All of the character is not mine. They're belong to J.K Rowling.

The After Effect

Chapter 3

"Sampai kapan kau mau bersembunyi terus Hermione?" Ginny bertanya.

Hermione hanya bisa menghela nafasnya.

"Kau sudah tiga minggu tidak keluar dari flat-mu, itu berarti kau sudah tiga minggu tidak terkena matahari." Ginny berseru lagi.

Hermione hanya menghela nafasnya lagi dan membaringkan tubunya di sofa sementara Ginny sibuk di dapur.

Hermione sudah tiga minggu berhenti bekerja, sepulang dari kementrian, ia kembali ke kantor perusahaan lamanya, menerobos masuk ke ruangan Theodore Nott dan menjambaki rambutnya, menamparnya, dan memukulinya dengan tangan kosong.

Beberapa orang berusaha menahannya dan menenangkannya, tapi ia menyihir mereka semua dan kembali memukuli Theo dengan kedua tangannya. Lima belas menit kemudian Auror Potter, yang notabene penyelamat dunia sihir, kepala Auror dan sahabat baik dari Hermione datang dan menyelamatkan Theodore Nott dari kerusakan kepala dan punggung permanen.

Hermione di bawa ke kantor Auror dan dimintai keterangan, ia memberitahu Harry apa yang terjadi sambil menangis tersedu-sedu, ia memberitahu Harry kalau semua ramuannya, semua ramuan yang dibuatnya dari hasil riset dan kerja kerasnya siang dan malam ternyata dipatenkan atas nama orang lain.

Tidak lama Harry menyuruh salah satu bawahannya mengantar Hermione pulang dan berjanji akan berusaha melakukan sesuatu.

Sudah tiga minggu, dan Harry Potter tidak sekalipun menunjukkan wajahnya.

Hermione tahu Harry tidak bisa melakukan apa-apa, dan karena itu ia tidak berani menunjukkan wajahnya di depan Hermione.

"Hermione duduk disini. Makan siangmu sudah siap." Ginny berseru.

Hermione menghela nafasnya lagi, Harry Potter tidak berani menunjukkan wajahnya jadi ia mengirim istrinya yang sedang hamil dua bulan untuk datang dan memasak di flatnya.

Hermione berdiri malas-malasan dan menuju ke meja makannya. Hermione duduk dan didepannya sudah tersedia makanan lezat dan enak dan bahkan masih berasap.

Hermione mulai fokus pada makanannya.

"Bagaimana?" Ginny bertanya.

"Honestly Gin," Hermione berseru "Kau tahu persis kalau makanan buatanmu seenak buatan ibumu, kenapa kau selalu bertanya padaku bagaimana rasanya? Kau mencari pujian?" Hermione berseru sarkas.

Ginny tertawa. "Aku bingung, yang sebenarnya hamil siapa? Kenapa Mood-mu bahkan lebih buruk dariku?"

Hermione diam dan makan lagi.

"Ah, Gin, katakan pada Harry kalau ia tidak perlu takut menemuiku." Hermione memberitahu Ginny.

Ginny menghela nafasnya sekarang.

"Hermione." Ginny berseru pelan.

"Tidak apa Gin, aku tahu Harry terlanjur bilang padaku bahwa ia akan mengurus semuanya, tapi aku juga tahu kalau Harry tidak akan bisa melakukan apa-apa, semuanya sudah terlanjur dan tidak akan ada yang bisa dilakukannya." Hermione berseru, masih menunduk dan memakan makanannya dengan tenang.

"Katakan padanya ia tidak perlu berusaha lagi, dan katakan padanya untuk tidak mengirim istrinya yang sedang hamil kesini sering-sering hanya untuk memasak dan menasihatiku agar pergi keluar dan mencari sinar matahari." Hermione memberitahu lagi.

Ginny tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Hermione. "Harry akan terus berusaha, dan aku akan terus datang kesini sampai kau hidup dengan baik lagi."

Hermione tertawa, ia mengangkat bahunya dan makan lagi. "Yeah, Well, kapan lagi aku mendapat juru masak gratis?"

Hermione dan Ginny tertawa.

Ginny kemudian menghabiskan waktu untuk mengomel pada Hermione, Ginny menyuruh Hermione merapikan kasurnya, menyuruhnya membersihkan debu di atas televisinya, menyuruhnya membuang sampah, menyuruhnya menyusun buku-bukunya yang berserakan di ruang tamu, menyuruh Hermione membersihkan flatnya yang tidak sampai dua puluh empat jam akan kotor lagi.

"Gin, ini sudah hampir jam lima sore, kau harus pulang dan menyambut suamimu." Hermione berseru, dengan campuran sarkas dan frustasi.

Ginny melihat jam dinding di ruang tamu Hemione dan menyadari kalau apa yang dikatakan Hermione benar, ia harus pulang dan membuat makan malam untuk Harry.

Ginny mengambil tasnya. "Kalau begitu aku pulang dulu Hermione." Ginny berseru.

"Kau tidak menggunakan saluran floo?" Hermione bertanya.

Ginny menggeleng. "Aku harus berjalan, bergerak yang cukup diperlukan untuk bayiku." Ginny memberitahu sambil menepuk-nepuk perutnya pelan.

Hermione tersenyum dan mengantar Ginny ke depan pintunya.

"Hati-hatilah Gin." Hermione berseru pelan.

Ginny mengangguk. "Aku akan datang lagi besok." Ginny memberitahu.

Hermione memutar matanya.

"Aku pulang dulu." Ginny berseru.

Hermione melambaikan tangannya dan Ginny berjalan menjauh, begitu Ginny tidak lagi terlihat ia masuk dan menutup pintunya.

Hermione kemudian berbaring di sofanya yang berada di depan televisinya, menyalakan televisinya dan mengambil bukunya. Ia membaca bukunya dan membiarkan tv-nya menyala.

Ia mendengar bel flat-nya berbunyi.

"Siapa?" Hermione berseru. "Gin? Apa itu kau? Ada sesuatu yang tertinggal?" Hermione bertanya sambil berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintunya dan melihat seseorang yang sudah lama sekali tidak dilihatnya.

.

"Jadi bagaimana Granger?" Draco bertanya menunggu respon Hermione.

Hermione diam saja.

Draco Malfoy duduk di ruang tamunya, menggunakan jas dan jubah formalnya sementara Hermione duduk dengan celana piyamanya dan sweaternya yang kebesaran, ia sudah tiga hari tidak ganti baju, lagipula udara dingin dan ia tidak berkeringat, mengganti baju hanya akan menambah tinggi tumpukkan cuciannya.

Pria didepannya memberitahu sesuatu yang benar-benar membuatnya bingung.

Draco Malfoy memberitahunya kalau ia tahu apa yang terjadi, ia tahu kalau Theo memanipulasinya dan mematenkan semua ramuan Hermione atas nama Theo dan Draco datang hari ini untuk menawarkannya kerja sama.

Draco menjelaskan kalau ia ingin membangun perusahaan ramuannya dan ia membutuhkan seseorang dengan lisensi potion master, ia berharap Hermione mau menjadi partnernya dan mereka bisa bekerja sama. Draco berjanji tidak akan melakukan hal yang sama dengan Theo, ia tidak akan merugikan Hermione dan bahkan berjanji akan membuat ramuan yang bisa diakses kalangan bawah. Ia bersedia melakukan unbreakable vow dalam hal ini.

"Kenapa aku harus mau bekerja sama denganmu?" Hermione bertanya, begitu ia selesai berpikir. "Kau mungkin mau melakukan unbreakable vow dan berjanji akan mengeluarkan ramuan yang murah, tapi apa kau bisa menjamin kalau kau tidak akan memanipulasiku? Lagipula aku tidak tertarik untuk bekerja membuat ramuan lagi." Hermione memberitahu.

Draco tersenyum. "Well, apa jika aku memberitahumu kalau aku punya seluruh salinan dari jurnal-jurnal Severus Snape kau akan kembali tertarik membuat ramuan?"

-To Be Continued-