Pokoknya yang harus ia lakukan sekarang adalah menemukan Hinata, dan membawa gadis indigo itu pulang secepatnya. Kabuto benar-benar tidak bisa memprediksikan seperti apa efek samping yang di terima oleh Hinata, saat matahari terbenam nanti.

"Sebelum itu terjadi, aku harus mencegahnya." Dengan cekatan laki-laki perak itu segera membuka botol obat miliknya, dan mengambil satu pil. Memakannya dengan cepat,

"Aku benar-benar tidak memikirkan akibat yang akan di timbulkan obat itu," mengingat tubuh Hinata yang sejak awal melemah, di tambah menanggung penyakitnya dengan tubuh kecil seperti itu.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, masih dengan pandangannya yang mengedar, Kabuto merenggangkan tubuhnya dan segera melompati gedung-gedung. Mencari sang putri majikannya,

Siapa yang tahu kalau ternyataprofesorsekaligus dokter hebat sepertinya bisa membuat suatu kesalahan besar.

"Semoga kau baik-baik saja, Hinata-sama."


Vampire-chan! I Will Get You!

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, A Little bit Humor, Fantasy, Friendship

Pair : Naru x Hina(RTN)

Warning : Typos, OOC luar biasa, Hinata RTN, AggressiveNaru! Plus rada-rada gaje hihi~

Sequel 'Vampire-chan! Please Love Me?!'

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Enjoy~

OooOOoOoOoOoOoO


Chapter 5 : Mistake!


Panas, pusing, berkunang-kunang. Manik Lavender Hinata menatap semangkuk Ramen di hadapannya lesu, uap mengepul di dalam mangkuk itu sukses menerpa wajahnya. Membuat sakitnya bertambah, dan hampir saja ia menjatuhkan wajahnya tepat di sana. Dirinya hampir kehilangan kesadaran-

Kalau saja tidak ada tangan kekar yang menyangga tubuhnya,

"Kau tidak apa-apa?!" Naruto dengan suara cemprengnya, menatap khawatir gadis indigo di sampingnya. Sejak tadi dia memang merasa kalau kondisi tubuh Vampire cantik itu semakin menurun. Dan belum semenit Naruto mengalihkan pandangan darinya.

Gadis itu hampir saja menjatuhkan wajahnya tepat di dalam semangkuk Ramen yang kebetulan berada tepat di depannya.

"…."

Sedangkan Hinata, dalam hati dia sudah mendecih kecil. Giginya bergemeretak entah kenapa, saat aroma tubuh Naruto semakin menghampirinya kembali. Di tambah pemuda itu kini memeluknya dari samping.

"A..ku tidak apa-apa, kau ma..kan saja," ucap sang Hyuga terbata-bata, seraya mencoba mendorong tubuh kekar itu menjauh darinya.

Tapi-

"Tidak, aku akan menyuapimu." Terdengar nada penuh penegasan dari sang empunya, reflek membuat semua orang terbelalak kaget, begitu juga dengan Hinata.

Belum sempat ia menyingkirkan tubuh Naruto lagi, "Su..dahlah-eh!"

Grep, tanpa aba-aba Naruto tiba-tiba menarik tubuh mungilnya tepat mendekati tubuh pemuda pirang itu, "Menyenderlah padaku." Ucapnya lembut, sembari mengusap pelan dan menyingkirkan helaian poni Hinata yang sedikit berantakan.

"….."

Demi apapun! Kenapa bisa-bisanya Naruto memperlakukan dirinya seperti ini di hadapan semua teman-temannya. Dia malu setengah mati! Wajah Hinata semakin memerah, kepalanya makin pusing dan seluruh tubuhnya memanas.

Benar-benar penuh cobaan kalau dirinya berada di dekat Naruto. "Kau ti..dak perlu mengurusiku se..perti ini, bo-"

"Diamlah, dan tetap bersender padaku." Ucapan Hinata terhenti saat mendengar kembali penegasan sang Uzumaki, dan alhasil gadis itu hanya bisa mempasrahkan diri di lihat oleh keenam remaja baik di samping maupun di hadapannya.

'Penyakit sialan!'

"…"

Sementara keenam remaja yang kini melihat aksi sang Uzumaki sukses menatap dirinya heran. Bagaimana tidak?! Seorang Uzumaki yang terkenal tidak peka nan kekanak-kanakan itu sekarang tengah merawat gadis kecil di sampingnya dengan lembut, dan penuh perhatian-

Seolah-olah menganggap kalau gadis yang baru di kenalnya itu sebagai-

"….."

Kekasih?!

Apa itu hanya bayangan mereka saja atau Naruto memang seperti sudah mengenal sang gadis mungil itu sejak lama. Dilihat dari tingkah laku, dan sikapnya. Tapi kan-

'Aku tidak tahan lagi!' Sara dan Shion reflek memikirkan hal yang sama. Kedua gadis itu menoleh kearah sang pemuda pirang yang tengah asyik-asyiknya meniup Ramen.

"Naruto!"

Terkejut, sang empunya tersentak kecil dan menjatuhkan kembali Ramen yang tadi tertata rapi di sumpitnya. "Eh!"

Naruto menatap heran ke arah dua gadis di sampingnya, "Kenapa kalian memanggilku tiba-tiba? "

"….."

Shion dengan wajah setengah kikuk, diikuti dengan Sara, "Ka..kalian sepertinya akrab sekali ya?" ujar gadis pirang itu singkat. Cukup sukses membuat Hinata tersentak, dan menjauhkan diri dari tubuh Naruto.

Gadis kecil itu baru ingat kalau kedua gadis di samping Naruto juga menyukai sang Uzumaki.

"…"

Tunggu?

Lho?!

Apa maksudnya 'juga'?! Ah, dia pasti salah pikir. Yah, maksudnya dia lupa kalau sebenarnya kedua gadis itu sama-sama menyukai Naruto. Intinya, dia tanpa sadar sudah membuat mereka cemburu.

Benar bukan?!

Mendesah dalam hati, Hinata hanya bisa geleng-geleng kepala, sungguh sifat manusia begitu merepotkan.

"Ano, Neesan berdua salah pa..ham, Naruto-niisan pasti hanya menganggapku adiknya..jadi ka..lian berdua tidak usah ma..rah ya," berusaha keras ia mengucapkan kalimat nan panjang tadi. Dirinya yang sebelumnya duduk dekat dengan Naruto perlahan kembali menjauh, meskipun agak susah untuknya bergerak. Mengingat kalau sekarang, ketahanan tubuhnya melemah.

"A..ku akan makan sendiri saja," Hinata mencoba mati-matian mengangkat sepasang sumpit di tangannya.

Sebelum-

Trak!

"Ittai!" sebuah teriakan kecil terdengar dari dalam dapur, ruangan yang sengaja di buat terbuka sehingga para tamu bisa melihat langsung cara pembuatan Ramen. Mendengar suara itu semua menoleh ke arah sumber suara, begitu pula dengan Hinata.

"Daijobu?"

"Aa, jariku hanya teriris pisau saja~" kekehan kecil membuat semua suasana hening tadi kembali seperti biasa.

"….."

Kecuali seorang gadis kecil yang kini terdiam membeku di tempatnya-

"Lebih baik cepat di obati, darah di jarimu jangan sampai jatuh ke lantai Ayame." Ujar seorang laki-laki paruh baya pada wanita yang notabene putrinya.

"Ha'i~"

Darah?

"…"

Entah kenapa indra penciumannya tanpa sadar mencium aroma anyir yang perlahan menusuk hidungnya. Suatu cairan kental berwarna merah, yang mengalir sempurna dari kejadian tadi. Teriris pisau, dan membuat sang Hyuga reflek menggenggam erat sumpit di tangan kanannya.

'Kuso! Kenapa hidungku kembali sensitive?!' geramnya dalam hati. Dengan terpaksa ia menahan sesuatu yang bergejolak di dadanya.

Jemarinya mengepal semakin erat, tegukan di tenggorokannya semakin terasa menyakitkan. Ia memang belum meminum apa-apa sejak pergi dari rumah. Menggigit bibir bawah keras, saat ia melihat wanita cantik yang terluka tadi kebetulan berjalan tepat ke sebuah ruangan yang berada tepat tidak jauh dari tempatnya sekarang seraya memegangi tangannya yang terluka.

Manik Lavender Hinata berkilat menatap setetes darah yang terlihat di antara buku-buku jari wanita bernama Ayame itu.

Kuso!

'Tahan Hinata! Tahan!' Ia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan kondisinya sekarang. Hari ini dia sudah menjadi seorang manusia biasa bukan? Jadi mana mungkin dirinya akan tertarik bahkan se-agresif itu hanya karena melihat setetes darah? Seharusnya Hinata bisa mengendalikan dirinya, waktunya menjadi manusia masih beberapa jam lagi, jadi mana mungkin-

Trak!

"…"

"E..eh?" terkejut, gadis bermanik Lavender itu kaget bukan main saat tanpa sadar genggaman tangannya yang memegang sumpit tadi sukses membuat sepasang benda itu patah menjadi dua.

Semua orang di sana tak terkecuali Naruto langsung saja memandangnya.

"Kau mematahkan sumpit tadi?" Tanya Sakura heran, gadis itu memandang kaget ke arah perempuan kecil di hadapannya.

Tanpa basa-basi-

"A..ah! I..ni, ini ta..di aku tidak sengaja mema..tahkan-ugh!" belum sempat mengeluarkan alasannya, kepala Hinata semakin berkunang-kunang. Ia merasa ingin jatuh dan memuntahkan seluruh isi perutnya saat aroma Gyoza di tempat itu entah kenapa baru menyengat hidungnya. Tangan kirinya reflek menggenggam erat baju milik Naruto.

"Adik kecil kau baik-baik saja?" kini Ino ikut menanyakan keadaan sang gadis indigo.

Sedangkan Naruto-

'Vampire-chan!' dirinya sudah panik minta ampun, wajah gadis Vampire di sampingnya terlihat sangat pucat. Ia benar-benar sudah salah meminta gadis ini untuk datang kemari.

"A..ku-ugh," mual, perutnya bertambah mual. Hinata tidak tahan lagi. Air mata sudah menggenang di pelupuknya, harga dirinya hancur seketika. Dengan tubuh kecil seperti ini, sepertinya semua tenaganya tidak bisa di ajak kompromi.

"Kalian makan saja lagi, aku akan mengurus adik kecil ini."

"Eh? Ta..tapi kau kan baru saja-" Shion hendak mengurungkan niat sang Uzumaki, sebelum-

"Aku hanya akan mengantarnya ke kamar mandi saja kok, tenang saja. Oh, iya Shion kau membawa sapu tangan, tidak?" Tanya Naruto cepat, diikuti anggukan kepala sang empunya dan langsung memberikan sapu tangan berwarna putih miliknya.

"Arigatou!"

Tanpa menunggu respon dari semua teman-temannya, dengan sigap pemuda pirang itu menggendong tubuh Hinata ke dalam pelukannya.

"Bo..cah, aku-ugh!"

"Tidak apa-apa," dengan lembut sang Namikaze mengusap helaian rambut sang gadis kecil kembali. Mencoba menenangkan, sembari bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju kamar mandi terdekat.

'Hah, kenapa aku selalu kalah denganmu, bocah~' ya, Hinata sukses merutuk dalam hati.

.

.

.

.

.


Di Dalam Kamar Mandi~


Untunglah kamar mandi yang ada di kedai itu memilik akses dimana ia bisa menurunkan tubuh sang Vampire kecil, dengan sigap Naruto mendudukkan gadis itu memunggungi deretan kaca yang ada di sana. Berdekatan dengan wastafel, mana mungkin kan dia mengajak gadis ini masuk ke dalam toilet perempuan sendirian, nah kalau mengajaknya ke toilet laki-laki, sudah di pastikan kepalanya akan di pukul habis-habisan oleh si empunya.

"Tunggu sebentar," secepatnya, sang Uzumaki mencari-cari sapu tangan yang sempat di berikan Shion tadi.

Sementara Hinata-

"…"

Gadis itu masih terlihat menahan sakit, Ia masih dalam posisi menundukkan kepalanya sebelum mendengar gerutuan-gerutuan kecil di dekatnya. Siapa lagi kalau bukan-

Naruto-

Mengadahkan sejenak wajahnya, Hinata menatap dengan lekat gerak-gerik pemuda pirang di hadapannya sekarang. Masih terlihat sibuk mencari sesuatu, dan sama sekali tidak menyadari tatapannya.

"Argh, kemana benda itu!" gerutuan kecil Naruto kembali membuat bibirnya tertarik sekilas, walau dalam hati Hinata sudah tergelak tawa.

"….."

Dirinya merasa heran, sangat malah. Kenapa ada seorang manusia yang…yang bersikap seperti ini padanya? Baru kali ini dia merasakannya, padahal seharusnya kaum Vampire itu di takuti bukan di perlakukan seperti ini.

Tidak bisa menahan rasa penasarannya, alhasil semua hal itu sukses membuat Hinata melupakan sejenak sakit kepalanya. Maniknya masih setia menatap Naruto.

"Bocah," panggil sang Hyuga pelan tapi cepat.

"…." Tidak ada jawaban, Naruto masih sibuk mencari sesuatu di saku celananya.

Hinata mendesah pelan, "Bocah," Ia panggil Naruto sekali lagi.

"…." Masih tidak ada respon, kenapa Naruto mencari benda di kedua sakunya lama sekali. Entah kenapa Hinata merasa pemuda pirang ini mengacuhkannya.

Menahan rasa tidak sabarnya, Hinata kembali mencoba memanggil-

"Bocah! Kau mendengarkan-" sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, sang Uzumaki tiba-tiba mengadahkan wajahnya, menatap Hinata dengan wajah cemberutnya.

"Bukannya sudah kubilang dari tadi, kalau namaku itu bukan bocah tapi, N-A-R-U-T-O." suara penuh penegasan yang terdengar di paksakan.

"…"

Ya, akhirnya ia tahu kenapa panggilannya sejak tadi tidak pernah di gubris. "Tapi aku kan-"

"Namaku Naruto, apa perlu aku ulang sampai seratus kali baru Vampire-chan mengerti?" tekan Naruto lagi.

Hinata mengerucutkan bibirnya kesal, tidak suka kalau dirinya di atur-atur seperti ini. "Lalu kenapa kau memanggilku Vampire-chan? Aku kan punya nama juga," ucapnya tanpa sadar.

"Kalau begitu beritahu aku namamu."

"…"

Glek!

Kuso, dia salah bicara!

Dari dulu Hinata memang pantang memberitahukan namanya pada manusia, apalagi Naruto. Kenapa dia bisa terjebak kata-katanya sendiri?!

'Ugh,'

Tidak ada cara lain. Sepertinya ia harus mengalihkan pembicaraannya, "Baik, baik aku akan memanggilmu Naruto sekarang. Senang?" menyerah dan mencoba membuat Naruto tidak terusik lagi dengan ucapannya tadi.

"….."

"Aku kan belum-"

"Ugh, kepalaku pusing~" Hinata memotong perkataan sang Uzumaki.

"Eh! Tu..tunggu sebentar!" rencana berhasil, Naruto terlihat panik dan melupakan hal tadi dengan cepat.

Gampang sekali mengalihkan perhatiannya~

[…..]

Berdiri tepat di depan Hinata, dengan lembut Naruto mengusapkan keringat yang sejak tadi menetes dari keningnya akibat terlalu panas dan pusing. Terpaan napas yang tidak sengaja mengenai wajah Hinata, membuat sang empunya reflek menutup mata. Aroma Naruto terasa menguar lebih kuat dari pada tadi.

'Kau harus tahan!'

"Kau sampai berkeringat seperti ini, apa kepalamu masih sakit, Vampire-chan? Aku bawa kau ke rumah sakit saja ya?" pertanyaan bertubi-tubi datang menghampirinya. Perlahan, manik Hinata terbuka sekilas, dirinya melihat walau kabur pandangan di mana wajah pemuda pirang di hadapannya terlihat sangat khawatir, dengan alisnya yang saling berkerut, pandangan matanya yang tertuju pada keningnya, dan tangan tannya yang masih sibuk mengelap keringat di sekitarnya wajahnya.

"…."

Hinata makin merasa ragu, dirinya terus bertanya-tanya. Setahunya, dulu ia tidak pernah melakukan hal yang sebaik ini pada Naruto. Hanya sekedar membawanya ke kedai Ramen dan mengajaknya berjalan malam. Itu saja, tapi kenapa sikap Naruto bisa berlebihan seperti ini?

"Naruto," dengan suaranya yang sedikit serak ia berusaha memanggil sang Uzumaki.

"Ya?" pandangan manik itu kini tertuju ke arahnya.

"Untuk apa kau melakukan hal ini?" Tanya Hinata cepat, membuat Naruto terheran-heran.

"Untuk apa? Maksudnya?"

"Ya, terlalu over peduli padaku." Ulang gadis itu,

Dan langsung di jawab cepat oleh si empunya, "Tentu saja karena aku khawatir kan. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

Masih belum menemukan titik terang, Ia kembali menjawab, "Kalau kau terus bersikap seperti ini, pertahanan dirimu otomatis melemah lho."

"Lalu?"

Plok, Hinata reflek menepuk jidatnya pusing. Pikiran pemuda ini benar-benar pendek, menghela napas untuk yang kesekian kalinya.

"Hah, kau tahu kan kalau aku ini Vampire, Naruto?" Ia kembali bertanya, dan kali ini benar-benar langsung ke titik pembicaraannya.

Sedangkan Naruto yang mendengarkan ucapan sang gadis kecil hanya mengangguk singkat, Dirinya sendiri juga belum tahu kemana alur perkataan gadis di hadapannya ini.

Mendengus pelan, mencoba menahan rasa sakit kepalanya, Hinata menatap Naruto semakin lekat, perlahan tangan kanannya terangkat dan menunjuk ke arah sang Uzumaki. "Bagi kami para bangsa Vampire, makanan sehari-hari yang tidak pernah boleh di lewatkan yaitu, apa kau tahu?"

Menaikkan alisnya cepat, Naruto mengingat beberapa buku yang pernah ia baca mengenai Vampire, atau sejenisnya. "Darah," jawab pemuda itu.

"Nah, kau tahu bukan. Kami mencari mangsa setiap malam, apapun itu baik, manusia, bahkan hewan sekalipun. Tapi yang paling kami suka itu meminum darah segar dari remaja-remaja yang muda sepertimu, Naruto." Hinata berujar panjang, berharap kalau Naruto berhenti memperlakukannya seperti ini. Karena semuanya akan sia-sia saja-

"….." Naruto terdiam, manik Saphirenya masih tetap menatap gadis Vampire itu. Kerutan di alis, tangannya yang tadi mengelap keringat yang menetes dari sang empunya terdiam.

"Maka dari itu, aku beritahu kau sekali lagi. Jangan memperlakukanku seperti manusia ataupun gadis-gadis pada umumnya. Kau bisa saja menjadi makananku suatu saat nanti, kebaikanmu ini tidak akan mendapatkan apa-apa. Kita itu berbeda, kau manusia dan aku Vampire. Lihat saja sekarang, tubuhmu berkembang dengan baik, wajahmu semakin berubah sampai-sampai aku hampir tidak mengenalimu,"

Ada sedikit jeda pada ucapannya, sampai-

Jemari putih sang Hyuga perlahan menunjuk kearah dirinya sendiri, menatap getir Naruto, "Sedangkan aku, tubuhku akan terus abadi. Wajahku tidak akan pernah berubah, hanya umurku saja yang bertambah, pertumbuhanku terhenti di usia tujuh belas tahun. Kau bisa dengan tenang berpergian kemana pun kau mau, tapi kami hanya bisa berkeliaran di malam hari. Kalau pun kami mampu berkeliaran di siang hari, semua itu hanya berkat bantuan sebuah obat. Jadi-" entah apa yang di rasakannya, saat mengatakan kalimat tadi. Perasaan tidak enak menjalarinya, sesuatu yang belum pernah terjadi pada Hinata.

"…."

"Kumohon, berhenti memberikanku kebaikan seperti ini. Semua yang kau lakukan sejak tadi begitu membuatku senang, tapi berhentilah. Sudah cukup, kuanggap janji kita dulu tidak pernah ada. Hentikan sikap polosmu itu, sikap protektivemu, dan semuanya. Kalau kita bertemu nanti, aku harap kau tidak lagi-" belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Tidak."

"…"

"A..apa?" berkerut bingung, Gadis indigo itu melihat tatapan ketidaksukaan dari sang Uzumaki.

"Kau berharap aku takut dan menjauhimu begitu?!" Tanya Naruto balik, nada suaranya terdengar meningkat.

Mau tak mau Hinata mengangguk pelan, memang itu yang seharusnya terjadi.

"Ya,"

"Aku tidak akan takut padamu!"

Hinata menggeleng cepat, "Kau harus!" Ia meremas jemarinya erat.

Naruto ikut menggeleng bahkan lebih keras, kedua tangan pemuda itu terkepal, "Sudah kubilang, aku Uzumaki Naruto tidak akan pernah menjauhimu!"

"Kau harus mendengarkan kata-kataku bocah pirang!" bentak Hinata keras, namun seolah-olah tidak memperdulikannya. Naruto malah melanjutkan perkataannya-

Pandangan Saphire itu semakin menatapnya intens, "Meskipun kau berbeda denganku, meski umur kita terpaut jauh, aku tidak takut karena dalam bayanganku selama ini kau tetaplah seorang gadis yang kucintai!"

"…"

Manik Hinata membulat lebar, menatap tidak percaya akan pandangan di hadapannya, akan teriakan yang tadi menyengat di telinganya. Tubuhnya bergetar tanpa sadar, kepalanya semakin berputar,

Semua terasa panas-

"Kau bodoh, Naruto! Bodoh, bodoh! Tidak seharusnya manusia menyukaiku!" Hinata ikut berteriak. Bukan ini yang dia inginkan! Naruto menyukainya?! Hinata kira ucapan pemuda pirang itu dulu hanya sekedar bercanda, tapi-

"Aku tidak peduli, Otakku memang bodoh! Kau boleh mengataiku semaumu,"

Memundurkan tubuhnya, Hinata menatap Naruto yang perlahan-lahan mendekatinya, ada apa dengannya. Kenapa tubuhnya bergetar hebat, kenapa hanya mendengar perkataan suka Naruto. Perasaannya gelisah, kalut, dan-

Ia tidak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata.

"Kau hanya akan menderita! Cukup, sekarang aku ingin kau hapus semua perasaanmu itu. Aku tidak mau kau menyukai gadis sepertiku! Carilah yang lebih baik, carilah yang sepadan untukmu!" Ia panik, saat Naruto memegang kedua pundaknya erat, sehingga Hinata tidak mampu mengalihkan pandangannya barang sedetik pun dari sang Uzumaki.

Sungguh, kemana sifat kuat, dan kerasnya tadi?!

"Aku..memang bodoh, aku bodoh karena menyukai seorang gadis yang sama bertahun-tahun lamanya. Menunggu saat dimana dia datang dan kita bertemu lagi. Menunggu saat aku bisa mengatakan kembali janji yang dulu sempat kukatakan. Jadi aku tidak akan menarik ucapanku!"

"….."

"Jangan mendekat!" Hinata berusaha keras mendorong dada bidang di hadapannya, tapi tubuhnya terlalu lemas untuk melakukan itu. Kepalanya berkunang-kunang, tubuhnya bergetar semakin hebat saat aroma tubuh Naruto semakin menusuk hidungnya. Leher tan sang Uzumaki terlihat jelas di matanya. Terekam dengan baik, dan hampir membuatnya lepas kendali.

Obat yang di berikan Kabuto benar-benar salah, dirinya tidak bisa mengendalikan diri lagi.

"Kumohon bocah lepaskan aku!" Hinata berteriak untuk yang kesekian kalinya.

Naruto tetap bersikukuh, sakit pemuda pirang itu melihat betapa menderitanya sang gadis Vampire. Maniknya menatap miris tubuh gadis di hadapannya bergetar, Ia ingin melepaskannya tapi Naruto tidak ingin Vampire yang di cintainya ini pergi lagi.

"Gomen, aku hanya tidak ingin kehilanganmu lagi Vampire-chan." Tanpa aba-aba, Naruto menarik tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, membenamkan wajahnya di leher jenjang sang gadis kecil.

"Jangan katakan kalau aku harus takut padamu, aku menyukaimu Vampire-chan. Sungguh, biarpun kau bukan manusia, biarpun kau selalu bersikap kasar padaku, tapi aku sudah terlanjur memiliki perasaan lebih padamu." pemuda pirang itu bergumam lirih.

"….."

Menusuk tepat di jantung Hinata, tubuhnya semakin bergetar hebat, kepalanya berkunang-kunang, airmata yang sejak tadi di tahan perlahan merembes dari pelupuknya. Ia senang, bahagia karena baru kali ini ada seseorang yang mencintainya begitu dalam, tidak takut dengan jati dirinya, dan mau memeluknya sehangat ini.

Demi apapun, Hinata ingin sekali membalas pelukan sang Uzumaki. Perasaan yang dulu mengganjal di hatinya, memikirkan kapan ia bisa melihat pemuda kecil itu lagi. Memikirkan Naruto,


"Nee, bocah, bagaimana keadaanmu sekarang?"

"Bocah, kau pasti sudah besar sekarang, dan tentu saja-"

"Hah~ dia pasti sudah melupakanku, ahaha~"


"Le…paskan aku, Naru..to-"

Tapi ia tidak bisa-

Mencintai Naruto hanya akan membuat beban pemuda pirang itu bertambah, membahayakan Naruto, menyakitinya. Dan Hinata tidak ingin semua hal itu terjadi. Pemuda ini harus mencari seorang gadis yang lebih baik darinya.

Bukan seorang Vampire abadi yang hidup dengan meminum darah sehari-hari. Bukan seorang gadis berhati dingin sepertinya!

"Tidak," gumaman pelan terdengar, Naruto menggeleng masih memeluknya.

"Naru-"

Ckiiittt!

"Ugh!" habislah sudah limit pengendalian dirinya, aroma tubuh Naruto sudah terlalu menusuk hidungnya. Hinata tidak bisa lagi mengendalikan pikirannya,

'Kumohon jangan lepas kendali! Kendalikan dirimu Hinata!'

"Ugh, kepa..laku-"

'Kendalikan dirimu!'

"Aku menyukaimu, Vampire-chan."

"…."

Syuhhh, darah, aroma anyir, cairan berwarna kental dan sangat segar yang sempat terekam di ingatannya kembali berdatangan.

"…"

'Kendalikan dirimu, Hinata!'

'Kendalikan!'

"Ugh!"

Grep! Tangan sang Hyuga reflek memeluk erat leher Naruto. Napasnya tidak beraturan, keringat semakin banyak menetes di keningnya-

"Darah,"

"….."

Hinata hilang kendali.

Greppp, "Se..sesak," Naruto mulai merasakan sesak napas, saat pelukan sang gadis kecil terasa sangat kuat mencengkram lehernya. Semakin lama pelukan itu bertambah kuat, membuat sang Uzumaki hampir tidak mampu bernapas,

"Vam..pire-chan, se..sak-"

"Darahmu pasti sangat segar, Naruto." Sebuah seringaian lebar terpampang di wajah Hinata, manik gadis itu perlahan memerah. Hal yang sangat jarang terjadi, mengingat perubahan warna mata klan Hyuga hanya akan terjadi kalau sang Vampire kehilangan pengendalian dirinya. Tidak sadar akan apapun, dan terlalu haus akan darah.

Naruto semakin sesak, Ia mencoba keras melepaskan pelukan leher sang gadis kecil. Tapi tidak bisa, tenaga yang di keluarkan Vampire ini terasa berkali-kali lipat lebih kuat dari pada dirinya.

"Ugh, na..pasku,"

"A..ahaha, Darah, aku haus, kau tahu itu Naruto~" nada sing a song yang di keluarkan Hinata, sukses membuat sang empunya terbelalak lebar.

Gadis ini menderita. Berkali-kali mencoba mengendalikan dirinya.

"…."

Maaf-

Grep, Naruto kembali memeluk tubuh Hinata, semakin erat, dirinya memejamkan mata seolah siap menerima apapun yang terjadi. Ia tidak ingin melepaskan sang Vampire.

"Darahmu akan ku-"

Ia-

"Aku menyu..kaimu, Vam..pire-chan-"

"…"

Dan-


"Ehehe, aku membawakan ini lho Neechan!"

"Wuaah! Naru mau foto sama mereka, terus mau jadi teman mereka, supaya bisa di ajak jalan-jalan saat malam hari!"

"Huoo! Neechan Vampire! Keren!"

"Wajah Vampire-chan jangan ditekuk seperti itu dong, kan jadi hilang cantiknya~"

"Mau nggak jadi calon istri Naru nanti?"

"Hiks, hiks, ja..jadi Naru akan ingat Vampire-chan terus?"

"Ya, asal kau berjanji."

"Hum! Naru janji!"


Brak! Tubuh Hinata menegang, gadis itu reflek mendorong tubuh Naruto menjauh darinya. Maniknya terbelalak lebar, napasnya kembali normal,

"Na..Naruto-" betapa kagetnya ia saat melihat pemuda pirang yang memeluknya tadi terjatuh di lantai dengan napas terengah-engah menahan sakit.

'Apa yang barusan kulakukan?!'

Otaknya tanpa sadar mengingat kejadian bersama Naruto dulu, membuat entah kenapa kesadarannya kembali normal. Tubuhnya bergetar hebat, tidak percaya akan apa yang di lakukannya. Melihat sang Uzumaki kesakitan di hadapannya dengan sebuah bercak merah yang terlihat di sekitar lehernya.

Gadis itu menggeleng kecil, tubuhnya bertambah lemas, kepalanya berkunang-kunang,

"Ti..dak," Ia bergumam pelan, hilang sudah sikapnya selama ini. Sekarang yang ada hanyalah Hinata yang terduduk lemas, dan bergetar hebat.

'Kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku!'

"Ugh,"

Erangan dari Naruto, sukses membuat Hinata tersentak kecil, dan langsung saja bersusah payah turun dari posisinya, mencoba untuk berlari meninggalkan sang Uzumaki.

"Sudah ku..katakan, kau..hanya akan mende..rita kalau bersamaku," dan setelah mengatakan kalimat terakhirnya, dengan terhuyung-huyung Hinata pergi dari sana.

[….]


Sementara Naruto-


Pemuda pirang itu mendecih kesal, dirinya memukul keras dinding di sampingnya.

"Kuso, bukan ini yang kumau!" melihat gadis yang di sukainya menatapnya takut, dan pergi dengan keadaan menahan tangis.

"Menjauhimu bukan satu-satunya cara yang benar!" sang Uzumaki segera bangkit dari posisinya dan bergerak mengejar Vampire itu. Meski tubuhnya masih lemas, Ia tidak peduli-

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi."

.

.

.

.

.


Di Sisi Hinata~


Terengah-engah, Hinata melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi tadi. Tangan mungilnya masih setia memijat pelan keningnya yang terasa sakit. Ia berusaha keras untuk tidak jatuh di sini-

Tidak sebelum ia pergi dan menjauh dari Naruto, sampai pemuda pirang itu tidak dapat mengejarnya.

"A..ku harus pergi dari si..ni-" bisiknya pelan, terhuyung-huyung Hinata berjalan, dan berharap kalau ia bisa segera keluar dari kedai itu.

Sebelum-

"Ah, adik kecil? Kenapa kau sendirian, Naruto dimana?" tiba-tiba saja, tubuhnya terhenti saat maniknya melihat dua orang gadis yang tidak lain, Sara serta Shion berdiri di depannya. Sepertinya mereka berdua sangat tidak sabar, dan ingin melihat keadaannya dirinya dengan Naruto.

Dengan terpaksa sang Hyuga mengadahkan wajahnya sekilas, dan kembali menunduk begitu sadar kalau warna matanya tidaklah sama lagi seperti tadi, "Na..Naruto-niisan katanya ma..sih ada uru..san di..dalam," ujarnya asal, entah urusan apa yang penting ia bisa menjawab dengan cepat. Walau dalam hati gadis ini sudah merutuk dan berteriak kesal, karena ada yang menghalangi jalannya.

"Urusan apa? Wajahmu bertambah pucat lho, apa kami perlu-"

Memotong ucapan Shion, Hinata menggelengkan kepalanya pelan, mencoba tersenyum tipis, "Ti..dak usah Neesan, aku ingin pulang saja, Arigatou sudah mau men..traktirku ma..kan," dan setelah mengucapkan kalimat nan panjang itu.

"Per..misi-" Ia melenggang pergi, tanpa menghiraukan lagi tatapan heran kedua gadis di sana, ataupun keempat remaja yang masih duduk di tempatnya.

Hinata hanya menebarkan senyumannya, dan berjalan cepat meninggalkan kedai.

'Aku harus mencari Kabuto,' Ya, gadis ini yakin sekali kalau professornya itu tengah mencarinya sekarang.

OoOoOoOoOoOOOoOoOoO

Manik Saphirenya terlihat gencar mencari seseorang, kakinya yang dengan cepat melangkah keluar dari kamar mandi. Dan bibirnya yang tidak henti-hentinya menggumamkan sebuah nama-

"Vampire-chan," bisikan lirih kembali terdengar, Naruto keluar dengan keadaan tubuh yang masih sedikit lemas gara-gara kejadian tadi. Tapi tetap tidak menghancurkan keinginannya untuk mengejar sang gadis indigo.

Sampai tepat saat ia benar-benar keluar dari sana, pemuda Uzumaki itu langsung di hadang oleh kedua temannya.

"Kenapa kau lama se-" dan untuk yang kesekian kalinya, ucapan Sara terpotong sempurna saat tangan kekar Naruto mencoba mendorong pelan baik pundaknya ataupun milik Shion. Seolah-olah pemuda pirang itu berniat menerobos dari hadangan mereka.

"Gomen, aku ingin keluar sebentar." Di barengi ucapan singkat, Naruto sukses berlari meninggalkan kedai.

"…"

Tanpa menghiraukan mereka berdua, dan membiarkan kedua gadis itu terdiam kaku di tempatnya.

Dengan wajah menahan amarah, dan-

Kesal.

"Ugh! Paling tidak, jawab pertanyaan kami dulu!" Shion dan Sara berseru kompak.

.

.

.

.

"Guk! Guk! Guk!" Suara gonggongan anjing terdengar nyaring saat ia berlari keluar, Kuro dengan ekornya yang masih setia bergoyang-goyang saat melihat kedatangan Hinata hendak menerjang sang empunya, walaupun sebuah rantai masih mengikatnya, tapi anjing itu tetap saja berusaha menggonggong lebih keras.

"…."

Dan bagi Hinata,

Ia tidak ada waktu untuk takut pada hewan itu. Sang Hyuga malah yakin begitu Kuro melihat perubahan matanya, gonggongan riang tadi akan berubah dalam sekejap.

Sret, dan benar saja saat ia menolehkan wajahnya melihat anjing hitam di sana,

"….."

"Grrr! Guk! Guk!" Geraman dan posisi siaga langsung Kuro lakukan. Anjing itu terlihat ketakutan, tubuhnya bergetar, dan taringnya perlahan mulai muncul.

Manik merah Hinata benar-benar membuat semua sikap riangnya tadi menghilang, gadis indigo itu hanya bisa mendengus singkat, "Sekarang giliranmu yang..takut pa..daku, hm?" dan setelah mengucapkan itu ia bergegas pergi.

Dengan tubuh terhuyung-huyung, dan kepala terasa semakin berdenyut.

"I..ni lebih baik,"

[…]

Mempercepat langkahnya, Hinata berlari lebih cepat. Napasnya mulai terasa sesak, padahal dia baru saja berlari beberapa menit, dan jarak antara dirinya dengan kedai Ramen itu masih terasa dekat. Gadis itu mulai gelisah, dan sedikit takut kalau-kalau Naruto yang notabene keras kepala itu masih berusaha mencarinya.

"Kabuto-san! Dimana kau!" tanpa menunggu lebih lama lagi, Ia berteriak kecil, matanya gencar melihat sekitar begitu juga ke arah atap-atap rumah di sekitarnya. Berharap laki-laki perak itu ada di sana.

Ia ingin secepatnya pulang, Hinata ingin tidur, dan berbaring, kepalanya sudah hampir pada limitnya. Dan dirinya sendiri tidak tahu kapan tubuhnya ini akan berhenti bergerak, sampai akhirnya pingsan.

"…." Melihat tidak ada respon, ataupun tanda-tanda kedatangan professornya, sang Hyuga berniat mengeluarkan lagi teriakannya, kali ini mencoba lebih keras.

"Kabuto-san!"

"…" masih tidak ada jawaban.

"Kuso!"

Menahan rasa kesalnya, gadis itu reflek memukul dinding di sampingnya. Tanpa menyadari sama sekali bahwa-

Bruaghh!

Trek!

"Eh?" suara keras tadi membuatnya heran, manik merahnya menoleh cepat ke arah pukulan tangannya tadi,

Sampai-

"A..apa ini?!" dirinya terbelalak ngeri saat melihat dinding yang tadinya masih terlihat utuh itu kini-

Re..

Retak?

"Ke..kenapa? A..ku hanya memukulnya pelan, tapi ke..napa retak!" sukses gadis manis itu bertambah panik. Dinding itu benar-benar retak, dengan bekas pukulannya di sana. Terpampang dengan jelas.

Astaga!

Tubuh Hinata bergetar, takut, gelisah, dan-

Bingung-

Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya saat ini! Pertama kepalanya berkali-kali bertambah pusing, kedua aroma tubuh Naruto yang membuatnya hilang kendali, yang ketiga ia tertarik dengan darah padahal masih dalam tubuh manusia biasa, dan yang keempat-

Pukulan ringannya tadi berdampak sebesar ini, dengan tangan mungilnya. Mustahil sekali bukan?!

"Aku..aku harus segera kembali, aku harus pulang, ini benar-benar gawat!" mencoba untuk berlari dan mencari Kabuto serta pelayannya.

"Kabuto-san!"

"Vampire-chan!"

"….."

Deg!

Tubuh Hinata membeku seketika, maniknya terbelalak semakin lebar, jantungnya berdetak keras. Barusan ia mendengar suara Naruto?

'Pasti itu hanya khayalanku saja!' menggelengkan kepala singkat, gadis itu hendak melanjutkan kembali aktivitasnya.

Sebelum-

"Tunggu!"

Lagi-

Suara itu terdengar kembali-

Ia tidak salah dengar,

Tanpa sadar, sang Hyuga membalikkan tubuhnya, dan alangkah kagetnya melihat seorang pemuda pirang kini tengah berlari ke arahnya.

Astaga!

"Ck, bocah itu-" menggeram kesal, dengan cepat ia membalikkan tubuhnya. Dan berlari menjauh.

"Ugh! Kubilang tunggu! Jadi jangan berlari!" teriakan Naruto terdengar nyaring, Hinata nyaris saja terjatuh mendengarnya.

"Ba..ka! Kau seharusnya tidak mengejarku!" Hinata balas berteriak, meski hanya teriakan kecil saja.

Tapi mampu di dengar oleh si empunya-

"Aku tidak akan mendengar kata-katamu, jadi berhenti di sana!"

Langkah kaki sang Uzumaki semakin mendekat, Hinata bertambah bingung. "Jangan mendekat bocah ingusan!"

"Namaku Uzumaki Naruto!"

Haah, pertengkaran jarak jauh pun terjadi. Kedua orang itu terus menerus saling mengejar, mereka benar-benar tidak menyadari kalau sedari tadi. Keenam teman-teman Naruto turut serta mengejar dari belakang. Karena penasaran dengan tingkah laku sang Uzumaki, dan memutuskan untuk ikut andil.

"Kau sedang apa Naruto! Kenapa malah kejar-kejaran dengan adik kecil itu!" Sakura berteriak bingung.

"Eh! Mi..minna! kenapa kalian ikut mengejarku! Tunggu saja di kedai!" Naruto kaget, saat menoleh ke belakang mendapati semua teman-temannya ada di sana.

"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaan kami berdua, Baka Naruto!" Sara berteriak keras, Shion mengangguk setuju.

"…."

'Ugh, sial, sial! Kabuto-san dimana kau!' orang yang mengejarnya bertambah. Sungguh Hinata tidak ingin menyentuh siapa-siapa sekarang!

'Aku harus..aku harus-' dirinya terlalu berkonsentrasi memperhatikan ke arah depan, sampai-sampai tidak menyadari bahwa Naruto semakin mendekatinya.

"Jangan-" dan belum sempat mengucapkan kalimatnya-

"Tunggu!"

Grep!

Tangan tan sang Uzumaki sukses menjangkau tangannya, menghentikan pergerakannya sekilas, sebelum tanpa sadar Hinata mengeluarkan reflek tubuhnya-

Tegang, kaget, dan takut semua ia keluarkan.

Dan

Tanpa basa-basi lagi-

"Huaa!"

Syuuttt! Gadis kecil itu melempar dengan mudah tubuh Naruto tepat ke arah teman-temannya berada. Membuat sang empunya terpelanting jauh, dan meringis sakit akibat perbuatan tiba-tibanya.

"Kyaa! Naruto!"

"Argh!" salah satu lengan yang sempat di genggam sang Vampire memerah, dan menimbulkan rasa nyeri yang begitu perih.

Keenam remaja di sana terbelalak kaget, masih sigap mereka menopang tubuh Naruto yang terpelanting tadi,

Gila!

Kekuatan macam apa itu! Anak kecil di depan sana dengan mudahnya melempar tubuh Naruto yang berkali-kali lipat lebih berat darinya.

"Dia..adik kecil itu tidak normal," Ino, dan Sakura menatap takut, sedangkan Sasuke dan Shikamaru dengan cepat memasang pose siaga. Keduanya menatap tajam kearah Hinata. Otak jenius mereka mulai berputar.

Sedangkan Sara dan Shion, kedua gadis itu menatap tidak percaya akan apa yang di lakukan adik kecil tadi. Khawatir melihat kondisi pemuda yang mereka cintai terluka seperti ini.

"Kau tidak apa-apa Naruto?" (Sara)

"Le…lebih baik kita menjauhinya," (Shion)

.

.

.

'Benarkan apa yang kubilang, kau hanya akan terluka bila berada di sampingku.' Menatap miris ke arah Naruto. Bisikan lirih terdengar,

"Kau bodoh, Naruto-" kepalanya mendadak berkunang-kunang, tubuhnya semakin melemas. Pandangan matanya mulai terasa kabur,

Gawat-

Ia tidak boleh pingsan di sini, Hinata harus pergi menjauh dari sini!

"Ka..kau, bo-"

Hyungg~

Tubuhnya tidak bisa menahan lagi beban dan penyakit yang di deritanya, gadis itu sudah terlalu lama menahan rasa sakitnya. Di tambah banyaknya kejadian mengagetkan membuat napasnya bertambah sesak, tubuhnya bergetar semakin hebat,

"Ck, Kusoo-"

Dan tanpa menunggu aba-aba lagi, tubuh Hinata jatuh begitu saja di sana. Ia tidak bisa lagi bergerak, semua pandangannya perlahan menghilang,

Gelap-

Lemas-

Haus-

Bruk! Sang Hyuga akhirnya pingsan.

"Vampire-chan!"

Naruto, berteriak dengan kacaunya, tanpa menghiraukan teriakan semua teman-temannya pemuda itu berlari menghampiri Vampire di sana. Tanpa menghiraukan apa yang ia teriakan tadi, memanggil nama sang gadis kecil begitu saja.

Semua tidak ia pedulikan-

Sekarang yang terpenting adalah mengetahui keadaan gadis yang sangat ia cintai-

Itu saja-

"…."

"…."

"Barusan ia berkata, Vampire-chan?" seseorang yang masih berdiam di tempat bersama kelima sahabatnya, terkaget-kaget, nama panggilan itu bukan sekedar bualan belaka. Ia tahu itu, alisnya berkerut cepat, matanya menatap tajam ke arah sang Uzumaki. Percuma menghentikannya,

"Vampire, hm? Mahluk mitos yang berbahaya." Gumamnya pelan, masih setia mengeluarkan tatapan tajam dan kerutan alisnya.

"Kalau memang benar dugaanku, berarti Naruto harus secepatnya ku-sucikan."

Kira-kira siapa orang itu? Dari keenam remaja di sana, salah satu dari mereka bukan berasal dari kalangan biasa. Bukan hanya manusia berstatus normal, mereka berbeda-


TO BE CONTINUED~


A/N :


Yoshhaa akhirnya Mushi bisa apdet juga, Gomen nggak bisa apdet tepat waktu. Mengingat jadwal yang makin padet, plus ficnya ada edit sana-sini. Mushi ulang baca, dan akhirnya entah kenapa ngerasa kecepetan, dan di edit lagi. Nah setelah di edit, ehh ternyata wordnya nambah banyak.

Yah, nggak apa-apa sih, banyak yang minta panjangin words ahaha. Disini udah panjang lho, 5000K. Nggak sesuai janji dulu #plak# Moga-moga kalian nggak bosen ya baca ini fic :D

Kayaknya untuk chap selanjutnya Mushi nggak bisa apdet hari sabtu dulu, jadi maaf ya :D #ojigi#


Spoiler :

Chap depan, Tubuh Hinata akan kembali lagi, dan moment NaruHinanya akan semakin bertambah :D


oOoOOoOoOoOoOOoOo

Answer :

Efek Sampingnya? Yups, sepertinya yang udah ada di atas, Hinata tidak bisa mengendalikan diri sama tenaganya, dia jadi lebih kehausan akan darah. Selain karena efek obat, tapi karena tubuhnya juga melemah.

Kiss NaruHina? Huaa, untuk itu akan mushi buat pas moment tepat, Hinatanya masih takut ngelukain Naruto. Jadi di tunda dulu muaahaha #gampar# :D

Tubuh Hinata kembali, dan jadi lebih agresif? Wah, ini masih belum kembali aja udah agresif banget #tampar#

Kurang Sreg rasanya Hinata manggil Naruto 'bocah' : Ahaha, Mushi juga rasanya kayak gitu, nah untuk di chap ini. Hinata sudah berjuang keras lho manggil nama Naruto. Biarpun kadang kali dia keceplosan juga yak manggil 'bocah'#di bakar Hina# ._.a

Jika ketahuan Hinata bertemu Naruto, apakah rumah utama Hyuuga ambil tindakan? Um, Mushi belum bisa ngasih tahu apa-apa dulu, soalnya kan masih rahasia muahaha #plak# :D Di tunggu aja yaa :D

Temen2 Naruto bakal tau kalo Hinata itu Vampire nggak? Menurut kalian di chap ini mereka pada tahu? #balik nanya# tapi Mushi coba fokusin pada satu orang dulu :D

Apakah terkesan seperti Naruto yg mengejar Hinata? Iyaa, Hinatanya masih nggak mau Naruto suka sama dia. Tapi eh tapi Narutonya malah ngotot, dan terus ngejar Hinata :D #Mushi suka banget sama fic kayak gitu # XD

Adegan romance dong buat NaruHina, ada slight pairing gk? Okee, ini udah ada,walaupun Mushi nggak tahu kalian puas atau enggak muahaha XD Kalo masalah slight pairing, umm kayaknya enggak ada deh. Mushi pengen namatin fic ini cepet2 :D

Apa Hinata akan meminum darah Naruto, mengingat dia sangat kehausan tadi dan lagi kekuatan Vampirnya nggak hilang sepenuhnya ya? Semuanya udah terjawab di atas, Hinata hampir saja minum darah Naruto. Tapi berhasil di cegah, yup efek samping obatnya juga membuat kekuatan Vampire Hinata perlahan-lahan balik lagi.

Sad End? Mushi punya dua beda ending lho, yang satu happy dan yang satu sad. Hayoo, mau yang mana? #plak# XD

oOoOoOoOooOoOoOoOo


Big Thanks buat yang sudah me-riview, mem-fav, dan mem-follow fic Mushi #peluksatu2#muaacchh#dibakar#

Arigatou #ojigi#


Segitu aja deh Cuap-Cuap dari Mushi

Kalau begitu Akhir kata kembali

SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7

JAA~