sebuah seruan kecil membuatnya tersentak, tangan mungil yang memegang erat bajunya masih setia di sana,

Perasaan senang membuncah kembali, meski sikap Vampire kecil ini sedikit ketus. Tapi entah kenapa ia tidak merasa terusik sama sekali, sifat yang cuek tapi perhatian. Bahkan gadis kecil itu bisa melihat wajah kusutnya tadi.

Tidak bisa menahan perasaan senangnya, Naruto perlahan menarik lembut sang gadis kecil di sampingnya. Menggendongnya, di belakang punggung. Tidak peduli meski tangan mungil itu terus menerus memukul pelan kepalanya.

"Hei! Turunkan aku bocah!"

"Tidak, aku akan menggendongmu sampai ke Ichiraku."

"Tapi-"

"Balasan untuk sepuluh tahun yang lalu," dan ucapan terakhirnya sukses membungkam bibir sang gadis kecil.

.

.

.

.

.


Kembali pada Hinata~


Hah, gadis ini benar-benar tidak tahan dengan suasana sunyi. Sejak tadi mereka berdua, terdiam terus. Bibirnya gatal untuk berbicara,

"Nee, bocah."

"Vampire-chan, bisakah kau berhenti memanggilku, bocah. Sekarang umurku sudah tujuh belas tahun."

Naruto cepat sekali memotong perkataannya, sedikit mendengus pelan, "Bukan hanya kau yang bertambah umur, aku juga tahu. Jadi kau tujuh belas tahun, dan aku seratus sepuluh tahun. Mana yang lebih tua, hm?" ujar Hinata setengah mengejek.

"Tapi tetap saja, tubuhku kan tidak kecil lagi-"

"Dan sifatmu masih kekanak-kanakkan seperti dulu, bocah." Lanjut Hinata, terkikik geli saat melihat sekilas kembungan pipi Naruto.

"Hah, Terserah kau kalau begitu,"

'Dia menyerah? Tumben sekali?' batinnya heran, oh setidaknya sifat keras kepalanya sedikit berkurang.

"..."

Mereka terdiam kembali,

"..."

"Oh, ngomong-ngomong tadi aku terkejut sekali lho." Ucap Hinata tiba-tiba, menarik perhatian Naruto kembali.

"Tentang apa?"

"Kejadian kau tiba-tiba tahu tentangku, tidak mungkin kan kalau kau tahu ini aku hanya karena bibirku tidak sengaja mengucapkan kata 'Naru'?" ujarnya.

"..." Naruto terdiam sejenak.

"Ya, memang sejak awal aku memang curiga denganmu,"

Alis gadis indigo itu tertarik sekilas, "Curiga? Memangnya aku melakukan apa, sampai-sampai kau bisa berpikiran yang aneh-aneh padaku?!" serunya pelan, tangan mungilnya langsung mencubit kedua pipi tan Naruto. Membuat si empunya mengaduh sakit-

"I..ittaai! Curiga dalam artian lain, jangan berburuk sangka dulu!"

Masih belum melepaskan cubitannya, "Lalu apa?!"

"Iya, akan kujelaskan, tapi lepaskan dulu cubitanmu Vampire-chan!"

"Tidak sebelum aku mendengar jawabanmu~"

Tidak ada pilihan lain lagi, Naruto menghela napas panjang, sampai-

"Baik, baik, aku mulai tahu kalau itu kau saat tanpa sadar kau mengucapkan kata-kata yang hampir sama seperti sepuluh tahun yang lalu." Jelasnya.

Tertegun sejenak,

'Benarkah? Aku tidak sadar sama sekali?!'

"Bagian yang mana?"

"Pertama saat kau tidak mau mengatakan alasanmu takut pada Kuro-ku,"

Masih belum mengerti dimana letak persamaannya, Hinata semakin bingung. 'Kenapa dia bisa tahu sedetail itu?'

"Hanya itu?" tanyanya heran.

"Yang kedua, saat kau mengatakan dirimu seorang lady, dalam tubuh kecil seperti ini."

Hinata nyaris tersedak, sebenarnya tadi dia memang sedikit kelepasan saat mengatakan kata 'lady' tapi ternyata Naruto sampai memikirkannya.

"Yang ketiga, aku merasa aneh, kenapa melihat sifat cuek, pemarah, dan keras kepalamu itu-"

"Hei!"

Hinata hampir memukul keras kepala pirang di depannya, kesal karena dirinya bisa di bilang seperti itu, tapi mendengar perkataan lanjutan Naruto-

"Tidak ada perasaan kesal yang datang padaku, kau percaya kalau aku malah nyaman melihatmu seperti itu?" lanjut pemuda pirang itu lantang.

Tangan Hinata berhenti bergerak, tubuhnya membeku. 'Nyaman?' baru kali ini dia mendengar ada orang yang nyaman berada di dekat Vampire pemarah dan cerewet sepertinya?

"..."

"Keempat, saat kau tiba-tiba saja memanggil namaku-"

"..." Hinata tetap diam,

"Dan yang terakhir, aku sendiri baru sadar kalau ternyata tidak ada seorang gadis pun yang pernah kutemui memiliki warna rambut seindah dirimu, Vampire-chan. Biarpun bertambah umur, selama sepuluh tahun, ternyata warna rambutmu tetap indigo dan selalu panjang. Jadi aku langsung-"

Sret, tangan mungil Hinata tiba-tiba saja sudah membekap bibir Naruto yang hendak melanjutkan kata-katanya.

"Bocah, sudah cukup. Jangan berbicara lebih dari ini." ujarnya cepat,

"..."

Kami-sama!

'Kusoo! Kenapa wajahku panas sekali! Sadarlah Hinata, dia ini hanya menggodamu, ah mana mungkin aku bisa memanas hanya karena ucapan seorang bocah! Sadarlah!' batinnya mencoba bertahan.

"Taphi akhu belhum seleshai-" dalam bekapannya Naruto masih saja berusaha berbicara, membuat ia merasakan sendiri terpaan napas pemuda pirang itu.

"Aku sudah paham, jadi jangan di jelaskan lagi!" Ia mencoba mencari celah untuk mengelak, sampai akhirnya-

"..."

Gotcha!

"Hee, kau benar-benar baru pertama kali bertemu dengan gadis sepertiku?" Hinata segera melancarkan rencananya, mengusir secepatnya rasa malunya itu.

Masih dalam bekapan Hinata, Naruto hanya bisa mengangguk kecil,

"Kalau begitu apa kau lupa dengan salah satu teman gadismu, dia juga memiliki warna mata yang sama denganku, bukan?" tanyanya, saat tadi Hinata memang sempat melirik ke arah dua gadis yang sempat di temuinya.

'Bisa tidak ia mengelak~' batinnya senang,

"..."

"Aku kan bilang baru bertemu dengan gadis berambut indigo sepertimu, Vampire-chan. Kalau mengenai warna iris mata kalian, memang sama." Jawab Naruto enteng. Membuat Hinata cengo seketika.

Melepaskan bekapan tangannya, Hinata mengalihkan perhatian ke arah lain. 'Hanya sekedar warna rambutku ini, heh?' batinnya, entah kenapa tidak begitu suka dengan jawaban sang Uzumaki.

"Oh, satu lagi Vampire-chan!"

Menoleh enggan, Hinata mendengus cepat, "Apa?"

"Aku tahu kau tadi itu mungkin karena naluriku," ujar Naruto singkat, sedangkan Hinata menaikkan alisnya bingung.

"Naluri?"

"Ya!"

Menghela napas sejenak, Hinata kembali mendengus pelan. 'Yah, sifat polosnya memang belum berubah sejak dulu.'

Kenapa dia memikirkan perkataan Naruto begitu serius, Hah sepertinya ada hal yang aneh menimpa dirinya hari ini.

'Hah~ sudahlah,'


To Be Continued~


A/N :


Huwee, Maafkan Mushi baru apdet hari ini TOT7 Kalau yang udah temenan sama Mushi di Fb pasti tahu kan? Ehehe, laptop Mushi lagi di perbaikin nah, gara-gara itu apdet fic ini jadi ngaret. Tapi apdet chap depan tetep hari Sabtu kok, jadi kalau misalnya nggak ada-ada sampe nanti, artinya ada sesuatu yang buat Mushi ngebatalin apdetnya #plak# XD

OoOoOoOoOoOoO

Answer :

Habis berapa chap? Nggak tahu juga ya, Mushi kagak mikirin sih ._.a #liat-liat aja nanti ya#gampar#

Apa akan ada konflik Shion dan Sara? Hm, maunya sih nggak ada, Mushi mau fokus di NaruHinanya aja, mungkin bakal cepet tamatnya :v :D

Kapan Hinata pengen gigit Naruto? Hmmm, sebentar lagi kali ya? #lah dia yang nanya#gampar# pokoknya di deket2 chap ini deh :D

Naruto ngejar Hinata? Oh, so pasti dong! XD di anime Hinata ngejar Naru, dan di sini mushi buat kebalikannya muahaha #di siram#

"Aku Merindukanmu Vampire-chan." Nah siapa yang bilang thu? Ehehe udah pada tahu kan? Pastinya Naruto dong. :D

Complete chap ini? Ehehe, kayaknya nggak bisa dulu deh, soalnya ini aja mereka baru ketemu #gampar# :v :D

Komik Throbbing Tonight? Kayaknya sih udah nggak ada, kecuali di tempat penyewaan komik :v Versi terbarunya kayaknya masih ada :D

Kenapa Hinata bertubuh kecil? Ehee, nggak baca chap pertama ya #ketahuan#gampar# muehehe bercanda kok, Itu Hinata jadi anak kecil kan gara2 minum ramuan Kabuto :D

OOoOoOoOoOoOoO


Special Thanks untuk semua yang sudah riview, fav, dan follow cerita ini #Bow#


Nah, segitu aja deh Cuap-cuap dari Mushi

Kalau begitu Akhir kata kembali

SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7

JAA~