A/N : Yo Minna..saya balik setelah sekian lama. Jadi, saya membaca review-reviw minna-san semuanya, dan harus saya peringatkan kalau cerita ini tidak sepenuhnya lucu dan ringan dibaca.Banyak yang bilang begitu direview, tapi dicerita ini juga akan banyak angst. Termasuk chapter ini, tapi chapter dengan saya usahakan Fluff sebisa mungkin.

Important Note : Di chapter ini juga ada adegan dari Hunter x Hunter the Movie, bagi pembaca yang belum nonton akan saya beri sedikit penjelasan. Dalam Movie The Phantom Troupe, ditunjukkan kalau Kurapika bisa selamat karena dia lulus ujian untuk bisa pergi ke dunia luar sebelum penyerangan Genei Ryodan (Desa Kurapika terisolasi dari dunia luar dan tidak memperbolehkan penduduknya pergi dan demi menjaga mata mereka). Disitu juga diberi tau kalau Kurapika mempunyai sahabat yang mempunyai fisik lemah bernama Pairo. Sebelum Kurapika berangkat, Pairo membuat Kurapika berjanji pada saat dia sudah kembali, Kurapika akan menceritakan bagaimana rasanya di dunia luar.

Selebihnya yang muncul dichapter menyangkut masa lalu Kurapika adalah buatan saya... ^^


Neko Kurapika

.

.

Disc : Hunter x Hunter © Yashihiro Togashi

.

.

Author : Nemurase Hime

.

.

Chapter 2 : A glass of poison

"What remain is her broken heart..."

Kurapika Kuruta melihat keluar dari balik jendela, daun-daun mulai meranggas dan berguguran, matahari bersinar hangat di luar sana. Jendela kamar Kuroro terbuka, sehingga kehangatan sinar mentari bisa merasuk ke ruangan itu dan dapat dirasakan oleh Kurapika.

Apa yang kulakukan disini ? Ia bertanya pada dirinya sendiri, seharusnya dia sekarang sedang berlatih untuk membalas dendamnya, bukannya berada di kamar musuh bebuyutannya dengan semangkuk susu disampingnya.

Kurapika melihat ke arah pintu, Kuroro belum kembali...

Dengan cekatan, Kurapika berusaha mencapai jendela yang tinggi itu dan membuat dinding ruangan itu berbekas cakarannya dengan tujuan yang sudah jelas, yaitu kabur.

Ugh...sedikit lagi...

Tangan Kurapika dengan frustasi berusaha menggapai jendela itu, kalau saja tangannya lebih panjang beberapa senti lagi saja...ugh...

Dapat!

Kurapika memegang bingkai jendela itu kuat-kuat, mengangkat badannya dari tanah dan menaikkan dirinya sendiri ke bibir jendela. Kurapika melongok kebawah, pemandangan yang terlihat dari lantai 2 memang mengerikan, apalagi dengan tubuhnya sekarang. Tapi bukan Kurapika namanya kalau ketinggian dapat menghalanginya kabur.

Ia memejamkan matanya, dan bersiap untuk melompat, ia memajukan kakinya hingga Kurapika tidak bisa merasakan lagi permukaan bingkai jendela dibawah kakinya.

Tapi...aneh... Kenapa dia tidak merasa terpaan angin yang seharusnya menerpanya saat dia jatuh. Merasa aneh, Kurapika membuka matanya dan iris chocolate browniesnya bertemu dengan iris obsidian Kuroro, dan pemilik iris obsidian itu sedang mengangkat tubuhnya yang dengan sukses menghentikan Kurapika melompat dari jendela untuk kabur.

"Apa yang kau lakukan, Nekora ?" Tanya Kuroro dengan nada yang datar namun ada sedikit kesan menertawakan dikalimatnya. Kurapika tiba-tiba merasa ingin menghantam kepalanya kedinding, seharusnya dia tau kalau Kuroro akan dengan suatu cara menghalanginya.

Pria itu seperti terlahir untuk mengganggunya, entah kenapa dia selalu berhasil menghentikan Kurapika untuk kabur, sengaja atau tidak sengaja.

Sambil menghela napas, Kurapika memutuskan kalau ini adalah percobaan terakhirnya untuk kabur, dia mau tidak mau merasa terkesan dengan dirinya sendiri. Karena dalam 3 hari Kurapika sudah berhasil melakukan upaya untuk kabur sebanyak 57 kali, dan 57 kali juga dia gagal. Belum lagi pemberontakan-pemberontakan kecil yang dilakukannya (Melempar gelas/piring/benda –benda lain yang sejenis ke arah Kuroro : 23 kali ; Dengan sengaja menumpahkan teh/sup panas ke baju Kuroro : 5 kali ; Membanting perabotan dengan sengaja untuk merusaknya: 17 kali ; Mencakar Kuroro sampai berdarah : 32 kali, dst.)

Sampai sekarang Kurapika masih heran kenapa Kuroro tidak mengusirnya, padahal kalau Kurapika punya kucing seperti itu, dia tidak akan segan-segan melemparnya keluar. Tapi pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa-apa kalau dia berbuat sesuatu, padahal Kurapika sangat berharap kalau Kuroro akan mengusirnya sehingga dia bisa bebas dari sini.

Pikirannya terhenti ketika Kuroro mulai berjalan dan membawa Kurapika ke meja makan untuk menikmati sarapan pagi mereka. Kurapika diam saja dan membiarkan dirinya dibawa oleh Kuroro, dia terlalu malas untuk melawan.

~~Neko Kurapika~~

"Kurapika menghilang ?" Ulang Leorio sembari melotot pada Eliza, yang dipelototin Cuma bisa ngangguk pelan karena takut. Yaiyalah..didepannya ada bapak-bapak galak yang melototin dia dari tadi, gimana enggak ciut nyalinya.

"Cih...si Kurapika itu, seenaknya saja dia menghilang." Omel Leorio tidak-kepada-siapa-siapa. "Sebaiknya kita mencari Kurapika." Timpal Gon, wajahnya terlihat khawatir, tidak kalah dengan wajah khawatirnya Leorio.

"Memangnya kapan Kurapika menghilang ?" Tanya Killua yang ekspresinya woles aja bro, enggak kayak dua temannya yang udah mondar-mandir kesana kemari kayak kebakaran jenggot.

"Aku tidak tau, mungkin sekitar 3 hari yang lalu. Pagi itu aku masuk kekamarnya dan dia tidak ada." Jawab Eliza. "Tuan Nostrade sudah sangat marah karena dia tiba-tiba menghilang, padahal dia Kepala Penjaga Nona Neon, katanya kalau Kurapika tidak kembali secepatnya, dia akan dipecat."

"Baiklah. Kita akan mencari Kurapika, kurasa dia belum jauh. Ayo Killua, Leorio!" Ujar Gon yang sudah setengah langkah menuju pintu.

"Jangan." Sergah Killua, "Biarkan saja dulu. Kurapika kan bisa melindungi dirinya sendiri, kita masih belum tau apa yang terjadi. Akan gegabah kalau langsung mencarinya tanpa menunggu kabar dulu darinya. Kalau misalnya selama seminggu ini tidak ada kabar apa-apa, kita akan mencarinya."

Leorio dan Gon manyun, mau tidak mau mereka setuju. Karena tentu saja mereka tau apa yang dikatakan sahabat mereka itu benar, namun tetap saja mereka khawatir!

"Baiklah...kalau begitu."

~~SKIP TIME~~

Sinar matahari tertutup oleh gumpalan awan putih dilangit, angin bertiup lembut menemani embun pagi. Kalau kalian punya kesempatan untuk memejamkan mata untuk sejenak dan membiarkan angin membawa pergi semua masalah kalian, kalian akan menemukan kedamaian.

Dan itulah yang dilakukan Kurapika, memejamkan mata dan membiarkan angin membawa masalahnya pergi, untuk sementara. Kuroro sedang pergi dengan Genei Ryodan untuk menyelesaikan urusan mereka, dan entah kenapa Kurapika sama sekali tidak tertarik untuk ikut serta dan memilih untuk tinggal disini.

Hingga akhirnya sampailah Kurapika disini, berdiri didepan mansion Kuroro, dibawah pohon gingko yang sedang meranggaskan daun-daunnya, membuat Kurapika merasa dirinya ditengah hujan daun yang indah. Hanya itu. Hanya dirinya dan daun-daun ini. Hanya Kurapika Kuruta.

Kurapika tidak tau betapa rindunya dia dengan kata-kata itu, hanya dirinya. Hanya Kurapika. Tanpa semuanya. Tanpa Gon, tanpa Killua, tanpa Leorio, tanpa Neon, tanpa Tuan Nostrade, tanpa Senritsu, tanpa Genei Ryodan dan tanpa Kuroro. Hanya dirinya. Tenang dan sendiri ditengah hujan daun.

Semua masalah yang terjadi disekitarnya benar-benar membuatnya lelah, secara batin. Beban yang ditanggungnya semenjak dia berumur 12 tahun perlahan mulai terasa beratnya.

Kurapika tidak menyangka bisa menemukan ketenangan seperti ini setelah sekian lama. Tiba-tiba angin kencang melewatinya, membuat kalung loncengnya bergoyang dan menimbulkan bunyi ribut. Angin itu semakin lama semakin kencang, Kurapika membuka matanya dan berjalan untuk pergi sebelum loncengnya lepas dari kalung lehernya.

Ck...

Kurapika mengejar lonceng itu sampai kakinya menginjak permata berwarna merah darah. Dia terkeseiap sesaat, permata pemberian ibunya...

Kurapika mengamati permata itu, memang permatanya, yang sempat dijadikan anting sebelah oleh Kurapika. Kurapika melihat kalung leher dan loncengnya, ada lubang yang pas untuk permata itu ditengah-tengah kedua benda itu. Bagaimana bisa dia tidak menydarinya ? Memang sih... kalung lonceng itu sudah ada semenjak dia bangun, dan tidak ada alasan bagi Kurapika untuk membuka kalung itu kecuali untuk mandi dan Kurapika belum menyentuh air dengan tujuan mandi semenjak dia menjadi kucing.

Kurapika sudah melempar Kuroro dengan gelas ketika dia berusaha memandikannya. Alasannya hanya karena dia tidak mau dimandikan oleh Kuroro.

Sebenarnya bisa saja Kurapika mandi sendiri, tapi Kuroro tidak mau meninggalkannya, dan akan terlalu mencurigakan bagi Kuroro kalau kucing yang ditemukannya dijalan itu luar biasa pintar dan tau bagaimana caranya mengurus diri sendiri. Haha...bagus sekali, masih banyak yang haruskan Kurapika sebelum dia mati ditangan Pemimpin Ryodan.

Pemimpin Ryodan...

Kata itu seperti menghantamnya dengan keras. Pemimpin Ryodan. Tentu saja. Kurapika dan Kuroro adalah musuh. Kuroro telah membunuh seluruh anggota sukunya, membiarkannya sendirian di dunia yang kejam ini saat dia belum siap sepenuhnya. Ketika Kurapika masih perlu tempat yang disebut rumah, dan dia kehilangan tempat yang disebut rumah itu ketika desa Kuruta hancur.

Oh..siapa yang diajaknya bercanda ? Sampai sekarang dia masih butuh tempat yang disebut rumah. Hanya saja...dia lebih kuat menghadapi dunia ini dan tau kalau tidak akan ada kehangatan yang menyambutnya setelah dia berpergian jauh namun masih bisa bergerak maju. Dan itu tidak apa sekarang...sekarang, dia mampu menanggung semuanya sendiri. Meskipun dia tidak bisa menipu dirinya sendiri kalau sampai sekarang dia masih menginginkan sebuah rumah. Tempatnya pulang...

Kurapika menarik napas tajam, matanya tiba-tiba terasa panas... Kenyataan kalau dia adalah seseorang tanpa rumah menghantamnya sekali lagi (Sebelumnya dia sempat memikirkan tentang masalah 'rumah' ini dan hasilnya cukup sama).

Siapa yang harus disalahkan atas semua penderitaan Kurapika selama ini ?

Kuroro. Tentu saja... kalau bukan karena dia, mungkin Kurapika tidak akan berdiri disini ditengah hujan daun gingko, mungkin Kurapika akan berada dirumahnya bersama dengan orang tuanya dan Pairo, dengan Kurapika yang menggerutu tentang orang tuanya yang ribut dan Pairo yang hanya mencoba menyabarkan Kurapika, dan ibunya yang...oh.. pasti akan marah-marah kalau dia ketauan membicarakannya dibelakang.

Ibunya memang begitu, terlalu hyperactive dan kerjanya mengomel terus, berbeda sekali dengan ayahnya yang bisa dibilang pendiam dan murah senyum. Sepertinya Kurapika mewarisi sifat pendiam ayahnya dan sifat pemarah ibunya.

Dan...ugh...sensasi panas dimatanya kembali lagi, dia sadar kalau dia sangat merindukan keluarganya, merindukan aroma teh ibunya dan senyum ayahnya setiap kali dia bangun dipagi hari. Kurapika merindukan suasana damai dan tenang dirumahnya. Bersama keluarganya...

Kurapika membiarkan air matanya jatuh, untuk sekali ini... agar dia bisa melepas bebannya untuk sementara waktu dan menyiapkan diri untuk menanggungnya lagi. Dan memori tentang masa lalunya menghantamnya kembali, berdesak-desakan memasuki benaknya dan berputar didalam pikirannya, membiarkan Kurapika sekali lagi mengingat kejadian lama yang sangat dirindukannya dan sangat menyakitkannya...

Kurapika...Kurapika...

Apa kau tau handphone ? Aku dengar itu benda yang menakjubkan—hei! Kau tidak mendengarkan ibumu ya Kurapika ? Dasar...

Apa kau yakin dengan keputusanmu, Kurapika ?

Hati-hati di jalan, Kurapika!

Ibu, ayah, Pairo, Tetua, dan semuanya...

Serpihan-serpihan ingatan itu datang secara bergantian dan Kurapika tidak bisa menemukan dirinya ditengah kekacauan pikirannya sendiri. Saat Kurapika membuka matanya untuk melarikan diri dari pikirannya sendiri, dia melihat permata yang diberikan ibunya, masih tergeletak ditanah dibawahnya.

"Hei Kurapika...Sini dulu!" Ibunya menariknya kepojok rumahnya. "Ada apa sih bu ? Aku sudah mau berangkat... Tetua juga sudah—"

"Ini." Ibunya menyodorkan permata merah yang sewarna dengan darah, sewarna dengan matanya... itulah hal pertama yang dipikirkan oleh Kurapika setelah melihat permata itu. "Apa ini ?" Tanya Kurapika, tapi dia mengambil permata itu dari tangan ibunya meskipun dia masih bingung.

"Ini racun.."

Kurapika mebelalakkan matanya dan membuka mulutnya untuk berteriak, "RA—hmmph" , tangan ibunya menutup mulutnya dengan segera.

"Jangan berteriak. Bagaimana kalau Tetua tau ?" Hardik ibunya sambil menempelkan jari telunjuknya dibibir.

"Justru itu tujuan utamaku." Ujar Kurapika sadis, dan ibunya merengut, "Kau tidak menyenangkan Kurapika."

"Langsung ketujuan pembicaraan saja bisa, bu ?" Tanya Kurapika dengan muka malas, ibunya menarik kedua pipinya dengan kuat, "Dasar! Kau sudah mau pergi menjelajahi dunia! Bagaimana kalau kau tunjukkan sedikit rasa sayangmu pada ibu!"

"Ahh—sakit bu..." Gerutu Kurapika dan ibunya melepaskan tarikannya pada pipi putrinya, "Dengar ya...racun ini memang tidak seberapa, tapi aku sudah membuatnya tidak berasa dan tidak berbau." Ibunya meletakkan tangannya dipinggang dan tangannya yang satu lagi mendorong-dorong keningnya dengan jari telunjuk. Kurapika paling benci kalau jurus 'totok dahi' ibunya sudah keluar. "Jadi gunakan sebaik mungkin. Aku tau kau bisa melindungi dirimu sendiri, tapi anggap saja ini sebatas kekhawatiran seorang ibu terhadap putrinya."

Lalu ekspresi sebal ibunya mulai cair ke ekspresi yang menggambarkan perasaan wanita itu sebenarnya, sedih dan bangga. Air mata mulai jatuh berdesak-desakan dari mata ibunya, dan Kurapika kaget melihatnya, karena ibunya seharusnya adalah wanita yang kuat. "Aku akan merindukanmu Kurapika. Jaga dirimu baik-baik..." Ibunya mencium keningnya, dan Kurapika memeluk ibunya untuk pertama kali setelah sekian tahun.

Setelah itu, Ayahnya mengucapkan perpisahan secara pribadi seperti ibunya. Tapi ayahnya hanya menunjukkan sebatas senyum dan kata-kata "Jaga dirimu baik-baik. Kau tau mana yang baik dan mana yang buruk.", benar-benar khas ayahnya. Dan Kurapika memang tidak meminta lebih. Dia menyukai ayahnya apa adanya.

Ketika seluruh penduduk desa mengantar kepergiannya, termasuk ibu dan ayahnya. Ibunya tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan semangat, ayahnya hanya menyunggingkan senyum simpul yang berkata "Hati-hatilah", dan Kurapika berjanji pada Pairo untuk menceritakan tentang dunia luar setelah kepulangannya.

Lalu dia pergi, untuk menjelajahi dunia luar...meninggalkan desa Kuruta... dan sama sekali tidak tau kalau itu benar-benar perpisahan bagi Kurapika dan seluruh penduduk desa Kuruta.

Kurapika menggepalkan tangannya, emosinya campur aduk. Permata merah ibunya masih dengan tergeletak dibawahnya, dengan racun yang belum pernah Kurapika pakai sekalipun.

Kurapika memungut permata itu dan meletakkannya kembali dikalung lehernya, lalu menutupinya dengan loncengnya. Seperti sebelumnya, seolah tidak terjadi apa-apa dengan kalung itu. Setelah itu, Kurapika masuk ke dalam mansion Kuroro dengan wajah yang datar.

~~SKIP TIME~~

Kurapika setuju untuk ikut misi berikutnya. Semua pikirannya kemarin ketika dia sendirian hampir membuat Kurapika kehilangan akal sehatnya dan tidak ada yang lebih bagus dari pada lari dari semuanya dan menonton Genei Ryodan melakukan misi mereka, mempelajari gerakan mereka untuk kepentingan pertarungan Kurapika dan Genei Ryodan yang akan datang.

Jadi ketika Kuroro mengajaknya untuk ikut ke misi berikutnya, Kurapika berlari dan meloncat kebahu Kuroro.

Misi mereka cukup sederhana. Hanya membunuh makhluk sejenis Chimera Ant dan memang selalu begitu, kan ? Karena Kuroro tidak pernah membawa Kurapika ke misi berbahaya, entah karena menurutnya Kurapika akan mengganggu atau karena Kurapika bisa terluka. Dia tidak tau, tapi kemungkinan benar point pertama lebih besar dari yang point kedua. Tapi, itu menurut Kurapika.

"Tunggu disini Nekora..." Ujar Kuroro sambil menurunkan Kurapika dari bahunya, ia meletakkan Kurapika dibawah pohon dekat gua yang menjadi tempat kerja Genei Ryodan hari ini. Lalu Kuroro pergi menuju gua itu, disusul anak buahnya, wajahnya cukup serius...dan Kurapika berasumsi bahwa dia mendeteksi musuh yang cukup berbahaya.

Kurapika duduk tenang dibawah pohon gingko itu, berusaha mencari tau apa yang terjadi tanpa bantuan nen-nya. Kurapika baru saja akan mengambil sebuah daun gingko yang jatuh di kepalanya sebelum tiba-tiba badannya tidak bisa bergerak, seolah seluruh otot dalam tubuhnya membeku.

A...apa yang terjadi ? Pertanyaan itu terus berulang dalam pikiran Kurapika, dia tidak bisa menggerakkan satu otot pun dan sangat mengganggunya untuk tidak tau apa yang sedang terjadi.

Lalu tubuhnya diangkat, Kurapika mengira yang mengangkat tubuhnya adalah Kuroro, kalau saja dia tidak merasa sentuhan kasar dibadannya yang sama sekali bukan Kuroro. Kuroro memang tidak menyentuhnya dengan terlalu lembut seolah Kurapika semacam porselen dari Cina yang sangat rapuh, tapi sentuhan Kuroro tidak pernah menyakitinya (Dan Kurapika tidak bisa tidak kesal dengan kenyataan itu. Bagaimana seorang pemimpin Ryodan memperlakukannya benar-benar membuatnya merasa kesal).

Tapi ini... Kurapika bisa bersumpah kalau orang yang mengangkatnya bukan Kuroro.

"Lihat kucing ini..." Sebuah suara yang melengking dan tidak familiar didengar Kurapika.

"Ini kucingnya orang itu, kan ? Yang sedang bertarung melawan boss ?" Satu lagi suara yang serak basah dan tidak familiar didengar Kurapika.

"Tidak tau. Tapi masa' sih orang seperti itu mau memelihara kucing ?" Tanya suara yang melengking. Untuk lebih mudah, mari kita panggil orang yang suaranya melengking si A dan orang yang suaranya sedikit serak si B.

Jangankan kau...aku sendiri tidak tau kenapa dia mau memelihara kucing. Kurapika berkata dalam hati dan tanpa sadar menghela napas (Yang jugda dalam hati, karena tubuhnya masih tidak bisa bergerak). Tapi Kurapika mengingat posisinya yang sedang berada ditangan orang asing dengan keadaan tubuh tidak bisa bergerak sementara Kuroro dan Genei Ryodan masih berada didalam gua aneh itu. Bagus...bertambah lagi daftar kesialanku.

"Mau kita apakan kucing ini ?" Tanya si B sambil menunjuk Kurapika.

"Tidak tau...kita tanya saja nanti sama boss setelah dia berhasil mengalahkan kelompok itu, mungkin boss ada niat memelihara kucing." Jawab si A.

Kurapika entah kenapa merasa lemas, kenapa orang-orang ini tidak meninggalkannya sendiri saja sih ?

"Kelompok yang kalian sebut-sebut tadi itu maksudnya kami ?"

Tubuh Kurapika menegang, bisa dirasakannya tubuh orang yang mengangkatnya juga menegang mendengar suara parau yang tidak lain dan tidak bukan milik Kuroro Lucifer. Kurapika ingin membalik badan dan melihat apa yang terjadi, kalaus aja tubuhnya bisa bergerak... Tapi si A yang memegangnya membalikkan tubuhnya—yang otomatis Kurapika juga ikut berbalik—sehingga Kurapika juga bisa melihat Kuroro. Kurapika agak heran melihat pria itu berdiri sendiri, namun suara pertarungan didalam gua membuat Kurapika menyimpulkan pertarungan anggota Genei Ryodan yang lain belum selesai.

"Ka...kau ? Mana boss ?" Hardik si A dengan panik juga takut, dan itu wajar berhubung pemimpin Genei Ryodan yang disebut-sebut sebagai kelompok siluman berdiri dihadapannya.

"Maksudmu ular aneh itu ? Aku mengirimnya ke tempat yang damai." Kata Kuroro dengan nada datar, dan Kurapika tau maksud dari kalimat itu. Kuroro sudah bersiap-siap untuk menghabisi kedua orang itu sebelum matanya terhenti pada sosok berbulu keemasan ditangan si A. Si A yang saat ini memegang Kurapika menyadari arah tatapan Kuroro, ia dengan spontan mengambil pisaunya dan mengarahkannya ke Kurapika.

"Ja—jangan bergerak... Atau...atau...atau kucing ini kubunuh!" Si A sadar betapa bodoh kalimatnya terdengar, mengancam pemimpin Ryodan dengan tahanan seekor kucing yang belum tentu miliknya, namun dia mengabaiannya. Rekannya, si B, sudah memberi tatapan aneh kepadanya, tapi tekanan perasaan takut terbunuh memblokir akal sehat si A, dan sepertinya keputusannya tidak salah karena dilihatnya ekspresi wajah pemimpin Ryodan itu berubah.

Kurapika bertanya-tanya dalam hati kenapa Kuroro tidak mengabaikan saja dirinya dan menyerang si A dan si B. Toh, dia hanya seekor kucing, kan ?

Si A mengambil langkah mundur sambil mengisyaratkan pada rekannya untuk mengikuti gerakannya, tangannya tidak bergerak dari pisau yang mengarah ke leher Kurapika, dan kucing itu berusaha keras menggerakkan kembali tubuhnya. Dia tidak mau mati seperti ini.

"Kalau kau bergerak...aku akan membunuh kucing ini..." Kata si A ragu-ragu sambil terus melangkah mundur, dan kepercayaan dirinya mulai muncul ketika pemimpin Ryodan itu tidak bergerak sama sekali, begitu juga anggotanya. Berarti kucing ini memang miliknya.

Pisau ditangannya menggores leher Kurapika yang masih tidak bisa bergerak karena pengaruh nennya, sehingga membuat darah segar mengalir dari goresan itu. Kurapika merasakan sakit menusuk dilehernya, dia memejamkan matanya, rasa takut mulai menjalar dalam dirinya dan berbagai macam pikiran negatif merasuki otaknya. Bagaimana kalau dia tidak bisa selamat ? Bagaimana kalau dia mati disini ? Dan rasa sakit dilehernya sama sekali tidak membantu.

Saat ini dia tidak bisa menggunakan nen dan tubuhnya tidak memungkinkan untuk bertarung, teman-temannya tidak disini dan yang tersisa hanya...

Kuroro.

Kurapika membuka matanya dengan seketika, dan melihat Kuroro menghilang dari pandangannya, lalu detik berikutnya tubuh Kurapika sudah berada ditangan Kuroro. Perlu sekitar 10 detik bagi Kurapika untuk menyadari kalau dia sudah bisa bergerak, matanya dengan spontan mencari si A dan si B yang tidak beberapa lama kemudian ditemukan olehnya di tanah dalam keadaan bersimbah darah.

Kurapika menggerakkan tangan dan kakinya, mulai membiasakan diri karena barusan dia tidak bisa mengangkat satu jaripun. Lalu Kurapika merasakan seseorang mengelus kulit disekitar lukanya, dia mendongak dan melihat Kuroro berusaha memeriksa seberapa dalam luka Kurapika.

Kemudian, sebuah kenyataan seperti menghantam Kurapika.

Barusan...bebera menit yang lalu, dia diselamatkan oleh pemimpin Ryodan. Kurapika mulai mual, kenyataan kalau orang yang ingin dibunuhnya sudah menyelamatkan hidupnya benar-benar membatnya muak. Dia benci tubuh ini. Karena tubuh ini dia tidak bisa bertarung dan harus dilindungi oleh Kuroro Lucifer.

Pikiran Kurapika terhenti ketika anggota Ryodan yang lain mulai keluar, beberapa diantara mereka menunjukkan wajah kaget ketika melihat Kurapika bersimbah darah.

"Machi..." Kuroro dengan segera berjalan ke arah wanita itu, "Bisa kau jahit luka Nekora ?"

Machi mengangguk dan mengambil Kurapika dari tangan Kuroro, entah kenapa Kurapika langsung kehilangan suhu dingin Kuroro ketika kulit Kurapika kehilangan kontak dengan tangan Kuroro. Lalu Machi mulai menjalankan perintahnya, menjahit luka Kurapika dengan kemampuannya, dan Kurapika membiarkannya. Meskipun anggota Ryodan sedang merawat lukanya, dan Kurapika tidak nyaman dengan kenyataan kalau Machi merawatnya dengan sangat hati-hati. Seolah takut untuk melukainya.

Perasaan mual itu kembali lagi, dan Kurapika tidak bisa apa-apa kecuali menggigit bibir bawahnya kuat-kuat yang membuat bagian dalam mulutnya sedikit terluka karena giginya lebih tajam dari giginya yang dulu.

Saat Machi selesai, Nobunaga datang menghampirinya. Kurapika setengah berharap kalau pria itu akan memarahinya karena menghalangi misi mereka. Tapi Kurapika menemukan ekspresi khawatir yang dengan baik disembunyikan oleh Nobunaga, dan Kurapika perlu kontrol yang kuat untuk tidak melukai bagian dalam mulutnya lebih jauh lagi.

"Cing, kau tidak apa-apa, kan ?" Tanya Nobunaga setelah dia cukup dekat dengan Kurapika, pertanyaan itu diucapkan cukup pelan sehingga hanya Kurapika yang mendengarnya dengan nada yang terkesan cuek, tapi Kurapika tau kalau dia sebenarnya khawatir. Kurapika mengangguk, mengabaikan semua perasaan tidak nyaman dalam dirinya, dan dia melihat samurai itu berjalan pergi dengan wajah puas.

"Nekora..." Panggil Kuroro, Kurapika berbalik dan melihat pemimpin Ryodan itu memberi isyarat agar Kurapika pergi ke tempatnya. Terlalu malas untuk berargumen, Kurapika menurut dan langsung lari ke arah Kuroro, kemudian loncat ke bahunya dan duduk manis disana.

Kuroro memberi perintah pada anak buahnya tentang sesautu yang Kurapika tidak tertarik untuk mengetahuinya. Malahan, Kurapika diam saja, mengamati pemimpin Ryodan yang barusan saja melindunginya, atau anggota Ryodan yang mrawat lukanya dan bukan hanya itu, ada salah seorang anggota Ryodan menghampirinya dan menanyakan keadaannya.

Takut mulai merasuki Kurapika sekali lagi, ketakutan terbesarnya mulai terjadi, dia akan kehilangan kebenciannya dengan anggota Ryodan.

Ketika Kuroro dan Kurapika sampai di mansion malam itu, Kurapika berbaring ketempat tidur lebih awal, tapi matanya sama sekali tidak terpejam.

~~SKIP TIME~~

Ketika Kuroro pulang, Kurapika berada disofa didepan TV, tempat Kurapika biasa menghabiskan waktu kalau Kuroro sedang pergi dan tidak membawanya. Kuroro pulang membawa makanan untuk mereka makan berdua. Kurapika dengan tidak-terlalu-senang-hati menerimanya.

Tapi, meskipun makanan yang disodorkan pada Kurapika benar-benar menggugah selera, dia sama sekali tidak berminat menyentuhnya.

"Kau tidak mau makan Nekora ?" Tanya Kuroro dengan muka datarnya. Ia bertanya-tanya apakah pemimpin Ryodan itu memang selalu begini. Kurapika sebisa mungkin menahan keinginan dalam dirinya untuk menarik pipi Kuroro kuat-kuat dan melihat apa reaksinya.

"Meow..." Jawab Kurapika dengan nada malas.

Kuroro meletakkan tehnya disebelahnya, lalu berdiri dan berjalan pergi, baru saja Kurapika mau bertanya mau kemana dia pergi, tapi Kuroro sudah menjawab "Ada yang ingin kuambil.", dan Kurapika tidak berkomentar apa-apa lagi.

Mata Kurapika terhenti pada cangkir kecil berisi teh itu, matanya mengamati cairan berwarna gelap itu tertimpa cahaya lampu. Kurapika memejamkan matanya, dan sebuah kilasan memori terlintas dibenaknya...

"Ini racun. Ibu sudah membuatnya agar tidak berasa dan tidak berbau."

Ketika Kurapika membuka matanya, dia melepas loncengnya, membutnya bisa mengambil permata merah kecil itu, dan perlahan dia membuka tutup kecilnya, membuat cairan bening mematikan didalamnya dapat keluar.

Hanya sedikit lagi, maka racun ibunya akan masuk kedalam teh Kuroro, lalu saat dia kembali dan meminumnya...semuanya akan berakhir. Kurapika akan bebas dan dendam sukunya akan terbalaskan. Kurapika berusaha mengumpulkan dendam dan keberaniannya, entah kenapa seperti ada sesuatu tak terlihat yang menahan tangannya untuk meneteskan racun itu ke teh Kuroro.

Ada apa ? Kenapa tangannya tidak mau bergerak ? Pertanyaan-pertanyaan itu seperti berputar dikepala Kurapika, namun dia sama sekali tidak mendapatkan jawabannya. Dia berusaha memutar kembali memori tentang pembantaian sukunya, mengumpulkan dendam dan keberaniannya, karena Kurapika tau selain dendam dan kebenciannya terhadap Kuroro dan Genei Ryodan, yang dimilikinya hanyalah hatinya yang terluka. Hati Kurapika seperti hancur pada saat sukunya dibantai, dan dia dengan susah payah mengumpulkan kembali serpihannya dan menempelkan hatinya kembali, namun usahanya sia-sia. Karena lihat saja, banyak retakan disana sini.

Oleh sebab itu, hal yang paling ditakuti Kurapika adalah kehilangan dendamnya dengan Genei Ryodan, karena kalau dendam itu hilang, maka yang tersisa hanya hatinya yang retak disana sini karena diperbaiki dengan cara yang aneh.

Lalu sekarang, kesempatan untuk membunuh pemimpin Ryodan ada didepan mata,dendamnya akan terbalaskan dan dia bisa kembali memperbaiki hatinya, menyusun ulang serpihan itu hingga cukup kuat untuk menghadapi dunia ini sendirian.

Tinggal sedikit lagi...tapi tangannya tidak mau bergerak dan hatinya ragu. Kurapika sama sekali tidak mengerti perasaannya sendiri, dia merasa akal sehat dan hati nuraninya sedang berperang dalam dirinya.

"Kurapika...berjanjilah, setelah kau menjelajahi dunia luar dan kembali ke sini...ceritakan padaku bagaimana rasanya didunia luar..."

Mata Kurapika seketika itu juga terbuka. Ia teringat janji lamanya dengan sahabat terbaiknya, Pairo Kuruta. Kata-kata itu adalah kata terakhir yang diucapkan sahabatnya sebelum mereka berpisah untuk terakhir kalinya, Kurapika saat itu dengan mantap berjanji pada Pairo. Tapi, dia tidak bisa menepati janjinya, karena Pairo sudah tidak ada...bersama dengan yang lainnya.

Lalu kebencian itu muncul, begitu besar hingga Kurapika mengabaikan setiap keraguan didalam dirinya dan menuangkan racun itu kedalam teh Kuroro. Ya...karena Kuroro lah Kurapika kehilangan semuanya, dan sekarang dia akan membalasnya.

Kurapika menuangkan cairan bening yang terkandung didalam permata merah itu ke teh Kuroro.

Lalu dia meletakkan kembali permata dan loncengnya, menyulap kalung lehernya seperti semula, matanya ditujukannya ke arah makanannya namun pikirannya jauh dari situ, sesekali Kurapika melirik teh beracun Kuroro. Hatinya mulai merasa aneh...benarkah ini yang diinginkannya ?

Tentu saja... Otaknya menjawab, kau menghabiskan hidupmu untuk membalas dendam, dan sekarang lah saatnya...

Meskipun tindakannya sekarang merupakan tindakan paling rasional dalam hidupnya, ada sesuatu yang mengganjal, tapi apa ? Perlahan, otak Kurapika mulai memutar kembali memori tentang keluarganya, tentang teman-temannya...dan tentang hari-hari yang dihabiskan bersama Ryodan.

CKLEK!

Kurapika melompat kaget mendengar suara pintu yang dibuka oleh Kuroro, untungnya pria itu tidak menyadarinya karena matanya masih tertuju pada pintu. Ketika Kuroro menatapnya, Kurapika bergerak dengan gelisah ditempat duduknya...

Kuroro meletakkan mangkuk susu didepannya, sepertinya pria itu berasumsi bahwa alasan Kurapika tidak mau makan adalah karena makanannya bukan susu biasa disajikannya untuk Kurapika. Telinga Kurapika jatuh kebawah sebagai pengganti poninya untuk membuat bayangan agar sebagian wajahnya tertutup oleh bayangan. Hal yang biasa dilakukan Kurapika kalau dia tidak mau orang-orang mengetahui ekspresinya...

Sementara itu, Kuroro meraih bukunya dan membuka halamannya dengan tenang. Dia sama sekali tidak menyadari tingkah aneh Kurapika. Karena menurutnya dari awal kucing itu memang aneh, jadi jika misalnya Kurapika bertingkah tidak aneh, itulah hal yang dianggap Kuroro aneh.

Kurapika mengawasi pria didepannya, matanya menatap Kuroro lalu teh beracun itu lalu Kuroro lagi lalu teh beracun itu. Begitu seterusnya sampai Kurapika merasa kepalanya akan meledak. Begitu banyak perasaan aneh berperang dalam dirinya, rasanya otak dan hati nuraninya sedang melakukan perang besar-besaran dalam tubuhnya.

Dan Kuroro mengangkat cangkir tehnya...

Mata Kurapika membelalak melihat pemimpin Ryodan itu hendak meminum teh beracun itu, secara spontan, Kurapika dengan sengaja menumpahkan susunya, membuat Kuroro membatalkan niatnya.

Kuroro meletakkan cangkir tehnya, tidak jadi menelan cairan beracun itu, lalu menatap Kurapika, "Kau tidak mau makan ya Nekora ?" Tanya Kuroro. Tapi Kurapika masih sibuk dengan pikirannya sendiri, otaknya menyalahkan tangan Kurapika yang dengan bodohnya menumpahkan susu itu, membuat racun itu tidak jadi diminum Kuroro. Membuat Kurapika tidak jadi membalas dendam sukunya.

"Apa kau mau makan yang lain ?" Kuroro bertanya lagi. Kurapika tetap tidak menjawab, terlalu sibuk dengan pikirannya.

Kurapika memejamkan matanya dan menarik napas pelan, dia berjalan kesamping Kuroro dan mengambil cangkir teh beracun Kuroro.

"Kau mau teh ?" Tanya Kuroro sekali lagi karena melihat kucing itu menggigit pegangan cangkir tehnya dan mengangkatnya.

Mengabaikan tatapan bingung Kuroro, Kurapika berjalan pergi ke arah kamar mandi dengan cangkir teh dimulutnya, sama sekali tidak memperdulikan Kuroro yang bertanya-tanya ada apa dengan kucingnya hari ini...

Setelah sampai ditempat tujuan, Kurapika melempar cangkir itu ke lubang WC, lalu meloncat untuk menjangkau tombol siram...dan menekannya. Sejumlah air langsung menyiram cangkir beserta teh beracun itu menjauh dari pandangannya, dan Kurapika hanya berdiri disitu, membiarkan teh beracun yang dibuatnya untuk membunuh Kuroro terbawa pergi oleh air. Hati nuraninya mengatakan pada Kurapika kalau dia tidak bisa membunuh Kuroro. Setidaknya tidak dengan cara seperti ini. Harus dengan pertarungan yang adil.

Ia memejamkan matanya dan bertanya-tanya apakah dia melakukan tindakan yang benar... Hal yang dipegang kuat oleh Kurapika adalah kebenciannya terhadap Kuroro dan Genei Ryodan, beserta dengan hatinya yang terluka sebagai pengingat untuk dirinya kalau dulu pernah ada Kurapika yang bahagia, hidup damai ditengah-tengah keluarganya.

Sekarang, ketika kabencian Kurapika tanpa sadar mulai memudar, yang tersisa hanyalah hatinya yang terluka...

To Be Continued

.

.

A/N : Yosh! Dua chapter selesai! *ngelap keringat*. Saya dengan sangat amat menyesal mengatakan kalau update saya yang berikutnya paling cepat adalah bulan Januari m(_ _)m. Gomenasai! Tapi saya harus menyiapkan diri untuk semesteran. Saya usahakan secepat mungkin updatenya, mohon do'a nya ya supaya cepet update dan buat ujian semester saya. (_ _)

Selain itu, mohon pendapat reader tentang chapter ini, saya agak takut kalau alurnya kecepatan karena seharusnya ini chapter 3 atau angst nya yang berat atau ada bagian yang tidak dimenegerti. Setiap saran dan kritik pasti saya terima.

Saatnya balas review ^O^

Ann Venteux : Selamat! Anda adalah pe-review pertama! Terima kasih atas dukungannya ^_^ . Neko Kurapika memang kawaii-desu!

Moku-Chan : Yup...dicerita ini Kurapika cewek, bukan cowok. Arigatou atas reviewnya!

: Kyaa...pasti Neko Killua-nya kawaii *mata blink-blink*. Arigatou atas reviewnya!

Rechan Koharu : Arigatou! Ini adalah kisah selanjutnya. Semoga bisa dinikmati...

Uzumaki Naa-chan : Arigatou gozaimasu! Pasti ceritanya saya lanjutkan...

KuroPikaLovers : Arigatou Gozaimasu. Ini udah diupdate, semoga dinikmati.

Azura Al-Rin : Arigatou atas reviewnya! Entah kenapa saya suka gambaran Kurapika yang duduk manis dibahu Kuroro ._. . Pasti dilanjutkan, do'a in aja idenya nyamperin saya lebih cepat jadi updatenya bisa lebih cepatan.

Azura Azalea g'z : Arigatou Gozaimasu! Saya do'a kan ibu Azura-chan masih mengira Azura-chan waras. Amin. *ditendang*

Misa Misawaki : Arigatou atas reviewnya. Kucingnya jangan dibawa pulang, entar Kuroronya sama siapa ?

Xxruuxx : Makasih atas reviewnya! Semoga Ruu-chan enggak kecewa dengan chapter ini yang lebih banyak angst daripada humor, tapi saya akan usahakan untuk memperbanyak humornya.

Liakura Kuruta : Wah...ada nyumbang ide segala, catat dulu ah... arigatou atas review dan idenya ^^, cukup menginspirasi saya untuk peran Neon di chapter depan.

Mikyo : Pasti dilanjut! Arogatou atas reviewnya!

Lavender Shappires Chan : Makasih atas reviewnya! Enggak banyak commenet juga enggak apa-apa, asal review :3

Review ne ?

'Till Next Chapter