Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Family, Romance, Hurt/Comfort

Warning : TYPO bertebaran, OOC, dan masih banyak lagi

Pairing : Sasuke and Sakura

.

.

.

.

.

.

Setelah mengantar kepergian ketiga putranya ke taman, Sakura segera pergi menuju kantor Hokage untuk mengurus beberapa keperluan. Salah satunya tentang ketiga anaknya.

Ia melangkah mendekati pintu ruangan Godaime Hokage, ia tidak menemukan Shizune di sekitar ruangan. Mungkin saja ia ada di dalam ruangan atau di rumah sakit.

Sakura membuka pintu dan mendapati sosok Karin bersama laki-laki berambut putih dengan giginya berbentuk seperti gigi hiu. Sakura mendekat pada Tsunade dan tidak memedulikan bagaimana tatapan Karin yang marah padanya.

"Apa-apaan kau mengusirku dari Konoha?!" Teriak Karin marah. Tsunade menghela napasnya, Hokage yang sudah berumur cukup lanjut itu memijit pelipisnya.

Ia melirik ke arah Sakura yang sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran Karin di sini.

"Sasuke menyuruhku untuk mengusirmu keluar dari Konoha." Jawab Tsunade tak kalah sinisnya. Ia lelah sejak tadi mendengar amarah Karin yang tak kunjung selesai. Ia masih banyak pekerjaan dan wanita itu jelas-jelas mengganggunya.

"Ada perlu apa kau kemari, Sakura?"

Sakura memberikan sesuatu berbentuk kertas kecil yang tersimpan di dalam amplop berukuran sedang. Tsunade membacanya sekilas dan mengangguk paham.

"Aku mengerti," katanya sembari memberikan senyum tipisnya pada Sakura. Lalu, maniknya beralih pada Karin dan sosok laki-laki yang hanya diam di belakang Karin. "Kau dan ketiga anakmu akan tinggal di rumah Sasuke?" Tsunade sengaja memancing amarah Karin dan berhasil. Wanita itu terlihat berapi-api dan siap meledak.

"Bukan salahku jika aku mengunci Ichigo di ruang bawah tanah. Ia anak yang nakal!" Bentak Karin tak mau terima. Ia baru tinggal di rumah Sasuke beberapa hari dan ia tak mau jika harus keluar dari rumah itu dalam waktu dekat. Bahkan kalau bisa ia selamanya tinggal di sana bersama dengan lelaki Uchiha itu.

Kening Sakura berkerut, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Ia akan menampar wanita ini sekarang juga. "Diam!"

Karin hampir saja merasakan pukulan kencang Sakura kalau Tsunade dan laki-laki itu tidak menghentikan mereka berdua. Karin masih saja tidak mau mundur dan mengaku kalah, begitu juga dengan Sakura yang tak ingin anaknya dihina.

"Sudah cukup!" Tsunade berteriak menengahi mereka berdua. Ia menenangkan Sakura yang masih tersulut emosi dan laki-laki berambut putih itu mendorong Karin untuk menjauh.

"Suigetsu bawa Karin pergi!" Perintah Tsunade mutlak dan Karin tetap kekeh tidak mau pergi dari sana. Suigetsu beberapa kali merasa terpojok akibat amukan Karin dan beberapa pukulan dari wanita itu.

"Kau …" Tsunade menunjuk Karin dengan telunjuknya. "… jangan coba menyakiti ketiga cucuku dengan tangan kotormu lagi!" Bentaknya sekali lagi dan berhasil membuat Karin menciut. Wanita itu kelur ruangan dengan napas tersengal menahan emosi. Suigetsu yang sejak tadi diam mengikuti wanita itu.

Sakura menjatuhkan dirinya di kursi besar milik Hokage. Ia sudah cukup menderita dan tak bisakah semuanya berjalan baik-baik saja.

"Aku mencoba untuk mengambil anakku kembali. Mari, kita lupakan tentang status bodoh itu dan biarkan aku hidup tenang bersama anak-anakku," lirihnya. Tsunade kembali memijit pelipisnya setelah mendengar isakan kecil Sakura.

"Sakura,"

"Ichigo sakit! Aku tidak bisa meninggalkannya hanya berdua dengan Ayahnya!" Teriaknya frustrasi. Tsunade menghela napasnya, ia kembali duduk di kursi kebesarannya dan memandang Sakura dari sana.

"Sasuke memberitahuku kalau ia dan anak-anakmu boleh tinggal bersamanya."

Sakura menghapus air matanya. Ia menatap Tsunade tidak percaya. "Ya, mungkin selama beberapa hari."

Tsunade mengangguk samar. Hati kecilnya berteriak tidak yakin dengan kata-kata Sakura.

.

.

Sakura melangkah menuju taman desa. Di sana, ketiga anaknya sedang bermain dan semoga mereka baik-baik saja.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan Hinata bersama putra mereka, Uzumaki Kuon sedang berjalan bersama sehabis dari toko Ramen milik Paman Teuchi. Hinata tampak kepayahan menjaga Kuon yang berlari meninggalkan Ibunya di belakang.

"Hinata!" Hinata menoleh dan menarik tangan Kuon mendekat pada Sakura. Wanita cantik itu menyapa Sakura ramah.

"Apakah Kuon ingin bermain di taman bersama anak-anakku?" tanya Sakura.

Hinata mengangguk. Ia membisikkan sesuatu di telinga putranya dan bocah laki-laki itu berlari agak kencang meninggalkan mereka berdua di belakang.

"Kuon terlihat bersemangat sekali," kata Sakura yang terkekeh melihat tingkah putra tunggal dari Uzumaki Naruto yang beberapa kali berlari dan hampir tersandung batu atau ranting kayu yang ada di jalan. Hinata terlihat cemas beberapa kali namun wanita itu tampak tenang.

"Kuon menuruni sifat Ayahnya," jawab Hinata sembari tersenyum melihat putranya.

Kuon berlari menghampiri Ichigo yang masih duduk tenang bermain dengan istana pasirnya bersama Daisuke dan dua anak laki-laki seusia mereka. Sakura dan Hinata mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari mereka agar mengawasinya lebih mudah.

Manik teduh Sakura mencari keberadaan putra sulungnya dan mendapati Ryuusei sedang bermain ayunan dengan keadaan melamun. Laki-laki yang dijuluki minatur Sasuke itu terlihat sedih dan Sakura tidak bisa menghiburnya.

Beberapa kali Ryuusei juga membantu kedua adiknya yang kesusahan ketika bermain. Menjaga adiknya dari jarak yang tak terlalu jauh. Ia dengan siap melindungi kedua adiknya jika ada anak lain yang mencoba mencelakai mereka berdua.

"Aku melihat Sasuke-kun di sekitar sini," cicit Hinata pelan. Sakura mengerutkan dahinya saat kepala Hinata berputar-putar mencari sosok yang baru saja disebutkannya.

"Apa kau bercanda?" Sakura masih tak mau percaya.

Hinata menggeleng. Ia ingin menggunakan byakugannya di saat seperti ini tapi Sakura mencegahnya.

"Tidak perlu," kata Sakura sambil tersenyum tipis. Ia tidak ingin Hinata mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah tangganya. Dengan adanya Sasuke di sini, itu tidak membuktikan apapun.

"Aku berani bersumpah, Sakura-chan." Hinata masih mencoba mencari sosok Sasuke di antara semak-semak taman dan pohon-pohon besar. Tapi tetap saja tidak ada. Ia lupa kalau Sasuke mempunyai kekuatan yang jauh melebihi dirinya.

Sakura masih tersenyum kecil. Hinata terlihat putus asa dan itu terdengar baik untuknya. Ia kemudian memandang ketiga putranya lagi. Daisuke bersama Kuon sedang asyik bermain sepak bola dan Ichigo masih sibuk dengan istana pasir yang dibuatnya. Ryuusei masih dengan kegiatannya, bermain ayunan.

Mata kelam Ryuusei melihat Sakura yang melamun ke arahnya. Laki-laki tampan itu melambaikan kecil tangannya pada sang Ibu dan dibalas senyuman ceria Sakura. Senyum lega terpetak di wajahnya, ia tidak terlalu terbebani dengan kehadiran sang Ibu yang menjaganya dan kedua adiknya.

Hari sudah semakin petang. Sakura menggandeng ketiga anaknya untuk pulang setelah membelikan mereka semangkuk ramen masing-masingnya. Ichigo terlihat lebih baik dan Ryuusei mengatakan kalau adiknya sudah sehat dan hanya dibalas cengiran manis dari Ichigo.

"Kaa-san, kita akan pulang kerumah Tou-san 'kan?" Daisuke bertanya setelah mereka sampai di tengah jalan menuju kompleks Uchiha. Sakura mengangguk samar yang membuat Daisuke kembali tersenyum puas.

.

.

Pintu rumah dengan lambing kipas besar itu terbuka lebar. Tiga anak laki-laki segera masuk ke dalam dan Sakura kembali menutup pintu itu. Ia sedikit curiga, mengapa Sasuke tidak mengunci pintu rumahnya. Sejujurnya ia berharap Sasuke menguncinya dan ia akan senang hati membawa ketiga anaknya untuk kembali ke rumah lamanya.

"Ayo, kita mandi Daisuke," ajak Ryuusei setelah mereka berdua sampai ke dalam kamar. Daisuke dengan patuh masuk ke dalam kamar mandi diikuti Ryuusei di belakangnya. Dan Sakura memandikan Ichigo dengan air hangat yang sudah direbusnya.

"Apa anak Kaa-san nakal hari ini?" Sakura sedikit menggelitik tubuh mungil Ichigo dan bocah itu tertawa keras. Ia merindukan bagaimana saat-saat ketiga anaknya tertawa yang membuatnya merasa nyaman.

"Aku tidak nakal, aku baik hari ini." Ichigo menjawab dengan tubuhnya yang dipenuhi busa sabun. Ia memegang pipi Sakura dengan kedua tangan mungilnya dan membuat Sakura tertawa.

Setelah memandikan Ichigo, Sakura menggendong anak bungsunya ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih hangat. Ichigo terlihat lebih nyaman dengan pakaiannya dan manik hijaunya terlihat mengantuk.

"Kaa-san, apa Tou-san sudah pulang?" tanya Ichigo pelan. Ia sedang memeluk guling kecilnya dan siap tidur ketika Sakura mengelus lembut rambut hitamnya.

"Kaa-san tidak tahu, Sayang. Ia akan pulang sebentar lagi. Tidurlah, kau terlihat lelah." Sakura mengecup sayang dahi putranya yang sudah memejamkan mata.

Lalu, ia pergi menuju Ryuusei dan Daisuke yang sedang berganti pakaian. Sakura mengambil kaos putih milik Daisuke dan membantunya memakai pakaiannya.

"Apakah hari ini kau nakal?" Sakura mencubit pipi putra keduanya gemas membuat Daisuke tertawa kecil karena tingkahnya dan Ryuusei yang melihat ikut tertawa.

"Aku tidak nakal, Kaa-san." Katanya sembari tertawa. Sakura tersenyum tipis dan menyisir lembut rambut hitam legam milik anaknya.

Daisuke langsung berlari ke lantai bawah untuk melakukan sesuatu di sana. Sakura pergi menuju Ryuusei yang duduk melamun di ranjangnya. Ia tidak tahu apa yang membuat anak sulungnya melamun seperti itu.

"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Sakura saat dirinya duduk di samping Ryuusei.

Ryuusei menggeleng kecil. Bocah laki-laki itu tidak mau menatap mata Ibunya yang menatapnya lirih.

"Aku tak nyaman berada di sini, Kaa-san," lirihnya. Ia menatap mata Sakura. "Aku mau pulang. Aku tak mau tinggal bersama Tou-san." Lanjutnya sembari memejamkan mata. Sakura tahu, Ryuusei berbeda dari kedua adiknya. Kejeniusan Uchiha mengalir di dalam darahnya. Ia sangat mirip dengan Sasuke, baik wajah ataupun sifatnya.

Sakura menarik tangan Ryuusei untuk mendekat lalu memeluknya. Tidak ada tanda-tanda Ryuusei akan menangis walaupun suaranya berubah serak. Anaknya sudah mengerti bagaimana rasanya tak pernah diinginkan. Ia tak pernah ingin ketiga putranya mengalaminya. Ia ingin mereka bertiga bahagia.

"Kita akan kembali ke rumah. Setidaknya, biarkan Ichigo dan Daisuke bahagia dulu, Sayang. Apa kau mengerti? Kaa-san menyayangimu, Kaa-san tidak akan bisa melihatmu sedih. Tapi, Kaa-san mohon, kau satu-satunya yang bisa mengerti Kaa-san." Ryuusei kembali memeluk Sakura lebih erat dari sebelumnya. Wajah anak itu tampak memerah dan ia tidak mau menangis.

"Aku juga menyayangimu, Kaa-san."

.

.

Ryuusei terbangun di tengah malam karena rasa hausnya. Ia mempunyai kebiasaan terbangun di tengah malam karena rasa lapar ataupun ingin meminum sesuatu. Maka dari itu, dengan langkah kecilnya, ia menuruni anak tangga dan pergi ke dapur.

Lampu dapurnya masih menyala dan mata kelamnya menangkap sosok Ayahnya sedang duduk bersama beberapa gulungan yang tersebar di atas meja. Ryuusei menarik napasnya, tetap melangkah maju tidak memedulikan Ayahnya yang ada di sana.

Sasuke melirik anak sulungnya. Ryuusei tampak tidak tertarik untuk menyapanya. Ia tidak mengharapkan apa-apa dari anaknya. Setidaknya, menganggap dirinya ada walaupun sekilas lebih baik 'kan?

Ryuusei mengambil gelas dan menuangkan air putih di dalam teko ke dalam gelasnya. Laki-laki itu lalu menaruh gelasnya ke dalam cucian piring dan kembali berlalu melewati tubuh Sasuke.

Ryuusei terdiam di ujung tangga. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Ayahnya sedang sibuk membaca isi gulungan. Dengan hati yang sudah mantap, ia melangkah mendekati Ayahnya. Sasuke sedikit berjengit saat Ryuusei menarik bangku di sampingnya. Anak laki-laki itu tidak menoleh sama sekali padanya, pandangan matanya lurus ke depan.

"Hn."

Suara tarikan napas terdengar di antara ruang dapur yang sunyi ini. Ryuusei menoleh pada Sasuke dengan wajah datarnya. Bibir anak itu membuka sedikit.

"Apa aku mengganggumu?" tanyanya.

Sasuke menggeleng. Ia menutup gulungan itu dan menunggu anak sulungnya berbicara.

"Besok adalah hari ulang tahun Daisuke. Apa kau tahu?"

Sasuke kembali menggeleng. Ia membuang mukanya ke arah lain dan tidak mau menatap mata hitam anaknya yang terasa menajam menatapnya.

"Oh, aku tidak terkejut," katanya sembari mendengus kecil. Benar-benar anak ini replikanya.

"Aku berulang tahun sekitar dua bulan yang lalu. Kaa-san membelikanku satu buah peralatan lengkap alat ninja untuk seusiaku. Aku sangat senang. Tapi tidak dengan kedua adikku, mereka tampak bosan." Ryuusei berkata dengan pelan. Ia takut suaranya akan membangunkan kedua adiknya dan juga Ibunya.

"Kau mengerti maksudku. Aku tidak akan mengharapkan apa-apa. Daisuke dan Ichigo menyayangimu. Tapi aku tidak, aku tidak tahu bagaimana aku menyayangimu seperti kedua adikku." Lanjutnya.

Sasuke menoleh menatap mata hitam putranya. "Kau ingin aku membelikan hadiah?" tanyanya.

Ryuusei hanya diam. Anak laki-laki itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Kakinya bergerak turun dari kursi meja makan dan berlalu pergi meninggalkan Sasuke sendiri bersama pikirannya.

.

.

Daisuke membuka kadonya dengan semangat. Sebentar lagi, Ichigo juga akan berulang tahun. Sakura sudah menyiapkan kejutan untuk putra kecilnya.

Daisuke mendapat tas dan beberapa peralatan bermain untuknya. Wajahnya terlihat senang dengan hadiah pemberian Ibunya. Sakura memeluk putranya dengan sayang dan mencium kedua pipinya.

"Selamat ulang tahun, anakku." Katanya dan Daisuke kembali memeluknya.

Sakura melirik ke arah pintu kamar Sasuke. Tidak ada tanda-tanda laki-laki itu akan keluar kamar. Sebenarnya apa yang ia harapkan? Sasuke tidak mungkin peduli dengan anak-anaknya.

Ryuusei berdiri di dekat tangga sembari bersandar. Ia sudah membantu Ibunya untuk membelikan Daisuke hadiah dan memesan kue ulang tahun berukuran cukup besar untuk Ichigo dan Daisuke bersamaan.

Ichigo terlihat kagum dengan mainan dan tas baru milik kakaknya. Anak laki-laki itu sepertinya menginginkan hadiah yang sama. Terlihat dari matanya yang membulat penuh mohon pada Sakura.

"Oh, tentu saja kau akan dapat hadiah, Sayang. Bersabarlah." Kata Sakura sembari mengecup penuh sayang pipi anaknya dan Ichigo terlihat sangat senang.

Ryuusei melangkah ke atas menuju kamar Sasuke. Sakura masih sibuk bersama kedua adiknya dan sepertinya Sakura tidak menyadari kalau anak sulungnya pergi diam-diam.

Ryuusei membuka sedikit pintu kamar Sasuke yang ia yakini tersimpan cakra yang besar miliknya. Tapi, setelah ia menggenggam gagang pintu itu, ia tidak merasakan apa-apa.

Kepalanya menyembul ke dalam. Kamar Sasuke tampak rapi, laki-laki itu sudah pergi sebelum mereka semua bangun. Ryuusei terkadang tidak mengerti dengan jalan pikiran Ayahnya.

Ia turun dengan wajah muram. Percuma saja ia semalam berbicara empat mata dengan Ayahnya. Berharap ia mau mengerti sedikit saja bagaimana keadaan kedua adiknya. Ia sangat salah. Ia tahu, Sasuke bukanlah Ayah idaman seperti Ayah lainnya di luar sana. Ia salah berharap banyak.

Ryuusei menarik tangan adiknya untuk pergi keluar bermain bersama Kuon sebelum ia akan sibuk masuk ke dalam akademi nanti. Ichigo memilih untuk pergi bersama Sakura ke rumah sakit untuk menemui Shizune. Dan mereka berjanji akan kembali sebelum jam empat sore.

.

.

Ini tengah malam. Manik hitam jelaganya tak kunjung terpejam. Ryuusei sangat lelah, tapi matanya bertolak dengan keadaannya.

Adiknya sudah tidur di sampingnya. Daisuke terlelap sebelum makan malam dimulai. Nanti malam ia sangat yakin, kalau Daisuke akan terbangun karena lapar.

Ibunya sudah tidur memeluk Ichigo. Suasanya kamarnya sudah sangat sepi dan ia sama sekali tidak berniat untuk turun ke bawah.

Ryuusei memejamkan matanya saat pintu kamarnya terbuka sedikit. Cakranya tidak bisa ia ketahui dengan jelas, ia takut. Sangat takut kalau sesuatu akan mencelakai keluarganya.

Sosok Sasuke muncul di tengah ruangan. Ryuusei membuka sedikit matanya untuk melihat apa yang Sasuke lakukan. Laki-laki itu menggendong Daisuke keluar dan tampaknya Daisuke yang baru saja terbangun langsung terlonjak kaget.

"Tou-san?" bisiknya kecil.

Sasuke menyuruhnya untuk diam. Sepertinya Ayahnya tidak tahu kalau Ryuusei, di sampingnya masih terbangun. Anak laki-laki itu berpura-pura memejamkan mata seolah tertidur pulas. Sakura juga tidak terusik dengan kehadiran Sasuke yang mengendap-endap seperti itu.

Daisuke pergi mengikuti Ayahnya dan pintu itu kembali tertutup. Ryuusei segera membuka matanya dan terduduk dengan wajah terkejut. Begitu pula sang Ibu yang duduk dengan matanya menyalang cerah. Sakura menyuruhnya untuk diam. Ichigo masih tertidur dan ia tak ingin membuat anaknya terbangun.

Ryuusei mengikuti Ibunya pergi ke luar kamar secara diam-diam. Mereka berdua tidak tahu kemana Sasuke membawa Daisuke pergi. Lampu ruang tengah menyala terang dan pekikan senang Daisuke terdengar sampai ke lantai atas.

"Terima kasih, Tou-san!" Teriak Daisuke kencang. Ryuusei mengintip dari celah anak tangga bersama Ibunya. Ia melihat jelas bagaimana Daisuke yang memakai sepatu barunya sedang berjalan-jalan memutari ruang tengah dengan wajah bahagianya. Diikuti dengan pandangan Sasuke yang terlihat tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Ia melirik Ibunya yang terlihat kaget dengan menutup mulutnya dan ia juga menunjukkan hal yang sama walaupun tidak secara terang-terangan.

Ayahnya, Uchiha Sasuke membelikan hadiah untuk adiknya, Daisuke.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

AN:

Any questions? Wkwk. Sepertinya untuk fic ini gabisa panjang-panjang wordsnya. Saya gatau kenapa, saya targetkan untuk 4k+ dan gagal. Jadinya Cuma 2k+ saja.

Q: Karin akan jadi peran antagonis di sini?

A: Bisa tidak bisa ya. Cuma kemungkinannya iya, tapi saya masih belum tahu.

Q: Ada orang ketiga dong dihubungan SasuSaku.

A: Engga, saya netapin dari awal kalau fic ini gaakan ada orang ketiganya. Baik pihak cewe ataupun pihak cowo. Konfliknya ya antar keluarga aja.

Q: Fic yang lain dilanjut kenapa ini engga?

A: saya punya kebebasan buat lanjut fic search mana aja yang saya mau. Maaf sebelumnya, saya gabakalan lupa sama fic ini. Tapi, setiap saya mau lanjut fic ini ide saya buntu. Saya ga jago buat fic search canon atau ngehurt gitu.

Q: Endingnya bahagia ga?

A: Hmm, kita lihat nanti ya.

Q: Kok gaada Sarada?

A: Dari awal fic ini dibuat, Sarada memang gamasuk ke dalam keluarga. Fic ini ada sebelum SasuSaku search canon. Jadi, gapapa ya kalau anak-anak mereka tetap laki-laki.

Q: Kenapa Karin ga mati aja?

A: WKWKWK. Koq kamu begitu :(

Q: saya udah nunggu fic ini sampai lumutan.

A: Maafin saya ya. Gamaksud buat ngegantungin readers. Tapi bener, saya emang mau ngerampungin fic ini tahun ini. Jadi, doakan saja ya semoga ga ngegantung lagi hiks.

Q: kok bisa sih ficnya sedih gini?

A: beneran? Saya selalu denger lagu-lagunya Krewella atau Calvin Harris atau Dj gitu kalau bikin fic sedih. Saya memang aneh ya /digaplok

Q: Kenapa authornya ganti penname?

A: ada alasan lain sih yang lebih spesifik, saya gasuka kalau nama saya ditiru-tiru gitu. Sorry before, ada yang ngikutin penname saya di sebuah situs dan saya kurang nyaman. Dan saya memilih untuk ganti. So, semoga kalian suka dengan penname baru saya ya hehe :3

Segitu dulu sesi tanya-jawabnya. Terima kasih buat kalian semua yang udah ngeluangin waktunya untuk baca fic ini. Maafkan juga kalau kurang ngefeels atau gimana. Saya kaget dapet review sebanyak ini padahal gaada apa-apanya. Terima kasih *cium satu-satu*

Saran, kritik dan sebagainya ditunggu hihi. Sampai bertemu lagi.

Setelah ini saya akan update The Day Life With Vampire dan The Marriage. Tunggu saja ya, yang nunggu Outside, Beautiful Disaster sabar ya hehe XD

Love

Delevingne (for the first time)