"Kenapa mukamu begitu pucat Teme?" Naruto menatap wajahku dengan ekspresi penasaran.

"I..ini kan..." Aku melangkah mundur sambil terus mengerjapkan mata berkali-kali, berharap apa yang aku lihat sekarang ini adalah ilusi semata.

Sungguh di luar dugaanku. Ternyata apa yang selama ini aku lihat dalam mimi burukku waktu itu, benar-benar terjadi. Apakah benar ini adalah sebuah pertanda bahwa kami semua nantinya tak akan ada yang selamat?

"Sasuke. kalau kau merasakan sesuatu yang tidak beres, ceritakan semuanya pada kami" Ujar Shikamaru dengan bijaksana.

"Baiklah, aku akan menceritakan garis besarnya saja ya. Dan kuharap, kalian jangan ada yang terkejut"

Shikamaru, Naruto, maupun Sai menatap ke arahku dengan serius.

"Aku...pernah melihat bangunan itu sebelumnya dalam mimpi" Ucapku lirih.

Dan seketika, raut muka ketiga temanku langsung berubah menjadi pucat pasi. Bahkan Naruto sampai terlihat amat ketakutan.

"Jangan bercanda Sasuke!"

"Aku tak bercanda Sai!"

Aku menghela napas dalam-dalam. Berusaha untuk menenangkan perasaan ini sejenak.

"Yang paling parah adalah...aku terbunuh oleh sesosok makhluk mengerikan dalam mimpi"

Kami berempat terdiam sejenak. Aku yakin ketiga temanku itu sedang berusaha mencerna apa yang aku katakan barusan.

"Oke, aku percaya padamu Sasuke. Yang paling penting sekarang ini, kita harus menentukan langkah kita selanjutnya" Saran Shikamaru.

"Semuanya, lebih baik kita kembali ke kapal saja yuk" Naruto merengek-rengek ketakutan. Aku yakin jika di teruskan perjalanan ini, si bocah berisik itu bisa pingsan mendadak.

Angin berhembus cukup kencang di sekitar kami. Dan itu membuat dedaunan bergesek satu sama lain, yang mengakibatkan suasana makin mencekam. Apalagi di tambah langit yang mulai mendung. Benar-benar sialan pulau ini!

"Tak ada salahnya kan kita masuk ke sana untuk menyelidiki?" Tawar Sai sambil tetap mengamati bangunan bekas rumah sakit jiwa itu dari kejauhan.

Naruto tentu saja langsung bereaksi keras menolak saran Sai yang terbilang nekat itu. Dan Shikamaru masih terlihat berpikir keras untuk mencari solusinya.

"Aku setuju" Kata Shikamaru tiba-tiba.

"Apaaa?" Naruto berteriak seakan ingin memprotes apa yang barusan di katakan oleh pemimpin ekspedisi ini.

"Walau merepotkan kelihatannya, tapi tak ada salahnya kita berusaha mencari tahu apa isi gedung itu. Siapa tahu, ada sesuatu yang dapat di gunakan oleh kita" Jelas pria berambut nanas itu dengan lugas. Aku percaya, Shikamaru tak pernah bermain-main dengan keputusannya. Apa yang ia putuskan, pasti sudah di pikirkan terlebih dahulu masak-masak.

"Aku ikut" Kataku singkat.

"Temeee? Kau?"

"Naruto, Sai akan tetap di sini menemanimu. Bagaimana Sai?" Shikamaru menoleh ke arah Sai. Dan sosok yang bersangkutan langsung merespon dengan anggukan kepala pertanda setuju.

Kemudian Shikamaru menoleh ke arahku sembari menguap lebar "Hoahmmm...Sasuke, persiapkanlah dirimu".

.

.

.

-Obakeyashi Island-

"Ino, bagaimana masakanmu? Sudah jadi?" Tanya Sakura sambil tetap fokus ke pekerjaannya, mengirisi sayuran.

Ino mengelap keringat yang menetes di pipinya karena terkena efek panas yang di timbulkan oleh kompor "Sebentar lagi. Akan kutunjukan kepada para anak lelaki itu bahwa aku pandai memasak".

"Hinata, apa kau sudah selesai mencuci dagingnya?" Sakura menengok ke arah Hinata yang ada di samping kanannya.

"Nanti dulu Sakura. A..aku belum selesai"

Mereka bertiga sedang sibuk menyiapkan masakan dengan bahan seadanya yang mereka persiapkan dari rumah. Sakura bagian mengiris dan memberesi sayuran, Hinata bagian mengurusi daging mentah, dan untuk finishing di pilihlah Ino sebagai juru masaknya.

"Taraaa! Mie oseng kepiting ala chef Ino sudah siap" Ino menghidangkan makanan yang berbau sedap itu di atas meja sambil bergaya ala koki handal.

"Ck, begitu aja bangga" Sindir Sakura.

"Apa katamu jidat?" Sewot Ino tidak terima dirinya di sindir.

Dan Hinata cuma bisa terkikik geli akibat ulah childish kedua sahabatnya itu.

"O ya, daun salamnya kurang. Ino, kau mau mengambilkan daun salam?" Tanya Sakura.

"Kenapa harus aku?" Tanya Ino balik.

"Kan kau yang sudah menganggur. Sedangkan aku dan Hinata masih sibuk. Bagaimana?"

"Oke-oke, baiklah" Dan Ino kemudian melenggang pergi menuju ke arah hutan.

Ino berjalan pelan memasuki hutan dengan perasaan yang santai. Mungkin, ketakutannya sirna karena ia menganggap hari masih siang dan menurutnya, tak ada hantu yang aktif di siang hari.

"Daun salam ya. Emm, mungkin ini" Gumamnya sembari memetik beberapa helai daun dari pohon.

'Huweee..hiks..hikss..huweee'

'Suara siapa itu? Seperti suara anak kecil saja' Batin Ino penasaran.

Kemudian ia berjalan memasuki hutan lebih dalam lagi guna mencari asal suara. Perlahan tapi pasti, langkahnya telah membawanya menuju asal suara.

'Seharusnya kan di sekitar sini' Ino menoleh ke kanan dan kiri guna mencari sosok pemilik suara tangisan itu.

"Halooo...apa ada orang di sini?"

Sebuah seringai mengerikan terlihat dari semak-semak persis di belakang tempat Ino berpijak sekarang.

.

.

.

-Obakeyashi Island-

Sasuke dan Shikamaru terlihat sedang berjalan penuh kehati-hatian menuju ke dalam bangunan tua itu. Dan di lain tempat, Sai terus-terusan mendengarkan ocehan Naruto yang amat ketakutan sekarang.

"Sasuke, apa segala sesuatunya yang kau lihat dalam mimpi persis seperti ini sekarang?" Tanya Shikamaru.

"Iya, persis seperti ini"

Kami berdua kini telah berada tak jauh dari bangunan rumah sakit jiwa tua itu. Kulihat Shikamaru menghela napas pelan seakan sedang berusaha menenangkan pikirannya sejenak. Aku pun menatap ke arah depan dengan pasti, walau tak memungkiri ada sedikit kecemasan di hatiku.

"Kau siap masuk Shika?"

"Iyaaa baiklah. Walau ini akan merepotkan pastinya"

Kami berdua dengan mantap mulai berjalan menuju gerbang besar yang berada tak jauh dari hadapan kami. Gerbang rumah sakit jiwa itu ya, persis seperti yang ada dalam mimpiku waktu itu.

"Shikamaru, lewat sini" Kataku sembari menerobos celah pagar yang rusak untuk masuk ke dalam.

"Ckckck, bagaimana kau bisa langsung tahu ada celah seperti itu?" Tanyanya penuh rasa kagum.

"Ini persis seperti dalam mimpiku"

Kini kami telah memasuki halaman depan rumah sakit jiwa itu. Shikamaru langsung berjalan pelan mengelilingi halaman yang cukup luas dan tentunya sudah cukup berantakan karena tak terawat begitu lamanya.

"Kau sedang mencari apa?" Aku heran melihatnya sedari tadi berjalan berputar-putar seperti itu.

"Tidak, aku hanya sedang berusaha mengamati saja" Jawabnya singkat. Tapi aku yakin, otaknya sekarang sedang di penuhi banyak tanda tanya tentang situasi di sekitar sini.

tes..tes..tes..tes..

Ku angkat kepalaku ke atas, dan terlihat banyak air yang perlahan bercucuran dari langit yang gelap. Shit, cuaca akan hujan rupanya.

"Shikamaru, ayo kita masuk ke dalam. Di luar akan turun hujan"

Shikamaru hanya mengangguk pelan dan kemudian berlari menuju ke dalam bangunan.

CTARRR!

Kilat baru saja bergemuruh, dan menambah suasana mencekam di sekitar sini. Aku dan Shikamaru memutuskan untuk berteduh di depan pintu masuk gedung tua ini.

"Ssshhh, dinginnyaaa" Aku sedikit menggigil karena hawa dingin yang begitu terasa setelah turunnya hujan barusan. Aku menoleh ke arah Shikamaru, yang kini sedang melamun sepertinya.

"Kau sedang apa?" Tanyaku.

"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu" Jawabnya singkat.

"Hn?"

"Aku hanya heran dengan bangunan tua ini. Apa sebenarnya tujuan pemerintah zaman dulu membangunan rumah sakit jiwa di hutan ini" Ucapnya sambil tetap memandang ke arah langit yang gelap karena mendung.

CTARRR!

"Sudah jelas kan, untuk menampung penderita sakit jiwa" Sahutku.

"Tak se simpel itu Sasuke. Pasti ada yang di rahasiakan atas berdirinya bangunan besar di pulau yang terpencil ini. Ingat, jika hanya untuk menampung pasien gangguan mental. Kenapa pemerintah harus serepot ini? Kenapa tidak menaruh mereka di rumah sakit jiwa terdekat saja?" Jelasnya panjang lebar.

'Benar juga pemikirannya. Memang tak salah anak pemalas ini menjadi pemimpin ekspedisi kali ini' Batinku.

Kami bedua kembali terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba saja, angin berhembus kencang dan udara di luar semakin tidak bersahabat.

"Shika, bagaimana kalau kita masuk ke dalam sekarang?"

"Baiklah. Itu ide bagus"

Kami berdua pun membuka pintu utama yang ada di hadapan kami dengan sekuat tenaga. Karena sudah lama sekali tidak di buka tutup, engsel pintu besar itu tentunya sudah karatan dan macet.

Krieettt...

Gelap. Kotor. Dan sunyi. Itulah tiga hal yang pertama kali hinggap di kepalaku ketika melihat isi dari bangunan tua ini.

"Uhuk..uhuk..uhuk" Shikamaru tak bisa menahan diri untuk tidak terbatuk ketika menghirup udara yang terkontaminasi oleh banyak debu yang berasal dari dalam ruangan gelap ini.

Aku raba kantung celana panjangku berkali-kali, dan akhirnya kutemukan benda yang amat berguna pada situasi mencekam seperti sekarang ini.

Ctekkk...

"Sas, sejak kapan kau membawa pemantik?" Tanya Shikamaru keheranan.

"Aku tak sengaja membawanya dari rumah. Awalnya kupikir bisa berguna untuk menyalakan api unggun. Tapi...malah ternyata berguna di kondisi yang berbeda"

Setelah kunyalakan pemantik, samar-samar ruangan yang gelap gulita itu menjadi sedikit terang. Walau kuakui penerangannya tak sebagus senter.

Kami perlahan melangkahkan kaki memasuki ruangan yang terbilang besar dan luas ini. Sepertinya, ruangan ini dulunya di fungsikan sebagai lobi rumah sakit.

"Shikamaru, sebenarnya apa yang kita cari di sini?" Pertanyaanku barusan akhirnya memecah keheningan yang berlangsung selama beberapa menit.

"Kita akan berusaha mencari tahu tentang informasi penting mengenai tempat ini"

Aku langsung menghentikan langkahku tiba-tiba.

"Jadi, itu maumu?" Nada bicaraku berubah menjadi datar dan serius.

"Iya, memangnya apalagi?"

"Kupikir kau ingin mencari hal yang berguna bagi kita yang masih survive di sini. Tapi ternyata, hanya untuk mencari informasi hah? Jangan bodoh kau Shika!" Bentakku dengan geram terhadap sikapnya. Aku pikir, ia mengajakku ke tempat terlarang ini untuk mencari benda ataupun apalah yang berguna bagi kelangsungan hidup kami semua. Tapi ternyata, ia hanya memanfaatkanku untuk hal-hal yang menyangkut kepentingan pribadi bocah pemalas itu. Sial, inilah kerugian bagi seorang teman dari sosok yang amat cerdas.

"Tapi ini penting Sasuke. Kau pikir..." Belum selesai Shikamaru menjelaskan, tiba-tiba tercium bau busuk bercampur kemenyan.

'Bau ini kan? Seperti..seperti waktu dalam mimpi itu'

Aku tengokkan kepalaku ke segala arah. Bagus, masih belum terjadi sesuatu.

"Shika, saatnya kita pergi sekarang" Kuraih tangannya, dan berusaha mengajaknya pergi secepatnya dari bangunan tua ini.

Hihihihihihi...

Tiba-tiba terdengar suara tawa seseorang. Suara tawa itu walau lirih, tapi benar-benar terasa amat menakutkan. Samar-samar dari arah pintu keluar terlihat sesosok bayangan putih yang masih tak berbentuk.

Lambat laun sosok bayangan itu semakin jelas dan jelas bentuknya. Mata yang memerah, tatapan membunuh itu, dan taringnya yang runcing persis seperti penampakan sosok yang hampir saja membunuhku dalam mimpi.

"Sasuke, bagaimana ini? Sasuke!" Shikamaru berteriak-teriak ketakutan sembari mencengkeram tanganku erat. Seorang yang amat cerdas saja bisa-bisanya bertingkah sebodoh ini.

Sosok menakutkan itu terbang pelan ke arah kami berdua. Shit, wajahnya yang rusak itu membuatku tak bisa berpikir sehat.

Kulirik ke samping kananku dan di sana terdapat sebuah lorong yang gelap. Aku tahu ini terkesan beresiko, tapi apa boleh buat lagi.

"Lari Shikamaruuu!" Aku dan Shikamaru berlarian berusaha menghindar dari makhluk mengerikan yang sepertinya akan berusaha membunuh kami itu. Dalam posisi berlarian tidak karuan seperti ini, api dari pemantikku makin meredup akibat tertiup angin. Dan itu mengakibatkan segalanya menjadi gelap.

"Ayo masuk ruangan ini" Kucoba memegang engsel pintu satu-satunya aku lihat sekarang. Tak peduli apa yang akan terjadi di dalam, Yang terpenting sekarang, kami berdua harus secepatnya menghilang dari pandangan makhluk terkutuk itu.

Ceklek...

Aku langsung masuk dan di susul oleh Shikamaru. Kemudian secepatnya kututup kembali pintu itu.

"Hosh..hosh..hosh makhluk apa tadi itu ya?" nafasku tak beraturan layaknya sehabis olahraga. Aku kembali menyalakan pemantikku yang sempat mati tadi untuk menerangi ruangan ini.

Ctekkk...

Ku arahkan pemantik itu ke sampingku. Disana terlihat Shikamaru yang samar-samar sedang memikirkan sesuatu dengan wajah yang amat pucat pasi.

"Sasuke, apa kau percaya apa yang barusan kita lihat tadi?" Shikamaru berusaha membuka pembicaraan setelah sebelumnya kami hanya sanggup berteriak-teriak tak jelas.

"Iya, aku percaya. Sosok itu, persis seperti yang aku lihat dalam mimpiku. Tapi bedanya, dalam mimpiku makhluk itu hampir saja mencekikku" Jawabku dengan jelas.

Aku berjalan ke depan dan lalu mendudukan bokongku di meja yang usang. Mungkin dulunya ruangan ini adalah kantor pribadi seorang dokter atau semacamnya.

"Bagaimana ini Shika? Apakah setan itu akan mengikuti kita hingga kemari?" Tanyaku dengan nada cemas.

Shikamaru menghela napas sejenak, kemudian menjawab "Aku pikir untuk sementara kita aman. Jika setan itu benar-benar mengikuti kita, seharusnya sejak tadi ia muncul di ruangan ini"

Ada benarnya juga perkataan Shikamaru. Mungkin, untuk sementara kami berdua akan aman. Tapi, tak mungkin juga jika selamanya berada di sini. Apalagi tanpa makanan dan minuman sama sekali.

"Kira-kira, bagaimana kabar Naruto dan Sai ya? Apakah mereka baik-baik saja?" Dalam kondisi seperti ini, sempat-sempatnya bocah rambut nanas itu memikirkan kondisi orang lain.

"Entahlah. Mungkin mereka berdua sedang mencari tempat berteduh. Soalnya, di luar hujan deras" Sahutku sembari meregangkan otot-ototku yang kaku.

"Hoahmmm...merepotkan" Gumam Shikamaru.

CTARRR!

Suara petir masih setia menemani sang badai dalam menjalankan rutinitasnya. Apa yang harus kami lakukan. Terjebak dalam ruangan gelap nan sunyi, di luar bahaya mengancam jiwa, dan cuaca sedang tak mendukung. Aku yakin Naruto pasti akan mati ketakutan jika berada dalam posisiku ini.

"Sasuke, aku tidur dulu ya sejenak. Badanku capai dan pegal semuanya" Kulihat Shikamaru mulai menjalankan ritualnya itu. Cih, dalam kondisi serba kepepet seperti ini, masih sempat-sempatnya ia tertidur.

Aku putuskan untuk mencari-cari sesuatu di ruangan sempit ini. Di ruangan ini kulihat hanya terdapat sebuah kursi usang, meja yang sudah reyot, sebuah almari, dan sofa butut tempat dimana tubuh Shikamaru berada untuk ngorok.

Ku dekati almari dan kucoba melihat-lihat buku-buku usang yang masih berwujud.

Aku menerangi tulisan yang tercetak di cover buku itu dengan cahaya pemantikku satu per satu.

(Basic Psychology)

'Tak menarik'

(Buku Panduan Merawat Pasien)

'Tak membutuhkan itu'

(Diet and Suplement)

'Cih, tak berguna'

(Diary)

'Hn? Apa kira-kira isinya ya?'

Kucoba mengambil dengan penuh hati-hati buku yang bercover 'Diary' itu dari tempatnya. Setelah kuambil, lalu segera kutiup perlahan debu-debu yang menempel di buku kecil itu. Lalu kucoba untuk membuka halaman satu per satu.

Halaman demi halaman hanya berisi ungkapan perasaan dari seseorang yang bernama Suster Nanaho. Mungkin, dulunya ia adalah suster di rumah sakit jiwa ini.

Sudah hampir seluruh halaman kubuka dan kubaca sekilas. Semuanya tak berguna. Sampai pada akhirnya kubuka halaman terakhir dengan rasa bosan yang tinggi.

'Tunggu, apa ini?'

Dear Diary,

Aku sungguh-sungguh tidak percaya dengan rencana yang akan di jalankan oleh atasanku, Dr. Kurotama. Ia akan berencana untuk melenyapkan seluruh pasien di sini dengan ramuan beracunnya yang nantinya akan ia campurkan ke dalam obat pasien sakit jiwa. Bagaimana ini? Sebenarnya aku amat menolak rencana itu, tapi dia juga atasanku. Ku berharap, semoga rencana mengerikannya itu tak akan terlaksana.

Baru saja selesai kubaca halaman penting itu, tiba-tiba dari arah pintu yang terkunci...

DOKK..DOKK..DOKKK

TSUZUKU

Yosh, selesai juga chapter ini. Maaf kalo horrornya aneh, hehehe. Saya rada bingung mau buatnya yang gimana. Oke, bagi yang mau kasih saran, kritik, ataupun flame author persilahkan kok. Klik tulisan REVIEW dan silahkan mengungkapkan uneg-unegnya :-)