Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Family, Romance, Hurt/Comfort
Warning : TYPO bertebaran, OOC, dan masih banyak lagi
Pairing : Sasuke and Sakura
.
.
.
.
.
.
"Kaa-san, mengapa kau tampak begitu sedih?" tanya Ichigo sambil menatap mata teduh ibunya.
"Tidak, Ichigo. Kaa-san tidak sedih," jawab Sakura sambil tersenyum palsu menutupi kebohongannya.
"Kaa-san, sakit?" Ichigo meletakkan tangan kecilnya di pipi kanan sang ibu dengan kasih sayang.
"Tidak, kaa-san baik-baik saja. Jangan khawatir sayang. Kalian bertiga harus pergi tidur sekarang. Ayo," ucap Sakura.
"Tapi, aku masih ingin menonton TV," balas Daisuke dengan muka tertunduk.
"Kita harus tidur sekarang," tukas Ryuu tajam.
"Kakakmu benar Daisuke. Atau kaa-san tidak akan membiarkanmu menonton TV lagi," Sakura memperingatkan anaknya main-main. Kadang-kadang ia bertanya-tanya bagaimana anak sulungnya bisa begitu tampak dewasa, ia tidak bertindak seperti anak-anak lain di usianya. "Ayo sayang, mari kita pergi ke atas."
Setelah ia membantu anak-anak dengan piyama mereka untuk tidur, ia kembali ke kamarnya. ia meletakkan tubuh mungilnya di atas kasur lembut miliknya. Tubuhnya terasa sakit tapi tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit jauh di dalam hatinya.
"Aku tidak ingin kehilangan mereka, tetapi bagaimana dengan masa depan mereka?" gumam Sakura lirih.
"Sasuke, kenapa kau lakukan ini padaku? Kau bilang kau tidak peduli pada mereka. Tapi, kenapa kau ingin mengambil mereka dariku?" gumamnya lagi. Mata teduhnya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong.
Pikirannya penuh dengan bebagai pertanyaan yang membingungkan. Dirinya juga memikirkan hidupnya tanpa kehadiran mereka. Ia mengingat bagaimana waktu ia merawat 3 anaknya dalam rahimnya selama 9 bulan penuh dengan kasih sayang. Ditambah dengan morning sickness, sakit punggung dan perubahan perasaan suasana hati. Tidak, ia tidak bisa hidup tanpa 3 buah hatinya. Mereka adalah sebagian dari dirinya. Seluruh jiwa dan kasih sayangnya ia tumpahkan pada anak-anaknya. Mengapa kehidupannya kali ini begitu berat dijalankan? ia benci Sasuke kali ini. Tetapi jauh di dalam hatinya, ia tidak bisa membenci Sasuke dalam hal ini. Semua juga salah dirinya, mengingat ia menerima tawaran rencana hokage tersebut. Mungkin saja ini tidak akan pernah terjadi jika ia menolak mentah-mentah tawaran hokage itu. Tapi takdir berkata lain. Ya, berkata lain.
Sakura menghela nafas berat yang entah keberapa kalinya. Ia harus membuat keputusan saat ini juga. Ruangan bernuansa serba merah muda dan putih itu sempat dilanda keheningan beberapa saat dari pemiliknya. Sakura sudah membulatkan tekadnya. Ia tidak akan memberikan anak-anaknya.
.
.
.
.
"Ayo anak-anak, kita ke taman desa," ucap Sakura dengan bersemangat senyum kecil terpatri di wajah cantiknya. Ia memandang tiga buah hatinya yang sedang meminum susu dengan lahapnya. Ryuu dan Daisuke sudah mulai menggunakan gelas untuk meminum susunya. Berbeda dengan Ichigo yang masih menggunakan botol.
"Yeaaaaay, kita akan bermain!" teriak Ichigo sambil melompat-lompat kegirangan.
"Apakah kami akan bermain dengan Kuon juga?" kata Daisuke sambil memandang sang ibu.
"Tentu saja sayang, kita akan bertemu bibi Hinata di taman," jawab Sakura sambil memasangkan jaket pada putra pertamanya, "Ayo anak-anak, apakah sudah siap?" tanya Sakura bersemangat.
"Aku siap!" teriak Ichigo.
"Siap!" ucap Daisuke.
"Hn," kata Ryuu sambil memutar mata bosan.
"Oke, mari kita pergi," teriak Sakura dengan bersemangat sambil menggandeng tangan mungil milik buah hatinya.
.
.
.
.
Sakura bertemu dengan Hinata yang sedang menunggu anaknya bermain ayunan di taman tersebut. Ia membiarkan tiga buah hatinya bermain disekitar taman tersebut. Dan dirinya duduk di bangku taman yang sudah disediakan tak terlalu jauh dari arena permainan taman itu. Ia bisa mengawasi kegiatan anaknya bermain.
Taman itu terlihat sesak karena banyak sekali anak-anak yang datang bersama ibu mereka atau dengan pengasuh mereka. Ichigo dan Daisuke sibuk dengan istana pasir buatan mereka. Sedangkan sang kakak duduk disamping mereka untuk mengawasi kedua adiknya beserta Kuon yang sedang bermain.
"Tou-san akan membuatkan pesta ulang tahun bagiku," ucap Kuon sambil bermain pasir di tangannya.
"Benarkah? Menyenangkan sekali. Aku ingin pesta ulang tahun juga," jawab Ichigo senang.
"Kau tidak bisa merayakan pesta ulang tahun!" kata dua anak laki-laki berusia 6 tahun yang tiba-tiba menghampiri mereka dengan raut wajah sinis.
"Memangnya kenapa?" tanya Daisuke bingung.
"Kau tidak memiliki ayah. Anak-anak yang tidak memiliki ayah tidak boleh merayakan pesta ulang tahun," jawab salah satu anak laki-laki berambut coklat dengan nada suara mengejek.
"Kami punya ayah!" teriak Ichigo. Ia berdiri di hadapan dua anak laki-laki tersebut dengan kedua tangannya di pinggang.
"Oh ya? Siapa ayahmu?" tanya anak laki-laki itu sambil mengejeknya.
"Eh? Uhmm siapa ya? Ryuu-nii, kau tahu siapa nama tou-san?" tanya Ichigo polos dengan raut wajah kebingungan.
Ryuu mengangkat bahu tidak tahu. Ia tidak ingin menyebutkan nama ayahnya.
"Uchiha Sasuke," teriak Daisuke lantang.
"Oh ya, ayahku adalah Uchiha Sasuke!" teriak Ichigo tak kalah kerasnya sambil menangis.
"HAHAHAHAHA," kedua anak laki-laki itu tertawa keras mendengar nama yang disebutkan oleh anak kecil itu, "Ayahmu adalah pengkhianat, dan aku adalah anak dari seorang pengkhianat!" kata anak laki-laki berambut perak sambil tertawa lebar.
"Ibuku pernah berkata padaku, kalau ibumu adalah orang yang menyebalkan. Dan banyak yang bilang bahwa ayahmu tidak menginginkan keberadaanmu," tambah anak laki-laki berambut cokelat sambil menyeringai lebar.
"Tidak mungkin, kau pasti berbohong!" teriak Ichigo sambil menangis. Ia tidak mengerti dengan perkataan banyak orang mengenai keluarganya. Tapi dirinya yakin bahwa yang dikatakan orang-orang adalah hal yang buruk.
"Anak pengkhianat, anak pengkhianat," ucap kedua anak laki-laki tersebut secara bersamaan sambil menjulurkan lidahnya mengejek.
Tubuh mungil Ichigo mulai bergetar hebat. Air mata telah jatuh membasahi pipi mulusnya. Ia menangis, "Tidak!" teriak Ichigo.
"Pergi kalian! Tinggalkan temanku sendiri. Pergi kalian!" teriak Kuon membela temannya. Ia mengulurkan kedua tangannya lebar untuk melindungi temannya.
"Minggir kau! Dasar cengeng!"
"Tinggalkan kami sendiri!" teriak Ryuu sambil menatap tajam kedua anak laki-laki dihadapannya.
"Aku tidak takut padamu bodoh," kata anak laki-laki berambut perak sambil mendorong tubuh Ryuu hingga terjatuh.
"Kau lihat mereka Hinata, ada apa dengan anak-anak?" pandangannya tetap terpaku pada buah hatinya. Ia samar-samar melihat anak bungsunya menangis. Rasa khawatir menyeruak dalam dirinya.
"Ayo Sakura, kita harus lihat keadaan mereka," ajak Hinata sambil menarik tangan mungil Sakura.
"Hei lihat! Ibu mereka datang kesini," bisik anak laki-laki berambut cokelat pada teman disampingnya.
"Ayo cepat, kita harus pergi," balas anak laki-laki berambut cokelat disebelahnya.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan 4 anak kecil yang masih terdiam memandangi mereka. Termasuk Ichigo yang masih menangis.
"Apa yang terjadi?" kata Sakura khawatir.
"Kaa-san," panggil Ichigo dan berlari memeluk sang ibu erat.
Sakura membalas pelukan sang anak dengan erat. Mengusap-usap punggung mungilnya agar anak bungsunya berhenti menangis. "Ryuu, apa yang terjadi?" tanya Sakura pada putra pertamanya.
"Kaa-san, aku ingin tou-san. Aku ingin bersama tou-san," lirih Ichigo sambil menangis.
Sakura menatap mata teduh milik anak bungsunya. Ia menghapus dengan lembut air mata anaknya dengan sayang. Senyum pahit terpatri di wajah cantiknya, "Sekarang jelaskan pada kaa-san apa yang terjadi,"
Ryuu, Daisuke dan Kuon bercerita panjang lebar tentang pertemuannya dengan dua anak laki-laki berusia enam tahun yang mendatangi mereka saat bermain istana pasir. Mereka datang lalu mengejek Ichigo hingga Ichigo menangis. Mereka berbicara tentang ayah Ichigo. Tanpa disadari mereka, raut wajah Sakura berubah menjadi terlihat sedih dibanding sebelumnya.
"Mari kita pulang Ryuu, Daisuke," panggil Sakura.
"Sakura…."
"Aku tidak apa-apa Hinata, jangan khawatir. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri. Terimakasih," jawab Sakura sambil tersenyum.
.
.
.
.
Perkataan sang anak terus terngiang dalam benaknya. Ia tak mau melihat sang anak yang terus menangisi ayahnya. Hatinya teriris perih bila melihat sang anak menangisi dan menanyakan ayahnya. Ada perasaan bersalah dibenaknya menyembunyikan keadaan yang sebenarnya pada mereka. Mereka adalah anak-anak yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa.
Malam itu juga, Sakura membulatkan tekadnya dan merubah semua rencananya.
.
.
.
.
"Apa yang kau inginkan Sakura?" tanya pemuda berambut raven malas.
"Apakah tawaran itu masih berlaku Sasuke?" tanya Sakura sambil menatap onyx tajam milik pemuda dihadapannya secara langsung.
Sasuke terkekeh kecil mendengar perkataan wanita dihadapannya, "Tentu saja. Dimana anak-anak?" tanyanya dingin.
"Mengapa kau ingin mengambil mereka dariku dan menyuruhnya untuk tinggal bersamamu? Bukankah kau bilang mereka tidak ada hubungannya denganmu?" tanya Sakura mengabaikan perkataan pemuda tersebut.
"Tidak ada. Mereka akan menggunakan nama 'Uchiha' di nama belakang mereka. Dan jika memakai nama itu, mereka harus tinggal di mansion ini. Di kompleks Uchiha," jawab Sasuke dingin.
"Tapi kau tidak tahu cara merawat anak dengan baik. Bagaimana kau bisa menangani 3 anak sekaligus?" tanya Sakura lagi.
"Itu bukan masalah buatku. Kau hanya perlu membawa mereka kepadaku sekarang juga atau aku akan berubah pikiran nanti," balas Sasuke sambil menyeringai lebar.
"Biarkan aku tinggal dirumahmu Sasuke. Jika aku tinggal dirumahmu, aku akan membantumu mengurus anak-anak," desak Sakura dengan nada memohon. Jauh di dalam hatinya, ia belum siap kehilangan mereka. Meskipun ia harus tinggal satu atap dengan pemuda yang dibencinya, tak mengapa. Asalkan ia bersama anak-anaknya.
"Aku tidak membutuhkanmu disini," ujar Sasuke acuh.
Sakura menatap tajam pemuda dihadapannya. Air matanya hampir jatuh dari pelupuk matanya. Ia buru-buru menghapus secara kasar air mata itu. Ia tak boleh terlihat lemah didepannya. Tidak boleh.
"Tapi setidaknya izinkan aku melihat mereka setiap hari," kata Sakura dengan nada memohon.
"Bukankah sudah pernah kukatakan di rumah sakit waktu lalu? Kau hanya bisa melihat mereka dibawah izinku. Dan itu berarti kau boleh mengunjungi mereka disaat aku butuh dirimu disini. Jika kau berani mencoba menemui mereka secara diam-diam, aku tidak akan ragu untuk membunuhmu Sakura. Jadi, lebih baik kau turuti saja perintahku," jawab Sasuke sambil tersenyum sinis.
Sakura menggertakan giginya kesal. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubunya. Mata teduhnya menampakkan kilat kemarahan dan kebencian yang membaur menjadi satu.
.
.
.
.
"Naruto-jii, apakah aku anak yang menyebalkan ya?" tanya Ichigo polos.
"Apa maksudmu?" tanya Naruto balik, ia tidak mengerti arah pembicaraan anak bungsu dari sahabatnya ini.
"Tidak, aku hanya merasa aku adalah anak yang menyebalkan. Banyak yang bilang kalau tou-san tidak menginginkan kami," ucapnya lesu.
Naruto mengacak-acak rambut hitam milik anak bungsu sahabatnya dengan gemas. Senyum rubah andalannya ia tunjukan pada anak laki-laki yang berada dihadapannya. "Tidak, kau itu menyenangkan Ichigo. Kau tidak boleh berkata seperti itu,"
Ichigo mengangguk senang. Senyum lebar terpatri di wajah imutnya. Ia segera berlari menuju kakaknya yang sedang bermain dengan sahabatnya, Kuon.
Tiba-tiba pintu rumah keluarga Uzumaki itu diketuk. Dengan sigap, Naruto berjalan kearah pintu utama dan membukakan pintunya.
"Sakura-chan?" kata Naruto.
Ichigo menoleh kearah pintu utama rumah tersebut. Ia berdiri dan berlari menuju sang ibu yang datang. "Kaa-san,"
Sakura memeluk anak bungsunya dengan sayang. Ia mencium pipi ranum milik anaknya dengan gemas.
"Terimakasih Naruto, kau telah menjaga anak-anakku," kata Sakura sambil tersenyum kepada sahabatnya ini.
"Itu bukan masalah, aku menganggap mereka seperti anakku juga. Aku menyayangi mereka seperti aku menyanyangi Kuon," jawab Naruto sambil memamerkan senyum rubah andalannya.
"Apakah kau benar-benar akan menyerahkan mereka kepada ayahnya Sakura-chan?" tanya Naruto.
Sakura mengangguk lemah, "Anak-anak membutuhkan kasih sayang ayahnya,"
"Ryuu, Daisuke, Ichigo, mulai hari ini kalian akan tinggal bersama tou-san ya," kata Sakura sambil tersenyum pedih pada tiga anaknya.
"Yeaaaaaaaaaay!" teriak Ichigo dan Daisuke riang. Tetapi tidak dengan sang kakak. Ia memandang sang ibu dengan tatapan menyelidik. Ia merasa ada yang aneh dengan muka serta ucapan sang ibu.
"Sakura-chan, aku pikir….."
"Naruto, aku tahu yang terbaik untuk mereka. Aku tidak butuh saranmu saat ini. Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk mereka," tukas Sakura memotong perkataan pemuda dihadapannya.
"Cepat anak-anak, kemasi barang bawaan kalian dan ambil tas kalian. Kita harus segera pergi menemui tou-san," teriak Sakura dari luar.
"Kita akan bertemu tou-san. Yeaaaay!" ujar Daisuke riang. Ia tampak begitu bersemangat mengemasi barang bawaannya. Tetapi tidak dengan sang kakak, ada raut ketidaksukaan saat sang ibu berkata bahwa ia dan adiknya akan tinggal bersama ayahnya.
.
.
.
.
"Aku membawa mereka seperti yang kau inginkan Sasuke," ucap Sakura lirih sambil menatap pemuda berambut raven dihadapannya yang sedang bersandar pada pintu utama rumahnya dengan tangan yang disilangkan di depan dadanya.
"Bagus," balas Sasuke dingin dan sedikit melirik kearah tiga anak kecil yang sedang menatap dirinya.
"Tou-san," teriak Ichigo dan berlari memeluk kaki sang ayah sangat erat.
Sasuke menatap anak kecil yang sedang memeluknya dengan tatapan membunuhnya. Ichigo mendongak melihat wajah sang ayah. Raut wajah ketakutan terpancar jelas di wajah imutnya. Ia melepaskan pelukannya dan berlari menuju ibunya, "Kaa-san, aku takut…"
Sakura mengelus-elus punggung mungil milik sang anak dengan lembut. Ia berusaha menenangkan anak bungsunya yang hampir menangis karena tatapan sang ayah yang tampak tidak menyukainya.
"Ini akte kelahiran mereka," ucap Sakura dan melemparkan tiga kertas itu kearah pemuda dihadapannya.
"Baiklah, kau bisa pergi sekarang," kata Sasuke tajam.
"Berikan aku waktu untuk berbicara pada anak-anakku," ucap Sakura tak kalah tajamnya.
Sasuke memutar matanya bosan, "5 menit,"
Sakura mengangguk setuju. Ia menatap ketiga ba=uah hatinya. Senyum kepedihan terpancar jelas di wajah cantiknya, "Ryuu, Daisuke, Ichigo, kemari anak-anak manis," panggil Sakura.
"Berjanjilah padaku. Kalian akan menjadi anak yang baik untuk tou-san ya? kalian tidak boleh nakal," ucap Sakura seraya tersenyum kecil, tak bisa dipungkiri air mata telah jatuh dari pelupuk mata teduhnya.
"Mengapa kaa-san menangis?" tanya Ichigo polos.
"Tidak apa-apa sayang. Kaa-san akan merindukan kalian semuanya," jawab Sakura sambil menyeka air matanya kasar.
"Kaa-san tidak tinggal bersama kami?" tanya Daisuke.
"Tidak sayang, kaa-san tidak bisa tinggal bersama kalian. Kaa-san punya beberapa misi yang harus dilakukan. Tapi kaa-san janji…." jeda Sakura sejenak. Ia menghirup nafas panjang, "Kaa-san akan mengunjungi kalian jika kaa-san tidak sibuk," lagi-lagi ia harus berbohong pada buah hatinya. Hatinya teriris perih ketika melihat wajah tak berdosa milik buah hatinya. Mereka masih terlalu kecil untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Ia merasa bersalah karena tak mampu memberikan kasih sayang lengkap dengan kehadiran orangtua yang saling mencintai.
"Kaa-san…" panggil Ichigo lirih. Air mata telah membasahi pipi ranumnya.
"Ichigo sayang, jangan menangis. Kau sudah besar kan? Anak yang sudah besar tidak boleh menangis," kata Sakura sambil menangkupkan wajah mungil anaknya dan mencium pipi sang anak dengan lembut lalu memeluknya erat.
Sakura melepaskan pelukannya pada anak bungsunya. Ia bergegas pindah menuju anak keduanya. "Daisuke, jadilah anak yang baik bagi tou-san ya? jangan menonton tv lebih dari pukul 8 malam. Kau mengerti sayang?" kata Sakura sambil memeluk putra keduanya sangat erat.
Daisuke menganggukan kepalanya lemah. Air mata juga jatuh membasahi pipi mulusnya.
"Ryuu…" panggil Sakura pada putra pertamanya. Ia menangkupkan wajah putra sulungnya dengan sayang sama seperti yang ia lakukan pada kedua putranya yang lain, "Ryuu, jadilah kakak yang baik bagi mereka. Bantu kaa-san menjaga adik-adikmu ya," kata Sakura sambil memeluk putra pertamanya erat.
"Jangan tinggalkan kami sendiri kaa-san," balas Ryuu lirih, airmata telah jatuh dari mata kelam miliknya.
"Waktu habis," tukas Sasuke datar dan tiba-tiba.
"Beri aku satu menit lagi. Kumohon," pinta Sakura.
"Tidak, aku rasa sudah cukup," balasnya dingin.
"Karin!" teriak Sasuke pada wanita yang berada didalam rumahnya.
Dalam sekejap, datanglah wanita berambut merah menggunakan kacamata sambil menatap manja pemuda disampingnya. "Ya Sasuke-kun?"
"Bawa anak-anak ini kedalam rumah. Mulai sekarang, kau yang mengurusi keperluan dan kebutuhan mereka," ucap Sasuke datar.
"Tapi Sasuke-kun, aku bukan pengasuh mereka!" balas Karin tajam.
"Lakukan apa yang aku perintahkan, atau kau keluar dari sini?" desis Sasuke tak kalah tajamnya.
"Baiklah," ucap Karin akhirnya. Ia berjalan mendekati tiga anak kecil yang sedang menangis.
"Ayo anak nakal masuk kedalam!" perintah Karin dengan nada malas dan menggenggam kasar tiga tangan mungil tersebut.
"Mereka tidak nakal! Mereka punya nama," teriak Sakura dan melepas paksa genggamannya dengan wanita itu.
"Terserah, aku tak peduli," Karin memutar matanya bosan, "Masuk kedalam sekarang!"
"Kaa-san," panggil Ichigo lirih.
"Masuk kedalam sayang. Ingat pesan kaa-san tadi. Kaa-san menyayangi kalian," kata Sakura sambil menangis. Entah itu airmata keberapa kalinya yang mengalir dari mata teduhnya hari ini.
Ichigo dan Daisuke mengangguk dan menaati perintah sang ibu. Mereka masuk kedalam rumah tersebut. Pipi mereka masih basah dengan airmata. Tetapi tidak dengan sang kakak. Ia masih diam ditempatnya dan memegang tangan sang ibu erat.
"Ryuu, lepaskan tangan kaa-san sayang. Masuklah kedalam bersama adikmu," perintah Sakura.
Ryuu menggeleng lemah. Ia masih menangis, "Tidak, aku ingin bersama kaa-san disini,"
"Masuklah kedalam anak nakal!" tukas Karin tajam.
"Karin, masuklah kedalam. Urus dua anak kecil tadi. Aku akan mengurus yang ini," perintah Sasuke tajam dan berjalan mendekat kearah Sakura dan Ryuu.
Karin mengangguk setuju. Ia mengambil tas dan barang bawaan lainnya milik dua anak kecil tadi dan segera masuk kedalam rumah.
"Biarkan ia pergi!" desis Sasuke tajam.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kaa-san pergi. Aku membencimu! Sangat membencimu!" teriak Ryuu tajam.
"Baiklah, sepertinya kau ingin aku gunakan cara kasar ya," gumam Sasuke dan menarik paksa lengan mungil milik anaknya hingga genggamannya dengan sang ibu terlepas.
"Tidak! kaa-san, kaa-san," teriak Ryuu saat dirinya diseret paksa oleh sang ayah masuk kedalam rumahnya.
"Ryuu!" teriak Sakura lemah. Ia merasa lemah dan tak berdaya. Kekuatannya tiba-tiba menghilang begitu saja. Ia merasa dunia serasa berhenti berputar ketika sang anak telah tak ada dihadapannya. Tubuhnya jatuh terduduk di teras mansion tersebut. Ia merasa sakit di seluruh tubuhnya tetapi jauh didalam hatinya, ia merasakan kesakitan yang luar biasa ketika dirinya harus dipisahkan dengan buah hati tercintanya.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
Author Note :
Yuhuuu kembali bersamaku disiniiii :3 aaa bagaimana dengan chap 3 nya? Fufufu~ #dibunuh. Maaf karena telat update, my lappie sedang rusak dan baru benar kemarin hihihi :DD sudah terjawab bukan kalau Karin akan menjadi ibu tiri mereka? #mukapolos. Tidak berlangsung lama kok, chapter depan akan ada yang mengejutkan lohhh :DD #sokmisterius.
Terimakasih banyak yang udah mau nunggu fic iniii :DD aku jadi bersemangat nulisnya hehe. Sampai ketawa sendiri liat review kalian hihihi. Terimakasi banyakkk, loveyouall! :D
Special thanks to :*
Eunike Yuen, Brown Cinnamon, meong nbuyung, Kakaru ss, Seiya Kenshin, Lizzy Park, Wisnu Damayanti, Fiyui-chan, Evol lovekai, eoonniiso, allihyun, hanazonorin444, Luci Kuroshiro, kirei15, chii no pinkcherry, uchikurai, chikako, guest, Yuna Mikuzuki, Guest, sasusaku kira, Guest, guest, Yama Mori, guest, Yukina Itou Sephiieenna Kitami, , Pink Uchiha, Novi Shawol'elf, Novrie Tomatocherry, Akasuna Anggi, Alapenny, aoi takishimi, Erica Christy 77, guest, Rie Saka, dea ismalia, Baby Kim, Tun'z, Rosachi-hime, Tsurugi De Lelouch, Senayuki-chan, Akira Ichi, Guest, hanazono yuri, Hanna Aiko, lalaQdochka, uzumaki kuchiki, Koibito Cherry, Himetsuka, dee-chan, S2, Yui, guest, angodesd, sasusaku uchiha, Riu Makamoto
Terimakasih banyaak yang sudah mereview dan lain-lain :DD maaf jika ada kesalahan nama dan lain-lain. Yang namanya belum kesebut bilang ajaa yaaa :DD
Akhir Kata,
Review? :D
Ananda Putri Hassbrina
