TELEPHATY

Naruto is only belong to Masashi Kishimoto-sensei.

But, this story is mine.

Pairing SasuSaku

Chapter 02: Keberadaanku Hanya Akan Membuatmu Terluka

Nee, kikoemasu ka?

Sasuke duduk di kursi belajarnya sambil mendengarkan Mp3 player. "Ajikan, ka?"

gumamnya. Di atas meja belajarnya terdapat majalah musik dengan artikel band Asian Kung-fu Generation. "Dia menyukai jenis lagu seperti ini?" ia menyeringai seraya membuka majalah itu. Berkali-kali pintu kamarnya diketuk dari luar, tapi tidak terdengar olehnya. Ia begitu menikmati lagu yang sedang didengarkannya, bahkan kini ia mulai bergerak mengikuti irama lagu Soredewa Mata Ashita.

Sebuah tangan tiba-tiba menepuk bahu Sasuke dengan sebuah tangan lainnya mengambil majalah yang sedang ia baca. Sasuke menoleh kepada pemilik tangan itu. Lalu melepas headset dari telinganya.

"Ajikan ya?" suara pria berambut keperakan itu terdengar antara heran dan tidak begitu peduli. "Jarang sekali melihatmu membaca artikel band." Sosok berambut keperakan itu, Hatake Kakashi meletakkan kembali majalah Sasuke di atas meja.

"Hn.. temanku memaksaku membacanya." ujar Sasuke sambil membuang muka.

Kakashi menaikkan sebelah alisnya. "Wah, wah.. tumben sekali kau mau melakukan sesuatu karena paksaan. Jangan-jangan sebenarnya kau tidak dipaksa tapi memang kau sendiri yang ingin tahu." Kakashi mendongak menghadapkan wajahnya ke wajah Sasuke. Ia tersenyum jahil.

Sasuke panik dan segera beranjak dari tempat duduknya. "Urusai, Baka!". Ia melangkah menuju ke luar kamarnya.

Kakashi menyeringai sambil mengikuti langkah Sasuke. "Sepertinya ada sesuatu yang menarik terjadi padamu."

"Urusai!"

"Haha..."

"Sepertinya ada sesuatu yang menarik." sebuah suara yang terdengar sedikit berat menyambut tawa Kakashi begitu mereka menuruni tangga.

Kakashi dan Sasuke menoleh ke arah pintu depan. "Oh, Itachi, kau sudah pulang." sambut Kakashi begitu menemukan sosok pria berambut hitam keabu-abuan dengan mata yang tampak lelah sedang melepas sepatunya.

"Hn, tadaima." ujar pria itu.

"Aniki." Sasuke menatap pria itu.

Pria itu berdiri setelah meletakkan sepatunya di rak sepatu lalu menjawab Sasuke. "Ada apa? Nada suaramu serius sekali."

"Hn.." Sasuke seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi segera diurungkannya. "Hari ini giliranmu membuat makan malam." ujarnya setelah menghela napas pendek.

"Oh, aku sudah minta Kakashi menggantikanku." jawab pria bernama Itachi itu seraya menatap Kakashi meminta pernyataan bahwa tugas itu sudah dilakukannya.

"Iya, karena makan malam sudah siap makanya aku mencarimu tadi," ujar kakashi pada Sasuke. Sasuke hanya memutar bola matanya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana hari pertamamu di sekolah?" Tanya Itachi sambil melangkah menuju tangga.

"Hn.. seperti biasa." jawab Sasuke sambil melangkah ke dapur.

Itachi menghentikan langkahnya lalu duduk di anak tangga. Ia menghela napas berat.

"Mengenai itu..." Kakashi yang masih berdiri di dekat tangga tampak serius. Itachi menatap Kakashi penuh tanya sementara Kakashi melirik Sasuke yang sedang mencuci tangan. "Kurasa dia baru saja bertemu orang yang sejenis dengannya." lanjut Kakashi.

"Sejenis?" Itachi menaikkan sebelah alisnya menatap Kakashi penuh tanya.

Kakashi melangkah menuju meja makan lalu duduk di salah satu kursi. Itachi pun beranjak dari duduknya merasa ada hal yang mungkin perlu dibicarakan oleh Kakashi, dihampirinya meja makan lalu duduk di kursi berhadapan dengan pria bermasker itu.

Sasuke yang baru selesai mencuci tangan segera mengambil duduk di sisi meja yang lainnya. "Kupikir kau tidak tahu." ujarnya.

Merasa Sasuke berbicara dengannya, Kakashi menoleh pada Sasuke lalu berkata, "Aku menyadarinya di ruang konseling saat Iruka mengatakan ada yang aneh dengan gadis itu. Segera setelah itu, aku menghubungi SMP asal anak itu."

"Anak perempuan?" Itachi sumringah.

"Kau tidak perlu terlihat lega seperti itu, nii-san." Sasuke melirik kakaknya dengan ujung matanya.

Itachi menyeringai. "Memangnya kenapa? Kupikir itu kabar gembira. Iya kan, Senpai?"

Kakashi tertawa. "Ya, itu benar. Mood-mu selalu buruk hidup dengan dua pria di rumah ini. Haha.. Tapi,..." Kakashi mulai serius, "...ada sesuatu yang lebih serius. Aku menemukan fakta mengejutkan mengenai anak itu dan Sasuke"

Sasuke dan Itachi menatap Kakashi penuh tanya. Mereka mulai serius mendengarkan.

Kakashi menatap keduanya bergantian lalu memulai pembicaraan. "Dia adalah korban selamat dari kecelakaan yang terjadi 3 tahun lalu. Kecelakaan yang sama yang dialami Sasuke. Menurut informasi yang kudapat dari wali kelasnya di SMP, dia koma di rumah sakit selama dua bulan dan mengalami amnesia."

Sasuke maupun Itachi sama-sama terkejut mendengar pernyataan Kakashi. "Amnesia?" Itachi melirik Sasuke sejenak lalu menatap Kakashi. "Anak itu juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami Sasuke. Lalu... Kalau begitu..."

"Hn.. Sepertinya dia memiliki kemampuan mendengarkan suara hati orang lain setelah kecelakaan itu." Sambung Kakashi. "Anggaplah itu indra ke enam. Setahuku, memang ada fenomena setelah mengalami kecelakaan seseorang memiliki kemampuan lebih atau lebih tepatnya indra keenam orang itu terbuka, tapi sejauh yang kutahu, itu lebih ke hal-hal supranatural dan mistis. Menurut buku yang kubaca, ada beberapa orang yang tiba-tiba bisa melihat masa depan setelah mengalami kecelakaan atau setelah mengalami koma, ada juga yang bisa melihat makhluk halus."

Mendengar penjelasan Kakashi, Itachi menatap adiknya lama lalu bertanya, "Apa kau bisa melihat masa depan, Sasuke?"

Sasuke hanya melirik Itachi dengan ujung matanya. "Kalaupun bisa, aku tidak akan memberitahukannya padamu!"

"Dasar pelit." Gumam Itachi seraya memutar bola matanya lalu beralih ke Kakashi. "Lalu, mengenai kecelakaan itu..."

Dengan wajah serius, Kakashi segera menjelaskan lagi. "Dia kehilangan kedua orang tuanya. Dari sembilan orang yang tewas dalam kecelakaan itu dua diantaranya adalah orang tua gadis itu dan dua lainnya orang tua kalian. Dia yatim piatu sama seperti kalian."

Sasuke dan Itachi tak sanggup berkata apa-apa begitu mendengar kata yatim-piatu. Mereka tahu benar bagaimana rasanya ketika mengetahui kedua orang tua telah tidak ada lagi mendampingi mereka. Kesakitan ketika ditinggalkan. Perasaan sedih yang tak bisa diungkapkan.

Melihat reaksi dua bersaudara itu, Kakashi menghela napas. "Sudah kuduga mereka akan seperti ini begitu mendengar kata yatim-piatu. Meskipun sudah tiga tahun berlalu..."

"Bukannya kau juga yatim piatu?" Tiba-tiba Sasuke bertanya ketus.

Kakashi sedikit terkejut mendengarnya. Ia menatap Sasuke lalu dengan tampang maklum ia pun berkata, "Ahh benar juga. Hahaha...Aku hampir lupa kalau aku tidak memiliki orang tua. Ngomong-ngomong soal yatim piatu,..." Kakashi memotong kalimatnya seraya memandang Sasuke dan Itachi bergantian lalu ia melanjutkan, "...setidaknya kalian berdua masih memiliki saudara. Sementara aku... Setidaknya aku masih memiliki kalian. Haruno Sakura...gadis itu... Setelah kecelakaan itu, dia dirawat oleh kerabatnya tapi entah bagaimana, sekarang dia tinggal sendirian di sebuah apartemen. Sepertinya dia tinggal di apartemen itu semenjak lulus SMP, itu menurut yang kudengar dari guru SMP-nya."

"Sepertinya dia mengalami hidup yang berat." Itachi menambahkan.

"Dengan kemampuan seperti itu, dia pasti sulit hidup dengan orang lain." Sasuke menimpali.

"Tapi, secara mengejutkan kau bertahan cukup lama hidup bersamaku dan Itachi." Kakashi menyipitkan matanya menatap Sasuke.

"Itu karena kalian berdua bodoh." jawab Sasuke acuh.

"Jadi kaulah yang terpintar?" Kakashi menyeringai.

Sasuke terdiam sejenak lalu memalingkan wajahnya. "Mungkin." jawabnya.

Itachi memutar bola matanya seraya beranjak. "Aku akan menyiapkan makan malam." ujarnya sambil menghela napas.

"Mungkin? Tampaknya kau mulai kehilangan kepercayaan dirimu." Kakashi menjawab Sasuke tanpa mempedulikan Itachi.

"Urusai!"

Kakashi tersenyum. "Ngomong-ngomong, tadi pagi kau dan gadis itu kabur dari kelas berduaan..apa yang kalian lakukan?" Kakashi menyeringai jahil.

Itachi yang sedang mengatur makanan di meja menghentikan kegiatannya. "Kabur dari kelas? Berdua?"

Sasuke melirik Itachi dan Kakashi bergantian. "Itu tidak penting." jawabnya. "Yang lebih penting, dia menyebutmu 'guru uban'!" seru Sasuke pada Kakashi sambil tersenyum puas.

"Apa?"

===000===

Matahari hampir tenggelam. Jalanan cukup sepi untuk dinikmati dengan kendaraan. Angin berhembus lembut ditemani kelopak bunga sakura yang beterbangan.

"Okaa-san, lihat pohon-pohon sakura itu, kirei..." gadis berambut merah muda berumur sekitar 12 tahun menatap ke luar jendela mobil yang mereka tumpangi.

Wanita yang dipanggil Okaa-san oleh gadis itu tersenyum sambil menatap ke luar jendela. "Iya. Indah sekali ya, Sakura."

Lelaki yang duduk di sebelah wanita setengah baya itu, mengemudikan mobil dengan pelan. "Ayah akan membukakan jendela sedikit, Sakura, jadi kau bisa merasakan angin."

Gadis itu tersenyum. "Un. Arigatou Otou-san," ujarnya lalu beralih menatap bunga Sakura di luar sana. "Kirei..." gadis itu merasakan angin yang berhembus menyibakkan rambutnya sambil memejamkan mata. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu persatu. Langit yang kemerahan perlahan berubah warna menjadi lebih kelam.

"Sebentar lagi kita akan memasuki terowongan, angin disana mungkin tidak begitu kencang" ujar sang ayah masih setia dengan kemudinya.

Sebelum mereka memasuki terowongan dari arah belakang sebuah mini bus melaju lebih kencang dan menyalip mobil mereka tapi dari arah berlawanan sebuah mobil hitam melaju kencang keluar dari terowongan. Minibus berusaha menghindari tabrakan dengan mobil tersebut tetapi malah menyerempet mobil yang dikemudikan ayah gadis berambut merah muda itu, membuatnya terpaksa mengerem mendadak. Tapi, minibus itu oleng, mobil hitam dari arah berlawanan terserempet bagian belakang minibus, minibus yang sulit mengatur keseimbangannya lalu menghantam pinggiran terowongan dan terseret ke dalam sampai akhirnya tumbang. Sementara mobil hitam yang terserempet menabrak mobil yang ditumpangi gadis merah muda itu hingga keduanya terperosok ke jurang yang tidak begitu curam di pinggiran jalan. Sebuah ledakan terdengar dari dalam terowongan.

Sakura terbangun. Ia membuka mata dengan napas yang tidak teratur. Ia merasakan degup jantungnya yang cepat. Keringatnya membasahi bantal dibawah kepalanya. "Mimpi..." bisiknya. Ia duduk sejenak di pinggiran tempat tidurnya lalu sambil memegang kepalanya. "Itai.." gumamnya menahan sakit di kepala. Ia menyalakan lampu lalu berjalan menuju pinggiran kamar yang tertata seperti dapur. Diteguknya segelas air hingga habis. Ia lalu duduk di pinggiran tempat tidurnya kembali. Sisa makan malamnya masih berserakan di atas meja setinggi tempat tidur di tengah-tengah ruangan itu. Ia menatap meja itu meskipun pikirannya melayang entah kemana. Sorot matanya kosong. Ia mencoba mengingat mimpi yang baru saja membangunkannya. Tidak. Ia tidak bisa mengingat mimpi itu. Karena lelah, ia hempaskan tubuhnya di atas ranjang lalu memeluk kedua kakinya. Jam digital di atas lemari laci di samping tempat tidurnya menunjukkan angka 4:03.

Sakura memejamkan matanya. "Akhir-akhir ini, sepertinya aku memimpikan hal yang sama. Tapi, kenapa aku tidak bisa mengingatnya?" gumamnya dalam hati.

===000===

Seperti biasa, Sakura tidak bisa melepas headset kecil itu dari telinganya, setidaknya sepanjang perjalanannya dari apartemen menuju sekolah. Begitu memasuki gedung sekolah, dengan sedikit ragu ia melepas headset itu. Dia mendengar percakapan normal. Dia mendengar setiap orang saling menyapa, memberi salam bahkan bercanda ria di pagi yang cerah itu.

Sakura tersenyum. "Tidak buruk" ujarnya dalam hati. Ia melangkah menuju loker kelas satu, lalu mengganti sepatunya.

"Ohayou!" terdengar suara siswa perempuan dari belakang Sakura, gadis merah muda itu menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis berambut pirang tersenyum padanya. "Ohayou!" seru gadis itu.

Sakura terdiam memandangi gadis pirang itu.

Sapaan yang tak terbalas membuat senyum gadis berambut pirang itu memudar. "Ada apa dengan anak ini? dia bahkan tidak membalas sapaanku." ujar gadis itu dalam hati seraya meletakkan sepatunya di loker. "Kupikir setidaknya aku bisa mendapat teman di hari kedua sekolah." umpatnya dalam hati. Ia pun menghela napas berat.

"Ano... Apa kau tadi menyapaku?" tanya Sakura pada gadis itu.

Sambil mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya di lantai, gadis pirang itu menjawab, "Memangnya ada orang lain lagi disini? Kau pikir aku orang bodoh yang menyapa loker sepatu?". "Gadis aneh" sambungnya dalam hati.

"Bukan begitu." Sakura tampak gugup. "Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang menyapaku," ujarnya.

Gadis pirang itu terdiam dengan raut wajah heran. "Bukannya itu karena kau memakai headset di telingamu? Dasar bodoh."

"Ah, tidak apa-apa kau menyebutku bodoh." ujar Sakura sesegera mungkin. Ia pun tersenyum.

Gadis berambut pirang itu masih dalam keterdiamannya. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan. "Secara mengejutkan dia terlihat manis kalau tersenyum dibandingkan sikap kasarnya kemarin. Tapi, kenapa dia bisa tahu aku menyebutnya bodoh?"

Wajah Sakura memerah mendengar suara hati gadis pirang itu.

"Kau aneh, tapi kau manis. Apa kau mau berteman denganku?" tawar gadis pirang itu sambil tersenyum.

Sakura menatap lama pada gadis pirang itu. "Teman?" gumam Sakura. Ia berpikir sangat lama. Beberapa siswa datang dan pergi dari loker untuk mengganti sepatu, bahkan gadis pirang yang dari tadi menunggu jawabannya sudah tampak lelah. Sakura ingin segera memberikan jawaban. Tapi ia tidak tahu cara menjawabnya.

"Mo ii..." Gadis pirang itu berkata seolah-olah telah mengetahui jawaban Sakura. Ia menghela napas lalu tersenyum menatap Sakura. "Kau sulit mengatakan tidak mau berteman denganku. Daijoubu. Meskipun sedikit menyakitkan, seharusnya katakan saja, hehe." gadis pirang ekor kuda itu menghela napas lagi. "Jya nee.." ujarnya seraya berlari meninggalkan ruang loker.

Sakura mengikuti gadis itu dengan tatapannya. Perasaan sakit terasa ditenggorokannya hingga merasuki dadanya. "Itai..." gumamnya lemah. Raut wajahnya seperti sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat, meski begitu ia menguatkan dirinya, dihelanya napas panjang lalu diayunkannya kaki-kaki jenjangnya meninggalkan ruang loker. "Daijoubu. Keberadaanku hanya akan membuatnya terluka. Daijoubu."

Teringat kembali oleh Sakura beberapa kejadian saat dia masih SMP. Orang-orang yang dia anggap teman dari luar tersenyum padanya tapi di dalam hati mereka menjelek-jelekan dirinya. Itu terjadi beberapa minggu setelah dia kembali ke sekolah dari koma. Tanpa ia sadari, ia terus mendengarkan suara hati orang lain dan mulai tidak tahan mendengarkan rahasia orang lain terlebih hal-hal mengenai dirinya. Ia marah dan kesal sampai akhirnya ia membeberkan kebenaran mengenai apa yang sebenarnya teman-temannya katakan dalam hati mengenai dirinya di hadapan teman-teman sekelasnya dan wali kelas. Saat itulah ia mulai dijauhi dan ia pun menjauhi orang lain. Tapi, gosip mengenai dirinya menyebar luas di SMP, ia mulai menjadi bulan-bulanan beberapa kelompok genk di sekolah itu. Ia tidak tahan dengan perlakuan buruk terhadap dirinya. Ia mulai berkelahi, bersikap kasar dan menutup diri. Keberadaannya hanya akan membuat orang lain terluka. Ia bertahan dengan pikiran itu.

===000===

Di depan ruang kelas 1-2, gadis berambut keunguan berulang kali menengok ke dalam kelas. "Naruto-kun..." ujarnya dalam hati. Sambil mengumpulkan kekuatannya ia menegakkan dirinya kembali di luar ruang kelas. Dihirupnya napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Dari kejauhan Sakura memperhatikan gadis itu sambil terus melangkah menuju kelas.

Gadis berambut keunguan itu akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam kelas. Ia berdiri cukup lama di dekat meja Naruto, sementara pemuda jabrik itu asyik ngobrol dengan teman-temannya dan tidak mengindahkan gadis itu. "Na..Naruto-kun.." sapa gadis berambut ungu itu dengan suara pelan. Naruto sama sekali tidak mendengarnya. "Ohayou, Naruto-kun." gadis itu berkata dalam hati. Ia menghela napas, lalu beranjak menuju tempat duduknya.

Sakura yang secara tidak sengaja melihat adegan itu melempari Naruto dengan potongan kapur tulis hingga mengenai kepalanya. "Aduh, siapa yang berani-beraninya melempariku dengan kapur, heeehhh?!" teriak Naruto sambil mencari si pelaku dengan matanya.

"Aku." jawab Sakura sambil melangkah mendekati Naruto. "Memangnya kenapa?"

"Apa masalahmu?!" teriak Naruto berang.

Sakura terdiam sejenak. "Aku hanya kesal melihatmu tidak mempedulikan gadis itu!" jari telunjuk Sakura menunjuk gadis berambut ungu yang sudah dengan sukses duduk di kursinya dan tengah memperhatikan perseteruan dirinya dengan Naruto. Ia tampak syok ketika Sakura menunjuknya.

Naruto menoleh ke arah gadis yang ditunjuk Sakura. "Huh? Memangnya kenapa dengan dia?" nada suara Naruto secara mengejutkan agak rendah.

Sakura hanya menatapnya sambil menghela napas. "Ternyata bukan hanya tampangmu yang kelihatan bodoh, otakmu juga bodoh. Kau bahkan tidak menyadari gadis itu sudah berusaha keras untuk menyapamu, hanya untuk mengucapkan selamat pagi padamu. Dia itu menyukaimu! Sekarang aku heran, siapa sebenarnya diantara kalian yang bodoh!" Sakura mengumpat panjang lebar membuat seluruh kelas seketika menjadi hening. Tapi kemudian, berbagai suara hati teman-teman sekelasnya mulai terdengar.

"Sepertinya yang bodoh itu adalah dirimu sendiri" sebuah suara hati yang tak asing bagi Sakura terdengar olehnya. Ia menoleh pada sosok pemuda yang sedang duduk dengan tenang di kursinya. Uchiha Sasuke. Kata-kata pemuda itu menyadarkannya pada sesuatu yang penting.

Dalam keheningan kelas itu, seseorang terdengar beranjak dari kursinya. Gadis berambut ungu. Semua mata tertuju padanya. "Tidak seharusnya dia mencampuri urusanku." ujar gadis itu dalam hati -yang terdengar memilukan bagi Sakura-, lalu beranjak meninggalkan kelas dalam diam.

Sakura tidak dapat berkata apa-apa, bahkan di dalam hatinya sekalipun. Pikirannya melayang entah pada apa. Ia hanya bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Beberapa saat kemudian, sudah tidak ada lagi yang mempedulikan pertengkaran itu dan kembali ke aktivitas masing-masing termasuk Naruto yang meskipun telah mendengar pernyataan perasaan seseorang terhadap dirinya, ia tidak peduli.

"Haruno Sakura, apa kau mendengarku?" Suara Sasuke terdengar oleh Sakura.

Gadis itu menoleh lalu menghela napas. "Sepertinya aku sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya." jawab Sakura terdengar menyesal. Ia beranjak menuju tempat duduknya, menaruh tas di pinggiran meja lalu berdiam diri. Tanpa mempedulikan percakapan orang lain di sekitarnya ia berkonsentrasi berkomunikasi dengan Sasuke. "Menurutmu, apa yang harus kulakukan?"

"Selesaikan masalahmu sendiri, jangan bawa-bawa aku." jawab Sasuke.

"Memangnya aku tampak seperti mau menyeretmu ke dalam masalahku? Aku hanya ingin saran. Aku bahkan tidak mengenal gadis itu dan sekarang aku membuka rahasianya di depan orang yang dia sukai. Si jabrik itu tidak peka sedikitpun, dia bahkan tidak sadar aku sudah mengatakan hal penting."

"Hn. Dia memang bodoh."

Sakura menghela napas bersamaan dengan dentangan lonceng tanda pelajaran pertama dimulai.

"Semuanya masuk kelas." dari luar kelas terdengar suara Kakashi memperingatkan murid-muridnya. Seluruh siswa di kelas itu tergesa-gesa memasuki kelas, diikuti Hatake-sensei, wali kelas mereka.

"Sepertinya, hal pertama yang harus kau lakukan adalah meminta maaf pada Hinata." ujar Sasuke pada Sakura. Sakura mendengarnya sambil menatap tempat duduk gadis berambut keunguan, Hyuuga Hinata, yang masih kosong.

===000===

To be continued..

Review please... ^^a