私と兄貴と先輩 (Me, Aniki and Senpai)

.

Inspirasi dari berbagai sumber

Kuroko no Basuke hanyalah milik Tadatoshi Fujimaki

Rating: T

Warning: OOC, typo, family, friendship/romance, dll

Don't like don't read

Enjoy!


Midorima POV

Entah kenapa Aku tidak bisa melupakan wajah itu. Wajah yang terlihat tenang dan damai. Rambut panjangnya yang bergerak pelan tertiup angin musim semi, matanya yang hanya fokus pada satu arah dan tidak tertarik dengan keadaan sekitarnya. Bibirku mengembangkan senyum tipis, baru kali ini ada gadis yang membuatku merasa tertarik pada wanita. EHHH, TUNGGU DULU...? Aku menggelengkan kepalaku, apa sih yang kupikirkan... Ayolah Shintarou dia hanya seorang gadis yang sama saja seperti yang lainnya.

Tapi kalau diingat-ingat kejadian tadi pagi, hanya dia memilih untuk menghindar, sementara para siswi diam di tempat dan berteriak tidak jelas dan sangat mengganggu.

Hm...gadis yang menarik.

"Ada apa Tuan muda? Tumben sekali melihat Anda tersenyum seperti ini" Aku tersentak kaget. Perkataan Shinji-san membuatku kembali ke dunia nyata. Heh, tadi Aku tersenyum?

Aku bisa melihat dia tersenyum dari balik kaca, "Apa ada sesuatu yang menyenangkan hari ini?".

"Hmm...tidak ada" jawabku kalem.

"Begitu. Jarang sekali melihat Tuan muda tersenyum senang. Apa karena seorang gadis?" tanyanya lagi. Oh ayolah jangan mengatakan itu, apa tadi Aku terlihat sangat bahagia?

"A-ah tidak kok" Aku mencoba untuk tenang.

Dia tertawa renyah, "Tidak usah menutupinya, Saya tahu sifat Tuan muda. Karena Saya sudah lama bersama anda. Jadi Saya bisa tahu apa yang membuat Anda senang dan apa yang membuat Anda sedih".

Jawabannya Shinji-san memang benar. Dia sudah lama bekerja sebagai sopir pribadiku. Hanya dia yang selalu mengerti tentangku. Biasanya dialah yang menghiburku kalau Aku lagi kesal dan sedih. Shinji-san bagaikan seorang kakek bagiku.

Aku tersenyum tipis "Hanya seorang gadis kutu buku" jawabku malu-malu.

Dia kembali tertawa pelan, "Wah wah, ini pertama kalinya Anda menyukai seorang gadis. Biasanya Anda terlihat tidak senang bertemu dengan seorang gadis yang dipilihkan oleh Tuan".

Aku cemberut mendengarnya. Bukan apa-apa, Aku paling tidak suka kalau Shinji-san mengungkit masalah gadis-gadis berhati serigala itu. "Karena gadis-gadis itu hanya mengagumi ketampanan dan menginginkan kekayaan saja".

"Begitu ya" hanya itu tanggapan pria berusia 50 tahun itu.

"Apa dia berbeda dengan gadis-gadis lain yang menjadikan Tuan muda tertarik padanya?" tanyanya lagi.

Aku menyeringai "Dia orang yang sangat menarik, Shinji-san". Sopirku itu tidak merespont dan kami kembali diam dalam keheningan.

Sesampainya didepan rumah, Shinji-san membukakan pintu mobil dan mempersilahkanku untuk keluar. Sebelum pergi Aku tidak lupa 'berterima kasih' padanya.

"Selamat datang, Tuan muda" itulah kalimat yang selalu ku dengar setiap kali masuk rumah.

"Apa Ayah sudah pulang" tanyaku pada salah satu pelayan wanita.

"Tuan belum pulang, mungkin akan pulang terlambat lagi seperti kemarin" jawabnya sopan.

"Begitu ya".

"Onii-chan" Aku langsung menoleh ke si panggil dan tersenyum kearahnya.

"Tadaima, Rie"

"Okaeri, Onii-chan" Rie mendatangiku dan nyengir lebar.

"Ne ne, Nii-chan nanti ajarin Rie geometri ya ya" gadis kecil itu melingkarkan tangannya ke tangan kananku manja.

Aku mengerutkan dahiku "Bukannya ada Minato-Sensei yang mengajarimu" tanyaku, soalnya keluarga kami punya guru private untuk mengajari Rie.

Rie cemberut, "Nggak mau, Rie maunya Nii-chan yang ngajarin, ya ya, Onegai" mohonnya dengan poppy eyes. Aku menelan ludah, bukan apa-apa sih, kalau sudah seperti ini terpaksa Aku menurutinya, kalau tidak dia akan ngambek.

"Baiklah, tapi setelah makan malam ya" ujarku. Rie hanya mengangguk senang dan pergi menuju dapur.

Karena dia sudah melepaskanku, Aku langsung melangkahkan kakiku menaiki anak tangga dan segera menuju kamarku. Sesampainya di dalam, Aku langsung membaringkan tubuhku di kasur. Tidak peduli tasku yang ditaruh sembarang dan sepatu yang ku letakkan tidak karuan.

Jujur saja, sebenarnya hidupku itu sangatlah membosankan. Walaupun hidup dalam keadaan yang sangat mewah tapi Aku kesepian. Walaupun rumah ini luas dan memiliki lumayan banyak penghuni (pelayan), tapi rasanya seperti di dalam sangkar dan sendirian walaupun kadang juga terasa hidup karena Rie.

Akashi jarang sekali ingin berkunjung kalau bukan karena acara makan malam bersama, kecuali keadaan mendesak (pekerjaan OSIS dan kabur dari rumah). Sedangkan teman-teman yang lain pada minder untuk berkunjung.

Terlintas lagi ingatan tentang gadis tadi siang. Aku sedikit kesal dibuatnya. Oh otak jangan mengingatnya lagi. Tapi kalau di ingat lagi, dia sekilas terlihat seperti Akashi ya. Akashi versi perempuan lebih tepatnya. Apa gadis itu memang adiknya? Entahlah, tapi mungkin saja benar. Mungkin Akashi juga tidak mengenalinya kalau pun dia itu adiknya. Kalau tidak salah, mereka sudah terpisah selama sepuluh tahun. Tapi Shinji-san pernah bilang, orang yang memiliki ikatan yang kuat seberapa lamanya tidak pernah melihatnya pasti akan tetap mengenalinya.

Aku mungkin tidak bisa merasakan perasaan Akashi saat itu. Dulu saat pertama kali bertemu dengannya kami tampak mirip, tidak pernah tersenyum, muka datar tanpa ekspresi dan pandangan tampak kosong. Sekarang pun Akashi masih seperti itu, muka datar, selalu bad mood dan tidak peduli dengan orang lain, jarang senyum. Mungkin kalau dia bertemu dengan adiknya lagi, kebiasaannya akan berubah.

"Tuan muda, makan malamnya sudah siap" ucap salah satu pelayan dari balik pintu. Aku terlonjak kaget. Kami-Sama jantungku rasanya mau copot. Ya ampun, bisakah dia mengetuk pintu dulu sebelum memanggil.

"Aku akan kesana setelah mandi" jawabku malas.

"Baiklah Tuan, Saya permisi" langkah kakinya semakin lama semakin tidak terdengar lagi.

Ya ampun, Aku ini kebanyakan pikiran atau kebanyakan menghayal sih sampai-sampai lupa kalau sudah jam 8 malam. Aku segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.

Gadis itu...

Aku tersenyum tipis "Sebenarnya siapa dia?".


.

.


Normal POV

Keesokan harinya, seperti biasa Midorima dan Akashi berada di ruang OSIS saat istirahat. Midorima masih dengan kebiasaannya memperhatikan orang dari balik jendela dan Akashi yang berkutat dengan buku dimejanya.

"Apa dia datang lagi hari ini" batin Midorima, tentu saja setelah kejadian kemarin mungkin gadis itu akan mempertimbangkan lagi untuk membaca di halaman belakang.

Tak lama kemudian ternyata gadis itu datang. Gadis itu duduk dibangku, memasang earphone dan mulai membaca dengan tenang. Midorima memperhatikannya bagaikan seorang pemburu yang mendapat sasaran buruannya. Akashi melirik ke belakang dan menemukan Midorima sedang fokus dengan wajah datar melihat ke luar jendela. Karena penasaran dengan apa yang membuat sahabatnya itu seperti orang aneh dia pun bertanya, "Kamu sedang apa, Shintarou".

Midorima tidak menjawab dan hanya menunjuk keluar jendela, mengisyaratkan untuk melihatnya sendiri. Akashi dengan sedikit berat hati menurut, dia memutar kursinya lalu berdiri disebelah laki-laki bersurai hijau lumut itu. Dari balik jendela terlihat seorang gadis yang sedang duduk dibangku sambil membaca buku "Dia?" tanya Akashi dengan muka bete.

Midorima mengangguk, "Dia gadis yang kemarin". Teman disebelahnya hanya bingung dan memperhatikan gadis itu lagi.

"Apa menariknya" pikirnya dan tetap ikut memperhatikan. Wajah gadis itu tidak jelas terlihat dari belakang, yang Akashi tahu hanya dia memiliki rambut merah mengkilap. Berharaplah gadis itu menghadap ke samping atau kebelakang sekalian agar wajahnya terlihat jelas. Cukup lama mereka diam memperhatikan sampai Midorima membuka pembicaraan.

"Maaf soal kemarin Aku mengungkit tentang adikmu, Akashi" ucap pemuda hijau lumut itu tiba-tiba. Tatapan matanya masih tertuju pada siswi itu.

"Tidak apa" jawab Akashi datar dan matanya masih fokus kedepan. Mereka kembali terdiam, tapi di dalam hati Midorima ada sesuatu yang ingin dia katakan.

"Akashi tidakkah kamu berpikir dia mirip dengan seseorang, contohnya adikmu" ungkap Midorima, walaupun ada rasa takut untuk menyakiti hati sahabatnya itu. Akshi masih diam dengan wajah datarnya.

"Maaf kalau Aku lancang dan mungkin terlalu berlebihan ya, b-bukannya Aku peduli tentang itu nodayo" sambung Midorima gugup seraya menaikkan kacamatnya.

"Tidak apa, karena Aku menemukan identitas seorang siswa kelas 1 yang mirip dengannya" jawab Akashi datar. Dia berbalik dan mengambil secarik kertas salinan rekap data kemarin dan menyerahkannya kepada Midorima.

"Awalnya Aku ragu kalau dia adikku karena namanya berbeda, ternyata setelah ku cek lagi diruangan pribadi Otou-San dan bertanya kepada Yoshimura-San ternyata memang benar. Dia mengganti nama belakangnya" lanjut Akashi.

Midorima terlihat iba, tapi Akashi bukanlah tipe orang yang suka dikasihani. Anak itu sering kabur dari rumah dan menginap dirumah Akashi karena bertengkar dengan ayahnya atau masalah lainnya. Hubungan Akashi dengan ayahnya sangatlah dingin karena sang ayah hanya memikirkan perusahaannya.

"Kalau gadis yang disana itu beneran adikku mungkin Aku akan menemuinya nanti" ada seulas senyum tipis yang mengembang dari wajah datar pemuda bersurai merah itu.

Mereka kembali memperhatikan gadis itu, tampak dia melepas earphonenya dan menutup bukunya. Gadis itu berdiri dan berjalan pergi, wajahnya sekilas mirip Akashi dengan iris mata berwarna merah menyala, hanya saja poninya disisir ke sebelah kanan dan hampir menutup matanya.

"Ternyata itu benar kamu, Iori"

.

.

To Be Countinue


Mimi: terima kasih sudah membaca dan mereview cerita ini Minna-san, maaf ya atas keterlambatannya karena saya sudah masuk kuliah lagi dan Haru sedang persiapan untuk UN

Haruki: maaf ya Minna-san karena chapter ini kependekan

Mimi: mungkin chapter selanjutnya juga akan terlambat lagi karena kesibukan kami

Haruki: gomenne Minna-san, tapi kalau kami ada waktu pasti akan update cepat kok

Mimi-Haruki: Mind to RnR Please!