COLLECTION

| winner fanfiction | minyoon/ songkang | mino/seungyoon |

| WINNER © YG ENTERTAINMENT |

| COLLECTION © dumpling-lion |

| rated T | boys love |

| oneshoot |


don't like don't read

any same idea, it's just acidentally same

and remember, it's just a FICTION

warning. out of character and typos take a big part of my writing world


chapter three:

(January the 21st + March 30th) WINNER's Seungyoon & MINO

'Between The Heir and The Thief'


Seungyoon tidak suka dengan takdirnya menjadi rakyat jelata.

Bukannya Seungyoon itu arogan atau tidak mensyukuri apa yang ada, ia hanyalah berkata jujur dan tidak ingin menjadi hipokrit.

Siapa sih yang suka menjadi rakyat jelata?

Yang miskin dan hidup serba tidak berkecukupan. Yang setiap hari mengais rezeki lewat kerja keras yang hasilnya tak seberapa. Yang hidup di wilayah kumuh pinggir kerajaan dan tidak punya prospek untuk hidup layak ke depannya.

Seungyoon amat benci dan sialnya ia malah mendapatkan takdir mengesalkan itu.

Apa yang ia inginkan adalah bahagia, seperti anak Bangsawan Kim, Jinwoo, yang sering melewati jalanan berbatu dekat kawasan kumuh tempatnya tinggal dengan kereka kudanya yang berkuda putih cantik.

Seungyoon sering mengantarkan bunga ke Manor Kim Jinwoo dan hanya kekagumanlah yang ia ucapkan ketika menyusuri halaman depan dan belakang Manor indah tersebut (kecuali kalau ia mengabaikan kucing Sphynx milik pemuda bermata besar itu yang mencakar Seungyoon si tak bersalah.)

Terkadang Seungyoon melamun dan berharap akan ada meteor besar menghantam hutan di dekat rumahnya yang memunculkan satu peti besar koin emas lalu dalam seketika membuatnya kaya raya.

Namun rasanya tidak mungkin.

Amat-sangat-tidak mungkin.

Seungyoon adalah seorang yatim piatu, ayahnya kabur dari rumah sejak kecil dan ibunya telah meninggal tiga tahun yang lalu, tepat ketika Seungyoon menginjak usia 20 tahun. Ibunya pun tidak meninggalkan warisan yang berarti kecuali rumah tinggalnya kini dan furnitur seadanya.

Tentu akibat keadaannya yang seperti ini, sebatang kara dan miskin, Seungyoon ingin kaya raya bagaimana pun caranya.

.

.

.

"Kau sudah bertaubat?"

Seungyoon melirik Kibum yang tengah mengelap gelas-gelas kusam di bawah cahaya temaram bar pinggir kota yang menyakitkan mata.

Diteguknya dua teguk cocktail yang ia beli dengan uang hasil kemenangannya bermain billiard lalu menggeleng pelan ketika segelombang sakit kepala menderanya.

"Tidak, besok aku akan menyambangi Manor Jung dan mengambil paling tidak dua atau tiga barang antiknya."

Bagi Seungyoon, mencuri adalah salah satu cara agar kekayaannya bisa naik dalam sekejap. Maka dari itu dua atau tiga kali dalam dua minggu sekali, Seungyoon akan pergi ke wilayah kota dan mencuri beberapa barang antik lalu menjualnya di pasar gelap di dekat rumahnya.

Huh, salahkan saja pergaulan Seungyoon cilik yang setiap harinya bermain di pasar gelap ketika ibunya tengah sibuk bekerja, sehingga ia dapat belajar teknik-teknik mencuri yang mumpuni.

"Manor Jung? Tumben sekali," kekeh Kibum sembari menuang vodka murahan ke gelas kecil di hadapannya.

Tak banyak yang bisa diharapkan dari bar pinggiran yang selalu sesak akan pengunjung berkantong tipis, kecuali kalau kau mau membayar mahal demi alkohol yang lebih berkelas.

Seungyoon berdendang lirih.

"Apa tidak terlalu dekat dengaan wilayah kerajaan? Aku tidak mau menyelamatkanmu lagi kalau Prajurit Kerajaan menangkapmu dan mengancam hukuman gantung untukmu."

"Jangan mengingatkanku pada hal itu, hyung."

Kibum tersenyum seperti kucing dan Seungyoon memutar mata bosan. Perkataan Kibum tentu merujuk pada kejadian beberapa waktu yang lalu dimana Seungyoon nyaris menjadi bulanan para prajurit pinggir kota dengan pistol mereka ketika ia mencuri patung kucing emas di Manor Jeon, dan itu adalah satu dari sekian kejadian ketahuannya Seungyoon yang membuat Kibum harus menyelamatkannya.

"Tapi kau sayang padaku, hyung. Kau pasti mau menyelamatkanku." dendang Seungyoon yang samar-samar terdengar diantara dentuman musik murahan yang memekakkan.

Kibum hanya menjulurkan lidah kesal dan ganti memutar matanya kesal, "Huh, aku masih sayang Jinki."

"Dan Jinki tidak sayang padamu."

Seungyoon tersenyum lebar dan makin menggoda pemuda bermata kucing tersebut ketika Kibum mulai mengumpatinya dengan segala umpatan yang tak baik untuk disebutkan.

.

.

.

Kucing tetangga mengeong keras, tak lupa juga anjing yang mulai bertengkar dan kokokan ayam yang ribut.

Seungyoon membuka mata perlahan dan menyipit kesal sambil mengumpati alarm alami sehari-harinya itu.

Bangun dari tidur dengan keadaan pusing itu cukup mengesalkan, maka dari itu Seungyoon harus menegak beberapa pil aspirin yang selalu siap sedia sebelum dengan malasnya menggosok gigi dan mengganti piyama pokemon buluknya dengan pakaian yang lebih beradab.

Sembari bersiul-siul riang pemuda Kang itu mengayuh sepeda tuanya (yang ngomong-ngomong berwarna pink mencolok dengan keranjang di depan) membawa satu kardus susu sapi segar menyusuri jalanan berbatu.

Jujur saja, Seungyoon itu bermuka dua.

Di pagi hari Seungyoon mengantarkan susu atau koran pagi ke wilayah para bangsawan, siangnya ia bekerja mengantar bunga di toko bunga di perbatasan wilayah bangsawan dan pinggiran. Tetapi pada malam harinya ia memakai pakaian gelap dan mengendap masuk mengambil barang.

Amat bertentangan bukan?

"Hei Seungyoonie! Ayo mampir sebentar kemari!"

Seungyoon mengerem sepedanya ketika suara Jinwoo terdengar. Pemuda itu lalu melirik keranjangnya yang sudah kosong sebelum berbalik dan mengayuh sepedanya menuju pemuda yang tengah melambai di depan gerbang rumah megahnya.

"Halo hyung, apa yang bisa kubantu?" tanya Seungyoon dengan senyum merekah.

"Ah, rambutmu bagus," tambah Seungyoon sembari melirik rambut pastel Jinwoo yang mencolok di antara gerbang batu andesit yang gelap dan berdiri sambil masih memegang sepedanya.

Jinwoo balas tersenyum senang tanpa ada maksud kesombongan, yang membuat Seungyoon berpikir andaikan semua orang sebaik Kim Jinwoo ini.

"Nanti sore apa kau bisa mengantarkan bunga untuk pesta kebun di rumahku? Aku benar-benar minta maaf karena permintaan ini terlalu mendadak," kata Jinwoo dengan tatapan anak rusa khasnya.

"Tentu bisa. Ah, apa pesta kebunmu itu hingga malam hari, hyung?"

Selesailah di malam hari dan undang Tuan Jung agar aku bisa masuk ke sana dengan bebas!

Jinwoo terkekeh, "Tentu saja iya, pesta kebunku akan dilanjutkan dengan dinner di Manor. Terima kasih, ya, Seungyoonie, aku benar-benar terbantu ber-"

"HEY JINWOO!"

Seungyoon menengok ke belakang ketika seseorang memanggil Jinwoo, matanya seketika menyipit ketika melihat dua orang yang berjalan sembari melambai pada Jinwoo.

"Sepertinya kau akan ada tamu, hyung. Aku pergi dulu kalau begitu," ujar Seungyoon riang sembari kembali melirik ke arah dua manusia yang mendekat pada Jinwoo.

Sial, ada Lee Seunghoon.

"Hati-hati di jalan dan jangan lupa, ya!"

Seungyoon mengayuh sepedanya tanpa mendengar dengan jelas perkataan Jinwoo, karena ia tak mau berurusan dengan banyak bangsawan lainnya walau mungkin mereka sebaik Jinwoo.

Atau bahkan mungkin mereka lebih buruk.

.

.

.

"Itu Seungyoon 'kan?"

"Kenapa memangnya?" tanya Jinwoo balik sembari memandang Mino yang terus menatap sosok Seungyoon dengan sepedanya yang semakin kecil di ujung jalan sana.

Mino hanya meringis dan Seunghoon memutar mata malas lalu berkata, "Abaikan saja bocah bodoh ini."

Jinwoo mengerjapkan mata dengan tatapan kebingungan pada dua pemuda dengan jubah abu-abu di tubuh mereka tersebut.

"Ada apa dengan Seungyoonie, Mino-ya?" tanya Jinwoo mengabaikan Seunghoon yang bergumam 'mau-maunya kau menanggapi bocah playboy kelas ikan tuna ini.'

Mino kembali memamerkan gigi putih rapihnya sebelum menggumamkan silabel nama yang disebut Jinwoo beberapa kali sambil setengah menerawang.

Jinwoo dan Seunghoon kini mengangkat alis sambil berpandangan. Jinwoo dengan tatapan 'ada apa dengan mino?' sedangkan Seunghoon dengan tatapan 'bitch please' khasnya yang melegenda diantara para putri bangsawan.

"Mino ada apa?"

"Tidak apa, hyung, hanya saja aku tertarik dengan Seungyoon itu. Dia lumayan."

Mino berujar dengan senyum lebar dan Jinwoo memekik kaget sekaligus senang, karena ia bisa membayangkan lucunya interaksi antara Mino yang ceroboh dan seenaknya dengan Seungyoon yang terlihat kalem dan patuh.

Seunghoon? Ia hanya mendengus dan memutar mata jengah seolah lelah akan perilaku Mino yang terlalu mudah tertarik pada orang lain.

"Dia itu lumayan, walau pun aku akui kalau pantatnya tergolong rata dan tidak berisi," tambah Mino tanpa dosa, disusul dengan Jinwoo yang tersedak ludahnya sendiri dan Seunghpon yang tertawa liar.

"A-ah, ngomong-ngomong bagaimana pekerjaan kalian?" tanya Jinwoo berusaha menghilang hawa awkward akibat perkataan Mino.

"Pekerjaan kami baik, prajurit kerajaan semua baik kalau kau juga ingin tahu kabar mereka dan oh! Kau benar sekali Mino! Pantat anak pengantar susu itu terlalu rata seperti bantal kapuk yang sudah tipis," cerocos Seunghoon riang yang membuat Mino menyeringai sebelum mereka ber-high-five ria.

Jinwoo memekik lalu segera berbalik masuk ke manor-nya sambil berteriak kesal, "SEKALI LAGI KALIAN BERBICARA SOAL PANTAT TEMANKU SECARA BLAK-BLAKAN AKU TIDAK AKAN MENGAJAK KALIAN BICARA LAGI!"

Mino serta Seunghoon pun hanya tertawa makin liar, mengabaikan tatapan kebingungan sepasukan prajurit yang kebetulan melewati Manor Kim.

.

.

.

"Untuk Pesta Kebun di Manor Kim Jinwoo? Ah, sudah kusiapkan sedari tadi."

Joohyun berucap diikuti anggukan dari Seungwan yang kemudian menatap Seungyoon yang berdiri dengan canggung di depan dua bosnya yang sama-sama menyeringai.

"Aku yang mengantarkannya bukan?" tanya Seungyoon.

Senyum Joohyun melebar.

"Tentu saja! Siapa lagi memangnya?" sahutnya disusul kikikan Seungwan.

Astaga, mereka kenapa sih?

"Bisa saja kalian dan aku yang menjaga toko nanti," sahut Seungyoon dengan dahi berkerut kesal akan perilaku aneh kedua gadis didepannya itu.

"Oh! Tentu tidak! Tentu harus kau yang mengantarkan karena Kim Jinwoo yang amat sangat tampan itulah yang meminta. Ah astaga, kau akrab dengannya, ya?" kata Joohyun sembari menuding Seungyoon yang makin mengernyit.

"Tidak juga," sahut Seungyoon setengah menggumam.

"Kau punya affair dengannya 'kan?" tuding Seungwan tiba-tiba yang disusul dengan pekikan kaget dari Joohyun.

Seungyoon melotot.

Che, kenapa ini terlalu drama sih?

"What the fuck, tidak! Kenapa kau berpikiran seperti itu, Son Seungwan?!"

.

.

.

"Hei, aku Mino."

Seungyoon, yang sedetik lalu sedang melirik ke sana kemari untuk memastikan keberadaan Tuan Besar Jung diantara tamu yang mulai berdatangan, mengerjapkan mata ketika mendapati seorang pemuda berpakaian bagus dengan kulit tanned yang eksotis.

Ah, kenapa rasanya pernah lihat ya?

"Maaf, kau berbicara denganku?" tanya Seungyoon dengan nada kebingungan.

Hell, untuk apa seorang tamu Jinwoo berbicara dengannya yang notabene hanyalah seorang tamu tak diundang yang sedang menunggu Jinwoo menyelesaikan urusan pembayaran.

"Ya, siapa lagi memangnya?"

Mino tersenyum lebar dan kemudian mengangguk, "Kang Seungyoon bukan?"

Ia tahu namaku? Well, ini terlalu creepy.

Mata Seungyoon menyipit was-was sebelum ia tertawa kaku dan mengalihkan pandangan dari ketampanan manusia di depannya.

"Aku sudah mengetahuimu sejak dulu," kata Mino tenang dan seketika Seungyoon mengangkat alis dengan tatapan curiga.

Mino, yang menyadari tatapan tidak enak dari Seungyoon, kembali memamerkan gigi putih rapinya dan mengoreksi perkataannya, "Maksudku aku tahu kau karena kaulah yang mengantarkan koran pagi ayahku."

"Benarkah?" tanya Seungyoon masih dalam mode curiga. Ia curiga kalau Mino-Mino ini adalah bangsawan yang kaya raya berkat melakukan human trafficking.

"Yep, Manor Song, di utara Manor Lee, kau kesan-"

"Kau dari Manor Song?" tanya Seungyoon cepat memotong perkataan Mino dengan mata melotot kaget.

Tidak.

Jangan Manor Song.

Seungyoon masih ingat apa yang terjadi padanya setahun lalu saat akan mengambil jam ayam emas di Manor Song, yang mana merupakan salah satu pencurian terbodohnya karena ia salah mengambil jalan keluar dan malah masuk ke kamar Tuan Muda mereka yang kebetulan sedang topless di atas tempat tidur.

Seungyoon yakin, Tuan Muda aneh yang malah tidak melaporkannya pada prajurit kerajaan (mengingat fakta bahwa Seungyoon adalah salah satu pencuri yang dicari di wilayah kota,) adalah Song Mino ini.

Hingga kini masih teringat dengan jelas di otak Seungyoon bagaimana mata mereka bertemu dari sela topeng kain hitam yang ia pakai dan kernyitan aneh pemuda itu. Terlebih, yang paling Seungyoon ingat adalah abs dan wajahnya yang terlihat tampan berkat sinar purnama yang samar.

"Ya, ada sesuatu yang ingin kau katakan tentang keluargaku?" tanya Mino tenang dengan seringai miring yang terlalu tampan yang membuat Seungyoon berdebar.

"Ti-tidak, aku hanya pernah mendengar mengenai pewaris keluargamu yang menembak mati pelaku perampokan toko emas..." gumam Seungyoon mengatakan gosip murahan yang ia dengar kemarin dengan mata memandangi lantai marmer italia di Manor Jinwoo sebelum kembali melirik Mino dari sela poninya.

Tampan tapi mencurigakan.

Entah mengapa ada berbagai perasaan berkecamuk dalam diri Seungyoon. Di satu sisi ia mengakui kalau ia tertarik pada pemuda dengan kasta yang lebih tinggi tersebut sedangkan di sisi lain ia waspada akan pemuda yang terlihat licik ini.

Dilihatnya Mino tersenyum lebar lalu menepuk pundak Seungyoon beberapa kali, "Ah, itu ya? Itu adalah aku tapi jangan khawatir, kau akan baik-baik saja karena aku mencintaimu, Kang Seungyoon."

.

.

.

"Sudah datang semua hyung?" tanya Seungyoon setelah ia kabur dari creepy-nya Song Mino yang mendadak berkata bahwa ia mencintai rakyat jelata seperti Seungyoon.

Sungguh ia ingin segera kembali ke rumahnya atau pergi ke bar Kibum untuk menenangkan diri dari Mino yang terlampau aneh sebagai bangsawan yang biasanya tidak suka rakyat jelata.

"Sudah."

"Woah, benarkah? Mulai dari Tuan Heo hingga Tuan Jung?" tanya Seungyoon pura-pura terkejut untuk memastikan perihal Tuan Jung yang mendatangi pesta ini.

Haha, kalau Tuan Jung pergi, Manor Jung hanya berisi pelayan tua yang bodoh dan mudah ditipu.

"Benar, maka dari itu aku senang sekali! Ah maaf Seungyoonie, aku merepotkanmu hingga harus membuatmu menunggu hingga kini. Kau baik-baik saja 'kan?" tanya Jinwoo masih dengan senyum di wajah.

"Ahaha, tentu aku baik-baik saja," ujar Seungyoon sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Baik-baik saja kalau saja aku tidak bertemu dengan Song Mino yang creepy itu.

"Aku pergi dulu, hyung. Sepertinya kau sudah ditunggu oleh temanmu."

Seungyoon langsung berbalik dan keluar dari Manor Kim, tepat ketika Song Mino dan Lee Seunghoon yang muncul dari balik tiang terdekat sembari menyeringai miring.

Aneh, mereka terlalu aneh.

.

.

.

Kibum mendadak datang ketika malam harinya ketika Seungyoon bersiap pergi ke Manor Jung untuk melakukan pekerjaan gelapnya.

"Bukannya malam ini shift-mu?" tanya Seungyoon yang masih merapikan rambutnya yang berantakan akibat angin malam yang berhembus masuk.

Kibum mendenggung seperti lebah lalu menghela nafas.

"Aku minta tukar shift dengan Jinyoung karena aku tidak mau bertemu dengan Jinki."

"Kau tidak mau bertemu dengan Jinki? Sejak kapan?" tanya Seungyoon lagi sembari mengangkat alisnya bingung.

Kibum yang duduk di sofa buluk Seungyoon melotot kesal sebelum pura-pura sibuk dengan tumpukan pakaian kering yang belum sempat Seungyoon setrika.

"Sejak Sooyeon berkoar kalau Jinki punya tunangan yang sedang hamil," seru Kibum cepat sambil melipat tangannya di dada.

"Hahaha! Kau bodoh, hyung! Mana mungkin dokter bermoral seperti Jinki menghamili orang," bantah Seungyoon disertai tawa yang tak kunjung berhenti, "Lagipula kau tahu 'kan kalau Sooyeon itu hanyalah gadis muda yang terlalu banyak bercicit cuit."

Kibum mengabaikan perkataan itu dan malah menatap sendu Seungyoon yang kini bersiap keluar dari rumahnya setelah menyandang tas kanvasnya yang berisi peralatan yang akan mendukungnya menjadi pencuri malam-malam.

"Seungyoon, mungkin lebih baik kau berhenti terobsesi pada kekayaan dan menjalani hidupmu dengan bahagia. Aku sudah memperingatkanmu bukan?"

Seungyoon berhenti melangkah lalu bersandar di kusen pintu sembari menatap Kibum dengan tatapan dingin, "Bagaimana bisa aku bahagia kalau hidupku begini, hyung? Bahagia adalah ketika kau hidup enak karena uang, bukan bahagia karena menuruti keadaan."

"Rubahlah pola pikirmu, Kang Seungyoon," pinta Kibum yang disambut oleh death glare kesal.

"Oh diamlah, hyung. Ini hidupku dan akulah yang berhak mengaturnya," seru Seungyoon sengit. Pemuda itu kemudian segera keluar rumahnya sembari memakai topeng hitamnya, meninggalkan Kibum yang terduduk di rumahnya dengan tatapan sendu.

"Kalau saja kau ingin tahu, Kang Seungyoon, aku punya firasat buruk tentangmu. Terlebih sejak kedatangan Lee Seunghoon ke barku."

.

.

.

Seungyoon berhasil masuk ke Manor Jung tanpa halangan yang berarti dengan melewati jendela ruang belakang manor megah ini. Semua sesuai dengan tebakannya kalau Manor Jung hanya dijaga beberapa Prajurit Kerajaan dan amat sepi bila dilihat dari luar.

"Mungkin targetku malam ini memang amat sangat tepat," gumam Seungyoon ketika boots-nya menapak ke lantai lorong utama manor ini yang juga sepi.

Memang sedikit terasa aneh karena manor semegah ini terlalu sepi dan bahkan tidak ada pelayan yang berkeliaran, tapi Seungyoon mengabaikannya karena ia berpikir mungkin ia sedang beruntung.

Keberuntungan apa salahnya sih?

"Whoops! Jung Hoseok, halo," gumam Seungyoon lirih ketika ia sampai ke ruang utama dan mengenali foto keluarga Jung yang terpampang cantik di dinding, terutama wajah Jung Hoseok yang sering mondar-mandir di bar Kibum demi bocah penjual eyeliner sinting yang sering dipanggil dengan nama V.

Kembali Seungyoon mengendap-endap lalu mengedarkan pandangannya ke interior manor ini yang sungguh membuat Seungyoon iri setengah mati.

Andai rumahku begini, aku tidak perlu mengotori tanganku dengan berbuat jahat seperti ini.

Mata Seungyoon memandang ke kucing emas bermata permata yang terpajang di atas meja kaca yang cantik dan seketika senyum lebar tersungging dibalik topengnya. Kucing itu mirip dengan kucing emas di Manor Jeon, hanya saja yang ini jauh lebih mewah.

"Kena kau."

Tangan Seungyoon terulur untuk meraih patung itu dan tepat sejengkal lagi ia menyentuh benda berkilauan tersebut, sebuah logam dingin menempel di dahinya diikuti sebuah suara.

"Kang Seungyoon, berhenti bergerak dan jangan melawan, kau sudah terkepung."

DEG!

Seungyoon kenal.

Itu adalah suara berat dan dalam milik Song Mino yang telah berhasil membuat Seungyoon mati rasa dalam sekejap mata.

.

.

.

"Kau seharusnya menurutiku."

Seungyoon menatap Kibum yang berdiri diluar jeruji selnya dengan tatapan kosong.

"Semua sudah terlambat dan tidak ada gunanya lagi aku menyesali itu," balas Seungyoon sembari bersandar pada dinding batu penjara yang dingin dan apak.

"Termasuk semua luka yang kau dapatkan?" tanya Kibum balik. Seungyoon menatap tubuhnya sendiri lalu terkekeh pelan. Kedua tangannya kini diperban dan kaki kirinya terkilir. Jangan lupakan juga lebam di dada dan punggungnya serta luka sobek di wajahnya serta beberapa lebam ringan di wajahnya.

Itu semua hasil dari perilaku berontaknya saat bawahan Mino memeganginya.

"Tentu."

Kibum menghela nafas menahan kesal. Pemuda yang lebih tua itu menggigit bibirnya kuat-kuat dan memejamkan mata sebelum kembali menatap tetangga yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu.

"Aku sudah mengingatkanmu untuk lebih waspada, Yoon, terlebih sejak kemunculan Lee Seunghoon."

.

.

.

"Apa disini ada pemuda yang biasanya mengantar susu dan koran di pagi hari itu?"

Kibum menyipitkan mata memandang pemuda sipit dengan pakaian bagus di depannya itu. Mau apa dia mencari Seungyoon? Tangannya berhenti mengelap gelas lalu dengan nada dingin ia bertanya, "Ada urusan apa dengannya?"

Pemuda sipit itu melepas topi fedoranya dan tersenyum ramah yang terlihat tulus namun palsu pada Kibum. Kibum mendecih, rupanya dia Lee Seunghoon, bangsawan dari keluarga Lee yang cukup berpengaruh dalam pemerintahan.

"Ah, kau kenal dengan pengantar susu dan koran itu?" tanya Seunghoon sopan dengan kilatan licik di matanya yang biasa Kibum kenali dari para pengkhianat yang melaporkan rakyat jelata tak bersalah demi uang yang banyak.

"Tid-"

"Maksudmu Seungyoon? Lihat, orangnya disitu."

Partner Kibum, Woohyun, menyahut Seunghoon sembari menunjuk seorang pemuda kurus dan pucat yang tengah bermain billiard bersama sekumpulan pria tambun.

Kibum spontan menginjak kaki Woohyun dan melotot sembari mengabaikan aduhan kesal pemuda greasy itu, tepat ketika Seunghoon menengok untuk menatap Seungyoon dengan mata berkilat liciknya.

"Diam kau pohon bodoh!" geram Kibum dengan gigi rapat. Woohyun hanya menggumam tak paham lalu menatap Kibum dan Seunghoon dengan tatapan kebingungan.

"Seungyoon, ya? Katakan padanya untuk lebih berhati-hati. Ia sudah dibiarkan lolos dan secara ajaib selamat dari penjaga Manor Jeon. Kuharap ia bertaubat sebelum yang lainnya bertindak."

Kibum menggertakkan gigi kesal dan mencengkram erat kaus kemejanya yang mulai basah akibat keringat gugup.

"Ah iya, satu lagi. Katakan padanya kalau Tuan Muda yang waktu itu akan sangat senang bila Seungyoon bisa bertemu dengannya secara pribadi."

Kibum pun tidak bisa lupa bagaimana senyuman lebar nan licik Seunghoon yang terlampau menyebalkan hingga ia ingin menonjok wajah dengan mata sipit itu.

.

.

.

Seungyoon kesepian.

Hanya Kibum atau Jinwoo yang menengoknya sesekali.

Iya Kim Jinwoo, dia datang bersama Seunghoon dan Seungyoon bisa merasakan tatapan nanar darinya. Tapi Seungyoon tak peduli, ia lebih banyak mengabaikan tamu yang datang walau ia kesepian.

Berkali-kali terlintas diotaknya mengenai kata-kata Kibum yang benar tentang prinsip kebahagiaan (Tapi ingat, Seungyoon tidak sudi mengatakan itu keras-keras karena nanti Kibum akan terbahak mendengarnya.)

Kenapa ia harus menyesal tepat ketika ia dihukum seperti ini?

Kenapa tidak dahulu?

.

.

.

"Kapan pengadilanku? Apa aku akan dihukum gantung?" tanya Seungyoon berlagak tenang, padahal ia sendiri panik akibat situasi yang kini menimpanya, penjara dingin serta makanan yang lebih buruk dari makanan sehari-harinya.

Opsir Yoon yang kebetulan berada di depan sel Seungyoon menatap pemuda itu dengan sinar mata datar sebelum tangannya yang memegang serenceng kunci sel penjara menyentuh gembok di sel Seungyoon.

CKLEK!

"Tidak ada pengadilan, kasusmu sudah selesai diurus oleh kami dan kini kau dipindahkan ke tangan orang lain yang sudah menunggumu kini."

Seungyoon terhenyak.

Apa yang terjadi?

"Aku bebas?"

Opsir Yoon tertawa kecil mendengar perkataan polos Seungyoon, "Tidak sepenuhnya. Bergembiralah karena kau tidak perlu menghadapi pengadilan dan terhindar dari hukuman akibat perilaku busukmu."

"Ba-bagaimana bisa?" gagap Seungyoon tanpa melangkah maju padahal pintu selnya terbuka lebar untuknya.

Opsir Yoon menghela nafas lelah, "Berkat uang, nak. Kau mencuri demi uang bukan? Kau paham 'kan kalau terkadang uang bisa membeli sesuatu diluar akal sehatmu?"

Seungyoon mematung lalu mengambil beberapa langkah kaku ke dekat pintu selnya dan menatap Opsir Yoon dalam-dalam.

"Kepada siapa aku harus berterima kasih? Aku bahkan tidak punya kerabat kaya raya," tanya Seungyoon lagi.

"Kalau begitu berterimakasihlah pada penampilanmu yang berhasil menarik perhatian orang, nak."

Jawaban opsir berkumis tersebut tak bisa Seungyoon pahami, tapi ketika ia melihat Kibum yang berdiri bersama Song Mino dan Lee Seunghoon di dekat meja Kepala Sipir, pikiran Seungyoon seketika melayang pada perkataan Mino saat sebelum pesta kebun Jinwoo.

Tapi jangan khawatir, kau akan baik-baik saja karena aku mencintaimu, Kang Seungyoon.

Seungyoon terkekeh lirih, "Huh, jadi itu serius?"

.

.

.

Seungyoon berpelukan dengan Kibum sebagai tanda perpisahan karena status Seungyoon kini ada ditangan Keluarga Song dan mau tidak mau Seungyoon harus pindah ke manor mewah itu entah mau jadi apa ia disana. Ia lalu mengekori Mino yang tanpa banyak bicara menyuruhnya untuk segera pergi dari sini.

"Aku bisa jadi penjaga istal kalau kau mau."

Celetukan Seungyoon memecah keheningan ketika ia dan Mino berjalan menuju kereta kuda hitam gelap yang tinggal berjarak 100 meter lagi itu.

"Tidak perlu, yang perlu kau lakukan hanyalah membalas cintaku karena itulah tujuanku menjebakmu hingga membawamu ke penjara," jawab Mino tenang yang membuat Seungyoon menunduk menatap jalan karena mendadak pipinya terasa panas.

Uh, jadi dia memang benar-benar serius?

"Mmm... sebenarnya... sejak kapan kau?" tanya Seungyoon setengah-setengah karena sebenarnya ia terlalu malu untuk bertanya.

Mino berhenti berjalan lalu menatap Seungyoon dengan senyum tulus di wajahnya sebelum ia memeluknya tanpa peduli mereka sedang berada di depan penjara atau pakaian Seungyoon yang berbau apak.

"Sejak kau menumpahkan susu kepada binatang peliharaanku dua tahun lalu."

"Lalu kenapa baru sekarang?" tanya Seungyoon lagi dengan pipi memanas akibat orang tampan yang terlalu dekat dengannya.

"Karena saat ada pencuri masuk me manorku, aku mengenali itu adalah kau, sehingga aku menyadari bahwa kehidupanmu tak semulus hidupku dan aku ingin kau bahagia dan juga bebas sepertiku."

Seungyoon menatap Mino lalu balas memeluknya sebelum mengecup sekilas ujung hidung Mino dan tersenyum lebar karena ia merasa sangat tersentuh.

Jarang sekali ada yang memikirkannya hingga seperti itu dan suatu keberuntungan seorang Song Mino memikirkan Kang Seungyoon yang bahkan bukan apa-apa.

"Terima kasih untuk segalanya, Mino."


END


OMAKE


"Ngomong-ngomong kau tahu tidak kenapa hasil curianmu selalu terjual dengan harga yang kau mau?"

"Jangan bilang kalau kau yang membelinya."

"Ding dong~ Yep! Dengan bantuan Seunghoon hyung, lalu aku dan dia mengembalikannya ke Manor yang benar!"

"Huh?! Jadi kau selalu bekerja sama dengan Seunghoon selama ini?"

"Tentu saja!"

"Termasuk saat ia mendatangi Kibum?"

"Tentu saja!"

"SIAL KAU SONG MINHO! DASAR MENYEBALKAN!"

"Sama-sama, Seungyoonie~"


A/N:

halo /sembunyi dibalik selimut/

tanggal berapa sekarang? duh maaf banget ya banyak yang mengalihkan duniaku /lol/ (salahkan saja sibuk sekolah sama temen yang memaksa buat terjun ke dunia seventeen) (tapi saya cinta WINNER apapun yang terjadi kok) (fanfic ini buat seungyoonie sama mino by the way :D) maaf banget kalau kurang memuaskan atau nggak ngefeel, karena ini dibuat sedikit terburu-buru :D

(btw biarkan incle ini berbahagia sejenak yha)

TANGGAL 23 APRIL ITU BLESS BANGET BUAT INNER CIRCLE YAY

PERTAMA ADA EXIT TOUR IN BUSAN (HOON PUNYA TATTO LAGI YAY)

KEDUA EPISODE PERTAMA HALF-MOON FRIENDS (SAYA CINTA INTERAKSI FLUFFY TAPI AGAK AWKWARD MEMBER WINNER SAMA PARA ANAK KECIL)

oke bye ini terlalu excited :D duh lets hope that EXIT: X bakal segera keluar (with that LaLa song too {})

thanks for reading buat chapter jinhoon kemarin sama chapter minyoon ini. maafkan akan keterlambatannya yang teramat sangat :( review dan biarkan aku tahu bagaimana pendapat kalian soal fanfic amburadul ini :)

special thanks buat harmiyunia (unnie maybe? i dunno what should i call you) yang udah ngingetin saya buat segera ngepost chapter yang ini :D makasih banget yaa~

/btw saya punya banyak ide minyoon gara-gara minyoon yang semakin cute akhir-akhir ini (foto yang dipost ksy di ig-nya buat ngucapin selamat ke mino) (kaos hadiah dari ksy yang akhir-akhir ini sering dipake mino) (mereka foto bareng pas sampe busan) (mereka ke busan duluan bertiga sama managernim) (ksy suka clingy sama mino) but i'm too busy :(/

(SORRY THIS A/N IS TOO MUCH)

love,

dumpling-lion