Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Family, Romance, Hurt/Comfort

Warning : TYPO bertebaran, OOC, dan masih banyak lagi

Pairing : Sasuke and Sakura

.

.

.

.

.

.

Sakura tidak bisa menutup mulutnya lebih lebar lagi ketika suara pekikan Daisuke yang kencang terdengar sampai ke telinganya. Anak laki-lakinya sangat senang ketika Sasuke membelikannya sepasang sepatu berwarna hitam yang sangat pas di kaki kecilnya.

Ryuusei menatap bergantian antara sang Ayah dengan Ibunya. Ekspresi Ayahnya tidak terlalu terlihat jika ia melihatnya dari atas sini. Ia berharap kalau Sasuke tidak tahu keberadaannya bersama sang Ibu yang mengintip mereka dari atas tangga. Sang Ibu sudah mematikan cakranya dan dirinya juga, tapi Sasuke orang hebat. Apakah mereka tidak ketahuan?

"Kaa-san akan turun ke bawah. Kau masuklah ke kamar," perintah Sakura yang diberi gelengan tegas dari putra pertamanya.

"Biar aku yang turun, Kaa-san tetaplah di kamar."

Sakura hendak berdebat dengan putra sulungnya sebelum langkah kecil Ryuusei mulai menginjak anak tangga turun ke bawah. Langkahnya terdengar mantap dan Sakura melihat kalau ekspresi wajah anaknya sama sekali datar. Ia sempat takut kalau Sasuke akan memarahi putra sulungnya atau mereka akan saling berdebat karena sikap Ryuusei itu. Tetapi kalau dilihat, Sakura mungkin bisa bernapas lega. Ryuusei terlihat acuh dan pergi ke dapur untuk minum.

"Lihat, Tou-san membelikanku sepatu baru!" Pekik Daisuke senang ketika ia melihat Ryuusei keluar dari dapur dan menatapnya seolah-olah bingung.

Tatapan Ryuusei berpindah ke bawah. Ia melihat sepasang sepatu hitam yang terpasang di kaki kecilnya. Wajah Daisuke tidak lagi terlihat mengantuk, melainkan berubah ceria. Ryuusei hanya tersenyum samar.

"Itu bagus, Daisuke."

Daisuke mengangguk, dia berkeliling dengan sepatu barunya tanpa memedulikan kalau malam sudah semakin larut dan ia harus tidur.

"Kau harus tidur, Daisuke," titah Ryuusei datar. Ia sempat melirik Uchiha Sasuke sekilas, dan lelaki itu tampak tidak terlalu memusingkan suara sepatu Daisuke yang agak berisik itu. Aneh sekali, biasanya Ayahnya membenci suara bising dan ia termasuk salah satu lelaki pencinta kedamaian dan ketenangan.

Sakura masuk ke dalam setelah Daisuke berlari naik ke atas tangga. Masih dengan cakra dimatikan, ia sengaja tidak menimbulkan suara langkahnya saat masuk ke kamar. Namun sayangnya, Uchiha Sasuke sempat melihatnya dan lelaki itu hanya mendengus.

"Apa?"

Sasuke menatap Ryuusei datar. "Apa yang kaulakukan di atas sana bersama Ibumu?"

Ryuusei menoleh terkejut dan melihat apakah Ibunya masih ada di atas tangga sana untuk mengintip mereka dari sana. Tetapi melihat sang Ibu yang sudah pergi, Ryuusei hanya mendesah.

"Tidak ada. Kau salah lihat," kilah Ryuusei masih bersikeras.

Sasuke hanya tersenyum samar. Sangat samar. Sampai oniks gelap milik Ryuusei harus menyipit ketika melihatnya.

"Hn. Terserah."

Ryuusei merasa kalau tidak ada lagi yang harus ia bicarakan dengan sang Ayah saat ini. Ia kembali melangkah untuk naik ke atas dan pergi ke kamarnya untuk tidur.

"Kau tidak perlu khawatir untuk hadiah adikmu nanti," Sasuke berkata ambigu yang membuat Ryuusei mengangkat alisnya tak mengerti. Lelaki itu mengangkat bahunya acuh dan pergi ke dapur seolah ia tidak berkata apa-apa tadi.

Ryuusei mendengus dan ia pergi ke atas dan bergabung bersama Ibu dan kedua adiknya untuk tidur.

.

.

Sebenarnya, Ryuusei malas untuk bangun pagi. Ia masih ingin bergelut untuk tidur sampai matahari terbit nanti. Tetapi goncangan tubuhnya semakin membuat dirinya lelah dan putus asa karena tingkah kedua adiknya. Dan sang Ibu yang melihatnya hanya tersenyum kecil tanpa menghentikan kegiatan kedua adiknya yang menyebalkan ini.

"Berhentilah! Aku ingin tidur," serak Ryuusei dan diberi tawa kecil dari kedua adiknya. Seolah mereka belum menyerah sampai disitu saja, Daisuke mulai menekan hidung mancung sang Kakak dan Ichigo yang mencubit pipinya gemas hingga memerah.

Ryuusei mendengus dan segera bangun dari tidurnya. Ia duduk dan tawa keras penuh kemenangan dari kedua adiknya terdengar nyaring di telinganya.

"Sudah, sudah, Sayang. Pergilah mandi, Kaa-san sudah siapkan air hangat untukmu," Sakura menepuk lembut bahu putra pertamanya dan Ryuusei segera bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

"Kaa-san, apa hari ini kita akan pergi bermain?" tanya Ichigo penuh semangat.

Sakura yang sedang merapikan ranjang Ryuusei hanya tersenyum. Ia menyusun bantal-bantal itu ke tempat semula dan menarik Ichigo untuk duduk di pangkuannya.

"Tentu saja. Tapi sebelum kalian pergi ke taman, pergilah ke rumah Kuon. Ajak dia bermain. Kalian mengerti?"

Keduanya mengangguk secara bersamaan dan Sakura memeluknya erat sembari menciumi kepala kedua anaknya bergantian. Ia kemudian menurunkan keduanya dari atas tempat tidur dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit karena Shizune menyuruhnya untuk datang dan membantunya untuk menyembuhkan beberapa ninja yang terkena racun di perbatasan desa.

.

.

Ryuusei berjalan di belakang kedua adiknya yang kini tengah berlarian menuju rumah Uzumaki Naruto untuk mengajak Kuon bermain. Dan sebagai tugasnya untuk menjaga mereka bertiga karena Ibunya telah menitipkan amanah itu padanya.

Ryuusei masih memikirkan apa yang dikatakan Sasuke tadi malam perihal kado untuk adiknya. Daisuke sudah mendapatkan sepatu, lalu Ichigo? Oh, benarkah kalau Ichigo akan mendapatkan hadiah juga darinya? Itu terdengar mustahil.

Tetapi Ryuusei berusaha menepisnya. Ia tidak akan memikirkan hal itu lebih jauh lagi atau nanti dia akan merasakan sakitnya karena adiknya menginginkan hadiah yang sama seperti Daisuke.

"Sepatumu baru, ya?"

Daisuke mengangguk dengan senyum lebar. "Tou-san yang membelikannya!" Pekiknya riang.

Ichigo terlihat tersenyum senang ketika melihat senyum di wajah Daisuke. Ryuusei yang melihatnya hanya memutar matanya bosan tapi tidak bisa menyembunyikan senyum kecil yang terbit di wajah tampannya.

"Kau juga akan dibelikan. Tou-san bilang begitu padaku semalam," kata Daisuke kalem yang direspon dengan mata melebar milik Ichigo yang terkejut.

Ryuusei mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak mendengar kalau Sasuke berbicara seperti itu pada Daisuke semalam, apa laki-laki itu menyembunyikannya?

Ryuusei maju selangkah dan membunyikan bel rumah Naruto terlebih dulu. Lalu pintu terbuka setelah bel ketiga berbunyi, Uzumaki Kuon yang membukanya.

"Ayo, kalian masuklah!"

Mereka bertiga masuk ke dalam dan Hinata sedang sibuk menyiapkan makanan di atas meja makan yang besar itu.

"Apa kalian sudah sarapan?"

Kepala Ryuusei, Daisuke dan Ichigo kompak mengangguk dan Hinata tampak tersenyum lembut. Ia menarik kursi untuk putranya duduk dan ketiga anak laki-laki tampan itu untuk ikut bergabung bersama putranya.

"Duduklah, aku akan bawakan tiga gelas susu untuk kalian juga." Hinata melesat pergi ke dapur dan membawakan empat gelas susu dalam satu nampan untuk mereka. Kuon tampak senang ketika susu kesukaannya tersaji di depannya.

"Terima kasih," gumam Ryuusei dengan suara kecil dan diberi anggukan Hinata.

Mereka telah selesai meminum habis susunya. Kuon segera berganti pakaian dan pergi ke taman bersama Ichigo yang berlari bersamanya. Hinata berjalan beriringan dengan Ryuusei yang sedang memandang kedua adiknya dari belakang.

"Aku titip Kuon, ya, aku harus pergi ke rumah sakit." Hinata menghentikan langkahnya di pertigaan jalan. Ryuusei menggangguk dengan senyum kecil dan Hinata dengan lembut mengacak surai rambut legamnya.

"Sampai jumpa!"

"Sampai jumpa, Kaa-san!" Teriak Kuon dari jauh ketika Hinata melambaikan tangannya.

.

.

Uchiha Sasuke duduk di warung ramen dengan siku yang menumpu kepala dan ekspresi kosong. Ia tidak tahu apa yang dipikirkannya. Ia sedang tidak ada misi dan ia bersikeras pada Tsunade untuk diberikan misi lama agar ia bisa keluar untuk mencari udara segar beberapa lama. Kepalanya masih berdenyut nyeri memikirkan apa yang terjadi ketika ia kembali ke Konoha. Tiga anak kecil menghampirinya dan memanggilnya Ayah. Lalu, mereka bilang mereka menginginkan dirinya untuk menjadi Ayah mereka.

Sasuke tidak bisa menerimanya begitu saja. Dia harus mencernanya baik-baik dan penjelasan Godaime Hokage itu tidak membantunya sama sekali. Hanya karena ingin meneruskan klan-nya, bukan berarti memakai cara seperti ini tanpa sepengetahuannya.

Dia belum berniat menikah dalam waktu dekat ini. Jika ditanya siapa calonnya nanti, dia juga belum bisa menjawabnya. Apalagi memiliki anak. Dia belum berpikir sejauh itu. Meskipun keinginannya untuk meneruskan klan-nya masih sangat berkobar di dalam dirinya.

Ia mendorong semangkuk ramennya itu dari hadapannya. Sakura sudah menyiapkan sepiring sarapan untuknya yang sengaja ditinggalkan wanita itu di atas meja makannya. Tetapi Sasuke tidak memakannya. Entahlah, ia sendiri bingung kenapa ia tidak memakan masakan buatannya. Menurutnya, masakan Sakura tidak terlalu buruk.

"Ramen berukuran jumbo satu, Paman!" teriak Naruto dari tepi pintu warung. Naruto mengangkat satu alisnya ketika menemukan rekan satu timnya tengah duduk dan melamunkan sesuatu yang tidak ia tahu. Dan ramen di mangkuknya sudah terlihat mendingin.

"Hei, Sasuke," sapa Naruto ketika ia duduk di samping lelaki itu.

"Hn."

"Kau memikirkan apa?" tanya Naruto.

Sasuke menarik tangannya dan melipatnya di atas meja. "Tidak ada," jawabnya singkat.

Naruto hanya mengangguk-angguk lalu mulai memakan ramen pesanannya ketika datang. Sasuke yang melihatnya hanya mendengus dan menatap semangkuk ramennya yang mulai mendingin. Ia tidak bernapsu untuk memakannya. Tidak, ia tidak lapar sama sekali.

"Untukmu saja," Sasuke mendorong semangkuk ramen miliknya dan membiarkan Naruto yang tengah melebarkan matanya kini menatapnya bingung. Namun tidak dipedulikannya, ia memilih untuk menarik mangkuk ramen itu mendekat dan akan ia habiskan juga.

.

.

Ryuusei pergi untuk mencari bangku yang kosong karena taman ini tampak ramai oleh pengunjung yang ingin bermain. Kebanyakan dari mereka datang ditemani oleh kedua orang tuanya. Ryuusei tidak pernah keberatan akan hal itu. Ibunya sedang sibuk, dia tidak akan pernah menuntut haknya pada sang Ibu agar wanita itu selalu ada di sampingnya. Ibunya juga seorang ninja. Ninja yang hebat, Kunoichi berbakat di desanya, ia tahu bagaimana kesibukan Ibunya. Selama ia masih bisa menjaga kedua adiknya dengan baik, itu tidak masalah.

Ichigo bermain bersama Kuon dan Daisuke tampak asyik dengan ayunannya. Mereka tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing dan Ryuusei tetap duduk di kursi untuk menjaga mereka.

Sebenarnya, suasana hari ini cukup sepi. Entah kenapa Ryuusei merasakan ada hal yang tidak enak akan terjadi nanti. Tapi ia tidak tahu apa itu. Instingnya sebagai anak dari ninja hebat Konoha yang mengatakannya.

Oniksnya tetap fokus pada kedua adiknya yang tengah bermain dan juga Kuon. Jika salah satu diantara mereka terjadi sesuatu, dia akan dengan cepat menolongnya.

.

.

Hari semakin siang. Sakura melirik jam dinding yang terletak di atas pintu ruangannya. Ia khawatir akan keadaan ketiga putranya. Hinata sudah berbicara dengannya kalau Kuon ikut bermain dengannya dan setelah selesai, Hinata akan datang ke taman untuk mengajak mereka pulang.

Sebenarnya Sakura ingin sekali mengajak ketiga putranya untuk kembali ke rumah lama mereka dan tidak tinggal bersama Uchiha Sasuke yang notabene Ayah kandung mereka. Tetapi karena kedua putranya, Ichigo dan Daisuke yang sangat menginginkan kehadiran sosok Ayah di hidupnya, membuatnya harus berpikir ulang untuk kembali ke rumah lamanya.

Ia tidak mungkin mengecewakan dua buah hatinya. Ia tidak akan setega itu. Hatinya akan hancur jika melihat salah satu dari mereka menangis.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, ia kemudian berdiri dan membuka pintu itu. Membiarkan Shizune masuk bersama beberapa racikan obat di tangannya.

"Sakura, ada tiga orang anggota Anbu yang baru saja masuk karena terkena racun berbahaya, kau harus segera mencari penawarnya dan berikan padaku," seru Shizune yang langsung diberi anggukan Sakura. Wanita itu segera pergi ke tempat penyimpanan obat dan cadangan daun-daunan herbal untuk membuatkan penawar racun bagi mereka.

.

.

Suasana taman mulai tampak sepi. Satu persatu dari mereka sudah kembali ke rumah masing-masing. Ryuusei sudah mengajak kedua adiknya untuk kembali ke rumah, tetapi mereka masih bersikeras untuk tetap bermain.

"Aku haus," kata Daisuke ketika ia menghampiri Ryuusei. Dengan anggukan kecil, Ryuusei segera pergi ke kedai penjual minuman untuk membelikan adiknya segelas air minum.

DUAAARR

Ledakan keras membuat tubuh kecil Ryuusei terpental hingga beberapa meter jauhnya hingga punggung kecilnya membentur pohon besar dan membuatnya meringis kesakitan.

Teriakan dari para warga sekitar dan beberapa kerusakan di taman membuatnya terkejut. Dengan menahan rasa sakit di punggungnya, ia segera pergi untuk melihat kedua adiknya. Terdengar suara tangisan Kuon dan luka goresan yang cukup dalam dari anak itu. Ryuusei segera menggendongnya dan membawanya ke tempat yang lebih aman.

"Tunggu di sini, Kuon. Aku harus melihat adikku,"

Kuon mengangguk dengan isakan pedihnya karena menahan goresan di kaki dan tangannya. Bajunya robek di beberapa bagian dan wajahnya tampak memar karena terbentur akibat ledakan keras itu.

"Daisuke! Ichigo!" Teriak Ryuusei ketika ia berlarian memutari taman untuk mencari kedua adiknya. Namun nihil, keadaan taman yang berantakan membuat hati Ryuusei mencelos karena tidak bisa menemukan kedua adiknya.

Lalu, tidak lama suara tangisan seperti dikenalnya langsung membuatnya menoleh. Ia pergi mencari sumber suara dan mendapati adiknya, Daisuke tengah berjuang untuk mengangkat tiang ayunan yang berat menindih kaki kecilnya.

"Pelan-pelan," kata Ryuusei lirih ketika melihat wajah adiknya yang kesakitan. Bala bantuan segera datang, ia melihat Yamanaka Ino, sahabat Ibunya datang dan membantunya untuk mengangkat tiang ayunan itu.

"Aku akan menolongmu, Daisuke, jangan menangis," bisik Ino lembut. Ryuusei yang mengerti dengan isyarat kedipan mata Ino segera pergi untuk mencari Ichigo.

"Dia disana. Dia dibawa oleh seseorang bertubuh besar," kata anak kecil berambut keemasan yang tengah duduk dengan luka di lututnya. Ryuusei segera mengangguk dan pergi berlari untuk mengejar Ichigo.

"Ichigo, bertahanlah."

.

.

DUAAARR

Sasuke menoleh ketika mendengar bunyi ledakan keras terdengar sampai ke telinganya. Arah ledakan itu terdengar dari taman desa. Oh, sial. Ketiga anaknya disana!

Naruto segera berlari untuk menyusul Sasuke yang kini lebih dulu berlari mendahuluinya. Sasuke sudah sampai di tempat kejadian. Ia terkejut ketika mendapati keadaan taman yang hancur dan beberapa dari alat permainan di sana tampak terbelah menjadi beberapa bagian.

Naruto menghampiri seorang anak kecil yang tengah duduk dengan terisak sembari memegangi kakinya yang berdarah. Sasuke mengikutinya dengan langkah gelisah.

"Tou-san, mereka membawa Ichigo pergi. Daisuke sedang bersama Bibi Ino," lirih Kuon dengan terbata-bata.

"Dimana Ryuusei?" tanya Sasuke.

Kuon menangis sesenggukan. Naruto memeluknya dan menggendongnya keluar dari area taman.

"Dia pergi menyusul Ichigo."

.

.

Sakura berlari keluar rumah sakit dan melupakan racikan obatnya. Ia sudah menitipkannya pada Shizune dan yang ada di kepalanya adalah ketiga anaknya.

"Kamisama.."

Sakura pergi ke taman dan mendapati keadaan taman yang hancur berantakan. Ia melihat Ino yang tengah mengobati luka putra keduanya, Daisuke yang terlihat meringis perih karena kakinya tertindih tiang ayunan yang berat.

"Kaa-san," isak Daisuke. Sakura memeluknya. Tubuhnya bergetar karena ia belum menemukan kedua anaknya yang lain.

"Ichigo … dia dibawa pergi oleh seseorang dan Ryuusei mengejarnya."

Jantung Sakura seketika berhenti berdetak saat itu juga. Daisuke masih menangis di pelukannya dengan Ino yang masih mengobati lukanya. Wajah Sakura memerah seketika. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi dan menyerang desanya secara tiba-tiba setelah tiga tahun hidup dengan damai tanpa ada musuh yang menyerang desa mereka.

"Sayang, tetaplah disini, ya. Kaa-san harus menyusul kedua saudaramu yang lain. Oke? Biarkan Bibi Ino mengobatimu," Sakura melepas pelukan anaknya dan membiarkan Ino yang menjaganya saat ini.

Sakura segera melesat pergi menuju taman untuk mencari kedua anaknya yang lain. Ia bertemu Naruto yang memberikan anaknya pada Hinata untuk dibawa ke rumah sakit dan bersiap untuk pergi setelah itu.

"Sakura-chan!" Teriak Naruto.

Sakura menghampiri Naruto dengan wajah memerah dan tubuhnya yang bergetar. Ia tidak bisa menemukan kedua anaknya yang lain. Kemana musuh itu membawanya pergi.

"Sasuke sedang mengejar mereka. Aku akan menyusulnya,"

Sakura tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Ia hendak berlari untuk menyusul kedua anaknya tetapi lengan Naruto menahannya.

"Sasuke menyuruhku untuk menahanmu disini. Dia yang akan menyelamatkan kedua anaknya. Kau tetaplah disini, bantu anak-anak lain yang terluka," ucap Naruto.

Kedua iris hijau Sakura tampak berkaca-kaca. Namun ia mengangguk kecil. Menyetujui ucapan Naruto. Dengan cepat, Naruto segera berlari dan melompat dari pohon satu ke yang lain untuk menyusul Sasuke pergi.

.

.

Sasuke mengaktifkan sharingan miliknya untuk mendeteksi dimana musuh sialannya itu berada. Berani sekali dia menculik anaknya dan menyakitinya. Ia melihat Daisuke yang terluka dan ia tidak bisa menolongnya karena ia harus menyelamatkan kedua anaknya yang lain.

Suara isakan kecil membuat pandangannya semakin tajam. Ia melihat ada sosok kecil yang tengah terbaring lemah tak berdaya di bawah pohon besar dengan beberapa luka besar di tubuh kecilnya.

"Tou-san," isak Ichigo yang berjuang menahan rasa perih di tubuhnya.

Sasuke segera menolongnya dan menggendongnya agar nyawa anaknya terselamatkan. Ia berhati-hati untuk tidak menyentuh luka yang menganga lebar di perut kecil anaknya. Lalu, cakra Naruto yang besar membuatnya menoleh, Naruto datang dan menawarkan bantuan untuknya.

"Bawa dia pergi ke rumah sakit, Naruto. Aku akan mencari Ryuusei," perintah Sasuke dengan nada panik ketika menyadari wajah anaknya yang semakin pucat.

Naruto mengangguk mengerti. Dengan hati-hati ia memindahkan Ichigo dari pelukannya ke pelukan Naruto. Dengan langkah terburu-buru, Naruto segera berbalik dan kembali ke desa untuk menyelamatkan nyawa Ichigo.

Sasuke melanjutkan perjalanannya. Ia tidak menemukan adanya cakra milik anaknya atau musuhnya di dekat sini. Jarak antar pintu gerbang desa dengan dirinya semakin menjauh perlahan-lahan, tetapi ia tetap tidak bisa menemukan dimana putra sulungnya berada.

Dahi Sasuke berkerut ketika melihat ada sosok yang terbawa arus sungai yang deras. Sosok itu tidak sadarkan diri dan bajunya yang tadinya terpasang sempurna, robek dimana-mana. Luka anak itu jauh lebih banyak dari kedua anaknya yang lainnya. Sasuke segera mendekat dan mencoba menyelamatkan nyawa putra sulungnya yang tengah diambang kematian.

Tubuh kecil itu hampir saja hanyut ke dalam sungai yang dalam itu jika Sasuke tidak menolongnya dengan cepat. Wajah putranya sangatlah pucat dan tidak ada pergerakan yang menandakan kalau anaknya masih hidup. Napas anak itu tampak terputus-putus dan Sasuke semakin panik dibuatnya.

"Bertahanlah sebentar lagi…"

.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

.

Author Note:

Okay, pertama-tama saya mau ngucapin makasih banget yang udah review di chapter kemarin dan nanyain kejanggalan diantara ketiga anaknya Sakura, ya?

Sebenarnya kemarin saya mau bilang kalau ada beberapa perubahan tetapi saya lupa hihi /lolz/

Ryuusei, Daisuke, Ichigo tetap kembar. Tetapi kenapa tanggal lahirnya beda? Sebenarnya masih sama. Cuma Sakura dan Tsunade memutuskan untuk membedakan tanggal lahir mereka sesuai urutan mereka. Karena Ryuusei dianggap paling dewasa diantara kedua adiknya, jadi ulang tahunnya berbeda sendiri. Sedangkan Daisuke dan Ichigo hanya berbeda dua hari. Untuk kelahiran mereka masih tetap sama. Ryuusei, Daisuke baru Ichigo.

Anyway, kalau masih bingung tanyakan lagi tidak apa-apa. Sebisa mungkin chapter depan saya jawab.

Sekali lagi, terima kasih yang udah nunggu fic ini update! Saya gatau mau bilang darimana, intinya makasih banget. Dan saya belum bisa nuntasin ficnyaa.

Lots of Love

Delevingne