A/N : Yo Minna-san! Saya balik lagi, chapter ini keluar lebih cepat dari yang saya kira. Saya baru sadar kalau dua chapter sebelumnya memakai sudut pandang Kurapika (Meskipun tokoh utamanya memang Kurapika) tapi saya rasa sudut pandang chara lain juga lumayan penting, jadi saya akan masukkan beberapa sudut pandang chara lain dichapter ini dan semoga yang enggak masuk akan menyusul chapter depan.

'~~Neko Kurapika~~' =Tanda untuk Skip Time.

'~~NK~~' =Tanda untuk ganti sudut pandang.

Warning : Ada sedikit spoiler dan humornya enggak terlalu lucu. Gomen! Ujian bener-bener membuat selera humor saya hilang. -_-


Neko Kurapika

.

.

Disclaimer : Hunter x Hunter © Yashihiro Togashi

.

.

Author : Nemurase Hime

.

.

Chapter 3 : One Step Closer

Shalnark memperhatikan Danchou-nya membersihkan noda darah dari wajahnya, mata obsidian milik Kuroro menatap kosong kearah dinding, pria yang tergeletak tak berdaya disebelah kakinya sama sekali tidak dihiraukan oleh pemimpin Ryodan itu. Pada saat-saat seperti ini, Shalnark sering menemukan dirinya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dalam pikiran Danchou-nya, namun dia tidak pernah menemukan jawabannya. Shalnark merasa sudah saatnya dia menunjukkan dirinya didepan Kuroro. Suara derit pintu yang terbuka memecah keheningan diruangan itu.

Shalnark menyiapkan diri untuk mengeluarkan suara cerianya yang biasa. Lagipula, ceria memang topengnya, ada banyak alasan kenapa Shalnark memilih topeng itu, namun yang paling utama hanya karena dia merasa hidupnya terlalu singkat untuk dibawa bersedih.

"Danchou. Semuanya beres." Lapor Shalnark kepada Kuroro. Pria itu hanya mengangguk dan menggumamkan sesuatu seperti 'Kerja bagus' kepada Shalnark, dia menggumamkannya begitu pelan sehingga Shalnark hampir tidak mendengarnya, dan dia sekali lagi bertanya-tanya apa kira-kira yang mengganggu pikiran pria ini. "Kalian boleh pergi." Ujar Kuroro, kali ini suaranya lebih kuat dan tegas. Kuroro membuat berbalik dan bersiap-siap untuk pergi.

"Danchou mau kemana ?" Tanya Shalnark, dan dia langsung menyesali perbuatannya, memangnya apa urusan Shalnark tentang Danchounya mau pergi kemana ? Tapi entah kenapa lidahnya gatal untuk menanyakan pertanyaan itu, karena tidak biasanya Kuroro langsung pergi begitu misi selesai, setidaknya tidak seburu-buru ini.

"Aku mau pulang." Jawab Kuroro singkat dan sedetik kemudian sosoknya menghilang dari pandangan Shalnark. Butuh beberapa detik bagi otak pintar Shalnark untuk menyadari apa yang aneh dari kalimat Kuroro barusan. Biasanya, Kuroro akan mengatakan 'Aku akan kembali ke tempatku' dan berjalan santai melewatinya. Tapi kali ini Kuroro mengatakan dia akan 'Pulang' ? Meskipun Shalnark tidak terlalu tau kehidupan pribadi Kuroro, namun dia cukup tau kalau Kuroro—dan sebagian besar anggota Ryodan termasuk Shalnark sendiri—menganggap rumah hanyalah tempat untuk tidur, itupun tidak berlaku terlalu lama karena banyak dari mereka yang mengelilingi dunia saat tidak ada misi.

Tapi Kuroro barusan menjawab dia akan 'Pulang', apakah mungkin 'Rumah' bagi Kuroro bukan lagi sekedar tempat untuk tidur ? Apa ini karena Nekora ? Apa karena mansion Kuroro penghuninya bukan lagi Kuroro seorang, tapi disana juga ada Nekora ?

"Apa menurutmu mungkin Danchou akan lebih sayang sama kucing itu daripada kita ?"

Kata-kata Nobunaga terngiang lagi dikepalanya. Kalau kemarin-kemarin, dia akan tertawa dan mengatakan kepada Nobunaga kalau hal itu tidak mungkin. Tetapi seandainya Nobunaga menanyakan hal yang sama sekarang, dia mungkin tidak bisa merespon pertanyaan itu seperti sebelumnya. Harga dirinya sebagai anggota Ryodan yang melayani Kuroro seperti tersakiti kalau memang Danchou-nya lebih menyayangi Nekora. Maksudnya, Shalnark dan Ryodan yang lain adalah anak buahnya, yang bersedia mengorbankan nyawa untuk Genei Ryodan, untuk Kuroro juga (Ambil saja Pakunoda dan Ubogin sebagai contoh), dan kalau Kuroro lebih menyayangi Nekora daripada mereka, bagaimana bisa harga dirinya tidak tersakiti ?

Danchou-nya mulai berubah, Shalnark tau itu. Meskipun Kuroro masih berdarah dingin dan masih mampu membuatnya terkesan dengan kemampuannya, tapi ada sesuatu yang mulai berubah dalam diri pria itu, bukan perubahan yang besar memang. Misalnya saja, pemilihan kata-katanya. Seperti kasus 'pulang' tadi, dan Shalnark juga mulai memperhatikan ada yang berubah dari cara membunuh Kuroro. Biasanya pria itu akan menikmati waktunya saat menghabisi targetnya, seperti saat dia melawan hunter yang menjadi korbannya saat pelelangan YorkShin, Kuroro dengan membunuhnya dengan Indoor Fish, membiarkan ikan-ikan itu melahap Hunter itu sebelum membunuhnya. Tapi sekarang Kuroro lebih sering membunuh korbannya tanpa basa basi—begitu cepat sampai Shalnark ragu apakah mereka sempat merasakan sakitnya—apalagi kalau disekitar Nekora. Kuroro terkesan seperti tidak mau menakuti kucing itu. Shalnark ragu apakah Kuroro sendiri menyadari hal ini atau tidak. Tapi dia yakin kalau Kuroro sama sekali tidak menyadari perubahan dalam dirinya, apalagi kalau Shalnark bilang ada kilatan baru di mata Kuroro semenjak ada Nekora.

Aaah...Ngomong-ngomong soal Nekora, bagaimana nasib Nobunaga menghadapi kucing itu, ya ?

~~NK~~

Mencurigakan...

Kata itulah yang berulang kali terlintas dalam pikiran Nobunaga selagi dia menjaga—atau lebih tepatnya mengawasi—kucingnya Danchou, Nekora. Kucing itu sendiri sedang duduk tenang didepan TV sambil nonton gossip tentang selebriti, ia dengan santai menggeliat di bantal yang menjadi alasnya, sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Nobunaga.

Di sisi lain, Nobunaga malah sebaliknya, kehadiran Nekora benar-benar mengganggunya, kucing ini menyebalkan, mengesalkan, mencurigakan, merepotkan, dan lain sebagainya. Tanpa sadar, Nobunaga manyun-manyun sendiri di sofa, sementara Nekoranya woles aja...

Selain Nekora, ada satu orang lagi yang mencurigakan, Danchou a.k.a Kuroro Lucifer. Secara, Kuroro kan pasti tau kalau dia tidak menyukai Nekora (Yang jelas sekali terlihat dari sikapnya), lalu untuk apa dia menyuruh Nobunaga untuk menjaganya ? Kenapa enggak Shalnark atau Machi ?

Ngomong-ngomong soal mencurigakan, kucing itu benar-benar mencurigakan. Seperti yang dibilang Danchou saat pertama kali dia melihat Nekora, bulu kucing itu entah kenapa membuat dia teringat dengan rambutnya pengguna-rantai-sialan-itu. Karena warna rambut pengguna-rantai-sialan-itu yang kuning terang namun sedikit oranye yang memang bukan warna rambut yang umum, sehingga ketika melihat warna yang sama pada kucing ini, otomatis dia jadi teringat pada pengguna-rantai-sialan-itu. (Hime : Pengguna-rantai-sialan-itu ada nama lho... Namanya Kurapika, Nobunaga : Cih! Siapa yang peduli dengan nama pengguna-rantai-sialan-itu. Hime : *sigh*)

Bukan hanya warna rambut/bulu mereka saja yang mirip, tapi entah kenapa mereka berdua mengeluarkan aura menyebalkan yang sama. Aura yang penuh dengan harga diri yang menyebalkan, padahal hanya kucing, tapi kalau berjalan pasti kucing itu mengangkat dagunya tinggi dengan tatapan yang selalu angkuh, Kalau aku tidak ingat dia kucingnya Danchou, aku akan memutilasi kucing itu jadi 10 bagian, lalu akan kuletakkan kepalanya diatas perapianku sebagai pajangan, sisanya mungkin kujadikan sebagai alat makan dirumahku saja, kulitnya bisa jadi bahan tas! Machi dan Shizuku pernah ngobrol tentang tas dari kulit hewan! Aku akan jadi desainer tas kulit kucing pertama didunia. Mwuahahahahaha~~~~

Sementara Nobunaga sibuk memikirkan 10 cara terbaik menyiksa Nekora, yang sedang dipikirin dengan santai menggoyangkan ekornya ke depan dan kebelakang, matanya tidak pernah meninggalkan acara yang ditontonnya, mengabaikan Nobunaga yang—tanpa disadari oleh orangnya—sedang tertawa nista sendiri dikursinya, persis seperti seorang psikopat. Kurapika membuat catatan mental untuk menanyakan kewarasan Nobunaga pada Kuroro nanti.

Jarum jam terus berjalan, Kuroro masih belum pulang, dan sepertinya dia tidak akan pulang dalam waktu dekat. Nobunaga sudah kehabisan akal untuk mengisi waktu, dimansion Kuroro semuanya buku-buku dan barang-barang sejenisnya, sementara dia paling anti-buku, dan kucing itu dengan menyebalkannya masih nyantai didepan TV.

Ia menghela napas panjang-panjang. "Aku bosaaaaaaaaaaan..." Keluh Nobunaga tidak-kepada-siapa-siapa. Tapi pria itu sedang mengalami kebosanan tingkat tinggi hingga titik dimana Nobunaga akan menangkao nyamuk dan melepaskannya kembali hanya untuk bersenang-senang.

Ia melirik Nekora yang sedang meliriknya balik, pandangan Nekora seolah berkata, 'Terus ? Kalau lu bosan gue mesti bilang W.O.W gitu ?' , dan Nobunaga mendapati kucing itu memutar matanya. Kucing sialan. Kalau saja dia bukan kucing Danchou...grrrrr...

"Cing, kau tidak lapar ?" Tanya Nobunaga, enggak kapok juga gangguin Kurapika. Kurapika—tanpa rasa bersalah dan wajah tanpa dosa—dengan sengaja menguatkan volu`me TV-nya, pura-pura enggak dengar. Tapi yang namanya Nobunaga kan pantang menyerah, dia berusaha menarik perhatian kucing itu dengan menggoyang-goyang badannya, "Eh!Cing!"

Masih tidak ada jawaban.

Selama Nobunaga hidup, dia enggak pernah dicuekin gini. Secara gitu lho... orang-orang pada takut melihat dia yang anggota Ryodan dan kuat pula, siapa sih yang berani cuekin dia ? Tapi sekarang ? Nobunaga yang anggota Ryodan itu dicuekin sama...sama kucing ini!

"Kucing! Hei! Nekora!"

"Meow ?" Nah...buka mulut juga tuh kucing.

"Heh! Aku nanya kau lapar atau tidak ?"

Kurapika menjulurkan lidahnya.

Nobuaga keki setengah hidup, tangannya udah gatal buat menghunus pedangnya dan memutilasi kucing didepannya. "HEH! DENGAR YA KUCING! AKU AKAN MEMUTILASIMU SEKARANG JUGA! BERSIA-"

"Apa yang kau lakukan, Nobunaga ?"

Suara parau orang ketiga membuat Nobunaga dan Kurapika menoleh ke sumber suara itu, dan mendapati Kuroro berdiri didepan pintu dengan kedua tangan disakunya. "Da...danchou..., kenapa cepat sekali pulangnya!?" Nobunaga tergagap, hal ini dikarenakan ujung pedangnya sudah mendekati leher Nekora dan cakar kucing itu entah bagaimana sudah berada didekatnya leher, satu langkah lagi untuk meggoreskan kuku tajamnya dileher Nobunaga.

Kuroro menaikkan alis dan menjawab, "Aku pergi 8 jam yang lalu."

Nobunaga dan Kurapika spontan melirik ke arah jam. Kenapa waktu tanpa terasa cepat sekali berlalu ? Tanpa sadar kedua orang itu melamun, sehingga Kuroro berdeham pelan, "Baiklah...terima kasih atas bantuanmu, Nobunaga." Ujar Pemimpin Ryodan itu, dan sedetik kemudian Nobunaga hilang dari pandangan.

Sekarang tinggal Kurapika dan Kuroro yang tersisa diruangan itu. Kurapika menghela napas dan kembali memusatkan perhatiannya pada gossip selebriti di TV, rupanya berita tentang pelawak berumur setengah abad yang akan menceraikan istri ke-12nya dan akan menikah untuk yang ke 15 kalinya menarik perhatian Kurapika. Sebentar saja, Kurapika sudah duduk nyaman sambil menatap layar TV. Kuroro memperhatikan kucingnya yang sedang membuat nyaman dirinya sendiri dibantal miliknya. Sebenarnya, hal ini cukup aneh bagi Kuroro Lucifer karena dia bukan orang yang suka memperhatikan orang lain. Tambah satu lagi daftar keanehan pada diri Kuroro semenjak Nekora muncul.

"Besok aku akan pergi." Kata Kuroro. Kurapika mengangguk tanpa menoleh ke arah pemuda itu.

"Kau mau ikut ?" Tanya Kuroro, dan Kurapika menggeleng.

Entah kenapa, ada sedikit rasa kesal dalam diri Kuroro melihat kucingnya mencuekin dirinya, namun perasaan itu pergi secepat dia datang. Beberapa detik kemudian Kurapika mendengar suara pintu kamar mandi yang ditutup.

~~Neko Kurapika~~

"Nona Neon! jangan lari terlalu jauh!" Teriak Senritsu, berusaha mengejar majikannya yang lari kesana-kemari. Semenjak Kurapika tidak ada, Senritsulah yang bertugas menjaga Neon. Senritsu tidak habis pikir bagaimana caranya Kurapika bisa berhadapan dengan majikannya yang satu ini, terlalu tenggelam dalam pikirannya, Senritsu tanpa sadar telah kehilangan jejak Neon.

Neon tidak menghiraukan pengawalnya, dia berlari lebih kencang meninggalkan pengawalnya dibelakang. Saat ini dia berada dipameran permata, semua permata yang dipamerkan mengandung sejarah dan cerita masing-masing, yang sudah dijelajahi Neon lebih dari 2 jam. Harusnya hari ini jadi tempat dia bersenang-senang kalau saja tidak ada perempuan aneh yang mengekorinya kesana kemari. Padahal pengawal pirang itu sudah tidak pernah muncul lagi dihadapannya selamam beberapa hari ini. Neon sendiri tidak tau kenapa si pirang menyebalkan itu tidak pernah kelihatan lagi batang hidungnya, tapi dia tidak peduli, malahan dia senang. Sejujurnya, Neon lebih menyukai kepala pengawalnya yang sebelumnya, yang selalu menuruti kemauan Neon dan mau mendengar keluh kesahnya, bukan seperti si pirang menyebalkan yang mendengar suara Neon saja dia ogah.

"Nostrade-san ?" Sebuah suara parau mengejutkan Neon, dia berhenti dan menoleh kebelakang untuk mendapati sepasang mata obsidian menatap matanya.

"Kau...Kuroro Lucifer...kan ?" Ujar Neon. Senyum langsung mengembang diwajahnya, bagaimana tidak ? Dia diam-diam menyukai pria ini yang pernah membantunya masuk ke gedung pelelangan beberapa waktu lalu. "Ya...senang kau masih mengingatku." Kata Kuroro sambil memamerkan senyum charming nya, sepertinya gadis itu tidak sadar kalau dia adalah orang yang mencuri kekuatan nen-nya.

"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Neon, pipinya sedikit memerah karena Kuroro memandangnya dengan serius, meskipun pria itu memang tipe yang serius.

"Ada sedikit urusan." Jawab Kuroro datar, dia sama sekali tidak memperhatikan kalau gadis didepannya sudah hampir loncat-loncat girang karena bisa mengobrol dengannya. Kuroro menjalarkan matanya kesekitar gadis bersurai biru itu, rasanya ada sesuatu yang kurang...

"Oh iya, mana pengawalmu yang berambut pirang itu ?" Tanya Kuroro, yang sudah pasti maksudnya adalah Kurapika. Neon yang mendengar pertanyaan Kuroro langsung kesal sendiri, secara dia udah nge -fly karena Kuroro mau mengobrol dengannya, tapi dengan enggak tau perasaannya Kuroro malah nanyain Kurapika. Apalagi pengawalnya itu menyebalkan. Padahal kami hanya berdua, tapi dia malah menanyakan Kurapika! Ughh! .

"Aku tidak tau." Jawab Neon dengan nada kesal yang terdengar jelas , yang sama sekali tidak diperhatikan oleh pemilik iris obsidian itu.

"Benarkah ? Aneh sekali...apa dia sudah berhenti bekerja ?" Tanya Kuroro, lagi. Membuat Neon makin sebal, rasanya dia sudah siap mengkuliti Kurapika hidup-hidup. Kenapa Kuroro peduli sekali dengan sipirang itu ?

"Dia mati. Puas ?" Neon menjawab asal dengan nada ketus, tentu saja itu bohong, Neon sama sekali tidak tau menau—atau lebih tepatnya tidak peduli—dengan bodyguard-nya itu.

"Mati ?" Ulang Kuroro tidak percaya, meskipun ekspresinya masih datar, hanya bola matanya saja yang sedikit membesar menunjukkan terkejutannya. Tapi itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum Kuroro mendapat ketenangannya kembali.

"Ya. Mati." Jawab Neon ketus. Dia mengerucutkan bibirnya dan menatap ke wajah Kuroro, tapi dia tidak berani menatap langsung ke mata obsidian pemuda itu, meskipun pandangan matanya mengatakan 'AKU DISINI LHOO! BISA ENGGAK SIH BERHENTI MEMBICARAKAN SIPIRANG ITU ? AKU CEMBURU TAU! LIAT AKU!'

"Kok bisa ?" Tanya Kuroro lagi. Neon menahan diri untuk tidak memutar bola matanya dengan kesal, jelas-jelas didepan Kuroro ada Neon yang jauuuh lebih imut daripada si pirang-menyebalkan-dan sialan –itu. Kenapa Kuroro enggak berhenti membicarakan Kurapika sih ?

"Dia mati ditelan ikan paus. Mayatnya sudah dibuang ke lautan pasifik untuk dijadikan persembahan terhadap orang-orang eskimo, mereka bilang mau menjadikan mayatnya makanan gajah Afrika." Jawab Neon yang lagi-lagi ngasal, hal itu bisa dilihat dari jawabannya yang sama sekali enggak nyambung.

Kuroro menaikkan alisnya dan berniat bertanya lebih jauh, tiba-tiba jam tangannya berbunyi. Kuroro meliriknya, kemudian pamit kepada Neon untuk pergi, lalu menghilang tanpa sempat mendengar jawaban dari gadis itu.

Neon yang ditinggal sendiri berusaha keras untuk tidak menendang salah satu gelas permata disebelahnya untuk melampiaskan kekesalannya. "Ughh! Dasar menyebalkan! Kenapa sih dia peduli sekali dengan Kurapika ? Kenapa juga Kurapika tidak benar-benar ditelan ikan paus." Gumam Neon sambil menghela napas. Mood-nya benar-benar hancur karena kejadian tadi dan sekarang dia hanya ingin pulang. Nah, sekarang kemana perempuan pendek itu ?

Neon berjalan menelusuri koridor museum untuk beberapa saat sebelum menemukan Senritsu didekat pintu masuk yang sedang kebingungan mencarinya. Neon bersiap untuk berlari dan memanggil bodyguard-nya, sebelum seseorang menepuk bahunya tiba-tiba.

Neon membalikkan kepalanya dan sebelum dia tau apa yang terjadi, semuanya menjadi gelap...

~~Neko Kurapika~~

Kurapika tidak bisa menahan diri untuk tidak menguap, dia merindukan saat-saat dimana dia bisa duduk sendirian diperpustakaan dengan hot chocolate disampingnya dan buku ditangannya, namun sekarang dia terpaksa duduk manis dibahu Kuroro yang saat ini sedang berkumpul dengan anggota Ryodan yang lain. Kurapika, jangankan buat ikut misi atau sekedar berkumpul dengan Ryodan, untuk dekat-dekat dengan Kuroro saja Kurapika ogah, tapi dia terpaksa ikut. Memangnya apa lagi yang bisa dilakukannya dimansion Kuroro ? Lagipula, hitung-hitung mempelajari kekuatan para anggota Ryodan untuk pertarungannya mendatang.

Sementara anggota Ryodan yang lain sedang ribut sendiri, Kurapika merasakan seseorang mendekatinya dan Kuroro, dia menoleh dan mendapati Machi dengan rengutan diwajahnya.

"Perasaanku aneh..." Gumam Machi, cukup pelan sehingga hanya Kuroro yang berada disebelahnya yang bisa mendengarnya—dan juga Kurapika. Kuroro menoleh pada anggotanya, alisnya bertaut, "Kenapa, Machi ?"

"Aku juga tidak tau kenapa." Gumam Machi, "Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang terjadi—" kata-katanya menggantung, sepertinya dia agak ragu untuk melanjutkan kalimatnya atau tidak. Kuroro membiarkan Machi mengambil waktunya, sampai wanita itu memutuskan untuk melanjutkannya, "...—pada pengguna rantai."

Kurapika menegang ketika mendengar julukannya disebut. Bagaimana wanita ini bisa tau ? .

Sementara itu, Kuroro sepertinya tidak terlalu kaget mendengar perkataan Machi, pria itu berdiri dan memasukkan tangannya ke dalam saku. "Oh ya...aku lupa memberi tau kalian." Ujar Kuroro dengan nada datarnya yang biasa.

Kurapika sendiri berusaha keras untuk tidak menengang lebih jauh, sementara jantungnya berdegup kencang karena penasaran apa yang diketahui Kuroro. Apa mungkin dia tau tentang Kurapika yang sudah berubah wujud ? Tanpa sadar, Kurapika menahan napas menunggu kalimat Kuroro yang selanjutnya.

Para anggota Ryodan langsung memusatkan perhatiannya pada pemimpin mereka. "Aku diberi tau kalau pengguna rantai sudah mati..." Tidak sedikit yang menunjukkan keterkujatannya tentang kabar baru dari Kuroro ini, tidak terkecuali Kurapika yang saat ini matanya sudah melebar dan jaw dropped. Padahal baru 4 hari dia berubah menjadi kucing, terus dengan seenak udel tiba-tiba dia udah dikira mati aja. What the hell ?

Hening, dan entah kenapa udara terasa berat diruangan itu. "Sialan! Siapa yang membunuhnya ? Berani sekali orang itu! Dia masih punya urusan yang belum selesai dengan Ryodan! Yang seharusnya membunuh si brengsek itu adalah aku!" Teriak Nobunaga memecah keheningan, dan para anggota Ryodan kali ini setuju dengan perkataan Nobunaga, kecali bagian terakhir. Karena bukan hanya samurai itu seorang yang bermasalah dengan Kurapika, tapi juga anggota Ryodan yang lain, dengan kehilangannya dua rekan mereka akibat gadis itu, ada alasan dan kesedihan tersendiri yang timbul dalam hati mereka. Urusan Kurapika dengan Ryodan belum selesai...

"Danchou, siapa yang membunuhnya ?" Suara Shalnark terdengar dari belakang Kurapika, tapi sebelum Kurapika sempat menoleh, Shalnark sudah berdiri dihadapannya duluan. Cepat sekali. Pikir Kurapika, dan langsung menggelengkan kepalanya, berusaha fokus pada masalah didepannya.

"Katanya karena ditelan paus." Jawab Kuroro. Pernyataan Kuroro kali ini berhasil membuat poker face seluruh anggota Ryodan + Kurapika pada hancur. Dan suasana hening sekali, Kurapika sampai bisa membayangkan suara jangkrik untuk membuktikan seberapa hening suasananya saat ini.

"Aku diberi tau Neon, Putri Nostrade itu, majikan tempat dimana pengguna rantai bekerja sebagai pengawal." Kuroro menjelaskan sebelum ada yang nanya. Namun serpihan informasi itu masih berusaha dicerna oleh anggota Ryodan—dan Kuroro juga termasuk sebenarnya—karena mereka entah kenapa tidak bisa mempercayai kenyataan yang terdengar kurang masuk akal itu.

Tapi secara cepat mereka mendapat ketenangan mereka kembali dan dengan mudahnya mereka percaya kalau Kurapika mati ditelan ikan paus. Karena anggota Ryodan sampai pada satu kesimpulan yaitu : Oh, well...semua bisa terjadi didunia ini.

Sementara itu, Kurapika merasa ingin menghantamkan kepalanya ke dinding kuat-kuat dan berulang kali. Bisa-bisanya Genei Ryodan percaya kalai dia mati ditelan ikan paus! Yah...setidaknya kalau dia menghantam kepalanya ke dinding sekarang, ada kemungkinan besar dia akan geger otak dan melupakan kejadian ini. Yep...geger otak dan amnesia terdengar ide yang luar biasa sekarang.

Kurapika hendak meloncat turun untuk mencari dinding terdekat dan menjalankan rencananya, kalau saja Kuroro tidak menarikya. Pemuda itu menatap Kurapika dengan pandangan 'Kau-mau-kemana?'. Kurapika tidak menjawab, dia hanya menutup mata dan menghitung didalam hati untuk menenangkan pikirannya sambil bertanya-tanya apa dosanya sampai mendapat ketidak beruntungan bertubi-tubi belakangan ini.

~~Neko Kurapika~~

Siang berganti malam, Kurapika Kuruta meminum susu yang sekarang menjadi makanan sehari-harinya dengan tenang, didepannya duduk seorang Kuroro Lucifer yang sedang memakan makan malamnya sendiri. Meskipun Kurapika masih agak kesal karena insiden 'Mati-ditelan-ikan-paus' tadi, namun hidup masih terus berjalan dan dia menemukan dirinya sendiri mulai tenang (Setelah mengeluarkan berbagai sumpah serapah dalam hati untuk Neon dan membuat catatan mental untuk memberi pelajaran pada Neon kalau dia sudah mendapatkan tubuhnya kembali.)

Makan malam dengan tenang begini, mengingatkan Kurapika pada teman-temannya. Kira-kira mereka sedang apa ya ? Apa mereka mengkhawatirkanku ? Tanya Kurapika dalam hati. Otak Kurapika kemudian menyadarkannya, bahwa setelah Kurapika berubah menjadi kucing dan tinggal bersama Kuroro Lucifer, dia belum pernah tersenyum sekalipun. Yah, itu bukan hal yang aneh mengingat Kurapika tinggal bersama musuhnya dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membunuhnya—eh salah, dia tidak mau membunuhnya, setidaknya bukan dengan cara seperti...seperti kemarin.

Tanpa sadar Kurapika sudah berhenti meminum susunya, membuat Kuroro yang semenjak tadi memperhatikannya menautkan alis, dan diwajahnya tampak—meskipun hanya sedikit—kekhawatiran. "Kau kenapa, Nekora ?" Suara Kuroro menyadarkan Kurapika dari lamunannya. Kurapika mengangkat kepalanya dan detik itu juga matanya bertemu dengan iris obsidian Kuroro, bicara soal senyum, aku juga belum pernah melihat senyum orang ini... Dan langsung mengutuk dirinya sendiri karena berpikir yang aneh-aneh.

Kurapika membalas ucapan Kuroro dengan mengeong pelan dan menggelengkan kepalanya, meskipun dia cukup sadar kalau Kuroro tidak mengerti bahasanya. Kurapika meninggalkan minumannya yang masih setengah dan beranjak ke kasurnya, berusaha mengistirahatkan dirinya dari masalah hari ini dengan tidur.

~~NK~~

Kuroro bukan orang yang terlalu senang dengan kehadiran seseorang—atau kucing dalam kasus Nekora, dan dia juga tidak terlalu suka untuk berhadapan dengan masalah-masalah remeh. Tapi, entah kenapa, dia cukup menyukai Nekora berada disampingnya. Meskipun kucing itu sudah memecahkan hampir seluruh barang di mansion-nya, dan membuatnya berhadapan dengan urusan tidak penting seperti mengganti barang yang rusak karena Nekora.

Misalnya saja mangkuk, kucing itu sudah memecahkan mangkuknya 10 kali selama 3 hari, Kuroro bahkan tidak tau dari mana Kurapika mendapat mangkuk ke 10. Karena Kuroro meberi makan Nekora 3 kali sehari, berarti dalam 3 hari dia seharusnya Cuma bisa memecahkan 9 mangkuk, tapi dengan ajaibnya dia bisa memecahka mangkuk ke 10.

Kuroro melirik Nekora yang berusaha tidur dikasurnya, tanpa diketahui oleh kucing itu, ekornya bergerak kesana kemari.

Mungkin Nekora tidak akan keberatan kalau aku tarik ekornya ?

~~Neko Kurapika~~

Kurapika memejamkan matanya, satu langkah lagi dan dia akan terbang ke alam mimpi, melupakan semua masalah dan kejadiannya hari ini. Satu langkah lagi saja...Kurapika akan tidur kalau saja seseorang pemimpin-Ryodan-sialan tidak menarik ekornya. Butuh waktu 5 detik bagi otak Kurapika yang sudah setengah tidur untuk menyadari kalau Kuroro baru saja mengangkatnya dari kasurnya, dan butuh waktu sekitar 5 detik lagi bagi Kurapika untuk mengumpulkan tenaganya untuk memekik dengan suara kucingnya, "MMREWWWOOONG!"

Kuroro menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, "Shhhh...Tetangga lagi tidur."

Kurapika mendelik tajam ke arah Kuroro, 'Sejak kapan kau peduli dengan tetangga ? Lagipula kita tidak punya tetangga dan yang paling penting,TURUNKAN AKU BODOH!' adalah kalimat yang akan diucapkan Kurapika kalau dia bisa bicara.

Yah...Kalau dia bisa bicara...

Alhasil, Kurapika hanya mendengus dan membiarkan Kuroro membawanya ke kasur King Size nya. Kurapika jadi teringat hari pertama dia berubah menjadi 'Nekora', saat itu dia juga tidur satu kasur dengan Kuroro dan sepertinya niat Kuroro juga sama seperti waktu itu...

Kurapika baru saja mau mencakar wajah Kuroro sebelum tubuhnya menyentuh empuknya bantal, seketika kelelahannya tadi menghantam kembali. Apalagi si-pemimpin-Ryodan-sialan saat ini sedang mengeluh telinganya dan memainkan ekornya, Kurapika langsung bergidik ketika ekornya disentuh, soalnya bagian itu merupakan bagian sensitif Kurapika. Sambil berpikir betapa inginnya dia mencakar Kuroro saat ini, Kurapika menemukan dirinya pergi ke alam mimpi.

~~Neko Kurapika~~

Kurapika terbangun mendengar suara ribut disekitarnya, mula-mula suaranya hanya samar-samar, namun semakin lama semakin jelas. Dia mengumpulkan energinya untuk membuka matanya, dan ketika Kurapika berhasil melakukannya, dia disambut dengan pemandangan yang tidak familiar.

"Kau sudah bangun, Nekora ?"

Kurapika menoleh, dan menyadari dirinya berada di pangkuan Kuroro.

Kurapika mengedipkan mata beberapa kali, "Meow ?"

"Kita berada dirumah seseorang." Jawab Kuroro, dan Kurapika masih bingung bagaimana pria itu bisa mengerti bahasanya. Suara meong-an kucing lain membuat Kurapika berbalik, dan matanya menangkap sosok kucing Russian Blue berwarna abu-abu dengan mata berwarna emerlard. Kurapika berbalik dan menatap Kuroro dengan tatapan tanya, "Dia kucing yang punya rumah ini." Jawab Kuroro dan Kurapika mengangguk.

Russian Blue itu mengawasi Kurapika dengan tatapan intens, membuat Kurapika tidak nyaman. Dengan gusar, dia bergeser sedikit mendekati Kuroro. Kurapika berusaha keras untuk mengabaikan tatapan kucing itu sambil sesekali melirik ke arah Russian Blue itu.

Bagus. Aku baru saja bangun tidur dan sudah menemukan kucing Russian Blue menguntitku. Apa lagi nanti ? Kurapika melirik Kuroro untuk memintanya untuk membawanya pulang, namun dia membeku di tempat ketika melihat aura membunuh keluar dari pemuda itu. Kurapika mengikuti arah pandangan Kuroro, dan matanya sampai pada kucing Russian Blue yang tadi yang juga melototi Kuroro.

Otak Kurapika yang masih setengah sadar berusaha keras untuk memecahkan misteri didepannya. Baiklah..tenang...berpikir. Pertama, kucing ini menguntitku selama tuhan-tau-berapa-lama ketika aku tidur, dan entah kenapa Kuroro terlihat seperti siap memusnahkannya. Selain itu, kucing itu juga terihat ingin sekali mencakar wajah Kuroro. Apa yang terjadi diantara mereka selama aku tidur ? Lagipula, bagaimana bisa Kuroro punya masalah dengan kucing ? Ah! kepalaku pusing memikirkannya...

Kurapika menjelajahi ruangan itu dengan matanya, meskipun hal itu luar biasa sulit mengingat ada dua orang—orang dan kucing maksudnya, yang siap bunuh-bunuhan dan hanya Kurapika-lah pembatasnya. Kucing itu sepertinya tertarik kepada Kurapika, dilihat dari bagaimana cara dia menatapnya. Selain itu...entah kenapa Kuroro seperti terlihat...cemburu ? Jangan bodoh Kurapika. Mana mungkin Pemimpin Ryodan itu cemburu! Apalagi cemburu sama kucing jantan pula! Kurapika menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seakan itu bisa mengenyahkan pikiran anehnya.

Tiba-tiba seorang pria paruh baya berambut hitam yang botak didepan muncul memecahkan ketegangan didalam ruangan itu. Untuk sesaat, pria itu berhenti dan menatap Kuroro dan Kucing Russian Blue itu secara bergantian, agak heran dengan ketegangan yang terjadi diantara mereka.

"Selamat Siang, Kuroro Lucifer-san." Pria itu sedikit membungkuk untuk formalitas. Kuroro bangkit dan melakukan hal yang sama, "Selamat Siang. Moron-san."

"Kita bisa bicara didalam. Silahkan...lewat sini." Ujar Moron dan Kuroro mengangkat Kurapika dari sofa. Kurapika menyadari kalau Kuroro melirik dengan sinis ke arah kucing Russian Blue. Kurapika menemukan dirinya sendiri bertanya-tanya apa yang dilakukan kucing itu sampai membuat Kuroro begitu membencinya.

"Ah...kucing itu." Moron menunjuk Kurapika, "Lebih baik ditinggal disini saja. Aku ingin membicarakan perjanjian kita dengan tenang." Kata Moron dengan seringai yang membuat Kurapika bergidik. "Lagipula Azrael pasti akan senang mendapatkan teman bermain." Moron melirik ke arah kucing Russian Blue itu yang ternyata namanya adalah Azrael.

"Azrael, kau akan menemani kucing klien kita, kan ?" Kata pria itu pada kucingnya dengan setiap kata dilagukan, Kurapika jijik mendengarnya, dan lebih jijik lagi ketika melihat kucing jantan itu menatapnya terus-terusan. Baiklah...entah kenapa perasaanku tidak enak.

Tiba-tiba, Kurgapika merasa badannya mendekati lantai, sebelum dia menyadari Kuroro menurunkannya. "Tunggu disini Nekora." Kata Kuroro, dan sekali lagi melirik sinis ke arah Azrael yang seolah berkata 'Kau-sentuh-kucing-ku-dan-kau-mati'. Beberapa detik kemudian, Kuroro dan pria tua itu menghilang kesudut lorong, meninggalkan Kurapika dengan kucing jantannya yang bernama Azrael.

Kurapika melompat keatas sofa ruang tamu rumah itu tanpa suara, dia duduk manis ala kucing disana, menunggu Kuroro. Kurapika berusaha menghabiskan waktu dengan mempelajari arsitektur klasik ruangan itu, sebelum ada makhluk lain yang duduk disampingnya.

Kurapika menoleh dan mendapati Azrael duduk manis disampingnya. Sambil mengangkat bahu, Kurapika mengabaikan kucing itu dan kembali lagi ke aktifitas sebelumnya.

Sedetik kemudian, Kurapika merasakan sesuatu menyentuh bagian samping tubuhnya, dia menoleh dan mendapati Azrael menggeser duduknya lebih dekat ke Kurapika, membuat bagian samping tubuh mereka bersentuhan.

Merasa tidak nyaman, Kurapika menggeser dirinya menjauhi Azrael yang kemudian diikuti Azrael, sehingga mereka kembali berdekatan. Kegiatan diatas terus terulang, dengan Kurapika menjauh dan Azrael mendekat sampai akhirnya mereka sampai di ujung sofa. Baiklah..kucing ini menyebalkan. Apa sih maunya ?

Kurapika hendak melompat turun ketika ekornya ditarik, dia memekik dan menendang dengan spontan, tapi pegangan cakar Azrael pada ekornya semakin kuat. Kurapika menatap horror kucing disampingnya, dan dia langsung mengerti maksud dan tujuan Azrael. Hal ini didasarkan fakta sederhana kalau Kurapika adalah kucing betina dan Azrael adalah kucing jantan. Sudah jelas tujuannya, kan ?

Kurapika mendorong Azrael sekuat tenaga dan melompat turun dari sofa, berlari mengitari ruangan dengan panik tidak lupa berteriak histeris sepanjang jalan. Azrael mengejarnya, dan Kurapika dengan ganasnya melempar semua benda disekitarnya ke arah Azrael, meskipun sama sekali tidak mempan karena kucing itu bisa menghindari semua benda yang dilempar Kurapika.

Kurapika berhenti disudut sebuah meja, dan Azrael berhenti di sudut diseberangnya, membuat mereka berdiri berhadap-hadapan. Mengabaikan napasnya yang tersengal-sengal, Kurapika mendesis, berusaha memberi peringatan pada Azrael.

Sialnya, Azrael sama sekali tidak takut dengan Kurapika.

Kurapika menggeram dengan frustasi, kesialan seperti mengikutinya kemanapun dia pergi. Sekarang dia harus berurusan dengan kucing jantan yang hendak mengawininya sementara Kuroro berada entah dimana. Kurapika menghela napas, dia sangat berharap Kuroro ada disini sekarang. Sambil menarik napas panjang sekali lagi, Kurapika mengawasi Azrael dan bersiap untuk pertarungan selanjutnya.

~~Neko Kurapika~~

"Kalau begitu kita sepakat Tuan Lucifer." Kata Moron pada Kuroro. Kuroro mengangguk dan berusaha mempertahankan ekspresi seriusnya untuk tetap terlihat sopan, entah kenapa dia tidak bisa berenti memikirkan Nekora, dia merasa ada sesuatu terjadi dengan kucing itu. Apalagi ada kucing jantan yang Kuroro-tidak-peduli-siapa-namanya yang dari tadi mengawasi Nekora.

"Baiklah. Senang bekerja sama dengan anda, mari saya antarkan." Moron menawarkan dengan sopan, Kuroro mengangguk acuh, dia lebih memperdulikan Nekora daripada pria ini, yang sebenarnya Kuroro sendiri merasa aneh kenapa dia lebih mementingkan Nekora, namun Kuroro mengabaikan perasaan aneh itu. Ia mengatakan pada dirinya sendiri kalau pasti akan mementingkan apapun dibanding orang didepannya yang sudah dicap menyebalkan oleh Kuroro.

Ketika pintu menuju ruang tamu tempat dia meninggalkan Nekora tadi dibuka, mata Kuroro melebar dalam batinnya (Kalau diluarnya sih woles aja ekspresinya). Ruangan itu beda jauh dari yang tadi, meja-meja terbalik, kursi jatuh, pecahan vas dan benda-benda sejenis berserakan dilantai, serta dinding dan lukisan-lukisan yang dihiasi bekas cakaran kucing.

"Apa yang..—" Moron tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena shock, kalau saja ia tidak mengkhawatirkan Nekora, Kuroro akan tertawa melihat ekspresinya. Mata Kuroro menyapu ruangan, berusaha mencari kucing berbulu keemasan itu, dan Kuroro menemukannya. Kucing blonde itutampak berusaha sekuat tenaga mendorong Azrael untuk menjauh darinya.

"Nekora!" Panggil Kuroro, suaranya terdengar lebih khawtir dari yang dikehendakinya. Nekora dan Azrael menoleh serempak, menghentikan kegiatan mereka sesaat. Saat mata Kuroro bertemu dengan Nekora, Kuroro melihat mata Nekora melebar dan ekspresi lega langsung terlihat diwajahnya, seakan Kuroro adalah malaikat penyelamat yang datang menolongnya (Yang memang benar dalam pikiran Kurapika). Lalu kucing itu mendorong Azrael yang masih belum pulih dari kekagetannya dan berlari kearah Kuroro. Kuroro membungkuk sedikit untuk menyambut Nekora, dan kucing itu dengan senang hati melompat kepelukannya. Kuroro memperhatikan keadaan Nekora yang berantakan dan napasnya yang tersengal-sengal.

"Azrael! Apa yang kau lakukan terhadap ruanganku !?" Teriak Moron, membuat Kuroro dan Kurapika tersadar dari dunia mereka.

Azrael bangkit dengan susah payah (Karena Kurapika tadi mendorongnya hingga jatuh terjungkal), kemudian menatap takut-takut ke arah Moron. Wajah Moron memerah karena marah, dia segera menarik kucing itu dengan kasar dan memarahinya habis-habisan.

"Perjanjian kita batal." Ujar Kuroro dengan nada sedingin es, sama sekali tidak memperdulikan Moron yang membeku mendengar perkataannya. Moron menoleh dan menatap horror pada Kuroro, "Maaf ? Bisa diulangi ?"

"Perjanjian kita batal." Ulang Kuroro dengan nada yang sama.

Mata Moron melebar karena shock, "Ta—tapi, itu tidak bisa—maksudku—kenapa ?"

"Kucingmu melecehkan kucingku." Jawab Kuroro, dan Kurapika kaget mendengar nada Kuroro yang seperti...marah, atau mungkin hanya kesal ? Dan lagi Kurapika masih bertanya-tanya apakah Kuroro sadar betapa tidak masuk akal perkataannya tadi. Kurapika mau tidak mau tersenyum sendiri, entah kenapa...hanya sedikit sih...tapi dia merasa senang karena Kuroro mau membelanya.

Kurapika menggelengkan kepalanya kuat-kuat, Apa sih yang aku pikirkan ? Ingat Kurapika...ingat...dia itu musuhmu!

"Apa ? Tapi itu sama sekali tidak bisa diterima!" Moron berteriak, ekspresinya adalah campuran antara shock, bingung, dan takut. Shock dan takut karena perjanjiannya batal, bingung karena selama 50 tahun hidupnya tidak ada yang namanya pelecehan terhadap kucing.

Kuroro mengabaikannya dan berjalan keluar ruangan, dengan Kurapika dalam gendongannya. Setelah suara pintu ditutup terdengar, Moron mendelik tajam ke arah Azrael.

Besoknya, Azrael menemukan dirinya terlantar dijalan.

~~Neko Kurapika~~

Kurapika menemukan dirinya sekali lagi duduk manis dibahu Kuroro, mereka saat ini sedang menuju pameran lukisan yang terletak tidak jauh dari pameran permata tempo hari, tempat Kuroro bertemu dengan kali ini, Kuroro membawa Kurapika bersamanya.

Gedung pameran lukisan itu benar-benar indah, setiap lukisan digolongkan dengan tema dan ditempatkan diruangan yang sesuai, membuat kesan tersendiri bagi yang melihatnya. Mereka berdua memasuki ruang pameran dengan tema 'Alam', ruangan itu dicat dengan warna hijau daun dengan berbagai bunga diletakkan disana-sini, ditambah dengan hiasan-hiasan seperti akar-akar buatan diatapnya, membuat ruangan itu seperti hutan mini. Kurapika menemukan dirinya menikmati keindahan yang disajikan didepannya, matanya tidak berkedip dan tanpa terasa dia tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Kurapika melirik Kuroro, wajah pria itu masih sama, datar dan tanpa ekspresi. Memangnya apa yang diharapkan Kurapika ? Apa Kurapika mengharapkan Kuroro untuk tersenyum ? Konyol sekali, hal itu tidak mungkin terjadi dan Kurapika sekali lagi menggelengkan kepalanya kuat-kuat, seakan itu bisa membersihkan pikirannya yang sedang dalam kekacauan saat ini.

~~Neko Kurapika~~

Senritsu berjalan menelusuri ruang pameran sambil menghela napas berat, kemana lagi Nona Neon kabur ? Sudah dua hari Nona Neon menghilang dan Senritsu sudah mengerahkan sebisanya untuk menemukan Nona Neon. Dimulai dari mencarinya di pameran-pameran yang mungkin diminati oleh Nona Neon.

Senritsu menghela napas, kalau saja Kurapika masih disini, dia pasti bisa menemukan Nona Neon tanpa masalah. Matanya sudah terasa panas mengingat temannya yang menghilang, tapi dia menggelengkan kepalanya dan membuka pintu yang bacaannya 'Alam', dan jantungnya berhenti ketika melihat wajah yang familiar.

Disana, sambil menatap salah satu lukisan, berdiri Kuroro Lucifer.

Mata Senritsu melebar, tangannya tanpa terasa bergetar. Tanpa diketahui oleh Senritsu, sepasang mata chocolate brownies juga melebar melihat sosoknya. Kuroro yang menyadari kehadiran orang lain diruangan itu, berbalik dan menatap mata Senritsu. Kuroro lah yang memecah keheningan diruangan itu...

"Kau...temannya pengguna rantai itu...kan...?" Tanya Kuroro, sedikit nada ragu terdengar dalam kalimatnya.

Senritsu menegang, rasanya dia terlalu takut untuk menjawab namun akhirnya gadis itu mengangguk pelan. Hening lagi. Senritsu ingin lari dari tempat itu tapi entah kenapa kakinya terasa terpaku ditempatnya berdiri. Didalam hati, Senritsu bertanya-tanya bagaimana caranya dia bisa lari dari situasi ini, Kuroro Lucifer bukanlah lawan yang bisa dikalahkannya. Kurapika sendiri sedang berpikir hal yang serupa, dia tau kalau Kuroro mempunyai kemampuan jauh diatas Senritsu dan kemungkinan Senritsu menang melawannya hampir 0%, meskipun hanya hampir, tapi tetap saja Kurapika tidak mau temannya terluka.

Merasa membuang waktunya, Kuroro berbalik dan berjalan pergi. Kurapika baru saja akan menarik napas lega kalau saja suara Senritsu tidak menghentikan langkah Kuroro.

"Tunggu!" Teriak Senritsu, entah darimana mendapat keberaniannya. Kalau lain waktu, Kurapika akan mengagumi keberanian Senritsu, tapi sekarang dia ingin menghantam kepalanya ke dinding untuk kesekian kalinya. Sementara itu, Kuroro berbalik dan menatap mata Senritsu.

Kurapika memperhatikan kalau temannya itu menelan ludahnya dengan susah payah, dan tangannya sedikit bergetar.

"Kurapika..." Gumam Senritsu pelan, satu tarikan napas dalam-dalam dan Senritsu melanjutkan kalimatnya, "Apa Kurapika bersamamu ?"

Kuroro menaikkan alisnya. "Maksudmu ?"

Senritsu menarik napas sekali lagi. Kalau kemarin-kemarin, disana ada Kurapika dan Leorio yang siap membantunya, itu sebabnya dia tidak takut. Tapi sekarang ? Dia sendirian menghadapi Pemimpin Ryodan tanpa persiapan sedikit pun. "Kurapika menghilang." Kata Senritsu setelah mengumpulkan keberaniannya, "Tidak ada jejak sama sekali. Dia menghilang begitu saja." Senritsu menatap iris obsidian Kuroro, "Apa kau ada hubungannya dengan menghilangnya Kurapika ?"

Kurapika tanpa sadar menahan napasnya, ia melirik Kuroro dari sudut matanya, tapi ekspresi pemuda itu tetap datar.

"Kurapika..." Gumam Kuroro dengan volume yang rendah, mungkin Kurapika tidak akan mendengarnya kalau saja dia tidak berada tepat disamping mulut Kuroro, mengingat dia sedang duduk dibahunya. "Bukannya gadis itu sudah mati ?" Tanya Kuroro, kali ini suaranya kembali ke volume biasa.

"Eh ?"

"Majikanmu, Neon, dia bilang kalau pengguna rantai sudah mati. Dia mati karena..." Butuh waktu sekitar 7 detik bagi Kuroro untuk memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya atau tidak, dan Kuroro memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya, "Karena...Errr...ditelan ikan paus."

Mata Senritsu berkedip beberapa kali. Kurapika yakin dia sedang bertanya pada dirinya sendiri apakah telinga sensitifnya masih berfungsi dengan baik atau tidak.

Hening. Wajah kedua orang itu sama-sama kebingungan (Meskipun Kuroro ekspresinya datar, tapi Kurapika tau dia juga sedang bingung), dan saru-satunya orang yang tau kenyataan sebenarnya tidak bisa bicara sama sekali. Senritsulah yang memecah keheningan.

"Kurapika tidak mati." Ujar Senritsu dengan nada yang terdengar yakin. "Dia tidak mati. Aku yakin itu. Aku tidak tau masalah apa yang dihadapinya, dia hanya menghilang tanpa jejak. Tapi mati dan menghilang adalah hal yang berbeda."

Kurapika ingin menangis terharu mendengar perkataan Senritsu, sayang sekali keinginan Kurapika untuk menghantam kepalanya ke dinding lebih kuat daripada keinginannya untuk menangis. Pergilah Senritsu! Sebelum kau terluka!

Seolah menjawab permintaan Kurapika, Senritsu mengambil langkah mundur mendekati pintu tanpa membalikkan badannya, dia tidak mau menunjukkan punggungnya pada musuh. "Jadi...aku rasa kau tidak ada hubungannya dengan menghilangnya Kurapika." Ujar Senritsu, "Kalau begitu pembicaraan kita selesai." Senritsu mengambil satu langkah lagi dan sosoknya menghilang dari pandangan. Kuroro membiarkan Hunter itu pergi.

Kurapika menarik napas lega, dia sangat bersyukur temannya tidak terluka. Ia membalikkan kepalanya untuk mengajak Kuroro pergi dari ruangan itu, tapi Kurapika membeku ditempat ketika melihat Kuroro tersenyum. Yang mungkin bisa dibilang senyum nista...

"Heh...jadi si pengguna rantai itu masih hidup ya..."

.

.

.

TBC


A/N : Dengan kerja keras dan cucuran keringat serta air mata, CHAPTER INI AKHIRNYA JADI! *salto-salto*. Nama Azrael saya dapat dari The Smurf (Yang pastinya bukan punya saya). Saya lupa siapa nama majikannya, jadi saya bikin aja Moron.

Oh iya, chapter depan—kalau enggak ada perubahan plot mendadak—saya akan memperkenalkan chara baru yang merupakan OC saya. Mulai chapter depan saya juga akan usahain untuk balas review dari PM, jadi A/N nya enggak kepanjangan. ^^V

Curcol sesaat^^V, saya barusan dikasi tau kalau saya remedial IPA *nangis darah*. Uugh...padahal saya kira IPA saya enggak jelek-jelek amat. Emang sih, kata guru saya nilai saya 72,5, dikit lagi untuk ngelewatin KKM. Minna-san yang masih sekolah ujiannya gimana ?

Saatnya bales Review :

Kaeda Hoshizora : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Eh ? Kok terpaksa ? Saya sebenarnya enggak mau terlalu banyak angst sih, tapi mengingat inti cerita ini adalah Kurapika yang mulai menyukai Kuroro dan Ryodan saat mengenal sisi baik mereka, angts-nya juga harus ada meski dikit. Mungkin bisa juga dideskripsikan dengan genre humor, tapi saya gak bisa.

XxJigoku-no-HanaxX : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! BENER BANGET! UJIAN SEMESTER EMANG NGABISIN MASA MUDA! *Loncat-loncat gaje sambil pegang papan demo 'Musnahkan Ujian dan PR'*

Ann Venteux : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya juga buat ngasi tau typo saya. Tapi udah saya perbaiki. Kuroro enggak curiga kok, karena dicerita ini Kurapika sama sekali tidak mengeluarkan kekuatan Nen, jadi selain tindakan, bentuk, tenaga, dan lain-lainnya mirip kucing biasa.

Moku-Chan : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Wah...sayang sekali, Kurapika enggak akan berubah jadi manusian pada saat-saat tertentu begitu. Tapiiiii... Kurapika akan berubah jadi manusia saat...—stay tune aja deh kalau mau tau. ^^V

Red'Ocean : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Waah...jangankan Red'Ocean-san, saya sendiri masih bingung endingnya gimana *gubrak*. Tenang aja, enggak akan saya discontinue kok!

Guest : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Pasti bisa dong...Nekora a.k.a Kurapika kan bukan kucing biasa :D

RieRei10KHxh : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Dengan senang hati saya bikin Neko Killua! *jingkrak-jingkrak gak jelas*. Tapi entar saya gak mau bagi-bagi Killua-nya lhoo... ^^V

KuroPika Lovers : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya dan dukungannya. Pasti saya lanjutin! Just stay tune!

Mehmalas Log-in : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Eh ? Kurapika dan Kuroro memang selalu sendirian di mansion kok ._.

Lavender Sapphires Chan : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Iya dong! Namanya juga Kurapika—eh, Nekora maksudnya, pasti usahanya untuk kabur selalu gigih. Ganbatte ya semesterannya!

Yuiko : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Ini lanjutannya, selamat dinikmati!

Mikyo : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Silahkan dibaca lanjutannya...

Tsu : Arigatou Gozaimasu atas reviewnya! Eh ? Mencurigakan ? Enggak kok! *Bela Killua* . Eh ? Dramatis banget ._. , mungkin bisa saya pertimbangkan ide-nya Tsu-chan *eh. Hontou ni ? Wah...makasih, padahal saya lumayan yakin kalau kata-kata saya itu ribet.

Review, ne ?