TELEPHATY

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing SasuSaku

Chapter 03: Klub Panahan

Nee, kikoemasu ka?

Ketika Hatake Kakashi memasuki ruang kelas, Sakura justru keluar melalui pintu belakang. Ia berlari di koridor mencari-cari sosok Hinata yang telah menghilang dari pandangannya. Tidak ada seorang siswa pun di luar kelas tetapi keramaian yang diciptakannya tidak menghilang sedikit pun. Bagi Sakura, suara hati orang yang didengarnya di sekolah adalah yang paling menyebalkan. Bukan hanya karena banyaknya orang di gedung itu tetapi juga karena orang-orang disana tidak pernah berhenti berbicara, mengeluh, menggerutu bahkan mengutuk orang lain di dalam hati mereka. Tanpa MP3 playernya, mau tak mau semua itu harus didengarnya, meskipun itu memusingkan kepala. Ia mencari Hinata ke segala arah sambil berusaha mengabaikan suara hati berbagai macam orang yang didengarnya.

Sakura yang tak jua menemukan sosok Hinata mulai putus asa. Dimana? Ia tak henti-hentinya menanyakan itu di dalam hatinya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencari di atap sekolah. Ya. Ia pun berlari menaiki tangga menuju atap tempat ia menyeret Sasuke kemarin. Sesampainya di atap ia melayangkan pandangannya menyusuri setiap sudut tempat itu demi untuk mengetahui sosok Hinata tidak ada disitu. "Heh? Kenapa begitu sulit menemukan satu orang saja di gedung empat lantai ini?" umpatnya dalam hati. Oke. Sakura mulai lelah. Di atas gedung itu, ia berdiri, memejamkan kedua matanya, berkonsentrasi mencari-cari suara hati Hinata. Ia yakin, di mana pun Hinata berada saat itu, suara hatinya pasti akan terdengar olehnya. Tetapi, ia tidak bisa mengabaikan suara hati orang-orang lainnya yang begitu banyak, yang terus terdengar seperti radio rusak. Mentalnya tidak kuat.

"Haahh" Sakura mendesahkan nafas lelah. Ia pun membuka mata. "Terlalu banyak orang." gumannya pasrah. "Kenapa orang-orang tidak bisa diam? Bahkan di dalam hati mereka? Oke. Aku juga banyak menggerutu di dalam hati. Mungkin kalau orang lain berada dalam posisiku, ia juga berpikiran sama sepertiku." Ia menghela napas berat. Mungkin ia harus menyerah. Toh juga Hinata pasti akan kembali ke kelas. Hanya tinggal menunggu waktunya saja.

Sakura melangkahkan kakinya meninggalkan atap gedung sekolah yang kosong. Ia menuruni tangga yang sepi meskipun kepalanya dipenuhi berbagai suara. Tepat saat ia mencapai lantai empat, ia melangkahkan kakinya bermaksud akan menuju ruang kelas. Namun, kakinya terhenti oleh sebuah suara hati yang tak sengaja terdengar olehnya.

"Haruno Sakura? Apa yang dia lakukan?Apa mungkin dia mencariku? Lagipula untuk apa?"

Sakura tersentak, ia mencari-cari arah sumber suara itu. Tempat yang memungkinkan bagi seseorang untuk melihatnya. Ia melayangkan pandangannya ke segala arah. Di sebelah kirinya ada tangga menuju ke bawah, di ujung koridor di sebelah kanannya ada ruang kesenian, di depannya hanya ada deretan jendela. Apa dari ruang kesenian? Pikir Sakura, sambil beranjak akan melangkah menuju ruang kesenian. Tetapi, langkah kakinya terhenti ketika sebuah suara terdengar lagi olehnya.

"Apa dia sudah mau pergi?"

Bola mata Sakura membulat. Ia mulai memastikan arah suara itu. Tanpa banyak berpikir lagi ia menuruni tangga. Dengan cepat ia menangkap sosok Hinata dengan matanya. Hinata yang terkejut dengan kemunculan Sakura di depannya melangkah ke belakang hingga tubuhnya menyandar di pojokan tembok. "Ikinari nani?" tanya Hinata gugup.

"Omae!" teriak Sakura antara perasaan marah dan lega. "Tahu gak sih, aku nyariin kamu dari tadi!" lanjutnya dengan nada suara yang sama.

"Eh?" Hinata syok.

"Dari mana saja sih?" Sakura kembali bertanya, kali ini terdengar frustrasi.

"A-aku ta-tadi ke toilet di lantai satu," jawab Hinata gugup dan sedikit heran dengan perilaku Sakura.

"Hah?" Sakura berseru dengan nada tinggi, "Memangnya di lantai empat nggak ada toilet? Ngapain kamu jauh-jauh ke lantai satu?" tanya Sakura semakin meninggikan suaranya menunjukkan rasa tidak percaya akan pendengarannya. Ia tidak percaya gadis ungu itu sengaja ke lantai satu hanya untuk mencari toilet.

"I-i-itu..." Hinata tidak tahu harus menjawab apa. "Masa harus bilang kalau aku mencoba menghilangkan rasa malu dengan berlari tanpa pikir panjang trus sampai ke lantai satu dan akhirnya masuk toilet?" ujarnya dalam hati karena terlalu gugup dan takut mengungkapkannya.

"Hah?" Sakura terdengar seperti sedang kesal.

Hinata syok. Bibirnya tercekat. Wajahnya seperti mau menangis. "Gomennasai!" teriaknya tanpa berpikir.

"Kenapa kau malah minta maaf?" tanya Sakura, lagi-lagi dengan ekspresi dan nada suara seperti orang kesal, tampak mengintimidasi di mata Hinata.

"A-anu..so-soalnya.." jawab Hinata, tetapi ia terlalu takut dan gugup untuk melanjutkan jawabannya. "Soalnya kamu nakutin." sambungnya dalam hati.

He? Sakura akhirnya tersadar dari tindakan yang tanpa ia sadari ternyata terlalu berlebihan sehingga justru membuat dirinya tampak menakutkan. Ia pun tersenyum kaku dengan sedikit suara dari tenggorokannya, berusaha menunjukkan bahwa ia sedang tidak bermaksud melakukan tindak kejahatan.

"Eeeeeeehhh...senyumnya ternyata jauh lebih menakutkan." ujar Hinata dalam hati membuat Sakura semakin melebarkan senyumnya meskipun masih terlihat kaku dan dibuat-buat. Melihat senyum itu Hinata justru semakin takut, ia pun menutup wajah dengan kedua tangannya. "Tolong jangan bunuh aku." ujarnya sambil berjongkok mencoba melindungi diri seolah-olah dia sedang di-bully.

Sakura frustrasi. Kepalanya pening. Dipukulkannya telapak tangan kiri ke wajahnya. "Memangnya siapa yang mau membunuhmu?" gerutu Sakura seraya mendesah pasrah.

Sambil mengumpulkan keberaniannya, gadis berambut ungu yang sedang berjongkok itu melirik Sakura dari balik tangan yang menutupi wajahnya. Sakura yang menyadari hal itu berbalik menatap mata Hinata, yang terlihat seperti delikan bagi Hinata. Sangat mengintimidasi. Ia pun kembali menyembunyikan wajahnya dan sikap itu membuat sebelah alis Sakura terangkat. Heran. Tak percaya dengan pengelihatannya. Bagaimana mungkin segala tindakan dan perilaku yang ia tunjukkan justru membuat gadis itu takut. Apa yang salah dengan dirinya?

Untuk ke sekian kalinya Sakura menghela nafas frustrasi. Oke. Dia belum pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Biasanya dirinya yang berada dalam posisi tertindas dan terintimidasi. Sekarang, justru dirinya yang berada dalam posisi seperti seekor singa yang siap menerkam anak kelinci. Apa dirinya begitu menakutkan?

Setelah menghela napas berkali-kali dan memikirkan cara untuk membuat gadis itu luluh, Sakura pun memposisikan dirinya sejajar dengan Hinata, jongkok. "Nee.." ujarnya dengan nada rendah yang secara mengejutkan terdengar bersahabat di telinga Hinata. "Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentangku, tapi sungguh aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku hanya ingin minta maaf karena sudah mengungkapkan rahasiamu di hadapan semua orang di kelas tadi. Aku sebenarnya tidak begitu merasa bersalah tapi karena kau lari dari kelas, kupikir aku telah membuat kesalahan. Karena itulah, aku minta maaf." lanjut Sakura panjang.

Hinata sepertinya memikirkan sesuatu yang tak bisa ia katakan bahkan di dalam hatinya. Ia menyingkirkan kedua tangannya dari wajah dan menatap Sakura di hadapannya. "Ti-tidak apa-apa. La-lagipula a-ku sudah ditolak olehnya." ujarnya seperti berbisik. Ia sepertinya mulai merasa kalau Sakura tidak memiliki niat buruk terhadap dirinya.

"Ditolak?" tanya Sakura kembali dengan nada suara tinggi. "Maksudmu, si pirang jabrik itu sudah tahu kau menyukainya?" tanya Sakura heran bercampur geram. Tampaknya ia sulit mempercayai pendengarannya.

Hinata mengangguk sambil tersenyum. "Mungkin tadi, Naruto-kun pura-pura tidak melihatku karena merasa tidak nyaman. Tadi, aku lari dari kelas karena malu. Aku takut tidak bisa mengontrol diri dan salah tingkah sendiri." jawab Hinata seraya tertawa kecil seperti mengharapkan permakluman dari situasi yang sulit untuk bisa dipercayai Sakura.

Sakura menatap Hinata seraya menyeringai. "Jadi, rupanya aku tidak benar-benar bersalah ya?" ujarnya diikuti tawa kecil ketidakpercayaan, "Sungguh tidak bisa dipercaya" gerutunya. Ia pun menghela napas yang bisa diartikan 'ya sudahlah'. Ia pun berdiri. "Ayo kita kembali ke kelas." ajaknya seraya mengulurkan tangan untuk Hinata sambil tersenyum dengan lembut. Mungkin itu senyum terbaik yang pernah dilihat Hinata dari gadis merah muda itu, membuat Hinata tidak bisa menolak uluran tangannya.

"Ternyata, kau bisa juga tersenyum dengan manis." guman Hinata saat mengikuti langkah Sakura berjalan menaiki tangga. Hinata tersenyum dengan perasaan lega.

Eh? Sakura tersentak. Wajahnya pun memerah mendengar kata-kata Hinata. Mungkin ini pertama kalinya ia mendengar kata-kata tulus terlontar dari bibir seseorang untuk dirinya. Ada perasaan yang tak biasa yang ia rasakan. Perasaan akrab? Pertemanan? Apapun itu, ia harus segera menguasai dirinya. Kalau Hinata tahu rahasianya, apa mungkin gadis lemah lembut itu mengatakan kata-kata tulus kepada dirinya? Apakah masih mungkin gadis itu tersenyum dengan tulus padanya? Apakah masih mungkin gadis lavender itu menerima uluran tangannya?

.

.

.

Sekembalinya Sakura dan Hinata ke ruang kelas, mereka disambut tatapan mengintimidasi dan senyum pahit sang wali kelas, Hatake Kakashi. Sakura tadinya mau membalas tatapan itu, tapi karena Hinata membungkukkan badannya sambil meminta maaf atas keterlambatan mereka masuk kelas, mau tak mau ia juga ikut membungkuk meskipun ia merasa tidak rela.

"Kembali ke tempat duduk kalian." ucap Hatake Kakashi setengah tidak rela. Seandainya yang terlambat hanya Sakura, kemungkinan besar ia akan meluapkan amarahnya pada gadis itu dan memberinya hukuman, tetapi mengingat yang bersamanya adalah Hinata, gadis baik-baik dan terlihat tanpa dosa, ia pun mengurungkan niat itu. "Kali ini kuampuni kau." gerutu guru bermasker itu dalam hati dengan tatapan tajam ke arah Sakura.

Sambil berjalan meninggalkan sang guru, Sakura meliriknya. Tanpa di duga tatapan mereka bertemu, dan memunculkan percikan-percikan listrik diantara keduanya. Sakura segera mengalihkan pandangannya dengan sinis. Pada akhirnya ia berhasil mendaratkan diri di tempat duduknya dan menemukan selembar kertas di atas mejanya bertuliskan Formulir Keanggotaan Klub Panahan. Ia mengernyitkan sebelah alisnya. "Apa ini?" ia bertanya pada dirinya sendiri.

Jawaban dari pertanyaan itu pun segera akan didengarnya. Sang wali kelas, Hatake Kakashi memberikan penjelasan, "Kepada nona Haruno dan Hyuuga, karena ketidakhadiran kalian tadi, kalian pasti belum mengetahui kalau tadi aku mendata keikutsertaan klub. Untuk Hyuuga Hinata-san, kau boleh memilih mengikuti klub apapun yang kau mau, bahkan kalau ingin abstein dari klub pun tidak masalah." ujar Hatake-sensei sambil memandang ke arah Hinata. Setelah selesai memberikan ceramahnya pada Hinata, ia beralih menatap Sakura. "Nona Haruno Sakura," sebutnya, "aku secara khusus merekrutmu masuk ke klub panahan." lanjut sang wali kelas yang dengan sukses membuat Sakura membuka mulutnya seperti akan mengeluarkan kata 'Huh?'. Tetapi, belum sempat Sakura mengekspresikan dirinya, guru berambut putih itu berkata lagi, "Namamu sudah kumasukkan ke dalam buku keanggotaan klub. Pastikan kau mengikuti kegiatan klub sesuai aturan." jelasnya dengan penekanan pada setiap kata-katanya, terdengar kesal. "Demikian homeroom hari ini." lanjut Kakashi sambil melayangkan pandangannya ke seluruh kelas. "Kalian bisa melanjutkan pelajaran sesuai jadwal." ia mengakhiri kalimatnya. Hatake-sensei pun beranjak akan meninggalkan ruang kelas. Namun, baru sekitar dua langkah ia meninggalkan meja guru, sebuah suara mengejutkannya, membuat langkah terhenti.

Suara itu berasal dari arah Sakura. Ia baru saja menghentakkan kedua tangannya di atas meja seraya berdiri. "Chotto matte, Shirogami-sensei!" seru Sakura, yang berhasil membuat seisi kelas menjadi hening.

"Shirogami?" tanya Kakashi dalam hati, sebelah alisnya terangkat. Ia menoleh ke arah sumber suara sambil mendelik. "Apa masalahmu, Nona Haruno?" ia bertanya dengan penekanan di setiap kata-katanya. Terlihat aura hitam menyelimuti tubuh guru itu.

Melihat reaksi sang guru, Sakura menelan ludahnya sendiri. Ia tersenyum getir. "Iie..daijoubu desu" jawabnya singkat, mengurungkan niatnya untuk protes.

Mendengar jawaban Sakura, Kakashi tersenyum (palsu) lalu melanjutkan langkahnya keluar kelas. Sepeninggal sang wali kelas, teman-teman sekelas Sakura menoleh ke arah dirinya dengan berbagai gerutuan, celaan dan cemoohan terhadap dirinya yang tentu saja hanya diucapkan di dalam hati. Sakura pun duduk kembali sambil menghela napas. Matanya melirik kesana kemari sambil membenahi beberapa helai rambutnya yang terasa tak karuan, berusaha menyingkirkan perasaan tak mengenakkan yang ditimbulkan oleh teman-temannya.

Dalam situasi kaku dan canggung itu, sebuah hentakan terasa melalui kaki kursinya. Sumber hentakan itu dari belakang bawah, tepatnya berasal dari kaki Sasuke yang mengentak kaki kursi Sakura. Ia menoleh. Yang tampak olehnya selembar kertas bertuliskan sama dengan kertas yang berada di atas mejanya. Tetapi, dalam lembaran kertas dihadapannya itu sudah terisi data anggota baru klub atas nama Uchiha Sasuke.

Sakura memiringkan wajahnya ke sebelah kiri untuk melihat wajah si pemilik formulir. "Kau ikut klub panahan?" ia bertanya seakan tak percaya dengan pengelihatannya.

"Hn." jawab pemuda bermata kelam itu singkat.

"A..Sou?" ujar Sakura seraya kembali ke menghadap ke depan. "Kau pikir dengan memperlihatkan formulirmu akan membuatku ikut-ikutan bergabung di klub itu? Aku masih memiliki banyak hal yang harus kulakukan dibandingkan mengikuti kegiatan klub bodoh itu!" ujarnya dalam hati yang ia tujukan untuk Sasuke.

Meskipun telah berkata demikian, sore itu ia masuk juga ke ruang klub panahan bersama Sasuke. Di dalam ruangan itu sudah berkumpul beberapa anggota baru klub yang merupakan siswa baru dan anggota lama yang merupakan senior mereka. Salah satu diantara senior itu berdiri diatas panggung kecil yang tidak begitu tinggi di bagian depan ruangan, kemudian menyampaikan sedikit sambutan kepada anggota baru, "Selamat datang di klub panahan. Aku Hyuuga Neji, kelas dua, ketua klub ini. Yoroshiku onegaishimasu!" ujar sang ketua klub seraya membungkukkan badannya. Setelah itu ia memulai pidato. "Kalian telah membuat pilihan yang tepat dengan bergabung ke dalam klub ini. Klub panahan adalah salah satu klub favorit di sekolah ini. Kalian yang bergabung disini kuharap memiliki semangat untuk berlatih dan pada akhirnya mampu mengukir prestasi di kejuaran panahan. Bla bla bla..."

"Mengukir prestasi katanya?" tanya Sakura dalam hati. Ia mulai merasa telah masuk ke tempat yang salah. Prestasi bukan tujuannya bersekolah, apalagi prestasi di bidang panahan. Lagipula ia belum memutuskan akan masuk ke dalam keanggotaan klub itu, dan keberadaannya di ruangan itu sekarang karena ingin melihat situasi dan kondisi klub panahan sebelum membuat keputusan. Namun, begitu mendengar istilah 'mengukir prestasi', ia mulai merasa tidak cocok dan secara instan ia memutuskan untuk tidak bergabung dalam klub bodoh itu. Secara perlahan ia melangkah mundur mendekati pintu geser yang beberapa menit lalu ia lewati. "Jangankan mengukir prestasi, aku bahkan belum pernah memegang panah seumur hidupku." ujarnya dalam hati seraya membalikkan badannya sambil membungkukkannya sedikit. Ia bermaksud membuka pintu secara diam-diam. Baru saja ia akan menyentuh gagang pintu, sebuah tangan menarik paksa kerah kemejanya yang dengan sukses menghentikan aksinya. Ia sudah bisa menebak si pelaku penarik kerah. Uchiha Sasuke.

Pemuda berambut pantat ayam itu menatap Sakura dengan ujung matanya yang disipitkan. "Mau kabur?" ia bertanya melalui suara hatinya.

Sakura membalas tatapan Sasuke dengan delikan. "Lepaskan!" pekiknya.

"Tidak, sampai kau kembali ke posisimu semula." balas Sasuke.

Sakura berusaha meraih gagang pintu tetapi tidak berhasil. "Lepaskan! Tidak ada gunanya aku bergabung dalam klub ini. Mereka menginginkan prestasi. Jangan bercanda! Aku bahkan belum pernah menyentuh panah dalam hidupku. Berprestasi apanya..."

Tepat saat Sakura mengakhiri kalimatnya terdengar suara pintu bergeser. Sreeeett...! Pintu itu terbuka menampakkan sosok Hatake Kakashi yang bersiap akan masuk ke ruangan tetapi tertahan oleh kehadiran Sakura di balik pintu. Pria bermasker itu mendelik pada Sakura yang masih dalam posisinya akan kabur dan kerah bajunya masih ditarik Sasuke. Karena tidak siap dengan kejutan yang dihadirkan oleh guru berambut putih itu, Sakura kehilangan keseimbangan. Secara reflek Sasuke pun melepaskan genggamannya dari kerah kemeja Sakura membuat gadis itu jatuh terduduk.

"Itai!" keluh Sakura ketika pantatnya mencium permukaan lantai.

Bukannya membantu Sakura berdiri, Hatake Kakashi justru mendelik sambil menyeringai sinis dan melangkahkan kakinya dengan santai menuju kumpulan siswa-siswi anggota klub panahan yang masih mendengarkan pidato dari ketua klub. Sementara itu, Sasuke membuang muka, pura-pura tidak melihat.

"Sialan" rutuk Sakura dalam hati. Ia pun berusaha berdiri sendiri.

Pada saat itu Kakashi memperkenalkan dirinya pada anggota baru klub. "Hajimemashite, aku Hatake Kakashi, guru pembina klub panahan. Yoroshiku!" ujarnya terdengar bersahaja. "Hari ini secara khusus aku membawa serta dua orang murid dari kelasku untuk bergabung ke dalam klub ini. Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura." lanjut Kakashi seraya melayangkan pandangannya ke arah Sakura dan Sasuke, bertepatan di saat posisi Sakura membungkuk bersiap akan keluar ruangan untuk kedua kalinya, dan tangan Sasuke menggenggam kuat kerah baju Sakura untuk mencegahnya keluar. Mendengar nama mereka berdua disebut mereka menoleh ke arah sumber suara.

"Huh?" pekik Sakura tak percaya dengan pendengarannya.

Seluruh anggota klub panahan menoleh ke arah mereka. Wajah Sakura dan Sasuke pun memerah karena malu, lebih tepatnya tak enak hati karena dilihat dalam posisi yang tak mengenakkan. Secara reflek (lagi), Sasuke melepas genggamannya dari kerah baju Sakura membuat gadis itu kehilangan keseimbangan tetapi, untung ada pintu tempat ia berpegangan sehingga ia tidak jatuh kedua kalinya. Meskipun begitu kini posisinya terlihat seperti sedang mencium daun pintu dengan pipi sambil berlutut.

Sakura menelan ludah, menahan perasaan kesal, geram dan marah. "Akan kubunuh kau, Uchiha Sasuke...!" teriaknya dalam hati seraya menoleh ke arah Sasuke dengan mata berapi-api.

Sasuke hanya tersenyum kaku melihat reaksi Sakura, sementara anggota klub yang lain sweatdrop melihat aksi mereka berdua, dan Kakashi, orang yang telah dengan paksa memasukkan Sakura ke dalam klub panahan hanya bisa menghela napas sambil geleng-geleng kepala.

Dan, begitulah cara Sakura dan Sasuke mengawali keanggotaan mereka di klub panahan. Entah kesialan apalagi yang akan menghampiri Sakura di klub itu. Tidak ada yang tahu (bahkan author pun belum tahu).

.

.

.

Sakura yang baru saja menjadi anggota klub panahan, selama dua hari belakangan mulai aktif dalam kegiatan klub. Hampir setiap hari. Ya. Hampir setiap hari, begitu usai pelajaran terakhir selama sekitar satu jam ia sibuk di ruangan klub dan di beberapa kesempatan ia pun memasuki ruang memanah. Masalahnya, yang dilakukannya bukan memanah melainkan bersih-bersih. Ia berdiri berkacak pinggang di ruang memanah yang lantainya terbuat dari kayu sama seperti lantai di gedung olah raga. Ia melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan, lantainya telah mengkilap, hasil kerja kerasnya. "Yosh." ujarnya sambil mengangguk puas. Meskipun begitu, di dalam hati ia masih menggerutu setiap kali sampai di ruang klub, karena yang menantinya adalah lap yang disodorkan oleh para senpai-nya.

Ia menghela napas. "Kenapa hanya aku? Sasuke dan anggota baru lainnya sudah mulai latihan memanah. Kenapa aku tidak? Kenapa aku malah harus mengepel lantai bodoh ini?!" kata hatinya kesal. "Seharusnya waktu itu aku mengabaikan si Shirogami dan si Pantat Ayam. Untuk apa aku peduli dan melakukan apapun sesuai kemauan mereka! Sial!" umpatnya kesal. Di akhir kalimatnya ia melemparkan lap yang ada di tangannya ke lantai dengan sekuat tenaga.

Tepat pada saat lap itu mendarat di lantai, pintu geser ruang memanah terbuka. Seseorang memasuki ruangan dengan santai, mengabaikan kelakuan Sakura yang kalau dilihat oleh seniornya kemungkinan akan mendapat omelan panjang lebar.

"Sudah selesai bersih-bersih?" tanya orang yang baru masuk itu, yang dengan jelas dapat dikenali dari suaranya. Uchiha Sasuke.

Sakura sudah mengetahuinya sejak awal kalau yang datang adalah Sasuke, karena itu ia mengabaikannya. Ia menghela napas panjang lalu berkata, "Aku tidak mau melakukan ini lagi."

"Hn..." Sasuke menanggapinya dengan santai. Ia lalu mengambil salah satu panah yang berjejer rapi di dekat tembok di belakang Sakura. Setelah mengambil serta beberapa anak panah ia pun berdiri di samping Sakura seraya membidikkan panahnya ke sasaran yang berada cukup jauh di depan sana. Ia memusatkan konsentrasinya pada titik tengah sasaran. Setelah yakin pada sasarannya, Sasuke melepaskan anak panah itu. "Swoooshhh...teg!" Anak panah itu menancap dengan cukup anggun di tengah-tengah papan sasaran meskipun tidak tepat pada titik pusatnya.

Sakura terperanjat melihat lesatan anak panah itu menancap di papan sasaran.

"Aku belajar memanah bukan untuk mengikuti kejuaran." ujar Sasuke sambil mengarahkan anak panahnya yang kedua.

Sakura menoleh ke arah Sasuke dengan raut wajah penuh tanya. "Lalu untuk apa dia bergabung di klup panahan? Berlagak bisa memanah?" tanya Sakura dalam hati sambil menghela napas berat sampai mengeluarkan suara 'haaah'.

"Bisa nggak berhenti berpikiran negatif terhadap orang lain?" Sasuke menurunkan panahnya dan menatap Sakura. Sakura hanya memutar bola matanya. Melihat reaksi Sakura yang lancang, tanpa sadar Sasuke menggerutu dalam hati, "Kalau cowok, sudah kutonjok wajahnya, ngeselin banget!"

Seketika itu Sakura menatap Sasuke dengan mata mendelik, seolah ia sedang menantang Sasuke berkelahi.

Sasuke segera memalingkan wajahnya. Ia kembali mengangkat panah dan membidikkan anak panahnya ke sasaran.

"Sebaiknya kena. Kalau tidak aku akan menertawaimu!" ancam Sakura dalam hati sambil menyeringai.

"Bisa diam tidak?" kata Sasuke sambil mencoba memusatkan konsentrasinya.

"Biasanya juga kalau aku ngomong dalam hati nggak ada yang dengerin"

"Pernah nggak ada orang yang bilang kalau kamu itu berisik?"

"Jelas nggak. Suaraku jarang keluar. Salah sendiri kau punya pendengaran yang terlalu peka."

Di kepala Sasuke sepertinya mulai muncul tanda-tanda kesal. Semakin Sakura membalas kata-katanya, semakin banyak tanda itu muncul. Ia pun sudah kehilangan konsentrasi. "Lihat siapa yang berbicara? Bukannya sampai beberapa hari yang lalu kau masih mengandalkan Mp3 player bodohmu itu?!"

Giliran Sakura yang kali ini memiliki tanda kekesalan di jidatnya. "Pengin banget nonjok mukanya yang ngeselin itu!" teriaknya dalam hati.

Untuk kedua kalinya Sasuke menurunkan panahnya. Kedua kalinya ia kehilangan konsentrasi dan tidak jadi memanah. Ditatapnya mata Sakura yang saat itu menatapnya dengan mata berapi-api. Situasi saling menatap dengan penuh kekesalan itu berlangsung cukup lama sampai seseorang memasuki ruangan itu. Keduanya secara reflek mengalihkan pandangan masing-masing.

"Lhoo, ada orang?" tanya orang yang tak lain adalah sang ketua klub, tak menyangka di ruangan itu ada penghuninya. Hyuuga Neji sang ketua klub melangkah dengan santai tanpa mempedulikan perseteruan dua orang di dekatnya. Sambil mengambil panah, ia pun berkata, "Haruno Sakura-san, bukankah kau bilang ada kegiatan sore ini?"

Sakura tersentak. Ia akhirnya kembali pada kesadarannya. "Baito!" serunya dalam hati. Ia pun segera beranjak dari tempatnya berdiri, mengambil tas sekolah yang ditaruh tak jauh dari sebuah tabung tempat anak panah. "Shitsureishimasu!" serunya seraya keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa. "Sialan kau pantat ayam! Gara-gara kau aku sampai lupa waktu" gerutunya di sela-sela langkah kakinya yang memburu.

===000===

Sesampainya di rumah, Sasuke menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memajamkan mata. Lengan bawah tangan kirinya ia letakkan menutupi wajahnya sambil menghela napas. Beradu argumen dengan Sakura ternyata membuatnya kehilangan banyak tenaga. Ia mendapatkan pengalaman pertama bertengkar dengan perempuan. Kalau saja Sakura laki-laki, kemungkinan besar mereka sudah beradu tinju.

"Sasuke, kau sudah pulang?" sebuah suara yang sudah tidak asing baginya, suara Kakashi, membuatnya menyadari sesuatu.

Sasuke segera beranjak dari posisinya, lalu duduk. Kakashi yang berdiri di ambang pintu kamar Sasuke memandangnya seperti sedang menantikan sebuah tanggapan. Sasuke menghela napas. "Aku tidak sempat memberitahunya," ujarnya.

"Huh?" Kakashi mengerutkan keningnya.

"Dia itu punya bakat membuat orang lain merasa kesal," lanjut Sasuke seraya berdiri. Ia pun melangkah mendekati Kakashi yang sedang berdiri sambil bersandar di kusen pintu. Kedua tangan Sasuke mendorong dadanya hingga mau tak mau tubuhnya terdorong ke belakang. Dengan cepat Sasuke meraih daun pintu lalu menghentakkannya hingga menyatu sempurna dengan kusen.

"Sasuke kenapa?" terdengar suara kakaknya, Itachi, bertanya kepada Kakashi di luar sana.

"Sepertinya dia galau karena gadis itu." jawab Kakashi datar dan santai.

"Gadis itu?" Itachi bertanya lagi, bermaksud meyakinkan dirinya bahwa gadis yang dibicarakan Kakashi adalah gadis yang sama seperti dalam pikirannya.

"Iya. Gadis yang itu. Aku memintanya untuk mengajak gadis itu latihan bersamanya, tetapi sepertinya dia gagal. Melihat dari karakter gadis itu, sepertinya mereka berdua bertengkar. Gadis itu membuatnya tidak berdaya. Benar-benar tidak bisa diandalkan." jawab Kakashi sambil menggerutu.

"Heee... tidak kusangka adikku mulai tertarik pada perempuan." ujar Itachi dengan nada suara antara heran dan lega.

Sasuke meneplok wajahnya dengan telapak tangan kirinya. "Kedengaran jelas tahu! Kalau membicarakan orang setidaknya jangan sampai orang yang dibicarakan dengar donk. Bikin tambah kesal aja! Lagipula siapa yang tertarik dengan gadis lancang seperti dia!" umpatnya kesal.

.

.

.

Keesokan harinya, pada pelajaran olah raga. Karena baru hari pertama olah raga, kelas Sakura dan Sasuke hanya melakukan pemanasan diikuti olah raga bebas. Sakura yang tidak begitu tertarik berolah raga hanya duduk di pinggir lapangan bersama beberapa teman sekelasnya. Ia menonton beberapa siswi dari kelasnya yang sedang bermain voli. Sementara itu, Sasuke dan beberapa temannya bermain basket di lapangan sebelahnya. Sesekali Sakura melirik ke arah lapangan basket yang rupanya sedang semarak karena beberapa siswi dari kelas lain yang mendapat jadwal olah raga di hari yang sama bersorak sorai memberi semangat pada Sasuke.

"Aku nggak tahu kalau dia populer," guman Sakura dalam hatinya sambil duduk menopang dagu. Ekspresinya tampak sedikit kesal dengan balutan rasa heran dan taburan rasa tak menyangka. Ia menghela napasnya, cukup berat.

"Apa kau pikir aku tak mendengarmu?" sebuah suara hati yang dengan jelas suara Sasuke, membuat Sakura tersentak tak menyangka. Ia memandang ke arah lapangan basket, di pinggir lapangan Sasuke tampak sedang mengatur napas sambil melirik ke arah dirinya.

Sakura dipenuhi rasa heran. Dari sekian banyak suara hati yang didengarnya di tempat itu, kenapa suara Sasuke yang paling jelas terdengar olehnya. Dan yang paling tidak ia sangka, Sasuke mampu mendengar suara hatinya padahal sedang melakukan permainan basket yang membutuhkan konsentrasi penuh.

"Kemarin aku gagal memberitahumu sesuatu. Sebaiknya kuberitahu sekarang sebelum percakapan ini berakhir menjadi pertengkaran." ucap Sasuke dalam hati yang ditujukan kepada Sakura. Ia pun melanjutkan, "Kakashi ingin aku mengajakmu latihan memusatkan pikiran. Apa kau mendengarku?"

"Bisa nggak, jangan bertanya apa aku dengar atau tidak. Bikin kesal tahu!" jawab Sakura. "Tadi kau bilang latihan? Latihan untuk apa?" tanya Sakura belum memahami maksud Sasuke.

"Latihan untuk memaksimalkan kemampuan mendengarmu." jawab Sasuke.

Sakura terdiam. Ia berpikir. "Untuk apa aku melakukan latihan semacam itu? Apa gunanya bagiku?" tanyanya dalam hati.

"Kau akan tahu setelah melakukan latihan itu. Paling tidak, teorinya begitu." jawab Sasuke.

"Teori? Kenapa aku merasa seperti akan dijadikan bahan percobaan..."

"Aku tidak akan mengajakmu untuk kedua kalinya. Putuskan kau ikut atau tidak?"

Sakura mendesah. "Baiklah. Aku tidak begitu mengerti tapi aku tertarik." jawab Sakura.

Sasuke tersenyum puas, senyumnya seolah-olah memiliki arti 'ternyata tidak sesulit yang kupikirkan untuk menjinakkan Sakura'.

===000===end of chapter 3===000===

To be continued...

Author's corner:

Gomen ne minna, fanfic ini vakum cukup lama. Mungkin sudah pada lupa ya.. haha.. mudah-mudahan chapter ini tidak mengecewakan.

Akhir kata, review please.. ((_ _))