Stronger
Disclaimer : Naruto is belong to Masashi Kishimoto, but Sasuke is MINE #dibakarsakura,
Warning : OOC, Aneh, Gaje, Typo and Miss Typo bertebaran dimana-mana, penulisan tidak menggunakan kaidah EYD yang benar #apadah
Author Bacot Area : Okeh, akhirnya setelah ehemsetengahtahunlebihehem Aphro menghilang dari dunia perfanfic-an Indonesia#eh?, saya balik lagi tapi kali ini bawa FF pair Sasusaku, hehehehe Enjoy this one guys, Mind To RNR Mina?
"Apa yang kau lihat saat ini pada diriku,
Itu bukan aku yang sebenarnya.
Dendam, amarah, keputusasaan,
keinginan kuat untuk memiliki mu lagi
tak bisakah kau lihat itu dimataku saat ini?
yang kau lihat pada diriku saat ini, hanya sebuah topeng
topeng yang ku gunakan untuk merebutmu kembali "
Uchiha Mansion, Tokyo
Mikoto menyambut kedatangan putra dan menantu kesayanganya itu di depan pintu utama mension Uchiha. Wanita itu tersenyum dan langsung menggendong Meiko saat gadis kecil itu menghampirinya. Kedua irish onyx-nya menatap putra sulung dan menantunya. Hana dan Itachi baru saja tiba di Uchiha Mension, rumah bergaya eropa classic ini sepertinya akan kembali ramai dengan kehadiran mereka, dan calon bayi kembar mereka. Mikoto tak bisa membayangkan kalau akhirnya akan ada mereka yang bisa mengalihkan perhatiannya, membuatnya lupa dengan perasaan sedih yang menyelimutinya selama empat tahun ini setelah kehilangan Sakura, menantu yang paling ia sayangi dan ia anggap sebagai putrinya sendiri, bahkan jauh sebelum Sasuke memperkenalkan gadis itu sebagai kekasihnya dan meminta restu untuk menikahinya. Itachi dan Hana, di tambah Meiko dan calon adik kembarnya yang akan segera lahir, Mikoto merasa hal itu akan cukup bisa membuatnya berhenti memikirkan menantunya yang sudah lama meninggal itu.
"Hinata? Lama tidak bertemu." Kalimat Hana barusan membuat Mikoto kembali tersadar dari lamunannya, seanggun dan sebaik apapun Hinata yang menjadi istri Sasuke saat ini, Mikoto tetap tak bisa menyayanginya seperti ia menyayangi Sakura. Baginya wanita itu membuat Sasuke terpaksa menikahinya dengan alasan Clasic kerja sama bisnis antar perusahaan, tapi toh akhirnya wanita itu tetap tak bisa membuat putranya bahagia. Sasuke hanya mencintai Sakura, tak peduli wanita secantik apapun yang berada di sampingnya, ia tak akan bahagia kalau itu bukan Sakuranya, melihat Putra bungsu nya seperti itu, mau tak mau Mikoto juga merasakan hal yang sama.
"Itachi, kita bicara di dalam saja, bagaimana?" Itachi mengangguk mengerti keinginan ibunya
"Bagaimana persiapan acara pesta ulangtahun pernikahan Okaa-sama dan Otou-sama?" Ujar Hana lalu wanita itu duduk di sofa tepat di sebelah Mikoto
"Semuanya berjalan lancar hanya saja aku masih belum menemukan designer baru untuk penampilanku besok, kau tahu Hana kau designer terbaik di keluarga ini dan selama kau di Paris, dan kematian Sakura aku merasa aku sangat-sangat tidak becus dalam hal ini. aku jadi tidak begitu percaya diri dengan gaun pilihanku sendiri saat harus ke acara penting dan pesta." Ujar Mikoto, Hana hanya tersenyum kecil
"Tapi ada Hinata-chan bukan, Okaa-sama?" Mikoto mengangguk
"aku tahu, tapi rasanya tidak sama, kalian berbeda. Sakura dan kau selalu hebat dalam membantuku berpakaian untuk acara resmi, bukan berarti Hina -chan tidak, dia juga memiliki selera Fashion yang bagus hanya saja aku tidak begitu cocok." Ujar Mikoto, memiliki menantu seperti Sakura dan Hana sama saja seperti mendapatkan dua orang anak perempuan yang selama ini dia inginkan. Kematian Sakura benar-benar membuatnya merasa kehilangan salah satu anaknya.
"Okaa-sama…" Mikoto menampilkan senyuman lembut keibuan yang biasa ia berikan kepada anak-anak dan menantunya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau Okaa-sama aku kenalkan dengan salah satu sahabat sekaligus rekan bisinisku di Paris? Dia seorang designer hebat, Okaa-sama pasti akan menyukai gaun-gaun rancangannya, dia juga bisa di jadikan penata busana Okaa-sama kalau Okaa-sama memang ingin meminta bantuannya." Mikoto berfikir itu tak ada salahnya, lagi pula tidak ada salahnya berkenalan dengan salah satu sahabat menantunya bukan?
"Okaa-sama aku akan kedapur sebentar untuk menyiapkan the dan beberapa cemilan." Mikoto hanya mengangguk singkat saat Hinata berdiri dari tempatnya dan meninggalkan ruang keluarga menuju dapur. Entahlah, bahkan dengan sikap baik Hinata selama empat tahun ini pun, Mikoto justru lebih sering bersikap agak dingin dan tak berminat untuk dekat dengan wanita bersurai indigo itu.
Hinata masuk kedapur dan mengambil beberapa cangkir untuk ia siapkan untuk minum teh bersama keluarga Uchiha. Telinganya sudah cukup panas mendengar pembicaraan singkat Hana dan Mikoto tadi. dia cukup tahu ibu mertuanya itu sangat tidak menyetujui pernikahan mereka, bahkan Fugaku pun menyetujuinya dengan terpaksa, kalau saat itu bukan karena ia berhasil memanipulasi Saham perusahaan Uchiha dan membuatnya melemah, membuat perusahaan itu berada di ambang kehancuran dan hanya Perusahaan Hyuga yang berani menawarkan bantuan, mungkin Sasuke tak akan membujuk kedua orangtuanya untuk menyetujui pernikahan mereka. Bahkan Sasuke juga menolak bantuan Naruto dari Namikaze Group untuk membantunya.
Hinata tak tahu lagi dia harus bagaimana, kalau dia hanya diam saja dan pura-pura bersikap baik terus menerus, ia tak akan tahan. Tak hanya Mikoto bahkan sampai detik ini tak satupun dari keluarga Uchiha bisa menerimanya. Sosok sempurna Sakura tetap menjadi nomor satu bagi mereka. Hinata membawa nampan berisi teh dan beberapa cemilan untuk mereka nikmati bersama. Hinata kembali duduk di sebelah Hana, ia memandang iri istri dari Itachi Uchiha itu. Mereka juga menikah dengan alasan yang sama seperti Hinata dan Sasuke, tapi entah bagaimana caranya Itachi bisa belajar mencintai wanita itu dan melupakan Konan gadis biasa yang sempat menjadi kekasihnya. Hinata juga tak habis fikir bagaimana mereka bisa hidup bahagia sementara ia dan Sasuke tak pernah merasa sebahagia itu semenjak mereka menikah, terlebih lagi Hinata juga ingin memiliki anak dengan Sasuke. Sama halnya dengan Hana yang mengandung anak Itachi, ia ingin mengalami hal itu juga.
Hinata menuangkan teh untuk Mikoto dan memberikannya, sementara Hana menuangkannya untuk Itachi dan dirinya sendiri. Hinata hanya diam dan mendengarkan percakapan Itachi, Hana dan Mikoto, sesekali ia merasa cemas jika hal itu menyinggung tentang Sakura. Bila orang yang menelfonnya semalam itu benar-benar Sakura dan Sakura yang sebenarnya masih hidup dan Itachi tahu tentang hal itu, ia hanya takut Itachi akan membuka semuanya dihadapan Mikoto. Ia sama sekali tak siap dan tidak akan pernah siap jika ia harus kehilangan Sasuke untuk selamanya.
"Hinata-chan,bagaimana kalau kamu ikut kami untuk membeli gaun di boutique milik rekan bisnisku? Yah sebenarnya boutique itu adalah boutique gabungan milik kami berdua." Ujar Hana
"baiklah, Nee-san." Hana hanya memberikan senyuman manisnya kepada Hinata, Itachi berdiri dari tempat duduknya dan pamit kepada Mikoto dan Hinata untuk beristirahat di kamarnya.
Sasuke masih asik berkutat dengan setumpuk laporan-laporan keuangan yang harus ia periksa dan tanda tangani sebelum Itachi memeriksanya besok pagi. Laporan perusahaan terutama laporan keuangan ini harus ia periksa hati-hati, besok adalah waktunya ia memberikan posisi pimpinan perusahaan ini kepada Itachi, dan dia akan kembali ke posisinya semula. Ia tidak sabar lagi kembali ke posisinya, menjadi pimpinan perusahaan cabang utama menggantikan Itachi selama empat tahun membuatnya lelah, tapi jika ia berhenti ia mungkin akan kembali terjebak dalam lubang kelam bernama depressi. Sakura dulu selalu ada untuknya dalam keadaan apapun, wanita itu selalu ada untuk menemaninya namun sekarang ia rasanya enggan untuk segera pulang dan berhadapan dengan Hinata dalam jangka waktu panjang. Mungkin dia harus mencoba seperti Itachi juga, membangun perusahaan sendiri bersama Naruto seperti tawaran pria itu beberapa waktu lalu.
Sasuke menyandarkan tubuhnya dan melepaskan kaca mata yang sejak tadi ia gunakan, semua ini membuatnya frustasi. Sakura, telfon yang di terima Hinata, telfon yang tanpa sengaja ia dengar. Hal itu mau tak mau membuatnya kembali berani berharap kalau kemungkinan besar Sakuranya masih hidup sekarang, tapi yang membuatnya ragu apa mungkin Hinata adalah dalang di balik semuanya? Kenapa semuanya terdengar tidak masuk akal. Sasuke ingin sekali mencari oranglain untuk di kambing hitamkan tapi kenapa rasanya perasaannya sangat kuat mengisyaratkan kalau Hinata adalah dalang di balik semuanya..
"Sasuke-Sama" Sasuke menatap bingung sahabat Blonde nya sekaligus sekertarisnya berlari panik masuk kedalam ruangannya.
"ada apa ino?" Ujarnya, Ino hanya memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepadanya.
"Seseorang mengirimnya pagi ini, dia tak memberi tahu siapa namanya, dan dalam paket ini tidak ada alamat jelas pengirimnya. Aku berusaha memastikannya dengan membuka isinya dan ini… tentang Sakura." Mendengar nama mendiang istrinya bungsu Uchiha itu langsung merebut amplop yang di bawa oleh Ino.
"Kau keluarlah." Ujar Sasuke, Ino ingin sekali membantah, pasalnya Sakura juga merupakan sahabatnya, tapi melihat Onyx Sasuke berubah menjadi semakin tajam membuat wanita itu memilih untuk menuruti kemauan bungsu Uchiha itu. Sasuke duduk di Sofa yang berada tepat di tengah ruangannya, jari-jarinya bergerak membuka perlahan amplop Coklat itu dan mengambil beberapa lembar foto dan selembar kertas.
"Berhati-hati dengan wanita yang berada di sampingmu saat ini. dia bisa melakukan apapun, termasuk membunuh siapa saja yang dia anggap berbahaya dalam keluarga Uchiha." Sasuke tak mengerti dengan apa yang dimaksud, kedua tangannya beralih memandang foto-foto yang terdapat dalam amplop coklat tadi. kedua matanya terbelalak mendapati foto-foto pertemuan Hinata dan Sakura, sepertinya foto ini diambil beberapa jam sebelum kecelakaan empat tahun yang lalu terjadi.
Siapa pengirim surat ini, bagaimana dia bisa mendapatkan foto-foto ini. Sasuke meremas surai ravennya. Sakura. Kenapa dia tidak muncul saja dan menyatakan kalau dia memang masih hidup, kenapa dia harus membuatnya melanggar sumpahnya untuk tidak menikahi oranglain. Kenapa dia tidak kembali kepadanya, masuk kembali dan mewarnai hidupnya, jika Sakura selamat bagaimana dengan putra mereka. Sakura, apa dia benar-benar tidak tahu bagaimana menderitanya Sasuke saat tahu dia kehilangan mereka berdua? Sakura dan Calon bayi mereka. Hinata, kalau wanita itu benar-benar terlibat, Sasuke tak akan tinggal diam untuk hal ini.
Hinata memandang ngeri layar Ponselnya, sebuah foto yang bisa menghancurkannya baru saja ia terima melewati E-mail. Tubuhnya bergetar hebat, bagaimana mungkin seseorang bisa mendapatkan foto ini dan mengirimnya lewat E-mail. Hinata berani bersumpah kalau Neji dan Hanabi berhasil menyiapkan rencana mereka dengan sempurna, lalu bagaimana bisa ada orang yang mendapatkan gambar ini. Wanita itu kembali tersentak saat ponsel dalam genggamannya berdering. Nama Hanabi Hyuga tertera di layar ponselnya, tanpa fikir panjang Hinata mengangkatnya.
"Ada apa?" Ujarnya panik
"Nee-chan ini gawat, aku baru saja kembali dari kencanku dengan Konohamaru hari ini, aku melihat dia, aku bersumpah aku tidak berbohong sama sekali. Wanita itu masih hidup." Tubuh Hinata semakin bergetar hebat.
"Bagaimana bisa Hanabi? Kau bilang kau dan Neji-nii berhasil menjalankan rencana kita dengan sempurna, bagaimana mungkin wanita itu masih hidup!" Bentak Hianta, Hanabi hanya bisa diam tak menganggapi kemarahan kakaknya.
"Aku juga tidak tahu, Nii-san yang mengurus masalah itu, aku hanya bertugas memancing Sakura untuk menemuimu saat itu." Uja Hanabi tak mau kalah
"kita bertemu besok pagi, beritahu Neji-nii kita akan minta bantuan untuk menyelidiki wanita itu pada temanku, kalau dia benar-benar Sakura, maka tak hanya harus membunuhnya sekali lagi, tapi kita juga harus melenyapkan Itachi dan Istrinya.
"Nee-chan! Kau sudah gila mau membunuh Itachi-san dan Hana-san juga? memangnya apa salah mereka? sejak awal tujuan kita hanya membunuh Sakura Haruno dan membuatmu menjadi satu-satunya istri Uchiha Sasuke!" Ujar Hanabi
"Kalau kita tak membunuh mereka maka tak hanya aku tapi kau dan nii-san juga akan hancur, aku tak mau menghabiskan separuh hidupku di dalam penjara!" Ujar Hinata
"akan kita bicarakan soal itu besok. Kalau begitu besok kita bertemu di Café tempat biasa kita berkumpul? Baiklah, aku akan bicarakan itu dengan Neji-nii nanti." Ujar Hanabi
"kalau begitu sudah dulu, aku harus menemani kaa-sama dan Hana-nee untuk membeli gaun untuk acara besok malam." Ujar Hinata, sebelum memutus sambungan telfon.
Hianta kembali mematut wajahnya di cermin, lalu keluar dari kamarnya dan menemui Kakak Ipar dan Ibu mertuanya yang sudah menunggu di lantai Satu rumah keluarga Uchiha. Hinata memandang Hana dari atas sampai bawah, penampilan wanita yang tengah hamil delapan setengah bulan itu tetap terkesan Elegan dan Cantik sekalipun perutnya terlihat semakin besar. Tak heran salah satu majalah Fashion dan Mode terbaik di Paris menobatkan Hana Uchiha sebagai the hottest momma. Dalam kenyataannya wanita ini memang selalu berhasil membuat Hinata tak percaya diri saat berjalan bersamanya.
"Kau sudah Siap, Hianta?" Ujar Hana, Wanita bersurai indigo itu mengangguk lalu mengikuti Hana dan Mikoto yang berjalan mendahuluinya dan masuk kemobil telebih dahulu.
Hana memandang adik Iparnya itu, sejak tadi wanita bersurai indigo itu tak berhenti mengecek ponselnya, entah apa yang ia lakukan tapi sepertinya, Sakura sudah memulai permainannya dengan menekan Hinata secara perlahan. Hana hanya bisa menahan tawanya membayangkan wajah panik Hinata, pasti menyenangkan melihatnya secara langsung.
"Dokter di paris bilang anak kalian kembar bukan, Hana-chan?" Hana mengangguk sambil tersenyum kepada Mikoto.
"benar, okaa-sama, dokter juga bilang mereka sehat." Ujar Hana, Mikoto mengelus perut buncit menantunya itu.
"dan jenis kelaminnya?" Tanya Mikoto penasaran, Hana ikut mengelus lembut perutnya
"Laki-laki Okaa-sama ." Mikoto terlihat sangat antusias saat mendengar penuturan menantunya.
"Itachi-kun pasti sangat senang sekali ya, Hana-chan dia selalu menginginkan memiliki anak laki-laki kembar." Ujar Mikoto, Hana hanya mengangguk membenarkan. Hinata merasa terasingkan sekarang, semejak Hana menginjakkan kembali kakinya di mansion Uchiha, Mikoto semakin mengabaikannya, kedatangan Itachi dan keluarganya itu membuat Hinata harus bekerja keras dari awal lagi untuk mendapatkan perhatian dan hati mereka sekali lagi.
Mereka tiba di H&G boutique, Hana dan Mikoto masuk kedalam terlebih dahulu sementara Hinata masih terdiam di luar boutique memandang papan bertuliskan H&G boutique sekali lagi. label pakaian ini sudah sangat terkenal di seluruh dunia sejak tiga tahun yang lalu, terutama di Eropa, Hianata jadi penasaran dengan sosok Designer bernama Guilliana Akasuna yang sudah banyak merancang pakaian bagi aktris dan aktor asing di Eropa dan Hollywood tetapi tetap menolak menunjukkan dirinya di depan media massa. Ia ingin melihat wanita itu secara langsung. Tanpa ragu lagi Hinata melangkah masuk dan mendapati mertuanya bersama Hana tengah menunggu seseorang diruang tunggu khusus, tak lama kemudian Hana beranjak dari tempatnya duduk dan meninggalkan Mikoto sendirian bersama Hinata yang kini tengah duduk di sebelahnya. Tak lama kemudian Hinata melihat Hana kembali bersama seseorang. Kedua irish lavendernya terbelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, jika Hana dan Mikoto tak ada di sini dia pasi sudah berteriak kearah wanita ini. sementara Mikoto, kedua Irish Onyxnya tak percaya dengan yang dilihatnya.
"Sa… Sakura…" ujarnya, Wanita itu memandang bertanya kearahnya lalu tersenyum ramah.
"Ah… Mikoto-Sama , anda ibu mertua dari Hana-senpai dan ibu kandung dari Itachi-senpai bukan? Perkenalkan saya Guilliana Akasuna." Ujarnya, apa-apaan ini, Hinata berani bersumpah wanita ini bernar-benar mirip dengan Sakura, hanya saja dia berbeda. Dia terlihat jauh lebih anggun, cantik, dan berkelas. Benar-benar bukan Sakura yang ia kenal.
"Anda pasti, Adik Ipar Itachi-Senpai bukan? Silahkan masuk, saya akan bantu kalian memilih gaun." Ujar wanita itu sebelum masuk kembali kedalam boutique bersama mereka. Hinata dan Mikoto duduk menunggu diruangan kerja Guilliana, sementara Guilliana dan Hana sibuk memilih gaun yang mereka akan kenakan. Hinata berani bersumpah, pandangan Guilliana saat melihatnya bukan pandangan kagum yang biasa di berikan orang-orang kepadanya. Ia bisa membacanya dengan jelas, pandangan itu adalah pandagan mengejek dan merendahkan, dengan suara selembut mungkin yang terdengar mengancam saat menyapanya tadi. Siapa wanita itu sebenarnya? kenapa ia bisa semirip itu dengan Sakura? Hinata harus menyelidikinya dan untuk sementara ini, dia tidak boleh membiarkan Sasuke bertemu dengan wanita ini. kalau memang wanita ini mengancam posisinya, maka dia juga harus mati.
Sakura memandang Hianta yang terlihat cemas dari balik rak berisi gaun-gaun malam bermodel elegan hasil rancangannya. Dia tahu wanita itu sangat gugup karena baru melihatnya pagi ini. Sakura benar-benar puas melihat wajah pucat pasi Hinata saat melihatnya tadi. ini baru awal dari permainan mereka, Sakura benar-benar tak akan melepaskan Hinata, Sampai ia berhasil membuat wanita itu menderita, dan sampai ia berhasil merebut kembali apa yang seharusnya dia miliki.
TBC. Huaaa,saya tahu pasti bener-bener aneh kan chapter dua nya? Saya minta maaf kalau chapter ini terkesan sangat panjang dan bertele-tele, heheheh, dan untuk beberapa Flame yang cukup mengganggu dan memancing fan war kemarin. Saya minta maaf untuk Fans Hianta yang saya Bashing di dalam Fanfict ini, saya sungguh tidak bermaksud untuk membashing tanpa alasan, saya hanya ingin menonjolkan kebencian Sakura melalui cara bicaranya, hanya itu saja. Dan jika memang anda tidak menyukainya dan berniat memberi Flame kepada saya, sebaiknya anda langsung mengirim PM kepada Saya, itu terdengar lebih baik. Toh saya akan tetap mendengarkan Saran dari anda jika memang Saran itu membantu. Sekian.
Aphrodite Girl 13
