"A..apa katamu Shikamaru? Jangan bercanda kau ini!" Kataku dengan nada cukup kesal.
"Shikamaru serius Teme. Terima saja kenyataannya" Sahut Naruto.
"Begini kronologis kejadiannya Sasuke" Tiba-tiba Sai maju untuk menjelaskan.
"Cepat ceritakan padaku" Ucapku tegas.
"Ketika kau tertidur tadi di dek atas...tiba-tiba terjadi hal yang tidak beres" Sai mulai menjelaskan.
"Tiba-tiba kompas yang ada di kapal kita mendadak berubah arah. Arah yang seharusnya menuju timur laut, malah...berubah ke arah barat daya" Jelasnya lagi.
"Brengsek! Kenapa nahkoda kapal kita tidak menyadari hal itu hah?" Lagi-lagi emosiku mulai terbawa.
"Percuma jika kau menyalahkan Kakashi-san, Sasuke!" Bentak Sakura tiba-tiba.
"Memangnya kenapa? Bukankah dia yang memegang tanggung jawab penuh atas keselamatan kita?" Tanyaku dengan nada bicara yang tinggi.
"Kau tahu Sasuke? Entah mengapa sang nahkoda kapal kita tiba-tiba saja berlaku aneh. Ketika kira-kira setengah jam sebelum sampai di pulau ini, dia terlihat diam dan amat dingin. Bahkan, sapaanku saja tidak dibalasnya" Kata Chouji panjang lebar.
"Lalu...ketika kapal kita berlabuh di pulau ini, tiba-tiba saja..." Kata-kata Chouji terputus tiba-tiba.
"Apa?" Tanyaku was-was.
"Dia seperti terkena penyakit jantung yang amat serius, dan tak lama kemudian...Kakashi-san tewas di kursi nahkoda" Chouji menundukan kepala si sertai ekspresi sedih.
"Be..benarkah itu?"
"Itu benar Sasuke. Dan yang paling membuat kami terheran-heran, mulut dan telinga Kakashi-san mengeluarkan darah" Tambah Shikamaru.
"Dia seperti sedang dirasuki sesuatu Teme. Dan kami baru mengetahui arah kompas yang berubah ketika kami sampai di pulau ini. Dan itu sudah terlambat" Ucap Naruto.
"Dimana kalian menguburkan jenazahnya?"
"Jenazah Kakashi-san telah kami kubur tak jauh dari sini. Kurang lebih sekitar 100 meter ke arah sana" Jawab Sai sambil mengarahkan telunjuknya ke arah tempat dimana Kakashi dikuburkan.
"Dan yang lebih parah lagi...mesin kapal kita rusak" Kata Sakura menambahkan.
Sejenak suasana hening terjadi diantara kami berdelapan. Sungguh benar-benar kenyataan yang teramat sulit untuk di terima.
"Hiks..hiks..a..aku ingin pulang" Hinata tiba-tiba saja kembali menangis.
"Sudahlah Hinata, tenanglah. Sedari tadi kau sudah menangis terlalu sering. Tangisan tidak merubah keadaan Hinata" Ino berusaha menyemangati Hinata, padahal matanya yang sembab masih terlihat cukup jelas.
'Sial! Apa yang harus kami lakukan?' Batinku bergejolak tidak karuan.
"Teman-teman, apakah handphone kalian ada sinyalnya?" Tanya Shikamaru.
Dan seketika kami semua langsung mengambil handphone kami. Dan dalam hitungan detik, hanya gelengan kepala yang bisa kami lakukan.
"Tck, merepotkan. Ternyata pulau terpencil ini tak terjangkau oleh sinyal"
"Teman-teman, sekarang langit sudah mulai gelap. Apakah tidak sebaiknya, kita semua beristirahat?" Usul Sai.
Aku pun mengadahkan kepalaku ke atas. Benar juga, matahari mulai terbenam di sebelah barat. Dan jam di handphoneku juga sudah menunjukan pukul setengah 6 petang.
"Tapi Sai, kita mau beristirahat dimana?" Tanya Ino penasaran.
"Aku pikir beristirahat di kapal yacht bukanlah ide buruk. Lagipula, kita juga tak mengetahui secara pasti hal mengerikan apa saja yang berada di balik rerimbunan hutan di pulau ini" Usul Shikamaru yang langsung di sambut anggukan kepala oleh kami bertujuh.
.
.
.
-Obakeyashi Island-
"Hoahmmm...aku ngantuk sekali" Chouji menguap dengan lebarnya.
"Ngomong-ngomong, sudah berapa piring makanan yang sudah kau habiskan malam ini, eh?" Sindir Naruto.
"Emm, berapa ya? Mungkin 3 piring" Jawab Chouji enteng.
"Bodoh, lain kali kau harus bisa menahan napsu makanmu Chouji. Kau pikir, hanya kau yang membutuhkan makanan di sini? Dan kau pikir persediaan makanan kita di kapal ini sangat banyak?" Tegur Shikamaru sambil tiduran.
"Iya-iya, aku minta maaf"
"Sudah-sudah. Kalian semua tidur. Besok kita harus bahu-membahu untuk memperbaiki kapal semampu kita" Kataku.
"O ya, siapa yang mau berjaga malam ini heh?" Tanya Naruto.
"Chouji dan Sai" Jawab Shikamaru singkat.
"Ya sudah Chouji, kau hati-hati ya nanti. Hoahmmm..." Shikamaru menguap lebar dan beranjak tidur.
Chouji akhirnya mau tidak mau harus meninggalkan ruangan kamar yang hangat dan nyaman, dan keluar menuju pantai yang dingin dan gelap.
.
.
.
-Obakeyashi Island-
Kini di pantai hanya tinggal ada Chouji dan juga Sai. Malam ini mereka yang ditugasi untuk berjaga malam.
"Brrr...kau tidak kedinginan Chouji?" Tanya Sai sembari menggosokan kedua telapak tangannya, berharap bisa sedikit membuatnya hangat.
"Asal ada kripik kentang jumbo, aku tak pernah merasa dingin tuh..nyam..nyammm" Jawab Chouji sambil tetap melakukan ritual wajibnya. Apalagi kalau bukan makan dan makan.
Mereka berdua kini sedang duduk bersila di luar kapal. Chouji masih asyik dengan keripiknya, dan Sai masih sibuk menghangatkan tubuhnya dengan cara menggosok-gosokan telapak tangannya.
"Sekarang jam berapa? Aku lupa membawa handphone" Tanya Sai.
"Sebentar kulihat dulu jam di handphoneku..nyamm..nyammm" Chouji lalu mengambil handphone yang ia taruh di saku celananya.
"Jam 1 malam Sai"
"Ohhh..." Gumam Sai.
Iseng-iseng Sai menyenteri rerimbunan hutan yang ada di hadapannya.
"Chouji, berita tentang keangkeran pulau ini hanya hoax ya? Kupikir sedari tadi tak ada tanda-tanda sesuatu yang misterius di sekitar sini" Ujar Sai sembari menyenteri pepohonan yang rimbun.
Tiba-tiba sekilas Sai melihat ada bayangan sesosok kakek-kakek yang berdiri di bawah pohon, tak jauh dari tempatnya duduk.
Sai memicingkan matanya ke arah sosok itu.
'Siapa itu ya?' Batinnya penasaran.
"Psstt Ji, kau melihat ada seseorang kakek-kakek yang berdiri persis di bawah pohon itu tidak?" Tanya Sai dengan berbisik pelan.
"Mana-mana?" Chouji ikut-ikutan penasaran.
Sesosok kakek-kakek itu perlahan berjalan masuk ke dalam hutan.
"Be..benar juga katamu Sai. Iya, aku melihatnya" Kata Chouji dengan nada was-was.
"Berarti di pulau ini masih ada penghuninya ya? Tapi kata Shika, pulau ini sudah lama ditutup untuk umum. Bahkan sudah diisolir oleh pemerintah pusat" Ucap Sai panjang lebar.
"Tapi tak ada salahnya kita ikuti jejak kakek itu. Siapa tahu kita bisa menemukan bantuan. Bagaimana Sai?" Tawar Chouji dengan penuh harap.
Sai terdiam sejenak. Dalam batinnya berkecamuk antara ya atau tidak. Tapi akhirnya keputusan ya yang ia pilih.
"Baiklah, ayo kita ikuti dia sebelum jauh"
.
.
.
-Obakeyashi Island-
Chouji dan Sai kini berjalan pelan menuju tengah hutan. Hanya berbekal senter, mereka berdua memberanikan diri untuk menembus gelap dan suramnnya hutan Obakeyashi.
Kuk..kukkk..kuk..kukkk...
Suara burung hantu menemani langkah mereka berdua.
"Sa..sai...a..aku takut" Chouji memegangi punggung Sai karena ketakutan.
"Jangan cengeng kau. Kau kan yang sudah mengajakku untuk membelah hutan lebat ini?" Ujar Sai kesal.
Langkah mereka berdua terhenti ketika melihat papan pengumuman yang berdiri tak jauh dari posisi mereka.
"Itu papan pengumuman apa ya?" Sai bergumam pelan.
Mereka berdua pun mendekat ke arah papan pengumuman itu.
Sai dan Chouji menyenteri tulisan yang ada di papan itu.
"Kau yang baca Sai. Mataku tidak jelas" Kata Chouji singkat.
"Iya-iya. Dasar kau ini. Badan aja yang besar, tapi nyali ciut" Ujar Sai sinis.
Perlahan Sai mengamati tulisan yang tercetak di papan pengumuman itu dengan bantuan penerangan senternya. Karena tulisannya sudah buram, Sai mau tidak mau harus berusaha ekstra untuk menerjemahkannya.
PERINGATAN!
BERHUBUNG DENGAN ADANYA BANYAK KASUS MISTERIUS YANG MEMAKAN KORBAN BANYAK KORBAN JIWA DI PULAU INI. KAMI SELAKU PEMERINTAH PUSAT JEPANG, TELAH RESMI MENUTUP DAN MENGISOLIR PULAU INI. DEMI KESELAMATAN ANDA, DIHARAP JIKA ANDA TELAH MEMBACA PERINGATAN INI. ANDA HARUS SECEPATNYA MENINGGALKAN PULAU INI. DEMI KESELAMATAN ANDA.
"Tulisannya berbunyi apa Sai?" Tanya Chouji dipenuhi rasa penasaran yang tinggi.
Sai menelan ludah setelah membaca papan peringatan itu. Firasatnya mengatakan hal yang amat buruk akan terjadi kepadanya, jika ia masih tetap melanjutkan perjalanannya ke dalam hutan.
"Disini tertulis, pulau ini berbahaya. Dan kita...harus secepatnya meninggalkan pulau Obakeyashi ini" Keringat dingin mulai menjalari tubuh Sai.
"Apa katamu Sai? Jadi, bagaimana ini?" Chouji mulai bimbang.
"Demi keselamatan kita, kita harus secepatnya kembali ke kapal. Benar kata Shikamaru. Pulau ini terkutuk" Ujar Sai dengan nada cemas.
"Tapi sebelumnya, aku mau kencing dulu nih. Kau tungguin aku ya. Sebentar saja kumohon" Chouji memohon penuh harap.
"Oke, tapi janji cuma kencing saja ya"
"Thank's Sai"
Chouji pun akhirnya memilih pohon yang besar sebagai tempatnya kencing. Sedangkan Sai menunggu tak jauh darinya.
5 menit berlalu, tapi Chouji belum juga kembali.
'Kemana anak gendut itu? Memangnya kencing butuh waktu 5 menit lebih?' Batin Sai amat cemas.
10 menit berlalu, tapi Chouji tetap belum juga kembali.
'Pasti ada yang tidak beres. Aku yakin itu. Semoga saja tak terjadi hal yang buruk kepada Chouji'
Sai mau tidak mau akhirnya harus berjalan berkeliling di daerah situ dengan dibantu penerangan senternya.
Tapi setelah cukup lama mencari Chouji, orang yang dicarinya tak kunjung ketemu.
'Ku kira anak itu tak terlalu suka bercanda. Apalagi menyangkut hal yang berbahaya. Atau dia telah lebih dulu kembali ke kapal?' Batin Sai panik.
"CHOUJIII! KAU DI MANAAA?" Sai terpaksa harus berteriak demi menemukan temannya itu.
Tapi hasilnya nihil. Tak ada reaksi apapun.
Ketika Sai sedang berjalan mencari Chouji, ia menemukan hal yang ganjil. Ada darah yang mengalir dari arah balik pohon yang besar.
DEG...
'Kenapa hatiku luar biasa takut seperti ini? Tidak, aku tidak boleh memikirkan hal-hal yang buruk. Aku optimis pasti bisa kembali ke kapal bersama Chouji'
Perlahan tapi pasti, Sai berjalan pelan menuju ke arah balik pohon itu. Keringat dinginnya mengucur deras dari tubuhnya. Jantungnya berdetak amat cepat.
Senternya ia coba arahkan ke balik pohon besar itu.
Kenyataan belum tentu sesuai dengan perkiraan kita. Iya kan?
"I..ini ti..tidak mungkin. Cho..chouji..." Tubuhnya bergetar hebat atas apa yang barusan ia lihat.
-TSUTZUKU-
Chapter 3 selesai deh. Maaf ya kalo horrornya gak kerasa. Maklum, masih cukup amatiran hehehe. Oke, bagi yang ingin ngasih saran, kritik, atau flame silahkan klik tulisan REVIEW di bawah. Makasih udah baca!
