The Cape of Storms by Reisuke Celestine

Chapter 2

Disclaimer: Belong to themselves

.

.

Warn: Pair macem-macem. Typos. Sho-ai (mungkin juga bakalan jadi yaoi dengan tambahan mature content—tergantung nanti juga sih :p). Dll.

.

.

"Jadi, intinya?"

Jungsoo menatap dua namja di depannya. Ada kekontrasan di antara mereka yang hampir saja membuatnya tertawa—kalau saja ia tidak ingat bagaimana salah satu di antaranya akan mengamuk hanya karena hal tersebut diungkit. Tapi, sungguh, mereka berdiri sejajar dengan tinggi badan yang jauh dari kata sejajar—bukankah itu agak… lucu?

Junmyeon dan Yifan.

Siapapun di mansion ini tahu, bagaimana tabiat Junmyeon kalau tinggi badannya dipermasalahkan—apalagi kalau dibandingkan dengan Yifan, minimal deathglare (yang sebenarnya tidak menakutkan, malah cenderung lucu) akan ia lancarkan.

Ah, ngomong-ngomong, bukan itu fokus utamanya.

Ini di kamar kosong dekat tangga menuju lantai dua. Hanya ada dirinya, Yixing, Kyungsoo, Ryeowook dan tentu saja Yifan dan Junmyeon di ruangan ini—tambahan lagi seseorang tak dikenal yang dibawa (sebenarnya diangkut—oleh Yifan tentu saja) ke dalam.

Berdasarkan penuturan Junmyeon (Jungsoo tidak berharap Yifan yang akan menceritakannya mengingat namja jangkung ini irit bicara), kalau mereka menemukan orang itu terjatuh—begitu saja—di halaman belakang. Alisnya tentu saja berkerut heran. Maksudnya jatuh itu… jatuh dari langit?

"Kan sudah kuceritakan semuanya, hyung. Memangnya kau berharap aku mengatakan apa lagi?" Junmyeon sedikit merajuk. Benar, memangnya si penyandang gelar tertua di mansion ini berharap ia menceritakan apa lagi?

"Apa kalian benar-benar tidak mengenalnya?"

Bukannya apa-apa, kalau orang yang mereka temukan ini bermasalah—entah dengan apapun—bisa saja malah akan membahayakan mereka kan?

"Aku—kami—tidak mengenalnya. Lagipula kalau hyung ingin protes kenapa kami membawa masuk orang yang tidak dikenal, harusnya hyung lakukan itu pada Yifan-hyung, kan dia yang menarikku untuk mendekatinya."

Jungsoo sebenarnya sedikit melupakan fakta dengan kebiasaan Junmyeon merajuk—sebenarnya itu dilakukannya hanya ketika ia sedang bersama Yifan, makanya mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya dengan tambahan bibir yang agak mengerucut ia malah mengerjapkan kedua matanya. Kalau saja namja bertubuh kurang tinggi itu belum menjadi pasangan siapa-siapa, mungkin akan banyak orang yang mengincarnya. Sayangnya, ia sudah punya pasangan—dan siapapun yang berusaha mendekatinya dengan tujuan untuk merebutnya harus bersiap-siap menghadapi naga yang bangkit dari tidurnya.

Jungsoo menarik nafas perlahan. Mungkin ia harus segera memikirkan untuk memiliki pasangan, daripada harus kepikiran hal-hal tidak jelas seperti ini.

"Yah, kurasa juga kita tidak akan tahu apa-apa mengenai orang ini kalau dia sendiri tidak bangun. Yixing sudah mengobatinya, dan kurasa harusnya tidak lama lagi dia akan terbangun."

.

.

Byungjoo mendengus keras. Sebenarnya bersuara sekeras apapun, tidak akan ada yang mendengarnya—untuk beberapa orang yang punya pendengaran yang lebih tajam dibandingkan orang biasa, mereka pasti akan lebih memilih untuk pura-pura tidak mendengarnya. Menyebalkan? Memang.

Ia memang sedang tidak ada kerjaan. Setidaknya ia tidak seperti Sanggyun yang sering jatuh tertidur di tempat dan saat-saat tak terduga. Tapi bukan berarti ia bisa seenaknya diminta menjaga seseorang yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali. Tadinya, kalau saja ia tidak bertemu dengan Jungsoo di koridor lantai tiga, ia akan segera mengubah dirinya menjadi burung lalu terbang ke desa di kaki gunung sana. Memang tidak ada yang dilakukannya di sana, tapi melihat banyak hal yang tidak mungkin bisa dilihatnya kalau diam di mansion, jauh lebih menyenangkan dan menarik daripada diam di antara kerumunan manusia yang sama seperti ini.

Byungjoo menarik kursi terdekat lalu meletakkannya tepat di sebelah ranjang. Batinnya masih merutuki siapapun yang menemukan orang ini dan malah ujung-ujungnya membuatnya direpotkan seperti ini.

Ia memilih untuk diam, memperhatikan namja yang ditaksirnya pasti lebih pendek darinya. Surai peraknya menarik perhatian—jarang-jarang ada seseorang memiliki warna rambut seperti itu. Selama di mansion ini, yang dilihatnya adalah mereka yang memiliki warna rambut beragam tapi perak hanya satu-dua orang saja.

"Rasanya… aku pernah melihatnya."

Déjà vu, mimpi atau hanya bayangan numpang lewat belaka—yang sebenarnya tidak pernah terjadi sama sekali.

Deg.

"Akh!"

Byungjoo memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Seperti ada yang meremasnya, walau ia yakin sebenarnya ia tidak sedang sakit apa-apa.

Sebenarnya siapa orang ini?

.

.

Hojoon melangkahkan kakinya perlahan. Koridor-koridor tinggi di mansion ini jadi terasa jauh dan luas, padahal ia hanya akan ke kamarnya yang bahkan hanya berjarak beberapa meter lagi. Firasat buruknya sejak pagi tadi—tepatnya sejak ia memimpikan sesuatu—semakin terasa hebat menderanya. Mungkin itu juga yang membuatnya tidak ingin melihat namja yang ditemukan oleh Junmyeon dan Yifan. Entahlah, rasanya seperti justru namja tak dikenal itu yang menjadi sumber segala firasat buruknya hari ini.

Namja berkacamata itu pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Tidak, bahkan mungkin sesekali ia masih sering merasakannya, walau penyebabnya jelas orang yang berbeda. Hanya saja, kalau untuk orang itu, ia masih setidaknya bisa sedikit percaya kalau tidak akan terjadi apa-apa yang disebabkan oleh orang itu—setidaknya dalam waktu dekat. Tapi… bahkan ia tidak bisa menjamin bahwa sekarang pun tidak akan terjadi apa-apa. Dalam mimpi ataupun penglihatannya yang lain, tidak ada satu pun masa depan yang tergambar yang berhubungan dengan namja tak dikenal itu—sekalipun ia berusaha untuk melakukannya.

Orang itu berbahaya, atau tidak berbahaya tapi bisa menimbulkan bahaya yang tidak terduga sama sekali.

Rasanya ingin mengatakannya pada seseorang. Tapi, bahkan ia sendiri masih tidak yakin dengan pemikirannya. Satu-satunya orang yang mau mendengarkannya sekalipun apa yang dibicarakannya tidak akan pernah terjadi sama sekali, adalah Jiho. Hanya yang jadi masalahnya adalah, namja yang lebih tinggi darinya itu sedang pergi—entah kemana. Toh orang-orang di sini hampir semuanya hobi menghilang begitu saja setelah acara makan.

"Hojoon-hyung."

Deg.

Sang dreamgazer tersentak. Suara yang tertangkap indera pendengarannya ia kenal dengan baik, hanya saja ia masih belum terbiasa dengan aura intimidasi yang terasa bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja. Ia menoleh, mendapati seorang namja yang tersenyum ke arahnya—walau Hojoon dan beberapa orang di mansion ini tahu kalau seulas senyum yang selalu ditunjukkan oleh orang ini adalah palsu.

"Hyosang." Hojoon menarik nafasnya perlahan, kentara sekali bahwa ia benar-benar merasa tidak nyaman harus berada di dekat orang ini. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Namja beriris gelap itu melangkahkan kakinya mendekati namja yang lebih tua darinya beberapa bulan itu. Masih dengan raut dan ketenangan yang sama, kontras dengan Hojoon yang sekarang malah menjadi gelisah.

Di mansion ini, ada beberapa orang yang masa depan dan jalan hidupnya tidak bisa Hojoon baca—sengaja ataupun tidak. Jongwoon dan orang ini termasuk salah satunya. Makanya, sekalipun ia ingin memprediksi apa yang sebenarnya diinginkan olehnya ataupun direncanakannya, niat itu selalu dengan sukses patah ketika sebuah dinding tak kasat mata menghalangi pandangannya.

Apa yang direncanakannya, bisa jadi adalah sesuatu yang membahayakan—mungkin, siapa yang tahu.

"Aku hanya kebetulan lewat saja, hyung, tidak ada maksud apa-apa."

Bohong. Walau tidak bisa membaca pikirannya, tapi bahkan sorot mata tidak bisa membohongi dengan apa yang tengah dipikirkannya.

"Sekalian, melihat-lihat. Kurasa akan ada banyak hal menarik yang akan terjadi mulai sekarang." Hyosang berjalan melewatinya yang masih berdiri di koridor.

"A—" Hojoon membulatkan kedua matanya. Sontak membalikkan badannya, hanya untuk mendapati udara kosong menyambut penglihatannya.

Sebenarnya ada apa? Apa ada sesuatu yang diketahui oleh Hyosang, tapi tidak olehnya?

.

.

Sehun melangkahkan kedua kakinya, menyusuri jalanan desa yang ramai oleh beragam aktivitas. Waktu hampir mendekati tengah hari dan keramaian desa di kaki gunung ini seakan tidak akan pernah berhenti hingga malam menjelang dan beragam mitos mengenai berbagai makhluk yang muncul di malam hari menguasai desa.

Siang adalah satu-satunya waktu yang bisa dibenci olehnya dan juga bisa sangat disukai. Pertama ia benci dengan matahari—mungkin tidak membunuh hanya terasa sedikit menyengat untuk makhluk sepertinya. Tapi hanya di waktu-waktu seperti ini sajalah ia bisa bebas berkeliaran tanpa orang-orang merasa takut atau menyadari siapa dirinya.

Langkah kakinya sedikit dipercepat hingga mata biasa tidak lagi bisa menangkap gerakannya. Tujuannya hanya satu, mansion di atas bukit. Bertemu seseorang untuk memberitahukan sesuatu.

Angin berhembus di jalan yang dilewatinya. Selembar kertas lusuh terbang terbawa angin, dengan gambar seorang pemuda bersurai perak yang diberikan status sebagai buronan kerajaan selatan tercetak jelas di salah satu sisinya.

.

.

Byungjoo masih betah berada di kamar itu. Sebenarnya juga kalau tidak diiming-imingi dengan sederetan hukuman dari iblis berkulit namja cantik yang merupakan salah satu yang tertua di sini, mungkin ia sudah pergi sejak tadi. Dijaga ataupun tidak sebenarnya tidak berarti apa-apa, tapi rasa khawatir berlebih beberapa orang di mansion ini membuatnya harus menjadi korban kesewenang-wenangan para penyandang gelar tertua, hanya karena status usianya yang berada di tengah mendekati yang termuda.

Ia masih bertahan di posisinya, sambil sesekali berpikir—dengan kepala yang kadang terasa pusing mendadak padahal ia yakin ia tidak sedang sakit. Rasa penasaran masih menggelutinya, kenapa ia bisa merasa familiar dengan orang tak dikenal ini, sementara dari sudut ingatan manapun yang pernah dimilikinya, tidak ada satupun yang berkaitan atau sepintas lalu dengannya.

Ia sedikit tersentak ketika sudut matanya menangkap gerakan jari si putri tidur (entahlah, mungkin karena melihat wajahnya yang sekilas mirip dengan perempuan ia langsung membuat perumpamaan itu). Membulatkan kedua matanya, ia langsung beranjak. Mengabaikan kursi yang didudukinya tadi terjatuh ataupun—

—iris abu-abu yang terbuka perlahan dan menatap ke arahnya pergi.

.

.

"Byungjoo-ah?"

.

.

To Be Continued—

.

.

a/n err, hai. Saya sebenernya sedikit cengo juga dengan apa yang saya tulis sekarang. Kayaknya sih, dari segi cast bakalan member ToppDogg yang bakalan sering muncul. Dan mengenai alur yang sedikit melambat, saya sengaja dengan itu kok. xD

Saya sedang hobi diem di fandom anime/manga jadi jarang ke SPI sekarang. :3

Segitu dulu deh. Ini dilanjut kalau niat saya sedang bagus—lagi. xD

See You~