A/N : Minna-san, Ogenki desukaaaaaa ? ^O^
Buat minna-san yang udah review, ARIGATOU GOZAIMASU! Saya seneng banget banyak yang suka dengan cerita ini. Balasa review ada dibawah :D . Gomen ne~~ karena updatenya lama, saya ada kepikiran ide cerita baru yang rencananya akan saya post begitu NK siap, jadinya saya malah sibuk nulis cerita itu deh *Plak*. Eniwei, judul ceritanya 'Ghost Phantom'. Saya tau judul ceritanya sama sekali gak nyambung dan gak relevan, secara udah 'ghost' pake 'phantom' lagi. Cuma saya suka aja :v
Selama membaca~~
Neko Kurapika
.
.
Disclaimer : Hunter x Hunter © Yashihiro Togashi
.
.
Author : Nemurase Hime
.
.
Warning : OOC, OC, Typo(s), dll.
.
.
Chapter 6 : Pieces of Puzzle
"The pieces has gathered..."
"Kaa-san ? Otou-san ? Pairo ?"
Mimpi itu lagi. Mimpi yang selalu sama. Mimpi yang menghantuinya di malam-malam dingin menusuk tulang, dimana tidak seorang pun yang bisa menjadi peringan penderitannya. Aneh sekali. Dia tau ini semua hanyalah mimpi, tapi kenapa badannya tidak bisa berhenti bergetar ?
Panas bukan kata yang tepat untuk menggambarkan situasi Kurapika sekarang. Badannya seperti terbakar. Rasanya dia seperti terjemur di terik matahari ditengah-tengah musim panas yang benar-benar panas. Tapi anehnya, dia sama sekali tidak bisa melihat matahari itu. Bahkan dia sama sekali tidak bisa melihat cahayanya, sebaliknya, tempatnya sekarang terasa gelap. Gelap dan panas.
"Dimana kalian ? apa yang terjadi ?"
Aku tidak bisa melihat apapun. Mungkin kalau Kurapika bisa membuka matanya, situasi bisa membaik. Dia hanya harus membuka matanya. Tapi kelopak matanya seperti ditahan oleh besi yang beratnya ratusan ton.
"Buka matamu..."
Siapa ?
~~Neko Kurapika~~
"Dia tidak mau membuka matanya." Gumam Kuroro Lucifer sambil memeriksa suhu tubuh kucingnya yang tidak normal.
"Mungkin lebih baik dibawa ke dokter." Usul Machi. Dokter terdengar seperti penyelamat sekarang ini. Genei Ryodan biasanya tidak memerlukan dokter, tapi mereka tidak bisa mengatasi kucing blonde yang ekspresi wajahnya seperti sedang meregang nyawa.
"Akan kupanggilkan dokternya." Kata Machi lagi ketika dia sadar Kuroro tidak akan menjawabnya. Dia berjalan menjauh untuk menelepon. Mungkin lebih baik setelah ini Machi membawa anggota Genei Ryodan yang lain pergi. Danchou perlu istirahat dan kucing itu juga perlu istirahat. Mungkin sebaiknya mereka tidak mengganggunya.
Sementara Machi menelepon dokter hewan, Kuroro yang masih berada ditempat tidur masih memperhatikan kucingnya yang kelihatannya tersiksa sekali. "Buka matamu..."
Tapi Kurapika tidak membukanya.
Bahkan hingga matahari terbenam dan rembulan bersinar dengan terangnya. Genei Ryodan sudah pergi beberapa jam yang lalu, mereka mengatakan sesuatu tentang 'urusan' yang sama sekali tidak didengar Kuroro. Sekarang kamar yang tadinya terang terkena sinar matahari sudah gelap gulita, Kuroro dengan malas menghidupkan lampu kamarnya yang tadi mati dan menutup jendela. Entah kenapa rasanya sepi sekali.
"Meeeoww..."
Secepat kilat, Kuroro sudah kembali lagi ke sisi tempat tidurnya. Apa memang Cuma perasaannya atau tadi kucingnya baru saja bersuara ? Kuroro menyentuh puncak kepala kucingnya dan mengelusnya sambil melihat reaksi yang didapatkannya.
Kurapika membuka matanya. Mata biru kucing blonde itu langsung bertemu dengan mata onyx Kuroro. Kelopak matanya menutupi sebagian dari mata Kurapika, tapi Kuroro masih bisa melihat kalau kucingnya masih kelelahan. Itu bisa diketahui dari matanya yang tidak fokus. Biasanya mata biru kucing itu selalu fokus dan tajam.
Kuroro mengambil botol susu yang ada dimeja samping dan menyodorkannya pada Kurapika, tapi kucing itu menutup mulutnya rapat-rapat. Kuroro mencoba sekali lagi, tapi reaksi yang didapatkannya tetap sama. "Kau sudah seharian tidak makan." Bisik Kuroro, "Kau harus makan."
Kuroro menyodorkan botolnya sekali lagi dan membuka mulut Kurapika dengan jarinya, tapi begitu susu-nya masuk ketenggorokan Kurapika, ia langsung memuntahkannya lagi. Mata Kurapika semakin tidak fokus dan kelopak matanya perlahan-lahan menutup.
Kuroro menekan rasa panik yang mulai muncul didalam dirinya, ia membasahi jari telunjuknya dengan susu Kurapika dan memasukkan tangannya ke dalam mulut Kurapika, memaksanya untuk meminum susu hangat itu. Mulanya Kurapika masih tidak mau, tapi lama kelamaan kucing itu mulai menghisap jari Kuroro yang berlumuran susu.
Kuroro memberikan susu pada Kurapika dengan jarinya beberapa kali lagi sebelum menggantinya dengan botol. Kurapika meminumnya.
Kucing itu baru tidak mau minum lagi setelah dia menghabiskan 3 botol susu nya.
Kuroro menghela napas lega dan menekan lagi perasaan bersyukur yang sedikit berlebihan dalam dirinya. Yang benar saja, yang barusan diselamatkannya hanya kucing.
~~Neko Kurapika~~
Ketika pagi datang, Kuroro dengan tenang meninggalkan kamarnya dan berjalan ke perpustakaan di mansion-nya. Kucingnya sudah kelihatan lebih baik semalam, lagipula dia sudah menghabiskan jatah makannya untuk 2 hari. Kucing itu akan sembuh ketika dia bangun.
Sambil membuka pintu perpustakaannya, dia meletakkan kopi yang dibuatnya barusan di atas meja dan memilih buku untuk dibacanya hari ini. Shalnark sudah meneleponnya dan menanyakan kabar kucingnya. Kuroro merasa agak aneh karena anak buahnya itu menelepon hanya untuk menanyakan kabar kucing, tapi Kuroro menjawab kalau Nekora baik-baik saja dan akan segera sembuh. Anehnya Shalnark terdengar lega dan menutup teleponnya setelah mengatakan dia akan mampir sore nanti bersama Machi dan Nobunaga.
Mengesampingkan pikirannya, Kuroro berusaha fokus pada buku yang dibacanya meskipun sebagian dirinya merasa ada yang kurang. Kucing blonde miliknya memang bukan kucing manja, tapi kalau Kuroro ada dirumah kucing itu selalu berada disampingnya. Misalnya saat dia berada di perpustakaan seperti ini, kucing itu biasanya meloncat ke bahunya dan ikut melihat buku yang dibacanya.
Saat itulah, pintu kecil (Pintu untuk hewan peliharaan yang dibuat dengan melubangi bagian bawah pintu dan menutupinya dengan kain, saya gak tau itu namanya apa, jadi namanya disini 'pintu kecil') yang menghubungka ruang tamu dengan ruang perpustakaan ini membuka dan menampakkan Nekora yang melompat masuk dan segera berlari ke arah Kuroro.
Tadinya Kuroro mengira kucing itu akan naik kebahunya yang merupakan tempat favourite Nekora. Kuroro menduga kucing itu suka tempat itu karena itu adalah tempat tertinggi dimana ia bisa melihat semuanya dengan jelas, kucing itu pernah mencoba naik ke atas kepalanya sekali, tapi dia terpleset dan Kuroro terpaksa menangkapnya. Kuroro ingat jelas bahwa kucing blonde itu merengut seharian dan dengan sengaja menumpahkan sake kepangkuan Nobunaga yang Kuroro duga hanya untuk melampiaskan kekeselannya.
Tapi Nekora bukannya melompat kebahunya, kucing itu malah melompat kepangkuan Kuroro dan meringkuk disana. Ekornya bergoyang-goyang dengan malas dan tak lama kemudian dia mendengkur sambil menggesekkan pipinya ke celana Kuroro, seolah sedang mencari kehangatan dari kulit yang berada dibaliknya.
Kuroro terdiam menatap Nekora untuk beberapa detik. Biasanya kucing ini disentuh saja langsung menggeram dan kalau Kuroro mau mengelusnya dia harus menunggu kucing itu cukup lelah agar Nekora tidak mencakar tangannya atau menggigit jarinya. Tapi sekarang kucing yang sama baru saja datang kepadanya, melompat kepangkuannya dan tidur disana, seolah hal itu adalah hal biasa yang dilakukannya. Sejak kapan kucingnya jadi manja ?
Kuroro menempelkan telapak tangannya ke dahi Nekora dan dia merasakan suhu badannya masih panas, tidak normal untuk ukuran kucing. Artinya Nekora masih sakit. Sepertinya itu menjelaskan kelakukan anehnya.
Kuroro menatap kucingnya yang sudah tertidur lelap dipangkuannya.
Yah...kesempatan seperti ini mungkin adalah kesempatan sekali seumur hidup, mengingat bagaimana garangnya kucing blonde itu. Sambil menahan tawanya, Kuroro mengambil jaketnya yang tergantung dilegan sofa dan menyelimuti kucingnya, ia mengelus puncak kepala Nekora dan membalik halaman buku yang dibacanya dengan sebelah tangannya.
~~NK~~
Kurapika tidak pernah merasa senyaman ini dalam beberapa tahun terakhir hidupnya. Dia terbangun diatas tempat tidur yang benar-benar nyaman dan lembut. Bukan berarti tempat tidurnya tidak nyaman, hanya saja tempat tidur ini terasa lebih tebal dan ukurannya lebih besar. Kurapika samar-samar merasakan kalau dia tau ini tempat tidur siapa, tapi dia langsung menyingkirkan pikiran itu karena terlalu malas untuk berpikir saat dia bangun dengan perasaan senyaman ini.
Sambil berusaha mengumpulkan tenaganya, dia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi sebelum dia tertidur. Kurapika samar-samar mengingat lantai dapur yang dinginnya serasa menusuk tulang, ia ingat kalau pandangannya terasa kabur dan seluruh badannya terasa lemas karena kekurangan energi, ia ingat menggunakan energi terakhirnya untuk pergi ke perpustakaan dan membawa dirinya sendiri kesofa yang ada diruangan itu, berusaha mencari kehangatan yang tidak ditemukannya. Dia ingat kalau detik-detik terakhir sebelum dia tertidur adalah melihat mata onyix seseorang...
Seseorang yang rasanya tidak begitu asing.
Ingatan-ingatan lain mulai memasuki otaknya sekaligus dan perlu waktu beberapa menit baginya untuk mulai mencerna apa yang masuk ke otaknya. Adegan-adegan yang berputar dikepalanya seperti film menunjukkan dengan samar mata onyix yang sama sedang menatapnya dengan khawatir, meskipun tidak terlalu ketara. Lidahnya mulai mengingatkannya kembali rasa manis susu dan jari dingin seseorang memasuki mulutnya.
Ketika Kurapika merasa tenaganya telah terkumpul, dia memaksa badannya untuk bangun dan berjalan keluar kamar tidur yang hangat ini mengikuti bau yang tidak asing yang masih tersisa diudara disekitarnya, yang memenuhi tempat tidur dan seluruh ruangan ini.
Menit-menit berikutnya terasa kabur bagi Kurapika dan dia tiba-tiba menemukan dirinya menginjakkan kaki dilantai berkarpet yang dingin, aroma khas buku memenuhi ruangan itu dan Kurapika menemukan pria bermata onyx sedang duduk disofa dimana dia tertidur kemarin. Kurapika memaksa kakinya untuk berjalan dan melompat kepangkuan pria itu, suhu tubuh yang sedikit lebih dingin dari kebanyakan manusia normal seperti menyambut kulitnya dan Kurapika menemukan dirinya mulai tertidur lagi meskipun suhu disekitarnya dingin. Hal terakhir yang diingat Kurapika sebelum jatuh dalam kegelapan sepenuhnya adalah seseorang menyelimuti dirinya dan mengelus puncak kepalanya.
~~Neko Kurapika~~
Kurapika bangun karena merasa ada sesuatu yang menimpa punggungnya. Dia membuka dan berusaha membuat badannya terangkat, tapi sesuatu yang berada dipunggungnya menahan gerakan Kurapika.
"Kau bangun ?"
Kurapika tersentak kaget dan segera menoleh, dia melihat wajah Kuroro berada beberapa inchi dari wajahnya. 'Sesuatu' yang berada dipunggungnya itu ternyata tangan Kuroro. Barulah sesaat kemudian dia sadar bahwa selama ini Kurapika berada dipangkuan Kuroro. Dengan menjerit—atau mengeong—Kurapika melompat turun dan mendesis ke arah Kuroro.
Kuroro—dengan cuek—mengangkat bahunya, "Hei, jangan salahkan aku. Kau yang memintaku untuk memangkumu." Kata Kuroro. Kurapika berusaha berdiri dan baru menyadari kalau ada jaket Kuroro yang menyelimutinya. Dia menyelimutiku ? Pikir Kurapika dalam hati sambil menahan blushing yang mengancam akan mewarnai seluruh wajahnya. Meskipun sebenarnya kucing tidak bisa blushing. Dia mengabaikan kenyataan yang nampaknya kecil dan tak penting itu. Kurapika memberinya pandangan 'aku-tidak-percaya-padamu-kau-pasti-bohong' terbaiknya. Kuroro lagi-lagi mengangkat bahunya dengan cuek, "Ya sudah kalau tidak percaya." Kemudian dia menyeringai licik, "Tapi bukan aku lho yang datang kesini dan minta dielus."
Kurapika menatap Kuroro dengan pandangan horror. Masa' sih dia yang datang kesini ? Minta dielus pula ? Tiba-tiba Kuroro memegang dagu Kurapika dan menutup mulutnya, ternyata selama ini Kurapika sedang nganga. "Nanti masuk lalat." Kata Kuroro. Kurapika Cuma melototi Kuroro dengan deathglare-nya. Tapi dia masih tidak percaya dengan perkataan Kuroro, seorang Kurapika Kuruta seperti itu ? Dia melihat-lihat kesekeliling ruangan dan menyadari bahwa mereka ada diperpustakaan. Tiba-tiba sepotong memori terlintas dikepalanya dan diputar ulang bak flashback film. Pertama, Kurapika melihat Kuroro dan merasakan ada sesuatu dimulutnya, rasanya manis tapi teksturnya lumayan keras dan perlu beberapa detik untuk membuatnya sadar kalau yang dimulutnya itu jari Kuroro. Kedua, Kurapika melihat ruang tamu dan merasakan dirinya berjalan, dia masuk lewat pintu kecil dan kemudian melihat Kuroro, lalu dia melompat kepangkuan Kuroro dan...dan...
Oh.
Oh.
Oh.
Ini mengerikan...Pikir Kurapika dalam hati. Yang dikatakan Kuroro benar dan Kurapika ingin menghantam kepalanya kedinding berulang-ulang atau mungkin membiarkan dirinya ditelan bumi. Yang mana saja terdengar seperti ide yang bagus asalkan dia pergi dari sini! Kurapika menatap dinding dan berpikir, mungkin kalau dia menghantam kepalanya kedinding cukup kuat dia akan hilang ingatan. Dan bisakah siapa saja tolong katakan padanya bahwa Kurapika tidak menjilat jari kuroro!
Oh tuhan...kenapa tidak kau bunuh saja aku ? Pikir Kurapika dengan putus asa. Mungkin daripada membunuh dirinya sendiri, lebih baik dia membunuh Kuroro. Ya, itu terdengar seperti ide bagus. Dia bisa memutilasinya jadi beberapa bagian dan menyimpan matanya didalam stoples kaca. Lagipula, Kuroro memiliki mata yang indah yang seakan bisa menghipnotis dan lagi warnanya juga mena—APA YANG KUPIKIRKAN!?
Rasanya Kurapika perlu memecahkan beberapa piring. Yah, memecahkan piring memang bukan ide terbaiknya tapi dia ingin membuat Kuroro repot. Kurapika teringat kalau Kuroro sudah mengganti piring kacanya dengan piring sampai sekarang masih heran kenapa Kuroro belum mengusirnya, dia pikir Kuroro akan langsung melemparnya keluar setelah kejadian pet shop kemarin dimana dia membakar setengah gedungnya. Kurapika mendengus kesal mengingat kejadian itu, kebakaran itu sama sekali bukan salahnya! Siapa suruh mereka meletakkan kabel disembarang tempat!?
Tapi intinya, Kuroro pasti punya kesabaran seorang dewa kalau masih bisa tahan dengannya. Kurapika melirik vas kaca yang berada disudut ruangan, mungkin dia bisa memecahkannya dan melihat reaksi Kuroro. Hitung-hitung sebagai pembalasan karena Kuroro meletakkan susunya dirak yang tinggi sehingga Kurapika tidak bisa makan selama Kuroro sakit, dan bisa-bisanya Genei Ryodan lupa padanya!? Yah...dia memang hanya kucing sih... Tapi bukan berarti Kurapika memaafkan mereka.
Kurapika menjerit tertahan (ala kucing) ketika Kuroro mengangkatnya dan membawanya keluar ruangan. Kurapika ingin meronta tapi terlalu malas untuk melakukannya. Untuk apa ? Toh nanti Kuroro juga yang menang. Mereka menelusuri ruang tamu yang bersih dan rapi, kalau dipikir-pikir, ruangan di rumah Kuroro tidak pernah kotor atau berantakan. Apa dia punya semacam nen curian yang bisa menjaga rumah tetap bersih ? Tapi Kurapika berkesimpulan bahwa Kuroro hanya mempunyai banyak waktu untuk membereskan rumahnya, lagipula dia tinggal sendiri, memangnya kekacauan seperti apa yang bisa disebabkan oleh seorang pria ? Lagipula sebenarnya Kurapika yang lebih banyak mengacau daripada Kuroro. Perlu diingat bahwa dia adalah kucing. Kuroro membawa Kurapika keluar dari rumah menuju arah pusat Kota Yorkshin, Kurapika ingin bertanya tapi dia sibuk mengecek arlojinya. Kalau dipikir-pikir lagi, Kuroro berpakaian rapi dengan kemeja putih bersih tanpa noda dan celana panjang kain berwarna hitam, dia juga memakai perban dikeningnya dan sedang berjalan melewati pemandangan yang familiar dengannya.
Siapa yang ingin ditemui Kuroro ?
Tapi yang mengganggu Kurapika adalah pemandangan disekelilingnya. Mereka memang sedang melewati Kota YorkShin yang ditinggalinya, tapi jalanan yang dilalui Kuroro terlalu familiar. Trotoar yang rusak diseberang jalan terlalu familiar. Bahkan toko-toko dan bibi penjual bunga yang sedang tersenyum menawarkan bunganya terlalu familiar. Terlalu familiar sampai menekankan rasa ngeri diperutnya. Rasanya seseorang sedang mengeluarkan isi perutnya perlahan-lahan. Dia tau kemana Kuroro menuju dan siapa yang akan ditemuinya. Kuroro ingin melompat turun dan lari, dia sendiri tidak tau kenapa, tapi gedung yang pelan-pelan muncul didepan matanya serasa bagaikan monster yang hendak melahapnya. Tulisan dibatu marmer yang dipahat dengan sangat indah seperti meludahinya.
Nostrade Services Company
-YorkShin City-
Didepan Kurapika kini berdiri gedung setinggi 112 lantai yang merupakan kantor pusat Nostrade. Tempatnya bekerja dulu, ketika masih menjadi manusia. Didepan Kurapika ada dua pelayan yang membungkuk dalam-dalam dan berbicara basa-basi dengan Kuroro.
Tuan Nostrade sudah menunggu... Kata pelayan itu, dan kata-kata itu mengiang dengan kosong dikepala Kurapika. Mari saya antarkan, Tuan Lucifer... Kuroro membiarkan pelayan Nostrade itu menuntunnya, menaiki lantai teratas dan Kurapika duduk diam ditempatnya tanpa tau harus berbuat apa. Kenapa ? Kenapa Kuroro membawanya kesini ? Jika dia akan bertemu Tuan Nostrade, seharusnya dia tidak membawa seekor kucing, tapi kenapa...
Pintu berwarna coklat gelap dari kayu mahoni terbuka dan menampakkan sosok Nostarde. Kurapika terlalu terkejut hingga sel-sel otaknya berhenti berpikir untuk sesaat. Kebingungannya terganti dengan rasa kasihan.
Ditengah-tengah ruangan yang begitu besar dan dicat putih tanpa ada noda didindingnya dan satu dinding yang terbuat dari kaca antipeluru setebal 15cm yang menampakkan pemandangan YorkShin yang indah, dihiasi dengan dua sofa panjang dan dua sofa kecil serta meja kerja disudut ruangan, Light Nostrade duduk disofa panjangnya dengan setelan kerjanya yang biasa, namun wajahnya sepucat mayat dan dibawah matanya ada kantung hitam. Dia duduk sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menutupi ekspresi horror yang seperti terpahat digaris-garis wajahnya. Kurapika tidak bisa mendeskripsikan betapa menyedihkan keadaan tuannya saat ini. Bahkan jas mahal dan ruangan indah ini tidak bisa menutupi keadaannya. Dia tetap tampak seperti anjing yang selama ini dimanja dan tiba-tiba seluruh kenyamanannya diambil paksa. Meninggalkannya hancur dan ketakutan.
Kuroro duduk diseberang Nostrade dengan ekspresi datarnya. Kalau Kurapika berada diposisinya sekarang, dia pasti juga akan menunjukkan ekspresi datarnya, tidak ada yang lebih tepat didunia yang kejam ini selain tidak menunjukkan perasaan sedikit pun. Tapi saat ini dia ingin tau apa yang terjadi, tentang apa yang membuat tuannya menjadi pria menyedihkan yang mengais dikaki Kuroro. Karena jelas, hanya setahun yang lalu Nostrade bersama godfather berusaha memusnahkan Kuroro, kini Kuroro diundang kesini dan diperlakukan layaknya tamu. Sesuatu telah tejadi. Tanpa sepengetahuan Kurapika.
"Maafkan aku karena sedikit terlambat." Ujar Kuroro memecah keheningan diruangan yang hanya ada mereka berdua dan Kurapika tidak dihitung. Itu hanya basa-basi, Kuroro datang tepat waktu. "Aku juga minta maaf karena membawa dia," Kuroro menepuk kepala Kurapika pelan dan mengelusnya, Kurapika hanya diam ditempat sambil memperhatikan reaksi Nostrade, "Tapi tidak ada yang menjaganya."
Nostrade hanya mengangkat kepalanya dan menatap Kuroro. Sama sekali tidak memperdulikan Kurapika. Kini pertanyaan Kurapika yang tadi terjawab. Selain karena memang tidak ada yang menjaga Kurapika (Biasanya Kurapika juga tidak ada yang menjaga, tapi Kuroro terlalu khawatir Kurapika akan jatuh sakit lagi kalau ditinggal sendirian), Kuroro membawanya karena Nostrade tidak bisa protes, Kuroro bisa saja 3 jam terlambat dan datang dengan pakaian compang-camping dan Nostrade masih akan menyambutnya dengan hormat. Kurapika mematikan dengan kejam sebagian dirinya yang mengatakan, meskipun Kuroro punya kekuasaan untuk memperlakukan Nostrade dengan seenaknya, dia masih datang tepat dan waktu dan pakaian sepantasnya, serta dengan sikap sopan yang seharusnya. Perasaan seperti itu tidak diperlukan olehnya, dia hanya perlu dengan percakapan mereka sekarang.
"Itu bukan masalah." Jawab Nostrade dengan suara ramah yang gagal. Dia terdengar seperti seekor kucing yang sekarat. "Aku sangat bersyukur kau mau datang," kalimat ini diucapkan dengan jujur, Nostrade menatap Kuroro dengan tatapan memelas, "aku tau aku bersikap buruk padamu, tapi aku mohon bantu aku menemukan putriku. Aku sudah mengerahkan seluruh pengawalku untuk mencarinya, tapi mereka tidak dapat menemukannya. Putriku menghilang tanpa jejak, kumohon bantu aku menemukannya."
Kurapika merasa membeku ditempat. Neon menghilang ? Tapi ternyata Nostrade belum selesai bicara, "Dan jika kau tidak keberatan, tolong temukan kepala pengawalku, Kurapika, juga." Nostrade berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir didepan Kuroro dan Kurapika. "Bisa kau ceritakan apa yang kau tau ?" Tanya Kuroro masih dengan ekspresi datar yang sama. Kurapika duduk dipangkuannya sesantai mungkin, ia ingin terlihat biasa saja, meskipun sepertinya kedua orang yang seruangan dengannya tidak memperhatikan dirinya sama sekali.
"Mereka berdua sama-sama menghilang tanpa jejak. Tapi Kurapika menghilang duluan Waktu itu dia sedang mengambil cuti 3 hari, dia pergi ke rumah teman-temannya, setauku dia sudah kembali ke mansion-ku pada malamnya, tapi besoknya ketika dia harus bekerja, dia tidak ada dikamarnya. Aku pikir dia hanya terlalu lama bersenang-senang, jadi kuminta pelayanku untuk menjemput Kurapika, tapi dia tidak ada dirumah teman-temannya dan menurut kesaksian teman-temannya, dia sudah pergi dari malam terakhir hari cutinya untuk kembali ke mansion-ku." Jelas Nostrade. Kuroro mencerna informasi itu dengan seksama.
"Jadi, dengan kata lain... Kepala Pengawalmu, Kurapika, pergi dari rumah teman-temannya pada malam terakhir hari cutinya untuk kembali ke mansion-mu dan kau juga sudah mendengar dia pulang, tapi ketika dia seharusnya bekerja esok paginya, dia tidak ada." Kuroro menyimpulkan dan Nostrade mengangguk. "Aku menyuruh pengawalku yang lain untuk mencarinya tapi dia tidak ditemukan." Nostrade masih mondar-mandir dengan gelisah didepan Kuroro, "Kira-kira 4-5 hari setelah itu, Neon ikut menghilang."
Kurapika bagaimana ekspresi horror tidak mau meninggalkan wajah Nostrade. Dia tau kenapa Nostrade begitu hancur dengan menghilangnya Neon dan dirinya. Selama ini, setelah Kuroro mencuri nen Neon, Nostrade diancam kebangkrutan karena dia tidak bisa menjual kemampuan putrinya lagi. Kurapika yang menjadi kepala pengawal saat itu, menyarankan agar mereka menutupi menghilangnya kemampuan Neon, lalu memberi klien-klien Nostrade ramalan palsu yang dirancang sedemikian rupa dengan perkiraan politik dan segala macam untuk membimbing klien-klien Nostrade ke jalan yang Nostrade inginkan (atau mungkin yang Kurapika inginkan, karena dia yang mengatur semuanya). Mereka memperkirakan gerakan apa yang akan dilakukan klien Nostrade setelah membaca ramalan palsu tersebut, memasang jebakan dan menghancurkan mereka satu-persatu. Pada akhirnya, perusahaan-perusahaan kecil atau sebanding dengan perusahaan Nostrade jatuh satu persatu atau bergabung dengan Nostrade Company, dalam waktu singkat Nostrade mengalami kemajuan pesat dan Kurapika langsung mendapat kenaikan pangkat. Keberhasilan Kurapika dalam waktu singkat ini terbukti dengan beberapa pasang scarlet eyes yang berhasil dikumpulkannya, yang notabene harganya triliunan.
Tanpa Kurapika ataupun Neon, Nostrade kebingungan atas apa yang harus dilakukannya. Kenyataan sederhana ini pelan-pelan meresap ke otak Kurapika, kini dia mengerti apa penyebab keadaan Nostrade sekarang ini, yang dimengertinya adalah, kenapa Neon menghilang ?
Kalau memang Neon menghilang dengan cara yang serupa dengan Kurapika, mungkinkah pelakunya sama ? Mungkinkah disuatu tempat, Neon juga menjadi kucing atau mungkin hewan lain ? Ketika Kurapika sibuk dengan lamunannya, Nostrade tiba-tiba sudah berada didepannya, dia memegang kedua tangan Kuroro sebagai gestur memohon. "Kumohon bantu aku menemukan kedua orang itu, aku akan membayar berapapun-"
Sisa kalimat Nostrade menjadi latar belakang ketika Kurapika melihat wajah Kuroro, pria itu sedang tersenyum, seperti seekor predator yang mendapatkan mangsanya. Kurapika merinding dan senyuman dingin itu menusuk sampai ketulangnya. "Aku mengerti. Aku akan mencari mereka berdua."
Nostrade mengucapkan beribu terima kasih pada Kuroro dan Kuroro menjawab sesopan mungkin, kemudian pergi meninggalkan ruangan dan berjalan kembali ke rumahnya. Ketika mereka berdua sampai di rumah Kuroro, Shalnark, Machi, dan Nobunaga sudah duduk disofa diruang tamu, menunggunya.
"Hei, Danchou." Kata Shalnark dengan sikap cerianya yang biasa, dia melirik Kurapika, "Kucingmu sehat ?"
Kuroro tidak menjawab, hanya meletakkan Kurapika dilantai dan duduk disofa ruang tamu diantara anggota Genei Ryodan. Kurapika memutuskan untuk meloncat kepangkuan Kuroro dan mengabaikan kenyataan bahwa dia bersikap sangat manja, manja dengan Kuroro! Sebagian dari dirinya mengucapkan kata itu seperti terkutuk, tapi dia sendiri merasa terkutuk. Mungkin lebih baik dia mengabaikan perasaan-perasaan anehnya dan fokus pada masalah didepan mata.
"Bagaimana pertemuan Danchou dengan Nostrade ?" Tanya Machi pada Kuroro, Kuroro-nya sendiri sedang menatap kosong kedepan sambil mengelus kepala Kurapika. "Berjalan seperti yang kuperkirakan. Pria itu hancur tanpa kekuatan putrinya." Dia memejamkan matanya dan menggeleng pelan, "Sangat disayangkan putrinya mempunyai ayah seperti itu, padahal aku cukup menyukai Neon."
"Danchou menerima permintaannya ?" Tanya Machi dan Kuroro mengangguk.
Nobunaga menghela napas berat dari sudut ruangan, dia sedang duduk ala samurai, kaki menyilang dan pedang disandarkan kebahunya. "Jadi sekarang kita mencari keberadaan pengguna-rantai itu." Kata Nobunaga yang lebih mirip pernyataan daripada pertanyaan. Machi yang berada disamping Nobunaga merengut, "Kita tidak mencari keberadaan pengguna-rantai, kita mencari keberadaan putri Nostrade."
"Sama saja, kan ? Yang membuat mereka menghilang adalah orang yang sama." Jawab Nobunaga tidak kalah merengutnya dengan Machi.
"Mereka memang menghilang dengan cara yang sama, tapi belum ada bukti yang menyatakan bahwa mereka dihilangkan oleh orang yang sama." Tukas Machi.
"Sudahlah, belum tentu mereka dihilangkan oleh orang yang sama meskipun cara menghilang mereka mirip. Lagipula bagaimana kita bisa tau kalau yang membuat pengguna-rantai dan putri Nostrade menghilang adalah orang." Timpal Shalnark sambil mengangkat kedua tangannya sebagai gestur damai. Sedihnya, dia sama sekali tidak dihiraukan oleh kedua orang itu.
Nobunaga mendengus dan menatap Kuroro, "Aku punya pertanyaan. Kenapa Danchou mau menerima permintaan Nostrade untuk mencari putrinya ? Tidak ada yang menarik dari mencari gadis manja itu," tiga pasang mata terfokus ke Kuroro, "ini sama sekali tidak seperti Danchou."
Kuroro yang menjadi pusat perhatian ketiga orang itu hanya menyandarkan diri lebih jauh di sofanya, "Aku hanya penasaran." Jawab Kuroro dengan nada datar.
"Penasaran ? Penasaran tentang apa ?" Desak Machi dan tiba-tiba udara diruangan itu menjadi lebih berat. Kuroro mengelus pucak kepala Kurapika yang saat ini sudah tertidur lagi karena terlalu lama dielus. Meskipun tiga pasang mata masih terfokus padanya, Kuroro masih tidak mau menjawab. Nobunaga menggeser posisi duduknya, dia tidak lagi bersandar pada sofa.
"Begini saja," katanya sambil menggenggam erat pedangnya, "Misalnya, hanya Misalnya ya... orang yang bertanggung jawab atas menghilangnya Putri Nostrade dan pengguna rantai adalah orang yang sama, dan kita berhasil menemukan orang itu juga pengguna rantai serta putri Nostrade." Nobunaga memberi jeda pada kalimatnya sebentar, membiarkan kata-katanya dicerna oleh rekan-rekannya.
"Kalau kita berhasil menemukan pengguna rantai dan Putri Nostrade, kita akan mengembalikan Putri Nostrade pada Nostrade." Jeda lagi, "dan membunuh pengguna rantai, ya kan, Danchou ?"
Keheningan merambat dengan secepat virus diruangan itu, tidak ada yang berbicara tapi mereka semua terfokus pada Kuroro. Kuroro yang merasakan tatapan ketiga anggotanya mengangkat Nekora dan meletakkannya disampingnya, membiarkannya tertidur dengan nyaman. "Aku belum tau." Ujar Kuroro dengan volume yang lebih pelan dari biasanya. Ketika kalimat Kuroro berhasil tercerna, mata mereka berkilat marah, terutama Machi dan Nobunaga.
"'Belum tau' ?" Nobunaga memekik sambil menekankan setiap kata yang diucapkannya. Dia berdiri dan berteriak, "Bagaimana bisa Danchou belum tau ? ini begitu mudah, ketika kita menemukan pengguna rantai sialan itu, kita hanya perlu membunuhnya!"
Shalnark ikut berdiri dan menarik lengan Nobunaga, "Tenanglah, Nobu. Kita mencari putri Nostrade, bukan pengguna rantai. Orang yang bertanggung jawab atas menghilangnya mereka berdua belum tentu orang yang sama." Dia meletakkan sebelah tangannya di bahu Nobunaga sebagai usaha putus asa untuk menenangkannya. Tapi naas baginya karena Machi juga ikut-ikutan berdiri dan dia sama marahnya dengan Nobunaga.
"Akui saja!" Teriak Machi dengan marah, tangannya dikepal dikedua sisi tubuhnya, "Danchou menerima permintaan Nostrade karena Danchou ingin mencari pengguna rantai, kan ? Mencari putri Nostrade hanya kamuflase agar Danchou bisa mencari pengguna rantai, kan ? Dan Danchou tidak ingin membunuhnya!" Machi menarik napas marah dan berteriak lagi, "Kalau begitu apa yang ingin Danchou lakukan pada pengguna rantai ? Apa Danchou hanya akan diam saja sementara dia mungkin menyusun rencana untuk menyerang Genei Ryodan !? Kita harus membunuhnya! Danchou benar-benar bersikap aneh!"
Kuroro duduk ditempatnya tidak bergerak meskipun diteriaki oleh anggotanya, sementara mereka berdua sedang menatap Kuroro dengan marah dan Shalnark nampaknya tidak nyaman dengan kedua rekannya yang sedang marah kepada pemimpinnya. Tiga pasang mata yang sama tidak pernah hilang fokus dari Kuroro yang menatap dengan hampa ke depan.
"Aku ingin sendiri. Pergilah. Aku akan memberi tau kalian kalau aku sudah memikirkan sesuatu." Ujar Kuroro dengan nada yang tenang, seakan dia tidak sedikit pun terganggu. Machi dan Nobunaga jelas tidak puas dengan jawaban Kuroro tapi mereka berdua berbalik dan pergi dengan marah, Shalnark tetap tinggal diruang tamu, memperhatikan dengan diam ketika kedua rekannya membanting pintu ruang tamu.
"Danchou..." panggil Shalnark dengan nada yang meminta penjelasan.
Kuroro memejamkan matanya dan menghela napas pelan. "Aku tidak ingin bicara apa-apa. Susul saja Machi dan Nobunaga."
Tapi Shalnark malah duduk dan kelihatannya tidak berniat untuk pergi. "Apa ada sesuatu tentang pengguna rantai yang membuat Danchou ragu untuk membunuhnya ?" Tanya Shalnark tapi Kuroro tidak menjawabnya. "Mereka berdua ingin kematian pengguna rantai, semua anggota Genei Ryodan ingin pengguna rantai, kenapa Danchou ragu untuk membunuhnya ?" Shalnark bertanya lagi dan keheningan yang sama masih menjawabnya. Setelah beberapa saat, dia menghela napas dan berdiri, "Machi benar. Danchou bersikap aneh. Aku harap Danchou sudah membuat keputusan ketika kita menemukan putri Nostrade dan pengguna rantai."
Shalnark melirik Kurapika yang masih tidur disebelah Kuroro, "Hal yang bagus Nekora-chan tidak bangun karena keributan tadi." Kata Shalnark berusaha membuat Kuroro berbicara. "Dia baru sembuh dari sakit." Jawab Kuroro sambil meletakkan tangannya dipuncak kepala Kurapika dan mengelusnya lagi.
Kuroro mengalihkan pandangannya ke Shalnark, "Aku terakhir kali melihat Neon di pameran permata baru-baru ini." Kata Kuroro tiba-tiba. "Bisakah kau memberikkanku daftar tamu yang hadir disana ?" Shalnark hanya menatap Danchou-nya untuk beberapa saat sebelum mengangguk dan berjalan keluar. Suara pintu yang ditutup terdengar beberapa saat kemudian. Kuroro menghela napas sekali lagi ketika mereka semua akhirnya pergi. Keheningan di ruang tamunya seperti mencekam dan dia tidak bisa berpikir dengan jernih tentang masalah pengguna rantai ini. Semua anggotanya menginginkan pengguna-rantai untuk mati, tapi Kuroro sebenarnya...
Handphone Kuroro bergetar tiba-tiba diiringi dengan musik melengking tanda panggilan masuk. Dengan setengah hati Kuroro membaca nama pemanggilnya kemudian mengangkat teleponnya.
"Kuroro~~" pekik seorang wanita diseberang sambungan.
"Enbi...aku sudah lama tidak mendengar kabarmu. Dimana kau sekarang ?" Tanya Kuroro berusaha terdengar seperti biasa dan melupakan semua pertengkerannya dengan Machi, Shalnark, dan Nobunaga.'
"Aku berada di kantor pusat informasi Hunter. Tapi itu bukan masalah sekarang. Apa kau sedang mencari putri Nostrade ?"
"Darimana kau tau ?" Tanya Kuroro dengan terkejut.
"Tentu saja aku tau, Kuroro-kun~~ Nostrade pada awalnya memintaku untuk mencari putrinya, tapi kukatakan bahwa aku sudah bergabung dengan Genei Ryodan dan lebih baik kalau dia menghubungimu saja sekalian."
"Begitu..."
"Kau menerima tawarannya kan ?"
"Kau bisa bilang begitu."
"Yah, mencari anak manja memang bukan tantangan yang terlalu besar. Tapi bayarannya sepadan, bukan ?"
"Aku tidak terlalu tertarik dengan uang Nostrade."
"Aaa~~ orang sepertimu memang susah untuk ditarik perhatiannya, bukan ?"
"Langsung ke inti pembicaraan saja, Enbi."
"Dasar tidak sabaran." Enbi mendengus dengan kesal, "Ada seseorang yang mungkin berhubungan dengan menghilangnya putri Nostrade."
Kuroro mendengarkan dengan seksama dan Enbi entah kenapa tiba-tiba cekikikan.
"Aku berhasil mendapat perhatianmu, kan ? Baiklah~~ dia seorang pengguna Nen specialis yang mengendalikan dimensi. Mungkin untuk motif tertentu, dia ingin menghilangkan putri Nostrade. Tapi kalau putri Nostrade benar-benar menghilang tanpa sebab, bisa saja kalau orang itu melemparkannya ke salah satu dimensi yang dikendalikannya."
"Siapa dia ?"
"Seorang Hunter. Kenalanku dulu... aku akan mengirimkan informasinya padamu. Selamat bersenang-senang~~"
Kuroro menautkan alisnya, "Tunggu. Kau tidak ikut ?"
"Urusanku belum selesai. Ada beberapa gangguan yang harus kuurus. Urusan pribadi. Tapi tidak lama, aku akan kembali secepatnya karena sepertinya kau sudah merindukanku~~"
Kuroro menahan diri untuk menghela napas, "Kirim saja informasinya dan aku akan menghubungimu lagi."
"Baiklah~~"
Dan sambungan telepon terputus. Kuroro menghempaskan diri ke sofa dan melempar handphone nya ke sofa diseberangnya. Handphone itu mendarat dengan mulus dan sedikit membal ketika mengenai permukaan sofa yang empuk. Suara dengkuran halus membuatnya menoleh kesamping dan dia mendapati kucing blonde-nya masih tidur dengan pulas, sama sekali tidak terganggu dengan semua keributan tadi. Dia bertanya-tanya apakah ini hal yang bagus atau tidak...
Kuroro menatap kosong ke arah handphone-nya yang tergeletak tak bernyawa diatas sofa. Besok dia akan mengunjungi seseorang yang menurut Enbi berhubungan dengan Neon. Siapa pun dia, Kuroro merasa tidak begitu bersemangat untuk menemuinya.
To Be Continued
.
.
Kuroro tidak mau membunuh Kurapika ? Dan apa hubungan Neon yang menghilangdengan Kurapika ? Apa mereka benar-benar dihilangkan oleh orang yang sama ? Kalau begitu, mungkinkah disuatu tempat Neon juga menjadi seekor hewan ?
.
.
'Till Next Chapter
A/N : Wheew...akhirnya selesai ^^V. Gomen karena buat readers lama nunggu, tapi saya ujian jadi harus belajar. Saya tau kalau chapter ini mungkin membosankan bagi para readers, saya benar-benar minta maaf m(_ _)m , tapi cerita di chapter ini hanya cerita penghubung ke ceita berikutnya. Jadinya saya agak bingung juga untuk nulis apa supaya jadinya gak ngebosenin, saya jadi mentok dan mampet selama berbulan-bulan -_-. Gomen ya kalau memang ngebosenin, tapi chapter depan saya rencananya akan masukin angts, semoga saya bisa bikin readers pada nangis semua. Bwahahahaha! *tawa nista*.
By the way, saya mau curcol bentar, apa Cuma saya disini yang tanpa sengaja sering nulis ketika jadi ketiak ? Saya jadi ill-feel sama diri sendiri, apalagi gara-gara itu saya jadi kehilangan selera nulis-_-.
Dan lagi, karena ini saya sudah siap ujian saya jadi punya banyak waktu untuk nulis, jadi mungkin update-nya akan lebih cepat. Tapi itu kalau inspirasinya jalan yah ^^V. Buat readers yang masih sekolah dan baru siap ujian saya do'a in nilainya bagus deh~~Amin.
Sekarang saatnya balas revieeew~~~~
Evil Red Thorn : Terima kasih sudah mau mereview lagi. Ini udah dilanjutin, semoga tidak terlalu mengecewakan.
Moku-Chan : Arigatou atas reviewnya. Kok Kuroro sama Kurapika sakit malah seneng sih ? Entar di pelototin sama Kuroro&Kurapika lho...saya gak tanggung jawab.
Tsukihana-chan : Pasti saya balas dong review pertamamu! Saya terlalu amatir untuk berlagak sebagai penulis sombong. Reviewnya gak nista kok, setiap review saya hargai bagaikan segunung emas *lebay*. Ini update, maaf agak mengecewakan.
Azura Al-Rin : Arigatou atas reviewnya! Nekora kan kucing ajaib, jadi mereka udah terbiasa liat sesuatu yang ajaib dari Nekora *dicakar sama Nekora*. Ini udah dilanjut, gomen ya kalau jelek.
Tochiotome-chan : Arigatou atas reviewnya! Masa' ? Aku kira nama tempatnya Enbizaka XD . Silahkan ambil HP-nya, palingan entar Kuroro beli baru~~
Kurotori Rei : Arigatou atas reviewnya! Aaa, kenapa jadi silent reader !? Kalau lebih banyak review kan saya lebih cemungut updatenya. Ini udah dilanjutkan, semoga tidak mengecewakan ya~~
1 : Arigatou atas reviewnya! Saya rencanakan ffn ini sampai 10 chapter. Kalau soal Kurapika jadi manusia dan suka sama Kuroro, itu masih rahasia perusahaan sampai waktu yang ditentukan~~~ XD
HiNa devilujoshi : Thanks reviewnya. Emang kayaknya lebih seru sih, tapi saya gak bisa memikirkan bagaimana caranya seekor kucing merawat manusia. Gomeen yaaaa!
Hendrik Widyawati : Terima kasih atas reviewnya! Di manga dan anime, Kurapika itu gendernya cowok. Tapi saya bukan penggemar berat yaoi dan gak terlalu pandai bikin konflik sesama gender, jadi saya memutuskan untuk membuat Kurapika jadi cewek untuk mempersimple fanfic ini.
Lavender Sapphires-Chan : Arigatou reviewnya! Makasih atas sarannya. Saya pribadi sebenarnya lebih seneng dengan tulisan yang baku, tapi rasanya agak canggung jadinya agak bingung juga mau make yang mana ^^V. Semoga chapter ini tidak terlalu mengecewakan.
Kyu-ru 25 : Makasih atas review dan masukannya! Saya benar-benar menghargai review dan masukannya. Saya Cuma terganggu dengan tulisan baku saya karena saya rasa agak canggung, tapi syukur deh kalau reader dan Kyu-san enggak merasa begitu.
XxX : Terima kasih reviewnya! Dan terima kasih juga ats pujiannya! Maaf gak bisa update kilat dan chapter ini sepertinya mengecewakan, tapi saya akan berusaha lebih baik di chapter depan!
Yuiko : Thank you atas reviewnya! Tu anggota Ryodan emang bener-bener gak bertanggung jawab! *mencak-mencak* . Ini udah dilanjut, semoga gak mengecewakan...
Nana-chuu : Arigatou atas reviewnya! Maaf ya buat nana-chan menanti terlalu lama *lebay mode : ikutan on*. Perasaan Neko-chan emang selalu labil karena Kuroro~~ *sigh*
XxX : Terima kasih atas reviewnya lagi! Mungkin karena saya terlalu lama update makanya direview dua kali, gomen yaaa TT_TT. Kalau sama saya mah gak laku percikan-percikan, bakar aja langsung sekalian. Bwahahahahah! *tawa nista*, semoga chapter ini tidak mengecewakan. Enjoy~~
Flow Love : Makasih atas reviewnya! Wah...gomen sebesar-besarnya, tapi disini Kurapika cewek, saya gak terlalu ahli untuk membuat yaoi atau hal-hal sejenisnya. Gomenasai...
Red'Ocean : Thank atas reviewnya dan masukannya! Sebenarnya bagian tengah itu bukan coba-coba, tapi itu ide yang gak kepake saat baru-baru nulis NK. Memang gaya tulisan saya banyak berubah semenjak nulis NK. Semoga chapter ini enggak mengecewakan dan enggak terlalu lebay, enjoy~~
Unyu-Chan : Arigatou atas reviewnya! Ini udah di update, mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau ada chapter ini mengecewakan!
Hikari Syarahmia : Terima kasih atas review dan masukannya! Bagian fav saya emang pas Kurapika ngebakar salonnya, entah kenapa ide itu tiba-tiba muncul di otak saya ^^V
Aoki Mikuru : Terima kasih atas reviewnya! Gak apa-apa deh asal tetep review. Kuroro memang khawatir banget dichapter ini, semoga dinikmatin ya melihat Kuroro tersiksa~~ *dibunuh Kuroro* *tewas*
Amethra : Arigatou atas reviewnya. Ini udah update, enjoy yah~~
Zhonghui Kuran : Terima kasih atas reviewnya! Ini udah dilanjut, enjoy ya, semoga gak mengecewakan...
Lazuardi Loo : Arigatou atas reviewnya! Hehe, Kuroro kan super, makanya bisa ngerti bahasa kucing. Atau mungkin mereka punya semacam ikatan batin gitu~~ *dilempar sama Kurapika*
xX-Kirika-Xx : Thanks reviewnya. Ini udah update, gomen ya lama...
wakanakasetsu : Thanks reviewnya! *nangkepin pesona* ini udah dilanjut, happy reading~~
asarina : Aaa, arigatou atas reviewnya! Ini udah dilanjut, happy reading yah~~~
Oke, sampai disini dulu ya...
Review, ne ?
