Bleach © Tite Kubo

(flashback)

"Hari ini aku tidak ikut latihan sepak bola," ucap Ichigo pada teman di sebelahnya. Tangannya masih sibuk mengikat tali sepatu sebelum bersiap untuk pulang.

"Kau apa? Tidak, tidak bisa! Hari ini adalah latihan penting, kau mau kelas kita kalah dalam semi-final?" Ashido menarik lengan temannya, berusaha mencegah Ichigo untuk pergi. Ini aneh, pemuda berambut oranye itu memang tidak terlalu menyukai olahraga sepak bola, namun Ichigo tidak pernah keberatan setiap kali teman-temannya mengajaknya untuk ikut bermain.

"Masih ada kau dan Shinji 'kan? Kurasa itu sudah cukup untuk menang melawan kelasnya Ishida, mereka tidak setangguh lawan kita sebelumnya kok."

Ashido mendengus kesal, baginya kemenangan dalam pertandingan tarkam1 kali ini sangatlah penting mengingat ini adalah tahun terakhir mereka di sekolah. Dan kini pemuda tampan itu benar-benar marah. Ichigo merupakan striker andalannya, dia lebih gesit daripada Shuuhei dan babak lalu berhasil mencetak gol dari gawang milik Izuru. Kekosongannya pasti akan berdampak meski tidak begitu besar.

"Ayolah dude, hal apa yang bisa membuatmu meninggalkan teman satu kesebelasanmu ini? Pacar?" seloroh Ashido sekenanya.

"Memang," jawab Ichigo santai. Dilepaskannya cengkraman tangan Ashido pada lengannya yang terasa sedikit mengganggu, tetapi hal itu tidak lantas membuat Ichigo bisa bebas untuk pulang.

"Apa?!" Ashido berteriak spontan. "Kapan kau punya pacar? Kau jangan mencoba membohongiku dengan omong kosongmu untuk kabur dari latihan ya!"

Ichigo menyipitkan matanya kesal, memangnya lucu jika dirinya punya kekasih? Dia memang tidak terlalu keren, namun tidak ada salahnya untuk menggandeng seorang gadis bukan? Kata-kata Ashido tadi terus terang membuatnya tersindir.

"Dua bulan yang lalu aku menembaknya. Kau juga harus mulai mencari pacar dari sekarang, jangan menghinaku terus."

Ichigo segera beranjak dari ruangan club olahraga yang sudah sepi dari tadi, hanya ada mereka berdua. Walau banyak anak-anak yang menggemari kegiatan club olahraga, pada akhirnya mereka tidak mau menggunakan ruangan club sebagai tempat berkumpul karena lebih mirip dengan gudang. Bau pengap, banyak alat olahraga tumpang tindih tidak beraturan, dan tidak ada kursi yang bisa dijadikan tempat duduk jika belum menyingkirkan barang-barang yang ada di atasnya.

"Tunggu dulu, bodoh!" seru Ashido yang lagi-lagi membuat waktu Ichigo terbuang. Ichigo terpaksa memutar tubuhnya demi menghadap Ashido dan tak lupa melancarkan tatapan sinisnya pada pemuda berambut merah maroon tersebut.

"Sekarang apalagi?" dengus Ichigo, alisnya bertautan tanda dia benar-benar kesal.

"Pokoknya pertandingan semi-final nanti, usahakanlah untuk datang. Aku tidak menyuruhmu bermain full, kau akan kutempatkan di bangku cadangan untuk berjaga-jaga," ujar Ashido dengan mimik wajah serius.

Ichigo menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. Sebetulnya jika dibandingkan dengan dirinya sendiri, kemampuan Ashido jauh lebih baik dalam berlaga di lapangan hijau. Tidak ada yang bisa menyangkal, Kano Ashido adalah kapten tim inti kesebelasan sekolah mereka. Pemuda yang pernah naksir anggota keluarganya, Rukia, tersebut juga berhasil menjuarai lomba futsal tingkat kota tahun lalu. Seharusnya, tarkam seperti ini bukanlah hal yang sulit untuk dimenangkan olehnya.

"Dasar bodoh." Dan Ashido tahu, itu adalah cara temannya mengiyakan perintahnya. Orang seperti Ichigo memang bisa melakukan hampir olahraga apa saja yang menggunakan fisik dan stamina. Makanya Ashido merasa beruntung bisa satu kelas dengan pemuda multitalenta itu, percaya atau tidak semua anggota bidang olahraga menginginkan Ichigo untuk bergabung dan membantu club mereka.

"Memangnya kau mau berkencan dengan pacarmu itu?" tanya Ashido. Mau tak mau pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya. Sungguh, sulit untuk percaya bahwa Ichigo bisa mengalahkannya dalam hal asmara. Yang Ashido tahu, Ichigo dulu pernah terlibat cinta monyet dengan Tatsuki sewaktu masih menjadi murid SD.

"Tidak juga, Inoue hanya memintaku untuk membelikannya aksesoris kalung."

"Hah! Inoue katamu? Oi, Ichigo! Kau tidak sedang bercanda 'kan?!"

Ichigo yang mendengar teriakan Ashido segera mempercepat larinya sebelum pemuda itu bertanya macam-macam lebih jauh. Dan dia tidak yakin kalau Ashido bisa menjaga mulut tentang hal ini pada teman-teman yang lain besok. Abaikan saja masalah itu, yang pasti dia harus segera bergegas agar tidak pulang terlambat hari ini.


Baru beberapa langkah keluar dari gerbang sekolah, Ichigo merasakan getaran pada ponsel miliknya. Ketika dilihat, layar ponsel itu menyala menampilkan satu pesan yang baru saja masuk dari kekasihnya. Inoue, Ichigo tersenyum memikirkan pesan apa yang dikirimkan oleh gadis manis tersebut. Namun detik selanjutnya dia mengernyit, bisa jadi Inoue menyuruh Ichigo untuk membeli sesuatu yang lain selain dari pesanan aksesoris kalung yang diinginkannya.

Kurosaki-kun, sekarang sedang apa?

Ichigo tidak bisa membendung perasaan senangnya, bibirnya semakin tertarik memperlihatkan senyum menawan yang merekah. Kekasihnya menanyakan kegiatannya, selalu perhatian seperti biasa.

Dalam perjalanan menuju toko.

Ichigo segera mengirim pesan balasannya, dan selang tak berapa lama Inoue sudah mengiriminya pesan lain. Sepertinya gadis itu sedang memegang ponselnya saat ini, tumben sekali balasnya cepat.

Nanti aku ingin makan malam denganmu, Kurosaki-kun. Aku sudah memasak banyak makanan untuk kita berdua, singgahlah lebih lama.

Bibir pemuda berambut oranye terang itu mengerucut, dia bersiul ringan. Ketika menyebut nama Orihime Inoue, semua siswa-siswi di sekolahnya akan mengatakan manis ataupun cantik sebagai kesan pertama. Tapi dikalangan siswi-siswi seangkatan, menanyakan masakan Inoue adalah lain cerita. Dan Ichigo juga sudah tahu betul mengenai hal itu ketika mengajak Inoue bertamu ke rumahnya beberapa waktu lalu. Ramen Yuzu jadi terasa sangat asin dari biasanya entah berapa banyak garam yang ditambahkan oleh Inoue, untungnya hal tersebut tidak terjadi pada spaghetti meat ball milik Karin atau jika tidak maka bocah tomboi itu akan mengamuk. Menu pelengkap gyoza2 yang direncanakan Yuzu pun berakhir dengan bento onigiri berisi kacang merah, pisang dan cumi-cumi. Memakan menu makan malam dengan kadar karbohidrat sebanyak itu adalah hal aneh, namun rasa bento buatan Inoue adalah yang terparah yang pernah Ichigo makan selama ini.

Oke.

Ichigo membalas singkat. Menolak tawaran gadis itu adalah masalah besar baginya, tidak membalas pesannya lebih kurang ajar lagi.

Terimakasih, Kurosaki-kun. Aku menyukaimu.

"Ichigo-san?"

"Ah!" Ichigo terjingkat, sebuah suara berhasil mengagetkannya. Dengan sedikit kesal dia menoleh mencari sumber suara yang membuatnya secara reflek berteriak memalukan.

"Hanatarou!" gerutunya, "apa-apaan dengan kemunculanmu yang tiba-tibat itu!"

"Ahaha, maaf. Aku penasaran karena tidak biasanya kau pulang tanpa Ashido-san, terlebih kau tampak aneh karena tersenyum sendiri," ujar Hanatarou polos. Ichigo pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, merutuki dirinya sendiri karena terlalu asyik berkutat dengan ponsel dan pesan dari Inoue.

"Aku tidak ikut latihan hari ini," jawab Ichigo sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.

"Eh, kenapa?"

Ada jeda cukup lama sebelum Ichigo menjawab pertanyaan Hanatarou, tepatnya dia masih memikirkan alasan apa yang akan dia katakana pada temannya yang satu ini. Dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya seperti yang dia katakan pada Ashido. "Yah, ada urusan pribadi. Kau tidak perlu tahu."

"Ah, walaupun tidak latihan aku yakin kelasmu akan lolos ke babak final nantinya. Ishida-san tidak pandai menjaga gawang, kelas kami hanya punya Abarai-san. Mereka berdua yang paling bisa diandalkan, tetapi kurasa akan sulit bagi kelas kami. Dua orang itu tidak pernah bicara dan lebih sering melempar tatapan sinis satu sama lain."

Mendengar hal itu, pemuda tampan bertubuh tinggi itu menaikkan sebelah alisnya. "Kau ini bodoh ya, kau baru saja membocorkan informasi tim kepada lawan yang akan bertanding dengan kelasmu semi-final besok," cetus Ichigo membuat Hanatarou panik.

"Eh, eh, tolong anggap saja kalau aku tidak pernah mengatakan hal itu padamu, Ichigo-san!" Hanatarou semakin kelabakan.

"Tidak mungkin, aku sudah terlanjur mendengarnya." Perkataan Ichigo justru semakin menyudutkan Hanatarou. "Baiklah, sepertinya sampai sini saja, aku akan mengambil jalan barlainan denganmu."

"Kau tidak ke stasiun, apa kau tidak berencana untuk pulang?" tanya Hanatarou, lupa dengan kepanikannya barusan.

"Aku sudah bilang kalau aku ada urusan pribadi, bukan?" Dan Hanatarou mengangguk. "Yosh! Sampai jumpa, Hantarou! Dah!" pamit Ichigo kemudian berbelok membiarkan pemuda ringkih tadi memandangi punggung tegapnya yang semakin menjauh.

"Ichigo-san, hari ini dia memang bertingkah sedikit aneh," gumamnya pada diri sendiri. Mengendikkan bahu, Hanatarou segera memasuki stasiun agar tidak ketinggalan kereta untuk pulang.


"Sudah kubilang untuk tidak keluyuran hari ini, toko sedang ramai pelanggan."

Pemuda tampan itu berdecak malas, ibunya memang paling cerewet soal menjaga toko kelontong keluarga mereka. Sebagai anak tunggal, tidak ada lagi yang bisa dimintai tolong selain dirinya. "Satu jam saja, bu. Setelah itu aku akan segera pulang dan membantu," ujarnya berusaha membuat negosiasi dengan wanita cantik paruh baya tersebut.

"Kemarin kau sudah pergi seharian bermain basket, sekali-kali menurutlah untuk membuat ibu senang." Wanita berbulu mata lentik itu melotot sembari berkacak pinggang, melancarkan sedikit intimidasi pada putra tercintanya.

"Guh, baiklah," celetuk sang pemuda dengan nada malas. Senyum lega pun menghiasi wajah ibu muda tersebut, gembira karena anak semata wayangnya tidak membangkang. Lagipula, kekasihnya juga tidak bisa membantu karena harus meliput di luar kota selama beberapa hari ke depan. Jadi dia akan sangat kerepotan kalau harus melayani pelanggan sendirian di musim seperti ini.

"Totalnya 5120 yen. Terimakasih, datang lagi ya." Sang ibu beramah-tamah dengan pelanggan terakhir yang meninggalkan toko, meski begitu, tidak menutup kemungkinan sebentar lagi toko akan penuh pengunjung seperti sebelumnya.

"Ibu harus mandi, kau giliran jaga ya, sayang."

"Haaah, oke, bu…" keluhnya menuju konter kasir. Dari tempatnya berdiri dia bisa memandang keluar menembus jendela kaca toko, mengamati orang-orang berlalu-lalang tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya. Bosan, seharusnya tadi dia tidak usah pulang saja.

"Hm, kira-kira skornya sudah berapa ya? Hah, kalau sampai kalah besok mereka akan kuhajar!" gerutunya sambil lagi-lagi menguap menahan kantuk.

Klining.

"Selamat dat—kau?" Pemuda tadi begitu terkejut menyadari siapa pelanggannya kali ini, seorang yang beberapa tahun lebih muda darinya dengan warna rambut oranye yang khas.

Pemuda tadi, Ichigo, sama terkejutnya. "Shirosaki!"

"Haaah, ada yang bisa aku bantu?"


Ichigo mengambil sebuah kalung berbandul mutiara cantik yang berkilauan. Warnanya merah muda, akan sangat cocok jika dipakai oleh Inoue yang notabene berkulit putih. Dalam hal berdandan, selera Inoue memang lumayan bagus, terlebih pilihan harganya juga.

"Aku ambil yang ini," kata Ichigo meletakkan aksesoris kalung tadi ke konter kasir. Hichi mengamatinya sebentar sebelum memulai penghitungan. Tanpa perlu bertanya, dia yakin bahwa pemuda di hadapannya saat ini akan memberikan kalung tersebut pada Inoue.

"Harganya 1750 yen," ucap Hichi sembari memasukkan kalung tersebut ke dalam kotak liontin. Dan Ichigo merogoh dompetnya.

"Uangmu 1800 yen, kembali 50 yen. Terimakasih."

Saat Hichi menyerahkan plastik belanjaan Ichigo, tanpa dia ketahui pemuda berambut oranye tadi tak sengaja menjatuhkan pandangannya pada pigura yang terpajang dan tertata rapi di atas meja kecil di belakang konter kasir. Posisinya memang tidak begitu kelihatan dari tempat para pembeli membayar, tetapi sayang sepasang mata coklat madu milik Ichigo sudah terlanjur menangkap foto-foto tersebut.

"Apa… apa maksudnya?"

"Ha?" Hichi menyipitkan kedua matanya tanda tidak mengerti. Ichigo terlihat aneh, bahkan belum sempat Hichi meminta penjelasan, pemuda bermata hazel itu malah menerobos masuk ke belakang konter kasir dan mengambil salah satu pigura yang ada.

"Ini apa maksudnya?" tanya Ichigo mengangkat pigura tersebut tepat di hadapan wajah Hichi. Pemuda bermata emas mengkilat tersebut terbelalak, kulitnya yang putih semakin memucat karena tertekan. Pigura yang sedang diangkat oleh Ichigo memperlihatkan sebuah foto antara dirinya dan perempuan yang kini berstatus sebagai pacar Ichigo, dijelaskan dari segi mana pun tetap tidak akan mengubah pose Inoue yang merangkul mesra dirinya dari belakang.

"Yah, kurasa kau tidak buta untuk memahami siapa yang ada di dalam foto itu." Hichi menggosok ujung hidungnya yang mendadak gatal.

Ichigo naik pitam, tangannya mengepal. "Cepat jelaskan padaku!"

Hichi mendengus, memang seharusnya dia tadi tidak pulang ke rumah dan langsung bermain basket saja. Baru melayani pelanggan pertama, sudah dapat masalah yang tidak kecil seperti ini. "Aku tidak mau, kau pergi saja dan jangan menambah bebanku. Menjaga toko itu tidak mudah, tahu?"

"Apa?" Kesal, Ichigo segera menarik kerah kemeja lawan bicaranya.

"Oi, oi, aku tidak mau menjelaskannya karena nanti hasilnya akan sama saja. Meskipun aku jujur, kau pasti tetap menghajarku karena tidak terima, iya 'kan?"

"Kuh…" Ichigo melonggarkan cengkramannya, namun tidak melepaskannya. Apa yang dikatakan oleh lelaki di depannya ini barusan mungkin bisa saja terjadi.

Klining. Bel pintu berbunyi kembali, seorang pelanggan masuk dan mendapati mereka berdua dalam kondisi seperti ingin saling jotos. Hichi yang mengetahui keadaan tidak akan langsung membaik pun bergegas mendatangi pelanggan tadi setelah melepas cengkraman Ichigo. "Maaf, tapi kami sudah tutup, silakan datang besok lagi."

"Tetapi papan tandanya masih menunjukkan buka." Pelanggan tadi sedikit bersikeras, membuat kepala Hichi semakin pusing.

"Tidak, toko kami sudah tutup. Maaf atas perlakuan kurang mengenakkan ini." Hichi segera mendorong lelaki berjas coklat tua tadi keluar dari toko.

"Oi, kita selesaikan masalah kita di luar. Itu pun kalau kau masih ingin mendengar penjelasanku," ujar Hichi ditujukan kepada pemuda yang masih mematung dan memandangnya ganas.

"Maaf ya, bu. Anakmu ini memang tidak bisa diandalkan seperti biasa," bisik Hichi pelan. Dia menyeringai kecil ketika membalik papan tanda tokonya dari buka menjadi tutup. Setelah ini, ibunya pasti akan menghabisinya saat dia pulang nanti.


Hari sudah semakin petang, Hichi memutuskan untuk mematikan ponselnya sebab sedari tadi ibunya terus saja melakukan kontak panggilan. Yang terpenting, dia harus segera menyudahi masalah dengan pemuda buta cinta di sampingnya sebelum menghadapi kemarahan sang ibu.

"Kami memang pacaran jauh sebelum Inoue bertemu denganmu, tepatnya semester akhir kelas satu SMP." Hichi memulai percakapan mereka, kaleng soda yang masih dingin itu tinggal setengah isinya. Sementara minuman milik Ichigo tak tersentuh, masih utuh tersegel.

"Kalau kau menyimpan foto kalian, berarti kau masih menaruh hati padanya 'kan?" Ichigo mulai bersuara, mengakhiri kebisuannya sedari tadi.

"Heh." Pemuda berambut putih itu menyeringai. "Kalau sekarang kau bertanya dengan siapa aku jatuh cinta, maka aku akan menyebut nama saudarimu, Rukia."

Ichigo, pemuda tinggi itu tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. "Apa kau bilang?!"

"Tenanglah dude, kau mau repot-repot mengikuti ajakanku ke sini karena ingin mendengar kejelasan hubunganku dengan Inoue 'kan?"

Tertegun, Ichigo langsung bungkam tiba-tiba. Dia memang sangat menyayangi keluarganya, hanya dengan melibatkan nama gadis bermata ungu itu saja bisa dengan cepat mengubah mood Ichigo.

"Ho, kalau begitu dengarkanlah baik-baik!"

(flashback end)


Ruangan itu begitu sepi. Selain karena tidak banyak aktivitas tetangga pada malam hari, dua orang penghuni ruang makan itu tampak tak saling bicara. Inoue menghidangkan teh yang masih mengepul panas kepada pemuda tampan yang duduk berhadapan dengannya, tak lupa cemilan dalam toples yang kurang menjanjikan.

"Katakanlah sesuatu, aku merasa tidak berguna jika terus membuatmu bersedih seperti ini." Kaien, pemuda dengan senyuman menawan itu mulai gelisah. Dia menyeruput tehnya, dan kemudian meringis karena mengecap rasa sedikit masam dan pahit. Selain gula, apalagi yang ditambahkan gadis manis itu ke dalam campuran tehnya?

"Kalau kau ada diposisiku, apa yang akan kau lakukan, Kaien-kun?" Gadis berambut coklat susu itu bertanya nyaris berbisik. Tangisnya memang sudah reda, tapi sikap murungnya tak kunjung menghilang juga.

Kaien memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, apa yang akan dia lakukan? Dia seorang lelaki tulen, tertarik pada lebih dari satu gadis merupakan kodratnya. Jadi tak masalah apabila dia punya banyak perempuan, tetapi mengatakan hal itu tidak mudah mengingat lawan bicaranya adalah perempuan berhati rapuh seperti Inoue. "Hm, aku tidak tahu. Cara berpikir laki-laki dan perempuan itu berbeda."

"Ah," desis Inoue.

"Mungkin kau bisa memulainya dengan bertanya pada dirimu sendiri, kalau kau diharuskan untuk memilih, siapa yang akan kau pilih. Shiro atau Kurosaki?" Ide yang buruk, bukan sebuah solusi memang. Tapi paling tidak Kaien sudah mencoba.

"Aku…" Inoue menggigit bibir, dia tidak bisa. Dia memang mencintai Hichi, di sisi lain gadis itu juga tidak mau kehilangan Ichigo. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Kaien menghembuskan napas, dia haus dan ingin minum tetapi tidak bisa. Teh buatan Inoue akan meracuni kerja pencernaannya jika dia memaksakan diri untuk meneguknya sekali lagi. "Karena jawabanmu akan menentukan tindakanmu selanjutnya. Kau tak mungkin ingin bermusuhan dengan Kurosaki setelah apa yang pernah terjadi dengan Shiro, tidak 'kah begitu?"

Inoue merasakan sesak menyergapnya, napasnya terasa berat dan dia benci situasi ini. Matany menyayu, dia bisa merasakan air mata kembali berkumpul membuat irisnya yang berwarna abu-abu berkaca-kaca. "Aku tidak bisa, Kaien-kun," isak Inoue. Gadis itu kemudian menjatuhkan diri pada pelukan mantan kekasihnya. Sedang pemuda bermata hijau indah itu tak berbuat banyak, hanya balas memeluk.

"Shiro mencintai perempuan lain, kupikir kau harus melepasnya dan melanjutkan apa yang sudah berjalan sampai saat ini bersama Kurosaki," bisik Kaien. Kedua tangannya yang besar menangkup wajah cantik mantan gadisnya, Inoue tumbuh semakin mempesona dari terakhir kali mereka bertemu. Kaien bergerak mendekat secara sengaja, membuat gadis tersebut membelalakkan mata mengetahui maksud dari gerak tubuh pemuda tampan berambut sehitam malam itu. Pemuda yang seumuran dengan kakaknya itu kini tengah mencumbunya, melumat bibirnya selembut mungkin sama seperti ketika mereka masih berpacaran. Lidahnya yang piawai, menaklukan Inoue dalam hitungan detik. Tanpa sadar Inoue memposisikan diri dipangkuan Kaien, mengkangkanginya meski rok selutut miliknya tersingkap hingga paha.

"Atau kau bisa memilihku lagi, jika memang sulit bagimu untuk memutuskan diantara mereka berdua." Kaien berucap, disela napasnya yang terengah.

Inoue menunduk malu, pipinya bersemu. Senyum menawan Kaien memang selalu bisa membuatnya luluh, sedari dulu. "Kaien-kun…"

"Kau selalu membohongiku, tidak pernah puas meski aku sudah memberikan perhatian padamu."

"Maaf," gumam gadis bertubuh sintal tersebut. Dia tidak akan menampik kenyataan bahwa hatinya tidak bisa setia pada satu perasaan. Hal itu membuatnya menyadari sesuatu, seorang laki-laki seperti Kaien terlalu baik baginya.

Pemuda itu kembali menarik Inoue lebih dekat, "tapi aku selalu bertahan di tempat yang sama. Kau memang tidak pernah menyadari hal itu."


"Terimakasih atas makan malamnya, enak sekali."

Yuzu tersenyum riang begitu pula dengan Rukia, menyisakan Karin dan Ichigo yang mengernyit kesal. "Rukia-nee memang pandai memasak, kapan-kapan mampir lagi ya, Shirosaki-san!"

"Yuzu!" Gadis berambut kuning cream itu segera melindungi kedua kupingnya. Teriakan kakak dan saudara kembarnya jelas sekali terlalu berlebihan.

"Ahaha, oke, selamat malam," pamit Hichi. Ichigo segera menutup pintu sebelum Rukia sempat meneriakkan sesuatu. Kakak tertua keluarga Kurosaki tadi langsung memberi aba-aba pada kedua adiknya untuk beres-beres, sementara Rukia berkacak pinggang terganggu.

"Kau benar-benar tidak sopan, mengapa kau tidak bisa akrab dengan Hichi, Ichigo?"

"Tidak seharusnya kau dekat-dekat dengan orang itu, dia serigala berbulu domba," tekan Ichigo kesal. Baginya, Rukia terlalu berharga untuk dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Mungkin dia tidak akan keberatan bila Ashido mendekatinya, tetapi ini Hichi, si sialan itu sudah pasti tidak masuk dalam kategori pemuda bertabiat baik.

"Dia tidak seperti yang kau pikirkan, berhentilah menilai orang dari penampilan, Ichigo!" tandas Rukia tidak mau kalah. Rukia merasa risih, anggota keluarganya yang satu ini semakin sering mencampuri urusan pribadinya. Padahal dia tidak pernah keberatan ketika Ichigo dekat dengan Inoue.

"Tidak!" Ichigo memekik.

"Urusi saja kehidupanmu, Ichigo!" bentak Rukia sudah diambang batas. Yang Rukia sesali bukan karena dia berteriak pada Ichigo, namun lebih karena kata-katanya barusan membuatnya terbungkam oleh bibir pemuda tadi. Tubuhnya lemas, kedua pupil matanya melebar karena kaget. Pagutan Ichigo begitu lembut, dia tidak mengira ciuman pertamanya akan dilakukan bersama pemuda berambut oranye ini, keluarganya sendiri.


1Tarkam singkatan dari antar kampung. Umumnya pertandingan sepak bola/futsal antar kampung. Tetapi dalam cerita ini terinspirasi pertandingan futsal antar kelas di sekolah saya dulu dan saya yakin di tempat Anda juga tidak jauh berbeda.

2Gyoza makanan dari daging babi atau udang yang digiling dengan sayuran dan dibungkus adonan mirip pangsit. Biasanya dimasak dengan cara direbus/digoreng dan disajikan bersama saus sebagai cocolan. Di China namanya Jiaozi, sementara di Korea namanya Mandu.


Bagian flashback adalah saat-saat sebelum Ichigo berkunjung ke rumah Inoue. Dari sini aku berusaha untuk menampilkan hubungan Ichigo/Rukia dan Kaien/Orihime, bodoh sekali memang karena menurutku peran Ichigo/Rukia terlalu sedikit. Cerita ini sudah terlantar bertahun-tahun, dan saya malu saat membaca ulang chapter-chapter sebelumnya, sungguh amatiran. Cerita ini pertama kali saya tulis waktu tahun 2011, sedihnya sampai saat ini tulisan saya tidak banyak berkembang. Terus terang saya sudah tidak mengikuti manga Bleach lagi, entahlah karena ketertarikan saya turun. Malah saya berniat membuat cerita SnK, ada yang suka? Cerita SnK author Indonesia masih sedikit ya, tidak sebanyak Bleach.

Well, thanks a lot and see you next chapter.