JANUARY COLLECTION

| winner fanfiction | jinhoon / hoonwoo | seunghoon/jinwoo |

| WINNER © YG ENTERTAINMENT |

| JANUARY COLLECTION © dumb-baby-lion |

| rated T | boys love |

| oneshoot |


don't like don't read

any same idea, it's just acidentally same

and remember, it's just a FICTION

warning. out of character and typos take a big part of my writing world


inspired by Cendrillon by Charles Perrault


chapter two:

(January the 11th) WINNER's Seunghoon

'Cinderhoon and Prince Jinwoo'


Seunghoon memanggul dua karung pupuk di punggungnya sembari membiarkan peluh yang mengalir di kepalanya menetes ke tanah di tengah terik matahari yang menyengat kulit.

Pekerjaan sebagai tukang kebun memang melelahkan. Apalagi sebagai tukang kebun dalam rumah besar bergaya eropa dengan halaman yang begitu luas dengan banyak bunga-bungaan indah, pohon tinggi besar serta labirin yang terbuat dari semak tinggi yang indah.

Well, rasanya Seunghoon jadi tahu bagaimana beratnya usaha seorang tukang kebun dan membuat dirinya menyesali kelakuan jahatnya pada tukang kebunnya pada masa kecilnya dahulu, yaitu selalu memotong bunga yang sudah dirawat dengan cantiknya atau menginjaki tunas tanaman. Bahkan lebih parahnya lagi Seunghoon cilik pernah menggunakan gergaji untuk memangkas semua ranting pohon kesayangan ayahnya.

Lalu kejamnya lagi, semua perilaku brutal itu Seunghoon salahkan kepada si tukang kebun atau alam yang ada di sekitarnya. Mungkin posisinya kini sebagai tukang kebun berkat doa berbagai tukang kebun terzalimi dan BUM! Jadilah Tuan Muda Lee Seunghoon yang hobi main-main menjadi tukang kebun.

Yah, walau sebenarnya bukan begitulah kisah mengapa Seunghoon bisa ehemturunehem kasta dari seorang tuan muda menjadi pembantu di kebun.

.

.

.

Seunghoon cilik ialah anak yang hiperaktif, namun sikap hiperaktifnya itu bisa mendadak hilang apabila ibunya sudah memberikan sebuah buku kumpulan cerita atau membiarkannya menonton Pokemon seharian.

Maka dari situlah Seunghoon tumbuh menjadi penyuka kisah anak-anak, terutama Lion King (karena Seunghoon selalu mengaku-ngaku bahwa dirinya ialah keturunan Simba yang mana itu sangat bullshit), serta menjadi number one fans of Pokemon (bahkan Seunghoon punya bantal berbentuk Ditto yang khusus dipesankan ayahnya untuk ulang tahunnya yang kesekian tahun.)

Singkatnya, Seunghoon itu sedikit childish.

Atau mungkin sangat childish, ya?

Tapi bukan itulah penyebab Seunghoon berubah menjadi tukang kebun. Janganlah kalian mengira kalau Seunghoon jatuh miskin akibat obsesinya pada singa atau pokemon. Yang jelas, hidup Seunghoon mulai berubah seperti Cinderella pada usianya yang ke 15.

.

.

.

"EOMMA! BANGUNLAH!"

Seunghoon menerobos masuk lalu mengguncang-guncangkan bahu ibunya begitu melihat Dokter Dong menggeleng-gelengkan kepala pada ayahnya dan dirinya yang menunggu diluar ruang operasi.

Seunghoon sudah cukup besar untuk paham apa maksud gelengan itu, tapi hatinya terus menolak untuk percaya. Begitu pula dengan matanya yang sudah berkaca-kaca namun tak menitikkan air mata melihat sosok ibunya yang terbaring dengan dinginnya di ranjang putih khas rumah sakit.

"DOKTER DONG SUDAH MELEPAS KABEL-KABEL ANEH DARI HIDUNGMU, EOMMA! JADI PULANGLAH DAN AYO TEMANI AKU MENONTON LION KING SEPERTI DAHULU!"

Masa bodoh dengan larangan berteriak di area rumah sakit.

Seunghoon sungguh tidak peduli.

"Seunghoon, sudahlah. Eomma sudah pergi." kata Tuan Kim penuh kelembutan sembari menyentuh bahu Seunghoon untuk menenangkan pemuda yang akan berusia lima belas tahun dalam 11 hari lagi itu.

Seunghoon bergetar lalu menggengam erat tangan ibunya sebelum lututnya terjatuh bagaikan jelly yang kenyal. Isakan disusul oleh raungan kesedihan memenuhi ruang beraroma desinfektan ini.

Ibunya telah pergi.

Pergi jauh meninggalkannya bahkan dengan bantuan Charmeleon pun Seunghoon tidak dapat menyusulnya.

"Eomma... hiks-kenapa kau-hiks-meninggalkanku-hiks..."

Ibunya tidak akan menjawab bahkan hingga Seunghoon berbicara hingga berbusa tetap saja hanya keheningan yang ia dapatkan darinya.

"... hiks-bangunlah Eomma-hiks hiks-apa aku harus-hiks hiks- selalu menunggumu?"

Dan hanya tatapan pilu yang Seunghoon dapatkan dari Dokter Dong, Tuan Kim dan suster-suster disana, bukannya jawaban dari bibir eommanya.

.

"Appa sudah memutuskan bahwa Appa akan menikahi Nyonya Nam."

Seunghoon seketika tersedak bulgogi yang baru saja ia lahap. Ia terbatuk-batuk dengan keras tanpa peduli nenek-nenek yang duduk di sampingnya melemparkan tatapan tidak nyaman akan suara batuknya yang tidak sopan itu.

Bahkan ditengah usahanya melegakan tenggorokan dengan meminum air es dingin, Seunghoon mendenggar gumaman nenek itu soal betapa tidak beradabnya pemuda zaman sekarang.

Hey, Seunghoon itu bukannya tidak beradab, tapi siapa, sih, yang tidak tersedak kaget saat ayah mereka memberitahu suatu hal yang extraordinary mengejutkan?

Well, bukan Seunghoon tentunya.

"Jadi Appa sudah move on dari eomma? Cih, cepat sekali." kata Seunghoon penuh tuduhan sambil menyipitkan matanya yang memang sudah sipit.

"Dan Nyonya Nam? You've gotta be kidding me, Appa. Eomma seribu kali lebih baik."

Hey, Nyonya Nam itu sangat seram. Seunghoon bisa lihat aura ibu tiri jahat dalam dirinya.

Seunghoon bergidik sebelum menggebrakkan meja di depannya lalu mendecih tak suka ala antagonis salah satu drama tengah malam yang sempat ia tonton sebelum berkata dengan nada kesal, "Aku bahkan tidak mau berdekatan dengan anaknya yang berambut belah tengah itu."

Seunghoon mendengus sambil menatap ayahnya yang kini terlihat berusaha mengendalikan emosinya berkat kelakuan Seunghoon yang tidak setengah-setengah menolak permintaannya. Tatapan Tuan Kim melembut lalu menatap anak semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.

"Tapi Seunghoon... apa kau akan membiarkan Appa hidup sendirian selama sisa hidup Appa?"

Mungkin perkataan Tuan Kim terdengar seperti bualan penuh rayuan belaka, tapi itu sudah cukup untuk melelehkan hati Seunghoon yang memang sudah sensitif sejak dahulu kala.

.

Seunghoon ingat saat masih kecil ia begitu iseng sehingga apabila diajak pergi ke sebuah pesta pernikahan ia akan mengacau. Dan rasanya, kini di usianya yang ke 15, Seunghoon sangat ingin kembali menjadi anak kecil yang bisa mengacau di pesta pernikahan walau sebenarnya pesta ini sangat penting baginya.

"Ah, Seunghoon-ah! Akhirnya kita menjadi saudara, ya!" kata Dahye dengan nada ramah sambil menyikut Seunghoon yang menatap kosong altar cantik dimana ayahnya berdiri bersama Nyomya Nam.

Seunghoon hanya mengangguk sedikit sebelum berpaling pada gadis disebelahnya yang sedari tadi berlaku sangat ramah padanya. Sejujurnya Seunghoon baru mengetahui kalau Nam Taehyun sial itu mempunyai kakak tiri yang amat sangat ramah dan amat swag yang bernama Dahye.

(Dan, oh, Seunghoon juga baru tahu kalau Dahye menyukai hip hop, tidak seperti Nam Eyebrows yang menyukai musik klasik membosankan.)

Seunghoon pada akhirnyaa menarik senyumanan untuk membalas senyuman Dahye padanya.

Well, mungkin keluarga bawaan dari Nyonya Nam tidak seburuk yang Seunghoon pikirkan.

.

Seunghoon mulai berpikir tentang ada apa dibalik ulang tahunnya.

Kini tepat 5 hari sebelum ulang tahunnya yang ke 16, sebuah berita mengejutkan sampai ke telinga Seunghoon yang sedang menonton televisi dengan khidmat.

Ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat di Mongolia sana.

Hidup Seunghoon seketika serasa runtuh ketika mengetahuinya. Ia merasa sebatang kara saat ini. Kini siapa lagi sanak saudaranya? Kakek dan neneknya semua telah meninggal dan seingat Seunghoon ayah dan ibunya ialah anak tunggal.

Seunghoon menatap sarapan pertamanya seusai kematian ayahnya yang kini tersisa setengah dengan tatapan hampa lalu memejamkan matanya erat-erat sambil mencengkram sumpitnya.

Kau tidak sendiri, Hoon.

Setidaknya masih ada Nyonya Nam, Dahye, dan si busuk Taehyun disini.

.

"Lee Seunghoon, mulai hari ini pindahlah ke kamar Sangwoo ahjussi dan besok pagi kerjakan tugasnya. Mulai hari ini kau turun kasta menjadi tukang kebun keluarga."

Perkataan dingin Nyonya Nam membuat Seunghoon membuka matanya dan melotot pada ibu tirinya berikut Dahye dan Taehyun disebelahnya yang menyeringai setan.

Apa katanya?

Pembantu? Apa dia pikir ini kisah Cinderella?

"Apa hakmu untuk memerintahku, huh?" Nyonya Nam hanya menanggapi sinisan Seunghoon dengan senyum penuh kelicikan yang membuat Seunghoon menggertakkan gigi kesal.

"Kau lupa bagaimana pesan dari ayahmu?"

Seunghoon mengertakkan gigi, teringat pada bagaimana hal yang selalu diulang oleh ayahnya pada seminggu terakhir sebelum keberangkatannya, yang seolah menjadi pertanda akan kepergiannya.

Untuk Seunghoon anakku, warisanmu akan dipegang oleh Nyonya Nam hingga ia merasa kau cukup umur.

Shit.

Dan yang Seunghoon lakukan saat itu ialah pergi keluar dari rumahnya menuju kandang kuda dan memacu kuda kesayangannya sambil menahan amarah yang berasap dalam dirinya.

.

.

.

"Hei Seunghoon, aku sudah bilang 'kan untuk membuang benda pink itu."

Taehyun mendadak muncul di ambang pintu kamar garis miring loteng yang ditempati Seunghoon lalu masuk dan memandang jijik boneka Ditto yang tergeletak di samping futon-nya.

Kaki Taehyun pun melangkah mendekat pada boneka itu dan membuat gestur seolah akan menendangnya, yang sontak saja membuat mata sipit Seunghoon makin menyipit penuh kebencian.

"Berani menendangnya, akan kupatahkan tubuhmu lagi, Nam bodoh. Jadi menyingkir dari sini sebelum aku mematahkan kaki kirimu." ancam Seunghoon setengah menggertakkan gigi yang seketika membuat Taehyun pergi dengan gusar.

Kenapa Taehyun gusar setengah ketakutan seperti itu?

Karena Taehyun sudah tahu bahwa ancaman Seunghoon soal patah-mematahkan itu adalah satu dari sekian ancaman Seunghoon yang selalu terwujud menjadi nyata. Sebagai contoh baru seminggu yang lalu Taehyun sembuh dari retak tangannya akibat perilaku brutal Seunghoon yang dengan sangat sengaja melempar bola besi penganjal kandang kuda.

Seunghoon tertawa terbahak-bahak mengiringi punggung Taehyun yang kini tak terlihat lagi. Sungguh aneh rasanya ia merasakan kebahagian ditengah kehidupannya yang akhir-akhir ini diliputi kemalangan.

.

.

.

Seunghoon baru saja bangun tidur dan keluar loteng tersayangnya untuk memberi makan Lee Hee yang ada di gendongannya serta Haute yang mengekorinya ketika ia mendengar teriakan high-pitch Nyonya Nam membahana di rumahnya.

"Bagaimana bisa kau baru menemukan undangan itu?! Acaranya malam ini!"

"Apa?! Malam ini?!"

"Salahkankan saja Seunghoon yang tidak menjalankan tugasnya sebagai tukang pos dengan baik!"

Samar-samar Seunghoon mendengar pembelaan Taehyun yang mencemooh dirinya membalas perkataan Nyonya Nam. Seunghoon diam-diam melongok pada tiga orang dengan lain umur yang berdiri di tengah hall rumah masih dengan piyama melekat di tubuh untuk Taehyun.

Masa bodoh mereka membicarakan apa, Seunghoon tak peduli.

"Kalau begitu kita harus bersiap mulai sekarang! Aku harus terlihat cantik untuk nanti!" seru Dahye sembari memekik panik, membuat Seunghoon menuruni tangga sambil memutar mata malas akan gadis dengan kelakuan serigala namun berbulu kucing itu.

"Memangnya apa yang ingin kau lakukan? Menarik perhatian Park Seyoon lagi?" sahut Taehyun dengan nada mengejek yang segera disusul suara kulit yang menampar kulit serta geraman kesal Taehyun.

"Daripada memikirkanku, lebih baik kau pikirkan bagaimana cara menggoda sang pangeran, Namtae."

Balasan sarkastis Dahye membuat Seunghoon berhenti melangkah di tengah tangga ketika menyadari gadis itu menyebut kata 'Pangeran.'

Pangeran?

Apa itu artinya Pesta Dansa Tahunan?

Mata sipit Seunghoon memandang tajam pada selembar kertas kaku yang terlihat cantik di tangan Nyonya Nam sebelum bibirnya terbuka untuk bertanya, "Apa itu undangan pesta dansa tahunan?"

Bisa Seunghoon lihat wajah ketiga kerabat tirinya itu berubah menjadi merendahkan ketika ia selesai bertanya.

Oh, mungkin jawabannya memang ya.

Pesta Dansa Tahunan berarti Kerajaan.

Kerajaan berarti bahwa Kang Seungyoon pasti ada di sana.

"Well, aku boleh ikut?"

Sebagai salah satu keluarga terpandang dalam desa yang bernaung dibawah kerajaan ini, Seunghoon sejak kecil selalu teringat bahwa setiap malam ke tujuh pada musim panas selalu diadakan pesta dansa di ballroom kerajaan sebagai simbol perdamaian dengan syarat bahwa peserta pestanya ialah orang yang sudah cukup umur. Dan kebetulan sekali Januari lalu usia Seunghoon sudah cukup untuk mengikuti pesta itu.

"Untuk apa? Kau tertarik untuk meminang Pangeran Jinwoo?" tanya Nyonya Nam dengan nada datar tanpa menjawab pertanyaan yang membuat Seunghoon mengernyit.

Meminang katanya?

Pfft, usianya baru saja legal dan katakan tidak pada nikah muda.

Lalu siapa juga itu Pangeran Jinwoo?

Seingat Seunghoon, nama pewaris tahta selanjutnya ialah Choi Seunghyun yang berdasar gosip yang ada telah menjalin affair dengan pewaris tunggal kekayaan Saudagar Kwon.

"Kalian gila, ya? Aku hanya ingin menemui temanku, bukannya Jino atau siapalah itu." sergah Seunghoon sambil terus menatap undangan yang mungkin sebenarnya juga ditujukan padanya.

Seolah sadar akan hal itu, Taehyun meraih undangan itu dari tangan ibunya dan mengibaskannya tepat di muka Seunghoon dan Lee Hee sebelum bibirnya menyeringai menyebalkan.

"Kau mau ikut? Bersihkan kandang kuda serta seluruh taman dahulu, Lee. Dan jangan lupa bersihkan cerobong asap, pembantu." kata Taehyun dengan nada mengejek. Ah, rasanya Seunghoon ingin sekali menimpuk wajah dengan alis aneh macam itu.

"Cerobong asap katamu? Itu bukan tugasku sebagai tukang kebun, Nam." balas Seunghoon mulus yang disambut gelengan dari Nyonya Nam yang berdiri dengan anggunnya disamping Dahye.

Argh, mau apa wanita ini?

"Taehyun benar, Seunghoon. Tugas itu sekarang menjadi tugasmu. Jadi selesaikan semua itu dalam sehari. Apabila cerobong asap dan perapian masih berjelaga, aku pastikan kau akan bermalam di gudang bawah tanah."

Fuck fuck fuck.

Tidak terima kasih. Seunghoon sudah pernah meraskan bagaimana menyebalkannya terkurung disana selama seminggu lebih ketika ia mematahkan tangan Taehyun.

Penuh laba-laba, tikus, bahkan bau-bau yang tidak pantas bagi hidung classynya.

"Baiklah, baiklah. Dasar cerewet." gerutu Seunghoon lalu kembali melangkah masih dengan Lee Hee di gendongannya dan Haute mengekorinya.

Che, ingatkan Seunghoon untuk mengunci ruang bawah tanah dan membuang kuncinya di sungai belakang rumah agar tidak ada lagi ancaman bodoh yang bisa menundukannya itu.

.

.

.

Di sore hari, Seunghoon bisa dengar bagaimana hebohnya Dahye dan Nyonya Nam berdandan untuk pesta dansa sementara ia masih terus menggosok jelaga yang terlalu banyak menempel pada cerobong asap di depannya.

Terkutuklah Tukang Pembersih yang tidak pernah tuntas mengerjakan ini sehingga seorang Tuan Muda turun kasta macam Seunghoon harus membersihkannya.

"Mungkin disaat Dahye noona memakai bedak demi mempercantik wajahnya, aku menggunakan jelaga sebagai gantinya." monolog Seunghoon hampa mengingat betapa inginnya ia bertemu dengan mantan pacarnya yang sekarang sudah berubah status menjadi sahabatnya.

Ini semua bukan karena Seunghoon ingin menikung hubungan Seungyoon dengan pemuda hitam bodoh yang sangat suka mengikuti Seungyoon itu. Tapi karena Seunghoon ingin bertukar sapa dengan Seungyoon setelah sekian lama ia jarang berinteraksi dengan orang luar (Salahkan Nyonya Nam yang tidak pernah membiarkannya melangkah keluar gerbang dan membebaninya dengan tugas-tugas melelahkan) dan Seungyoon adalah salah satu orang yang paling memahaminya.

Atau mungkin kalau Seunghoon beruntung ia bisa bertemu Ayeon juga disaat ia mengobrol dengan Seungyoon. For your information, Ayeon itu first crush-nya Seunghoon dan barangkali ketika melihat gadis itu setelah sekian lama cintanya bangkit kembali.

Ha-ha.

"Hei pembantu, bersihkan hingga semua jelaga itu hilang. Mungkin itu bisa membuatmu menjadi Cinderella dadakan." ledek Taehyun yang mendadak muncul bersama Nyonya Nam dan Dahye yang telah berdandan dengan gaun biru senada.

Seunghoon hanya dapat memicingkan mata kesal pada Taehyun mengingat betapa kinclongnya pemuda alis aneh itu sementara ia sendiri dengan jelaga menodai sekujur tubuhnya.

"Fuck, pergi sana, bodoh! Atau kau mau kubedaki dengan bedak inovasi baru ini?" decih Seunghoon sembari menggengam segenggam jelaga yang tersisa dan berancang-ancang untuk melemparnya pada Taehyun yang hanya tersenyum licik seolah tahu bahwa ancaman Seunghoon yang ini hanya omong kosong, mengingat ancaman Nyonya Nam soal gudang bawah tanah masih membayangi pemuda sipit itu.

"Nice day, Seunghoonie, kami pergi dulu~" kata Dahye dengan nada sok manis yang memuakkan sebelum pergi bersama ibunya dan adiknya keluar dari ruang tengah yang dibalas oleh umpatan sengit Seunghoon.

Fuck off all.

Aku tidak mau tahu, begitu aku selesai membersihkan ini aku akan kabur kesana.

.

.

.

Jinwoo menatap pantulan samar wajahnya pada gelas anggur yang ia genggam sembari dengan lamat-lamat mendengarkan pembicaraan Seunghyun dengan Ayahnya yang tak berujung sedari tadi.

"Untuk apa Appa menebar gosip bahwa Jinwoo butuh tunangan dengan segera?" seru Seunghyun yang berdiri di hadapan Raja Choi yang hanya menatap datar pewarisnya itu.

Jinwoo, yang terduduk manis di sofa tak jauh dari mereka, merapikan jas yang melekat di tubuhnya sambil menyesap minumannya ketika Raja Choi melirik ke arahnya sambil tersenyum pada Seunghyun.

Oh, ya ampun, jangan bilang perebatan ini masih terus berlanjut.

Pesta Dansa Tahunan dimulai setengah jam lagi dan Jinwoo harus terjebak bersama Seunghyun dan Raja Choi di ruang duduk hanya untuk mendengarkan perdebatan dengan topik yang terus berganti ini.

Jinwoo lelah.

"Kau bilang kau akan menikah jika Jinwoo sudah mempunyai tunangan, maka dari itu Appa memutuskan untuk menebarkan gosip itu."

"UHUK!"

Jinwoo tersedak lalu menatap dua pria lebih tua yang berada di hadapannya itu sambil melemparkan tatapan protes lewat mata rusanya. Umurnya baru 19 tahun dan Jinwoo belum siap membina rumah tangga, baik dengan pria maupun wanita.

"Lihat! Jinwoo saja tidak setuju!" tuding Seunghyun yang menolak dengan tegas acara jodoh-jodohan Jinwoo yang berkedok Pesta Dansa Tahunan ini.

"Tapi aku hanya terbatuk, hyung." cicit Jinwoo lirih.

"Tapi kau tidak mau 'kan?"

Jinwoo menggelenh dan oh! Jangan lupakan juga pipi Jinwoo yang sedikit merona.

Well, mungkin Jinwoo sedang membayangkan bagaimana jadinya bila ia berdiri di altar bersama orang pilihannya dalam beberapa tahun kedepan.

Khehe.

Seunghyun menyeringai penuh kemenangan pada Raja Choi ketika adik angkatnya yang juga merupakan sepupunya itu memberikan jawaban dengan gelengan.

Haha, Jinwoo belum sepatutnya dihadapkan dengan urusan nikah-menikah. Setidaknya itu yang kini ada dalam pikiran sang pangeran mahkota itu.

"Kalau begitu segera nikahi Kwon Jiyong, nak. Appa tahu tujuanmu memberikan syarat itu agar Jinwoo terjaga, tapi pikirkan masa depanmu."

Diam sejenak.

"Kalau saja Jinwoo belum menemukan orang yang cocok, apa kau ingin terus menggantung Jiyong?"

.

.

.

Jam besar di ruang tengah berdentang sebanyak sebelas kali ketika Seunghoon menyelesaikan acara bersih-bersihnya. Mata sipitnya diam-diam melirik sebuah undangan cantik yang diletakkan pada coffee table di depan perapian.

Tangan panjangnya meraih kertas tebal itu dan menyerap sederetan informasi yang tertulis disana.

Start at 9 PM.

Place: Ballroom

Dress code: Formal clothing

Damn, demi segala koleksi pokemonnya. Sekarang sudah jam 11 dan mungkin saja sudah terlambat baginya untuk datang ke Pesta Dansa Tahunan.

Tapi Seunghoon tak mau tahu, ia harus datang.

Demi Seungyoon.

"Ah, sialnya. Semua jasku sudah dimasukkan ke gudang oleh wanita mengerikan itu." Gerutuan Seunghoon keluar dengan mulus tanpa peduli bahwa Nyonya Nam yang penuh ancaman itu tidak dipanggilnya dengan sopan.

Mumpung tidak ada orangnya, hehe.

Otak Seunghoon berputar, satu tangannya ia tumpukan pada coffee table sementara tangan yang lainnya menggengam erat undangan Pesta Dansa itu.

Apa aku harus nekat menggunakan pakaian sehari-hariku?

Tidak! Tidak! Bisa-bisa para pengawal langsung mengusirku saat itu juga.

Seunghoon menghela nafas kesal. Dipelototinya undangan itu dengan keras walau sebenarnya tak akan ada efek yang terjadi dari perilakunya itu.

Hidupku sudah seperti Cinderella, apa aku harus berharap bahwa ibu peri datang membantuku? Wah, kalau begitu aku harus menyiapkan segala rayuan agar ia terperdaya.

Pemikiran kurang waras Seunghoon yang seperti bocah kembali menguasai otaknya ketika sedetik kemudian sebuah tombol lampu dinyalakan dalam otaknya.

TRING!

Bibir Seunghoon menyeringai setan, dipandangi dirinya sendiri lewat pantulan kaca setengah badan yang tergantung di dinding seberangnya. Menampakkan sesosok pemuda berlumur jelaga dengan rambut hitam yang mencuat namun masih terlihat tampan.

"Khehehehe, ide yang sangat bagus, otakku sayang."

.

.

.

Bunyi piano mengalun dengan merdunya bersamaan dengan waltz lembut ala pesta dansa yang menemuhi ballroom Kerajaan, membuat banyak dari peserta pesta larut dalam dansa waltz yang lembut bersama pasangannya.

Terkecuali Pangeran Jinwoo yang malah memasang wajah mual di tengah keramian yang ada.

Jinwoo terus-menerus menatap lantai marmer tempatnya melangkah, menghindari segala tatapan memuja dari berbagai kalangan ketika ia berjalan dengan langkah setengah diseret melewati kerumunan orang yang tengah berdansa.

Jinwoo bukannya tidak peka akan keadaan, ia hanya terlalu dungu dan gugup menghadapi betapa banyaknya orang yang senantiasa menyapanya atau bahkan flirting padanya.

Hell, sejak kecil Jinwoo hidup bahagia sebagai anak manusia yang pendiam dan introvert. Mana bisa dirinya ini menerima perhatian lebih yang memuakkan ini hanya karena semua orang tahu fakta bahwa Raja Choi mencari tunangan untuk Jinwoo.

Sudah cukup dengan semuanya.

Terlalu banyak manusia tidak tulus yang terus menerus menggodanya.

Mawar disana, melati disini. Pangeranku Kim Jinwoo, berdansalah dengan diriku ini.

Jinwoo hanya sanggup meringis gugup walau sesungguhnya ia ingin muntah akan pantun ngawur dari seorang pria berkumis tak dikenal yang mencegatnya sambil mengulurkan sebuket bunga mawar merah yang ganjilnya berbau seperti parfum Seunghyun. Heol, hati Jinwoo bahkan tidak tergerak sedikit pun akan kata-katanya.

Sudikah Yang Mulia berdansa dengan diriku yang secantik Aphrodite ini?

Jinwoo nyaris saja tertarik pada gadis dengan gaun soft pink itu kalau saja ia tidak mendengar rayuannya yang malah didominasi oleh narsisme yang kental. Ditambah kedipan matanya yang dihiasi bulu mata badai. Heol, kenapa tidak ada orang normal yang berusaha mendekati Jinwoo, sih?

Atau akan lebih baik lagi jika tidak usah ada yang berusaha berakrab-akrab padanya (Salahkan seorang kakek-kakek aneh yang berkata dengan lancarnya bahwa ia ingin menjadikan Jinwoo sebagai selirnya. BIG NO!)

Kaki Jinwoo yang melangkah menjauhi area dansa utama tanpa sadar membawanya menuju sisi pintu masuk yang cukup sepi. Mungkin semua tamu sudah datang, dengan setengah melamun, pangeran kita ini dengan melengnya menabrak sebuah punggung dengan cerobohnya.

BRUK!

Jinwoo oleng, dan dengan tidak elitnya terjatuh dengan posisi terduduk dan pantat yang menghantam karpet merah.

"O-oh! Maafkan aku!"

Objek yang ditabrak Jinwoo berbicara dengan cepat sembari memegang bahu Jinwoo untuk segera menariknya berdiri tegak padahal Jinwoo berharap bahwa orang itu akan mengulurkan tangannya ala drama-drama sambil bertanya 'Kau tidak apa-apa?' (Ucapkan terima kasih pada Pustakawan Kerajaan Sandara Park yang meracuni Jinwoo dengan drama cheesy favoritnya.)

"Tidak apa-ap-"

Jinwoo berhenti berbicara ketika mata rusanya menangkap bagaimana rupa orang yang ditabraknya tersebut.

Mata sipit.

Kulit putih.

Bibir tipis yang sedang membentuk cengiran tanpa dosa.

Lehernya yang jenjang.

Astaga! Akhirnya aku menemukan tamu yang tampan walau tidak setampan Mino!

Inner Jinwoo memekik keras bersamaan dengan pipinya yang merona melihat wajah pemuda di depannya ini. Ekspresinya berubah menjadi pricleess dan matanya pun tak hentinya memandang balik mata pemuda yang kini menatapnya.

"Halo, kau baik-baik saja?"

"Y-ya, aku baik-baik saja!" Jinwoo menjawab dengan terlalu cepat dan dengan suara yang setengah memekik, membuat pemuda di depannya berjengit akibat kaget.

"Ma-maaf."

Mendengar gumaman menyesal Jinwoo, pemuda itu hanya terus nyengir kuda lalu menepuk pundak Jinwoo yang masih ia pegang, "Dari pada kau terus meminta maaf padaku, lebih baik kau antarkan aku pada Kang Seungyoon!"

Jinwoo berhenti bergugup-gugup ria dan mengernyit tak paham.

Uh, Seungyoon?

Apa hubungan pemuda ini dengan Seungyoon?

.

.

.

Seunghoon mengekori pemuda berpakaian amat sangat bagus dan berwajah attractive yang sedari tadi dengan canggungnya berbicara pada Seunghoon. Bahkan Seunghoon juga berkali-kali menangkap basah pemuda itu melirik ke arahnya diikuti rona merah pekat di pipinya.

Wow, ternyata ada juga yang menyadari ketampananku.

Inner sarat narsisme Seunghoon bergejolak sambil terus menatapi pemuda tak dikenal yang membantunya itu.

Dia lumayan juga kalau Seunghoon boleh bilang. Masuk dalam kriteria 'tipe-tipe Lee Seunghoon.'

Pertama, lebih pendek dari Seunghoon.

Bisa dilihat pemuda itu memiliki tinggi yang bahkan tidak mencapai mata Seunghoon.

Kedua, wajahnya cantik.

Lupakan fakta bahwa orang ini ialah seorang pria dan bagi Seunghoon wajahnya itu sangat feminim.

Ketiga, memiliki sesuatu yang 'wow.'

Wow disini adalah entah bagaimana pemuda itu berjalan diikuti oleh tatapan hormat yang diberikan orang disekitarnya.

Mata Seunghoon mengedar ke sekelilingnya dan mengernyit ketika menyadari bahwa ia berada dalam area dansa paling utama yang dipenuhi oleh berbagai orang yang terlihat penting.

Apa disini ada Seungyoon?

Seunghoon menjawil pundak si pemuda attractive tersebut lalu bertanta ketika si pemuda menengok ke arahnya, "Dimana Seung-"

"LEE SEUNGHOON! SEDANG APA KAU DISINI?!"

Seunghoon refleks melotot ketika suara Taehyun terdengar menyapa telinganya. Terlebih ketika ia melihat pemuda pirang alis aneh itu menahan amarah dibelakang pemuda attractive yang mengantarnya kemari.

Gawat.

Gawat sekali kenapa ia harus bertemu dengan Taehyun. Jangan bilang kalau Nyonya Nam atau Dahye juga ada di dekat sini.

Huek, Seunghoon malas sekali bertemu mereka.

"DAN APA ITU JASKU?! BERANINYA KAU MENCURINYA!" pekik Taehyun marah ketika memandang pakaian yang kini melekat di tubuh Seunghoon. Seunghoon hanya meringis tak peduli, teringat akan lemari pakaian di kamar Taehyun yang terbuka lebar dengan segala pakaian keluar dan terserak asal di lantai.

Huh, ada untungnya juga punya saudara tiri macam Nam alis yang kebetulan punya tinggi badan yang hampir sama dengannya.

"Aku bukan mencurinya, dude. Aku hanya pinjam."

Seunghoon terus nyengir bodoh sembari mengamati bagaimana wajah Taehyun yang kini memerah akibat menahan marah.

Astaga, gawat juga kalau tiba-tiba dia menghajarku disini disaat aku kelelahan setelah membersihkan perapian, bisa-bisa aku gagal meng-impress si rusa ini.

Seunghoon membatin sambil melirik si rusa-atau si pemuda attractive yang sejak beberapa detik yang lalu sudah menjadi target pacar Lee Seunghoon. Si rusa itu terlihat kebingungan ditengah Taehyun dan Seunghoon yang saling melotot, matanya mengerjap saat memandang Seunghoon dan juga melemparkan pertanyaan 'ada apa, sih?' lewat tatapannya.

Seunghoon mendekat pada si pemuda rusa lalu merendahkan tubuhnya untuk berbisik dengan suara rendah di telinganya.

"Sepertinya kita harus kabur dahulu."

GREP!

Lalu sedetik kemudian, tepat sebelum Taehyun mengeluarkan sumpah serapahnya, Seunghoon menarik tangan Jinwoo dan membawanya pergi menuju pintu masuk dengan menerobos manusia-manusia yang berhenti berdansa sesaat untuk melihat drama Seunghoon dan Taehyun.

"YAA! LEE SEUNGHOON! JANGAN KABUR KAU!"

.

.

.

Jinwoo tidak tahu apa yang terjadi.

Soal kenapa pemuda pirang unik yang tadi mengajaknya berdansa, yang namanya Nam Taeyoon atau siapalah Jinwoo tidak bisa mengingatnya secara benar, sepertinya bermusuhan dengan si sipit tampan yang ternyata bernama Seunghoon ini.

"Emm... Seunghoon-ssi, kau bilang kau mau bertemu dengan Seungyoon, tapi kenapa kau malah menarikku pergi?"

"Kita harus kabur dari Nam alis itu atau aku akan dihajar olehnya!"

Seunghoon menyeru pada Jinwoo sambil mengeratkan pegangannya pada tangan Jinwoo dan terus menerobos orang-orang yang berdansa dengan latar musik waltz yang tidak cocok untuk acara kabur macam begini.

Namun diam-diam, Jinwoo tersenyum sambil memandangi tangannya yang digenggam erat oleh tangan Seunghoon. Bersamaan dengan rona merah di pipinya yang terlihat seperti gadis desa yang bahagia.

Hangat.

Jinwoo terus tersenyum bahagia tanpa peduli Seunghoon menariknya kemana.

Tanpa menyadari juga bahwa ia telah mengalami love at the first sight pada pesta dansa keduanya ini.

.

.

.

Jam besar yang menghiasi bangunan megah kastil ini berdentang dua belas kali.

Seunghoon berhenti di tengah tangga depan pintu masuk dan langsung melepaskan tangan pemuda rusa yang sedari tadi ia genggam walau sebenarnya ia senang-senang saja mengenggam tangannya.

"Sial! Aku belum mengunci pagar belakang!" umpat Seunghoon teringat kebiasaannya sehari-hari, yaitu menggembok pagar depan setiap pukul 12 malam atas perintah Nyonya Nam.

"Kau akan pergi?"

Si Pemuda rusa berkata lirih lalu memandang Seunghoon dengan mata rusa sedih yang sangat imut. Membuat Lee Seunghoon hanya sanggup terdiam akan keimutan gebetan barunya yang baru saja ia temui satu jam yang lalu.

Seunghoon meringis lalu mengusap belakang kepalanya gugup sembari mengangguk samar.

Jujur saja Seunghoon tidak ingin pergi, tapi bagaimana jadinya kalau pagar belakang belum dikunci dan pencuri memasuki rumahnya lalu mengambil semua hartanya?

Katai Seunghoon ini manusia sayang harta, tapi kali ini Seunghoon memang harus mengedepankan harta daripada cinta.

"Maafkan aku, mungkin lain kali aku akan mencarimu untuk membawaku pada Seungyoon." kata Seunghoon setengah bercanda, walau ia tahu kesempatannya untuk keluar rumah setelah ini bisa dibilang nyaris nol karena Taehyun pasti akan melapor yang tidak-tidak pada Nyonya Nam.

GREP!

Si pemuda rusa menggeleng lalu langsung memeluk Seunghoon erat-erat dan menyembunyikan wajahnya pada Seunghoon tanpa peduli Seunghoon yang terbata gugup.

"H-hey..."

"Berjanjilah kau akan menemuiku lagi. Tolonglah Seunghoon-ssi."

Seunghoon selanjutnya mengangguk samar sebelum menatap lagi si pemuda rusa dipelukannya yang kini mengadah padanya sambil tersenyum dengan pipi memerah yang lucu.

"Aku Kim Jinwoo, Seunghoon-ssi. Kuharap kedepannya aku bisa lebih mengenalmu."

Mungkin ini hanya perasaan Seunghoon, tapi ia tak tahu kenapa berpikir bahwa kedepannya, Kim Jinwoo tidak akan menjadi seseorang yang asing dalam hidupnya.

.

.

.

Seperti yang Seunghoon tebak, keesokannya Nyonya Nam marah besar dan nyaris menyuruh Seunghoon masuk ke gudang bawah tanah kalau saja salah seorang pelayan menginterupsi dengan berkata bahwa ada seorang tamu penting yang datang.

"Siapa yang datang sepagi ini?" keluh Nyonya Nam yang masih melotot pada Seunghoon. Mengingat bahwa sekarang ialah saat-saat sarapan pagi yang berharga.

"Pangeran Choi Seunghyun beserta Pangeran Kim Jinwoo. Mereka berkata bahwa mereka mencari Seunghoon."

Pangeran?!

"UHUK!"

Seketika Seunghoon yang sedang meneguk air putihnya tersedak hingga menyembur pada sandwich sarapannya. Seketika pandangan horor dari Dahye dan Nyonya Nam tertuju padanya sementara Taehyun memandangnya dengan tatapan benci yang teramat sangat. Bahkan Seunghoon bisa dengar gerutuan kesal namun lirih milik Taehyun tentang 'Sudah kuduga Seunghoon telah menggaet Pangeran Jinwoo.'

"Hey! Sejak kapan ada yang namanya pangeran bernama Jin-" Seunghoon berhenti berbicara ketika ia teringat pembicaraannya dengan Nyonya Nam, Dahye, dan Taehyun kemarin.

Untuk apa? Kau tertarik untuk meminang Pangeran Jinwoo?

Omona.

Demi pokemon trainer paling pro di dunia.

Pemuda rusa lucu a.k.a gebetan Seunghoon a.k.a Kim Jinwoo itu seorang pangeran?

Semua ini sungguh terlalu drama.

"Lalu apa yang dikatakan mereka lagi?" tanya Nyonya Nam masih dengan wajah ala ibu tiri gagal mendapat menantu sambil melirik judes pada pelayan pembawa berita yang tak bersalah.

"Mereka tidak banyak berkata-kata dan meminta bahwa segera memanggilkan Seunghoon dan, ah! Seseorang yang datang bersama mereka dan memperkenalkan diri dengan nama Song Minho juga mencari Seunghoon." ujar si pelayan menambahkan.

Seketika hati Seunghoon yang berbunga-bunga terhenti dan umpatan mulai keluar dari bibirnya.

Fuck, jangan bilang kalau Mino curiga akan dirinya yang akan menikung hubungannya dengan Seungyoon lagi. Mengingat dua tahun yang lalu Seunghoon benar-benar serius untuk menghancurkan hubungan mantan pacarnya dengan pemuda Song tersebut.

"Ehm, ya, aku akan menemui mereka." deham Seunghoon lalu melangkah menuju ruang tamu tanpa peduli gerutuan Taehyun atau desisan Dahye.

Kalau jalan hidupku mirip dengan story line Cinderella, aku harap akhir kehidupanku juga sama sepertinya.


END


EPILOG


"Seunghoon! Aku senang kau memenuhi janji!" Ini si pemuda rusa yang ternyata pangeran atau Kim Jinwoo.

Seunghoon hanya sanggup speechless dan tersenyum ditengah pelototan pengawal disekitar Jinwoo.

"Lupakan Seungyoon dan bahagialah dengan Jinwoo hyung, dasar sipit bodoh." Yang ini Song bodoh pacar Seungyoon.

Rasanya Seunghoon ingin menghajar Mino kalau tidak ingat bahwa pemuda itu anak dari Menteri Song.

"Kau, segera lamar Jinwoo agar aku bisa menikah dengan Jiyong." Terakhir, Seunghyun.

Dan reaksi dari Seunghoon tidak jauh dari pekikan kaget serta pemikiran tentang tidak siapnya dirinya untuk nikah muda.

Setelah kemalangan bertubi beberapa tahun belakangan, bagaimana bisa hidup Seunghoon begitu berubah hanya dalam satu malam?


A/N:

FIRST! Maafkan aku kalau ada yang baca Limit, jalan cerita lagi stuck :( tapi pasti bakal aku update kok :D kapannya tergantung kalau real life tidak amburadul :(((

SECOND! Ultah maetamong sudah berlalu dan akibat real life yang sangat sibuk jadilah fanficnya baru jadi.

THIRD! Buat yang ultah KSY lagi otw dibuat hehe :))) btw aku bikin fanfic yang itu sambil kebayang birthday cake pink noraknya KSY sama video yang ada di instagramnya song minho :)))

oke oke makasih udah baca yang yundong yaaa :D yang ini drama nan abal aku tau wkwk xD tapi apalah jadinya :))) makasih banget untuk yang udah baca yang ini, review yaaa :D

oiya Inner Circle, who's excited about Baby Baby after Lee Hi, Taeyang, Zion.T and Dean cover it? ARRRGH! I think that Baby Baby is damn awesome like Pricked :))) /saranghasssh/ and their concept is so unique :D Let's patiently wait until February and our WINNER will be comeback :)))

love from excited Inner Circle,

dumb-baby-lion