"I .. ini tidak, i .. i .. ni tidak mung .. kin"

Tubuh Sai bergetar hebat. Kedua matanya memerah dan berair. Perasaan antara takut, shock, marah, hingga jijik merasuki dadanya saat ini.

Dilihatnya sekarang sosok Chouji sudah terbujur kaku dengan darah yang bercipratan di mana-mana. Sampai-sampai dedaunan yang ada di sekeliling mayat Chouji pun berubah warna dari yang aslinya hijau, kini menjadi merah darah.

"Chou .. chouji"

Sai menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. Jujur, dia tak kuat dengan bau amis darah dan organ dalam yang menonjol keluar dari tempat asalnya.

Perut buncit Chouji yang biasanya selalu dipenuhi oleh makanan, khususnya kripik kentang. Sekarang harus rela tercabik-cabik hingga usus-ususnya terburai sempurna. Kondisinya seperti baru saja dimangsa oleh binatang buas.

"TIDAAKKK!" Sai berlari ke arah pantai dengan keadaan panik yang luar biasa.

Sesosok mata merah yang menyala terang mengawasi pemuda berkulit pucat itu dari arah atas pohon. Seiring dengan langkah Sai yang telah menjauh, sosok misterius itu pun samar-samar menghilang dari tempatnya berpijak.

-Obakeyashi Island-

Suasana pantai yang sedari tadi sepi dan sunyi, sekarang berubah menjadi pusatnya kebisingan oleh sekawanan remaja. Dan tak luput, sebagai pusat kesedihan.

"Hiks .. hiks, Chouji ... " Ino terus-terusan menyeka air matanya dengan tissu.

"Sudahlah Ino. Mungkin, inilah takdir yang sudah digariskan oleh Kami-sama. Walaupun berat ... tapi kita pasti bisa melaluinya. Percaya ya" Sakura menepuk-nepuk pelan pundak sahabat, sekaligus rivalnya itu. Walau terlihat kuat dihadapan Ino, tapi Sakura tak mampu menutupi ekspresi kesedihan yang luar biasa terpancar dari sorot mata hijau emeraldnya itu.

Sedangkan Hinata? Sewaktu ia mendengar penuturan langsung dari Sai, ia langsung tak sadarkan diri hingga sekarang ini.

Di tempat para laki-laki, terlihat pula pancaran aura duka lara dari mereka berempat. Yah, mereka berempat. Bukan berlima. Karena yang kelima telah meninggalkan mereka semua dengan cara mengenaskan.

"Sialll!"

BUKKK

Aku telah meninju pohon yang ada di hadapanku ini untuk ketiga kalinya. Aku benar-benar tak mampu mengungkapkan perasaanku saat ini. Apakah kalian tahu bagaimana rasanya jika harus mengalami kejadian seperti kami? Terdampar di pulau angker yang terlarang saja sudah membuatku cukup gila. Di tambah lagi dengan kenyataan bahwa kapal yang kami sewa rusak. Dan yang paling dan teramat menyakitkan ... teman kami si jago makan itu tewas secara mengenaskan.

"Argghhh sialll!"

BUKKK

"Tck, sudahlah Sasuke. Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Kami bertigapun sama-sama merasakan bagaimana rasanya kehilangan sahabat dengan cara mendadak seperti itu. Tapi, menyakiti dirimu sendiri bukanlah suatu jalan keluar" Saran Shikamaru.

"Sai! Kau benar-benar tidak berbohong kan?" Naruto bertanya kepada Sai dengan nada curiga.

"Aku berani sumpah Naruto. Kalian pikir, buat apa aku berbohong hah? Kalian tidak tahu bagaimana perasaanku saat ... saat melihat kondisi Chouji yang mengenaskan seperti itu" Mata Sai masih berkaca-kaca. Kelihatannya diantara kami bertujuh, Sai lah yang paling terpukul atas kejadian mengerikan ini.

"Kau juga Naruto. Masih saja menanyakan hal tak berguna seperti itu. Cih, merepotkan" Sindir Shikamaru. Walaupun diantara kami berempat Shikamaru lah yang paling kelihatan tidak sedih. Tapi sejujurnya laki-laki pemalas itulah yang paling hancur perasaannya. Bagaimana tidak? Hanya Shikamaru seorang lah yang selalu satu kelas sejak TK hingga SMA dengan Chouji.

Sejenak, keheningan terjadi di antara kami semua. Hanya suara sedotan ingus Sai saja yang masih terdengar. Di tempat para perempuan, Ino pun terlihat sudah tidak terlalu merasa shock lagi. Tapi sayangnya Hinata masih belum juga sadar dari pingsannya.

"Kita harus segera mengambil tindakan" Kata Shikamaru tegas.

"Apa maksudmu Shika?" Tanyaku.

"Kita harus memakamkan jenazah Chouji dengan layak, seperti jenazah Kakashi-san. Dan setelah itu, kita harus memikirkan langkah selanjutnya. Apakah kalian setuju?"

Aku dan Naruto mengangguk pelan, yang itu menandakan bahwa kami berdua setuju dengan usul si rambut nanas itu. Sedangkan Sai mau tidak mau, akhirnya ikut setuju dengan rencana Shikamaru.

"Tapi, bagaimana kita mau memakamkan jenazah Chouji jika kondisinya masih gelap gulita seperti ini?" Tanya Naruto dengan memasang wajah bodohnya.

"Dasar bodoh. Kita tunggu sampai matahari muncul lah" Sahutku sembari menjitak kepala duren itu.

"Awww, sakit teme!"

"Aku barusan melihat jam. Sekarang baru jam 02.35 dini hari. Aku putuskan kita akan masuk ke hutan ketika matahari sudah terbit, sekitar jam 06.00 pagi. Jadi sekarang kita sebaiknya tidur dulu untuk mengumpulkan energi esok hari" Saran Shikamaru panjang-lebar sambil menguap.

"Osh" Jawab kami bertiga serempak.

-Obakeyashi Island-

Fajar telah muncul dari peraduannya. Dan ekspedisi berbahaya kami, akan segera dimulai.

Kami bertujuh sekarang telah berkumpul di pantai. Shikamaru yang akan memimpin ekspedisi ini. Yah, siapa sih yang meragukan Shikamaru dalam berpikir? Mungkin secara tindakan nyata, dia pasif. Tapi dalam berpikir dan berencana, hampir semua orang memuji laki-laki pemalas dengan IQ 200 itu.

"Sekarang kita bagi tugas. Aku sudah putuskan, bahwa laki-laki saja yang akan masuk ke dalam hutan guna mengambil jenazah Chouji. Sedangkan perempuan, hanya akan berada di dalam kapal saja. Tapi kalian juga punya tugas untuk menyiapkan sarapan selepas kami para laki-laki kembali. Mengerti semuanya?" Shikamaru menjelaskan panjang-lebar, lagi-lagi sembari menguap.

"Shikamaru" Ujar Sai tiba-tiba.

"Ya? Ada apa Sai?"

"Apakah kita akan mengubur jenazah Chouji berdekatan dengan makam Kakashi? Jika iya, itu berarti kita harus membawa jenazahnya cukup jauh dengan berjalan kaki. Bukankah kita tak mempunyai kantong mayat atau benda semacamnya?"

Semua mata sekarang menuju ke arah Sai. Memang benar juga apa kata Sai. Jenazah Chouji yang sudah tercabik-cabik dengan kondisi tubuh yang sudah rusak, tak mungkin akan dibawa dengan tangan kosong tanpa peralatan yang memadai. Dan juga, siapa sih yang sempat memikirkan membawa kantong mayat sebelum berlibur untuk bersenang-senang?

Shikamaru tertunduk sejenak. Sepertinya, dia kini sedang memikirkan sesuatu.

"Baiklah, begini saja. Karena memang tak ada peralatan yang memadai, kita terpaksa menguburkan jenazah Chouji di tengah hutan rimbun. Lagian, sekop di kapal kita saja itu ada karena kebetulan" Ucap Shikamaru.

Akhirnya kami berempat para laki-laki telah siap untuk masuk ke tengah hutan dengan peralatan yang seadanya. Naruto bagian membawa ransel yang berisi snack, minuman, dan obat-obatan. Sai bertugas membawa sekop saja. Shikamaru membawa teropong dan sebilah pisau untuk berjaga-jaga. Sedangkan aku malah disuruh membawa golok. Mungkin, seksi keamanan di ekspedisi kali ini adalah aku.

"Hati hati kalian se .. semuanya" Ujar Hinata berusaha mendoakan kami.

"Tentu Hinata" Balas Naruto dengan tersenyum lebar, disertai mengacungkan jempolnya ke arah Hinata.

Dan sontak wajah Hinata blushing karenanya.

-Obakeyashi Island-

Hari masih cukup pagi. Matahari masih bersinar dengan terangnya. Waktu pun baru menunjukan pukul 08.30 pagi. Tapi itu semua tak ada pengaruhnya ketika kalian menginjakan kaki di hutan terlarang pulau Obakeyashi.

"Sai, masih jauhkah?" Tanyaku sembari terus berjalan pelan bersama yang lain.

"Mungkin kurang lebih masih ada 1,5 km ke depan" Jawabnya singkat. Dalam raut muka Sai, masih terpancarkan aura kesedihan yang mendalam.

Kami berempat terus melangkahkan kaki perlahan tapi pasti, sembari tetap waspada terhadap situasi sekitar. Hutan ini sebenarnya sama seperti hutan lainnya menurutku. Tapi, ada satu kejanggalan yang menurutku terlihat jelas. Sepi ... Ya benar sekali, hutan ini teramat sepi. Bahkan, hewan-hewan seperti burung ataupun monyet sama sekali tak terlihat. Kondisi seperti ini seakan mengingatkan aku kembali kepada mimpi buruk itu. Shit!

"Psst, berhenti sejenak" Kata Shikamaru tiba-tiba.

Kami semua pun menuruti kata-kata pemimpin kami itu.

"Ada apa Shikamaru?" Tanya Naruto penasaran.

"Kalian lihat papan peringatan itu?" Jari Shikamaru menunjuk ke arah sebuah papan peringatan yang masih berdiri tegak jauh di depan sana.

"Aku sudah tahu sebelumnya. Sebelum kejadian mengerikan itu, aku dan Chouji sempat mengamati papan itu" Ucap Sai pelan.

"Isi papan peringatan itu apa?" Tanyaku.

"Disitu tertulis, intinya bahwa barangsiapa yang telah membaca papan peringata itu, diperintahkan untuk segera meninggalkan pulau ini. Disitu tertulis bahwa pulau ini amat berbahaya dan telah memakan banyak korban jiwa"

Kami semua terdiam sejenak. Mencoba mencerna kata-kata Sai barusan.

"Apapun itu, sebaiknya kita cek kesana sekarang" Perintah Shikamaru, dan akhirnya kami semua segera bergegas menuju ke arah dimana papan peringatan itu didirikan.

Setelah berjalan kurang lebih 150 meter, akhirnya kami berempat telah sampai persis di hadapan papan peringatan itu.

Kulihat Shikamaru terus-terusan mencermati dan fokus kepada tulisan-tulisan yang tercetak tidak jelas di papan itu. Sepertinya otaknya tak mau tinggal diam terhadap hal misterius ini.

"Cih, merepotkan" Gumam Shikamaru sembari menguap lebar.

"Teme ... kita pulang saja yuk ke kapal. Disini ku kira suasananya kurang bersahabat" Naruto tiba-tiba saja bersembunyi dibalik punggungku.

"Dobe, bilang saja kau takut"

"Aku telah ambil kesimpulan mengenai peringatan ini. Aku pikir, papan peringatan ini didirikan sudah cukup lama. Mengingat, tulisannya yang sudah ngeblur dan luntur" Shikamaru berusaha memberikan penjelasan.

"Lalu, setelah itu apalagi?" Tanya Sai keheranan.

"Yang kedua, hutan di pulau ini memang benar-benar berbahaya. Pulau ini telah secara resmi diisolir dan dihapus di peta oleh pemerintah pusat semenjak berpuluh-puluh tahun lamanya. Jadi, setiap detik setiap menit kita harus benar-benar waspada. Yang jelas, nyawa kita sedang terancam"

Setelah mendengar kata 'nyawa kita sedang terancam', aku hanya bisa menelan ludah. Kini perasaan takut mulai menghantuiku. Bukan aku saja, tapi kami bertujuh yang masih survive hingga sekarang.

"Ngomong-ngomong, lokasi kau menemukan mayat Chouji masih jauh Sai?" Naruto bertanya sambil tetap memegangi pundakku karena ketakutan.

Sai menggeleng pelan.

"Tidak. Di dekat sini" Jawabnya sembari menunjuk ke arah pepohonan yang diperkirakan sebagai tempat dimana mayat Chouji ditemukan.

"Jangan buang waktu. Ayo" Shikamaru memberi aba-aba, dan kamipun segera menuju ke arah yang ditunjukan oleh Sai.

Kami berempat kini sedang berusaha mencari dimana mayat Chouji berada. Mencari di rerimbunan semak dan pepohonan besar bukanlah hal yang mudah.

Tiba-tiba tercium bau yang teramat busuk.

"Sial ... bau apa ini?" Naruto menggerutu.

"Aku juga merasakannya. Ini berarti, mayat Chouji tak jauh dari sekitar sini. Ayo semuanya mencari, ini demi teman kita Chouji" Perintah Shikamaru tegas.

Sedari tadi aku melihat sikap Shikamaru lah yang paling tenang dan dewasa di antara kami semua. Padahal, sejujurnya dialah yang paling merasakan kesedihan mendalam dibanding kami bertujuh. Sungguh aku salut dengannya. Walau sebentar lagi dia akan bertemu Chouji dengan kondisi yang kurang baik, tapi tatapan matanya masih menunjukan keteguhan batin yang luar biasa.

"Baunya tercium pekat di sebelah sini teman-teman!" Teriakku kepada yang lain.

Mereka pun segera bergegas untuk menuju ke arah yang aku tunjukan barusan.

Setelah baunya tercium amat jelas, akhirnya sesuatu yang paling kami khawatirkan pun tiba.

"Temeee ..." Naruto menangis sesenggukan di bahuku. Dan akupun berusaha menenangkannya walau sejujurnya aku pun hampir saja menangis.

"Maafkan karena kelalaianku teman-teman. Ini semua salahku ... SALAHKU!" Sai tiba-tiba saja mengamuk sambil menjambaki rambutnya sendiri.

"CUKUP SAI!" Teriak Shikamaru.

Sai yang sedang labil jiwanya, akhirnya bisa bersikap tenang setelah dibentak oleh Shikamaru.

Shikamaru berjalan ke arah Sai, dan tiba-tiba saja langsung memeluknya erat.

"Ini bukan salahmu Sai, dan ini bukann salah siapapun. Oke?" Hibur Shikamaru sembari tersenyum kecut. Padahal dalam hatinya, ribuan jarum pasti seakan-akan telah menusuknya.

"Maafkan aku .. hiks .. maafkan akuuu" Sai masih menangis dalam dekapan Shikamaru.

Mayat Chouji benar-benar telah membusuk. Ususnya yang terburai telah dikerubungi lalat dan belatung. Wajah chubbynya menampakan kesan mengerikan, seakan telah melihat sesuatu yang amat menakutkan. Walau entah apa itu.

"Oke semuanya, kita mulai bergerak sekarang. Menurut kalian, dimana sebaiknya jenazah Chouji dikuburkan?" Tanya Shikamaru.

Kami semua kembali terdiam. Berusaha memikirkan tempat yang pas dan layak untuk menguburkan jenazah sahabat kami itu. Di sekitar sini, jelas tak mungkin. Mengingat pekatnya vegetasi semak dan pepohonan.

"Shika, kupikir kita bisa menguburkan Chouji disana. Sepertinya, tempat itu cukup lapang" Kataku sembari mengacungkan telunjuk ke arah yang kumaksud.

Semua mata menoleh ke arah yang kumaksud.

"Baik, itu ide yang bagus. Oke, untuk menggotong jenazah Chouji dibutuhkan kurang lebih 2 orang. Aku mau, selanjutnya siapa yang ... " Belum selesai Shikamaru berbicara, tiba-tiba Sai menyahut.

"Aku mau. Ini sebagai perwujudan rasa maaf dan tanggung jawabku"

Akhirnya mayat Chouji digotong secara perlahan oleh Shika dan Sai. Aku bertugas untuk membabat semak belukar yang menghalangi jalan dengan golokku. Sedangkan si Dobe? Sedari tadi dia berusaha jaga jarak dengan mayat Chouji akibat tak kuat menahan bau busuk yang ditimbulkan.

Setelah mencapai tempat yang rencananya akan digunakan untuk mengubur Chouji, Sai bergegas menggali tanah dengan sekop yang ia bawa.

Setengah jam kemudian, Sai pun selesai menggali.

"Ayo turunkan jenazahnya dengan hati-hati" Shikamaru memberi aba-aba dari bawah. Sedangkan aku dan Dobe bagian menurunkan jenazah Chouji dari atas, walau setelahnya si Naruto langsung muntah-muntah.

Setelah diturunkan, Sai langsung mengubur mayat Chouji dengan cepat.

'Maafkan aku Chouji, maafkan aku' Batin Sai miris.

Setelah semuanya selesai, kamipun beristirahat sejenak tak jauh dari situ. Naruto segera membuka ranselnya, dan membagikan snack ataupun minuman kepada kami semua.

"Ahhh segarnyaaa" Ujar Naruto sembari menghabiskan air minumnya.

"Melihat mayat Chouji yang tercabik-cabik mengenaskan seperti itu, kira-kira makhluk apa yang tega melakukannya?" Gumamku.

"Entahlah Sasuke. Jika dilihat dari lukanya yang amat parah, seharusnya binatang buaslah yang sanggup melakukan hal itu. Tapi, Sai mengatakan bahwa dia tak mendengar ataupun merasakan keberadaan hewan disekelilingnya pada waktu itu" Jelas Shikamaru panjang lebar.

"Ngomong-ngomong, aku kebelet pipis nih. Temani aku ya, please?" Sai memasang tampang memohon kepada kami. Aku yakin dia telah trauma berat atas apa yang pernah terjadi kepada sahabatnya itu.

"Naruto, kau berani kan menemani Sai pipis?" Shikamaru menoleh ke arah Naruto.

"A .. aku?"

"Iya. Kau berani tidak?"

Wajah Naruto pucat seketika. Sepertinya dia juga ikut-ikutan trauma, walau tak mengalaminya secara langsung.

"Tck, merepotkan. Biar aku saja" Shikamaru bangkit dari duduknya dengan rasa malas yang masih menggelayutinya.

Akhirnya Shikamarulah yang menemani Sai untuk buang air kecil di semak-semak.

Ketika sedang menunggui Sai pipis, tiba-tiba mata Shikamaru menangkap sebuah pemandangan yang ganjil.

'A .. apa itu ya?'

Sebuah menara loteng samar-samar terlihat dari tempatnya berpijaksekarang ini.

"Sai, kau sudah selesai kan?" Mata Shikamaru tak bisa lepas dari sosok menara loteng itu.

"Iya. Memangnya kenapa Shika?"

"Ikuti aku" Tiba-tiba saja Shikamaru langsung menarik tangan Sai, dan berjalan ke arah dalam hutan.

Tak berapa lama, mereka berdua telah disuguhi objek yang menakjubkan. Sekaligus, mengerikan.

"A .. apa ini?" Mulut Sai menganga lebar.

"SASUKEEE! NARUTOOO! KEMARIII!" Shikamaru berteriak untuk memanggil kedua temannya itu.

Tak sampai 10 menit, orang yang dipanggil pun akhirnya datang.

"Ada apa memangnya?" Tanyaku singkat.

"Lihatlah" Pandangan Shikamaru tetap menatap ke depan.

Aku pun menolehkan kepalaku ke arah yang ia tuju.

'I .. ini kan? Tidak mungkin ... ' Batinku.

Sebuah bangunan tua nan mengerikan berdiri kokoh dihadapan mereka berempat.

"Tak salah lagi. Ini adalah Rumah Sakit Jiwa pulau Obakeyashi"

-TSUZUKU-

Maaf ya kalo lama updatenya. Soalnya author kehabisan ide sih, hehehe. Dan maaf juga kalo chapter ini gore dan horrornya kurang berasa. Nanti akan author coba maksimalin di chapter depan. Yosh, bagi yang mau review, author persilahkan. Kritik, saran, atau flame author terima deh :-)