Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Family, Romance, Hurt/Comfort

Warning : TYPO bertebaran, OOC, dan masih banyak lagi

Pairing : Sasuke and Sakura

.

.

.

.

.

.

Sakura berlari kencang menuju mansion tempat di mana anak-anaknya tinggal sekarang. Setidaknya untuk saat ini. Ia akan mengambil para putranya kembali dan tinggal bersamanya. Ia tak perduli dengan marga atau status atau apa pun yang berkaitan dengan lelaki itu. Yang terpenting adalah anak-anaknya.

Sakura mengetuk pintu kayu besar itu. Tak ada jawaban pasti, ia segera mendorong keras pintu yang sepertinya dilapisi cakra milik Sasuke. Oh, ingatkan lagi, pintu ini juga dilengkap kekke genkai milik lelaki itu.

"Ichigo?"

Sakura berteriak memutari ruangan. Dan sampailah ia sekarang. Ruangan luas dengan satu ranjang tidur berukuran besar dan di sana anaknya sedang terbaring lemah menangis. Manik hijaunya juga menangkap sosok Sasuke yang duduk menunggunya.

"Ibu akan menyembuhkanmu."

Pijar hijau keluar dari tangannya. Sakura mengigit bibir bawahnya. Menahan tangis yang akan keluar melihat kondisi putra kecilnya. Ichigo membuka matanya, ia berusaha menggapai tubuh Sakura dan memeluknya.

"Aku rindu kaa-san. Ayo kita pulang. Aku tak ingin tinggal bersama Tou-san."

Sakura terdiam. Cahaya hijau itu perlahan menghilang dari kedua tangannya. Kedua tangan Sakura bergerak memeluk Ichigo erat. Putranya akan segera sembuh.

"Kita akan pulang." Sakura memeluk putranya. Ia berdiri, menatap lelaki yang sedang terdiam itu tajam.

"Dimana kedua anakku?"

"Di kamar." Sasuke menjawabnya singkat. Lelaki itu berdiri. Melangkah keluar kamar menuju kamar kedua anaknya. Sakura tersenyum saat Ryuusei dan Daisuke berlari ke arahnya.

"Apakah Ichigo baik-baik saja?"

Sakura mengangguk. Ia memeluk Ryuusei yang menangis melihatnya. Daisuke menoleh, memandang sang ayah dengan mata memelasnya. "Apakah kaa-san akan tinggal bersama kita?"

"Tidak, Daisuke. Kita akan kembali ke rumah bersama Kaa-san. Biarkan Tou-san sendiri di sini."

"Aku ingin bersama Tou-san. Kaa-san harus tinggal bersamaku di sini."

Sakura menghela napasnya. Ia menarik lengan putra keduanya lembut. "Ichigo sedang sakit, ia harus diobati. Kau mengerti?"

Daisuke hanya diam. Anak kecil itu menunduk mendengar perkataan Sakura. Sakura berdiri. Menggenggam erat tangan kedua anaknya yang lain. Manik hijaunya memandang Sasuke tajam yang sedang memandang ketiga anaknya.

"Aku akan kembali bersama anak-anakku. Aku tak perduli dengan marga atau apa pun yang berkaitan denganmu."

Sakura melangkah menuju pintu utama. Menarik Ryuusei dan Daisuke agar berjalan di depannya. Ichigo berada di dalam gendongannya sedang tertidur. Sakura tak akan tega dengan putra kecilnya satu itu.

"Kau boleh tinggal di sini."

Suara berat Sasuke menghentikan langkahnya. Ryuusei menoleh pada sang Ayah yang kini memasang wajah datarnya. Anak tertua itu hanya mendengus melihat tingkah Ayahnya yang menyebalkan di matanya.

Sasuke melepaskan pelukan Daisuke di kakinya. Anak itu tertawa memandang Sasuke yang kini melangkah jauh meninggalkannya. Sakura hanya diam. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang.

.

.

"Kaa-san akan tidur bersama kalian." Sakura mengelus rambut Ryuusei yang duduk di sampingnya dan Daisuke yang sudah terlelap di pangkuannya. Ichigo sudah tertidur sejak tadi. Anak itu sedang sakit dan Sakura tak bisa meninggalkannya begitu saja.

"Kenapa kita tidak kembali ke rumah?"

Sakura menghela napasnya, "Kau berbeda dari kedua adikmu. Mereka menginginkan kehadiran Ayahnya. Kaa-san tidak akan tega melihat mereka berdua."

Ryuusei mengangguk. Ia menarik bantal di dekatnya dan segera jatuh tertidur. Sakura tersenyum melihat ketiga putranya. Ia berdiri. Menyiapkan peralatan tidurnya yang lain.

Sakura keluar dari kamar. Mendapati Uchiha Sasuke sedang berbicara dengan Suigetsu disertai teriakan Karin yang menggema di ruangan. Tampaknya ada sesuatu di antara mereka bertiga dan gadis itu tidak menyetujuinya.

Karin melihat Sakura yang sedang berjalan ke arah dapur. Mata merah wanita itu tampak marah saat melihat Sakura. Karin berdiri, hendak menarik Sakura dan memberi wanita itu perhitungan.

"Kau berani menamparku?!"

Sakura terdiam. Ia memandang Karin tajam sama seperti wanita itu memandangnya.

Karin menampar Sakura sampai tubuhnya mundur ke belakang. Sakura bersiap menampar balik wanita itu dengan kekuatannya. Tapi sayang, ia kalah cepat. Sasuke sudah berada di depannya. Memegang tangan Sakura dan menyuruh Karin untuk mundur.

"Aku harus melakukan apa yang ia lakukan pada anakku!" Sakura menatap Sasuke tajam

"Aku hanya melakukan tugasku. Lagipula, ia nakal. Jadi sudah sepantasnya aku menghukumnya!"

"Sialan kau." Sakura melepas pegangan Sasuke padanya. Wanita itu meninju Karin dengan tangannya sampai tubuh Karin terhempas ke belakang. Suigetsu segera berlari membantu Karin sedangkan Sasuke menarik Sakura untuk mundur.

"Diam!" Bentakan Sasuke membuat pertikaian dua wanita ini mereda. Sakura menarik napas dan segera berlari menuju kamar anaknya dan Karin mengejarnya sebelum tangan Sasuke mencegahnya.

"Aku sudah menyuruhmu keluar dari rumahku. Jangan kau berani menginjak mansion ini tanpa perintahku."

Sasuke meninggalkannya pergi dengan Suigetsu yang menarik Karin keluar.

.

.

Sasuke menghentikan langkahnya saat melihat Sakura menggendong Ichigo yang tampak menangis di tidurnya. Anak itu membuka matanya. Memandang Sasuke dengan air mata yang masih deras keluar dari matanya.

"Ichigo, semua akan baik-baik saja." Sakura menepuk-nepuk pelan punggung putranya tanpa mengetahui ada Sasuke di sana. Wanita itu berulang kali berusaha menenangkan anak bungsunya. Tapi tetap saja, Ichigo masih menangis.

"Taruh dia di kamarku."

Sakura berbalik, memandang heran pada Sasuke yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya. Sakura mengikutinya menuju kamar besar milik lelaki itu.

"Aku akan meninggalkan Ichigo di sini. Kalau badannya kembali demam panggil saja. Aku berada di kamar sebelah."

Sakura pergi meninggalkan putranya yang sudah kembali tenang bersama sang Ayah di kamar. Ia menutup pintu kamar Sasuke dan segera pergi menuju kamar kedua anaknya.

.

.

"Kaa-san!"

Sakura menoleh dan mendapati putra bungsunya berlari menghampirinya. Sakura segera menggendongnya dan Ichigo tertawa lebar. Diikuti Ryuusei dan Daisuke di sisinya.

"Kau sudah sembuh, hmm?"

Ichigo mengangguk.

"Kaa-san, ayo kita ajak Tou-san bermain di taman bersama." Daisuke menarik baju Sakura untuk menghampiri Sasuke yang berada di taman belakang mansion.

Sakura menurunkan Ichigo dari gendongannya. Ia mengelus rambut milik Daisuke seraya tersenyum. "Tou-san sedang sibuk. Mungkin lain kali, ya. Tak apa kan?"

Anak itu hanya mengangguk dengan wajahnya yang ceria berubah menjadi muram. Sakura hanya bisa tersenyum. Entah harus berbuat apa lagi. Meminta bantuan Naruto? Tidak. Ia sudah merepotkan sahabatnya itu terlalu banyak. Minta bantuan pada Nona Tsunade? Mungkin gurunya itu bisa memakai kekerasan jika sudah menyangkut Sasuke dan anak-anaknya. Itu akan menambah masalah yang lebih banyak lagi.

Sakura terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak menyadari kalau Sasuke sudah ada di sampingnya. Menganggap dirinya tak ada seperti biasa. Dan ia sudah kebal akan hal itu.

"Tou-san," Sakura menoleh pada putra keduanya yang duduk di bawah kaki Sasuke. Lelaki itu hanya diam tak merespon. Membuat Sakura harus memasang wajah manisnya depan Daisuke agar semuanya terlihat baik-baik saja.

"Maukah Tou-san bermain bersamaku dan kakak Ryuu?"

"Aku tak mau bermain dengannya!" bentakan keras Rei membuat kepala berbeda warna rambut ini menoleh. Sakura segera berlari menghampiri Ryuusei yang pergi menuju kamarnya. Mengabaikan pandangan Sasuke yang menusuk dari belakang punggungnya. Ia bisa saja setelah ini dihujat Sasuke karena tidak mendidik anaknya dengan sopan santun. Tapi percayalah, Sakura mendidik mereka dengam baik dan benar. Tapi, Ryuusei berbeda.

"Sayang," Sakura mengelus rambut mencuat Rei. Ia sangat mirip sekali dengan Sasuke. Seperti jiplakan dari sang ayah. Bahkan sifatnya pun sama.

"Kau tak boleh seperti itu, itu ayahmu. Daisuke dan Ichigo sangat menyayanginya. Kenapa kau tidak?"

Ryuusei menghapus air matanya. Ia memeluk Sakura erat dan tak mau melepaskannya. "Tou-san tidak mencintai kami bertiga walaupun kami mencintainya. Ia tidak suka pada kami. Dari awal kami bertemu, ia tak pernah ingin melihat kami."

"Kaa-san akan menangis jika kau menangis," Sakura menghapus air mata putra pertamanya. "Pergilah bermain bersama Daisuke dan Ichigo. Ajak mereka ke taman, ya. Jaga mereka berdua, Kaa-san akan menyusulmu nanti."

Ryuusei mengangguk. Ia pergi meninggalkan Sakura yang menangis di kamar tanpa disadarinya. Menarik tangan Daisuke dan Ichigo menuju taman. Mengabaikan sang Ayah yang memandang ketiganya setelah pergi melewati pintu utama.

"Kau mau kemana?"

Sakura menoleh pada Sasuke. Ia tersenyum sinis pada lelaki itu. "Menjaga ketiga putraku. Memang apalagi?"

Lelaki itu diam. Sakura pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Sasuke sebelumnya.

"Aku akan menyusul mereka nanti."

Dan Sakura berlari mengabaikan perkataan Sasuke yang seakan lelucon baginya. Sakura yakin, Sasuke bercanda dengan perkataannya. Lelaki itu tak akan pernah mau menganggap putranya sebagai anaknya.

.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

.

Author Note:

Pendek ya? banget. Ada beberapa alasan saya lama updatenya. Dan sekali update pendek banget huhu maafkan.

Kondisi saya lagi benar-benar tidak memungkinkan untuk lama-lama di depan komputer. Jadi saya updatenya pelan-pelan asalkan cepat tamat :")

Maafkan kegajean chapter ini. tapi saya harap ini bisa mengobati rasa penasaran kalian.

Saya terharu liat reviewnya. Terima kasih banyak karena mau mereview fic ini bahkan rela ngepm, ngedm dan banyak lagi untuk dukungannya :'3

Love,

emerallized onyxta