Weleeh… aku malah baru tahu kalau chapter kemarin berbau bashing. Hehehe :P

Ok! Kalau begitu aku mau minta maaf bagi kalian yang merasa tokoh kesayangannya aku bashing–secara nggak sengaja. Dan demi jaga-jaga supaya tidak menimbulkan kesalahan lagi, ada baiknya para Inoue Orihime Fans tidak membaca ff ini lebih lanjut.

Bleach © Tite Kubo

Sister for Karin © Mezuraven Randy

Summary : Dalam obrolan mereka beruda, Isshin sedikit memberikan tanggapan mengenai pacar baru putra sulungnya. Sebenarnya bagaimana tanggapan Isshin?

Warning : OOC, pov. Tidak suka? Tidak usah baca. Simpel kan?

ICHIGO pov

Yuzu dan Inoue masih sibuk bersenang-senang dengan alat-alat kosmetik mereka di kamar lantai dua setelah selesai acara masak-memasak. Berulang kali suara tawa mereka membahana sampai ke lantai dasar tempatku dan Ayah menonton pertandingan tennis. Kenapa setiap kali melihat TV selalu saja acaranya tentang olah raga? Karena memang keluargaku menyukai olah raga macam apapun kecuali golf. Entahlah, aku bingung kenapa permainan mahal menghabiskan uang seperti itu pantas di sebut sebagai olah raga. Mereka hanya memukul bola lalu menaiki mobil khusus untuk mengantarnya ke tempat bola terlempar. Barang bawaan pun di tangani oleh assisten mereka. Mana bisa berkeringat dan sehat kalau cuma melakukan hal itu.

"Kyaaa! Inoue-nee cantik sekali!" teriak Yuzu dengan volume keras. Aku yang mendengarnya hanya mampu tersenyum kecil membayangkan bagaimana cantiknya Inoue seperti yang di teriakkan oleh Yuzu. Hah? Benarkah? Aku rasa membayangkan Rukia yang tanpa make up sudah memberiku kepuasan tersendiri. Hei Ichigo bodoh! Memikirkan perempuan lain saat kau sudah memiliki pacar adalah perbuatan dosa! Itu sama halnya dengan selingkuh secara tidak langsung. Tapi masa sih? Memangnya ada yang namanya selingkuh secara tidak langsung? Hahh… payah!

"Yang di atas berisik sekali sih? Mengganggu acara menontonku saja." gerutuku lalu menggosok pelan rambut spike orensku. Aku menguap karena sedikit merasa mengantuk. Sebenarnya ini belum larut, namun badanku terasa lelah semua menjalani hari yang panjang ini.

"Biarkan saja mereka, Ichigo. Toh perempuan itu merupakan pacarmu sendiri bukan? Lagipula sepertinya Yuzu merasa senang," ucap seorang laki-laki paruh baya berjenggot tipis yang duduk di sampingku. Laki-laki tua itu menyeruput teh buatannya sendiri dengan nikmat. Dia adalah Kurosaki Isshin atau lebih tepatnya Ayahku sendiri. Sebenarnya yang biasa menyeduh teh untuk Ayah adalah Rukia, karena Ayah sudah cocok dengan teh yang katanya lain daripada yang lain itu. Berhubung Rukia ikut club memasak, Inoue mencoba menggantikan peran Rukia. Tetapi tak tahu apa alasannya, Ayah malah menolaknya. Padahal Inoue juga pintar memasak kan? Itu kata Yuzu, kalau aku belum tahu dengan detail mengenai hobinya yang satu ini. Dan tentu tingkah Ayah yang dapat di katakan hampir sama dengan Karin, membuatku menyimpulkan bahwa mereka kurang setuju dengan perempuan pilihanku. Aku merasa mereka sedikit keberatan dengan kehadiran Inoue di sini.

"Ayah, kenapa nada bicaramu kurang bersahabat seperti itu? Dan kenapa pula kau memanggilnya dengan sebutan perempuan itu, bukankah lebih akrab kalau kau memanggilnya Inoue? Sebenarnya ada apa denganmu?" aku melontarkan rangkaian pertanyaan untuk mendesak Ayahku. Namun ekspresi laki-laki tua ini tidak merasa tertekan barang sedikitpun. Dia hanya tersenyum simpul sembari menyeruput kembali teh yang telah mendingin.

"Bukannya bernada tidak bersahabat, tapi aku merasa belum mengenalnya lebih dekat. Sepertinya dia terus terdiam dan tak mau berbicara pada keluarga kita selain Yuzu dan dirimu, apa aku salah?" jawab Ayah dengan santai lalu pandangannya terfokus lagi pada acara yang ditayangkan. Aku benar-benar merasakan kejanggalan pada ucapannya barusan. Sepertinya ada makna tersembunyi yang tidak aku ketahui pasti.

"Ayah ini bicara apa? Wajar saja dia bersikap kurang akrab seperti itu, karena dia masih malu dan baru kali ini berkunjung kemari." sewotku mengelak kata-kata Ayah.

"Hmm begitukah? Apa kau lupa saat pertama kali bertemu dengan Rukia? Dia terlihat ramah dan mudah bergaul dengan keluarga kita, meskipun saat itu Karin masih tertutup," ucapan Ayah sukses membulatkan mata amberku. Kenapa obrolan ini di sangkut-pautkan dengan Rukia? Dan kenapa juga tengkukku terasa panas? "Yah, tak perlu dipikirkan. Coba kau tengok jam berapa sekarang." perintah Ayah membuka topik pembicaraan baru. Aku melirik jam dinding yang tergantung pada tembok ruang tamu. Waktu menunjukkan tepat pukul tujuh empat puluh lima menit, hampir jam delapan malam. Memang apa hubungannya?

"Belum ada jam delapan malam, masih terlalu dini untukku pergi tidur."

"Bukan itu yang aku maksudkan. Bagaimana dengan perempuan itu, apa kau tak mengantarnya pulang? Kau laki-laki bertanggung jawab kan?" tanya Ayahku. Bagus! Aku lupa memberitahu alasan aku mengajaknya ke sini. Pantas saja Ayah bertanya, sepertinya Rukia benar tentangku yang bodoh ini. Dasar! "Mmm sebenarnya aku bermaksud mengajaknya makan malam bersama kita, dan apa Ayah mengizinkannya untuk menginap?" tanyaku takut-takut. Belum pernah aku membawa seorang perempuan menginap di rumah ini sekali pun. Baru ini! Tampak Ayah menaikkan sebelah alisnya lalu menenggak habis cairan beraroma melati dalam cangkirnya.

"Lalu dia mau tidur dimana? Bukankah kamar tidur kita hanya ada tiga buah?" ingat Ayahku. Aku menepuk dahiku cukup keras. Bagaimana bisa aku melupakan hal sepenting itu? "Aku tidak mau tidur di sofa, Ichigo." sambungnya menegaskan atau memperjelas bahwa kamarnya tidak di sewakan kepada siapapun.

"Inoue kan bisa tidur bertiga dengan Yuzu dan Karin di kamar atas. Lagi pula tidak akan sesak kok!" ucapku tenang. Namun sorot mata Ayah yang melirikku terkesan begitu aneh. Rasanya risih di tatap seperti itu. Sebenarnya ada masalah apa lagi sih? Bukankah Inoue tidak terlalu gemuk? "Kenapa?" tanyaku.

"Sepertinya kau telah melupakan seseorang yang tak kalah penting bagi kita daripada perempuan itu," ucap Ayahku datar. Seseorang yang lebih penting? Siapa sih? Oh! Aku lupa dengan Rukia. Bisa-bisanya aku mengabaikan keberadaan mata amethyst kesayanganku itu. Ekh? Kesayanganku? Ichigo bodoh! Saraf otakmu sudah rusak ya. Ingat! Jangan pernah sekali-kali berselingkuh meskipun secara tidak langsung! "Sebaiknya kau pertimbangkan masalah itu lain waktu, kau tak sadar kalau kedua anak itu masih belum pulang? Apa kau tak berniat untuk mencari mereka? Ini sudah terlalu malam bagi anak perempuan seperti mereka berdua, akan sangat berbahaya."

Mata amberku lagi-lagi terbelalak karena baru menyadarinya sekarang. Rukia! Karin! Bodohnya aku baru sadar sekarang. Aku harus cepat-cepat membawa mereka kembali ke rumah! "Kau boleh membagi cintamu dengan orang lain, tapi jangan sampai kau melupakan tanggung jawabmu sebagai yang paling tua untuk melindungi mereka." aku masih sempat mendengar ucapan Ayahku saat kakiku melangkah menghampiri kamarku.

Aku mengobrak-abrik seisi lemari pakaianku dengan buru-buru untuk menemukan jaket coklat tuaku satu-satunya. Jaket yang juga merupakan kado hadiah ulang tahunku yang ke lima belas pemberian Rukia. Betapa baiknya dia memberikanku sesuatu yang berguna. Tapi saat ini dimana keberadaan benda itu? Lemari yang sudah aku acak-acak pun tidak ada. Kuputar bola mataku untuk menyensor setiap sudut kamar kecilku, hasilnya sama saja kosong! "Ck! Hilang di saat yang penting seperti ini!" decakku kesal. Aku beranjak menapaki tangga untuk menuju ke kamar Yuzu dengan tergesa-gesa. Brakk! Kudorong sedikit paksa pintu kamar berwarna setengah pink setengah hitam itu, warna yang di sukai kedua adikku. "Yuzu! Kau tahu dimana jaket coklat tuaku? Aku membutuhkannya sekarang!" kataku disertai dengan nafas yang memburu. Aku bertanya padanya karena dia yang kerap mengurusi soal pakaian mulai dari mencuci sampai menatanya kembali ke dalam lemari. Inuoe pun tengah memandangiku keheranan sama dengan Yuzu.

"Jaket itu aku cuci karena kotor. Maaf aku lupa mengatakannya padamu, Ichi-nii." sesalnya sembari menundukkan kepala. Aku cuma mengangguk seadanya dan segera berlari menuruni anak tangga, melesat memakai sepatuku lantas membuka kenop pintu. Kulirik jam dinding untuk yang terakhir kalinya sebelum pergi, ternyata waktu berlalu lebih cepat dari dugaanku. Pukul delapan? Aku harus cepat! Belum sempat aku melangkah keluar, seseorang mencegahku dengan cara menahan lenganku. Membuatku terpaksa membalikkan tubuh untuk menatapnya.

"Aku juga ingin ikut bersamamu, Kurosaki-kun."

Kupejamkan mataku untuk beberapa saat. Sudah aku duga ini akan masuk dalam skenario hipotesisku. Inoue memang susah untuk berkompromi di saat-saat penting. Dia ingin ikut bersamaku? Apa yang sebenarnya di pikirkannya sih? Ini bukan kencan! Segera kucengkram pundaknya agak kasar. Mungkin ini efek dari emosi dan kepanikan yang menjalari hatiku. Kutatap tajam mata abu-abu samarnya, mencoba meyakinkan bahwa ini bukanlah main-main. "Aku hanya akan pergi sebentar untuk menemukan saudaraku, pergi dan temanilah Yuzu bermain seperti tadi." pintaku. Mata abu-abu samarnya berkaca-kaca menahan bulir-bulir bening yang sudah di pelupuk mata. Dia menangkup wajahnya menggunakan kedua tangannya dan terisak pelan.

"Hiks… hiks… hiks…"

Apakah kata-kataku barusan terdengar seperti sedang memarahinya? Ataukah tindakanku yang terkesan jahat baginya? Hatiku perih karena tahu orang yang aku sayangi menangis di depanku. Namun tak dapat aku pungkiri bahwa aku sangat kesal dengan sifat egois Inoue yang tak ada bedanya dengan Karin. Perempuan ini benar-benar tak bisa membaca dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang terjadi.

"Yuzu! Bisa kau hibur Inoue-nee? Aku harus mencari saudara kembar keras kepalamu dan juga Rukia-nee, kalau ada kesulitan minta saja bantuan Ayah. Daaah!" pamitku ala kilat.

"Umm hati-hati, Ichi-nii!"

KARIN pov

Malam ini jalanan Karakura terlihat lebih ramai dari malam biasanya. Ya. Karena malam ini adalah malam Minggu, malam penuh cinta bagi para muda-mudi seusia Rukia-nee. Setidaknya itulah yang dulu pernah di katakan oleh kakakku saat aku bertanya. Mereka sering menghabiskan malam berdua di temani sepiring short cake dan secangkir esspreso hangat dalam suasana remang-remang café. Persis dengan apa yang tengah ada di sekelilingku sekarang ini. Café-café yang berdiri dengan kokoh di sepanjang jalanan yang aku dan Rukia-nee lalui, penuh dengan pasangan-pasangan kekasih sedang berbincang-bincang sembari tertawa kecil. Pusat games pun tak kalah ramai dengan para gamers yang datang berkunjung untuk memuaskan hobi mereka. Yang tampak lumayan sepi adalah toko dan persewaan buku. Hanya segelintir orang berlalu-lalang di tempat yang bisa di bilang penuh ilmu, pengecualian untuk komik-komik berbau hentai. Aku heran kenapa buku sejenis itu bisa di pasarkan dan lagi, harga komik tersebut cukup mahal di bandingkan harga komik sewajarnya.

"Jadi ini yang di maksud dengan keindahan malam Minggu?" tanyaku membuka pembicaraan dengan Rukia-nee. Karena kulihat sedari tadi dia tak membuka mulutnya untuk mengajakku mengobrolkan sesuatu. Dia menoleh dan menggangguk meresponku.

"Surganya anak-anak muda. Hahaha…" tawanya disertai sebuah senyuman manis memabukkan. Sial! Andai aku adalah seorang laki-laki, tak peduli berapa tahun usianya lebih tua dariku. Aku akan tetap menyatakan perasaanku! Namun aku sadar bahwa semua hanyalah angan-angan semu memalukan. Sebuah harapan yang merupakan salah satu dari sekumpulan aib milikku, mungkin. "Kau tidak tertarik untuk mampir ke sebuah café bersamaku? Aku yang akan mentraktirmu," tawar Rukia-nee tetap dengan senyum andalannya.

"Café bukanlah gaya yang pas dengan image-ku." jawabku malah mengundang gelak tawanya. Tangan mungil lembutnya terjulur berusaha meraihku, kemudian dia mengelus puncak kepalaku dan mengusap helaian rambut hitamku. Sensasi ini? Oh! Sudah lama sekali aku tidak merasakan sentuhan kasih sayang hangat seperti ini. Padahal dulu setiap hari Ibu selalu memberikannya kepadaku. Aku beruntung karena mengenal sosok yang anggun dan penuh aura keibuan. Meski kadang aku akui bahwa Rukia-nee sangatlah galak dan cerewet mempermasalahkan soal kebersihan.

"Tidak apa-apa kalau begitu."

"Rukia! Karin!" terdengar sebuah teriakan cukup keras yang mampu mengalihkan perhatian kami berdua untuk menoleh ke belakang. Suara serak bernada berat tadi rupanya milik seorang laki-laki yang sedang coba aku hindari. Kakakku. Dia berdiri selang beberapa meter dari kami dengan balutan jaket coklat tua. Mata ambernya tak luput memandangi kami dengan sorotan tajam menakutkan. Apa dia marah? Untuk apa pula?

"Ichigo… sedang apa kau di sini?" Rukia-nee menyapa dengan tangan melambai ke arah kakakku. Perlahan kakakku mendekat menghampiri kami.

"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kalian belum pulang ke rumah?" tanyanya memburu entah karena sedang mengatur alat pernafasannya atau… aku tak tahu dan tak mau tahu. Lagipula untuk apa aku mengkhawatirkannya? Bodoh!

"Kau tak lihat kalau kami sedang berjalan bermaksud pulang menuju rumah?" ucapku kasar membuat dua pasang mata di depanku beralih menatapku kaget. Terutama ekspresi yang terpancar oleh paras cantik Rukia-nee. Tentu dia tampak bingung karena aku belum bercerita apa-apa setelah insiden menangis di pelukannya tadi. Aku tidak ingin membuatmu terluka entah kau mempunyai perasaan pada kakakku ataupun tidak sama sekali.

"Kau… kenapa hari ini kau bersikap seolah-olah aku adalah musuhmu? Kau membenciku atau membenci–"

"Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu, Ichi-nii. Tolong…" potongku cepat-cepat karena tak mau Rukia-nee ikut terlibat dalam masalah pribadiku. Walau aku harus rela membuang ego-ku untuk mengemis memohon pada kakakku untuk tidak membahas perbincangan menyesakkan ini, terlebih ketika mendengar nama perempuan itu di sebut olehnya. Yang mana malah akan menimbulkan keributan dan menarik banyak penonton umum. Untungnya kakakku mengerti dan memilih untuk diam sementara Rukia-nee pun tidak menginterogasiku macam-macam. Beruntung!

"Kalau begitu kita harus cepat pulang. Yang di rumah sedang menanti dengan cemas terlebih lagi Ayah," kata kakakku lalu berjalan lebih dulu di depan, membiarkan kami berdua tertinggal untuk mengekor di belakangnya. Dan semuanya menciptakan alam bisu dalam perjalanan pulang kami bertiga. Kakakku pun sama halnya denganku, membuang muka jauh-jauh saat memergoki aku tengah meliriknya. Cih! Sombong sekali dia! Bagaimana bisa aku sempat berharap alih-alih Rukia-nee mendampingi laki-laki menyebalkan tak tahu diri seperti kakakku?

END pov

Tak terasa ketiga anak manusia yang saling bergantung satu sama lain itu sampai di depan pintu kayu tua berukiran dua naga kembar. Rumah keluarga Kurosaki yang berlantai dua namun sederhana untuk ukuran seorang dokter klinik. Perlahan laki-laki tampan bernama Ichigo mulai menggerakkan tangannya mengetuk pintu.

Tok tok! Tok tok!

Tak lebih dari semenit mereka menunggu, pintu pun terbuka menampakkan sosok cantik berambut panjang tengah sesenggukan dengan bola mata sembab berair. Inoue tanpa berkata apapun langsung menghambur memeluk Ichigo erat-erat. Wajahnya seperti seseorang ketakutan melihat hantu. "Kurosaki-kun! Aku senang kau kembali dengan selamat. Hiks… hiks… aku sangat takut." tangisnya pecah. Ichigo menghela nafas dan menepuk-nepuk kepala Inoue.

"Sudah… berhentilah menangis jika kau tak mau di anggap perempuan cengeng," ucap Ichigo halus. Kata-katanya seolah seperti sebuah mantera sihir yang menghipnotis Inoue untuk patuh. Punggung tangannya dia gunakan untuk menyeka bekas tangis yang mengering membentuk aliran kecil pada pipi mulusnya. Buru-buru dia tersenyum. Namun seketika senyum itu hilang saat mata abu-abu samarnya bergeser beberapa centi dari Ichigo. Dia menatap Rukia dengan pandangan penuh menyelidik. Sedangkan Rukia yang memang halnya belum tahu status perempuan di depannya adalah pacar Ichigo, hanya mundur beberapa langkah karena salah tingkah.

"Ekh! Kenapa?"

"Perempuan ini siapa?" tanya Inoue dengan telunjuk mengarah pada Rukia. Dia sempat curiga kalau-kalau Rukia adalah selingkuhan Ichigo yang kapan saja mampu merebut Ichigo darinya.

"A-aku…"

Continued on chapter 3

Hooooaa Isshin jadi bijaksana begini? Gyaaaa! Hancur deh…

Balasan review…

Meyrin kyuchan: Ya. Mereka pacaran. Terus hubungan Ichigo sama Rukia? Tunggu aja ya…

IchiRuki lovers: Salam kenal juga. Tenang aja, udah aku siapin cowok yg oke kok!

Kokota: Siip! Udah aku siapin kok orangnya.

Aoyama Malfoy: Siip! Ini chapter 2 nih!

AnonymousReader: Oke! Sarannya di tunggu lagi loh… Soal bashing, aku malah baru tahu kok! Hehehe aku Ichiruki FC n Hitsuruki FC loh…

hahaha: Yah… chapter kemarin mereka pacaran to? Tapi Cuma buat konflik doing kok!

Kuro: Hohoho maaf deh kalau kamu merasa tersinggung. Aku malah baru tahu loh kalau chapter kemarin terkesan bashing. Mungkin chapter ini juga, tapi ini tuntutan skenario ceritanya. Makasih loh udah sempet review.

Nana: Yosh! Ini udah update.

vvvv: Wew seneng deh kamu review lagi. Yah… mereka pacaran buat konflik doing kok! Ini lanjutannya nih!

Yang lain silahkan tengok inbox masing-masing, kalo ada yang belum aku Pm silahkan aja protes atau bilang ke aku. Oke? Dan terima kasih sudah mau mampir untuk meninggalkan jejak kalian :)

Mind to review? Review please…