Setitik cahaya dari bulan melesat cepat ke arah hutan di dekat perbatasan Tokyo, membentuk sebuah cahaya merah keemasan yang besar dan terang. Cahaya itu pun perlahan membentuk sebuah pusaran dengan dua belas angka dan jarum yang mirip sekali dengan sebuah jam. Kemudian sebuah bayangan hitam turun dari pusat pusaran itu. Seseorang.


Kiseki!

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Rated :

T

Genre :

Romance/Drama

Warning :

DLDR, OOC, AU, Typo(s), Shounen-ai, Gaje, dll

Happy Reading!


Chapter 2. Arrival!

Bukankah cinta tak mengenal batasan waktu? Dan hal itu yang Akashi yakini sampai sekarang di dalam hatinya yang keras.

Turun dengan anggun, Akashi merasakan kakinya menapak di atas rumput untuk yang pertama kali. Ia lalu menatap ke arah langit malam. Hembusan angin turut menerpa lembut wajahnya. Haori merahnya agak berkibar pula dihempas angin.

Sang bulan, dengan cahayanya yang terang ditemani ribuan kerlip bintang. Lalu manik heterochome-nya pun menangkap kerlap-kerlip cahaya dari kejauhan yang menurutnya indah. Apakah itu juga bintang? Tapi kenapa ada di bawah? Dia pun tak akan tau sampai ia mencari tau sendiri.

"Yahh, kurasa tidak buruk ju—"

'Brukk!'

"Singkirkan pantat baumu dari wajah tampanku Aomine-cchi!"

"Singkirkan wajah burukmu dari pantatku Kise!"

"Menyingkir dari tubuhku nanodayo!"

"Nee... aku lapar."

Perkataan Akashi terputus karena ia tertindih empat manusia yang jika ditambah berat badannya maka hasilnya pasti akan sangat berat sekali. Dan masalahnya Akashi berada di bawah sendiri dan badannya juga tidak sebesar makhluk di atasnya. Poor Akashi.

"Kalian cepat menyingkir dari tubuhku!" bentak Akashi. Sungguh raganya sudah tidak kuat dan tulangnya serasa remuk.

"Lho suara Akashi-cchi?" Kise celingukan namun nihil karena sekarang keadaan gelap gulita.

"Aku ada di bawah kalian semua dasar bodoh!" bentak Akashi lagi. Lalu pada detik selanjutnya keempat manusia pelangi itu menyingkir dengan secepat kilat.

"Huwaa... Akashi-cchi maaf ssu!"

"Kami tidak sengaja nanodayo!"

"A—Akashi! Apa pantatku mengenai mukamu juga?! Jika iya aku tak sengaja sungguh! Percayalah!"

"Pantas di bawah empuk sekali. Ternyata ada Aka-chin yang menjadi alas..."

Sungguh Akashi ingin menebas leher keempat manusia di depannya.


"Melompat waktu?!" koor mereka berempat sambil berpikir apakah Akashi memang harusnya diragukan kewarasannya.

Akashi mengangguk lalu merogoh sesuatu dari balik haori merah yang melekat di tubuhnya. "Reo selalu menyimpan benda ini dengan aman dan tak seorang pun mengetahuinya," tak lama sebuah kalung rantai kecil dengan hiasan liontin merah berbentuk taring meruncing sudah berada di telapak tangan Akashi. Terbuat dari batu ruby sepertinya. Ia menunjukkan benda itu dengan wajah serius.

"Dia memberiku ini. Ada sebuah mantra jika kita mengucapkannya dengan kalung ini di saat bulan purnama merah, maka gerbang waktu akan terbuka," jelasnya.

"M-mustahil nanodayo!" kaget Midorima tidak percaya. "Tapi kalau itu benar, kapankah bulan purnama merah itu terjadi nanodayo?" tanya Midorima menambah setelah ditatap tajam oleh Akashi.

"Setiap seribu tahun sekali dan akan terjadi kira-kira 15 menit dari sekarang. Dan jika kita tak mengucapkan mantranya dalam keadaan kita memegang kalung ini-" Akashi menggantungkan ucapannya.

"—jantung kita akan berhenti berdetak dan kita akan mati."

Benar-benar terasa waktu menghentikan jantung berdetak saat itu juga.

"Aapa ssu?! Kenapa bisa begitu?!" teriak Kise panik.

"Akashi! Ajarkan mantranya cepat!" Aomine tak kalah paniknya.

"Aku tidak ingin mati kelaparan. Hiks..." Murasakibara meneteskan air matanya. Tangannya terkepal erat.

"Ahh, ternyata memang hari sial nanodayo..." Midorima pasrah.

Akashi menyeringai di gelap malam itu. Cahaya rembulan pun turut serta memberi efek sorotan yang membuatnya makin mengerikan. "Watashi no Kiseki. Itulah mantranya. Ucapkan itu setelah kuberi perintah. Mengerti?!"

"Ha'i kami mengerti (ssu/nanodayo)!"

Akashi menatap rembulan yang semakin memerah. Sebentar lagi keinginannya akan tersampaikan. Matanya menyipit menatap rembulan itu. Merah, sedikit lagi dan...

"Sekarang! Ucapkan bersama!" teriaknya sambil mengarahkan liontin itu ke arah bulan.

"Watashi no Kiseki!"

Tidak ada sesuatu. Akashi berdoa dalam hatinya. Tiba-tiba setitik cahaya lurus dari bulan melesat cepat ke arah liontin itu membuatnya bercahaya. Cahaya itu semakin terang dan setitik cahaya pun melesat ke depan mereka. Ujung dari cahaya itu membesar. Semakin terang dan besar hingga harus membuat kelima orang itu menyipitkan matanya. Lalu terbentuklah sebuah lubang berwarna merah keemasan dengan gelombang seperti pusaran yang bergerak ke kiri. Beberapa tulisan yang tidak mereka kenal berjajar rapi mengelilingi pusaran itu dengan tiga buah garis berwarna hitam yang berujung pusat di tengah dan berbentuk mirip anak panah yang bergerak memutar ke kanan. Mirip sebuah jam.

Lubang waktu.

Kelima orang itu takjub melihatnya. Namun Akashi segera sadar dari rasa takjubnya. "Ikuti aku masuk sekarang!" perintahnya. Ia lalu berlari ke arah pusaran diikuti yang lain. Dengan Kise yang bergetar ketakutan. Midorima yang memejamkan matanya sambil berlari memegang ujung baju Murasakibara yang nampak tenang namun matanya tajam. Serta Aomine yang membelalakkan matanya.

"Tokyo, lima ratus tahun dari sekarang!"


Nafas Akashi terhembus sebal. Ia pun mendapati pusaran lubang waktu di belakangnya menghilang dalam waktu singkat. Tangannya lalu terangkat dan menunjuk ke arah di depannya, "Ada hal yang terpenting menunggu kita."

Kise menoleh ke belakang, arah yang ditunjukkan Akashi. Iris madunya terbelalak. "Susugoi ssu... apakah itu bintang? Indah sekali..." kagumnya menatap gemerlap dari kejauhan. Sangat banyak dan nampak seperti bintang baginya.

"Tapi apakah bintang bisa berada di tanah nanodayo?" tanya Midorima. Matanya setengah terbelalak. "Bukannya aku kagum nanodayo. Tapi aku serius dengan pertanyaanku."

Virus tsundere Midorima kumat.

"Aka-chin apa bintang-bintang itu bisa dimakan?" tanya Murasakibara polos.

"Indahnya..." puji Aomine. "Dari kecil aku selalu ingin meraih salah satu bintang di langit. Dan tak kusangka di tempat ini sekarang bintang bisa berada di tanah, kurasa aku bisa melakukannya sekarang..." ucapnya tanpa mengalihkan pandangan, takjub.

"Tadinya aku juga berpikiran seperti itu. Dan aku rasa itu bukan bintang. Tapi kita tak akan tau sebelum kita menghampirinya sendiri," Akashi menopang dagu dengan pose berpikir. "Karena bintang akan selalu berada di atas."

Malam itu, mereka menatap banyak gemerlap cahaya dari kejauhan tempat mereka pertama kali muncul. Dan untuk yang pertama kali, mereka melangkahkan kaki dengan yakin. Menuju ke arah kerlipan cahaya.

Akashi Seijuurou adalah seorang samurai. Salah satu dari Kiseki no Sedai, para samurai terpilih. Midorima Shintarou, Aomine Daiki, Kise Ryouta, dan Murasakibara Atsushi, adalah rekan seperjuangan Akashi dalam Kiseki no Sedai. Sebenarnya, ada seorang lagi yang seharusnya berdiri di antara mereka. Dan Akashi sangat mengenalnya. Seseorang yang telah hilang. Seseorang yang rela membuat Akashi memilih, melompat waktu. Hanya untuk mencarinya.

Serta Akashi yakin sekali, jaman Sengoku telah berakhir.


"Oper Kuroko!" teriak seorang pemuda tinggi berambut merah dengan ujung berwarna gelap, Kagami Taiga pada salah satu rekannya. Tiba-tiba sebuah bola basket melesat cepat melewati pemuda lain yang berambut hitam.

"Kusso!" umpat sang pemuda ketika melihat Kagami menangkap bola itu dan berlari ke arah ring basket. "Kiyoshi hadang Kagami!" teriaknya. Pemuda lain yang disebut tadi lalu dengan cepat berdiri di depan Kagami sambil merentangkan kedua tangannya, bermaksud menghalangi Kagami. "Aku akan menghentikanmu hari ini Kagami!" ucapnya lantang.

Kagami menyeringai lalu melempar bolanya ke bawah, melewati kaki pemuda yang bernama Kiyoshi. Kiyoshi terkejut dan segera menoleh ke belakang. Ia melihat seorang pemuda baby blue yang lebih kecil dan pendek darinya tengah memegang bola.

"Jangan alihkan perhatianmu dari Kagami, Kiyoshi!"

Tapi terlambat, Kagami sudah berpindah maju melewati Kiyoshi sebelum Kiyoshi sempat menoleh kearahnya lagi. Pemuda berambut baby blue itu lalu mengoper bola ke arah Kagami. "Sial!" Kiyoshi pun melompat mencoba menepis bola dari tangan Kagami. Namun...

'Dakkk!'

Terlambat. Kagami telah memasukkan bola itu dengan dunk yang keras. Kiyoshi jatuh terduduk sementara Kagami menggantungkan tangannya di ring basket yang untungnya bisa menahan berat badannya. Melompat turun, Kagami lalu mengulurkan telapak tangannya ke arah Kiyoshi.

"Apa kau tak apa-apa Kiyoshi-senpai?"

Kiyoshi pun tersenyum dan meraih telapak tangan Kagami. Dengan segera Kagami menarik Kiyoshi untuk berdiri. "Permainanmu selalu bagus Kagami-kun," puji Kiyoshi. Kagami tersenyum. "Tentu saja senpai..."

'Prittt!'

Peluit dibunyikan, tanda permainan telah usai. Sang pelatih, Aida Riko menatap seluruh anggota Tim basket Seirin. "Ayo berkumpul semuanya!" teriaknya kemudian. Seluruh pemuda di tempat itu pun berjalan ke arah Riko. Peluh mereka terlihat menetes, pertanda kelelahan. "Baiklah latihan hari ini cukup, kalian sudah bekerja keras beberapa hari ini. Karena sudah malam lebih baik kalian cepat pulang sebelum dimarahi mama kalian," ucap Riko.

"Apa kau pikir kami ini anak kecil Riko?" tanya Hyuga, sang kapten kesal.

"Yosh! Silahkan bubar dan hati-hati di jalan!"

"Ha'i!" koor seluruh tim bersamaan. "Ahh, aku ada urusan jadi aku duluan. Jaa minna!" Riko pun berlari meninggalkan gym Seirin.

"Hyaahhh... pulang malam lagi deh..." keluh Koganei sambil tidur terlentang di lantai karena menurutnya itu dingin untuk tubuhnya yang kepanasan.

"Yahh, kita harus bekerja ekstra untuk menghadapi lawan di final Interhigh besok," ucap Izuki. "Kita tidak boleh tanggung-tanggung dan menyia-nyiakan waktu," tiba-tiba Izuki terbelalak dan ia pun mengeluarkan sebuah note kecil dan bolpoint dari sakunya. "Sia-sia itu sialan ya..."

"Izuki tutup mulutmu," Hyuga menyela.

"Jaa kami duluan!" satu-persatu orang pun pergi meninggalkan ruang basket Seirin, pulang ke rumah masing-masing.

Kagami berjalan pulang dengan langkah malas. Latihan basket hari ini sungguh menguras banyak tenaganya. Tidak hanya hari ini, hari-hari sebelumnya pun juga tak berbeda, dan ia juga harus rela pulang malam. Tapi demi kemenangan tim di kejuaraan Interhigh maka tidak ada kata menolak untuk Kagami, apalagi ia sangat mencintai olahraga bernama basket.

"Doumo."

Kagami lalu menunduk dan mendapati seorang pemuda bersurai baby blue yang tengah menatapnya tanpa ekspresi.

"Ku—Kuroko! Jangan mengejutkanku baka!" memundurkan kaki selangkah, Kagami berteriak kaget. Tiba-tiba saja bocah ini atau sebut saja Kuroko yang lengkapnya Kuroko Tetsuya, muncul dan berdiri di depannya begitu saja. Kagami patut bersyukur karena tak muncul tanda-tanda penyakit jantung pada dirinya.

"Kagami-kun kenapa berada di tempat ini?" tanya Kuroko.

"Karena ini jalanku pulang baka!" sebuah perempatan muncul di ubun-ubun Kagami. Kuroko mengangguk. "Ohh benar, aku lupa."

"Kalau begitu ayo berjalan bersama saja Kagami-kun. Kebetulan aku ada urusan sebentar," ajak Kuroko.

Urusan? Kagami mengernyit bingung. Kalau dipikir juga Kuroko harusnya berbelok ke kanan dari perempatan yang tadi. Jadi tepatnya rumah Kuroko bukan ke arah sini. "Baiklah, terserahmu saja."

Kuroko pun tersenyum di wajah datarnya. "Kagami-kun sebaiknya jalan duluan," ucapnya.

"Kenapa aku?!"

Selama perjalanan berlangsung mereka saling terdiam. "Oi Kuroko, apa menurutmu kita bisa menang di pertandingan terakhir?" tanya Kagami memecah keheningan. Kuroko menoleh sekilas. "Kenapa kau bertanya seperti itu Kagami-kun?" tanya balik Kuroko.

"Ehh iya, umm bukannya aku takut. Tapi, aku cuma bertanya. Setelah latihan keras selama beberapa hari, jika kita kalah maka latihan kita akan sia-sia."

Kuroko terdiam sejenak mencerna perkataan Kagami. "Tidak ada yang sia-sia kok, Kagami-kun. Walaupun kita kalah nanti, setidaknya kita telah berjuang keras dan berusaha sebaik mungkin. Aku rasa juga bisa sampai di final itu sudah membanggakan bagi Seirin," jawabnya dengan wajah datar.

"Ku-Kuroko! Aku harus bagaimana ketika kau berucap panjang dan penuh arti seperti itu?!" tanya Kagami sedikit heboh. Pasalnya, rekannya yang satu ini jarang berkata panjang dan hanya berkata seperlunya saja, apalagi perkataan bijak.

"Dengarkan saja Kagami-kun, simpel bukan?"

"Iya sih," Kagami menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu ia teringat sesuatu. "Bukannya kau berkata ada urusan? Apa itu?" jujur saja, Kagami sedikit penasaran dan ia pun menanyakannya langsung pada yang bersangkutan.

"Ahh," Kuroko memasang pose berpikir. "Aku hanya ingin membeli bahan makanan dan beberapa novel baru serta vanilla milkshake."

Kagami mengangguk. Ia pun berhenti di sebuah pertigaan. "Kalau begitu aku pulang duluan. Sampai besok," Kagami mengangkat tangannya dan Kuroko pun mengangguk sebagai balasan. "Sampai besok," melalui ekor matanya Kuroko melihat Kagami berbelok ke arah kanan di mana apartment miliknya berada.

Dari sini Kuroko harus berjalan sendiri. Tak lama ia pun berbelok ke arah supermarket dan memasukinya, untuk berbelanja keperluannya. Setelah ini pun ia harus mampir ke toko buku dan Maji Burger.


Mata Kise terbelalak. "I—ini rumah manusia?" pekiknya tidak percaya yang segera dihadiahi jitakan oleh Aomine.

"Jangan keras-keras baka!" Aomine membentak sambil memperhatikan sekitar. Takut kalau-kalau ada musuh yang mendadak menyerang mereka. Kiseki no Sedai kini tengah berjalan di komplek perumahan. Entah bagaimana caranya mereka bisa tiba di sana begitu cepat.

"Akashi, sebelum melompat ke lubang tadi bukankah kau meneriakkan sesuatu nodayo?" tanya Midorima.

Akashi menoleh tenang. "Tokyo, lima ratus tahun kemudian. Dihitung dari jaman kita seharusnya hidup."

"Masa depan..." ucap Midorima dengan mimik serius. Akashi mengangguk. "Bukankah aku bilang kita akan melompat waktu?"

"Itu benar nanodayo," Midorima sekarang mengangguk. "Aku tak akan ragu lagi."

"Sugoi! Di masa depan ternyata manusia bisa memetik bintang ssu! Bagaimana menurutmu Akashi-cchi?" Kise melihat ke arah Akashi sebelum melihat ke atas dengan mata berbinar-binar senang.

"Ngomong-ngomong..."

Akashi melihat ke arah pandangan Kise. Sesuatu yang bercahaya dan itu menempel di atas tiang besi yang sangat panjang. Benda itu telah kita ketahui bernama lampu jalan, namun sayang Akashi dan kawan-kawannya itu hanyalah pelompat waktu dari jaman kuno yang masih pra awam soal masa depan. "Daiki berdiri di bawah tiang itu. Atsushi kau naik ke punggung Daiki lalu disusul Shintarou yang naik ke atas punggung Atsushi. Selanjutnya Ryouta lalu aku. Ini perintah dan mutlak," ucapnya tiba-tiba.

"Aku malas~" keluh Murasakibara, tapi ia tetap melakukan perintah dari Akashi.

"Oi, oi, mau apa kau Akashi? Dan kenapa aku yang di bawah sendiri?!" pekik bingung Aomine.

"Jangan-jangan..." Midorima melihat ke arah atas tiang.

"Akashi-cchi kau mau apa ssu?" Kise pun bingung.

Seringai Akashi terkembang. "Kita akan memetik bintang!" ucapnya sambil menatap ke arah 'bintang' yang diincarnya.

Kuroko telah selesai berbelanja. Bahan makanan dan keperluan, sudah. Novel edisi terbaru, sudah. Vanilla Milkshake, tentu Kuroko tak lupa. Dan sekarang saatnya pulang. Mungkin malam ini dia akan memasak telur rebus untuk mudahnya.

Kuroko sedikit membuka resleting tasnya. Tiba-tiba sebuah kepala berbulu dengan dua telinga yang mencuat menyembul dari tasnya.

"Auk!"

"Maaf, maaf aku hampir melupakanmu Nigou," ucap Kuroko tersenyum melihat anjing siberian husky mungil yang tengah menatapnya dengan mata bulat yang serupa dengannya. Dulu Kuroko menemukan anjing ini dan Koganei-senpai memberinya nama Nigou. Sambil berjalan, Kuroko pun mengelus kepala Nigou dengan tangannya yang bebas.

"Oi Murasakibara! Jangan bergerak-gerak baka!"

Ehh? Kuroko seperti mendengar suara.

"Kalian berat sekali tau. Terutama kau Mido-chin."

"Tahan pertengkaran kalian dan aku ini tidak berat nanodayo!"

"Kau juga Midorima-cchi! Jangan bergerak atau kita akan jatuh ssu!"

"Oi Akashi! Cepatlah! Aku sudah tidak kuat menahannya!"

"Aku sedang berusaha Daiki."

Kuroko berhenti. Tepat tidak jauh darinya, ada orang-orang berpakaian aneh mirip samurai Jepang jaman dulu. Dan kelihatannya mereka sebaya Kuroko. Kuroko berpikir, apa mereka salah satu pemeran film bergenre seperti itu? Kalau begitu Kuroko sering menontonnya dikala senggang. Sejarah samurai kan juga termasuk pendidikan.

Ungu, navy blue, hijau, kuning, dan merah. Mereka saling menaiki punggung satu sama lain. Jujur, apa yang akan dilakukan mereka di malam-malam begini? Kuroko menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi, sedangkan Nigou hanya menjulurkan lidahnya melihat. Jarang-jarang ada adegan seperti ini, pikir Kuroko.

Akashi menatap lampu jalan itu dengan mata yang melebar tanpa ekspresi. Baru kali ini ia melihat bintang dari dekat, pikirnya. Baru saja ia ingin mengambilnya tapi sebuah lapisan kaca menghalanginya. Sial, manusia jaman ini pintar juga untuk melindungi benda semacam ini. Akashi harus memikirkan cara untuk menghancurkan lapisan ini. Tapi bagaimana? Jemarinya turut mengetuk lapisan itu sambil berpikir.

"Akashi cepatlah!" sumpah, kalau bukan karena iblis pendek merah itu Aomine tidak mau melakukan hal semacam ini. Kakinya bergetar hebat menahan empat manusia abnormal di atasnya. Apalagi si titan Murasakibara. Tunggu? Apa pula titan itu?

Akashi masih sibuk berkutat dengan acaranya. Lapisan pelindung ini cukup kuat pikirnya. Sungguh, teknologi macam apa yang dipakai manusia saat ini. Tapi Akashi tidak boleh menyerah sekarang karena ia adalah seorang Akashi Seijuurou.

Kami-sama sungguh Aomine sudah tak kuat. Kakinya hampir melemas sekarang.

Kuroko menatap iba pada Aomine yang berada di bawah. Bagaimana bisa mereka tega membiarkannya seperti itu? Kuroko geleng kepala sendiri. Ia pun mendekati Aomine.

"Doumo," Kuroko mengangguk sambil menyapa sang pemuda navy itu dengan wajah tanpa ekspresinya.

"Auk!" Nigou ikut menyapa sepertinya.

"Eh?" Aomine membuka matanya yang ternyata terpejam dan mendapati Kuroko.

"Aaaa!"

Tiba-tiba Aomine berteriak kaget, keseimbangannya hilang begitu juga orang-orang di atasnya.

"E—ehh?! Ada apa ini nodayo?!" panik Midorima.

Terlihat Kuroko juga panik dibalik wajah datarnya, namun tidak ada yang menyadari kehadirannya.

"Mine-chin jangan bergerak!" Murasakibara panik untuk yang pertama kali dalam hidupnya.

"Aomine-cchi berhenti ssu!" Kise tak kalah panik disertai heboh.

Mengayunkan tangannya Akashi hendak menusuk lapisan lampu jalan itu dengan belati simpanannya. Tapi tusukannya meleset begitu saja dan ia pun semakin menjauh, goyah. Aomine mundur dengan langkah terhuyung.

'Ada apa ini?!' batin Akashi disertai decihan kesal. Ia menyadari bahwa ia bergoyang-goyang dan ia pun melihat ke bawah, dimana ternyata ia mendapati para rekannya dengan keadaan yang tidak jauh berbeda dengan dirinya. Akar dari akar. 'Daiki!' geramnya.

"A— Aaa!"

'Maafkan aku kawan...' batin Aomine miris. Kakinya terpeleset dan mereka pun terjatuh dengan dramatisnya.

"Aomine!/Mine-chin!/Aomine-cchi!/Daiki!"

'Sett...'

'Brukk!'

"Midorima-cchi! Jauhkan wajahmu dari pantatku ssu!"

"Kise cepat jauhkan pantatmu dari wajahku nanodayo!"

"Oi, cepat kalian semua berdiri! Berat!"

"Mine-chin ternyata gemuk."

"Apa katamu?!"

Akashi lagi-lagi harus menghembuskan napas kesal melihat para rekan-coretbawahancoret- seperjuangannya. Untung ia sempat melakukan aksi lompat dan mendarat tanpa cacat jadi ia tidak ikut terjatuh. Mungkin ia harus memenggal me— tunggu? Apa ia tidak salah lihat? Untuk sepersekian detik Akashi patut terbelalak.

"Summimasen, apa kalian tidak apa-apa?"

Keributan terhenti dan mereka pun menoleh ke satu arah yaitu Kuroko. Wajah berbingkai surai sewarna biru langit tersorot lampu tepat di depan mereka, berdiri dengan tubuhnya yang terbilang mungil untuk seorang lelaki. Mereka sukses terbelalak. Mereka sangat mengenal sosok ini.

"Kuroko-cchi?"

"Tetsu?"

"Kuro-chin?"

"Kuroko?"

Kuroko Tetsuya. Sebuah bait yang sangat Akashi rindukan. Semuanya. Manik sebiru langit ketika menatap polos. Rambutnya yang terlihat lembut ketika tertiup jahilnya angin dimusim semi. Akashi sangat merindukannya...

Dan kini tepat di depan matanya...

Akashi mendekat pelan ke arah Kuroko. "Tetsuya?" bisiknya, suara Akashi agak bergetar. Kuroko mengernyit, heran. Bagaimana orang-orang ini tau namanya? "Anda siapa ya?"

Akashi masih mendekat, Kuroko tidak bergeming. Aomine berusaha berdiri diikuti yang lain.

"Tetsuya? Kau Kuroko Tetsuya?" ulang Akashi lagi.

Anggukan Kuroko membuat Akashi terhenti. "Ha'i, aku Kuroko Tetsuya. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Yakinkan Akashi untuk tidak pingsan saat ini juga. Kuroko Tetsuya benar-benar tepat di depan matanya! Beribu rasa membuncah. Senang, bingung, rindu, dan perasaan lain bercampur di dalam diri Akashi.

Aomine terdiam takjub. Ia ingat betul sosok itu. Apa ini mimpi? Kuroko Tetsuya asli? Dengan wajah dan ekspresi yang sama dan Aomine yakin bahwa anak yang berdiri itu bukan Kuroko abal-abal semata.

Kise pun tercekat. "Kuroko-cchi?" bisiknya pelan masih tak percaya. Kise ingat betul, ia selalu memberi pelukan pada sosok mungil itu. Kise merindukannya. Setitik air mata pun lolos dari pelupuk mata Kise.

Midorima terdiam kaku. Demi rasi bintang di langit, takdir sungguh aneh. Lima ratus tahun berlalu dan disinilah ia. Setelah melompat waktu yang seharusnya mungkin Midorima sudah lebur menjadi belulang, ia dapat melihat kembali sosok seorang Kuroko Tetsuya. Sekali lagi.

Masakan terenak yang pernah Murasakibara ingat adalah milik seorang pemuda mungil. Kuroko, dan itu namanya. Murasakibara selalu meminta dimasakkan oleh pemuda itu dikala ia lapar. Tentu saja sang pemuda yang baik hati itu tidak menolak. Aduh gawat! Murasakibara lapar mendadak lagi!

"Tak kusangka akan secepat ini. Diluar dugaanku," Akashi terkekeh kecil mendapati Kuroko yang kebingungan.

"Kuroko-cchi! Hiks... ini kau?!" Kise menerjang dan memeluk Kuroko erat. "Hiks... hiks..."

Sumpah Kuroko bingung! Ada apa dengan orang ini? Kenapa ia dipeluk? Ini sesak sekali. "A.. anoo... sesak.."

"Auk!" Nigou ketakutan dan bersembunyi kembali ke tas Kuroko.

"Kise lepaskan dia! Kasihan tau Kuroko tak dapat bernafas!" satu tarikan kencang dari Aomine melepaskan jerat pelukan maut Kise. "Hiks.. Aomine-cchi hidoi ssu! Padahal aku sangat rindu pada Kuroko-cchi ssu! Hiks..." rengek Kise mencoba memeluk Kuroko lagi namun dihadiahi jitakan oleh Aomine.

Sungguh Kuroko makin bingung.

"Apa kabarmu Kuroko, nanodayo?" tanya Midorima. Kuroko menoleh. "Kalian siapa?" balik tanya Kuroko.

Murasakibara menepuk-nepuk puncak kepala Kuroko yang berada di dalam penjagaan ketat Aomine dari Kise. Apa lagi sekarang? Kuroko menoleh. "Kuro-chin punya makanan?"

Hah?

"Kalian semua hentikan."

'Slap! Krak!'

Akashi melempar belatinya dan menancap di dinding pagar rumah orang, menciptakan retakan yang indah di sana.

Kise merinding. Aomine kaget. Midorima terlonjak ke belakang, juga kaget. Kuroko kaget plus sweatdroped di tempat. Murasakibara masih menatap Kuroko. "Kuro-chin aku lapar~"

"Tetsuya?" panggil Akashi. Kuroko terlonjak mendengar panggilan Akashi. Entah apa yang dirasakan Kuroko saat ini. Aneh. Tapi...

"Siapa sebenarnya kalian?" tanya Kuroko datar.

Mereka maklum ini lewat lima ratus tahun. Kuroko tak mengenal mereka lagi. Tapi kerinduan mereka tidak bisa dihalang-halangi lagi, terlebih Kise yang suka main serobot.

"Kami—"

"Kami mencarimu Tetsuya," jujur Akashi memotong ucapan Midorima. Kuroko makin bingung. Mencarinya? Untuk apa? Apa mereka ingin mengajak Kuroko main film samurai juga? Kuroko menolak kalau begitu. "Untuk apa mencariku?"

"Karena kami— bukan tapi aku, merindukanmu..." senyum Akashi terukir. Sendu.

Kuroko terbelalak. Kuroko salah, sekarang ia yakin mereka hanya sekedar orang gila yang kabur dari RSJ. Maka dari itu, Kuroko melangkah cepat meninggalkan mereka semua. "Maaf, aku tidak mengenal kalian semua apalagi kau tuan."

Akashi terkesiap.

"Kuroko-cchi!" Kise melihat punggung Kuroko yang menjauh.

"Ikuti dia sekarang!" titah Akashi.

Kuroko berjalan, namun ketika menoleh orang-orang yang menurutnya absurd itu tadi mengikutinya. Sontak langkah dipercepat agar cepat sampai rumah. Orang-orang itu maunya apa sih? Ngaku-ngaku kenal Kuroko juga.

"Kuroko-cchi cepat sekali ssu."

Kise mengeluh, Midorima menoleh.

"Ia ingin menghindari kita nanodayo."

"Tetsu tidak berubah sedikitpun, kecuali pakaiannya yang aneh itu."

Aomine menatap punggung kecil yang berjarak agak jauh itu.

"Kau saja yang aneh Daiki. Ingat ini masa depan yang berbeda," ucapan Akashi keluar membuat Aomine tertawa garing.

"Ahh, kau benar Akashi." Aomine mengangguk paham. "Ehh tapi bukankah kau sama saja Akashi?!"

Satu belokan lagi dan Kuroko sampai. Tapi tunggu! Sebuah bohlam lampu imajiner menyala di atas kepala baby blue-nya.

Kise mendapati Kuroko berbelok dan ia pun agak mengejar dengan cepat tidak mengindahkan panggilan kawan-kawannya.

"Kuroko-cchi!"

Ehh? Tapi dimana Kuroko? Menghilang?

"EHH?!"

"Oi, Kise kau kenapa? Dan dimana Tetsu?"

"Hi—hilang ssu!"

Akashi berdecak kesal. Sekarang Kuroko menghilang lagi. Demi rambut merah miliknya Kuroko memang menyebalkan kalau ia menghilang bagai angin lalu. Yang lalu saja sulit hilang. Akashi geleng-geleng. Tapi ia yakin pemuda bayangan itu tak akan jauh.

"Akashi."

Midorima merinding melihat Akashi yang tiba-tiba menyeringai ala psikopat. Sungguh, ia sudah biasa melihatnya seperti itu. Tapi tetap saja. Satu langkah Midorima mundur.

Akashi mengendus angin malam yang hampa. Matanya liar menatap ke segala arah, "Bau Tetsuya ada di sekitar sini," salah satu kehebatan sang iblis Akashi yaitu penciumannya melebihi seekor anjing. Dan bahkan ia bisa membedakan bau orang dengan sekali cium dalam jarak lima ratus meter.

Kaki Akashi melangkah dan berbelok satu blok kemudian di salah satu rumah bertingkat dua yang tidak kecil juga tidak besar. Tatanan halaman depan dipenuhi bunga dengan berbagai warna serta beberapa bonsai. Sang pemilik suka bercocok tanam rupanya.

Akashi memiringkan kepalanya menatap daun pintu rumah itu. Di atasnya pun ada sebuah lampu yang ia anggap bintang sebagai penerangannya. Ia sangat yakin Kuroko ada di sini mengingat juga bau Kuroko sangat kental.

"Akashi! Kau mendapatkan sesuatu?"

Kiseki no Sedai mengikuti langkah Akashi dan mereka pun mendekat ke arahnya. Tak henti-hentinya mereka kagum terhadap tatanan rumah.

"Ehh Akashi-cchi ada satu bintang juga di sini!" tunjuk Kise tepat tiga puluh centi di atas pintu rumah.

"Jangan diambil, itu mungkin milik Tetsuya," terang Akashi. Kise mengangguk menuruti. Ucapan Akashi ada benarnya.

Kise melihat sesuatu di dekat pintu dan memandangnya penasaran. Aomine yang melihat arah pandangan Kise ikut penasaran.

Sebuah tombol bel rumah.

"Heh?" Kise menyentuh tombol itu.

"Hati-hati Kise! Tetsu 'kan suka memasang jebakan!" Aomine memperingatkan.

"Itu benar nanodayo," Midorima yang menyimak mengiyakan setuju.

"Iya aku tau ssu."

Akashi masih menatap daun pintu itu. Matanya serius. Apakah ia perlu meneriakkan nama 'Tetsuya' untuk memanggilnya? Tidak! Akashi masih tau tata krama. Mendobrak apalagi. Absolutely no!

"Aku lapar..." Murasakibara mengelus-elus perutnya miris. Bagaimana kalau ia mati kelaparan di sini?

Kise masih menatap bel itu. Jebakan? Dengan iseng ditambah penasaran jari telunjuknya menekan.

'Ting! Tong!'

Kise kaget kemudian melompat mundur dengan cepat yang diikuti Aomine. Akashi kaget dan juga ikut melompat mundur. Midorima menelan ludahnya. Apa yang akan terjadi? Apakah akan terjadi ledakan. Murasakibara pun ikut waspada ditengah kelaparannya.

"Kise kau gila ya?!"

"Apa kau mau kita mati nanodayo?!"

"Ryouta apa yang kau lakukan?!"

"Kise-chin bikin masalah."

"A—aku hanya penasaran ssu!"

Kise berusaha membela diri. Kalau dirinya penasaran tak salah kan?

"Iya sebentar..."

Samar-samar terdengar sahutan dari dalam. Semuanya tercekat. Akashi memicingkan matanya.

'Kriett...'

Pintu pun dibuka menampakkan sosok Kuroko dengan setelan kemeja putihnya. Sudut matanya pun berkedut ketika mereka saling menatap. Ini mustahil! Kuroko sudah kabur dengan Misdirection! Masa dia masih bisa ditemukan?! Batin inner-nya agak OOC.

"Tetsuya?"

"Doumo."

'Blam!'

Pintu ditutup keras dan sialnya Akashi dicuekin. Kise cengo. Dan ohh! Tapi Kise tau sekarang! Matanya membelalak lebar. Berarti tadi itu!

"Tadi itu alat pemanggil Kuroko-cchi ssu!" serunya menunjuk dengan raut senang. Rasa penasarannya tidak sia-sia ternyata. Kise yakin sekali fungsi alat tadi untuk memanggil Kuroko.

Semua yang mendengarnya kaget. Akashi berpikir. Kise bangga sekali akan penemuannya.

"Bisa jadi nanodayo."

"Ryouta coba kau lakukan seperti tadi."

Kise pun maju dengan semangat setelah mendengar perintah Akashi.

"Kise kau tadi sudah kan? Aku juga ingin mencobanya!" Aomine mendahului.

"Aomine-cchi yang disuruh itu aku!" Kise mencak-mencak didahului Aomine. Apa-apaan makhluk hitam ini mendahuluinya? Tentu saja Kise tak terima.

"Aku juga ingin memanggil Tetsu tau!"

Dan didetik-detik kemudian terdapat dua makhluk absurd yang berebut menekan bel rumah yang diyakini sebagai alat pemanggil seorang Kuroko Tetsuya. Akashi menepuk jidat.

'Ting! Tong!'

Supaya adil, Kise dan Aomine menekan bel itu secara bersamaan sesuai saran (baca:perintah) Akashi. Tapi tak ada sahutan.

'Ting! Tong!'

Tetap tak ada sahutan. Kise berpikir apa benda ini rusak?

'Ting! Tong!'

Aomine pun mencobanya sendiri tapi hasilnya sama saja. Midorima dan Murasakibara berpandangan.

"Sini aku saja nanodayo."

'Ting! Tong!'

Midorima mendekat dan ikut menekan bel. Tetap tak berhasil. Aneh, batinnya.

"Coba kalau Murasakibara-cchi yang mencobanya ssu..."

Kise bersaran. Murasakibara maju ogah-ogahan dan menekan bel.

'Ting! Tong!'

"Tak ada..." koor mereka bersamaan.

Di dalam Kuroko geleng-geleng. Dasar manusia absurd. Malam-malam begini malah main bel rumah orang.

"Auk!"

Nigou makan makanannya dengan nikmat. Kuroko memasak telur rebus malam ini. Ia terlalu malas untuk memasak.

'Ting! Tong!'

Tampang Kuroko datar.

'Ting! Tong!'

Sedikit lagi telur rebusnya matang.

'Blar!'

Kuroko mendengar suara petir. Kelihatannya akan hujan. Orang-orang itu juga masih di depan rumahnya

'Tik! Tik! Tik!'

'Ting! Tong! Ting! Tong!'

Bel ditekan berulang kali. Hujan juga mulai merintik di atas atap dan Kuroko mendengarnya. Aduh kalau mereka tidak juga pergi mereka bakal kehujanan. Apa kata tetangga nanti soal dirinya kalau membiarkan orang kehujanan di depan rumahnya? Bisa dikira Kuroko tidak punya hati. Ahh, sial!

'Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong! Ting! Tong!'

"Ayo Tetsu keluarlah!"

Umpat Aomine kesal. Tadi pertama kali Kise bisa membuat Kuroko keluar. Kenapa sekarang tidak. Apa ini benar bel pemanggil? Rusak kah?

Midorima menatap langit mendung yang tak bertakhta bintang. Padahal tadi pas pertama datang, bahkan rembulan masih ada. Cuaca cepat sekali berubah. Dan sekarang pun mulai turun hujan. Midorima alih menatap teras rumah yang sempit. Muat sih muat kalau ingin berteduh. Tapi harus ada yang rela sebagian tubuhnya basah.

"Kise bagaimana caramu melakukannya tadi? Apa kau mengucap sesuatu atau apa hah?"

"Aku tadi hanya asal tekan kok Aomine-cchi. Tidak ada tindakan khusus yang kulakukan."

Akashi mendekat. "Minggir Daiki. Biar aku saja mungkin hasilnya akan berbeda."

Aomine memutar bola matanya malas. Ayolah, semua yang ada di sini sudah mencobanya tapi tak ada hasil sama sekali. Jadi apa bedanya coba?

Telunjuk Akashi tertempel di tombol bel itu. Ia pun memejamkan matanya. "Tetsuya..." bisiknya pelan.

'Ting! Tong!'

'Kriett...'

Pintu terbuka menampakkan Kuroko kembali. Akashi terbelalak sejenak lalu menyeringai puas. What the hell?! Aomine melongo. Kise cengo. Murasakibara menatap polos Kuroko. Midorima geleng-geleng.

"Karena mau hujan silakan kalian masuk," ajak Kuroko sambil memberi jalan.

Akashi menoleh ke belakang dengan seringainya. Matanya seolah berkata 'Aku hebat bukan?'


Kuroko sebenarnya mempersilakan Kiseki no Sedai duduk di ruang tamu. Tapi Kuroko tak habis pikir. Baru saja ditinggal lima menit untuk membuat kopi. Kuroko mendapati para makhluk absurd-minus yang berambut merah dan hijau- melompat-lompat di sofa dengan girang bak anak kecil. Dan Kuroko hanya bisa menggeleng miris.

"Silakan, maaf hanya ini yang kupunya di rumah..."

Nampan berisi lima buah cangkir kopi yang berjajar rapi kini diletakkan di atas meja. Kuroko dapat memperhatikan pipi Midorima yang memerah agak canggung dan wajah Akashi yang berbinar senang menusuk-nusuk empuknya sofa dengan ujung jari.

Ternyata.

"Anoo, sebaiknya kalian duduk."

Kuroko menatap tiga sisanya yang tengah melompat-lompat dengan datar. "Nanti kalian jatuh lho."

Aominedan Kisetertawa garing lalu segera duduk diikuti Murasakibara yang patuh. Murasakibara menatap kopi yang diberi Kuroko.

Kuroko menghembuskan nafas. Hujan di luar semakin deras. Dan ia mungkin akan menyesal jika tak membiarkan orang-orang ini masuk. Bagaimanapun juga Kuroko adalah manusia dan ibunya mengajarkan untuk berbaik hati kepada sesama.

"Silakan diminum mumpung masih hangat."

"Ini minuman apa Tetsuya?" tanya Akashi.

Kuroko mengernyit. "Kopi biasa."

Kelima orang di depannya menatap kopi buatan Kuroko dengan intens nan serius. Namanya kopi. Hitam pekat. Kesan yang pertama kali muncul di benak mereka. Beberapa berbisik dengan dirinya sendiri maupun teman di sebelahnya. Murasakibara mengulurkan tangannya, hendak mencoba pertama kali. Jarinya pun menyentuh badan cangkir.

"Aduh!"

Tiba-tiba Murasakibara memekik kepanasan, ia pun mengemut jarinya dengan harapan bisa dingin.

Apa benar tidak apa-apa? Pikir mereka bersamaan.

"Aanoo... Kuroko-cchi. Bagaimana caranya minum di dalam benda ini?"

Sumpah! Kuroko ingin tertawa sejadinya mendengar pertanyaan polos Kise. Tapi ia urungkan niatnya mengingat wajah mereka yang penuh keseriusan dalam menatap Kuroko, lagipula ia tak mau OOC. Seriusan? Masa minum kopi di cangkir saja mereka tak bisa?

"Kalian tak bercanda kan?"

Gelengan kepala pun membuat Kuroko menghela nafas. Ia lalu memegang gagang salah satu cangkir dan mengangkatnya. "Seperti ini dan tinggal diminum."

Kelima orang itu mengangguk paham.

Kali ini Akashi yang mencoba pertama kali. Ia mempraktekkan apa yang diajarkan Kuroko. Member Kiseki no Sedai menahan nafas melihatnya. Apakah minuman hitam itu aman? Tapi kalau berbahaya pun mereka patut bersyukur karena yang akan kena getahnya pasti bukan mereka tapi Akashi.

Akashi meniup dahulu menyebabkan asap semakin mengepul, tentu saja dengan tata krama yang tinggi khas Akashi. Lalu seruputan kecil. Cairan hangat nan manis agak pahit itu pun sukses melewati lidah dan tenggorokannya.

Dan pada detik selanjutnya Akashi berbinar-binar bahagia. Kopi, minuman yang membuat Akashi merasakan kebahagiaan untuk yang pertama kali dalam hidupnya.

Melihat Akashi, Aomine mencobanya juga diikuti Kise. Setelah itu keadaannya tak jauh berbeda dengan Akashi. Pipi Midorima memerah bahagia menatap kopi di cangkirnya. Sementara kopi Murasakibara tinggal seperempat.

Kuroko sweatdroped di tempat.

Dan dari sini Akashi pun tau. Masa depan menyimpan beribu hal yang menarik buatnya. Juga dengan ini pun Akashi telah menetapkan mutlak, bahwa Akashi suka kopi.


TBC.


Terimakasih sudah membaca chapter 2 Kiseki! *tebar kembang tujuh rupa*. Dan maaf kalau di chapter ini mengecewakan... ^^)"

Yang sudah review terimakasih. Karena itu menjadi dorongan buat saya dan saja akan usahakan menulis semaksimal mungkin! XD

Sampai jumpa di chapter depan! '-')/

Review please~

Salam Suika!