Baru sempat update, ngetik malem-malem berduaan sama kompie buthut kesayangan. Maaf nih, jadwal anak kelas tiga ternyata padat banget ya. Harus berjuang biar besok bisa lulus dan dapet sekolah lebih bagus! #amiiiin…

Adakah yang menunggu kelanjutan fanfic ini? #ngarep sambil kedip-kedip genit ala om-om idung belang

Bleach © Tite Kubo

Sister for Karin © Mezuraven Randy

Warning : OOC, pov, karakter baru muncul, persiapkan mental (?)

Tidak suka? Tidak usah baca. Simpel kan?

"Kurosaki-kun lebih suka aku pakai warna apa? Kuning lemon atau pink mencolok ini? Kupikir dua-duanya cocok untukku karena memang kulitku yang putih mulus ini," ucap Inoue masih sibuk mengobrak-abrik pakaian obral. Dia berjuang mencari baju yang pantas dengan harga terjangkau melawan gadis-gadis lain yang juga tak mau mengalah. Siapa sih yang mau menolak belanja barang-barang bagus berharga murah? Semua gadis pasti mau kan? Dan Inoue adalah salah satunya.

"Kalau mini skirt ini bagaimana? Aku pasti akan tampak lebih seksi jika mengenakan ini," sambungnya antusias sambil tetap menggerakkan mata dan tangannya untuk menemukan model pakaian yang lain secara cepat agar tidak kedahuluan ibu-ibu muda di sampingnya. Dan kali ini Inoue berhasil menemukan sebuah gaun yang begitu menarik perhatiannya. Pasalnya, warna gaun tersebut sangat mencolok dan modelnya yang agak vulgar, pasti akan banyak memancing mata nakal untuk melirik ke arahnya. "Kurosaki-kun… pesta kelulusan nanti, aku akan memakai gaun cantik ini… kau tidak keberatan bukan?" tanya Inoue meminta pendapat kekasihnya yang sedari tadi diam. Yang Inoue lihat malah kekasihnya sudah tidak ada didekatnya lagi. Lalu kemana sih Ichigo itu? Masa tega meninggalkan kekasihnya yang mati-matian berebut obral?

"Kurosaki-kun? Dia pergi kemana ya? Apa mungkin sedang mencari toilet?" pikir gadis cantik pemilik tubuh aduhai itu sambil terus melihat ke kanan dan kirinya demi menemukan sosok tinggi tegap berambut paling nyentrik itu. Dan hasilnya? Bingo! Sepertinya gadis berambut lembut itu telah menemukan kekasihnya yang sedang berdiri menepi dengan tampang kusut dan dahi berkedut-kedut. Tampak sekali bahwa pemuda tampan itu merasa sangat kesal entah mengapa. Padahal, seharusnya acara hang out bareng pacar sendiri menjadi moment paling romantis dan membahagiakan, apalagi first date seperti ini. Namun samakah dengan apa yang Ichigo rasakan saat ini?

"Kurosaki-kun! Kau ngapain sih melamun terus? Dari tadi aku memanggilmu lho…" pekik Inoue berlari menghampiri tempat kekasihnya berada. Dia tak lupa menenteng tas belanjaan yang berisi baju-baju baru yang barusan dia beli tadi. Maklum kan kalau anak gadis suka belanja banyak? Terlebih dia baru mendapatkan kiriman uang dari kakaknya yang bekerja di luar kota. Sekali-kali uang itu dihamburkan untuk bersenang-senang dong… begitu kan prinsip remaja zaman sekarang?

"Maaf Inoue, aku tadi merasa gerah dekat-dekat dengan kerumunan banyak orang. Makanya aku menyendiri di tempat ini untuk mencari udara," ucap Ichigo dengan kepala menunduk. Dia hanya tidak ingin kekasih spesialnya yang menyandang gelar primadona sekolah ini merasa kecewa padanya. Bukankah dia sangat perhatian sebagai seorang laki-laki? Betapa beruntungnya Inoue bisa meluluhkan hati seorang Ichigo agar tunduk patuh padanya seorang.

"Tidak apa-apa kok! Lagi pula, kau akan terbiasa dengan suasana ramai seperti ini nantinya, karena aku akan sering-sering mengajakmu kencan!" seru Inoue kegirangan dengan wajah ceria dan mata abu-abu samarnya yang berbinar cemerlang. Begitu berkilau dan cantik hingga mengundang tatapan kagum para pemuda di sekeliling mereka. Ichigo cemburu tidak tuh?

"Inoue-chan tetap cantik dan semangat ya, masih sama seperti dulu," tiba-tiba sebuah suara khas laki-laki menyahut dari belakang. Reflek keduanya menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara sensual tersebut. Dan betapa terkejutnya Inoue ketika melihat sosok tampan yang sudah berdiri di hadapannya.

"Lama kita tidak berjumpa, bagaimana keadaanmu dan kakakmu?" sapa pemuda bermata aqua green tersebut dengan nada ramah menyenangkan. Dia segera menjabat tangan ramping milik Inoue dengan senyum manis mengembang menghiasi wajah tampannya yang memancarkan aura hangat. Kemudian laki-laki berambut hitam spike itu menggeser pandangannya sedikit ke kanan, mata indahnya bertemu pandang dengan mata kecoklatan milik Ichigo cukup lama.

"Ini pacarmu yang ke berapa? Dia tampan dan tampak masih muda…" ucap pemuda tadi sembari mengamati Ichigo dari atas hingga bawah secara teliti. Tapi yang tidak pemuda ini sadari adalah akibat dari ucapannya yang barusan terlontar tadi. Dia tidak tahu kalau Inoue dan Ichigo saling membelalakkan mata mendengarnya. Namun pikiran mereka berdua berbeda dan sangat bertolak belakang.

"Siapa kau?" tanya Ichigo sedikit sinis. Dia mulai angkat bicara karena sudah bosan terus mendengarkan ocehan pemuda asing ini. Dasar orang tidak sopan dan tidak tahu aturan. Sebaiknya dia memperkenalkan dirinya terlebih dulu sebelum berbicara ngelantur seperti itu. Apalagi tatapannya seolah-olah menghakimi Ichigo luar dalam, memberikan tekanan kurang mengenakkan bagi pemuda berambut orens tersebut.

"Aku Shiba Kaien, pacar ketiganya Inoue dulu. Tapi sekarang sudah mantan kok! Kelihatannya dia cepat mendapatkan penggantiku ya, tak kusangka wajahnya pun mirip denganku." pemuda bernama Kaien itu mulai melancarkan basa-basi khas-nya dengan berlagak sopan dan sok ramah pada Ichigo. Inilah yang menjadi trik manjur untuk merayu gadis-gadis cantik yang sudah terpikat oleh ketampanannya.

"Kau sendiri siapa?" katanya melanjutkan. Tampak Kaien begitu antusias berbincang-bincang dengan Ichigo. Dia penasaran sekali dengan pemuda yang terlihat acuh dan cuek ini. Masa Inoue bisa kepincut dengan pemuda tampang preman begini? Apa istimewanya bocah dekil ini? Dompetnya atau body-nya?

"Aku Kurosaki Ichigo, kekasihnya Inoue. Senang bertemu denganmu yang merupakan mantannya, kuharap kau tidak berniat merebut Inoue kembali dariku," desis Ichigo sembari menyalami tangan besar milik Kaien yang ternyata cukup kuat.

"Ano… sebenarnya, ada apa kau datang kemari, Kaien-kun?" tanya Inoue gugup. Keningnya bercucuran keringat dingin yang mengalir sampai ke leher dan membuat pakaiannya basah oleh peluh. Wajah cantiknya sedikit lebih pucat dan tegang dari beberapa menit lalu sebelum bereuni dengan Kaien.

"Aku datang kemari untuk menemani temanku yang sedang berkencan dengan seorang gadis manis dan cantik! Sebagai mak comblang tepatnya sih… dan Kurosaki tidak perlu cemas soal Inoue, aku sudah tidak tertarik dengannya lagi kok! Ngomong-ngomong kau pacarnya yang ke berapa?" oceh Kaien dengan tenang dan santainya tanpa mempedulikan bagaimana rupa ketakutan dari gadis berambut karamel di sebelahnya ini.

"Pacar yang ke berapa?" ulang Ichigo tidak mengerti maksud dari pertanyaan pemuda tampan di depannya yang terlihat seperti senior-nya ini. Dia menaikkan sebelah alisnya tanda bingung.

"Hahahaha… dia polos sekali sih, Inoue. Pantas kau mau memacarinya, bocah lugu ini pasti tipikal yang setia denganmu kan?" tawa Kaien begitu senangnya. Ichigo semakin tidak paham kemana arah pembicaraan mereka berdua ini. Sementara Inoue sendiri sibuk memainkan ujung rambutnya dengan perasaan gelisah campur aduk.

"Kutegaskan sekali lagi, Kurosaki. Kau tidak tahu kan pacar Inoue lebih dari satu? Kurasa dia tidak mengatakan hal it ̶ "

"Ketemu juga akhirnya…" potong sebuah suara lain yang terdengar begitu rendah nadanya. Lagi-lagi baik Ichigo maupun Inoue dan Kaien harus memutar tubuh mereka untuk melihat orang yang asal menyahut obrolan mereka itu.

"Dasar pembohong, katanya kau akan menungguku di pusat game! Ternyata malah mampir ke butik yang sedang mengadakan diskon besar-besaran begini," dengus pemuda berambut putih cerah itu kesal. Long shirt biru tua yang dia gulung sebatas siku itu memperlihatkan tangan kekarnya yang mampu membuat para gadis berlomba-lomba mencuri pandang. Mata bak kucing liarnya terbingkai oleh lensa minus dengan elegan, bukan untuk gaya-gayaan. Topi baseball gothic yang menutupi sebagian rambutnya malah makin mempertebal garis ketampanannya. Tubuhnya pun begitu sick pack dan menggiurkan kaum hawa.

"Oh! Ada Inoue," kaget pemuda berambut putih itu setelahnya bergantian menatap Inoue dan Ichigo dengan tatapan kelewat sulit untuk ditebak. Segera dia mencengkeram lengan Kaien agak kasar dan menggeretnya mendekat padanya.

"Katanya mau bantu aku mendekati gadis itu! Sekarang bagaimana coba?" bisiknya dengan nada marah dan kesal berat. Dia menggaruk tengkuknya kasar dan tidak peduli. "Rukia sudah menunggu kedatangan kita di cafeteria lantai tiga, kau tidak kasihan dengannya?"

Ichigo membulatkan matanya begitu mendengar nama gadis yang tak asing lagi dengan kehidupannya, tengah di perbincangkan oleh dua pemuda mencurigakan kenalannya Inoue tadi.

"Rukia? Rukia siapa?" tanya Ichigo ingin memastikan bahwa Rukia yang mereka maksud bukanlah Rukia miliknya yang kasar dan tukang menganiaya orang seperti dirinya.

"Rukia teman kencanku dong! Namanya Kuchiki Rukia, memang ada masalah dengan gadis itu?" kali ini giliran pemuda bertopi tadi yang bertanya pada Ichigo. Kuchiki Rukia? Ya Tuhan! Memangnya ada berapa banyak gadis yang memiliki nama itu?

"Sebaiknya kita mampir ke food court dulu yuk! Kurosaki-kun pasti sudah menahan lapar kan?" ajak Inoue tiba-tiba setelah mencium gelagat kurang menyenangkan dari kekasihnya. Dia tahu kalau Ichigo sangat over protective terhadap anggota keluarganya. Begitu mendengar nama Kuchiki Rukia saja langsung panik begitu. Tapi sayangnya, ketiga pemuda itu mengacuhkannya dan sedang fokus dengan topik mereka tentang gadis Kuchiki Rukia itu.

"Apa dia… memiliki mata ungu tua dan bertubuh mungil?"

"Tepat sekali, bung! Dia berambut hitam pekat dengan bibir mungilnya yang ranum," tambah pemuda tadi dengan senyum merekah lebar. Dia menepuk-nepuk pundak Ichigo kasar namun tak peduli. "Ada baiknya kau makan siang bersama kami kalau ingin melihat gadis cantikku," tawar pemuda yang tidak diketahui namanya oleh Ichigo.

"Usulmu boleh juga, bukannya tadi Inoue juga berniat ke food court dulu? Lagi pula kau tidak akan rugi kalau mau ikut dengan kami. Siapa tahu kau malah akan terpesona dengan Rukia dan menjadikannya pacar kedua, hahahaha… benar kan Shiro-kun~" tukas Kaien bersemangat sembari menggerakkan lengan kekarnya untuk merangkul bahu Ichigo.

"Jangan memanggilku dengan nama bodoh menjijikan itu!" marah pemuda berambut putih tadi sambil menyikut perut Kaien.

"Hahahaha… Inoue-chan ikut yuuuk!" Kaien bukannya merintih kesakitan tapi malah mengedipkan matanya cabul pada mantan kekasihnya.

Gadis itukah yang mereka maksud? Rambutnya yang dipotong pendek sebatas telinga tampak membuatnya lebih cantik dari biasanya. Bibir mungilnya yang tipis dilapisi oleh lipgloss. Tubuh mungilnya yang begitu bersih terbungkus oleh loose blouse merah selutut tanpa lengan. Dan kaki mungilnya tertutupi oleh sepasang pantofel hitam dengan pita putih sebagai hiasan. Belum lagi bandana merah yang merapikan rambutnya itu, dia terlihat seperti malaikat kecil tengah tersesat di keramaian mall.

"Astaga! Itu kan Rukia!" pekikku sesaat kemudian. Jadi benar ya bahwa Rukia yang mereka maksud adalah keluargaku sendiri. Kedua laki-laki yang baru kutemui tadi menoleh bersamaan dengan sebelah alis terangkat.

"Kau mengenalnya? Kalau begitu baguslah…" pemuda bertopi tadi langsung melenggang menghampiri Rukia yang sedang duduk menunggu kehadiran seseorang. Tampak gadis itu mulai bosan menanti.

"Maaf ya aku terlambat, tadi ada sedikit gangguan perjalanan," pemuda tadi menyapa Rukia dengan nada lembut. Dia kemudian duduk mensejajarkan dirinya dengan Rukia yang hanya tersenyum simpul menanggapinya. Tangannya mulai terjulur untuk menepuk-nepuk puncak kepala Rukia dengan sayang dan itu membuatku panas tahu!

"Kau cantik, tidak aku sangka pula kau mau memakai gaun pemberianku, aku senang sekali lho…" gombalnya mulai sok perhatian begitu. Dari jarak beberapa meter dari mereka aku masih dapat mendengar obrolannya, jelas saja karena aku sudah pasang telinga lebar-lebar. Aku sejujurnya ingin ikut bergabung dengan mereka, tapi Kaien sialan itu mencegahku dengan alasan supaya aku tidak menghancurkan kencan mereka. Oh! Dan gerak-gerikku sekarang benar-benar mirip seorang penguntit!

"Dasar…" gumamku pelan. Pengelihatanku kupasang tajam jikalau ada sesuatu yang terlihat janggal, aku bisa langsung melihatnya dan mungkin mendamprat pemuda brengsek itu kalau-kalau Rukia dia apa-apakan. Dan sepertinya… dugaanku tidak meleset? Kurang ajar! Berani sekali bibir serigala miliknya menyentuh pipi Rukia. Dan hebatnya gadis itu malah tersipu malu dengan rona kemerahan yang menjalari pada pipinya. Grrrh… aku sudah tidak tahan!

"Hei, Kurosaki mau kemana? Inoue-chan, cegah dia dong!" panik Kaien berusaha menghentikan langkahku tapi gagal.

"Sepertinya kau sedang kencan ya, cebol." ketusku tiba-tiba datang merusak pemandangan mereka berdua. Aku jadi merasa seperti orang ketiga yang hobinya buruk, tapi cukup menyenangkan untuk membuat Rukia menegang hebat. Oh Tuhan! Bagaimana mungkin gadis tomboy sekasar dia yang suka berkelahi bisa berubah secantik ini hanya dengan permak seadanya? Dan dia rela membuang image kelaki-lakiannya demi tampil berbeda di depan pemuda busuk ini? Cih! Gerangan apa yang membuatnya berpikir ke sana? Apa sebegitu istimewanya kah pemuda ini dimatamu, wahai nona bermata ungu tua? Memikirkan kemungkinan itu saja sudah cukup membuatku menggertakkan gigi.

"Ichigo! Kau ngapain bisa ada di sini?" seru Rukia sambil mengarahkan telunjuknya ke depan mukaku.

"Tentu saja memata-mataimu bodoh! Kau pikir aku tidak khawatir apa? Kau pergi dengan seorang pemuda dengan pakaian begitu, kalau dia berbuat tidak senonoh bagaimana coba?" marahku sedikit membentaknya dan mengacung-ngacungkan jariku pada pemuda di sampingnya yang hanya terkikik geli tidak tahu mengapa. Hei, apanya yang lucu sih? Aku bicara serius nih!

"Kau ini tidak sopan! Jangan bicara kasar begitu dong! Lagi pula seharusnya kau mencemaskan Inoue yang kau acuhkan di belakangmu itu," makinya padaku. Aku memutar badannya dan melihat Inoue sedang berdiri dengan tampang aneh. Dia tampak sedih? Oh! Apa yang kulakukan sih?

"Hahahaha… Kurosaki ini sebenarnya pacaran dengan gadis yang mana sih?" gelak tawa Kaien menggelegar memecahkan keadaan yang sempat tegang. "Inoue-chan kan pacarmu, kenapa malah cemburu begitu melihat Rukia bersama pemuda lain? Ah~ dasar playboy!"

Apa? Barusan dia mengucapkan kata playboy? Sialan! Enak saja menyebutku dengan julukan menjijikan itu.

"Sudahlah… para gadis dan Kaien sebaiknya memesan tempat dan makanan dulu sana, aku ada sedikit urusan dengan Kurosaki sebentar." sela pemuda yang aku belum tahu namanya itu. Ketiga orang selain kami pun mengangguk setuju dengan sarannya dan berangsur pergi meninggalkan kami berdua dalam suasana hatiku yang sedang marah.

"Kurosaki juga menyukai Rukia kan?"

"Heh? Jangan bercanda ya, mana mungkin aku jatuh cinta padanya. Mau aku taruh dimana mukaku kalau sampai Inoue kubuang begitu saja," sangkalku kesal pada pemuda sok wibawa ini. Sikapnya itu malah mengingatkanku pada Ishida tukang jahit jenius itu, menyebalkan!

"Tidak usah mengelak begitu, lagakmu mudah terbaca tahu!" ucapnya melembut. Hiii… mengerikan melihatnya seperti itu. "Simpan dulu wajah cemburumu sampai pulang nanti, pastikan emosimu terkontrol saat melihatku bersama Rukia ya. Karena akan ada permainan menarik untuk memanas-manasimu, hahahaha…" seringainya melebar lantas melangkah menyusul gerombolan yang sudah sibuk membaca daftar menu.

Aku menggeram. Gerahamku saling beradu kuat menahan rasa marahku yang ingin menonjok muka pemuda berambut putih itu. Orang ini… bukan orang baik-baik!

Continued on chapter 4

Maksa banget nih! Susah ya buat Inoue jadi cewek centil gitu, soalnya image-nya kan lembut. Terus menurut kalian Kaien gimana? Aku kok merasa agak melambai #ngaku

Oya, aku mau mengucapkan selamat berpuasa nih bagi yang menjalaninya #sorry telat banget!

Dan adakah yang tahu siapa pemuda berambut putih itu? Ayo tebak! Ntar kalau jawabannya bener bakal aku kabulin request-mu! Udah ada sedikit bocoran tuh!

Mind to review? Review please…