"Kalau ini bisa membuatmu hangat, aku kedinginan pun tidak masalah." Ucapan demi ucapan terdengar mengalun di pendengarannya, seiring dengan dirinya yang perlahan masuk ke dalam pelukan Naruto.

Membuat wajahnya menempel pelan pada dada bidang di hadapannya, kukungan lembut namun protective itu membuatnya nyaman.

Semuanya-

Hinata merasakan dengan jelas-

Perasaan nyaman, dan hangat yang perlahan membuat tubuhnya yang kedinginan kembali seperti semula. Kecupan ringan Naruto berikan pada puncak kepalanya, namun ia tidak menolak.

Dan tanpa sang Hyuuga sadari-

"Kau benar-benar bodoh, Naruto."

Setetes air mata turun dari pelupuknya, bersamaan dengan keringat yang mengalir perlahan. Menyisakan tawa cengiran khas sang Uzumaki. Baru kali ini sang Hyuuga merasakan emosi seperti sekarang-

Kesal, marah, cemburu, dan sedih sampai-sampai membuatnya menangis-

Naruto, pemuda ini benar-benar bodoh. Bahkan dia sanggup membuat Hinata melupakan fakta bahwa dirinya adalah Vampire, seolah aroma darah yang menguar di tubuh Naruto ia buang jauh-jauh.


Vampire-chan! I Will Get You!

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto, saia cuma numpang minjem

Rated T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, A Little bit Humor, Fantasy, Friendship

Pair : Naru x Hina(RTN)

Warning : Typos, OOC luar biasa, Hinata RTN, AggressiveNaru


Sequel 'Vampire-chan! Please Love Me?!'


OoOoOoOoOoOoOoOoOoOoO

Enjoy~

OooOOoOoOoOoOoO


Chapter 7 : Goodbye Little Brat~


Hari hampir menjelang pagi, sosok laki-laki berambut perak itu nampak semakin panik dengan kulit wajahnya yang memucat. Seiring dengan malam yang sebentar lagi akan berganti-

Decakan serta napas terengah ia keluarkan.

"Hinata-sama, kau dimana?!" suara yang semakin frustasi, sang empunya tahu kalau sebentar lagi efek obat ini akan habis. Sudah hampir berapa kali ia meminum obat itu agar bisa mencari Tuan Putrinya lebih lama.

Tapi bau dari gadis indigo itu sama sekali tidak tercium olehnya. Para anak buahnya pun memiliki masalah yang sama. Apa yang menyebabkan bau khas Tuan putrinya itu tidak bisa di lacak.

Tidak mungkin kan kalau gadis itu sedang bersama seseorang sekarang?! Karena hanya itulah satu-satunya penyebab aroma khas Vampire bercampur menjadi satu dan tidak bisa di lacak. Apalagi kalau aroma Manusia yang tergolong kuat, itu bisa menghilangkan samar aroma Vampire seperti Hinata.

'Obat yang di gunakan oleh Hinata-sama juga sudah habis, semoga dia tidak melakukan hal-hal yang membahayakan.' Berpikir terus menerus, kedua manik itu masih fokus memandang sekitar. Di atas gedung tinggi ini juga tidak begitu berguna.

Bagaimana ini, bisa-bisa kepalanya di penggal oleh Hiashi-sama karena tidak bisa menemukan Tuan putri nakal itu.

"Hh, dia benar-benar membuatku pusing~" menggeleng lemah, pada siapa lagi dia harus meminta tolong?

Beberapa anak buahnya sudah ia serahkan tugas untuk mencari di bawah dan bersosialisasi dengan para manusia.

Lalu siapa lagi?!

Terlalu fokus memikirkan hal itu, sang Profesor muda itu sama sekali tidak menyadari keberadaan seseorang yang datang dan meloncat dengan santainya ke arah gedung. Tubuh tegap itu berdiri di belakangnya.

Sebuah senyum tipis yang menampilkan taring di balik bibirnya. Perlahan berjalan mendekati sosok berambut perak di sana.

"Perlu bantuan?" berujar dengan ringan.

DEG!

Sukses membuat Kabuto terjengit kaget, laki-laki itu berbalik cepat. Kedua matanya membulat lebar, sosok dengan pakaian formal berwarna hitamnya nampak berdiri santai sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Seolah tahu apa yang ia cari saat ini.

"I..Itachi-sama?! Kenapa anda bisa ada di sini, bukannya anda sedang ada pertemuan di Suna?" melihat pakaian formal yang sudah sedikit berantakan serta rambut panjang yang ikatannya terlepas.

Apa itu artinya dia sudah selesai di sana?

"Aku tidak terlalu suka dengan pertemuan itu, jadi kuputuskan untuk kembali dan mencari udara segar di sini."

"Tapi sebentar lagi fajar akan datang, anda tidak boleh berada di sini lama-lama." Melirik ke arah bulan yang semakin turun, hendak berganti.

Sosok tegap di hadapannya malah menggeleng pelan, terkekeh tipis. "Kau sendiri sedang apa di sini? Mencari Hinata lagi?"

Tepat sasaran, Kabuto reflek menggaruk pipinya yang tak gatal. "Ya..yah seperti itulah, aku benar-benar tidak bisa menolak semua permintaannya, walaupun dia sedang sakit sekarang. Aku takut kalau terjadi apa-apa dengannya."

Sedikit mencari jeda, Itachi mendengus kecil. "Aku akan membantumu,"

Kabuto kaget, "Aroma Hinata-sama tidak bisa kami lacak lagi, ada kemungkinan kalau dia sedang bersama manusia sekarang. Hanya Manusia lah yang mampu menghilangkan hampir semua aroma yang dimiliki oleh Vampire, anda tahu sendiri kan? Kami pun sulit mencarinya sampai sekarang."

"Aku pernah tinggal lama di dunia Manusia ini, jadi mencari Hinata di tengah-tengah kerumunan Manusia tidak menjadi masalah bagiku. Kau tunggu saja di sini, aku akan mencarinya." Berujar tegas, begitu Itachi membuat keputusan Kabuto tahu dia tidak akan bisa menyangkal lagi.

"Ba..baiklah kalau begitu, tapi tolong ingat kalau sebentar lagi matahari akan terbit. Berhati-hatilah."

"Hn, kau tidak perlu memberitahuku sebanyak itu." Diiringi seringai kecil, sosok Itachi berdiri di pinggir gedung. Tubuh tegap itu sedikit melemaskan persendiannya yang kaku, sampai akhirnya-

Sret!

Dengan kedua kaki lincahnya ia melompati gedung dan turun ke bawah sana.

Dia hanya perlu mencari Hinata kan? Gadis indigo merepotkan itu, hah~

Ah-

Mungkin-

Selain mencari Hinata ia bisa melakukan hal lain lagi.

"Kalau dia memang masih membenciku sampai saat ini, aku ingin lihat seperti apa reaksinya saat kita bertemu lagi." Mengeluarkan nada sing a song, kedua mata yang berwarna Onyx yang tadinya meredup itu perlahan-lahan berubah warna menjadi merah darah.

.

.

.

.

.

.


Mari kita lihat kondisi Hinata dan Naruto sekarang-


"Ungh~" menggeliat tak nyaman. Dengan kedua mata yang masih enggan untuk terbuka. Hanya lenguhan kecil yang terdengar.

"Naruto! Bangun! Kau harus berangkat sekolah hari ini!" suara pintu terketuk keras, sukses membuat telinganya berdengung sakit.

"Ish!" kerutan kening terlihat, Hinata reflek menggerakkan tubuhnya. Siapa yang berisik pagi-pagi seperti ini?!

Terpaksa dia harus bangun-

Sret-

Tubuhnya mencoba untuk bergerak. Lho?

Tidak bisa-

'Aish! Kenapa susah sekali bergerak!' membatin kesal, perlahan tapi pasti kedua matanya terbuka malas. Mencoba mencari tahu penyebab tubuhnya kaku. Ya, dia merasa ada sesuatu yang mengurung tubuhnya bahkan hanya untuk berguling ke samping tempat tidur saja tidak bisa.

Berat, dan deru napas seseorang menerpa wajahnya juga tak lupa ia rasakan.

"….."

Oke, tunggu dulu! Tadi dia bilang apa?

Deru napas seseorang?!

Tanpa basa-basi, gadis itu segera membuka matanya cepat. diiringi dengan ketukan pintu yang semakin keras.

Kedua matanya nyaris melotot sempurna, "A..apa-apaan ini?" berbisik kaget. Bagaimana bisa tubuhnya dalam keadaan dan posisi seperti ini?!

Kepalanya yang bersandar pada lengan seseorang dan salah satu lengan orang itu juga mengukung tubuhnya. Detak jantung, napas menderu, semuanya bisa ia rasakan. Di tambah lagi keadaannya sekarang.

Tubuh terbaring dengan wajah menghadap ke arah dada bidang orang yang memeluknya!

Astaga!

Dengan shock wajahnya mengadah cepat, memastikan siapa yang tengah memeluknya saat ini. Sumpah demi apapun, dia benar-benar tidak ingat apa yang di lakukannya kemarin. Yang Hinata ingat hanya sampai Naruto menggendongnya ke rumah, dan dia di suruh beristhirahat, itu saja!

Dan sekarang-

"Bo-" hampir berteriak,

"Naruto!"

Suara ibu sang pemuda pirang sudah mengatupkan bibirnya, Hinata sadar diri. Tubuhnya mengejang singkat, merasakan jemarinya sudah tidak kecil seperti kemarin, dan-

Ahh! Dada kebanggaannya balik lagi!

"…"

Ehem, lupakan apa yang baru ia katakan tadi. "Ck, kalau Ibunya sampai tahu ada gadis sepertiku di kamar Naruto, bisa gawat!" berdecak kesal. Dengan cepat Hinata menggerakkan tubuhnya kembali. Menggeser lengan Naruto yang mengukung tubuhnya.

Hh, kenapa mereka bisa tidur sama-sama seperti ini.

'Kalau wujudku sudah kembali berarti," berpikir sekilas, senyum di wajah pucat itu perlahan terlihat.

Grep!

Dengan mudahnya ia menggeser dan sukses mendorong tubuh Naruto. Di berkati dengan kesadaran yang sudah seratus persen, beda dengan yang tadi.

Kali ini ia berhasil keluar dari pelukan pemuda pirang itu.

"Lima bhelas menit lagi Kaasan~" wajah Naruto nampak damai, bahkan terlampau bahagia. Mengigau saat mendengar suara Ibunya.

Hinata mendesah panjang. Apa dia harus pergi dari sini sekarang juga? Bisa saja kan ia lakukan? Kebetulan juga pemuda pirang ini masih tidur.

"…."

Terdiam sesaat, tubuh yang tadinya terbaring itu perlahan bangkit. Menolehkan wajah menatap Naruto. Dirinya entah kenapa masih duduk di atas tempat tidur. Mengidahkan pakaiannya yang sudah robek, mungkin saat ini hanya ada selimut saja yang menutupi tubuhnya.

Sekilas terbayang wajah bocah pirang ini menangis dan merengek memanggil namanya saat ia tiba-tiba pergi nanti.

"…"

Ya, dia memang harus segera pergi dari sini. Kabuto pasti sedang mencarinya sekarang.

Mereka akan berpisah lagi kan? Apa nanti mereka bisa bertemu lagi, seminggu, sebulan, setahun, atau bahkan beberapa tahun lagi?

Hinata sendiri tidak tahu-

Oh atau jangan-jangan tidak akan ada waktu mereka untuk bertemu?

Membayangkan bagaimana sosok Naruto bertumbuh dewasa dengan cepat, menjadi seorang laki-laki gagah, bekerja..menikah..memiliki istri yang cantik serta manis, melupakannya..dan dia hidup bahagia selamanya.

"…."

"Naruto cepat bangun! Atau Kaasan akan mendobrak kamarmu saat ini juga?!"

Oh, shit apa yang barusan dia pikirkan?!

Dengan cepat gadis itu menggelengkan kepalanya, membalut tubuhnya dengan selimut bahkan sedikit menarik keras benda itu dari genggaman tangan Naruto.

Ia beranjak dari sana-

"A..aku harus pergi," Aish! Kenapa dia jadi mellow begini? Ah sial! Kemana sikap brutal miliknya kemarin?!

Terus bergerak kecil menimbulkan suara gesekan keras, sampai-

Tak sengaja selimut yang baru saja ingin ia gunakan, "Shit!" tiba-tiba menyenggol sebuah jam weker di atas meja.

Bruk!

Benda itu terjatuh dengan suara yang keras, di tambah lagi-

Kring! Kring! Kring! Kebetulan sekali, wekernya berbunyi. Berguncang di lantai dengan suara berisiknya.

Sedikit panik, reflek ia menundukkan tubuhnya untuk mengambil benda itu. "Argh! Kenapa aku harus menyenggol benda ini segala!" berbisik kesal. Hinata harus cepat-cepat mengembalikan benda ini ke tempatnya semula dan-

"Ungh, Vampire-chan?"

Great!

Pemuda kepala durian itu malah bangun!

.

.

.

.

.

.

.

Oke, dia akui sekarang kondisinya saat ini terlihat sangat Awkward. Berjongkok di atas lantai hanya dengan selimut yang bahkan belum terbalut sempurna di tubuhnya dan tengah menghentikan sebuah jam weker di tangan.

Kedua Lavender itu menatap ragu ke atas tempat tidur, menoleh pelan. Melihat bagaimana pemuda pirang yang tadinya tertidur dengan damai kini meringsek bangun sembari mengusap salah satu matanya.

Bak anak kecil yang baru di bangunkan tidurnya-

"Vampire-chan? Kau sedang apa di sana, hoahm~" menguap lebar, kedua mata Naruto belum setengah terbuka. Malah dia masih manggut-manggut ingin tidur lagi, tapi berusaha di tahan.

Hinata bingung mau jawab apa, "A..ah, ini aku sedang membetulkan sesuatu," Fix jawabannya benar-benar aneh. Dan yang lebih anehnya lagi kenapa dia malah jawab?! Kenapa tidak langsung pergi saja dari tadi?!

Sial!

"Ungh, sesuatu-hoahm~"

Tidak tahu harus apa, cepat-cepat Ia menaruh benda itu di atas meja kembali. Selagi kesadaran Naruto belum kembali sempurna, dan wanita berambut merah di luar sana belum mendobrak pintu kamar ini.

Hinata harus pergi.

Berdiri perlahan, gadis itu menatap sekilas ke arah jendela kamar yang masih tertutupi tirai. Sinar matahari belum terlalu terlihat, jadi ia masih punya waktu.

Bertaruh melawan waktu dan pergi dari sini.

Hinata sudah menebak akan keluar dari jendela itu, melompat menggunakan kekuatannya yang telah kembali sangat gampang, bahkan dirinya bisa melesat kembali ke rumahnya dalam beberapa menit saja.

Berbalik menatap Naruto, pemuda pirang itu masih terduduk menguap.

Bagus-

"Ka..kau tidur saja Naruto," berujar demikian sembari melangkahkan kakinya pelan.

Dan siapa yang sangka kalau selangkah yang ia lakukan tadi, sukses menyentakkan tubuh Naruto kembali dari dunia khayalnya.

"Kau mau kemana?!"

Kaget, tubuh Hinata menegang. Tanpa basa-basi gadis itu menyeret selimut yang membalut tubuhnya agar berjalan lebih cepat.

"Kau tidak perlu tahu! Sana tidur lagi!" tidak lupa berteriak. Oke Hinata sedikit panik saat Naruto langsung saja meloncat dari tempat tidurnya, tidak peduli bagaimana keadaannya. Bertelanjang dada, hanya menggunakan celana dengan rambut acak-acakan.

"Kau mau meninggalkanku lagi?!"

Bisa ia rasakan bagaimana teriakan kecil itu terdengar lirih di telinganya, Hinata menggeleng kuat. Suara ketukan pintu di luar sana makin brutal. Kushina sepertinya sudah tidak sabar lagi.

"Naruto!"

"Aku sudah bangun Kaasan, sebentar lagi aku turun ke bawah!" Naruto berteriak cepat sembari mengejar gadis indigo di hadapannya.

Sial!

Berlari menjangkau jendela yang berada tak jauh dari posisinya tadi-

Bagaimana Ia harus menjawab pertanyaan Naruto dan semuanya. "Aku tidak tahu!" benar, Hinata sendiri bingung kenapa dia harus menjawab seperti itu.

Tidak tahu? Ayolah, apa tidak ada jawaban yang lebih pasti daripada itu?

Iya, mungkin?!

Grep!

Wajah pucat itu tersenyum tipis saat tangannya berhasil menggenggam tirai jendela, "Berha-"

Brak!

Kedua lengan Naruto dengan cepat menabrak jendela di depannya. Membuatnya terkurung, dan mau tak mau berdecak dalam hati.

"Vampire-chan, kumohon jangan pergi." Dengan tidak lelahnya Naruto terus mengucapkan kalimat itu, Hinata akui dirinya merasa sedikit bersalah karena telah membuat pemuda pirang ini menderita.

Ini memang salahnya, kalau saja dia tidak menemukan pemuda ini beberapa tahun silam pasti..dia tidak akan mengejarnya bukan?

"…" tidak tahu harus menjawab apa. Gadis itu lebih memilih diam sembari memunggungi tubuh tegap Naruto di belakangnya.

"Setelah akhirnya aku menemukanmu, kau mau pergi lagi? Kau tahu Vampire-chan..selama ini aku terus mencarimu, memikirkan bagaimana keadaanmu, dan janjimu yang dulu pun masih aku ingat dengan jelas. Ba..bagaimana bisa kau ingin meninggalkanku lagi sekarang?" suara yang serak mendominasi ruangan.

Apa bocah pirang ini menangis lagi?

"…"

"Kumohon-hiks-jangan pergi-hiks,"

Perkiraannya benar-

Persis seperti sepuluh tahun yang lalu, seorang anak kecil menangis di hadapannya dan merengek memintanya untuk tidak pergi lagi.


"Naru..Naru tidak ingin pisah sama Vampire-chan, hiks, hiks.."


Siapa yang tahu kalau ucapan bocah pirang itu serius?

Ia kira Naruto hanyalah bocah kecil yang bisa melupakan dengan mudahnya pertemuan mereka.

Ternyata perkiraannya salah.

Mendengus sekilas, dan menutup kedua matanya pelan. "Hh, kau menangis lagi? Berapa umurmu sekarang Bocah?" dirinya berujar keras.

Isakan dan sesenggukan tangis masih bisa ia dengar, "Hiks-biar saja! Kalau aku menangis bisa membuatmu diam di sini,"

Hh, cara yang sangat kekanak-kanakkan~

Tidak ada pilihan lain, dirinya terkurung di sini dan harus berbicara empat mata dengan Naruto. ya, sebelum Ibu sang empunya kehilangan kesabaran lagi dan terpaksa balik ke kamar ini.

Berbalik ragu-

Hh, yang ia lihat pertama kali adalah wajah Naruto yang berantakan. Dengan air mata dan ingus meler ke mana-mana, benar-benar seperti anak kecil.

Tanpa sadar ia berdecak kecil, dan menggunakan selimut yang membalut tubuhnya untuk menghapus semua air mata serta ingus itu dari wajah Naruto.

"Ck, kau ini seperti anak kecil lagi!" sedikit protes.

Naruto mengacuhkan semuanya, "Hiks-jangan pergi Vampire-chan,"

"Apa kau tidak ada kalimat lain selain itu? Aku bosan mendengarnya, heh." Mendengus dan mencoba tertawa kecil.

"Jangan pergi, kumohon. Akan kulakukan apapun supaya kau tinggal di sisiku-hiks,"

Perkataannya sama sekali tidak di dengar, sepertinya percuma jika dia bercanda di saat-saat seperti ini.

Hinata harus membuat Naruto mengerti-

Kalau mereka berdua tidak bisa bersatu-

"Kau tahu Naruto,"

"Hiks,"

Perlahan kedua tangannya terangkat dan menangkup pipi sang empunya, membuat mereka saling pandang beberapa saat.

"Kau seorang manusia, dan aku seorang Vampire. Mengerti? Seorang Vampire dan Manusia tidak mungkin bisa bersatu,"

Naruto menggelengkan wajahnya keras, "Aku tidak peduli!"

"Kau harus peduli!" Hinata berteriak tiba-tiba, membuat tubuh sang pirang mengejang.

Kedua tangan sang Hyuuga pun tak ayal harus gemetar saat ini, apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang?

"Umurku sudah seratus tahun sekarang, dan di duniamu mungkin saja saat ini aku hanya seorang nenek-nenek yang tidak bisa melakukan apa-apa atau mungkin sebenarnya aku sudah mati. Tapi tidak, karena aku ini Vampire! Aku hidup selamanya! Dan kau harus tahu itu! Berapa umurmu hah?! Tujuh belas tahun kan?! Lihat! Lihat bagaimana perubahan tubuhmu yang dulu begitu kecil di mataku dan sekarang kau bahkan sudah melewati tinggi badanku!" baru kali ini ia berbicara sepanjang itu.

Mengeluarkan semua kekesalannya, melihat bagaimana keras kepalanya sikap Naruto membuatnya pusing.

Lemas secara perlahan membuat kedua tangannya turun, "Kau bisa hidup tenang dan menunggu kematian menjemputmu, tapi bagiku kematian itu sudah ada sejak aku lahir. Hidup dengan tubuh seperti ini, khaha kau harus tahu itu." tertawa miris,

Emosinya berubah tak stabil, wajah itu menunduk-

"Jika aku menerimamu sebagai pendamping hidupku. Kau akan meninggalkanku dengan cepat dan aku akan sendiri lagi, jadi..kumohon mengertilah." Mendorong tubuh tegap di hadapannya dengan gemetar. Ia harus pergi, perasaaannya kacau jika berada di dekat Naruto.

Tangisan itu masih terdengar, "Apa tidak ada cara lain? Aku-hiks mencintaimu Vampire-chan, apa aku tidak bisa menjadi Vampire sepertimu? Aku akan melakukan apapun untuk-" sebelum Naruto sempat berkata lagi.

Plak!

Sebuah tamparan melayang ke arah pipinya, Hinata yang sudah menahan semua tenaganya. Menatap penuh amarah ke arah Naruto.

"Jangan pernah kau memikirkan hal itu lagi!" berteriak kecil.

Sang Uzumaki terdiam, dirinya sudah terlanjur pasrah. Daripada membiarkan gadis yang ia sukai pergi lagi. Dia-

"Aku tidak ingin membuatmu merasakan apa yang kurasakan! Sudah kubilang tidak ada cara lagi kau bisa bersamaku, jadi jangan keras kepala!" berkata kasar pada Naruto sungguh bukan kemauannya. Tapi terpaksa ia lakukan, pemuda pirang ini bisa saja melakukan hal-hal aneh jika ia terlalu lunak padanya.

"Kau masih bisa tumbuh dan menjadi seorang laki-laki gagah yang tampan. Atau mungkin nanti kau bisa bertemu dengan istri idamanmu, dan kalian punya keluarga yang sempurna, jadi ahaha lupakan saja aku, oke?" mengatakan dengan tawa seperti itu bukanlah hal yang mudah.

Dirinya benar-benar berubah jika berada di dekat Naruto-

Tapi siapa sangka, wajah pemuda itu menatap lurus ke arahnya. Tangisannya berhenti, dan seolah tidak peduli dengan rasa sakit akibat tamparan tadi.

"Kaulah yang akan menjadi istriku nanti, Vampire-chan."

"…." Kalau dirinya bisa menangis sekarang, mungkin akan ia lakukan. Kata-kata menyentuh itu hanya Naruto-lah yang selalu mengatakan padanya.

Mencoba tertawa lagi, "Kh..khaha, kau terlalu percaya diri bocah."

"Aku yakin kaulah yang akan menjadi istriku." Kalimat itu terdengar tegas,

Dan sebelum Hinata sempat merespon kembali-

Grep!

"Uzumaki Naruto dan Vampire-chan akan menikah nanti, dan kita akan punya anak-anak yang lucu serta menggemaskan seperti Ibunya."

Sebuah pelukan ia dapatkan, pelukan yang erat dan terkesan possessive.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pukul lima pagi, bersiap-siap dengan sepatu joggingnya. Menjalani hari seperti biasa.

Uchiha Sasuke berniat membersihkan pikirannya, sejak kemarin ia akui dirinya tidak bisa tidur. Hanya berguling-guling di tempat tidur tanpa bisa memejamkan mata sekalipun, bahkan selera makannya pun menghilang.

"Pagi-pagi begini kau sudah bangun, Sasu?" suara ibunya memanggil dari dapur, memasak untuk sarapan pagi tentu saja.

Hanya wanita cantik itu yang ia miliki sekarang, setelah kepergian sang ayah beberapa tahun silam membuat Sasuke tumbuh menjadi anak yang cuek dan dingin, dia terkadang bersikap lembut namun pada orang-orang tertentu.

Sahabat, dan Ibunya.

"Hn, aku pergi dulu." Berujar singkat, pemuda itu melemaskan tubuhnya beberapa saat. Sampai akhirnya berpamitan meninggalkan rumah.

Membiarkan sang Ibu yang keluar dari dapur melihat kepergian putranya dengan tatapan sendu, "Sampai kapan kau akan bersikap seperti itu, Sasu." Memikirkan kembali bagaimana putra kecilnya yang manis, baik hati dan selalu tersenyum pada semua orang kini berubah menjadi sosok dingin dan tertutup.

Kepergian sang ayah dan kedua orang yang ia sayangi sangat merubah sikap sang bungsu Uchiha.

Terlebih lagi karena kakaknya.

"Itachi-kun, Sai-kun Kaasan benar-benar merindukanmu."

.

.

.

.

.

.

Berlari, menepis semua udara dingin yang menerpa wajahnya. Sasuke tidak peduli, pikirannya butuh waktu untuk beristhirahat. Sinar matahari perlahan mulai terlihat, meski sedikit gelap ia ingin kembali ke taman kemarin.

Kedua manik Onyx itu terfokus ke depan, tidak banyak orang yang melewati tempat ini. Hanya ada dirinya, dan beberapa anjing liar yang tengah tertidur. Jalan ini memang sengaja ia pilih agar bisa menghindari banyak orang dan beberapa gadis yang terus saja berteriak keras jika melihatnya.

Vampire, Vampire, Vampire-

Saat ini hanya satu kalimat itu yang terbayang di pikirannya, memikirkan gadis kecil yang Naruto jaga kemarin. Kekuatan dan semua tingkah lakunya.

Sangat tidak normal tentu saja, bagaimana ia membanting tubuh Naruto dengan mudahnya.

Mahkluk itu benar-benar membuatnya muak. Sang Uchiha tidak peduli entah gadis itu orang yang di sayangi oleh sahabatnya, ia harus membunuh semua pemangsa menjijikkan itu. Bahkan untuk melihat mereka saja niat membunuhnya muncul.

'Apa dia menginap di rumah Naruto?' berpikir sekilas, sembari terus berlari.

Di saku celananya saat ini ia sudah memiliki air khusus dan senjata yang mampu membasmi kaum itu. Dengan kemampuan baik itu strategi, daya tahan tubuh, dan kelincahan yang terlatih selama hampir sepuluh tahun lamanya. Kejeniusan sang Uchiha sudah mampu untuk mengalahkan bangsa Vampire,

Dirinya pernah berburu makhluk itu tapi sayang tidak ada info yang ia dapatkan.

Mencari dan membunuh itulah yang Sasuke tetapkan di pikirannya sejak dulu.

Memusnahkan bangsa sialan itu dari muka bumi ini.

"Aku akan coba mencari gadis itu di rumahnya," berujar sekilas, tubuhnya masih aktif bergerak,

Sampai-

Grr! Guk! Guk! Guk!

Suara gonggongan anjing-anjing liar yang tadi ia lewati terdengar nyaring, nyaris mereka kompak melakukannya.

Sang Uchiha reflek menghentikan langkah kakinya, dengan kerutan bingung berbalik kembali ke arah anjing liar tersebut.

Suara itu menandakan ada yang tidak beres di sekitar mereka.

Sasuke tahu itu-

Dan tepat saat tubuh pemuda tampan itu berbalik, kedua Onyxnya membulat, diiringi tubuh mengejang singkat.

Giginya bergemerutuk menahan amarah, kedua tangannya mengepal keras.

Sebuah bayang seseorang tengah meloncati beberapa rumah terlihat-

Sosok berambut panjang terikat yang sepertinya belum menyadari keberadaannya, terlihat santai dan sepertinya tengah mencari seseorang.

"…"

Amarah menguasai Sasuke,

"Uchiha..Itachi," bisikan demi bisikan terdengar jelas, dan tanpa basa-basi lagi-

"Aku akan membunuhmu saat ini juga!"

Sang Uchiha berlari mengikuti ke arah mana kepergiaan laki-laki sialan itu.

.

.

.

.

.

.

.

Gila, Hinata benar-benar merasa kalau dirinya gila sekarang.

Bagaimana bisa seorang Hinata Hyuuga yang terkenal sangar dan galak di kalangannya kini sangat lemah di hadapan seorang pemuda pirang itu?!

Membiarkan tubuhnya terangkat bak pengantin-pengantin yang ia lihat di televisi. Dengan wajah yang entah kenapa menyembunyikan diri di dada bidang Naruto. Dan lihat! Ia reflek mengalungkan kedua lengannya pada leher sang Uzumaki.

Sial! Kenapa dia jadi lemah begini! Kemana pukul keras yang sering ia berikan pada Naruto kalau pemuda pirang ini berbuat macam-macam padanya?!

Kemana?!

Kenapa malah dia terdengar pasrah Naruto menggendongnya dan kembali membaringkannya di tempat tidur!

Oke, kalian jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu. Mereka berdua tidak akan melakukan apa-apa, hanya saja Naruto berhasil menghentikan tindak melarikan dirinya tadi.

Dengan kata-kata yang sukses membuat tubuhnya luluh saat itu juga, Hinata menerima semua perlakukan Naruto.

Oh, shit!

Merutuk dalam hati, menatap sekilas bagaimana pemuda pirang di sampingnya terduduk di pinggir tempat tidur. Dengan wajah seolah puas karena berhasil menghentikannya.

"Vampire-chan tunggu di sini dulu ya, aku akan membawakanmu sarapan."

Menatap Naruto dengan kerutan kening, " Kau pemuda paling keras kepala yang pernah kutemui, Naruto. Bahkan melebihi diriku sendiri." dengan nada kesal membalas perkataan Naruto. Malah membuat sang empunya terkekeh.

Pemuda itu mengusap puncak kepalanya lembut, tubuh Hinata mengejang sesaat. "Aku keras kepala kan karena kau, Vampire-chan."

Cepat-cepat menepis tangan Naruto, "Jangan bertingkah playboy lagi, bocah pirang! Aku tidak suka!" entah kenapa membayangkan sang Uzumaki mengatakan hal yang sama pada teman-teman gadisnya membuat Hinata sedikit kesal.

Ya, hanya sedikit lho!

"Baiklah, aku pergi dulu." Beranjak dari tempat tidurnya. Naruto segera memakai bajunya kembali, ya setelah mengambil sarapan untuk gadis indigo ini dia akan segera mandi. Kebetulan jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi dan sekolahnya dimulai jam Sembilan. Jadi masih ada banyak waktu.

"Oi, Naruto,"

"Hm?"

"Jika kau tidak ingin aku pergi dari sini, itu berarti kau ingin aku diam di sini selama-lamanya?"

"…" Naruto terdiam, menyelesaikan kegiatan memakai bajunya. Pemuda pirang itu berbalik menatap sendu.

"Kalau memang itu cara yang tepat, akan kulakukan." Berujar singkat, ia kembali melangkahkan kakinya pergi dari kamar.

"…"

Meninggalkan Hinata sendiri di sana, dengan pandangan menunduk menatap jemari-jemari kakinya.

"Hh, sejak kapan kau jadi overprotective seperti ini Bocah?" menggelengkan kepalanya, cemas dengan sikap Naruto yang terlampau over padanya.

.

.

.

.

.

.

Berdiri di atas tiang listrik, laki-laki berambut terikat itu mengelus dagunya singkat. Menatap dengan kedua mata memerahnya dari jauh.

Sebuah rumah yang tergolong besar, sebuah senyuman kecil nampak di wajahnya.

"Hm, jadi di sana kau rupanya, Hinata~" mendengus kecil, dari jarak jauh seperti ini pun ia bisa melihat bagaimana sosok gadis yang ia cari. Di balik tirai yang tertiup angin, Terduduk dengan wajah menunduk dan reflek mengangkat wajahnya menatap jendela kaca.

Itachi bersiul singkat, "Ah, dia menyadari keberadaanku~" mengucapkan nada sing a song, kekehan pelan terdengar.

Dan lagi lihat itu-

Itachi semakin ingin tertawa-

Kenapa Tuan putri Hyuuga itu diam di rumah manusia dengan menggunakan selimut saja menutupi tubuhnya?

Apa dia sudah melakukan hal-hal terlarang dengan manusia?

"Hn, kurasa aku harus segera mengajaknya pergi dari sini."

Tanpa basa-basi, dirinya melompat sekali lagi. Menghampiri balkon rumah tersebut. Mengucapkan selamat pagi pada Hinata dan meminta jawaban sang gadis indigo.


OoOoOoOoOoOoOoOoO


Tubuh Hinata menegang, wajah pucat itu semakin pucat saat dirinya merasakan kehadiran seseorang di luar sana. Menoleh cepat ke arah jendela kaca,

Dan apa yang ia dapatkan?

Sosok yang sangat ia kenal tengah berdiri di atas tiang listrik, dengan seringainya.

Sial! Kenapa harus sekarang?!

"Cih, Itachi!" berujar keras, segera bangkit dari tempat tidur. Memperbaiki selimut yang menutupi tubuhnya. Ia berjalan cepat menuju jendela.

Sosok berambut terikat itu melompati beberapa rumah dengan cepat dan-

Tep!

Dalam waktu singkat dia sudah berada di atas balkon. Memicingkan matanya tajam, kenapa dia bisa ada di sini? Bukannya Itachi sedang berada di Suna? Apa dia pulang cepat atau-

Sebelum sempat melanjutkan pemikirannya,

Brak!

Itachi menempelkan tangannya pada jendela balkon yang terkunci, dan membukanya dengan sangat mudah.

"Selamat pagi Hinata~"

Hinata reflek memundurkan langkah, "Kh, kenapa kau bisa ada di sini Itachi?!" berujar cepat tanpa memberi basa-basi.

Sosok pria di hadapannya hanya tersenyum tipis, berjalan mendekatinya sembari melihat-lihat seluruh ruangan. "Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa berada di tempat tinggal MANUSIA seperti ini, Hinata?" suara penuh penekanan itu sukses membuat Hinata meneguk ludah sekilas.

Sial, Itachi tidak boleh melihat Naruto!

Berusaha menghilangkan rasa gugupnya, Hinata memilih menatap langsung kedua mata merah di hadapannya. "Kemarin aku menggunakan obat Kabuto dan terserang demam parah, jadi ada manusia yang membiarkanku beristhirahat di sini."

"Hm, begitu? Kecerobohanmu sudah sangat fatal kau tahu? Berhubungan dengan manusia,"

"…." Hinata terdiam,

Itachi berjalan semakin mendekati sang Hyuuga, berdiri saling berhadap-hadapan. Bahkan kini salah satu tangan laki-laki itu bergerak menyentuh dagu Hinata. Membuat gadis itu semakin melihatnya.

"Kau tahu peraturan yang mengatakan kita harus membunuh semua manusia yang pernah berhubungan dengan bangsa Vampire?"

Tubuhnya semakin menegang-

"Kurasa kita berdua harus membunuh manusia baik hati yang menolongmu kemarin~"

Bukannya menepis tangan Itachi, Hinata kini malah mendengus remeh. Bahkan tangannya ikut bergerak menarik kerah pakaian sang empunya.

Grep!

"He, seorang UCHIHA ITACHI berkata seperti itu? Lalu bagaimana dengan keluarga manusiamu yang masih tinggal di sini? Kau ingin membunuh mereka juga? Oh atau kau hanya menggunakan Ayahmu sendiri sebagai korban dan membiarkan sisa keluargamu hidup dengan damai?"

Membiarkan Itachi membunuh Naruto? Tidak akan ia biarkan.

Seperti yang ia kira, rahang Itachi mengeras saat mendengar kalimat 'keluarga' keluar dari mulutnya. Heh, apa laki-laki ini kira dia bisa di kekang seperti tadi? Tidak akan!

"Jangan membawa-bawa nama keluargaku di sini." Kalimat main-main tadi berubah menjadi serius. Kedua manik merah Itachi makin menatapnya lekat. Bahkan dagunya kini terasa sakit karena tangan sang empunya.

"Kalau kau tidak ingin aku membawa-bawa nama keluargamu di sini, lebih baik tutup mulutmu dan kita pergi dari sini."

Decihan samar terdengar, "Ck, kalau kau bukan TUNANGANKU akan kuhabisi semua manusia itu saat ini juga." Melepaskan tangannya dari dagu Hinata kasar. Begitu juga sang Hyuuga, ia terlihat santai melepaskan tangannya dari kerah Itachi.

"Tidak akan kubiarkan, aku tahu semua seluk beluk keluargamu Itachi, bahkan sampai-" tatapan tajam sang Uchiha menusuknya.

Hinata terkekeh kecil, mengangkat kedua tangannya singkat, "Oke, oke, aku tidak akan membicarakan hal itu lagi~"

Mengidahkan perkataan Hinata, Itachi berbalik cepat. Merapikan kerah bajunya dan menarik pinggang Hinata mendekatinya.

"Kita pergi sekarang."

Tidak suka, tentu saja salah satu lengan Itachi tiba-tiba memeluk pinggangnya. Hinata reflek memberontak, "Aku tidak suka kau peluk!"

"Hn, kita ini sudah bertunangan jadi apa salahnya."

"Tetap saja!"

"Tidak ada waktu lagi, sebentar lagi matahari akan segera terbit. Kau ingin menjadi abu sia-sia di kota ini?"

"Ck, setidaknya aku bisa pulang sendiri tanpa perlu kau jemput!"

Tidak mengidahkan ucapan Hinata, tangan Itachi sudah mengajak gadis itu untuk segera pergi dari tempat ini.

"…"

Kalian dengar tadi? Saat dia mengatakan kalau Itachi adalah Tunangannya?

Ya, itu merupakan salah satu alasan kenapa dia tidak mau menjadikan Naruto sebagai pendampingnya. Karena sejak berumur tujuh belas tahun, dirinya sudah di tetapkan menjadi kekasih dari Uchiha ini.

Uchiha yang mempunyai kelas bangsawan sepertinya. Uchiha terkutuk yang beberapa tahun silam ini mengubah kembali nama baiknya berkat Itachi. Jika di jelaskan lebih awal lagi, Hinata tahu semuanya. Ia sudah mencari ke semua buku, atau hal-hal yang berkaitan tentang bangsawan Uchiha.

Dan itu merupakan senjata ampuhnya untuk Itachi agar mau menutup atau menghentikan tindakannya yang tergolong mengancam.

Dia harus mengingkari janjinya pada Naruto, karena orang ini sudah menemukannya. Akan lebih baik lagi jika Naruto tidak melihatnya pergi, karena bisa saja Itachi-

Ugh- memikirkannya saja ia tidak mau.

Menoleh sekilas ke belakang, pandangannya berubah sendu.

Mungkin inilah terakhir kalinya mereka bertemu, tidak akan ada waktu lagi karena setelah hal ini terjadi keluarganya tidak akan pernah membiarkannya pergi tanpa pengawasan. Dan mungkin saja Itachi ikut andil.

Keluar dari balkon, membiarkan udara pagi mengenai wajahnya. Rambut indigo panjang itu bergoyang pelan.

Hinata menutup kedua matanya singkat, entah kenapa rasa antusias dan semangatnya luntur seketika. Dirinya pasrah membiarkan Itachi mengeratkan pelukan pada pinggangnya.

"Kau tahu kita akan menikah beberapa minggu lagi, jadi jangan bertindak yang aneh-aneh lagi Hinata."

Pernikahan mereka?

Hinata tidak ingin mendengar itu semua.

"Aku tahu."

Dia..dia harus pergi dari sini-

Melupakan kejadian hari ini, pertemuanya dengan Naruto, kenangan berharganya dulu, dan-

PRANG!

"VAMPIRE-CHAN!"

Rasa sukanya pada sang Uzumaki. Sudah tabu bagi seorang Vampire kelas bangsawan sepertinya jatuh cinta pada seorang manusia.

"Maaf Naruto," tangannya melepas pelukan Itachi, dan melesat cepat mendekati Naruto.

Bugh!

"Kau benar-benar bocah merepotkan." satu kalimat dingin terdengar pelan, mengalun di telinga sang Uzumaki beriringan dengan tubuh tegap itu jatuh tersungkur ke lantai tanpa bisa mengucapkan apa-apa.


TO BE CONTINUED~


A/N :


Oke, Mushi apdet lagi minna! Yeeeii sebentar lagii cerita ini akan tamat :'D Akhirnya kesampean juga berhasil ngelanjutin ini fic. Maaf lama menunggu ya, :'D

Oh, iya kalian masih pada inget nggak sama cerita Not Ordinary Woman? Apa di sini ada yang mau minta sequelnya? Kalau banyak yang berminat akan Mushi lanjutkan sebagai pengganti cerita ini nanti :3 Udah usang sih itu cerita mungkin banyak yang udah lupa muahahaha :v :v

Eh, Mushi ada buat cerita Original sendiri #iseng2# mampir ya buat ngasi saran atau vote juga boleh di wattpad. Baca aja juga nggak apa-apa, ehehe :v :v


Nama wattpad : mushikarachan


Hh entah kenapa malah mood lebih nulis lebih condong ke sana wkwk, gomen gomen XD Ayo siapa yang masih betah di ffn dan baca fic ini? Respon responn minna XD #Gaplok#


oOoOoOoOooOoOoOoOo


Big Thanks buat yang sudah me-riview, mem-fav, dan mem-follow fic Mushi #peluksatu2#muaacchh#dibakar#

Arigatou #ojigi#


Segitu aja deh Cuap-Cuap dari Mushi

Kalau begitu Akhir kata kembali

SILAKAN RIVIEW YAA! \^O^/\^V^7

JAA~