DOKK..DOKK..DOKKK

Aku yang sedang serius dalam berpikir tiba-tiba harus di kejutkan oleh suara ketokan pintu. Kulihat Shikamaru masih tergeletak di sofa dengan nyenyaknya. Sial, apalagi malapetaka yang akan terjadi?

DOKK..DOKK..DOKKK

"Enghhh...bunyi apa sih itu?" Pria pemalas itu mulai membuka matanya sedikit demi sedikit tanpa perasaan kaget ataupun panik sama sekali. Tentu saja, itu di karenakan kesadarannya belum sepenuhnya terisi.

Ku tempelkan telunjuk tangan kananku di depan mulut ke arah Shikamaru sebagai isyarat untuk tetap diam dan stay calm. Walaupun sejujurnya hatiku sekarang di penuhi berbagai macam bayangan-bayangan yang menakutkan terkait tentang sosok yang ada di balik pintu.

Kulihat wajah Shikamaru mendadak pucat disertai kedua matanya yang melotot ke arahku. Tapi kemudian untungnya dia bisa mengendalikan diri untuk tidak berbuat bodoh dengan cara berteriak ataupun semacamnya.

Segera kuambil golok yang terbungkus rapi di pinggang belakangku demi mempertahankan diri dari segala ancaman yang akan terjadi. Walau kuakui, seandainya sosok astral itu yang meneror kami lagi, golok ini tak akan mungkin dapat melukainya.

DOKK..DOKK..DOKK..DOKKK

Suara pintu yang diketuk terdengar lebih kencang kali ini. Akupun menelan ludah sembari memberanikan diri berjalan ke arah pintu dan tetap tak lupa memegang erat senjataku ini. Shikamaru pun ikut berjalan membelakangiku dengan posisi siaga, dan tak lupa ikut memegang erat belati kecil yang ia sempat bawa itu.

Kenop pintu yang sudah reyot itu kupegang erat, disertai tetesan keringat dingin dari telapak tangan kiriku yang ikut membasahinya. Perlahan tapi pasti kugerakan kenop itu ke bawah dengan perasaan yang luar biasa cemas. Seandainya aku mati di tempat ini sekarang, aku rela asalkan temanku Shikamaru dapat meloloskan diri.

Kriettt...

Mataku melotot tajam tak kuasa menahan rasa kaget yang berkecamuk di dadaku. Begitu juga reaksi Shikamaru ketika melihat sosok yang bertanggung jawab terhadap ketukan pintu berkali-kali barusan.

"Ka..kau?"

.

.

.

-Obakeyashi Island-

"Naruto, lihat itu sepertinya ada bangunan untuk berteduh" Sai menunjuk ke arah tempat yang barusan ia usulkan sebagai tempat berteduh sambil berlari-lari kecil. Tak lupa diikuti oleh Naruto yang dijamin pastinya sekarang perasaannya takut luar biasa.

Badai masih mengamuk dengan ganasnya di luar. Sai dan Naruto yang sedang duduk manis di alam terbuka mau tidak mau harus bergegas mencari tempat berteduh kalau mereka tidak mau sakit, ataupun mati kedinginan. Karena keadaan hutan yang cukup gelap di sertai lupa jalan pulang, Sai dan Naruto terpaksa berlari-lari menyusuri hutan dengan langkah tanpa arah. Walau dengan satu tujuan yang absolut, mencari bangunan untuk berteduh.

Mereka berdua akhirnya telah sampai di sebuah bangunan yang terlihat tak kalah tuanya dengan rumah sakit jiwa yang di masuki oleh Sasuke dan Shikamaru. Tapi bedanya bangunan ini tak sebesar rumah sakit jiwa itu, dan tak berdiri sendiri. Iya, karena ada sekitar 4 sampai 5 bangunan yang sama persis di situ.

"Brrr..brrr..kau tidak kedinginan Sai?" Tanya Naruto sembari menggigil karena kedinginan akibat kurang lebih 15 menit berlarian di tengah badai lebat. Kedua tangannya terus disilangkan di dadanya, sambil terus bergetar karena efek dari dingin.

"Aku juga kedinginan lah. Untung saja kita beruntung telah menemukan bangunan sebagai tempat berteduh. Kalo tidak? Bisa-bisa kita mati di tengah hutan" Ucap Sai panjang lebar. Dia dan Naruto kini tengah berteduh di dalam bangunan tua yang tak terlalu luas dan besar. Kurang lebih ukurannya tujuh kali empat meter. Dan tingginya tak lebih dari dua meter saja.

"Sai, ngomong-ngomong kita sekarang sedang berada di tempat apa ini? Kenapa tempat ini terasa amat menakutkan yah?" Naruto tak henti-hentinya mengamati suasana sekitar dengan ekspresi panik. Dalam pikirannya sudah terisi oleh berbagai hal-hal buruk, bahkan amat buruk.

Sai turut menggerakan kepalanya ke segala arah sambil ikut mengamati. "Entahlah. Yang aku heran disini terdapat 5 bangunan yang sama persis seperti ini, dan bangunannya berjajar rapi. Menurutmu apa Nar?"

Naruto terdiam sejenak seperti sedang berpikir secara mendalam. "Kalo aku rasa, tempat ini seperti perkemahan tetap saja. Seperti pernah di gunakan oleh banyak orang"

Sai menganggukan kepalanya pelan pertanda setuju dengan pendapat Naruto. Dia kemudian mencoba memasuki bangunan itu karena penasaran.

"Tunggu Sai" Naruto pun ikut masuk karena tak mau berdiri sendirian di depan.

Bola mata Sai bergerak ke segala arah seakan dirinya sekarang benar-benar ingin mengetahui tentang asal-usul bangunan yang tengah ia dan Naruto gunakan sebagai tempat berteduh itu. Yang ia lihat sekarang hanyalah tinggal beberapa perabotan yang tidak penting, yang sudah rusak juga. Ada meja besar diikuti kursi-kursi reyot yang mengelilinginnya, beberapa almari besar yang masih berdiri cukup kokoh walau sudah dipenuhi oleh jaring laba-laba, dan terakhir ada banyak ranjang tingkat yang tergeletak berjejeran.

'Tempat apa sebenarnya ini?' Batinnya heran.

"Sai, kau sudah menemukan sesuatu?" Naruto yang barusan masuk ke dalam tiba-tiba langsung membuka keheningan.

Sai menoleh ke arah temannya itu sambil menggeleng pelan. Kemudian dilanjutkannya lagi observasinya. Di luar badai sudah mulai mereda, yang ditandai dengan terhentinya desiran angin besar dan gemercik kerasnya tetesan air hujan. Tapi hal itu percuma, karena keadaan di dalam ruangan besar itu masih cukup gelap.

"Sai, aku takut. Sebenarnya kita ada dimana sih?" Naruto menempel-nempel ke tubuh Sai. Dan hal itu tentu saja membuatnya risih.

"Entahlah. Jangan bertingkah childish terus lah, dan cobalah bertindak dewasa sedikit"

Akibat teguran Sai barusan, bocah berambut pirang itu akhirnya menjauhkan tubuhnya sambil menggerutu tidak jelas. Naruto memutuskan untuk menuruti nasehat Sai walau sejujurnya itu membuat hatinya gundah.

Ketika Naruto sedang melihat-lihat dinding ruangan yang gelap itu, tiba-tiba saja tatapannya menangkap sesuatu yang menurutnya aneh. Ia pun melangkah mendekat ke dinding sembari menajamkan penglihatannya.

'Apa ini ya? Seperti lambang sebuah organisasi militer saja'

"Sai, kemari. Aku menemukan sesuatu yang aneh disini" Teriak Naruto antusias. Sai yang masih berjalan-jalan tak tentu, akhirnya merasa tertarik dengan ucapan Naruto.

"Lihat ini Sai" Jari telunjuknya ia arahkan ke logo yang samar-samar masih cukup jelas untuk dilihat. Sai mengamati logo itu dengan seksama. Logo itu warnanya sudah ngeblur, tapi bentuknya masih cukup jelas terlihat. Sebuah lingkaran dengan sepasang senjata yang mendampingi di sisi kanan dan kiri, disertai huruf JSM yang berada persis di bawah lingkaran itu.

"Ini seperti..seperti simbol organisasi militer saja" Gumam Sai. Ia kemudian mencoba berpikir keras tentang segala yang ia temui barusan. Walaupun otaknya tak secerdas Shikamaru, tapi ia tak mau tinggal diam menghadapi misteri yang cukup rumit ini.

'Bangunan tua yang berjejer rapi, ditambah suasana ruangan yang mirip perkemahan untuk banyak orang, dan terakhir logo militer. Hmmm, atau jangan-jangan tempat ini sebenarnya adalah...'

Belum selesai Sai berpikir, tiba-tiba saja Naruto berkata "Tempat ini sepertinya adalah bekas barak tentara".

Sai cukup terkejut atas penuturan spontan dari Naruto barusan. Sepertinya dirinya sudah kalah selangkah dalam masalah adu otak dengan Naruto, yang terkenal bodoh dan selalu berpikir pendek.

"Benar juga katamu Nar. Tempat ini dulunya adalah perkemahan tentara. Tapi...untuk apa kira-kira ada tentara di pulau terpencil ini?" Sai menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari mencoba untuk berpikir lebih dalam.

"Jika tempat ini adalah bekas kamp militer, maka..maka..hantunya pasti banyak. Hiyyy" Naruto berlari kecil ke arah luar ruangan. Sai yang melihat tingkah Naruto barusan hanya bisa tersenyum simpul. Walau dalam hatinya tak memungkiri ada sedikit perasaan cemas dan takut mengenai keberadaan tempat ini.

Hujan sudah benar-benar hampir mereda. Hanya tinggal gerimis kecil saja yang tersisa. Tapi sayangnya langit masih tetap mendung dan gelap. Naruto yang habis melarikan diri dari dalam bangunan sekarang telah berada di alam terbuka kembali. Entah kenapa perasaannya amat takut sekarang. Padahal tadinya ia tak secemas ini sebelum berpikir dan menyimpulkan tentang asal-usul tempat aneh ini. Tapi begitu paham dan mengerti, entah mengapa ia jadi paranoid dan benar-benar ingin pulang ke kapal. Bukan malah, pulang ke rumahnya yang sejuk dan damai.

"Hiks..hiks..aku ingin pulang sekaranggg" Naruto tiba-tiba mulai menangis akibat kerinduannya akan suasana di rumah yang selalu ia dambakan. Memang benar Naruto adalah anak rumahan. Sepulang sekolah ia jarang bermain keluyuran ke mana-mana. Pasti selalu pulang tepat waktu. Ibu dan ayahnya juga sering memanjakannya setiap saat. Dan segala hal itu tak bisa ia dapatkan sekarang ini. Dan tentu saja hal itu membuatnya amat sedih dan pilu.

'Grrr'

Ketika Naruto masih terisak, tiba-tiba saja terdengar suara geraman yang lirih dari arah belakangnya. Sontak saja bocah cengeng itu segera menghentikan tangisannya dan reflek menoleh ke belakang.

Nihil.

Hanya terlihat rerimbunan pohon yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berpijak. Tapi Naruto yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang ia barusan dengar tadi itu bukanlah halusinasi.

Perasaan sedihnya sekarang berganti dengan perasaan penasaran. Walau tak memungkiri rasa takut masih menggelayuti hati kecilnya. Perlahan ia langkahkan kakinya menuju belakang bangunan. Suara crek crek akibat lumpur yang ia pijak senantiasa terdengar menemani langkahnya.

"Suara apa itu tadi ya?" Naruto menolehkan kepala ke kanan dan kiri, tapi hasilnya tetap nihil. Padahal menurutnya suara aneh itu berasal tak jauh dari sini.

'Grrr'

Lagi-lagi suara itu kembali terdengar. Tapi kali ini lain, suara itu lebih jelas lagi. Naruto menelan ludahnya sembari melirik ke kanan dan kiri karena takut. Ia mencoba berjalan pelan menuju ke dalam bangunan untuk membicarakan hal ini dengan Sai.

Sesosok makhluk sebesar gorilla kini sedang bertengger di atap barak tua itu. Suara tangisan Naruto yang berisik membuatnya bangun dari tidurnya. Dan ia kini terlihat marah atas perbuatan bocah berisik itu. Matanya yang hitam pekat nyaris tanpa pupil itu terus di arahkannya ke Naruto yang kini sedang berjalan pelan. Air liurnya terus menetes dari mulutnya, melewati tiap susunan taringnya yang tak beraturan itu. Dan yang paling mengerikan adalah, kuku-kukunya yang tajam itu terus ia gerakan pelan seakan bersiap untuk mencengkeram sesuatu.

"Sai, aku ingin berbicara denganmu. Penting" Naruto memanggil-manggil temannya itu dari depan pintu barak. Berharap Sai akan segera keluar dan menemuinya.

Krekk..krekk..krekk..

Suara langkah makhluk mirip gorilla itu kini terdengar jelas di telinga Naruto. Dan Naruto tahu sekarang, asal muasal suara aneh itu bukan berasal dari samping, belakang, hutan, ataupun dari dalam bangunan. Tetapi dari arah atap.

Naruto membelalakan kedua matanya lebar sembari melangkah mudur karena saking takutnya sekarang. Bibirnya bergetar lirih akibat perasaan luar biasa panik yang berkecamuk dalam batinnya kini. Ingin ia memanggil maupun berteriak kepada temannya itu. Tapi bibirnya serasa terkunci rapat.

'Grrraahhh'

Desisan makhluk menyeramkan itu terdengar amat menakutkan. Seakan-akan menandakan ajal akan segera menjemput barangsiapa yang telah mendengar suara mengerikan itu. Bentuk monster itu kini sepenuhnya telah terlihat di hadapan Naruto. Wajah yang mirip perpaduan antara kera dan telinga lebar dan panjang layaknya kelelawar. Taring yang terlihat tajam memenuhi bagian mulutnya, yang tak henti-hentinya meneteskan liur menjijikan. Tubuh sebesar gorilla dewasa dengan kuku-kuku tajam di kaki maupun kedua tangannya. Dan yang paling aneh, bentuk ekor panjangnya yang memiliki ujung runcing. Pertanyaannya adalah, makhluk apa itu sebenarnya?

Sai yang masih berada di dalam ruangan dan sama sekali belum menyadari akan bahaya di luar, tiba-tiba merasakan firasat buruk. Ketika ia menoleh ke sekelilingnya, ternyata ia baru sadar bahwa Naruto sedang berada di luar. Segera ia berlari kecil menuju ke luar bangunan untuk menemui Naruto.

Naruto yang tetap dalam posisi mematungnya, kini benar-benar di ujung tanduk. Yang ada dalam pikirannya hanya satu sekarang. Mati.

'GROAAHHH'

Makhluk itu melengking keras sambil bersiap menerkam Naruto dari arah atap. Lengkingannya sekeras auman singa jantan. Sai yang juga mendengar suara mengerikan itu hanya bisa memikirkan satu hal. Temannya sedang dalam bahaya besar.

Makhluk itu meloncat dan menghampiri Naruto. Sedangkan Naruto yang teramat ketakutan hanya bisa pasrah menanti maut dengan mata yang terpejam.

"NARUTO!"

Brukkk...

Ternyata takdir belum juga mengizinkan bocah jabrik itu tewas! Sai dengan sigapnya segera mendorong tubuh Naruto ke samping persis sebelum kuku-kuku tajam makhluk itu menyentuh kulit Naruto. Benar-benar heroik.

Sai yang terjatuh bersama Naruto bergegas berdiri dan menoleh ke arah sosok yang hampir saja menewaskan temannya itu. Perasaannya terkejut bukan main ketika melihat sosok yang ada di depannya itu. Seumur-umur, dia belum pernah melihat ada spesies makhluk buas seperti yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri sekarang ini.

'Makhluk apa itu?' Sai membatin sambil tetap memfokuskan pandangannya pada sosok itu.

Makhluk itu kini berjalan pelan menghampiri mereka berdua masih dengan tatapan membunuh. Cara berjalannya persis seperti gorilla. Kedua tangan depannya yang besar digunakan untuk berjalan. Taring makhluk buas itu terus diperlihatkan seakan-akan menandakan bahwa adanya kebuasan dan kekejaman yang luar biasa dalam diri makhluk itu.

"Sai, bagaimana ini?" Naruto berlindung di belakang punggung Sai dengan mata yang sembab. Tangannya gemetar memegangi pundaknya. Sai lalu berjalan mundur kebelakang, diikuti pula oleh Naruto. Makhluk itu pun masih mengikuti mereka dengan pelan.

Sai mengambil batu yang berukuran sedang dari tanah dengan gerak cepat, dan segera memikirkan suatu rencana walaupun pastinya amat sulit jika dalam posisi terjepit seperti ini. Monster itu masih berjalan pelan seiring dengan mereka yang tetap melangkah mundur. Reaksi monster itu belum menampakan tingkat keagresifan sama sekali. Sai menoleh ke arah belakang, dan ia melihat ada tembok yang menghadang mereka berdua. Benar-benar gawat.

'Grrrrr'

Monster itu mulai menggeram lagi. Kedua tangannya mulai terlihat mencengkeram tanah yang becek. Sepertinya ia akan bergerak kali ini. Sai dan Naruto yang hampir saja mencapai tembok di belakang mereka, hampir saja pasrah di tempat sebelum akhirnya Sai melakukan sesuatu.

Pluk...

Ia melempar batu yang ia ambil ke arah samping monster itu, dan tiba-tiba saja monster itu teralih perhatiannya ke arah suara batu yang tertancap ke tanah becek. Sai yang melihat ada kesempatan untuk kabur, tak mau menyia-nyiakannya. Ia langsung menarik tangan Naruto dan mengajaknya untuk kabur secepat yang ia bisa.

Tapi sayang sekali, monster itu ternyata hanya menolehkan kepalanya sejenak ke arah batu yang terjatuh di tanah dan kembali lagi menoleh ke arah Sai dan Naruto. Melihat kedua bocah itu berlari kencang, monster mengerikan itu mengamuk dan mengejarnya.

'GROAHHH'

Naruto yang sempat menengok kebelakang melihat bahwa makhluk buas itu sedang mengejar dirinya sekarang. Ia pun reflek mempercepat larinya, begitu juga dengan Sai.

"Naruto, ayo kita masuk ke barak itu" Sai menunjuk ke arah bangunan barak yang paling ujung letaknya sambil berlari. Naruto mengangguk dan mengikuti arah lari Sai menuju ke barak yang posisinya tak jauh dari mereka.

Sai masuk ke dalam, disusul oleh Naruto. Sesampainya di dalam, mereka berdua langsung bersembunyi di bawah ranjang tingkat. Nafas mereka benar-benar hampir habis sekarang. Sai menoleh ke arah Naruto dan mengisyaratkan agar Naruto diam agar posisi mereka tak di ketahui oleh makhluk itu.

'Grrrrr'

Makhluk buas itu telah sampai di pintu barak tempat Sai dan Naruto berlindung.

Deg deg deg deg

Suara langkah kaki besarnya terdengar jelas oleh Sai maupun Naruto. Naruto yang benar-benar ketakutan hampir saja menjerit keras kalau saja mulutnya tak segera dibekap oleh Sai. Sai terus mengamati langkah kaki monster itu dari tempat persembunyiannya sembari tetap membekap mulut temannya itu.

'Grrrrr'

Sepasang kaki penuh kuku tajam sekarang telah berada persis di samping ranjang tingkat tempat mereka bersembunyi. Naruto makin gemetar tidak karuan, sedangkan Sai masih mencoba untuk tenang walaupun hatinya sekarang juga merasa takut luar biasa.

Sai terheran-heran terhadap makhluk itu. Seharusnya mereka berdua bisa dengan mudahnya ditemukan. Tapi mengapa dalam posisi yang sudah sedekat ini, makhluk buas itu masih belum juga sanggup mencium keberadaan mereka?

'Apa jangan-jangan, makhluk ini tidak memiliki daya cium yang tajam ya?' Batinnya heran.

Ia terus berpikir dan berpikir. Singkat saja, ia menyimpulkan bahwa makhluk itu hanya sensitif terhadap suara, bukannya bau. Dengan kesimpulan itu, ia bisa menghindari melakukan banyak gerakan yang menimbulkan suara sekarang. Tapi sayang, Naruto tidak tahu akan hal itu sama sekali.

Kaki Naruto yang masih gemetar tanpa sengaja di lewati oleh kecoa. Dan karena ia mengira bahwa kakinya telah disentuh makhluk itu, ia pun melakukan tindakan bodoh. Kakinya reflek bergerak hingga menyenggol kaki ranjang.

Krakkk...

'Grrrrr'

Makhluk itu kembali berjalan mendekat ke arah ranjang tingkat, sembari tetap mencari Naruto dan Sai. Naruto hampir saja menangis kalau saja Sai tidak terus menutup mulutnya. Sai benar-benar bingung dengan keadaan yang sedang ia alami sekarang ini. Sedikit saja bergerak dan menimbulkan suara, maka ia akan ketahuan. Tapi terus-terusan bersembunyi di bawah ranjang tingkat, bukanlah hal yang bagus. Apalagi ia tidak tahu sampai kapan monster itu akan pergi. Matanya terus ia pejamkan dan pikirannya terus ia tenangkan, sambil berharap ada ide yang terbesit dalam benaknya.

Naruto yang masih di bekap oleh Sai hanya bisa melotot ke arah kaki monster itu yang masih mondar-mandir dalam ruangan. Tapi tiba-tiba saja, kecoa yang tadinya menggerayangi kakinya lewat persis di hadapannya. Naruto yang kebetulan juga fobia terhadap serangga jorok itu, akhirnya kelepasan berteriak "Aaahhh".

'GROOAAHHH'

Monster itu sudah tahu dimana keberadaan mereka berdua. Sai dan Naruto nasibnya benar-benar di ujung tanduk sekarang.

-TSUZUKU-

Langsung aja. Bagi yang ingin kasih saran, kritik, ataupun flame. Segera klik tulisan REVIEW di bawah ini :-)