"Yosh! Semuanya sudah siap untuk berangkat?" Tanya Naruto dengan penuh semangat.
"Iyaaa" Seru Ino, Chouji, Sai, Sakura, dan Hinata.
Sedangkan aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala pelan. Dan si manusia nanas itu? Sudah bisa ditebak. Hanya sepatah kata 'merepotkan' saja yang keluar dari mulut pemalasnya.
Kini kami berdelapan sudah bersiap untuk berangkat ke pulau Sunakoshi yang katanya membutuhkan waktu 2 jam untuk mencapainya dari pelabuhan Kirigakure ini.
Untung saja Hinata sudah berbaik hati mau membayari transport pulang-pergi dengan menggunakan kapal yacht yang lumayan mewah ini. Jika tidak? Mungkin kami akan menggunakan perahu biasa yang kecil dan sumpek.
"Wow, keren banget interiornya" Celoteh Naruto ketika pertama kali memasuki yacht.
"Iya benar. Berapa ya harga kapal ini? Kalo aku kaya, pasti akan kubeli satu" Kata Ino.
"Sampai lebaran jerapah gak mungkin kau sanggup membeli kapal ini. Menyewa saja sudah keteteran, apalagi membeli?" Sindir Sakura sarkastis.
"Cerewet kau jidat bandara!"
"Apa? Apa katamu? Dasar babi bau!"
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala ringan melihat pertengkaran mereka berdua yang terkesan kampungan itu.
Aku pun berjalan-jalan sendirian melihat-lihat interior kapal yacht ini. Ketika aku melangkah ke bagian atap kapal, aku melihat Hinata sedang berbincang-bincang dengan orang asing.
'Siapa orang itu?' Batinku.
Aku pun menghampiri mereka berdua yang sedang asyik bercakap-cakap.
"Permisi, maaf kau siapa ya?" Tanyaku sopan kepada orang itu.
"Sa..sasuke-kun?" Hinata sepertinya cukup kaget atas kedatanganku yang tiba-tiba ini.
"Perkenalkan, nama saya Hatake Kakashi. Tapi anda cukup panggil saya Kakashi saja" Orang yang bernama Kakashi itu menyodorkan tangannya yang sepertinya dia berniat untuk mengajakku kenalan.
"Namaku Uchiha Sasuke. Panggil saja Sasuke" Jawabku singkat sambil berjabat tangan dengan Kakashi.
"Tapi ngomong-ngomong, ada urusan apa kau kemari Kakashi-san?" Tanyaku penasaran.
"Begini Sasuke-kun. Ka..kakashi-san adalah nahkoda di kapal ini. Dia yang a..akan mengantar kita ke pulau itu" Jawab Hinata pelan.
"Mohon bantuannya" Kakashi ber-ojigi kepadaku.
"I..iya"
Setelah perbincangan ringan kami bertiga selesai, Kakashi dan Hinata segera turun ke dek bawah. Tapi aku masih sengaja di dek atas kapal. Pemandangan pelabuhan Kirigakure terlihat jelas dari sini. Tempat pelelangan ikan yang ramai pengunjung, kapal-kapal kargo yang membongkar muatannya, dan lautan biru yang luas membentang di depan. Semuanya benar-benar membuatku betah berlama-lama di dek atas. Tiba-tiba yacht ini mulai bergerak perlahan-lahan.
"Temeee! Sedang apa kau di atas sendirian?" Tiba-tiba saja Naruto muncul dari tangga.
"Hn? Bisa kau lihat sendiri" Jawabku.
Di belakang Naruto terlihat ada Chouji dan Shikamaru yang menyusul ke dek atas ini.
"Kau tak bosan di atas sendirian teme? Tadi aku tak melihatmu dimana-mana. Kukira kau kecemplung laut. Tapi ternyata ada disini, hehehe" Naruto ngoceh sambil cengar-cengir sendiri.
"Mau makan roti ini Sasuke?" Chouji yang masih asyik makan, menawariku rotinya.
"Tidak"
"Tck, kau tidak bosan makan terus Chouji? Sejak aku menjemputmu dari rumah sampai sekarang kau makan terus tiada berhenti. Sungguh merepotkan" Timpal Shikamaru yang merasa risih akibat perilaku Chouji yang rakus.
"Innghi enhhyakkk" Sahut Chouji dengan mulut penuh roti.
"Teme, kau tau tidak pria tinggi berambut putih yang sedari tadi berjalan-jalan di sekitar kapal? Dia siapa sih?" Tanya Naruto kepadaku.
"Dia nahkoda kapal ini. Namanya Hatake Kakashi. Memangnya kau tidak berpikir bagaimana kapal yacht ini bisa melaju tanpa ada yang mengendalikan?" Balasku.
"Ohhh begitu" Sahutnya sambil menggaruk-garuk kepala.
-Obakeyashi Island-
Kami berempat kini sibuk dengan kegiatan masing-masing. Chouji masih dengan asyiknya melahap roti jumbonya, si Dobe kini sedang berlarian kecil di kabin atas sambil sesekali menengokan kepalanya ke dasar lautan, Sedangkan si nanas pemalas malah asyik ngorok di pojokan.
Sedangkan aku? Aku tak mau melepaskan pandanganku dari indahnya pemandangan lautan luas. Apalagi sesekali terlihat lumba-lumba yang sedang berenang bersama kawanannya. Juga tak lupa langit pagi yang cerah yang mengiringi perjalanan wisata kami kali ini.
Tiba-tiba...
"Semuanyaaa, ayo turun ke bawahhh! Makanan dan minuman sudah siappp!" Sakura berteriak dari arah tangga.
"Apa, makanan? Yuhuuu" Tanpa pikir panjang Chouji langsung berlari menuju ke bawah.
"Tck, merepotkan sekali" Shikamaru berjalan sempoyongan menuruni tangga.
"Teme, kau tidak lapar? Ayo turun" Seru Naruto sambil berjalan ke arah tangga.
"Aku sedang tidak lapar Dobe. Kau saja yang turun" Jawabku singkat.
"Ya sudah. Kutinggal ya"
Setelah Naruto, Chouji, dan Shikamaru turun ke dek bawah, kini tinggal aku sendirian yang masih tetap berada di kabin atas. Aku merasa lelah berdiri sedari tadi, dan kini aku memutuskan untuk duduk bersila sembari menikmati semilir angin laut yang berhembus.
"Damai sekali disini" Kataku lirih sembari menghirup udara segar.
Lambat laun mataku mulai terasa berat. Dan karena aku sudah tak kuat menahan kantuk, akupun memutuskan untuk rebah dan tertidur.
-Obakeyashi Island-
"Enghhh...di..dimana aku sekarang?"
Ketika aku membuka mata, jujur aku merasa amat kaget. Kenapa? Sudah jelas sekali aku tadi tertidur di kabin atas kapal. Tapi kini ketika aku membuka mata, aku telah berada di suatu tempat asing yang sepi dan sunyi.
"Dimana yang lainnya?" Tanyaku was-was.
Aku berdiri sambil mengamati kondisi sekitar. Jujur saja suhu di tempat ini dingin dan membuat bulu roma merinding. Aku kini berada di tengah hutan yang cukup lebat. Di samping kanan dan kiriku banyak tumbuh pohon-pohon besar yang berdaun lebat. Tapi jujur saja aku merasa teramat heran dengan suasana vegetasi disini. Aku akui, aku sudah sering membaca dan mempelajari jenis-jenis pepohonan yang tumbuh di hutan tropis. Dan aku paham benar dengan jenis-jenis pohonnya. Tapi, pepohonan di sekitar sini amat aneh bentuknya. Baik bentuk dahannya, rantingnya, dan dedaunannya seperti manampakan kesan suram dan gelap.
'Tempat apa ini? Kenapa tiba-tiba aku berada di tempat yang cukup mengerikan seperti ini? Atau jangan-jangan...ini ulah Naruto dkk?' Batinku cemas.
Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang mengarah lurus ke depan. Daripada hanya berdiam diri dalam rasa penasaran, tak ada salahnya kita berusaha kan?
"Kemana jalan setapak ini menuju?" Kataku pelan.
Setelah cukup lama berjalan sendirian mengarungi rimbunnya hutan, aku kini di hadapkan pada sebuah bangunan tua yang masih berdiri cukup kokoh. Bangunan itu ukurannya besar dan luas. Di sekelilingnya di tumbuhi tumbuhan rambat dan akar-akar yang berserabutan kesana kemari. Mungkin bangunan besar ini sudah sangat lama tak terjamah oleh manusia.
'Bangunan apa ini? Kenapa ada bangunan sebesar ini di tengah-tengah hutan belantara seperti ini?' Jujur saja batinku merasa amat cemas dengan apa yang kini aku hadapi.
Tapi aku akhirnya mencoba memberanikan diri untuk masuk ke lingkungan bangunan tua itu. Tak ada salahnya mencoba, daripada aku hanya bisa berdiam diri disini sepanjang hari tanpa mengetahui apa-apa.
Kulangkahkan kakiku perlahan dengan pasti. Walaupun jujur, seiring dengan kakiku melangkah ke depan. Keringat dinginku menetes satu demi satu tiap aku melangkah.
Kini di hadapanku persis terdapat sebuah gerbang besar yang sudah termakan usia. Besi-besinya keropos dan tak lupa di sekelilingnya di tumbuhi tanaman menjalar juga.
Untung saja ada lubang yang cukup besar di tengah gerbang tua itu, sehingga aku bisa masuk tanpa harus memanjat ataupun mendorongnya.
Ketika kedua kakiku menapaki halaman depan bangunan tua itu, tiba-tiba rasa dingin tak wajar menjalari tubuhku. Entah apa ini, aku tak tahu pasti.
"Kenapa perasaanku menjadi aneh seperti ini?"
Aku kembali memicingkan mata ke segala penjuru untuk memastikan situasi sekitar. Tentunya aku tak mau melangkah dengan sembrono seperti yang biasanya dilakukan oleh Naruto.
"HALO? APA ADA ORANG?" Teriakku keras untuk memastikan kalau-kalau di sekitar sini ada manusia.
"HALO? TEMAN-TEMAN?"
Hasilnya nihil. Hanya gema dari suaraku sajalah yang terdengar kembali. Mungkin di sekitar sini memang tak ada siapapun, mengingat betapa sunyi dan terpencilnya tempat ini.
Sejenak aku memandang ke atap gedung tua itu. Samar-samar terlihatlah sesosok bayangan tinggi besar yang berwarna hitam pekat di atap gedung itu.
-DEG-
"A..apa itu barusan?"
Aku mengucek mataku berkali-kali untuk memastikan bahwa apa yang aku lihat barusan hanyalah halusinasi pikiranku saja. Dan setelah aku melihat ulang ke arah atap, sosok tadi sudah menghilang.
"Huhhh, mungkin hanya halusinasiku saja"
Aku melihat ada sebuah papan besar, seperti sebuah papan bertuliskan nama yang terletak di depan pintu utama gedung tua ini.
Karena penasaran, aku pun mendekat. Setelah sampai persis di hadapan papan besar itu, aku mulai mengecek tulisannya.
"AKE..YASHI ASY..LUM? Jadi bangunan tua ini rumah sakit jiwa?"
Aku menelan ludah sesaat setelah membaca tulisan di papan besar itu. Bagaimana tidak? Sebuah bangunan bekas rumah sakit jiwa tua yang sudah lama tak berpenghuni kini ada di hadapanku persis. Batinku bergejolak antara masuk ke dalam atau pergi dari sini. Tapi jika aku pergi dari tempat ini, belum tentu aku bisa menemukan jalan pulang. Lagipula aku tak menjamin hewan buas tak berkeliaran di hutan ini. Maka dari itu, aku memantapkan diri untuk masuk ke dalam bangunan ini. Siapa tahu di dalam aku bisa menemukan sesuatu yang berguna.
(Selepas Sasuke masuk ke dalam bangunan tua itu, dia tak menyadari bahwa tulisan besar yang barusan dibacanya itu ditutupi oleh debu yang amat tebal. Setelah angin besar bertiup di sekitar situ, debu-debu yang menutupi tulisan itu memudar. Dan perlahan tulisan AKEYASHI ASYLUM berubah menjadi 'OB'AKEYASHI ASYLUM)
-Obakeyashi Island-
'Tempat macam apa ini?' Kataku dalam hati setelah melihat betapa suram dan mengerikannya gedung bekas rumah sakit jiwa ini.
Perlahan tapi pasti aku melangkah dengan mengendap-endap. Sambil tak lupa pandanganku tetap mengawasi keadaan sekitar yang cukup gelap karena minimnya cahaya yang masuk.
Benar-benar mengerikan. Bagaimana tidak? Hampir semua kondisi barang-barang dan perabotan yang ada telah rusak parah. Aku mengira bangunan tua ini sudah di tinggalkan sejak seratus tahunan yang lalu. Dan yang jadi pertanyaan...mengapa di suatu tempat terpencil terdapat bangunan rumah sakit jiwa?
Tiba-tiba...
-BRAKKK-
"Siapa disana?" Tanyaku lantang dan spontan selepas terdengar suara seperti barang yang jatuh dengan keras.
Aku berjalan pelan mendekati asal suara. Dengan perasaan yang amat takut, aku tetap memberanikan diri.
"Halooo? Apa ada orang?"
Setelah sampai di tempat yang aku duga sebagai asal suara misterius tadi, aku tak menemukan apapun. Benar-benar nihil.
Aku mencoba berjalan lurus menyusuri ruangan demi ruangan yang pengap dan gelap. Sampai akhirnya langkahku mentok di depan pintu suatu ruangan.
Aku memandang ke atas pintu itu dan menemukan tulisan yang sudah agak rusak, tapi masih cukup jelas untuk di baca.
"Ruang..an ..tama?"
Kucoba membuka pintu itu perlahan. Dan...berhasil!
Aku melihat-lihat ke bagian dalam ruangan misterius yang bertuliskan ' ' di bagian pintu masuknya tadi. Mungkin ini adalah ruangan pribadi dokter itu saat masih bertugas di tempat ini dulu.
Ketika aku melihat-lihat isi ruangan itu, tiba-tiba tercium bau busuk bercampur kemenyan. Penciumanku masih waras, dan aku tak salah dalam menganalisa suatu bau.
Bulu kudukku merinding seiring dengan semakin pekatnya bau tadi. Aku perlahan mundur dan berusaha pergi dari ruangan itu. Aku yakin, sesuatu yang tidak beres terjadi di tempat ini. Dan...sesuatu yang buruk akan terjadi kepadaku.
'Cepatlah pergi dari siniii...'
"Siapa disitu? AYO KELUAR!" Aku tak bisa menahan luapan emosiku yang semakin tidak karuan ini. Antara marah, panik, dan takut menjadi satu.
Tanpa pikir panjang, langsung saja aku berlari menuju keluar gedung terkutuk ini. Tak salah lagi, bangunan ini berbahaya!
'Keluar atau kubunuh kauuu...'
Lagi-lagi suara pelan yang entah berasal darimana itu samar-samar terdengar di telingaku. Setelah sampai di pintu utama, aku berusaha membukanya. Tapi nihil. pintunya terkunci!
"Brengsek! Ayo terbuka!" Aku berusaha sekuat tenaga mendorong pintu besar itu. Padahal sewaktu aku masuk tadi pintunya mudah di buka. Tapi sekarang, seperti ada sesuatu yang sengaja mengunciku dari luar.
Aku mulai kelelahan dan kehabisan nafas. Aku berhenti sejenak dan kembali mengumpulkan tenaga untuk mendobrak pintu itu kembali. Ketika aku menghadap ke belakang, sesosok bayangan putih tak berbentuk mendekat ke arahku.
"Siapa itu?" Tanyaku dengan nada gemetar. Keringat dingin kini telah memenuhi seluruh tubuhku.
Sosok bayangan putih itu perlahan mulai membentuk sesuatu. Matanya memerah seperti darah, Mulutnya memiliki banyak gigi runcing dan senantisasa mengeluarkan darah, dan yang paling mengerikan yaitu sosok makhluk itu memiliki kuku-kuku tajam yang siap mencabik-cabik korbannya.
"Jangan..jangan mendekat. Jangan..jangannnnn..."
-Obakeyashi Island-
Perlahan aku membuka mataku yang masih mengantuk. Entah mengapa, tadi aku bermimpi hal yang paling mengerikan yang pernah aku rasakan seumur hidupku. Semuanya serasa nyata, baik pikiranku, tempat itu, maupun sosok mengerikan itu. Sudahlah, aku tak mau membayangkan sosok itu lagi.
"Untung saja tadi hanya mimpi. Tapi, kenapa kapal ini berhenti?" Tanyaku sembari mencoba untuk bangkit berdiri.
Aku memandang ke arah langit. Aneh, seharusnya langit masih cerah. Karena tadi ketika kami berangkat waktu masih menunjukan pukul 7 pagi. Tapi kenapa langit menjadi mendung dan kelam seperti ini? Padahal kepulauan ini tropis, dan sekarang masih musim kemarau. Ini benar-benar di luar perkiraan.
Aku memandang kesekeliling, dan mendapati bahwa kapal ini memang telah berhenti di sebuah pulau. Aku berjalan menuruni tangga menuju ke dek bawah, tapi sesampainya di bawah aku tak menemukan siapapun.
'Seharusnya aku mendengar ocehan-ocehan dari teman-teman yang lain. Tapi, kemana mereka sekarang?' Tanyaku dalam hati.
Sampai pada akhirnya aku mencoba keluar dari kapal, dan mendapati sekerumunan orang di pantai yang aku yakin itu adalah kawan-kawanku. Aku berjalan ke arah mereka.
"Kenapa kalian semua berkumpul disini? Dan, kenapa kalian saling diam seperti ini?" Tanyaku penasaran. Seharusnya begitu sampai di pulau Sunakoshi, semuanya bergembira ria dan tak ada yang memasang rona muka sedih seperti ini. Sekarang, kami semua seakan malah sedang menghadiri upacara pemakaman.
"Sasuke..." Kata Shikamaru pelan.
"Ya? Ada apa memangnya?"
Jujur saja, entah mengapa perasaanku sangat tidak enak sekarang. Yang aku lihat mereka bertujuh sedang dalam kondisi murung. Bahkan, Dobe yang biasanya pecicilan kini ikut terdiam bersama dengan yang lain.
"Kau harus siap mendengar pernyataan ini..." Sai ikut mengambil bagian dalam pembicaraan ini.
"Memangnya ada apa? Mengapa kalian yang seharusnya tertawa dan bahagia, kini malah harus sedih dan murung seperti ini hah?" Emosiku mulai terbawa.
Bahkan kini aku melihat mata Hinata dan Ino yang sembab, seperti mereka habis menangis barusan. Sebenarnya, ada apa ini?
"Sasuke, sebenarnya kita...telah terdampar di pulau Obakeyashi" Kata Shikamaru pelan sambil menundukan kepalanya.
"A..apa?"
-TSUTZUKU-
Akhirnya oh akhirnya, fic ini bisa update juga chapter duanya. Padahal author sempat berpikir bahwa fic ini akan berhenti di chapter satu, tapi untung aja terbesit mood untuk menulis dan jadilah chapter ini. Maafkan author ya kalo fic ini updatenya lama banget, hehehe. Dan maafkan author juga kalo horror dan misterinya gak kerasa. Maklum, masih newbie dalam genre ini, hehehe. Yosh, gak pake lama. Bagi yang ingin ngasih kritik, saran, ataupun flame author persilahkan. Terima kasih udah nyempatin waktu buat mbaca fic abal ini.
