'GROAHHHHH'
Monster itu menggoyang-goyangkan ranjang tingkat itu dengan sekuat tenaga. Sai dan Naruto sekarang benar-benar dalam posisi terjepit sekarang. Sai tahu bahwa dengan cara berdiam diri di bawah ranjang terus bukanlah hal yang bagus. Maka ia segera mendorong tubuh Naruto agar segera keluar dari tempat persembunyian mereka itu, dan kemudian disusul oleh dirinya.
"Lari Narutooo!" Sai berteriak keras dengan harapan agar temannya itu segera menggunakan kesempatan emas itu dengan sebaik-baiknya. Naruto yang benar-benar kalut hanya bisa menuruti omongan Sai. Ia berlari sekuat tenaga meninggalkan Sai yang masih berada bersama monster itu di dalam barak.
Sai yang tahu bahwa kemungkinan dirinya selamat amat-amat tipis, hanya bisa berbuat semaksimal semampunya sekarang.
'GROAHHH'
Monster itu berjalan mendekati Sai yang kini makin terpojok. Sai benar-benar bingung mau berbuat apa. Ketika ia menoleh kebelakang, ia melihat ada benda hitam kecil yang tergeletak di lantai. Ia tahu benda apa itu. Ia bergegas mengambilnya sembari berjalan mundur. Tapi sayangnya punggung Sai telah menyentuh tembok, dan itu artinya tak ada sepersenpun kemungkinan baginya untuk selamat.
"Aku tahu aku akan mati. Tapi ketika aku malaikat maut menjemputmu, aku minta kau pun ikut pergi bersamaku" Sai tersenyum manis walaupun monster itu hampir mencabik tubuhnya.
Sai melempar benda itu ke tanah...Ctek...
DHUARRR!
Dari kejauhan, Naruto mendengar suara ledakan yang amat keras yang asalnya dari tempat barak militer itu. Ia tak kuasa menahan tangis ketika mengetahui bahwa Sai masih terjebak bersama monster itu. Asap tebal membumbung tinggi ke angkasa, seiring dengan kobaran api yang melalap barisan bangunan tua itu.
"Hiks..hiks..Saaiiiii..." Naruto terjatuh ke tanah dan terus menangis keras meratapi kepergian teman yang sudah melindunginya tadi.
.
.
.
-Obakeyashi Island-
"Ka..kau si..siapa?"
Aku terlonjak kaget melihat sesosok manusia yang berdiri tegak di hadapanku sekarang ini. Shikamaru yang berada di belakangku tiba-tiba langsung meringsek maju dan mengarahkan belati kecilnya itu ke arah sosok misterius itu.
"Mati kau!"
Settt...
Tangan kanan Shikamaru yang digunakan untuk melayangkan belati itu tiba-tiba langsung ditangkis oleh sosok itu.
"Jangan bertindak gegabah Shika!" Aku pun reflek meneriaki temanku yang tidak biasanya bertindak segegabah ini.
"Siapa kau hah? Apa kau yang menyebabkan kami berdua diserang oleh iblis itu?" Shikamaru menatap tajam ke arah sosok itu. Sosok pria paruh baya berambut merah itu hanya bisa membalas tatapan Shikamaru dengan tenang.
"Tunggu-tunggu, aku tak bermaksud jahat kepada kalian" Pria berambut merah itu melepaskan tangan kanan Shikamaru seketika. Menurutku pria ini adalah manusia sungguhan dan bukan hantu ataupun sejenisnya. Aku melihat bayangan tubuhnya dan kakinya yang masih menapak ke tanah. Well, walaupun alasanku terdengar childish, tapi masuk akal juga bukan?
"Lalu, siapa kau? Dan mengapa kau bisa tahu kami terjebak disini?" Tanyaku amat penasaran. Pria itu pun menghela napas sejenak, baru kemudian menjawab pertanyaanku.
"Namaku adalah Sabaku no Gaara. Tapi kalian boleh memanggilku Gaara saja. Aku adalah seorang polisi laut yang sudah 7 tahun bertugas mengawasi perairan di kepulauan Kirigakure" Ucap pria yang bernama Gaara itu dengan jelas.
"Kau jangan bohong heh? Ckckck, kau pikir kami bisa dengan mudahnya percaya dengan omonganmu?" Shikamaru berkata sinis terhadap Gaara. Mungkin dia masih belum sepenuhnya percaya kepada polisi laut itu.
Gaara mengernyitkan dahinya dengan ekspresi heran "Buat apa aku berbohong pada kalian berdua hah? Apa untungnya buatku coba?"
"Ok, aku percaya padamu Gaara-san. Tapi tolong jawab satu pertanyaanku. Mengapa kau bisa menemukan kami disini? Tolong, jawablah" Aku berbicara dengan nada memohon.
"Baik, aku akan menjawab pertanyaanmu. Bahkan segala yang ingin kau tanyakan. Tapi sebelumnya, lebih baik kita berdiskusi di tempat lain saja. Jangan disini. Karena tempat ini amat tidak aman"
.
.
.
-Obakeyashi Island-
Akhirnya aku dan Shikamaru sepakat untuk menuruti saran pria yang bernama Gaara itu. Kami bertiga segera meninggalkan bangunan rumah sakit jiwa ini secepatnya, dan bergerak menuju tempat yang Gaara janjikan. Walaupun aku sepenuhnya masih belum percaya seratus persen dengan pria misterius yang tiba-tiba tahu keberadaan kami itu, tapi aku berusaha untuk berpikir positif. Siapa tahu dia benar-benar ingin menolongku dan Shikamaru.
"Kita akan kemana Gaara-san?" Shikamaru bertanya sambil terus mempercepat langkahnya mengikuti jalur yang Gaara tunjukan. Aku pun ikut mempercepat langkahku dengan harapan, segera meniggalkan rumah sakit jiwa mengerikan itu sejauh mungkin yang aku bisa.
Gaara menoleh ke belakang "Kita akan menuju ke kapalku di dekat pantai. Kalian bisa bertanya segala yang ingin kalian tanyakan disana. Tapi untuk sementara ini, kita harus secepatnya meninggalkan hutan ini".
Aku pun mengangguk pelan. Kulihat Shikamaru masih menatap Gaara dengan tatapan yang mengandung curiga. Hn, mungkin itulah sifat buruk dari orang yang memiliki kemampuan logika di atas rata-rata.
Akhirnya kami bertiga telah melihat gulungan ombak di kejauhan sana. Dan itu artinya, pantai sudah dekat. Setibanya di pantai, Gaara langsung berjalan menuju ke kapalnya yang tergeletak di tepian. Sebuah kapal yang cukup bagus dengan ukuran kira-kira setengahnya yacht yang ditumpangi olehku dan teman-temanku. Kapal dengan corak biru tua itu bertuliskan KIRI POLICE DEPARTEMENT yang tercetak besar di sisinya. Mungkin dia memang polisi laut sungguhan.
"Ayo masuklah ke dalam. Di dalam kapalku ada beberapa sachet kopi instan beserta handuk. Jadi kalian berdua bisa mengeringkan badan sekaligus menghangatkan diri" Gaara dengan nada ramahnya mempersilahkan aku dan Shikamaru untuk masuk ke dalam. Benar-benar pria yang ramah.
"Terima kasih Gaara-san" Kataku sambil berjalan memasuki ruang kecil yang ada di kapal itu.
"Hoahmmm...aku percaya padamu sekarang" Shikamaru menepuk-nepuk pundak Gaara sebelum akhirnya ikut masuk ke kapal kepolisian ini. Dan Gaara hanya bisa tersenyum simpul saat mendengar penuturan Shikamaru barusan.
Aku pun segera melepas bajuku yang basah dan langsung mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhku. Begitu juga dengan laki-laki pemalas itu. Setelah rambut dan tubuhku benar-benar kering, aku segera mencari sachet kopi instan untuk membuat kopi panas.
"Ini kopinya, sudah kubuatkan" Gaara berjalan dari arah belakang sambil membawa tiga cangkir kopi panas. Satu untukku, satu untuk Shikamaru, dan yang terakhir pasti untuk dirinya sendiri.
"Terima kasih Gaara-san. Maaf kalau merepotkanmu" Aku langsung menyeruput kopi panas itu dengan cukup tergesa-gesa. Aku akui bahwa selama aku terjebak di rumah sakit jiwa sialan itu, aku terus-terusan diterpa udara yang dingin setiap saat.
"Baiklah karena situasinya sudah aman dan nyaman, maka akan kupersilahkan kalian untuk bertanya" Gaara mulai menyeruput kopinya dengan hati-hati.
"Baiklah, aku duluan yang bertanya" Ucap Shikamaru.
Aku dan Gaara menoleh ke arah laki-laki rambut nanas itu.
"Pertama, tolong jelaskan asal-usulmu sejelas-jelasnya. Siapa coba yang tidak merasa curiga tehadap seseorang yang tiba-tiba hadir dalam suasana yang genting, padahal orang itu sebelumnya sama sekali belum pernah dikenal dan dilihatnya?" Lagi-lagi Shikamaru masih membawa rasa kecurigaannya terhadap Gaara.
Gaara menaruh cangkirnya dengan hati-hati diatas meja kecil. "Baik, aku akan jelaskan asal-usulku dengan lengkap. Tentang nama dan profesiku mungkin sudah aku jelaskan tadi. Yang perlu kalian ketahui, aku adalah polisi laut yang sudah hampir 7 tahun ditugasi untuk mengawasi perairan di kawasan kepulauan Kirigakure".
Aku memperhatikannya dengan serius.
"Aku tahu bahwa kawasan perairan di sekitar pulau Obakeyashi berbahaya. Maka aku hanya bertugas untuk berjaga di radius 300 meter dari titik pantai pulau ini. Tapi gara-gara badai besar tadi, tiba-tiba kapalku tersapu ombak yang amat besar hingga mencapai pantai Obakeyashi. Untung saja aku dan rekanku selamat" Gaara kembali mengambil cangkirnya dan menyeruputnya lagi.
Aku ikut menyeruput kopi di cangkirku perlahan. Rasa hangat mulai sepenuhnya bereaksi di tiap sendi dari tubuhku ini. Hn, suasana yang damai dan tenang.
Shikamaru memasang wajah heran "Rekan katamu? Kulihat, di kapal ini kau cuma sendiri?"
"Memang benar aku bekerja bersama rekanku. Namanya adalah Hyuuga Neji. Dia kini sedang berada bersama teman-teman perempuan kalian yang masih ada di kapal itu" Ucap Gaara dengan tenang.
"Tunggu-tunggu Gaara-san, kaubilang rekanmu sedang bersama teman-teman kami di kapal? Memangnya, sebelumnya kau tahu keberadaan kapal kami?" Aku mengajukan pertanyaan yang sontak memenuhi pikiranku.
"Iya benar. Aku dan Neji sebetulnya tadinya terdampar tak jauh dari tempat di mana kapal kalian berada. Tapi kata teman kalian yang perempuan itu, kami berdua di suruh menemukan kalian berdua yang katanya masih belum juga kembali dari hutan. Akhirnya aku melajukan kapalku ke sini yang merupakan pantai terdekat dari rumah sakit jiwa itu. Sedangkan Neji kusuruh berjaga di kapal kalian" Gaara kembali menyeruput kopinya hingga isi cangkir itu benar-benar habis. Kemudian meletakan cangkirnya di meja dan bangkit berdiri.
"Well, kukira segitu saja pertanyaan yang kalian ajukan. Lebih baik, sekarang kita berpikir dan setelah itu bertindak demi keselamatan kalian beserta teman-teman kalian" Laki-laki berambut merah jabrik itu menyilangkan kedua tangannya.
Kulihat di sampingku, raut muka Shikamaru masih menunjukan rasa penasarannya yang begitu tinggi. Kupikir, laki-laki pemalas itu tak akan membiarkan sedikitpun informasi penting yang terlewat darinya mengenai asal-usul pulau angker ini.
"Gaara-san, apakah aku boleh mengajukan pertanyaan lagi?" Shikamaru menatap wajah Gaara dengan ekspresi memohon. Gaara yang merasa tidak enak ditatap seperti itu akhirnya mau tidak mau menganggukan kepala pelan.
"Tolong, jelaskan asal-usul pulau ini selengkap-lengkapnya. Kumohon" Shikamaru tak kusangka mau-maunya berdiri dari duduknya dan menundukan tubuhnya (ojigi) sembari memohon kepada Gaara. Benar-benar anak cerdas ini. Untuk masalah informasi penting, dia rela melepas rasa malasnya begitu saja.
Gaara memutar bola matanya "Oke, tapi aku akan menjelaskan semampuku saja ya. Setelah itu, kita harus bergegas menyelamatkan teman-teman kalian yang masih terjebak di dalam hutan belantara".
Shikamaru mengangguk dengan semangatnya. Aku pun jujur merasa cukup tertarik dengan sejarah pulau ini. Ku pasang pendengaranku baik-baik.
"Ehm..ehm, cerita panjang mengenai pulau ini bermula ketika di tahun 1906..."
Gaara Story :
Di tahun 1906, pemerintah pusat Jepang mengadakan rencana rahasia yang bertujuan utama untuk mengalahkan negara tetangganya dalam peperangan yang kala itu masih berkobar. Karena rencana ini beresiko amat besar, maka pemerintah saat itu yang masih dipimpin oleh tuan Kaihito menghendaki agar rencana ini maupun pelaksanaannya tidak tercium beritanya oleh publik. Oleh karena itu, di pilihlah pulau terpencil yang ada di ujung perairan Kirigakure sebagai tempat pelaksanaan rencana yang disebut dengan 'Zero Point'. Pemerintah dalam memulai rencana ini mengawalinya dengan mendirikan sebuah bangunan rumah sakit jiwa besar di tengah hutan pulau ini. Fungsi sebenarnya rumah sakit jiwa itu bukanlah sebagai tempat mengobati para pengidap gangguan mental ataupun sejenisnya. Pemerintah pusat mengirimkan para tawanan perang ataupun penjahat-penjahat kriminal ke dalam rumah sakit jiwa itu. Di sana, mereka di tes satu per satu untuk dipersiapkan sebagai senjata pembunuh yang nantinya akan diterjunkan di medan peperangan melawan negara musuh. Dengan berkedok pembangunan rumah sakit jiwa ini, para masyarakat luas mengira bahwa tuan Kaihito benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Yaitu dengan cara membangunan bangunan rumah sakit jiwa besar dan megah yang berada di pulau yang sejuk dan tenang. Banyak orang mengira pemerintah benar-benar punya rasa kemanusiaan yang tinggi. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Para tahanan itu tiap hari di beri serum khusus yang berfungsi untuk merubahnya menjadi makhluk mutan mengerikan perlahan-lahan. Tiap harinya, pasti ada saja tahanan yang tewas karena tidak kuat menahan dosis dari serum berbahaya itu. Oleh karena itu pada suatu hari, dokter kepala rumah sakit yang sebenarnya adalah kepala dari tim ilmuwan anggota Zero Point yang bernama Dr. Kurotama merencanakan untuk membunuh semua para tahanan kelinci percobaan itu dengan racun berbahaya. Banyak orang mengira dokter ini seorang psikopat yang kejam. Padahal sebenarnya tujuan dokter ini baik. Dia sudah tidak kuat untuk melakukan tindakan di luar kemanusiaan ini setiap hari. Karena dia tahu jika pemerintah tak bisa dibujuk sama sekali untuk melepaskan semua tahanan, maka ia pun berpikir bahwa lebih baik semua tahanan mati saja daripada harus menahan derita tiap hari. Toh ujung-ujungnya akan mati mengenaskan juga. Oleh karena itu, dia berencana untuk melenyapkan semua tahanan ini dengan harapan agar mereka semua mati seketika dan tidak merasa kesakitan lagi setiap hari. Setelah rencana genosida itu berhasil, Dr. Kurotama ditemukan mati bunuh diri di kantornya. Karena sang kepala ilmuwan telah meninggal, maka pemerintah pusat memutuskan menghentikan rencana Zero Point. Tapi karena ada beberapa mutan yang berhasil di wujudkan, pemerintah tetap menggunakan pulau ini sebagai tempat yang rahasia. Maka dari itu, gantian di bangunlah sebuah organisasi militer yang bernama JSM (Japan Secret Military) yang berfungsi untuk mengawal para makhluk-makhluk buas yang teramat mengerikan itu. Tapi sayang, belum ada genap satu bulan berdiri semua rencana pemerintah gagal total. Makhluk mutan itu tak bisa dikendalikan dan malah berganti membunuh dan memangsa seluruh personil JSM yang ada di pulau ini. Walaupun cukup banyak mutan yang berhasil dibunuh saat sedang menyerang para tentara rahasia, ada sedikit yang masih bertahan dan mendiami pulau hingga detik ini. Dan orang-orang menamakan makhluk mitos itu dengan nama...Goliath.
Back to Gaara, Sasu, and Shika
Aku dan Shikamaru terpaku setelah mendengar cerita panjang dari Gaara barusan. Sungguh sejarah pulau Obakeyashi yang kelam. Bukan, amat-amat kelam malahan.
"Jadi, iblis yang kulihat itu adalah Goliath?" Tanya Shikamaru.
Gaara menggelengkan kepala "Bukan. Aku pernah sekali mengunjungi rumah sakit jiwa itu sebelum ini, dan aku pernah bertemu dengan iblis-iblis penghuni rumah sakit itu. Menurutku mereka hanya bisa meneror dan tak sanggup berbuat apa-apa, karena mereka makhluk halus. Jika Goliath, itu baru bisa mengancam jiwa kita".
"Jangan-jangan yang membunuh Chouji..."
Belum selesai Shikamaru berkata, tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang pria berambut panjang yang memakai seragam sama persis seperti Gaara sedang berlari menuju kemari.
Kami bertiga yang menyadari akan kehadiran pria itu, langsung segera berdiri dan berniat menyambutnya.
"Hei Neji, kenapa kau kemari?" Gaara melangkah mendekat ke arah pria yang bernama Neji itu.
Neji tiba-tiba segera merangkul Gaara dan mengajaknya berjalan menjauhi aku dan Shikamaru. Kulihat mereka berbisik-bisik seperti sedang membicarakan sesuatu yang penting mengenai hal yang ada kaitannya dengan kami berdua. Itu terlihat dari perilaku Gaara yang berulang kali menengok ke arah kami berdua dengan tatapan khawatir.
Setelah selesai, Gaara segera berjalan menghampiri kami berdua. Dari gelagatnya, pasti ada sesuatu yang tidak beres yang ia sembunyikan.
"Pertama, ada sesuatu hal yang penting yang ingin kuberitahukan kepada kalian berdua. Dan yang kedua, kuharap kalian tidak kaget saat mendengar penuturanku".
Aku merasakan akan ada hal yang buruk mengenai ini. Kutengok Shikamaru, kini ia sedang menatap serius ke arah Gaara. Pasti bocah rambut nanas itu amat penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh Gaara.
"Ketika rekanku Neji sedang mencari teman kalian yang bernama Ino di hutan, tiba-tiba saja ia..ia.." Gaara seperti tak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Cepat katakan! Jangan main-main kau" Shikamaru mendadak bertingkah jengkel setelah mendengar perkataan Gaara yang belum selesai. Aku yakin pikirannya sudah sampai terlalu jauh.
Gaara menatap ke arah langit sejenak sembari menghela napas "Teman kalian Ino...ditemukan tewas di tengah hutan"
TSUZUKU
Kritik-Saran-Flame silahkan klik REVIEW :-)
