"Vampire-chan!"

Naruto, berteriak dengan kacaunya, tanpa menghiraukan teriakan semua teman-temannya pemuda itu berlari menghampiri Vampire di sana. Tanpa menghiraukan apa yang ia teriakan tadi, memanggil nama sang gadis kecil begitu saja.

Semua tidak ia pedulikan-

Sekarang yang terpenting adalah mengetahui keadaan gadis yang sangat ia cintai-

Itu saja-

"…."

"…."

"Barusan ia berkata, Vampire-chan?" seseorang yang masih berdiam di tempat bersama kelima sahabatnya, terkaget-kaget, nama panggilan itu bukan sekedar bualan belaka. Ia tahu itu, alisnya berkerut cepat, matanya menatap tajam ke arah sang Uzumaki. Percuma menghentikannya,

"Vampire, hm? Mahluk mitos yang berbahaya." Gumamnya pelan, masih setia mengeluarkan tatapan tajam dan kerutan alisnya.

"Kalau memang benar dugaanku, berarti Naruto harus secepatnya ku-sucikan."

Kira-kira siapa orang itu? Dari keenam remaja di sana, salah satu dari mereka bukan berasal dari kalangan biasa. Bukan hanya manusia berstatus normal, mereka berbeda-


Vampire-chan! I Will Get You!

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, A Little bit Humor, Fantasy, Friendship

Pair : Naru x Hina(RTN)

Warning : Typos, OOC luar biasa, Hinata RTN, AggressiveNaru

Sequel 'Vampire-chan! Please Love Me?!'

OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Enjoy~

OooOOoOoOoOoOoO


Chapter 6 : Stay Together?!


Panik setengah mati, Naruto menyentuh pipi gadis kecil di pelukannya. Kulit putih itu perlahan-lahan terasa dingin, perasaan takut tak ayal menjalarinya. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tiba-tiba gadis yang beberapa tahun muncul di hadapannya kembali datang dan yang lebih mengagetkannya lagi dalam tubuh anak kecil seperti ini?

"Hei, Vampire-chan bangun?!" setengah berbisik pemuda pirang itu menepuk pelan pipi sang gadis kecil.

Tapi-

"…"

Tidak ada respon, sang gadis indigo masih terpejam. Tidak sadarkan diri, membuatnya bertambah khawatir. Ia tidak bisa diam saja melihatnya-

'Aku harus membawanya ke-' memikirkan kata rumah sakit, tubuh itu tersentak seketika. Naruto terdiam beberapa detik, saat mengingat kembali bagaimana keras kepalanya Vampire di pelukannya tidak ingin ia ajak ke rumah sakit. Memberontak dan memaksakan penyakitnya?!

"….."

Ia memutar otaknya kembali, sebersit ingatan muncul kalau gadis ini bukanlah gadis biasa pada umumnya-

'Kenapa aku lupa!'

Gadis ini seorang Vampire! Dan ia berniat mengajaknya ke rumah sakit? Bagaimana nanti kalau ada seseorang yang tahu tentang masalah serumit ini? Bagaimana nanti reaksi mereka? Dan yang terpenting, apa yang akan mereka lakukan bila mendapati seorang Vampire yang dianggap mitos kini berbaring lemah di rumah sakit?!

"Kuso!" menggeram kecil, tanpa menunggu lebih lama lagi. Dengan hati-hati, Naruto langsung mengangkat tubuh mungil gadis di hadapannya. Maniknya menatap khawatir, saat melihat kulit itu bertambah pucat serta keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya.

Pandangan manik itu menatap sekitar dengan cepat, memikirkan cara di saat seperti ini. Tidak memperdulikan bagaimana tubuh itu sakit saat sang gadis membantingnya tadi.

Harus kemana dia membawa gadis kecil ini?!

"Naruto, kau tidak apa-apa?!" Shion dan Sara yang ikut reflek mengejar Naruto, berdiri di belakang pemuda itu heran. Mendapati sang Uzumaki kini tengah memeluk erat tubuh yang tadi tumbang. Wajah yang pucat dan konsetrasi tertuju pada satu titik membuatnya sama sekali tidak mendengarkan pertanyaan kedua gadis di belakangnya.

'Aku tidak boleh membawanya ke rumah sakit, ke rumah Shion, Sara, Ino atau Sakura? Tidak tidak bisa-bisa nanti Vampire-chan ngamuk. Lalu kemana?!' pusing setengah mati, tubuhnya yang sedikit nyeri akibat terbanting kini perlahan-lahan terasa.

Mengernyit sakit, tubuh dalam pelukannya semakin dingin. Apa yang terjadi?! Wajah gadis kecil yang sejak ia bertemu hangat kini bertambah pucat.

'Kemana kemana?!'

Memikirkan dengan kritis, sampai akhirnya sebuah ide terlintas. Kalau ia tidak ingin menginapkan Vampire kecil ini ke teman-temannya, jadi-

"…"

Menatap sekilas wajah di pelukannya, "Terpaksa." Mendesah panjang, perlahan tubuh tegap itu bangkit. Membuat kedua gadis di belakangnya heran.

"Kau mau membawa gadis itu kemana, Naruto?" Sara bertanya, memegang pundak sang Uzumaki cepat. Menghentikan gerakan pemuda itu.

Diikuti dengan teman-temannya yang lain mengikuti-

Naruto berbalik, dengan cengiran yang di paksakan, "Aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit, jadi aku ingin mengajaknya-" ucapannya terhenti, saat tubuh tegap Sasuke berjalan ke arahnya. Pandangan Onyx itu menatapnya tajam, wajah yang selalu datar itu kini teralih ke arah gadis kecil dalam gendongannya.

Heran tentu saja-

Alis Naruto berkerut, bertambah lagi ketika melihat salah satu tangan Sasuke terangkat hendak menyentuh pipi sang gadis kecil.

"Pucat." Bergumam tipis dan sanggup ia tangkap. Perasaan aneh itu semakin menjalar, dan pada endingnya-

"Hn, anak kecil ini-"

Plak!

Dengan cepat tangan tannnya menepis tangan sang raven. Membuat pemuda itu tersentak, menatapnya semakin tajam. Bibir tirus itu hendak mengatakan sesuatu, sebelum-

"A..ah! Kalau begitu aku pulang dulu, gadis kecil ini butuh perawatan!" berujar keras, dengan cengiran kikuk. Melewati tubuh semua teman-temannya. Hendak melepaskan ikatan Kuro di tiang dekat kedai ramen.

Perasaan tidak enak itu, ia berusaha untuk mengenyahkannya. Ya, Sasuke mungkin cuma penasaran saja, tidak ada maksud lain. Pasti.

OoOoOoOoOoOoOoO

Melihat kepergian Naruto yang tergesa-gesa, sukses membuat semuanya mengernyit heran. Kening Sara dan Shion tertekuk sempurna. Tidak suka melihat kedekatan pemuda pirang itu. Terlalu aneh menurut mereka, lihatlah sikap Naruto yang menganggap aksi pelemparan tubuhnya tadi oleh sang anak kecil.

Dia sama sekali tidak marah atau takut. Malah terlihat khawatir saat mendapati perempuan kecil itu jatuh pingsan. Mereka juga kaget tapi tidak seperti Naruto.

Pemuda pirang itu seperti menyembunyikan sesuatu pada mereka.

Sasuke yang terdiam sejak tadi, ikut melihat gerak-gerik Naruto. Tentu saja gadis kecil itu ikut andil. Bibir yang terdiam datar kini melengkung ke bawah. Jemarinya yang terbebas mengepal tanpa sadar.

Kedua Onyx yang berkilat, mengidahkan tangan Sakura yang hendak menyentuh pundaknya.

"Sasuke-kun, kau tidak apa-apa?" hendak menyadarkan kembali sang raven, namun tangan Sakura tertepis pelan. Sedikit membulatkan maniknya, menatap tubuh tegap di hadapannya perlahan kembali berjalan.

"Aku pulang." Beriringan dengan kalimat nan datar, dan melangkahkan kakinya semakin menjauh.

Sakura menatap wajah Ino, berniat untuk menanyakan sesuatu. Tapi gadis pirang itu juga mengendikkan bahunya singkat.

"Kenapa semuanya jadi aneh saat anak kecil itu datang?" menghela napas panjang, Ino mmemutar kedua bola matanya.

"Mendokusei, lebih baik aku pulang juga." Shikamaru menguap lebar, melambaikan tangannya sekejap dan berniat untuk pulang. Sebelum Ino mengikuti langkahnya.

"Heh? Mau pulang? Kalau begitu aku juga, rumah kita kan searah. Jaa, Aku pulang juga teman-teman!" gadis pirang itu ikut melambai kecil. Mengikuti langkah Shikamaru, membiarkan Sakura, Sara dan Shion bertiga di sana.

Dua orang menggerutu dan yang satunya lagi tertawa kikuk. Tidak ingin masuk ke dalam lingkaran cemburu sahabat-sahabatnya. Ya, Sakura tahu sekali kalau baik Shion maupun Sara keduanya sangat menyukai Naruto. Dan aura cemburu sudah menguar sejak tadi, di tambah lagi melihat Naruto menggendong tubuh perempuan lain. Biarpun anak kecil sekalipun, ckck-

Sakura tidak mau ikut-ikutan, jadi lebih baik dia ikut pulang juga-

"A..aa, aku juga harus pulang. Jaa nee," melangkahkan kakinya cepat dan melambai pelan. Langsung saja ia segera pergi dari sana.

.

.

.

.

.

.


Kembali pada Naruto-


Napas pemuda itu terengah-engah, kelelahan. Menggendong tubuh gadis kecil dan menarik Kuro untuk terus berjalan cepat setengah berlari tentu saja. Ia harus cepat membawa Vampire kecil ini ke rumahnya. Tempat yang paling aman yang pernah ia pikirkan.

Mengingat bagaimana sang Vampire yang sama sekali tidak ia ketahui di mana tempat tinggalnya dan entah kenapa Naruto tidak rela melepaskan gadis ini begitu saja. Mereka baru bertemu hari ini dan tidak mungkin ia membiarkan perpisahan itu terjadi lagi.

"Hh, cepat, ayo Kuro!" berteriak kecil, menyemangati anjingnya. Malam sebentar lagi datang, dan kakinya sudah melangkah secepat mungkin.

Benar-benar tidak memperkirakan bagaimana nanti reaksi kedua orang tuanya saat ia membawa seorang gadis kecil tiba-tiba. Apalagi ibunya-

OoOoOoOoOoOoOoOoOoO

"Naruto! Kau membawa anak siapa ini?!" dan benar saja-

Saat dirinya hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Melepaskan sepatu yang di gunakannya, dan hampir saja berhasil masuk ke dalam rumah dengan mulus sebelum-

Sang ibu yang tidak sengaja lewat dengan membawa pakaian yang sudah terlipat di pelukannya, sukses menoleh pelan. Memperhatikan dengan wajah kosong beberapa detik, melihat cengiran kikuk putranya, dan-

"Aa..Tadaima Kaasan~"

"…."

"…"

Dan teriakan di atas kembali terulang.

Lipatan baju di pelukan Kushina terjatuh, wajah wanita itu berubah garang. Rambut merahnya berkibar dan langkah kaki penuh hentakan berbunyi. Apa-apaan putranya tiba-tiba datang dan menggendong seorang gadis kecil? Jangan-jangan Naruto tidak sengaja menabrak gadis itu, dan membuatnya terluka? Tapi putranya kan hanya membawa Kuro jalan-jalan, bukannya tengah mengendarai mobilnya.

Oh apa jangan-jangan anak ini-

"Woo..wo..Kaasan! Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu!" Naruto segera mengusir prasangka buruk ibunya. Jangan sampai ibunya pikir kalau gadis kecil yang dia gendong adalah anak terlarangnya.

Masih mendelik, dan mendekati putranya. Mencoba memperhatikan sosok gadis kecil yang kini berada di pelukan Naruto.

"Jelaskan pada Kaasan sekarang, siapa gadis kecil ini." dengan nada penekanan, wajah wanita itu perlahan mendekat, tangannya terangkat dan maniknya menjelajahi seluruh tubuh sang gadis kecil.

"…." Terdiam sesaat sampai akhirnya-

Gyut-

Reflek wanita berambut merah itu mencubit lembut pipi di sana. Sedikit mengernyit ketika merasakan suhu tubuh dingin dari sang empunya. Tapi tangannya tidak berhenti mencubit ataupun menekan pipi chubby di hadapannya.

"Hm, kenapa gadis kecil ini dingin sekali suhu tubuhnya?" bertanya cepat.

"Mm, begini Kaasan tadi aku-" sebelum sempat berbicara, ibunya dengan sigap memotong-

"Wajahnya juga pucat, kau apakan dia?" wanita bernama Kushina Uzumaki tersebut kembali bertanya. Seolah mengidahkan perkataan putranya dan-

"Kaasan-"

"Ah, keringatnya juga banyak sekali keluar. Dia harus segera di mandikan, oh atau mungkin Kaasan akan mengelap keringatnya." Kushina masih asyik dengan pikirannya sendiri. Naruto sweatdrop.

"….."

"Kaasan kau mendengarkanku?"

"Akan Kaasan masakan sup tomat untuknya, hm apa lagi. Oh baju juga, tubuhnya berkeringat pasti tidak enak sekali menggunakan baju ini."

Padahal tadi baru saja marah dan sekarang-

"Kaasan katanya mau dengar alasanku?" sedikit merengut kesal, dan menjauhkan tubuh Vampire kecil dari sentuhan ibunya. Membuat sang Uzumaki tersadar kembali, mendehem. Mengembalikan wajah garangnya.

"Ehem, untuk masalah itu kau bisa jelaskan nanti. Sekarang yang terpenting kita harus merawatnya, sepertinya dia sakit. Tubuhnya dingin sekali, Kaasan takut terjadi apa-apa. Ck, gadis kecil nan manis ini harus di rawat." Berujar panjang lebar, dengan kedua manik yang masih tertuju jelas pada sosok di sana.

Menghela napas panjang-

Syukurlah-

Sang ibu terlena dengan wajah manis yang di perlihatkan sang Vampire kecil, ya memang dari awal juga Naruto pun ikut tersihir sama keimutan gadis ini. Eitt, bukan berarti dia seorang pedophile tolong di catat!

"Hh, akan kubawa dia ke kamarku." Hendak melangkahkan kakinya kembali,

"Apa?! Kamarmu?! Kaasan tidak mau ya gadis kecil ini kau tidurkan di kamarmu yang tak pernah kau bersihkan!" berteriak kecil dan berkacak pinggang. Naruto merengut pelan, memajukkan bibirnya perlahan.

Tentu saja bahaya kalau menidurkan gadis ini di tempat lain, selain kamarnya. Bisa saja terjadi sesuatu nantinya dan dia tidak tahu? Kan gawat!

"Tidak, gadis kecil ini akan kujaga di kamarku. Sebentar lagi aku akan membersihkan kamarku Kaasan. Aku janji~" mengelak cepat, dan dengan sigap berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.

Tanpa mengidahkan pekikan dan protesan sang ibu.

.

.

.

.

Dan di sinilah gadis kecil itu berakhir, terbaring lemah di atas tempat tidur berukuran king size, sebuah ruangan yang sekarang sudah tertata dengan rapi. Berbeda dengan kondisi beberapa jam lalu.

Dengan tubuh yang masih mengeluarkan keringat, dan suhu tubuh yang kini benar-benar kembali menjadi dingin. Persis seperti saat ia menjadi Vampire, atau bisa di bilang. Kali ini Hinata sudah kembali lagi menjadi bangsa tersebut.

"Fuh, malam-malam membersihkan kamar. Hanya untukmu, Vampire-chan~" berdiri merenggangkan tubuh terutama bagian punggungnya. Kedua manik Saphire itu masih memperhatikan dengan jelas sosok mungil yang kini sengaja ia selimuti dengan selimut tebal.

Satu jam membersihkan kamar, dan tidak membiarkan terlebih dahulu sang ibu untuk masuk ke dalam kamarnya. Setidaknya, gadis Vampire itu sudah dapat beristhirahat sekarang. Walaupun-

Naruto tidak yakin kondisinya sudah membaik-

Kerutan alis terlihat, berjalan perlahan mendekati gadis kecil itu-

Keringat masih menetes deras tapi tubuh sang empunya benar-benar dingin. Persis seperti orang yang tengah demam, tapi kali ini perbedaannya hanya suhu tubuhnya saja yang tidak wajar.

Sangat..sangat dingin-

"Ugh~"

Sedikit tersentak mendapati gerakan kecil yang di buat gadis di sana, sukses membuat Naruto semakin mendekati tubuhnya. Ia terduduk di pinggir tempat tidur. Memperhatikan baik-baik raut wajah yang kini berubah menjadi tidak nyaman.

Dengan kedua manik yang masih menutup tapi gerakan tubuh perlahan terlihat-

Apa yang Vampire ini pikirkan?

"Vampire-chan," berujar pelan, mengangkat salah satu tangan dan dengan lembut menyeka keringat yang menetes dari rahang pipi sang gadis kecil. Menatap khawatir, tak lupa juga Naruto mengecek suhu tubuh Vampire itu pada keningnya.

"Ugh, hh~" napas yang terengah-engah, dan gerakan tubuh itu masih ada.

"Ssh, tenanglah. Jangan gelisah seperti itu, Vampire-chan." Mencoba menenangkan, dan membuat gerakan itu terhenti. Naruto benar-benar tidak tega melihat wajah di dekatnya ini terlihat kesakitan. Apa dia salah membawa sang Vampire kecil ke sini?

Apa…apa keegoisannya lah yang membuat gadis ini harus menderita? Seharusnya tadi ia membiarkan sang empunya pergi, bukannya melarang bahkan setengah mengancam membiarkan Vampire ini menuruti permintaannya.

"Gomen Vampire-chan, aku membuatmu seperti ini." merasa sangat bersalah, menatap tubuh mungil di hadapannya.

Sampai akhirnya-

"…."

Tok! Tok!

Suara pintu terketuk, "Naruto, kau sudah selesai membersihkan kamarmu? Kaasan ingin menyeka keringat gadis kecil itu!" sedikit nada teriakan terdengar nyaring, membuat Naruto tersentak dan menoleh ke arah sumber suara. Helaan napas panjang keluar, sang Uzumaki mengangkat tangannya, dan bergegas bangkit dari posisinya.

"Hh, iya iya tunggu sebentar."

Hendak melangkahkan kakinya, sebelum sebuah tangan mungil yang entah kenapa tiba-tiba bergerak kembali. Menggenggam balik tangannya-

"Bo..cah-"

Kaget, seolah mengidahkan panggilan sang ibu di luar sana. Pandangan Naruto tertuju cepat pada sosok di belakangnya kini.

Maniknya membulat, memperhatikan sosok tersebut menyipitkan pandangan, dan terlihat sayu-

"Va..Vampire-chan, kau sudah sadar?!" setengah berteriak senang, dan bergerak mendekat.

"Di..mana..aku?" bertanya cepat, sang empunya hendak bangun. Dan tentu saja Naruto tidak membiarkannya. Pemuda itu menggeleng pelan, mendorong lembut pundak Vampire kecil di sana, membuatnya kembali tidur.

"Beristhirahatlah sebentar lagi, kau sedang berada di rumahku sekarang."

"Naruto!" Kushina kembali berteriak untuk yang kesekian kalinya, Naruto mengerjap kaget.

"Tunggu sebentar di sini." Berujar pelan, dan cepat-cepat melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar.

"…."

Meninggalkan sang Vampire di sana-

"…"

OoOoOoOoOoOoOoOoOOoO

Hinata akhirnya sadar, terbaring lemah dengan kedua manik yang kini sudah kembali seperti semula. Berwarna Lavender, warna merah darah itu sudah menghilang. Menatap langit-langit kamar, pusing di kepalanya masih terasa. Tapi sepertinya sudah sedikit membaik, dirinya mendapatkan waktu untuk beristhirahat atau lebih tepatnya pingsan tadi.

"Hh." Menghela napas panjang, perlahan tangan mungil itu terangkat. Kedua matanya memandang sendu.

Suhu tubuhnya, detak jantung, darah yang mengalir di tubuhnya, dan warna pucat kulitnya-

"Tubuhku masih seperti ini tapi wujud Vampireku sudah kembali." Berujar, merasakan efek samping yang di terimanya.

Dia baru tahu, kalau sakit yang di deritanya pun perlahan menghilang. Tidak ada lagi bersin, hanya tersisa pusing dan-

Tubuhnya yang entah kenapa merasakan dingin yang amat sangat. Biasanya tidak seperti ini, tapi kenapa sekarang berbeda seratus delapan puluh derajat?

"Kh, dingin sekali." Dengan tubuh dingin tapi keringat masih mengucur dari pelipisnya. Hinata terlalu fokus dengan kondisinya, sampai-sampai tidak menyadari bahwa Naruto telah membuka pintu kamarnya dan ikut serta mengajak seorang wanita berambut merah mendekatinya-

"Gadis kecil kau sudah sadar?" suara nan lembut itu bukannya membuat Hinata tenang melainkan-

DEG!

Kaget setengah mati, tubuhnya yang terbaring seketika bergerak cepat. Ingin bangun tapi tenaganya seolah terkuras, jadi yang ia lakukan hanya meringsek menjauh dari wanita itu.

"Bo..cah! Si..siapa wanita ini?!" dirinya benar-benar takut kali ini, tubuhnya yang gemetar. Kedua manik menatap tajam. Dengan penciuman yang sudah kembali seperti semula, bisa ia rasakan aroma darah dari wanita merah itu perlahan-

Berdesir lembut, membuatnya meneguk ludah-

Naruto ikut panik, sedangkan Kushina berjengit heran.

Cepat-cepat, sang Uzumaki pirang menenangkan Vampire kecil di sana. "A..aa, tenang dulu, Vam-" hampir keceplosan bicara. Kalau saja Hinata tidak membentaknya.

"Bocah!"

"E..eto, adik kecil..kau..kau tidak usah khawatir. Ini Kaasanku, dia akan merawatmu." Menjelaskan dengan sekilas.

Pandangan tajam itu masih ada, bahkan terlampau waspada. Hampir saja Naruto membongkar rahasianya, karena kalau sampai wujud aslinya ketahuan. Ia tidak tahu apa yang di lakukannya pada wanita ini.

"…"

Sedangkan Kushina-

Wanita itu masih menatap bingung, tubuh gadis kecil itu masih gemetar. Apa dia ketakutan melihatnya? Setahunya wajahnya tidak seseram itu. Kushina tidak bisa marah begitu saja pada gadis kecil ini-

Berjalan pelan, menghampiri sosok yang kini menarik sebuah selimut besar di dekatnya. Menyembunyikan dirinya dan hanya memperlihatkan setengah wajahnya saja-

Sangat lucu tentu saja,

"Nee, kau tidak usah takut pada Basan gadis kecil~" mengeluarkan suara lembutnya dan mengangkat salah satu tangan hendak menyentuh puncak kepala sang empunya.

Tapi Hinata menghindar cepat, dirinya masih tidak terbiasa dengan orang baru.

Naruto yang melihatnya mengerjap maniknya singkat, dan perlahan mendekati gadis itu, memutar dari tempat tidurnya dan kini mencoba duduk di samping sang Vampire. Melirik ke arah sang Ibu. Memberikan sinyal batin, 'Biarkan aku bicara dengannya sebentar, Kaasan.'

Kushina mengerti, wanita itu mengangguk pelan. Dan menjauh, menaruh baskom yang telah ia bawa di atas meja. Ia mengecek kamar putranya kali ini.

"…."

"…"

"Vampire-chan~"

Hinata marah-

Gadis itu menatap tajam ke arah Naruto, mendelik dan melontarkan kata-katanya dalam bentuk bisikkan, "Bocah! Apa…yang kau lakukan hah?! Membawaku kemari, dan membiarkan ibumu melihatku!" kedua tangannya mengepal, betapa inginnya Hinata pergi sebelum keadaan menjadi lebih buruk lagi. Namun kekuatannya belum pulih secara menyeluruh, bahkan ia tidak bisa berdiri. Hanya dapat berbaring dan duduk, itu pun dengan susah payah.

Sang Uzumaki menunduk pelan, menatap sosok mungil di depannya dengan mata bersalah-

"Gomen, aku..aku hanya panik melihatmu pingsan tadi. Jadi karena kau tidak mau kubawa ke rumah sakit, aku membawamu ke rumahku." Menjelaskan dengan pelan.

Reflek membuat Hinata menepuk keningnya, menghela napas panjang-panjang. Menutup matanya perlahan dan kembali membukanya, "Kenapa kau mengejarku tadi? Bukannya sudah kubilang kalau aku tidak ingin berdekatan denganmu lagi, Naruto." Dengan penekanan nada, Hinata menatap lekat ke arah Naruto.

"Tidak, aku tidak mau melakukannya." Dan kekeraskepalaan Naruto ternyata masih berakar di otaknya. Lihat saja wajah mengeras dan pura-pura tidak ingin mendengarkan ocehannya tadi.

"Kau keras kepala sekali," hendak berbicara lebih jauh, tapi wajah Naruto seolah tidak peduli. Pemuda itu malah mengerucutkan bibirnya dan menatap ke arah ibunya.

"Oi!"

"Kaasan, adik kecilnya sudah tidak takut lagi padamu." Naruto berujar singkat, Hinata mendelik gemas.

Sosok wanita merah di sana, terlihat senang dan bergegas mendekatinya.

"Kaasanku tidak akan menyakitimu, jadi biarkan dia mengelap keringatmu, Vampire-chan." Melanjutkan kata-katanya. Sang Hyuuga tidak terima, dia belum mengatakan apa-apa!

"A..apa?! Aku tidak mau-" kalimatnya kembali terpotong saat menatap pandangan Saphire itu tertuju ke arah pakaian yang di gunakannya.

Setengah berbisik, "Jadi kau lebih memilih untuk membiarkan bajumu basah oleh keringat atau menggantinya dengan yang baru. Aku sih tidak masalah, kalau kau tidak mau ganti baju, Vampire-chan." Dengan seringai kecil, sukses menaikkan bulu kuduk Hinata-

Wajah pucat itu berubah panik, tidak bisa memerah lagi karena efek ramuan Kabuto telah menghilang. Jadi sebagai pengganti, hanya teriakan pelan dan delikan tajam yang bisa ia berikan.

"Bocah mesum!"

"Hei, aku sudah tujuh belas tahun. Jadi wajarkan kalau aku mengatakan itu~" dan perkataan terakhir Naruto sukses membuat dirinya terkena pukulan pelan di perut.

.

.

.

.

.

.

Dan beginilah akhirnya, Hinata yang pasrah saja saat tangan hangat dari Ibu Naruto menyentuh keningnya. Ia sudah terlalu lelah untuk bergerak banyak, di tambah lagi keringat ini-

Membuatnya semakin tidak nyaman-

Lengket dan bau, dalam hati mengernyit jijik. Terbayang sekali sejak siang tadi ia berlari-lari, dengan kondisi sakit dan sudah di pastikan berapa tetes keringat mengalir dengan mulus dari tubuhnya.

"Hm, kenapa suhu tubuhmu dingin sekali gadis kecil?" bertanya bingung. Sungguh Kushina heran, baru kali ini ia merasakan suhu dingin seperti ini, apa gadis di depannya sekarang sakit keras? Tapi wajahnya masih terlihat tenang, walau gemetar di sana masih terpampang jelas.

"Aku hanya demam saja, Arigatou Basan." Berujar singkat, Hinata terperanjat kaget saat mendapati Kushina hendak mengambil sebuah thermometer di atas meja.

"Basan! Tidak usah..mengukur suhu tubuhku. Aku..aku baik-baik saja, benarkan Naruto-niisan." Setengah menekan kalimatnya. Hinata yang sudah sadar sepenuhnya, untung saja reflek memanggil Naruto dengan embel-embel 'niisan' karena tadi dirinya benar-benar kelepasan memanggil pemuda itu dengan sebutan bocah.

Berharap dalam hati Kushina bisa memahaminya-

Sang wanita merah kembali bingung, wajah panik gadis indigo di dekatnya terlihat jelas saat ia hendak mengambil benda pengukur suhu di atas meja. "Tapi Basan harus mengecek suhu tubuhmu dulu, bisa gawat kalau nanti terjadi apa-apa denganmu~" menjelaskan, dan masih melanjutkan kegiatannya mengambil benda tersebut.

Hinata mendelik ke arah Naruto, jangan sampai wanita ini tahu kalau suhu tubuhnya berada di luar batas kenormalan manusia.

Seolah mengerti maksud Vampire kecil itu, cepat-cepat Naruto mengambil Termometer. Lebih cepat di banding ibunya-

"A..ah! Lebih baik jangan Kaasan, adik kecil ini ada sedikit trauma dengan yang namanya Termometer. Dia pasti hanya demam biasa dan butuh isthirahat saja." Mencari alasan yang tepat,

"…."

Hinata memandang datar-

Alasan-

Trauma pada Termometer?

Bisakah Naruto mencari alasan yang lebih berkualitas di banding itu?

"Hm, benar adik kecil?" pandangan Kushina berbalik pada Hinata. Sang empunya mengangguk cepat.

"I..iya, tubuhku semakin dingin kalau melihat benda itu."

"….." terdiam sesaat, sampai akhirnya ikut mengangguk paham.

"Baiklah, tapi kondisimu baik-baik saja kan, Mm kalau Basan boleh tahu. Siapa namamu adik kecil?" bertanya sekali lagi, dan kini pertanyaan Kushina sukses membuat Naruto mempertajam pendengarannya.

Dia juga sama sekali belum tahu nama Vampire kecil di dekat ibunya itu-

Jadi ini kesempatan langka-

"…."

Tapi tentu tidak bagi Hinata, pandangannya teralih ke arah lain, dan berujar pelan, "Yuki, itu namaku."

"Oo, Yuki-chan~"

"Kondisiku juga sudah membaik Basan, tidak usah khawatir."

"Yokatta~"

"…."

Kedua manik Saphire Naruto masih menatap lekat sosok gadis di sana, keningnya berkerut. Entah apa yang ada di pikirannya. Tapi Naruto tahu-

'Kau berbohong, Vampire-chan.' Kalau gadis itu tidak menyebutkan nama aslinya. Dengan pandangan yang teralih dan tak fokus. Jelas sekali terlihat kebohongan di sana.

OoOoOoOoOoOoOoOooO

"Nah karena sekarang Yuki-chan tidak bisa bangun dulu, jadi Basan akan membantu untuk mengelap keringat dan membasuh tubuhmu." Tersenyum lembut, dan segera menyiapkan semua persiapan. Dari baskom dan handuk kecil yang sudah di basahi.

"Aku..bisa melakukannya sendiri, Basan." Mencoba mengelak, tapi gelengan cepat dari Kushina membuatnya bungkam.

"Tidak, tubuhmu masih lemah. Jadi Basan yang akan melakukannya~"

"….."

Dan Hinata tahu sekali sekarang, dari mana kekeraskepalaan Naruto turun-

Ibunya-

"….." menatap sosok di sana, tengah sibuk memeras handuk kecil. Sampai akhirnya Hinata sadar sepenuhnya.

Sekarang dia akan di bantu untuk membasuh keringatnya bukan?

Jadi-

Jiii~

Manik Lavender itu berubah datar kembali, malah semakin datar. Menatap sosok pemuda berambut pirang, dengan wajah polos berdiri di belakang ibunya. Tanpa rasa bersalah, seolah menunggu kegiatan sang wanita merah dilaksanakan.

'Bocah ini,' dalam hati geram, giginya bergemelutuk pelan.

Mencoba menahan amarah dan tersenyum kecil, "Nee, Niisan. Kenapa kau masih ada DISINI?" menekankan beberapa kalimatnya.

Dan di tanggapi singkat dari sang empunya-

Naruto mengerjap pelan-

"Hh, memang kenapa aku harus pergi?"

Plok!

Hinata menepuk kening-

'Bocah pirang ini memang sengaja atau polos?!' berteriak dalam hati, dan mendelik.

"Aku tidak mau Niisan ada di sini, biar saja Basan yang ada di kamar ini." berujar cepat.

Kushina yang mendengarkannya ber-oh ria, seolah sadar dan memandang putranya, "Oh, Yuki-chan benar. Naruto, keluarlah sebentar. Kaasan ingin membersihkan tubuhnya dulu."

Kerutan alis Naruto terlihat, pemuda pirang itu menaikkan salah satu alisnya. "Hee, kenapa? Aku juga ingin membantu, jadi biarkan aku diam di sini, Kaasan." Berkata singkat.

Ampun dah anak ini!

Geram bercampur gemas, emosinya masih bisa di tahan.

"Keluar saja Niisan, aku tidak mau tubuhku di lihat Niisan, kan malu!" berujar layaknya anak kecil ngambek, di sertai kembungan pipi.

"….." Sukses menyihir Naruto. Pemuda pirang itu membeku sesaat, sampai akhirnya otaknya kembali tersambung.

Cengiran rubah terlihat di wajahnya, mengangkat salah satu tangan dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal.

"A..ah! Ahaha, Gomen..gomen, aku lupa!" dengan kikuk, langsung saja ia beranjak pergi dari kamarnya.

Membiarkan sang ibu dan gadis kecil itu di dalam ruangan.

.

.

.

.

.

.

"Basan tadi kaget sekali lho, melihat Naruto tiba-tiba saja menggendong gadis kecil bersamanya. Basan kira anak itu melakukan apa-apa padamu, Yuki-chan." Berujar perlahan, sembari menunggu sosok mungil di sana melepaskan bajunya,

Hinata sebenarnya tidak malu, hanya saja entah kenapa harga dirinya sedikit tercoreng di sini. Di bantu membersihkan diri sama manusia?

Hah, apa kata keluarganya nanti?

Tapi dengan keadaannya yang seperti ini tentu saja mau tak mau ia harus melakukannya. Berharap saja tidak ada yang melihatnya.

"Ah, gomen Basan. Naruto-niisan tidak melakukan apapun padaku, dia menolongku saat hampir pingsan tadi." Mencoba tersenyum kecil, meski dalam hati ia merutuki perbuatan ceroboh sang Uzumaki.

Kushina terkekeh, menatap tubuh mungilnya dari atas sampai bawah, sedikit membuat Hinata risih-

"Dan Basan lebih kaget lagi saat kau berteriak memanggil nama Naruto dengan sebutan, Bocah. Ahaha, lucu sekali~" tergelak dan sukses menegukkan ludah Hinata. Gadis itu tersentak, ikut tertawa.

Syukurlah wanita ini mengganggap teriakan seriusnya tadi hanya sebuah lelucon.

"A..ahaha," tidak tahu harus berkata apa dan dirinya cuma bisa tertawa kecil.

Sekarang, tubuhnya sudah tidak terbalut apa-apa lagi, mengingat dirinya menggunakan baju atasan, dan baju itu membesar saat tubuhnya mengecil tadi. Jadi otomatis, hanya tersisa celana dalam yang sangat ia tidak ingin lepaskan.

Untung saja tubuhnya masih dengan sosok anak kecil, kalau sudah kembali. Dia tidak akan mau melakukannya.

"Nah, sekarang Basan akan membantu membasuh keringatmu dulu."

Mengangguk kecil, mencoba untuk menegapkan tubuhnya meski sesekali oleng. Sang Hyuuga merasakan handuk kecil mengusap wajahnya lembut, menghapus semua keringat yang menempel dengan detail. Lehernya, tangan, kaki dan seluruh tubuhnya.

Dalam diam, gadis indigo itu memperhatikan sosok wanita berambut merah di hadapannya-

'Kenapa manusia bisa begitu baik dengan bangsa Vampire sepertiku? Apa karena mereka tidak tahu wujudku yang sebenarnya?' memandang sendu, Lavender itu memperhatikan gerak-gerik Kushina secara perlahan.

Baik Naruto-

Atau pun Kushina-

Kedua orang ini sangatlah baik padanya, wanita cantik ini bahkan baru mengenalinya. Dan sekarang sikapnya sudah menganggap ia seperti putrinya sendiri.

'Kalau aku memberitahu tentang wujud asliku, apa dia akan ketakutan? Atau malah berkebalikan dari itu semua?' terus membatin.

Merasakan sosok itu mengadah, menatapnya dan tersenyum lembut-

Hangat-

Hinata merasakan jemari Kushina menyentuh pipi, tangan dan rambutnya-

Sentuhan yang jarang ia rasakan.

Membuatnya nyaman, dan reflek memejamkan maniknya saat merasakan itu. Seulas senyum tipis terukir.

"Arigatou Basan,"

"Ha'I~"

.

.

.

.

.


Sementara di tempat lain-


Sosok pemuda berambut raven membuka sebuah pintu coklat di hadapannya. Dengan kedua manik Onyx yang menatap datar. Dan salah satu tangannya sengaja ia masukkan ke dalam saku celana.

Pikirannya masih terpaku dengan kejadian tadi-

Panggilan Naruto tadi-

Teriakan-

Dan sebutan 'Vampire' itu sukses membuat ketenangannya terganggu. Sasuke Uchiha, dia sangat tidak suka dengan makhluk mitos tersebut. Makhluk abadi yang suka memangsa manusia dengan cara menghisap darahnya. Tidak terpungkiri perasaan sang Uchiha berada di tengah-tengah, antara benci dan rasa tidak sabar untuk menghabisi kawanan Vampire itu.

Seringai kecil terlukis, beriringan dengan pintu yang terbuka perlahan-

Sebuah rumah mewah yang menutupi semua pekerjaan keluarganya. Pekerjaan yang sengaja di sembunyikannya selama ini.

"Aku akan membunuh kalian semua." Mendesis pelan, membayangkan kembali kedua sosok yang sangat di bencinya sejak dulu.

Sosok panutan dan sahabat, yang sudah membuat perasaan benci itu tumbuh di dalam dirinya.

.

.

.

.

.

"Nah selesai~" Kushina menghela napas puas, sedangkan Hinata hanya bisa mengangguk kecil. Walaupun masih bisa ia rasakan tubuhnya gemetar, tidak berkurang sama sekali.

Perasaan dingin itu masih merambat di sekujur tubuhnya, walau keringat ini sudah di basuh beberapa kalipun.

Tetap saja ia merasakan setetes demi setetes kembali keluar perlahan-

"Arigatou Basan,"

Mengangguk kecil, "Nah pakaianmu akan Basan cuci, jadi untuk sementara karena kebetulan Basan ada dress yang sedikit longgar untuk tubuhmu, semoga saja Basan bisa memodifnya sedikit?" Berujar sembari bangkit dari posisinya.

Dan lagi-lagi, baju akan di ubah menjadi sebuah dress.

"Tidak apa-apa, Basan. Yang penting aku sudah menggunakan pakaian saja." Ya, itu lebih baik daripada memakai pakaian penuh keringat atau yang lebih buruknya, tidak memakai baju sama sekali.

Dimana dia akan menaruh harga dirinya?!

"Basan ambilkan dulu ya,"

"Um."

Kushina berjalan keluar dari ruangan, dengan Hinata yang masih belum menggunakan apa-apa kecuali celana dalamnya saja. Terpaksa ia menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya.

Pintu terbuka kembali-

Dan-

"Ah, sudah selesai Kaasan?"

Wajah Naruto menyembul begitu saja dari balik pintu, sukses membuat Hinata tersentak dan semakin menyelimuti tubuhnya.

"Yuki-chan belum memakai baju, jadi kau jangan masuk dulu Naruto." Kushina memperingatkan.

Mengerucut, melihat sang ibu berjalan melewatinya. Hampir saja Naruto membuang jauh-jauh perkataan wanita merah tadi-

Setelah Kushina menghilang sepenuhnya dari sana-

"Vampire-chan, bagaimana-" sebelum sempat berbicara lebih panjang, dengan sebagian tubuh yang hendak masuk ke dalam kamar, baru saja kakinya selangkah berjalan-

Bruk!

"Bocah mesum, keluar kau!"

Sebuah bantal melayang dengan gesit mengenai wajahnya, sangat keras karena tenaga Hinata yang sedang tidak bisa ia kendalikan. Jadi alhasil-

"Gah!" Naruto jatuh dengan tak elitnya, terjungkal balik, dan terdorong keluar dari kamar.

"Kh, otaknya memang perlu di beri sekrup supaya tidak kelewat polos!" berteriak geram, antara malu dan kesal. Sikap blak-blakan Naruto benar-benar membuatnya salah tingkah-

"…"

Oke-

Tadi apa dia bilang salah tingkah?

"…"

"Tentu saja salah tingkah dalam artian bocah itu mengesalkan!" entah kenapa Hinata menjawab suara batinnya sendiri.

"Ittai~" Naruto mengerang sakit, dan Hinata mendengus cepat. Kembali menyelimuti tubuhnya agar tidak kedinginan.

OooOoOoOoOoOoOOoOoOoO

Dengan Kushina yang memberinya baju, dan Naruto yang kini dengan sabar lagi menunggu di luar kamar.

Wanita berambut merah itu memperhatikan dari atas sampai bawah, dalam hati berteriak melihat bagaimana sosok gadis mungil di hadapannya tampak sangat manis dan menggemaskan.

"Kyaa, Yuki-chan kau manis sekali~" menggelengkan kepalanya. Impiannya seolah terwujud mempunya putri manis seperti Yuki.

Hinata yang mendengar perkataan Kushina tersenyum kecil, mengganggap kalau wanita ini terlalu berlebihan. Dia hanya menggunakan dress sedikit longgar yang katanya dulu ingin di berikan pada sahabat Naruto yaitu Sasuke, karena sempat mengira kalau pemuda raven itu adalah perempuan. Dengan wajah ketika masih bayi terlihat manis, kulit putih, dan tampang menggemaskan, siapa yang tidak salah sangka saat pertama kali melihat?

Hampir tergelak hebat, membayangkan sosok pemuda dingin itu sangat manis. Membuat Hinata tidak bisa menahan tawanya-

Dress berwarna pink yang terlihat manis dan cocok untuknya, dengan rambut indigo panjang tergerai menambah kecantikannya.

"Kaasan, apa sudah selesai?" dengan nada setengah merengek, untuk yang kesekian kalinya Naruto bertanya. Kushina mendesah panjang-

"Hh, kenapa anak itu tidak sabaran sekali. Iya, iya sudah selesai, kau bisa masuk!" Memberitahu dan tidak perlu menunggu beberapa menit.

Detik berikutnya, pintu kamar langsung terbuka cepat-

Beriringan dengan Kushina yang mengambil baskom serta merapikan kembali pekerjaannya tadi, tersenyum kecil pada gadis manis di dekatnya-

"Kalau begitu sekarang kau isthirahat saja Yuki-chan, biar Naruto yang menjagamu." Berujar pelan, dan bangkit dari posisinya.

Melangkahkan kaki keluar dari kamar, sebelum ia memberi sedikit peringatan pada putranya, "Jangan mengganggunya lagi, biarkan Yuki-chan beristhirahat oke?"

Mendengus dan mengangguk malas, "Iya Kaasan, aku mengerti kok~"

"Kalau begitu Kaasan turun dulu, jika ada yang gadis kecil itu inginkan, katakan saja."

"Iya~"

.

.

.

.

.

Berdua di dalam kamar, Hinata membiarkan Naruto duduk di samping tempat tidur. Memperhatikannya sesaat dan berbicara pelan.

"Bagaimana kondisimu, sudah baikan?"

Berbaring, sang Hyuuga menutup maniknya sebentar, menghela napas panjang, dan mengangguk kecil, "Sudah, hanya sedikit pusing saja." Menjawab singkat.

Sedikit kaget saat merasakan tangan kekar itu menyentuh keningnya,

"Keringatmu masih menetes, apa badanmu juga masih kedinginan?" dengan raut khawatir, menyeka keringat yang jatuh dari pelipis sang Vampire kecil.

Membuka maniknya, membiarkan tangan itu lembut mengelus kepalanya. "Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan perubahan kondisi seperti ini."

"…." Naruto tidak merespon, pemuda pirang itu malah semakin lekat menatapnya.

"Nee, Vampire-chan."

"Hm?"

Menoleh singkat dan mendapati sang Uzumaki menunduk, aura keceriaannya menghilang begitu saja. Kedua tangan yang terlihat mengepal kuat, dan menggigit bibir bawahnya.

"Gomen, aku..aku membuatmu seperti ini. Seharusnya, aku membiarkanmu pergi saja, bukannya menahan kepergianmu."

Mengernyitkan alis singkat, "Hh, ada apa kau tiba-tiba mengatakan hal seperti itu?"

Wajah itu mengadah, kedua manik Saphire Naruto meredup, "Kau yang seharusnya bisa pulang, tapi aku malah bersikap kekanak-kanakkan. Kau tahu..aku hanya senang sekali saat melihatmu, tiba-tiba berada di dekatku begitu saja, dan aku..aku tidak ingin kau menghilang begitu saja seperti saat itu."

Membulatkan kedua matanya, mendengar dengan jelas perkataan Naruto. Dengusan pelan terdengar, "Dan karena kaulah aku harus terbaring di sini, hampir ketahuan oleh ibumu karena sikap cerobohmu, oh apa lagi yang perlu aku katakan?" dia melanjutkan sendiri perkataan sang Uzumaki, membuat pemuda itu makin menunduk.

"Maaf."

"…"

Lucu-

Bocah pirang hiperaktive di depannya tiba-tiba berubah menjadi bocah pemurung, oh ayolah dia kan hanya bercanda. Tidakkah Naruto menangkap nada candanya tadi?

"Oi, aku hanya bercanda. Lupakan apa yang tadi kukatakan,"

"Tapi-"

Hinata menghela napas panjang, "Aku sakit seperti ini bukan karena salahmu, ini salahku sendiri. Dari awal aku juga memang sudah sakit, dan malah tetap memaksakan diri untuk jalan-jalan. Sampai akhirnya aku bertemu denganmu lagi bocah pirang." Tersenyum kecil, mendapati sosok itu memandangnya tak percaya.

"Kau sudah besar dan aku hampir saja tak mengenalimu, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri."

Pandangan Saphire itu masih terlihat sendu, "Vampire-chan-" memanggil gadis indigo itu sekali lagi.

"Ya?"

Saat jemari Naruto turun dan mengusap pipinya lembut, terlihat tidak rela untuk menjauhkan tangannya-

"Apa kau akan pergi setelah merasa baikan?" bertanya kembali, Hinata mengerjap pelan.

"Kau ingin menghentikanku lagi?" Hinata balik bertanya-

"….." sang Uzumaki terdiam, dan tak ia sangka pemuda itu malah mengangguk kecil.

"Kalau bisa, aku akan menghentikanmu."

Kedua manik Hinata membulat, sosok pirang di dekatnya perlahan semakin mendekatkan diri, dan tak ia sangka-

"Tapi kalau itu hanya membuatmu menderita aku tidak mau. Aku..aku bingung Vampire-chan,"

Wajah Naruto begitu dekat dengan wajahnya, sampai-sampai Hinata bisa merasakan deru napas sang pirang. Dan apa dia salah lihat? Kedua manik Saphire itu terlihat berkaca-kaca,

Mereka saling berhadapan, saat Naruto hendak menghapus jarak di antara keduanya.

Sret-

Hinata mengangkat salah satu tangannya, menjadi pembatas antara kedua bibir mereka. Ia menggeleng lemah, "Bocah, terima kasih."

Dan Naruto tahu itu artinya 'Tidak'

Sang Uzumaki tersenyum perih.

.

.

.

.

.

Malam menunjukkan pukul dua belas, tubuh Hinata menggeliat tidak nyaman. Merasakan keringat dan kedinginan yang semakin menjadi-jadi.

Dirinya yang tadi bisa tertidur kembali bergerak tidak nyaman, mengerang dan gemetar menjalar.

"Ugh, dingin-" mencoba menarik selimut tebal di dekatnya tapi tidak mendapatkan hasil. Tubuhnya masih terasa dingin, kedua manik yang tadinya tertutup menyipit perlahan. Dengan kondisi ruangan yang kini sudah berubah menjadi gelap, karena lampu di matikan. Menyisakan lampu tidur berwarna orange.

Reflek Hinata mengangkat salah satu tangannya, ingin menutup matanya menggunakan itu.

"…"

Tapi apa yang ia dapatkan-

Dirinya merasa sesak, terutama di bagian badan. Di dalam gelap, dan lampu temaram, kedua Lavender itu mulai merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya-

"Kenapa..sesak..sekali?" bertanya-tanya dan mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya.

Sret-

Terbangun perlahan-

"….."

Dan-

"Ta..tanganku-" kedua matanya membulat, melihat kedua tangannya yang kini kembali seperti semula. Tidak kecil lagi,

Ah jangan-jangan!

Sret!

Cepat-cepat, mengidahkan soal kedinginannya langsung saja Hinata menyibak selimutnya. Memperlihatkan dengan cepat, sosoknya yang kini benar-benar kembali lagi. Tangan, kaki, suara, semuanya.

"A..aku sudah kembali," berujar tak percaya, merasa senang sekaligus kaget. Melihat sekali lagi bagaimana baju yang ia kenakan kini sangat ketat di tubuhnya. Membuat lekuk itu terlihat jelas. Bagian pinggang, dan dadanya terutama.

"Ck, bagaimana sekarang aku harus mengganti baju ini-Ugh~" berujar pelan, mendapati rasa dingin itu lagi-lagi menyerangnya dan kini lebih parah.

"Ke..napa dingin sekali?!" kedua tangannya gemetar, keringat dingin menetes deras. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Berdecak kesal, sekarang otomatis kekuatannya sudah kembali. Tubuhnya kembali menjadi sosok gadis berumur tujuh belas tahun, tapi sensasi dingin ini masih ada. Apa yang salah?!

"Dingin," bergumam, gemetar. Ac di ruangan juga membuat keadaan memburuk. Ia harus mematikan benda itu!

Mencoba untuk bangkit, "Ugh, badanku masih lemas." Mengerang dan merutuki kelemahannya. Dia tidak bisa bangkit lebih dari ini.

Duduk saja sudah susah payah-

Tanpa Hinata sadari, kedua maniknya gencar mencari sosok Naruto. Dimana pemuda pirang itu tidur?

"Bocah…dimana kau?!" berujar pelan,

"…" tidak ada sahutan-

"Di..ngin sekali, Bocah..Naruto dimana..kau!"

Dan panggilan keduanya-

"A..ah! Tunggu sebentar!" sukses membangunkan sang Uzumaki yang ternyata tengah tertidur lelap di sofa yang tersedia di kamarnya. Dengan cepat bangkit dan mengembalikkan nyawanya. Naruto melangkahkan kakinya kilat-

Berjalan menuju tempat tidur,

"Bocah…ac-nya..matikan!" Hinata berteriak tidak kuat, Naruto makin khawatir. Entah kenapa ia menangkap suara yang di keluarkan sang Vampire kecil berubah.

"I..iya!" berbalik lagi dan mematikan ac ruangan.

"Shit, kenapa dingin sekali!"

Sekali lagi mendengar rutukan kesal dari gadis di sana-

Kembali melangkahkan kakinya, mendekat.

"Vampire-chan, kau baik-baik sa-" semakin mendekat dan saat bibir itu hampir mengeluarkan kalimatnya.

Naruto tersedak, kaget mendapati sosok mungil itu menghilang dan di gantikan dengan sosok gadis indigo yang sangat ia kenal.

Bibirnya bungkam-

Sosok itu terlihat sangat cantik-

"Bocah..kenapa tubuhku dingin sekali?" Hinata menoleh dan melihat Naruto berdiri membatu di sana.

"….." tidak ada respon-

Selimut di pelukannya semakin di pererat, apa ini titik akhir dari efek samping obat itu?

Hinata tidak tahu-

Tangannya seolah membeku, dan detik berikutnya tubuhnya bertambah gemetar. Ingin sekali menangis karena tidak tahan, tapi harga dirinya terancam.

Alhasil hanya gumaman saja yang keluar-

"Dingin.."

Seolah tersadar kembali, Naruto mengerjapkan maniknya cepat. Tanpa basa-basi, melangkahkan kakinya semakin mendekati sang Vampire. Keningnya berkerut cemas-

"Vampire-chan, daijoubu?" tidak tahu harus melakukan apa, gadis di hadapannya terlihat sangat kedinginan. Memeluk selimut tebal miliknya tapi tetap saja tidak menghasilkan apa-apa.

Bibirnya gemetar, Hinata mengadah menatap sosok di sampingnya, "Bocah..kenapa tubuhku dingin sekali? Ini..menyebalkan!" menggerutu dan berteriak kesal.

Membuat Naruto semakin kelimpungan, sangat khawatir-

'Aku harus melakukan apa?! Apa aku harus mengambil air panas? Tidak..tidak, lalu apa?!'

Gemertak gigi saling bertemu, tidak kuat melihat orang yang dia cintai menderita seperti itu-

"Maaf Vampire-chan."

"Apa?"

Sebelum Hinata sempat membalas-

"…."

Sret-

Tak ayal sang Hyuuga membulatkan kedua matanya, melihat bagaimana dengan tenangnya Naruto membuka baju atasnya. Memperlihatkan kulit tan eksotis serta otot-otot yang terpampang sempurna.

Sangat menawan-

Tapi tidak sekarang-

"Ka..kau mau apa?!" setengah panik, tubuhnya mencoba mundur. Naruto mendekati dan duduk di samping tempat tidur. Mencoba naik ke atas sana dan mendekati sang Vampire.

"Kemarilah, aku akan menghangatkanmu." Pemuda pirang itu berujar lembut, mengangkat kedua tangan dan tersenyum sendu menatapnya. Ia seolah-olah memberikan sebuah pelukan untuknya-

"….." Hinata terdiam-

Tubuhnya kedinginan dan selimut tidak akan membuatnya menjadi lebih baik. Ia butuh kehangatan yang lebih-

"…"

"…."

Kedua Lavender itu meredup, "Apa tidak masalah bocah? Kau bisa kedinginan juga." Berujar ragu.

Naruto menggeleng mutlak, meringsek mendekati sosok di sana-

"Tidak apa-apa."

Tubuh itu gemetar, tidak tahu harus melakukan apa-apa lagi.

Tapi-

Perlahan-

Hinata membiarkan kedua lengan kekar itu menariknya lembut-

"Kalau ini bisa membuatmu hangat, aku kedinginan pun tidak masalah." Ucapan demi ucapan terdengar mengalun di pendengarannya, seiring dengan dirinya yang perlahan masuk ke dalam pelukan Naruto.

Membuat wajahnya menempel pelan pada dada bidang di hadapannya, kukungan lembut namun protective itu membuatnya nyaman.

Semuanya-

Hinata merasakan dengan jelas-

Perasaan nyaman, dan hangat yang perlahan membuat tubuhnya yang kedinginan kembali seperti semula. Kecupan ringan Naruto berikan pada puncak kepalanya, namun ia tidak menolak.

Dan tanpa sang Hyuuga sadari-

"Kau benar-benar bodoh, Naruto."

Setetes air mata turun dari pelupuknya, bersamaan dengan keringat yang mengalir perlahan. Menyisakan tawa cengiran khas sang Uzumaki. Baru kali ini sang Hyuuga merasakan emosi seperti sekarang-

Kesal, marah, cemburu, dan sedih sampai-sampai membuatnya menangis-

Naruto, pemuda ini benar-benar bodoh. Bahkan dia sanggup membuat Hinata melupakan fakta bahwa dirinya adalah Vampire, seolah aroma darah yang menguar di tubuh Naruto ia buang jauh-jauh.


TO BE CONTINUED~


A/N :


Huwaaaa akhirnya akhirnya Mushi bisa kelarin ini chap! #sujud bentar# ampun dah berapa bulan fic ini ga apdet? Muahaha #lirik ke readers# gomen minna, Mushi entah kenapa sedikit lupa dengan jalan cerita ini, jadi perlu di baca ulang dan itu membuat kemalasan Mushi meningkat #tendang#

Tapi setelah sekian lama, Mushi bisa janji juga adept lagi :D

Dan di sini moment NaruHina udah Mushi tambahkan #plus si Hina bisa nangis lagi# Tubuh Hinata udah kembali lagi, dan buat yang nebak siapa yang ngomong di ending chap sebelumnya adalah Sasuke-

Yeeei! Anda benar!

Sengaja sih buat Sasu, karena dia cocok banget dengan peran ini wahaha :v

Apakah masih ada yang menunggu fic ini? Kalau ada yang ingin lanjut lagi silakan riview #lirik tanggal apdet# hueee maaf ya maaf. Akan Mushi usahakan untuk apdet teratur lagi #Semogaaa# XD


Answer~

Kalo Naruto di sucikan apa dia akan lupa dengan Hinata? Baca aja yaa :D

Hinata akan di bawa ke rumah Naruto, pakaiannya? Pakaian sudah di ganti dan sekarang tetap aja sih terlalu ketat #moga2 Naru ga liat#tendang#

Sampe chap berapa? Mushi nggak tahu ehehe :D

Pelayan rumah Utama lambat datangnya? Nanti mereka akan muncul kok :D

Reaksi Teman-teman? Di sini baru Sasuke aja yang nyadar, sedangkan yang lain udah keburu cemas plus kaget liatin Hinata pingsan.

Typo? Wahaha Gomen Mushi emang suka banget salah ketik, atau mungkin laptop yang Mushi pake ada kamusnya gitu, jadi pasti ada beberapa kalimat yang langsung di perbaikin, padahal bukan itu yang Mushi mau #lelah sama kamus# :v #and stop calling me Obasan please, im still 18 years old :')#

Buat kalau misalkan Naruto nanti digigit Hinata dia gak akan jadi Vampire. Di sini Mushi yang pegang kendali, jadi tunggu aja yaa :D

Why you skip the bite scene? Karena Mushi kagak tega liatin pacar Mushi di gigitin Hinata #di bakar Hina#

Vampire bisa melahirkan? Who Know's ini cerita fantasy, anggep aja iya :D #pasti tau twilight kan? Nah mungkin bisa di anggap ke sana aja jalan ceritanya#pas Bella melahirkan# :D

Soal Hinata kenapa bisa merona merah? Itu gara-gara obat Kabuto, dia kan bisa jadi manusia sehari. Jadi itu bisa terjadi :D #aliran darah yang seharusnya berhenti kembali mengalir, tapi hanya sesaat#

Kalau ada yang menemukan hal-hal aneh lainnya lagi, mohon maklum ya. Mushi emang nggak bakat buat cerita Vampire kayak gini #awal2 cuman coba coba aja# makanya di sini Mushi masukin genre Fantasy, karena fantasi aneh Mushi berkeliaran di fic ini wahaha :v#ampunndah#


oOoOoOoOooOoOoOoOo

Big Thanks buat yang sudah me-riview, mem-fav, dan mem-follow fic Mushi #peluksatu2#muaacchh#dibakar#

Arigatou #ojigi#

Segitu aja deh Cuap-Cuap dari Mushi

Kalau begitu Akhir kata kembali

SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7

JAA~