Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Family, Romance, Hurt/Comfort
Warning : TYPO bertebaran, OOC, dan masih banyak lagi
Pairing : Sasuke and Sakura
.
.
.
.
.
.
Setelah pertemuan dengan sang ayah. Naruto membawa mereka pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Ichigo, menjadi pribadi yang pendiam. Tidak seperti biasanya yang selalu berisik diantara saudara-saudaranya. Naruto berusaha untuk mencairkan suasana diantara 3 anak itu yang sempat tegang, ia berusaha memberikan lelucon atau candaan untuk mereka bertiga. Tapi tetap saja hasilnya nihil, mereka tidak memberikan respon apapun.
Tidak lama, mereka sampai di depan rumah mereka. Dengan cepat, Ichigo berlari menuju rumah itu.
"Naruto-jii, bantu aku." Kata Ichigo yang sulit membuka gagang pintu rumah tersebut.
"Oke tunggu," jawab Naruto sambil berjalan mendekat kearah pintu tersebut. Setelah pintu terbuka, Ichigo mendorongnya hingga terbuka lebar dan kemudia bergegas menuju kedalam rumah tersebut disusul Ryuusei, Daisuke, Kuon dan terakhir adalah dirinya.
"Kaa-san! Kaa-san!" panggil Ichigo.
Mendengar suara buah hatinya, Sakura bergegas turun dari lantai atas untuk menghampiri putra bungsunya. Sakura tersenyum pada sang anak, tetapi itu hanyalah senyum palsu yang diberikannya dan Naruto mengetahui itu. Matanya tampak agak bengkak seperti habis menangis.
"Aku menyayangimu Kaa-san." Ujar Ichigo sambil memeluk erat-erat sang ibu.
"Kenapa denganmu sayang?" balas Sakura sambil berlutut untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh anak bungsunya dan menangkupkan kedua pipi chubbynya.
"Kaa-san, Tou-san sudah kembali!" kata Ichigo dengan muka polos dan tersenyum riang.
Sakura menunduk dalam, menatap kosong lantai dibawahnya. Dengan mata yang terpejam sesaat, ia kembali menatap polos wajah putra bungsunya dan tersenyum pedih. "Aku tahu, kau sudah bertemu dengannya?"
Ichigo mengangguk dengan semangat.
"Tapi tadi Tou-san sedang lelah," timpal Daisuke.
"Tidak! Dia tidak menyukai kita sama sekali." sanggah Ryuusei dengan nada suara yang menyiratkan kemarahan. Ia menyilangkan tangannya di depan dadanya, dan bersandar pada pintu utama rumah tersebut. Benar-benar mirip sekali dengan Uchiha Sasuke, ayahnya dan Ryuusei adalah versi miniaturnya.
"Ryu, ajaklah saudaramu dan Kuon bermain dihalaman belakang ya, kaa-san ingin bicara berdua dengan paman Naruto." Kata Sakura memerintahkan putra sulungnya.
"Hn." Balasnya singkat.
"Tapi kaa-san, aku ingin susu." Ucap Ichigo dengan muka cemberut.
"Aku juga, aku juga." Timpal Daisuke.
"Tunggu sebentar, kaa-san buatkan untuk kalian." Jawab Sakura seraya mencubit pipi anaknya gemas.
"Horeeeeeeee." Ucap mereka berdua serempak.
Sakura hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua anaknya yang menjadi penghibur bagi dirinya. Mereka adalah anugerah yang ia miliki yang diberikan kami-sama untuknya.
.
.
.
.
"Apa yang ia katakan Naruto?" tanya Sakura setelah selesai membuatkan susu untuk anaknya.
"Ia mengatakan…." Jeda Naruto sejenak, ia tak ingin menyakiti perasaan Sakura.
"Katakan saja Naruto," ucap Sakura, terdengar dari nada suaranya menahan amarah dan tidak sabaran.
"Sasuke bilang, mereka tidak ada hubungan dengan dirinya." Jawab Naruto dengan suara yang sangat pelan dengan muka yang tertunduk menatap karpet beludru berwarna merah dibawahnya.
"Sama seperti yang ku fikirkan." Kata Sakura dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipi mulusnya. Dengan mata terpejam, ia menarik nafas kuat-kuat, tak ingin terlihat lemah didepan anak-anaknya. Ia harus terlihat kuat.
Keadaan sempat hening sesaat. Tidak ada yang membuka percakapan diantara keduanya.
"Sakura-chan, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Naruto membuka percakapan yang sejak tadi hening.
"Aku akan menghadapinya dan bertemu dengannya." jawab Sakura tegas.
"APA?! Untuk apa kau lakukan itu Sakura-chan? Ia tidak peduli pada mereka sedikitpun." Timpal Naruto dengan sedikit berteriak.
"Naruto, aku harus bertemu dengannya. Ini demi anak-anak, demi masa depan mereka." Kata Sakura.
"Ia tak peduli sedikitpun pada mereka, Sakura. Ia tidak menginginkan kehadiran mereka. Siapa tahu, ia menyakitimu ketika kau bertemu dengannya. Tolong, jangan pergi kesana Sakura-chan." Ucap Naruto dengan nada memohon.
Sakura menarik nafas dalam, dan menghembuskannya secara perlahan-lahan. "Aku tidak bisa Naruto, aku tidak peduli jika Sasuke menyakiti diriku. Aku melakukan ini demi anak anak ku. Meskipun aku harus mengemis padanya."
"Itu tidak perlu Sakura-chan, kau dan anak-anak dalam kondisi baik tanpa dirinya selama tiga tahun terakhir hingga sekarang." Kata Naruto berusaha meyakinkan Sakura.
"Maaf Naruto, aku tidak bisa. Ini sangat penting bagi anak-anak ku." Jawab Sakura tegas.
"Aku harus melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anak ku Naruto, sebagai seorang ibu, aku harus bisa membahagiakan mereka." Tambahnya dan menatap tajam kearah mata biru Naruto.
"Baiklah Sakura-chan. Aku akan mendukungmu. Jika Sasuke berbuat macam-macam padamu, bilang saja padaku." Kata Naruto dengan senyum rubah andalannya. Ia sudah menyerah sekarang untuk membujuk Sakura. Sejak dulu, Sakura termasuk tipe orang yang keras kepala. Tak ada gunanya membujuk dirinya dengan kondisi seperti ini.
.
.
.
.
Pagi hari di Mansion Uchiha.
Tok Tok Tok
Sasuke membuka pintu depan rumahnya, ia menatap tajam wanita berambut merah muda yang menjadi rekan setimnya dulu.
Dengan menghela nafas sekali lagi, ia berusaha menatap tajam kearah mata hilam milik pemuda berambut raven tersebut. "Sasuke."
Bibir Sakura bergetar menahan rasa gugup. Rasa amarah, benci, kesal dan sedikit takut bercampur didalam benaknya. Matanya menatap kosong pemuda dihadapannya. Lidahnya terasa kelu untuk berbicara sepatah katapun.
"Apa yang kau inginkan Sakura?" tanya Sasuke tajam.
"A-aaa-ku…" ucapnya terbata-bata. Mata teduhnya terus memperhatikan penampilannya dari atas kepala hingga ujung kaki. Ia tidak melihat perubahan banyak pada pemuda itu. Masih tetap dengan wajah tampannya, rambut raven dengan model bak bokong ayam, dan tubuh kekarnya yang terlihat sempurna.
"Kau membuang-buang waktuku saja." Geram Sasuke kesal.
Sakura menyadari Sasuke akan menutup pintunya. Dengan gerak cepat, Sakura berusaha menahan pintu tersebut dengan tubuh mungilnya.
"Tunggu Sasuke, kita perlu bicara."
"Katakan saja, jangan membuang-buang waktuku." Ujarnya dingin.
"Bisakah kita berbicara tentang masalah ini di tempat lain? Karena aku tak ingin membahasnya dengan posisi berdiri seperti ini. Aku yakin bahwa kau sudah tahu apa yang akan aku bahas denganmu itu bukan masalah yang bisa diselesaikan dalam dua atau tiga menit." Jawab Sakura dengan nada tak kalah dinginnya.
"Aku tak peduli. Katakan saja sekarang, jangan membuang waktuku." Timpal Sasuke tajam.
Kata-katanya hampir membuat Sakura kehilangan amarahnya. Ia ingin berteriak dan memukulnya sekarang dan saat ini juga, tapi ia tidak bisa melakukannya. Ia harus lebih sabar jika ingin mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tahan dirimu Sakura! Ingat anak-anakmu!
"Baik." Jedanya sejenak. "Aku tak ingin membuang-buang waktumu lagi jadi aku akan mengatakan langsung pada pokok permasalahannya."
"Hn."
"Aku ingin kau memberikan nama keluargamu untuk anak-anak ku." Kata Sakura dengan tegas dan percaya diri meskipun hatinya berdebar keras oleh rasa takut.
"Tidak." jawabnya singkat, ada keraguan dalam suaranya.
Mata Sakura melebar, menatap mata onyx di depannya dengan tatapan dingin. Ini adalah perkataan yang paling ia takuti, penolakannya atas anak-anaknya sendiri.
"Mereka adalah anak-anakmu, aku tidak meminta kau untuk menjadi figur ayah bagi mereka atau untuk membayar hidup mereka! Aku hanya perlu nama keluargamu! Sebagai tanda di akte kelahiran mereka!" kata Sakura dengan berteriak.
"Aku tak peduli. Kaulah yang menempatkan diri dalam situasi ini, Sakura. Jadi kau yang berurusan dengan masalah itu." Ujarnya santai.
"Aku tak peduli dengan pendapatmu tentang diriku atau apa yang kau katakan padaku. Aku hanya perlu tanda itu! Semua warga Konoha , akan melihat anak-anak ku sebagai anak yang tidak diharapkan dan apa yang paling aku takuti adalah mulut mereka. Mereka akan mengejek anak-anak ku, aku bisa melindungi mereka dari orang tua yang mengejeknya tapi aku tidak bisa melindungi mereka dari anak-anak lain, dari teman-teman mereka. Anak-anak bisa menjadi begitu berarti satu sama lain. Jadi silahkan Sasuke .. " Sakura mengeluarkan perasaannya dengan putus asa dan air mata sudah membasahi sebagian wajahnya.
Sasuke menatapnya dalam diam sejenak sebelum ia terkekeh sinis.
"Ini salahmu sendiri Sakura. Kaulah yang bersedia menerima ide bodoh dari hokage gila itu. Dan kau melakukan itu tanpa izin dariku, aku bahkan tidak tahu bahwa mereka ada, kau ingat Sakura ?" kata Sasuke dengan tersenyum sinis.
"Silakan Sasuke. Aku dan anak-anak ku tidak akan mengganggumu lagi setelah kau memberikan nama keluargamu."ujar Sakura, tubuhnya gemetar menahan sakit.
"Aku tidak peduli pada permohonan memelasmu. Mengapa kau tidak meminta Hokage untuk membantumu? itu adalah ide gila setelah semua yang menempatkan dirimu dalam kondisi ini." Kata Sasuke dengan tertawa mengejek.
"Mereka adalah anak-anakmu juga Sasuke, mereka tidak tahu apa-apa dengan masalah ini." Pinta Sakura.
"Bagaimana aku tahu bahwa mereka adalah anak-ku? Aku tidak yakin dengan hal itu, bisa saja yang diambil adalah sperma milik Itachi." Tukas Sasuke tajam.
"Tidak Sasuke, itu bukan milik Itachi. Tsunade tidak pernah bertemu dengan Itachi. Mereka adalah anak-anakmu." Isaknya pelan.
"Pergilah Sakura," ujarnya sambil menatap datar wanita yang menangis dihadapannya. Ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk tidak meluapkan emosinya di hadapan wanita ini.
Sakura melakukan sesuatu yang menurutnya adalah hal yang tidak pernah ia lakukan. Ia berlutut didepan pemuda itu. Membuang jauh harga dirinya demi anak-anaknya. Dia akan melakukan apa saja demi anak-anaknya.
"Bangunlah, ini tidak akan merubah pendirianku." Ucap Sasuke tenang.
"Silahkan Sasuke, jika kau tidak percaya mereka anakmu, kita bisa melakukan tes darah untuk membuktikannya. Tolong Sasuke…." Ucap Sakura dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipi mulusnya.
Sasuke menatap tajam wanita dihadapannya. "Kau masih lemah dan tetap sebagai wanita pengganggu seperti dulu."
"Kau salah Sasuke! Aku tidak lemah, aku seperti ini hanya untuk anak-ku. Jika bukan karena anak-ku, aku tidak akan sudi memohon seperti ini." Balas Sakura tajam.
Sasuke kembali menatap tajam wanita dihadapannya. Seulas senyum tipis menghiasi wajah tampannya. Keheningan kembali melanda perbincangan diantara keduanya.
"Baiklah." Ujar Sasuke akhirnya.
Sakura sedikit lega dengan pernyataan Sasuke barusan, beban hatinya sedikit terangkat. Seulas senyum manis terpatri di wajahnya yang sembab akibat menangis. "Terimakasih Sasuke, besok temui aku di rumah sakit Konoha jam 10 pagi."
Sasuke mengangguk setuju dan berjalan masuk kedalam rumahnya lalu menutup pintu utama rumah tersebut.
.
.
.
.
"Kaa-san, kenapa kita kerumah sakit? Aku benci rumah sakit." Ujar Ichigo sambil menggembungkan pipinya kesal.
"Aku ingin kalian bertemu dengan seseorang disana." Jawab Sakura sambil memakaikan sepatu pada putra bungsunya.
"Siapa?" timpal Ryuu penasaran.
"Kau akan tahu nanti." Jawab Sakura seraya tersenyum tipis dan mengacak-ngacak rambut putra sulungnya gemas.
"Ayo kita pergi!" kata Daisuke dengan penuh semangat.
Sakura tersenyum melihat tingkah anak keduanya. Dengan penuh kasih sayang, ia menggandeng tangan mungil milik Ichigo ditangan kirinya dan Daisuke ditangan kanannya. Sedangkan Ryuu berjalan dibelakang mengikuti jejak sang ibu.
.
.
.
.
Tok Tok Tok
"Masuklah," ucap Tsunade dengan sedikit berteriak.
Terbukalah pintu tersebut, menampakkan 3 sosok anak kecil dan langsung berlari menghampiri hokage tersebut, kecuali sang sulung.
"Nenek Tsunade!" ucap mereka berdua dan langsung memeluk Tsunade dengan sayang.
Aksi peluk mereka harus terhenti karena seseorang datang dengan raut muka yang dingin dan tatapan matanya yang tajam.
"Sasuke." Kata Sakura sambil tersenyum.
"Jangan membuang waktu, cepat lakukan." Tukas Sasuke, mengabaikan sapaan pagi Sakura.
"Oke, kita bisa melakukan tes itu sekarang." Jawab Tsunade.
"Tou-san!" teriak Ichigo senang saat mendapati sosok ayahnya berada dalam ruangan hokage tersebut.
"Tou-san." Kata Daisuke dan mengikuti Ichigo. Sedangkan di lain pihak, Ryuu menatap sosok pemuda tersebut dengan tatapan penuh kebenciannya.
"Tou-san, Tou-san." Ichigo dan Daisuke teriak bersamaan dan berlari hendak memeluk sang ayah, tetapi buru-buru dicegah dengan sang ibu dan berhasil menghentikan langkah mereka.
"Sayang, ayahmu sedang tidak dalam kondisi yang baik hari ini. Jangan menganggunya ya?" ucap Sakura seraya tersenyum tipis.
Raut wajah kesedihan terpancar jelas di wajah keduanya. Mereka menunduk sedih dan beranjak menjauh mendekati sang kakak.
"Sasuke, aku akan mengambil sampel darah milikmu." Ucap Tsunade seraya mendekat kearah Sasuke dan mengambil beberapa tetes darah miliknya.
"Sekarang aku harus mengambil sampel milik anak-anak." Kata Tsunade dan diberi anggukan setuju oleh Sasuke.
"Ryuu, Daisuke, Ichigo kemari." Ucap Tsunade seraya mengambil beberapa tetes darah dari 3 anak kecil tersebut.
"Untuk apa ini?" tanya Ryuu tajam.
"Ini untuk percobaan saja kok," jawab Tsunade singkat.
"Pembohong!" balas Ryuu tajam. Sasuke segera menoleh kearah sumber suara, tatapan tajamnya terus ia layangkan pada lelaki tersebut dan dibalas tak kalah tajamnya dengan putra sulungnya.
"Ryuu, kau tidak boleh seperti itu nak," ucap Sakura tenang seraya menenangkan putranya yang sempat emosi.
Ryuu hanya mengangguk dan tatapan tajamnya masih ia layangkan pada sosok pemuda rambut raven tersebut, ya Sasuke Uchiha.
.
.
.
.
Tsunade membaca hasil tes tersebut. Matanya terus bergerak kekiri dan kekanan membaca hasil tersebut.
"Ini," ucap Tsunade seraya melemparkan gulungan kertas tersebut pada Sasuke.
Sasuke membuka gulungan kertas tersebut dan membacanya. Disitu tertuliskan bahwa 99% DNA mereka cocok satu sama lain. Dan itu menandakan bahwa dirinya adalah ayah biologis mereka.
"Memuaskan?" tanya Sakura dengan mengejek. Dan dijawab dengan dengusan kesal Sasuke.
"Hn. Aku akan memberikan marga keluargaku pada mereka dan menandatangani akte kelahiran mereka." Ucap Sasuke
Sedikit raut kelegaan terpancar dari wajah Sakura.
"Tapi dengan satu syarat," ucap Sasuke tenang.
"Tidak ada persyaratan apapun Sasuke! Kau hanya perlu memberikan nama keluargamu pada mereka. Tidak lebih dari itu!" balas Sakura dengan setengah berteriak, ia tidak ingin membangunkan Ichigo yang sedang tertidur pulas di pangkuannya.
"Aku tidak pernah menjanjikan apa-apa Sakura." Jawab Sasuke tenang.
Sakura menatap tajam pemuda dihadapannya. Dengan tarikan nafas berat sekali lagi, ia berusaha mendengarkan keinginan pemuda ini. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin mereka tinggal bersamaku di Mansion Uchiha. Tapi hanya mereka bertiga, tidak bersamamu Sakura." Kata Sasuke sambil menyeringai.
Sakura membelalakkan matanya terkejut. Ia tak tahu harus bagaimana jika tak ada anak-anak disisinya. "Tidak bisa Sasuke! Kau tidak bisa membawa mereka dariku. Aku ini ibu meeka, mereka membutuhkan ku."
"Kau dapat mengunjungi mereka sesekali Sakura atas izinku." Jawab Sasuke santai.
"Tidak."
"Aku tidak akan memberikan nama keluargaku jika kau tidak menyetujui syaratku. Aku lelah dan tidak ingin berdebat denganmu sekarang. Buatlah keputusan yang bijak Sakura, kirim mereka ke mansionku besok jika kau setuju dengan tawaranku besok." Ucap Sasuke dan berjalan keluar ruangan tersebut.
Sakura menggelengkan kepalanya lemah, air mata telah jatuh dari emerald teduhnya. Ia terisak sambil memeluk Ichigo yang tertidur di pangkuannya.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
Author Note :
Haaiiiiiiii ini chapter 2 nyaa :DD fiuuuh~ akhirnya bisa kuselesaikan jugaa :D #lurusinpunggung. Aaaa bagaimanaaa? Makin abal ya? Fufufu~ aku nyelesein ini dnegan buru-buru si, mengingat kondisi tugas yang menumpuk :(( jadi maafkan aku jika masih ada EYD atau typo bertebaran.
Reply Review :
Eunike Yuen : Terimakasih senpaiiii sarannyaaaaa^_^ aaaa masih belajar buat bikin fic yang lebih baik lagiiii terimakasiii :DD
Brown Cinnamon : tuh reaksi Sakura pas sasuke pulang #nunjukceritadiatas :DD hohoho
Meong nbuyung : ituuu pastiiiii :DD akan aku buat Ryuu menjadi sesuatu yang cetarrrrrr *loh? Hehe :DD
Kakaru SS : ini sudah updateeee :DD
Seiya Kenshin : iniii udah updateee :D
Lizzy park : sudaah lanjuttt :3
Wisnu Damayanti : aaaaa jadi blushing sendiri ngebayangin Sasuke begituan #blush Karin tinggal serumah sama sasuke? Uhmmm bakal ketebak chap depan kooook :DDD
Fiyui chan : mauuuu ayamnya dong #lah? Hohoh jangannn mending Sasuke buat akuuu ajaaaaaa ;3
Eonniisoo : haaa ini sudah update XD huaa ngeri ditodong peralatan tawurannnn XD
Allihyun : dishanaroo? Ini saskey udah ketemu Sakura koook. Mungkin acara shanaroonya diundur dulu yaa #lah? XD anaknya sasuke ngegemesiiiiiiiinnn :DD
Hanazonorin444 : ini sudah update XD
Luci Kuroshiro : aaa terimakasiiiiii :DD bakalan aku lanjutin koook :DD
Kirei15 : ini sudah update XD aaa jangan panggil aku senpaii, masih kelas 1 sma kok :DD
Chii no pinkcherry : hoho sasu kan emang gitu kok :DD ini sudah update XD
Yuna mikuzuki : mirip sama yang mana ya? Versi yang mana? Uhmm ini ide fic sendiri kok, jadi kalo sama mohon maaf, gada niat ngejiplakk sama sekalii :|
Sasusaku kira : huaaaaaaaaaa aku juga sedih sama Sakura :(( #nangis. Sasu jahat yaa? Aaaa nanti dia dapet balasan koook :DD aaaa terimakasih senpaiii :D
Guest : sudah lanjuttt :DD
Yama mori : ini sudah aku buat kok, semoga ga salah lagi yaT_T dengan keadaan my lappie yang sedikit error :(( maaf jika ada kesalahan teknis yaa, my lappie sedang rusak, aku paksain buat menulisss, biar ga ngecewain kaliannn :DD #kebanyakancurhat
Guest : ini tidak dihapus kok :DD sudah update :D
Yukina itou sephiienna kitami : sudaah update :D
Terimakasih semuanya yang berkenan memberi review :DD maaf jika terlambat update karena kondisi lappie yang rusak dan entah kapan benernya(?) :DD ini ff hanya ide isengku yang melintas, jika ada kesamaan atau apapun tolong bilang ya, biar aku bikin beda kedepannya :DD
Akhir kata,
Review? :D
Sign
.
.
Ananda Putri Hassbrina
160413
