A/N : Minna-saaan! Saya balik lagi dengan chapter baru. No worry minna-san, saya gak mati dan saya masih melanjutkan cerita ini ^^V meskipun terlambat m(_ _)m , dan saya akui tidak alasan untuk keterlambatan saya ini kecuali kemalasan seorang *ditendang* juga mungkin beberapa masalah yang menimpa saya TT_TT, saya jadi pengen cepet2 liburan...
Buat yang udah review, Arigatou Gozaimasu! Saya seneng banget baca review kalian semua. Jawabannya ada diakhir cerita. Sebelum kita mulai ceritanya...
NOTE : Setting cerita ini adalah Hunter x Hunter 2011. Jadi semua karakter penampilannya sama seperti setting-an HxH 2011. Kecuali Kurapika, karena di ff ini mata Kurapika tetap biru (Di HxH 2011 warna matanya coklat).
Okeh, itu aja. Mari mulai... ^^
Neko Kurapika
.
.
Disclaimer : Hunter x Hunter © Yashihiro Togashi
.
Author : Nemurase Hime
.
.
Warning : OOC!, Typo(s), humor gak terlalu lucu, dll.
.
.
Chapter 5 : Broken Pieces
"It's half way to the end..."
Kalau ditanya apakah ada hal yang paling tidak disukai oleh Kurapika, maka jawabannya adalah menunggu. Kurapika Kuruta sama sekali tidak suka menunggu. Tapi sekarang ia menemukan dirinya sendiri menunggu musuh bebuyutannya menyelamatkannya. Kurapika menghela napas, kapan kegilaan ini akan berakhir ?
Sambil mengawasi kedua penculiknya yang sedang main kartu didepannya, Kurapika menatap keluar jendela dengan pandangan galau. Lehernya terasa sakit, kedua penculik itu memang tidak mengikatnya sehingga ia masih bisa menggerakkan tangan dan kakinya cukup bebas, tapi mereka merantai lehernya ke tiang gedung tua itu. Sisi baiknya, mereka tidak melepaskan kalung loncengnya (Karena dia mencakar dan memberontak sekeras mungkin saat mereka berusaha membuka kalung loncengnya, sehingga akhirnya mereka menyerah dan memasang rantainya dibawah kalungnya).
Kurapika masih memikirkan cara untuk kabur dari penculiknya, makanan yang disediakan kedua penculiknya itu (Yang merupakan tulang ikan sisa makan siang mereka) tidak disentuh oleh Kurapika dan dibiarkannya saja dipojok ruangan. Dia menahan keinginan untuk menendang piring makannya itu kemuka penculiknya, Kurapika bisa merasakan kepuasan yang didapatkannya ketika sampah itu menghantam wajah kedua orang itu, sayangnya Kurapika berencana untuk menjadi kucing manis agar mereka tidak mengikatnya.
"Hei...kucing itu tidak mau makan." Kata penculik pertama pada rekannya. Mereka berhenti main kartu sebentar dan melirik kucing blonde yang sedang melamun.
"Bagaimana ini ? Boss menyuruh kita untuk memastikan dia tetap hidup." Jawab penculik kedua.
"Mungkin dia tidak mau makan tulang ikan itu." Ujar penculik pertama.
Tentu saja! Kalian kira siapa yang mau makan sampah itu ? Kata Kurapika dalam hati sambil membuat catatan mental untuk memberi ikan segar jika dia ingin memberi makan kucing saat Kurapika sudah kembali ke tubuhnya semula. Kalau dia kembali ketubuhnya semula.
"Mungkin saja. Kudengar pemilik ini adalah seorang bangsawan, jadi kemungkinan besar dia makan makanan mahal setiap hari." Jawab penculik kedua.
Kalimat penculik kedua menarik perhatian Kurapika. Bangsawan ? Kuroro bukan bangsawan! Apa mereka tidak tau kucing siapa yang mereka culik ? Pikir Kurapika dalam hati.
"Sialan. Kalau begitu pergi sana beli makanannya!" Suruh penculik pertama pada rekannya.
"Enak saja! Kau saja sana yang pergi beli!" Tolak penculik kedua.
Penculik pertama menghela napas, "Ayolah! Biar aku yang menjaga kucing ini."
"Kenapa tidak kita biarkan saja kucing ini, nanti kalau lapar dia akan makan sendiri."
"Tidak bisa begitu... kalau kucing sudah terbiasa makan makanan mahal, diberikan yang murah nanti bisa mati, kau kan dengar jelas apa kata Boss."
Penculik kedua menghela napas dan berdiri sambil menggerutu. Kurapika mengawasi kedua penculiknya dengan seksama, Apa-apaan ini ? Jadi mereka tidak tau kucing siapa yang mereka culik ? Pikir Kurapika, Apa mungkin 'Boss' mereka ini yang tau sebenarnya...
"Merepotkan saja. Kenapa sih kita harus menculiknya ? kucing pula' lagi!" Gerutu penculik pertama.
"Kau kan tau Boss memang aneh. Mungkin dia menculik kucing ini untuk semacam penelitian untuk nen-nya." Jawab penculik kedua.
Kurapika memperhatikan kedua penculiknya berbicara, sebelum akhirnya penculik pertama keluar dan menutup pintu besi didepannya. Kurapika menyerap informasi yang diterimanya dan berpikir, Mereka tidak tau Kuroro. Mereka hanya mengikuti secara buta perintah dari 'Boss' mereka. Sepertinya masuk akal juga, orang bodoh macam apa sih yang akan menculik seekor kucing ? Yah...mungkin orang bodoh tersebut adalah 'Boss' mereka ini.
Suara kaleng yang dibuka mengagetkan Kurapika, ia melirik penculiknya yang sedang membuka kaleng beer ketiga. Pria itu meneguk habis beer itu dan mulai menggumam sendiri, "Kau beruntung kucing..." gumamnya.
"Aku dengar Boss adalah penyayang binatang." Kalimat pria itu mengandung nada sarkastik. Kurapika mulai menduga kalau pria ini mabuk.
"Wanita itu aneh, dia banyak menyuruh kami mencari benda-benda aneh atau menculik binatang. Minggu lalu aku harus menjaga anjing cihuahua berwarna biru yang tidak henti-hentinya meratap dan meraung." Curhat penjaga itu, "Maksudku...tidak ada cihuahua yang berwarna biru! Apalagi warna biru tua seperti itu. Darimana dia mendapatkannya ?"
Kurapika mulai bosan mendengar ocehannya. Dia memilih untuk melihat keluar jendela. Langit sudah mulai gelap dan bulan sudah keluar. Kurapika bisa melihat bintang pertama yang terlihat hari itu, bersinar terang dilangit sebelah timur. Dia bertanya-tanya berapa lama dia harus menunggu...
~~NK~~
Senritsu menutup pintu kantor Nostrade dengan perlahan. Ia bersandar didaun pintu itu dan menghela napas panjang. Kena marah lagi...
Light Nostrade sama sekali tidak terkendali, semenjak Kurapika menghilang, Senritsulah yang menjadi kepala penjaga sementara. Tidak bisa dibayangkan betapa lelahnya Senritsu karena harus bekerja dan mencari Kurapika dalam waktu bersamaan, belum lagi waktu yang dia habiskan untuk mengkhawatirkan teman-temannya, dan Neon Nostrade sama sekali tidak mempermudah pekerjaan Senritsu.
Sekarang, Neon juga menghilang. Dia harus melipatgandakan usahanya untuk mencari Neon dan sekaligus Kurapika. Kalau saja Light Nostrade tidak marah-marah setiap hari kepadanya, maka pekerjaannya akan lebih mudah. Mungkin sebaiknya aku berhenti... Pikir Senritsu dalam hati.
Tiba-tiba, Senritsu merasakan handphone-nya bergetar, ia melihat layar dan melihat nama Gon disana. Senritsu menjawab panggilannya, "Moshi moshi ?"
"Senritsu!" Teriak Gon dari seberang sambungan "Ini aku Gon."
"Ada apa, Gon ?"
"Kami ingin bertemu denganmu. Di Cafe kemarin ya..."
"Ya..tentu sa—" ...TUUT...TUUT
Senritsu menatap handphone-nya, Dia memutuskan sambungannya... Sambil menghela napas, Senritsu berjalan keluar Mansion Nostrade. Dikejauhan, Senritsu melihat Eliza yang sedang membersihkan meja hias didekat pintu keluar. Senritsu menghampirinya.
"Eliza..." Panggil Senritsu dan Eliza menoleh. "Kalau Tuan Nostrade mencariku, katakan aku keluar sebentar."
Eliza mengangguk, "Tentu saja. Ngomong-ngomong kau mau kemana ?"
"Bertemu dengan Killua, Gon, dan Leorio." Jawab Senritsu.
"Membicarakan Kurapika lagi ya ?" Eliza menghela napas, "Dia kemana ya...sampai sekarang belum ketemu."
Senritsu ikut-ikutan menghela napas, "Yah...mau bagaimana lagi. Bahkan penciuman anjing Gon saja tidak bisa menemuakannya." Senritsu dan Eliza tertawa cekikikan.
Eliza dan berhenti tertawa dan tiba-tiba memasang tampang kesal, "Ngomong-ngomong soal hewan. Apa kau tau kalau ada kucing yang masuk ke kamar Kurapika kemarin ?"
"Kemarin ?"
"Maksudku beberapa minggu lalu. Aku tidak tau dia masuk dari mana. Tapi susah kali megusirnya, kucingnya lincah sekali." Curhat Eliza.
"Mungkin dari pintu dapur yang terbuka. Beritau para koki untuk menutup pintu belakang." Ujar Senritsu dan segera berlalu. Dijalan, Senritsu memikirkan petunjuk apa yang dilewatkannya untuk menemukan Kurapika...
~~Neko Kurapika~~
Kuroro Lucifer tidak pernah merasa kesepian. Dia cukup senang dengan kesendiriannya dan tidak pernah menginginkan seorangpun menemaninya, Genei Ryodan saja sudah cukup untuknya. Namun saat ini, entah kenapa dia merasa sepi. Kuroro menelusuri ruangan dengan matanya dan memperhatikan keadakan kamar tidurnya.
Tempat tidurnya yang berada dipojok ruangan terlihat rapi dan bersih, rak bukunya juga rapi, dimejanya terletak buku tebal yang dibacanya beberapa hari yang lalu, disudut kanan ruangan ada tempat tidur Nekora, didekatnya terdapat pecahan gelas (yang terbuat dari plastik) yang dilempar oleh Nekora kearahnya malam sebelum misi dimulai. Kuroro belum sempat membersihkan serpihan itu.
Pertama kali dalam hidupnya, Kuroro merasa kesepian. Sepertinya ia sudah terlalu terbiasa dengan barang yang pecah, menyiapkan makanan untuk kucingnya, dan suasana (Nekora biasanya tidak pernah diam) yang tidak pernah sepi.
Tiba-tiba ada getaran dari kantung celana Kuroro. Kuroro mengambil handphone-nya dan menjawabnya tanpa melihat siapa gerangan pemanggilnya.
"Danchou...ini aku, Shalnark."
~~Neko Kurapika~~
Matahari telah tenggelam di ufuk timur. Kurapika menatap keluar jendela yang menjadi satu-satunya penghubung antara dirinya dan dunia luar. Dia memperhatikan dua pria menyebalkan yang menjadi penculiknya sedang berargumentasi tentang sesuatu yang berhubungan dengan 'Kucing', 'Boss', dan 'Tidak bisa dihubungi'.
Kurapika mengalihkan pandangannya dari mereka dan melihat keluar jendela lagi. Bintang-bintang sudah mulai keluar dan bulan sudah menampakkan dirinya. Kurapika bukan orang yang terlalu percaya hal-hal mistis atau cerita-cerita kuno, namun kali ini dia berharap pada bintang agar Kuroro datang. Datang dan menjemputnya, kemudian membawanya pergi dari sini.
Bodoh sekali aku... Pikir Kurapika, dia tidak akan datang. Seberapa lamapun aku menunggu. Memangnya aku ini siapanya dia ?
Kurapika tiba-tiba memiliki keinginan kuat untuk menangis, tapi dia menolak keras gagasan dia tau ini akan terjadi. Seharusnya dia pergi dari hari pertama. Seharusnya dia meracuni Kuroro ketika ada kesempatan. Sekarang lihatlah apa yang terjadi ? Dia jadi merasa aneh seperti ini.
Yang jelas, dia sama sekali tidak sakit hati. Siapa yang sakit hati ? Yang jelas bukan Kurapika. Dia sama sekali tidak sakit hati. Kuroro itu musuhnya, untuk apa dia sakit hati ? Seharusnya dia senang. Seharusnya dia memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari penculik ini dan Kuroro. Lalu ketika mereka berjumpa lagi, Kurapika sudah akan kembali ketubuhnya dan menganggap semua kejadian ini tidak pernah ada kemudian membunuhnya bersama dengan seluruh anggota Genei Ryodan terkutuk miliknya.
Seharusnya...
Tapi Kurapika malah menyandarkan punggungnya ke tiang dan menutup matanya. Rasanya dia ingin disini selamanya. Jauh dari dunia luar dan dari semua masalah. Saat ini memikirkan Kuroro entah kenapa membuatnya ingin menangis dan merasa aneh.
Ini tidak benar.
Seharusnya dia merasa marah dan benci.
Ketakutan terbesarku mulai menjadi nyata... Pikir Kurapika sambil menekan kuat-kuat lantai semen dibawahnya, dendamku dan kebencianku sudah mulai memudar...
BANGGGG!
"Suara apa itu!?" Teriak kedua penculiknya bersamaan. Mereka bangkit dan memasang posisi siaga. Penculik yang satu mengeluarkan sebuah tombak berbentuk salib sementara yang satunya lagi mengeluarkan pistol.
Seketika itu juga penjahat itu terlempar kedinding dibelakang Kurapika, anehnya mereka berdua sama sekali tidak mengenai Kurapika. Sebelum dia sempat mengerti apa yang terjadi, Kurapika merasakan rantainya diputus. Ia mendongak dan melihat pria berambut coklat pasir yang sedang tersenyum kearahnya dan berkta "Kau tidak apa-apa ?"
Shalnark... Gumam Kurapika dalam hati. Shalnark kemudian mengangkat Kurapika. Tepat pada saat itu pula, kedua penculiknya bangun dan berusaha menyerang Shalnark. Shalnark dengan cekatan melompat mundur. Penculiknya yang membawa tombak berusaha menyerang lagi, namun gerakannya terhenti ketika sepasang tangan kuat menahan tombaknya.
Mata Onyix bertemu dengan mata coklat penculiknya. Kuroro melototi penculik Kurapika dengan pandangan yang tidak bisa dibaca, ia dengan kasar melempar tombak pria itu sehingga pria itu juga ikut terlempar, namun ia sempat menggores lengan Kuroro dengan ujung tombaknya.
"Hooray Danchou!" Sorak Shalnark sambil menyeringai, meskipun dia tidak melompat-lompat dan menari-nari layaknya cheers, Kurapika masih berpikir dia baru saja mendengar anak berumur 5 tahun bersorak. Shalnark tiba-tiba melompat kesamping karena penculik berpistol baru saja menembaknya dari belakang.
Ketika penculik itu hendak menyerangnya lagi, ia tiba-tiba jatuh pingsan. Di tempat penculik itu semula berdiri telah digantikan oleh Kuroro.
"Lebih baik kau bawa kucingmu pulang, Danchou." Kata Shalnark sambil menyerahkan Kurapika pada Kuroro, "Aku akan mengintrogasi mereka. Kita bertemu lagi besok."
Kuroro mengangguk yang sepertinya dimaksudkan untuk berterima kasih, lalu sedetik kemudian dia menghilang dari pandangan Shalnark. Sementara itu, Shalnark melirik kanan-kiri untuk mencari tali agar bisa mengikat kedua pria itu, namun dia tidak menemukannya.
"Machi, bantu bisakah kau ikat mereka ?" Pinta Shalnark pada Machi yang ternyata dari tadi melihat semuanya dari balik pintu. Pintu ruangan itu terbuka dengan bunyi berderit, kemudian nampaklah sosok Machi yang merengut seperti biasanya.
Tanpa berkomentar, ia berjalan menuju kedua penculik itu dan mendekatkan mereka dengan cara menendangnya tanpa belas kasihan, kemudian mengikat mereka berdua dengan tali nennya.
"Hei! Bangun kau!" Bentak Machi. Kemudian salah satu dari penculik itu membuka matanya perlahan, ia mendongak hanya untuk melihat perempuan berambut pink mempelototinya.
"Jawab pertanyaanku!" Kata Machi masih dengan nada membentak, "Untuk apa kau menculik kucingnya Danchou ?"
Sementara itu, dibackground, Shalnark menggumam "Bukannya aku yang seharusnya mengintrogasi mereka ?"
"A—aku tidak tau." Jawab penculik itu dengan tergagap. Machi meletakkan sebelah kakinya dibahu penculik itu dan semakin mempeletotinya.
"Aku benar-benar tidak tau. Sungguh!" Kata penculik itu lagi, kali ini dengan muka memelas. "Aku hanya menjalankan perintah dari Boss-ku."
"Siapa boss mu ini ?" Tanya Shalnark mulai penasaran.
"Kami tidak tau. Kami berhubungannya dengan telepon atau e-mail. Dia menyuruh kami memanggilya 'Boss' dan memberi kami upah setelah kami menyelesaikan misi." Jawab penculik itu takut-takut.
"Apa kalian tidak tau kenapa dia ingin menculik kucing itu ? Atau mungkin sedikit curiga gitu ?" Tanya Machi, masih dengan muka galak.
"Kami tidak tau kenapa dia ingin kucing itu. Lagipula, Boss kami memang terkadang menyuruh kami menangkap hewan yang aneh-aneh. Misalnya kami pernah diperintahkan untuk menangkap harimau yang berwarna hitam ditengah hutan."
"Apa yang dilakukannya setelah menangkap hewan-hewan itu ?"
"Terkadang dia menyuruh kami membunuhnya. Terkadang dia menyuruh kami meletakkannya disuatu tempat. Macam-macamlah.."
"Lalu ? Bagaimana dengan kucingnya Danchou ? Apa yang dia perintahkan kepada kalian untuk dilakukan pada Nekora ?"
"Kami belum tau. Dia tidak bisa dihubungi. Kami sudah mencobanya berkali-kali."
Machi mengangkat kakinya dari bahu si penculik, membiarkan pria itu bernapas dengan lega sesaat, kemudian menyandarkan diri ke tiang sambil melipat tangannya.
"Mereka jujur" Kata Shalnark pada Machi sambil memasang pose berpikirnya. "Sepertinya 'Boss' mereka tidak mengincar Danchou."
"Sepertinya begitu. Padahal kupikir tadinya mereka ingin mengancam Danchou." Jawab Machi, "Yah...sebenarnya tidak masuk akal juga sih kalau mereka ingin mengancam Danchou dengan Nekora."
"Tapi bukankah lebih aneh lagi jika mengincar Nekora. Maksudku, untuk apa mereka mengincar seekor kucing ?" Debat Machi.
"Tapi bukankah kedua orang ini bilang kalau 'Boss' mereka terkadang suka meminta mereka mencari binatang yang aneh-aneh." Jawab Shalnark.
"Tapi Nekora tidak aneh. Maksudku, ada banyak kucing berbulu emas, meskipun bulunya lebih lembut dari kebanyakan. Tapi tetap saja, itu masih kurang masuk akal." Kata Machi kemudian menghela napas, ia memejamkan matanya dan berpikir sebentar. "Hei...mungkinkah ?" Gumam Machi tiba-tiba, "Mungkinkah 'Boss' mereka ini adalah pemilik Nekora yang sebelumnya ? Maksudku, bukankah ketika kita menemukannya dia sudah memakai kalung loncengnya ?"
Shalnark memikirkan gagasan Machi untuk beberapa saat, "Bisa saja. Tapi sepertinya 'Boss' mereka bukan orang yang terlalu menyukai binatang."
Machi menghela napas, "Ini semakin memusingkan saja. Sepertinya kita menunggu dulu sampai mendapatkan informasi lebih lanjut."
~~NK~~
Kuroro membuka pintu rumahnya dengan sebelah tangan, tangannya yang satu lagi menggendong Kurapika (Yang membuat Kurapika sangatsangat! marah karena dia merasa seperti kantung plastik belanja ketika digendong sebelah tangan seperti itu) yang sekarang sudah tidur. Kuroro meletakkan Kurapika diranjangnya lalu berbaring disebelahnya. Kemudian, tanpa repot-repot mengganti bajunya ataupun membersihkan lukanya, ia langsung tidur.
~~Neko Kurapika~~
Duuh...panas... Pikir Kurapika dalam keadaan masih setengah sadar, meskipun Kurapika sudah bangun, ia terlalu malas untuk membuka mata. Tapi suhu disekitarnya semakin panas. Padahal sepertinya ini masih musim gugur.
Kurapika memutuskan untuk bangun dari kasur yang panasnya...duh...cetar cetar membahana gitu, mantep sedap terasa deh panasnya. Ketika Kurapika membuka mata, ia sadar kalau ternyata dia berada di kasur Kuroro dan bukan di kasurnya. Kurapika langsung panik gak karuan... bukan, bukan karena dia tidur sekasur sama pemimpin Ryodan lagi, Cuma karena ternyata sumber panas yang ''sesuatu'' banget itu berasal dari Kuroro.
Kuapika langsung tersentak kaget, ia menyentuh dahi Kuroro dengan tangan kucingnya dan langsung ngacir ke kamar mandi buat ngerendem tangannya di air dingin. Gilee...panas bener...kayak nyentuh api...Pikir Kurapika sambil ngembus tangannya yang masih panas. Eh tunggu...Kuroro kok panas banget, ya ?
Otak pintar Kurapika butuh waktu sekitar 20 detik untuk menyadari kalau majikan kece nya itu lagi demam yang membuat Kurapika panik sendiri, alhasil, Kurapika malah mekik-mekik enggak jelas di kamar mandi, terus lari-lari nyari handuk yang jelas-jelas didepan dia, lalu ngeluarin es batu buat bikin air dingin padahal ada dispenser ada air dingin, terus nyasar pas mau ke kamar Kuroro karena panik gak karuan.
Tenang Kurapika...jangan panik...huuuft...jangan panik...tenang...tarik napas...satu...lima...sembilan...serebu...GYAH! KENAPA BERANTAKAN BEGINI HITUNGANKU !? ARRRRRGH! Teriak Kurapika panik + frustasi = Sarap
Masalahnya, Kuroro demam tinggi dalam keadaan mansion yang enggak ada manusia selain Kuroro seorang, secara Kurapika kan sekarang...*ehem*...kucing. Setelah meletakkan handuk basah dikepalanya, Kurapika udah lebih tenang, dan sekarang sedang duduk manis disamping Kuroro.
Mungkin kalau aku panggil anggota Ryodan kesini, mereka bisa ngerawat Kuroro sekalian cari tau apa yang buat dia sakit begini... Pikir Kurapika dan langsung lari buat mengambil handphone Kuroro. Setelah membuang 10 menit hidupnya Cuma buat mencari handphone, Kurapika men-dial (Baca : Mencakar layar di handphone-nya Kuroro karena tangan kucingnya membuatnya susah untuk menggunakan telepon) nomor tangan kanan sementara Kuroro, Shalnark.
Sementara itu, di suatu tempat dibelahan bumi...
"Shal, gak usah ngelirik-ngelirik gitu. Sikat aja udah..." Bisik Nobunaga sambil nyikut Shalnark dengan alis naik-naik plus lirik-lirik Shizuku.
Shalnark mendorong Nobunaga sambil blushing tujuh warna pelangi, "Berisik ah..."
Saat ini, Genei Ryodan sedang berkumpul sambil menunggu Danchou mereka, namun sampai sekarang di Danchou-nya gak muncul-muncul juga. Yang menyebabkan Machi main sama benangnya, Shizuku baca bukunya, Feitan ngecat payungnya, Benelenov main tinju sama dinding, Franklin tidur, Phinks memburu lalat, dan Nobunaga yang mengganggu Shalnark terus-terusan (A/N : Kasian lu nak..Sabar ya...) yang notabene lagi naksir Shizuku.
"Danchou mana sih ?" Gumam Machi sambil melirik jamnya. Anggota Ryodan udah pada ngeluh karena lumutan nungguin Danchou mereka yang seharusnya udah datang 3 jam yang lalu.
Krrrriiiing...Kriiing...
Handphone Shalnark berbunyi dengan meriah, merusak keheningan di markas sementara Ryodan, ia segera mengambil handphone-nya dan membaca nama orang yang menelponnya.
"Dari Danchou nih..." Teriak Shalnark, perhatian Ryodan langsung tertuju pada Shalnark dan handphone-nya. Shalnark segera mengangkat telponnya dan menempelkannya ke kuping.
"Kyaaa!" Pekik Shalnark ala cewek karena suara mengerikan yang datang dari handponenya. Shalnark mengelus-ngelus telinganya yang jadi korban.
"Ada apa Shal ?" Tanya Nobunaga sambil mendekati Shalnark.
"Kucing Danchou ngamuk. Duh..telingaku yang malang..." Gumam Shalnark enggak jelas masih ngelus-ngelus telinganya, Machi mendekati Shalnark—maksudnya sih mau minjam handphone nya Shalnak, Cuma gayanya udah kayak rentenir nagih utang, tangan dijulurin sambil masang muka 'jutek ala Machi'-nya.
Setelah beberapa menit ngomong sama Kurapika a.k.a Nekora yang notabene adalah kucing (Kok Machi bisa ngerti ya ?), Machi menutup telponnya dan mengalihkan perhatiannya pada Ryodan, "Kayaknya Danchou lagi ada masalah, kita ke mansion nya sekarang." Perintah Machi bossy banget.
Di mansion Kuroro...
Kurapika menghela napas berat setelah Machi menutup telponnya, rasanya Kurapika benar-benar merasa bodoh karena lupa dia Cuma bisa bahasa kucing sementara telponnya udah tersambung, alhasil Kurapika Cuma teriak-teriak panik dalam bahasa kucing, untung ada Machi yang kayaknya bisa ngerti kalau Danchou mereka lagi sakit.
Kurapika melirik Kuroro yang lagi tidur disebelahnya, tubuhnya basah karena keringat, dan tidurnya terlihat gelisah.
Bersyukurlah kau Kuroro, kalau aku tidak ingin membunuhmu dalam pertarungan yang adil, aku akan membiarkanmu mati disini... Pikir Kurapika dengan teganya. Yah...setidaknya itulah alasan Kurapika, nyatanya dia memang enggak tega melihat Kuroro yang keadaannya udah parah seperti ini, lagipula, Kurapika memang kan ingin membalas dendam dengan cara yang baik dan benar, dia gak licik ataupun picik, dia punya harga diri yang mengharuskannya untuk menang secara terhormat dalam pertarungan satu lawan satu.
Namanya juga Kurapika, jangan heran kalau orangnya ribet begitu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, lalu derit pintu yang dibuka.
Machi dan yang lain sudah datang...
Kurapika segera bangkit untuk pergi ke pintu depan, namun ekornya ditahan oleh sesuatu yang terasa panas dikulitnya. Kurapika berbalik dan melihat Kuroro memegang ekornya, matanya terbuka setengah dan memandangnya dengan intens, seolah mengatakan ;Jangan Pergi'.
Kurapika membuka mulutnya lalu menutupnya lagi, persis kayak kucing kelelep. Namun akhirnya dia menuruti permintaan Kuroro, ia kembali duduk dan tidak beranjak sedikit pun dari sana.
"Danchou ? Kau disini ?" Teriak Nobunaga dari ruang tamu, kemudian pintu kamar Kuroro terbuka dan menampakkan anggota Ryodan yang memandang Kuroro dengan khawatir.
"Danchou, kau tidak apa-apa ?" Tanya Machi segera.
"Wah...badan Danchou panas sekali..." Kata Shizuku sambil menyentuh lengan Kuroro.
"Hidupkan pendingin ruangannya." Kata Shalnark pada Shizuku, yang segera dilakukannya dengan patuh.
Mereka mengelilingi Kuroro dan berusaha sebisa mungkin untuk meringankan panas pemimpin mereka.
"Hei! Kasurnya berdarah!" Ujar Shalnark sambil menunjuk bagian bawah kasur yang ditimpa oleh tubuh Kuroro. Machi mendekat untuk melihatnya, "Hei...inikan luka yang disebabkan oleh pria kemarin." Katanya sambil membawa lengan Kuroro pelan-pelan ke pangkuannya untuk diintefikasi. Machi menyentuh darah Kuroro, lalu mengendusnya, kemudian ia merengut. "Sepertinya tombak kemarin beracun."
Feitan mendecikkan lidah sambil bergumam sesuatu yang terdengar seperti "Merepotkan". Phinxs mendengus, "Lagipula, kenapa Danchou bisa seceroboh ini sih sampai tidak mencuci lukanya ?"
Shalnark diam-diam tersenyum. Tidak ada yang tau kalau kemarin Danchou terlalu mengkhawatirkan kucingnya, meskipun dia tidak mengakuinya, pasti dia terlalu lelah karena itu.
"Sudahlah. Aku akan merawat lukanya, kalau kalian disini hanya ribut saja. Lebih baik keluar." Usir Machi dengan sinis sambil menatap Danchou-nya yang sedang tidur.
Sementara itu, kucing kesayangan kita semua sedang memperhatikan semuanya dari pojok ruangan. Ia entah kenapa merasa tidak berguna karena tidak bisa membantu apa-apa. Kurapika sama sekali tidak terbiasa dengan perasaan itu. Secara dia selalu menjadi pemimpin atau palin tidak yang mendominasi dalam sesuatu (Misalnya saja dalam pekerjaannya, dia sudah menjadi kepala pengawal Neon). Melihat semuanya bekerja kecuali dirinya membuat Kurapika tidak nyaman.
Terlebih lagi, dia entah kenapa tidak terlalu suka melihat Kuroro sakit seperti itu. Apa yang kupikirkan ? Aku seharusnya senang...musuh bebuyutanku sedang sakit. Meskipun Kurapika berusaha memberi tau dirinya sendiri akan hal itu, hatinya sama sekali tidak merasa senang.
~~Neko Kurapika~~
Bintang-bintang dan bulan telah bersinar di langit. Genei Ryodan memutuskan untuk menginap disana. Kebanyakan dari mereka tidur di ruang tamu Kuroro sementara Machi dan Shalnark tetap tinggal dikamar Kuroro untuk menjaganya.
"Hei, ngomong-ngomong Enbi kemana ?" Tanya Machi tiba-tiba. Ia baru sadar kalau anggota Genei Ryodan #4 tidak hadir. Padahal biasanya dia yang paling nempel sama Kuroro. Yah...meskipun Machi cukup senang dia tidak ada.
"Kau tidak tau ?" Tanya Shalnark dengan suara pelan, takut untuk mengganggu Danchou mereka yang sedang tidur, "Enbi menelepon beberapa hari yang lalu. Ia berkata kalau ada urusan penting yang harus diurusnya. Jadi untuk sementara ini dia tidak akan mengikuti kegiatan Genei Ryodan dulu."
Machi mengangguk sambil menggumamkan 'Semoga dia tidak kembali lagi...' dengan pelan. Shalnark hanya nyengir kuda mendengar gumam-an Machi. Perempuan dengan kesinisan mereka terhadap satu sama lain... dia akan tidak pernah mengerti mereka.
"Hei, aku masih bingung soal penculik kemarin." Gumam Machi lagi.
"Pikirkan saja mereka besok." Jawab Shalnark dengan mata tertutup.
"Kau apakan mereka setelah itu, Shalnark ?" Tanya Machi.
"Tidak ada. Aku hanya mengambil handphone mereka dan mencoba 'Boss' mereka, tapi seperti yang mereka bilang, dia tidak bisa dihubungi. Setelah itu aku meninggalkan mereka digedung itu." Jawab Shalnark.
Machi menghela napas, "Merepotkan saja. Membawa Nekora sampai sejauh itu."
Shalnark hanya mengangkat bahu. "Lebih baik kita tidur. Aku rasa Danchou akan membaik besok." Usul Shalnark. Machi mengangguk lagi. Kemudian memejamkan matanya.
~~Neko Kurapika~~
Keesokan harinya. Keadaan Kuroro membaik. Dia sudah siuman namun masih sedikit lemas. "Sudahlah Danchou. Kau istirahat saja." Ujar Machi.
"Apa racunnya separah itu ?" Tanya Feitan pada Machi. "Tidak terlalu parah sih, Cuma Danchou membiarkannya semalaman jadinya semakin parah." Jawab Machi.
"Lagipula cuacanya dingin sekali disini, padahal masih musim gugur." Sambung Shizuku, "Aku kira musim dingin bulan Desember nanti."
"Sekarang inikan sudah masuk bulan Desember." Timpal Phinxs, "Musim gugur sudah lewat seminggu yang lalu."
Shalnark membuka tirai jendela dan merengut, "Tapi salju belum turun."
"Mungkin sebentar lagi." Timpal Feitan.
"Hey, apa kalian ada yang melihat Nekora ?" Tanya Kuroro.
Hening...
"Uh..um...terakhir kali aku melihatnya dia berada di perpustakaan." Ujar Feitan dengan pelan.
Kuroro segera bangkit dan berjalan keluar, diikuti oleh anggota Genei Ryodan yang lainnya. Kuroro membuka pintu perpustakaan dan mendapati Nekora sedang tertidur diatas sofa, tapi keadaannya tidak terlihat terlalu baik. Kuroro berjalan ke arah Nekora dan mengangkatnya.
"Dia panas sekali." Ujar Kuroro pada Machi yang baru saja sampai.
"Eh ? Dia sakit juga ?" Tanya Shalnark tak percaya.
"Wah...disini dingin sekali." Kata Shizuku sambil menyapu ruangan itu dengan matanya, "Tidak ada pemanasnya sih."
"Mungkin kucing itu sakit karena dia tidur ditempat dingin seperti ini." Timpal Phinxs.
"Tidak mungkin." Bantah Kuroro, "Pertahanan tubuhnya tidak selemah itu. Memangnya kalian tidak ingat, dia kan sering ikut bersama kita dalam misi, dan suhunya lebih parah daripada ini tapi dia baik-baik saja."
"Ini hanya dugaanku sih..." Gumam Machi, "Tapi selama 2 hari Danchou sakit, apa ada yang memberinya makan ?"
Hening...
"Sudah kududa." Machi menghela napas, "Pantas saja..."
To Be Continued
.
.
Nekoranya sakit ? Gimana ya ?
.
.
'Till Next Chapter
A/N : Waaah! Akhirnya selesai juga. Semoga cukup memuaskan untuk Minna-san semua. Btw, dibagian Kurapika tau kalau Kuroro-nya sakit itu udah saya buat beberapa bulan yang lalu (Makanya bahasanya gak baku gitu). Jadi gaya tulisannya beda. Saya sengaja enggak merubah isinya buat minta pendapat Readers. Readers lebih suka gaya tulis yang mana ? Yang lama atau yang baru ?
Okeh, saatnya bales review!
Orb90 : Makasih udah review! Kurapika join Genei Ryodan ? (Kurapika : Gue gak mau!) Kayaknya Kurapikanya gak mau deh...
Lavender shappires chan : Shappires-chan review lagi! Arigatou ne! Sarannya bakalan saya pertimbangkan, makasih ya!
Syarah Miu : Serius nih ? Ceritanya lucu ? Arigatooouuu! Review lagi yah ? *puppy eyes*
Moku-Chan : Eh! Jangan sembarang tuduh lhoo *grin*. Gak akan lama nunggu kok, karena fic ini udah setengah jalan. Saya rencananya akan menamatkan fic ini dalam 10 chapter XD. Makasih udah review!
Tochiotome-chan : *High-five tochiotome-chan* Wah..saya ketemu Vocaloid-ters juga rupanya :D . Di Evillous Chronicles nama iblis yang berhubungan dengan setiap 'dosa' dijadikan nama kerajaan tempat 'dosa' tersebut terjadi. Contohnya 'Lucifernia' atau 'Elpegort'.
Makoto : *bayangin anak2 Kurapika-Kuroro* *pingsan* XD
Tsu : Makasih review-nya! Ini udah update, tapi gak kilat XD.
Azura Al-Rin : Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali *ditendang*. Hehehe,,,saya juga paling suka bagian itu XD, menyiksa Kuroro memang paling enak *Ditendang sama Kuroro*. Saya udah kepikiran buat Kuroro jadi frustasi karena suka sama kucing, tapi saya lebih memilih Kuroro suka sama 'Kurapika' daripada suka sama 'Nekora', jadinya gak jadi deh -_-. Makasih udah review!
Nana-chuu : Makasih udah review! Maaf udah bikin nunggu lama :D. Pasti dong, namanya juga Nekora, kalau gak heboh bukan Nekora namanya XD.
DevilUjoshi : Makasih udah review! Hontou ni ? Saya seneng ada yang menganggap ini lucu (Soalnya saya takut banget kalau humornya garing). Nekora manja sama Kuroro ? Beres! Saya usahakan ada di chapter depan. You just wait...
Unyu-chan : Cepet update ? Umm...mungkin kalau saya gak malas saya akan cepet update XD. Makasih udah review!
Red'Ocean : Makasih udah review lagi! Ngeliat hubungan Kuroro sama Kurapika pas jadi manusia lagi ? Umm...entah kenapa saya gak bisa membayangkannya...
Uzumaki Naa-chan : Makasih udah review! Kalau saya beneran bikin endingnya Nekora mati karena bom atom jangan nangis ya... XD
Yuiko : (Hime : *nyikut Kuroro* kamu disuruh selamatin Nekora tuh..pergi sana! *ngusir* ; Kuroro : Berisik lu thor...)
Ketrin'Shirouki : Makasih udah review! Bagusan uangnya buat saya aja deh... *maling uang Kuroro*
Mikyo : Arigatou udah review lagi! Apalagi udah bilang fic ini keren sama menghibur :D
Kyu-ru.25 : Makasih udah review! Salam kenal juga!
Regine Moccha Leonarista : Saya memang gak terlalu pinter buat menjaga chara gak OOC (_ _) Gomen! Zaoldyeck-family itu fav saya XD apalagi Killua, Alluka, atau Kalluto, jadi saya gak mungkin buat anggota keluarga mereka jahat (Kecuali dari 3 orang itu, mungkin saya buat jahat). Makasih udah review!
Evil Red Thorn : Makasih udah review! Saya kayaknya akan buat happy end, tapi masih kepikiran juga untuk buat ending gantung (Lho, kok ?)
