Apakah kalian semua tahu?

Di tengah era modernisasi dan globalisasi ini, masih ada sebuah tempat yang hampir tidak terjamah oleh kecanggihan mesin dan tekhnologi.

Bukannya orang-orang tidak mau berusaha untuk menjamah tempat tersebut dengan tekhnologi yang modern.

Tapi mereka lebih memilih untuk membiarkan tempat tersebut terbengkalai sia-sia dan ditelan oleh zaman.

Karena apa?

Sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, tak ada satupun orang yang dikabarkan pulang dengan selamat setelah memasuki tempat itu.

Tempat terpencil berwujud pulau kecil itu memang telah populer di kalangan masyarakat luas karena kengerian dan keangkerannya.

Dan orang-orang menamai pulau itu dengan nama ... PULAU OBAKEYASHI.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : M

Genre : Horror/Mystery

Warning : AU, Gore, Sadist, Tidak cocok dibaca anak di bawah umur

"Sasuke..sasuke..ayo bangun. Ini sudah pagi nak"

Samar-samar kudengar suara wanita yang memanggil-manggil namaku pelan.

"Engghhh...i..ibu. Ini kan hari libur bu" Dengan berat hati akupun terpaksa bangun. Walaupun jujur hatiku malas sekali untuk bangkit dari ranjangku. Dan mataku masih terasa berat untuk kubuka.

"Walaupun ini hari libur, kamu tidak boleh bangun siang nak. Ibu tidak mau kamu menjadi anak yang pemalas. Sudah, ayo bangun dan mandi" Kata ibuku sambil menyapu lantai kamarku yang terkesan acak-acakan ini.

"Huh, dasar ibu. Inikan hari pertama libur panjangku. Dan ini masih jam 6 pagi. Masa hari libur gak ada bedanya dengan hari biasa?" Protesku sambil melangkah terseok-seok menuju kamar mandi akibat masih mengantuk.

O ya, sebelumnya perkenalkan. Namaku adalah Sasuke. Lengkapnya Sasuke Uchiha. Aku adalah seorang pelajar kelas XI SMA Konoha yang sebenarnya setelah melalui libur panjangku ini aku akan naik ke kelas XII. Tadi yang membangunkanku adalah ibuku. Namanya Uchiha Mikoto. Aku tinggal serumah dengan kedua orang tuaku dan kakakku. Tapi karena kakakku Itachi sudah kuliah di luar kota jadinya ia jarang di rumah. Ia lebih senang hidup mandiri di kostnya daripada tinggal di rumah. Baiklah, daripada terlalu lama perkenalannya lebih baik aku bergegas mandi dulu karena hari ini aku punya acara penting bersama teman-temanku.

-Obakeyashi Island-

Setelah mandi, akupun bersiap-siap untuk berkumpul bersama teman-temanku di rumah Hinata. Yah tahu sendirilah siapa Hinata itu. Anak dari pengusaha besar pemilik Densetsu Hyuuga corporation. Pastinya kalian bisa menebak rumahnya seperti apa kan? Maka dari itu tempat yang di pilih untuk pertemuan kami adalah di Hyuuga mansion.

"Ibu ayah, aku pergi dulu ya ke rumah Hinata" Kataku singkat kepada ayah dan ibuku yang sekarang sedang menonton televisi di ruang keluarga.

"Sasuke, ini ibumu sudah membuatkanmu sandwich tuna kesukaanmu. Lebih baik kamu makan dulu baru pergi setelah itu" Saran ayahku.

"Hn, baiklah" Jawabku singkat sambil mencomot sandwich tuna di meja makan dan lalu bergegas pergi.

"Kamu tidak makan dulu disini Sasuke? Nanti maagmu kumat loh" Ibuku mengingatkanku.

"Tidak ah. Kumakan nanti saja di rumah Hinata" Balasku sambil mengambil kunci motorku di atas lemari dan langsung menuju garasi di mana motorku terparkir.

Setelah sampai di garasi, aku lalu segera menunggangi motor Suzuki GSX 750 Kesayanganku dan langsung menstarternya.

BRUMM..BRUMM..BRUMMM...

Ketika sedang memanasi mesin motorku, tiba-tiba handphone di saku celanaku bergetar. Akupun segera mematikan mesin motorku dan segera mengangkat telpon yang masuk barusan.

"Halo, ini siapa ya?"

"Woy teme, ini aku Naruto. Kau lama sekali sih. Sejak tadi semua sudah menunggumu lho. Tinggal kau saja yang belum datang. Cepat teme"

"Cuih, berisik sekali kau dobe. Baiklah, aku akan segera kesitu"

"Jangan lama-lam..."

Sebelum si bodoh itu ngoceh lagi, segera ku matikan handphoneku dan langsung bergegas berangkat menuju ke Hyuuga mansion.

-Obakeyashi Island-

Sesampainya di depan rumah megah milik keluarga Hyuuga, akupun langsung turun dari motorku dan segera memencet bel yang terletak di sisi kanan gerbang rumah.

'Besar sekali rumah ini. Kira-kira, berapa biaya untuk membangunnya ya?' Batinku.

Tak lama kemudian gerbang megah rumah itu terbuka.

"Sa..suke-kun, ayo masuk" Sahut seseorang di depanku.

Tapi karena saking kagumnya dengan keindahan dan kemegahan Hyuuga mansion, aku tak mendengar ada seseorang yang memanggilku.

"Sasuke-kun? Tu..tunggu apalagi. A..yo masuk" Orang itu tiba-tiba menepuk pundakku.

"Ehhh? Siapa kau? ... oh kau rupanya Hinata. Sial, kau mengagetkanku saja" Karena saking asyiknya mengamati rumah Hinata, akupun tidak sadar ada Hinata di hadapanku yang membuatku kaget setengah mati barusan.

"Motornya di..bawa masuk saja. Teman-teman su..sudah menunggu daritadi loh" Ujar Hinata sambil tertawa kecil karena melihat kelakuan bodohku tadi.

"Baiklah" Balasku singkat.

Hinata pun mengantarku masuk menuju tempat dimana teman-teman kami berkumpul. Jujur saja aku masih cukup bingung dengan lorong-lorong dan ruangan-ruangan di Hyuuga mansion. Aku baru tiga kali kesini dengan hari ini. Dan kupikir untuk menghafalkan seluk-beluk mansion megah ini dibutuhkan setidaknya sepuluh kali kunjungan. Kurasa begitu.

Setelah memasuki ruangan paling ujung, akhirnya aku melihat teman-teman sedang berkumpul sambil bersendau-gurau. Ada si bodoh Naruto, Ino, Shikamaru, Sai, Chouji, dan tak ketinggalan si jidat lebar yang cerewet alias Sakura.

"Woy teme! Lama sekali kau datang" Naruto melambai-lambaikan tangannya ke arahku.

Tanpa mempedulikan sambutan gaje dari Naruto, aku pun segera duduk bersama mereka.

"Kau lama sekali sih Sasuke. Bukannya kemarin kita sudah janjian akan berkumpul di rumah Hinata jam 7 pagi. Sekarang sudah jam 8 dan itu artinya kami semua harus menunggumu selama satu jam. Tch, merepotkan" Protes si nanas pemalas alias Shikamaru atas keterlambatanku.

"Maafkan aku semuanya" Balasku singkat. Aku bersyukur tadi ibuku membangunkanku lebih awal. Seandainya saja tadi ibu tidak membangunkanku lebih awal, pastinya aku akan menjadi bahan gunjingan di antara teman-temanku.

"Sudah, daripada kita membuang-buang waktu lagi, lebih baik kita to the point dengan acara kita ini" Saran Sakura.

"Bhennyarrr Shyyakurra. Ahyyoo kittha bahass lhangghsungg achharahnyah" Timpal Chouji dengan mulut penuh makanan.

"Mau bahas langsung bagaimana jika kau masih sibuk dengan urusan perutmu Chouji" Sindir Ino kepada Chouji yang kini masih sibuk mengunyah makanan mewah hidangan keluarga Hyuuga.

"Gimana nih tentang rencana wisatanya teman-teman? Pastinya besok kita akan pergi kemana?" Tanya Naruto penuh harap.

O ya, aku lupa memberitahukan tentang acara yang akan kami lakukan hari ini. Rencananya hari ini kami berdelapan akan membahas dan mendiskusikan tentang wisata liburan kali ini. Tentunya liburan panjang tanpa adanya wisata bagai sayur tanpa garam kan?

"A..aku sudah memikirkan beberapa te..mpat yang bisa kita kunjungi. Kupikir ki..kita bisa mencoba berkunjung ke pa..pantai Kumogakure. Jika tidak, bi..bisa juga kita mencoba berwisata ke pe..pegunungan Hozuki di daerah Iwagakure" Saran Hinata dengan harap-harap cemas takut usulnya akan ditolak.

"Jangan Hinata-chan. Tempat itu terlalu biasa dan kurang mempunyai nilai estetika yang lebih" Komentar Sai yang sedari tadi terdiam karena dirinya ternyata sedang sibuk membuat lukisan sketsa ruangan ini.

"Halah, sok gaya kau ini Sai pakai bawa-bawa nilai estetika segala. Tapi walaupun begitu, ada benarnya juga sih komentarmu Sai. Terlalu biasa dan kurang menantang" Komentar Naruto.

Sedangkan Hinata yang mendengar bahwa sosok laki-laki yang di cintainya menolak usulnya hanya bisa kecewa dan terdiam tanpa kata.

"Bagaimana kalo wisata kali ini menjadi liburan wisata kuliner? Bagaimana?" Chouji mengeluarkan usul yang hanya di pikirnya berdasarkan keinginan pribadinya saja. Dan sontak saja, seluruh orang di ruangan hanya bisa menggelengkan kepala pelan.

Dalam beberapa menit semua orang terdiam dalam pikirannya masing-masing. Memang kuakui tidak mudah untuk menentukan hasil mufakat dalam musyawarah yang diikuti delapan anak kelas XI SMA ini.

Tiba-tiba...

"Aha! Aku ada ide!" Celetuk Ino dengan seenaknya sendiri yang sontak saja membuat kami bertujuh di ruangan ini hampir kena jantungan.

"Jangan mengagetkan seperti itu Ino. Dasar kau ini" Protesku atas sikapnya yang heboh mendadak barusan.

"Maaf deh semuanya, O ya, aku punya usul bagus nih tentang tempat yang sepertinya akan bisa memuaskan kita di liburan kali ini. Dan tentu saja tempatnya unik dan ... menantang" Kata-kata Ino barusan membuat seluruh mata memandangnya dengan pandangan penasaran.

"Memangnya, tempat mana yang kau maksud? Semoga saja tempat itu mudah di tuju dan yah ... tidak merepotkanku" Sahut si tuan pemalas, Shikamaru.

"Dengarkan baik-baik ya. Tempat ini cukup mudah untuk di jangkau. Dan pastinya tak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk berlibur di sana. Dan terakhir, yang pasti tempat ini amat menantang plus penuh sensasi deh" Ino tambah menggebu-gebu dalam menjelaskan.

"Dimana memangnya itu Ino-pig?" Tanya Sakura dengan nada cukup mengejek.

"Eh, kau jangan meremehkanku ya jidat lapangan. Ini tempat yang kumaksud" Ino lalu mengambil selebaran di tas kecilnya dan menunjukannya kepada yang lain.

"Kau dapat darimana selebaran ini Ino?" Tanya Sai.

"Tentunya dari pamanku Sai-sayang" Jawab Ino dengan nada manja.

"Pu..pulau Sunakoshi?" Kata Hinata sambil mengeja judul yang tertera di selebaran itu.

"Iya. Sunakoshi adalah pulau kecil yang terletak di perairan Kirigakure. Pamanku bulan lalu habis berlibur 3 hari di sana. Katanya indah banget loh pemandangannya. Pantainya juga bagus" Promosi Ino.

"Tapi kita harus hati-hati ..." Kata-kata serius dari mulut Shikamaru barusan membuat seluruh kepala menoleh kepadanya.

"Pulau Sunakoshi berada di jajaran kepulauan di perairan Kirigakure, yang konon di antara sekian pulau kecil di sana terdapat satu pulau yang amat angker dan terlarang. Pulau keramat itu berada paling ujuh dan paling jauh di antara pulau-pulau yang lain" Sontak saja seluruh orang di ruangan itu yang barusan mendengar perkataan Shikamaru mendadak merasa merinding.

Shikamaru mengambil segelas air putih di meja dan meminumnya sampai habis. Dan setelah itu ia pun melanjutkan ceritanya.

"Pulau angker itu seratus dua puluh tahun yang lalu sebenarnya di fungsikan sebagai tempat pengasingan tahanan perang dan juga sebagian sebagai bangsal rumah sakit jiwa. Akan tetapi pada suatu hari ... ada seorang dokter rumah sakit jiwa yang entah kenapa tiba-tiba saja dia menghabisi seluruh penghuni rumah sakit jiwa itu tanpa sisa. Dan setelah peristiwa genosida massal itu, dokter psikopat itu di temukan bunuh diri di kantornya. Dan dalam beberapa bulan kemudian setelah peristiwa pembunuhan massal itu, para tahanan perang di pulau itu perlahan-lahan menjadi gila dan mereka saling membunuh satu sama lain. Hingga sekarang, penyebab pasti dari peristiwa mengerikan ini masih belum diketahui dan pemerintah Jepang sepakat menutup kasus ini rapat-rapat" Setelah berbicara panjang lebar, Shikamaru kembali menuangkan air putih di teko ke gelasnya dan kemudian meminumnya.

"Ba..bagaimana kau bisa tahu cerita itu? Apakah cerita itu tidak bohong Shika?" Tanya Chouji penasaran.

"Aku bersumpah cerita ini asli dan bukan mengada-ada. Memangnya Kalian semua tidak tahu-menahu tentang kisah ini hah?" Shikamaru melontarkan pertanyaan dengan wajah agak curiga.

Semua orang di ruangan hanya bisa terdiam termasuk aku. Tapi tiba-tiba Hinata mengeluarkan suaranya.

"A..aku sebenarnya pernah mendengar kabar tentang ha..hal itu dulu. Kakak sepupuku Neji yang memberitahukan hal itu pa..padaku" Kata Hinata sambil memainkan jari telunjuknya.

"Jadi, apakah kita masih berniat untuk berwisata di pulau Sunakoshi yang konon katanya dekat dengan pulau angker itu?" Tanyaku setelah sekian lama terdiam.

Semuanya kembali hening dalam pikirannya masing-masing termasuk aku. Jujur saja dari dalam hatiku mengatakan bahwa liburan kali ini akan membawa hal-hal yang kurang baik, bahkan cenderung buruk. Tapi kurasa itu hanya perasaan negatifku saja.

"Buat apa kita ragu? Bukankah kita akan menuju pulau Sunakoshi? Bukan pulau yang berhantu itu?" Naruto tiba-tiba mengemukakan pendapatnya.

"Ya, ada benarnya juga kata Naruto. Dan bukannya pamanmu aman-aman saja setelah berwisata ke pulau Sunakoshi itu Ino?" Tanya Sakura kepada Ino.

"Sebenarnya jarak antara pulau Sunakoshi dengan pulau angker itu cukup jauh sih. Dan kurasa tak ada salahnya kita berkunjung ke pulau yang katanya indah itu kali ini. Bagaimana, apa semuanya setuju?" Tanya Ino kepada seluruh orang di ruangan ini.

"Baiklah, kita akan mengadakan voting mendadak. Oke, siapa saja yang setuju kita akan berwisata ke pulau Sunakoshi?" Setelah Shikamaru mengadakan voting mendadak, tak lama kemudian banyak jari telunjuk yang mengacung di udara.

Pertama di mulai dari Sai, lalu Naruto, Sakura, Chouji, Ino, dan terakhir Hinata. Tak lupa Shikamaru mengacungkan jari pertama kali setelah ia mengambil voting tentunya.

"Teme, kenapa kau tak mau ikut heh? Atau, jangan-jangan kau takut ya? Hayo, kau takut ya teme?" Naruto tiba-tiba langsung memojokanku karena hanya akulah satu-satunya orang yang tidak mau ikut.

Jujur, dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam ada semacam perasaan takut dan cemas yang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Tapi, setelah aku berpikir sejenak kurasa tak ada salahnya aku mengikuti liburan kali ini. Dan kurasa perasaan takut dan cemasku ini hanya paranoid belaka yang tak ada gunanya.

"Baiklah ... aku ikut" Kataku sambil mengacungkan jari telunjuk.

"Bagus, oke. Sekarang kita semua telah sepakat akan berlibur ke pulau Sunakoshi. Kita akan berangkat besok pagi jam 7. Dan untuk transportasinya, emm ... bagaimana ya? Kita kan butuh yacht untuk menuju pulau itu. Dan biaya untuk menyewa kapal yacht tidaklah murah" Kata Shikamaru sambil memasang pose berpikir.

"A..aku sudah putuskan. Biar aku saja yang akan membiayai wisata kita kali i..ini. Dari awal sampai akhir, bagaimana teman-teman?" Tawar Hinata dengan ramah.

Tanpa ba-bi-bu, sontak saja seluruh orang di ruangan bersorak-sorai dan bertepuk tangan atas kebaikan Hinata.

Bahkan Naruto saking senangnya sampai memegang tangan Hinata dan tentu saja Hinata hampir pingsan di buatnya.

"Oke semuanya, pertemuan kita selesai sampai disini. Ayo kita pulang dan beristirahat yang cukup demi kelancaran liburan esok hari" Usul Naruto dan disertai anggukan kepala dari yang lain.

Satu per satu dari kami berpamitan kepada Hinata dan tak lupa, berterima kasih atas kebaikannya itu.

Setelah yang lainnya pergi pulang, kini tinggal aku dan Shikamaru yang masih berada di ruangan itu. Akupun menepuk pundak Shikamaru sebelum ia beranjak pulang ke rumah.

"Shikamaru, tunggu sebentar" Kataku.

"Eh? Ada apa Sasuke?" Tanyanya penasaran atas tingkahku ini.

"Sedari tadi kau menjelaskan tentang pulau yang katanya angker, kau tak menceritakan kepada kami nama pulau itu. Aku hanya penasaran saja. Memangnya, apa nama pulau itu?" Aku jujur penasaran dengan nama pulau angker nan misterius yang tadi Shikamaru jelaskan.

"Kau mau tahu namanya? Namanya adalah pulau Obakeyashi yang artinya adalah tempat keramat" Jawab Shikamaru singkat.

"A..apa katamu?" Jujur saja, lagi-lagi perasaanku mengatakan yang tidak-tidak tentang pulau itu.

Apakah, kami berdelapan akan baik-baik saja nantinya?

-Tsutzuku-

Akhirnya, keinginan author untuk membuat fic genre horror tercapai juga. Walau masih satu chapter sih. O ya, jika para readers sekalian menantikan adegan kekerasan dan pembunuhan mungkin akan mulai author tampilkan di chapter kedua. Maklum lah, chapter satu kan baru pemanasan. Jadinya horrornya belum kerasa deh. Yosh, gak pake lama. Bagi yang ingin ngasih kritik, saran, ataupun flame akan author terima deh. Makasih banget ya udah nyempatin waktu buat mbaca fic ini.