Stronger

Disclaimer : Naruto is belong to Masashi Kishimoto, but Sasuke is MINE #dibakarsakura,

Warning : OOC, Aneh, Gaje, Typo and Miss Typo bertebaran dimana-mana, penulisan tidak menggunakan kaidah EYD yang benar #apadah

Author Bacot Area : Okeh, akhirnya setelah ehemsetengahtahunlebihehem Aphro menghilang dari dunia perfanfic-an Indonesia#eh?, saya balik lagi tapi kali ini bawa FF pair Sasusaku, hehehehe Enjoy this one guys, Mind To RNR Mina?

"Apa yang kau lihat saat ini pada diriku,

Itu bukan aku yang sebenarnya.

Dendam, amarah, keputusasaan,

keinginan kuat untuk memiliki mu lagi

tak bisakah kau lihat itu dimataku saat ini?

yang kau lihat pada diriku saat ini, hanya sebuah topeng

topeng yang ku gunakan untuk merebutmu kembali "

Uchiha Mansion

Sakura memandang puas hasil karyanya kali ini. Mikoto Uchiha terlihat benar-benar berbeda dari biasanya, Make up yang di buat oleh Sakura membuatnya tampak terlihat lebih muda dan segar dibantu dengan tatanan rambut yang dibiarkan tergerai bebas dengan sedikit membuatnya keriting di bagian bawah. Sakura membantu Mikoto Uchiha memakai Gaun yang sudah ia pilih kemarin dan memadu padakan dengan sepasang anting berlian karya Hana Uchiha, Sakura merasa masih ada yang kurang melihat penampilan ibu mertuanya itu, lalu mengambil sebuah kotak beludru dan mengeluarkan sebuah gelang berlian yang terkesan simple dan melingkarkannya di pergelangan tangan Mikoto, dan Voila inilah Uchiha Mikoto yang akan memukau semua hadirin di pesta ulang tahun pernikahannya yang ke tigapuluh tahun bersama Uchiha Fugaku nanti.

"Guilliana-Chan apa ini tidak berlebihan?" Mikoto masih memandang tak percaya pantulan bayangan di cermin ini adalah dirinya, Sakura tersenyum lalu menggeleng

"Baa-san sangat cantik." Ujar Sakura, ia benar-benar berhasil menonjolkan kecantikan Uchiha Mikoto yang selama ini tersembunyi

"Terimakasih." Ujar Mikoto, Sakura mengangguk lalu wanita itu berpamitan sebentar untuk gantian merias dirinya sendiri.

Sakura memoleskan make up yang selalu bisa membuatnya tampil jauh lebih percaya diri dari sebelumnya. Sebuah lipstick berwarna merah cherry ia gunakan di bibirnya. Wanita itu mengambil gaunnya dan mengenakannya. Sakura memandang pantulan bayangannya di cermin, make up yang sempurna, dan Gaun berwarna putih gading berlengan panjang dan transparant yang menunjukkan sebagian besar punggung putihnya dan belahan tajam di bagian roknya membuatnya tetap terlihat cantik, elegan, dan berani. Inilah sosok Sakura Uchiha yang baru, sosok Sakura Uchiha yang di kenal sebagai Guilliana Akasuna.

Mikoto menatap tak percaya wanita yang keluar menggunakan gaun berwana putih gading itu adalah Guilliana Akasuna, surai merah jambunya dibiarkan tergerai dan bergelombang. Wanita cantik itu berjalan mendekati Mikoto yang sudah menunggunya di depan Mobil mewah miliknya yang akan mengantarnya ke Ball Room mewah Hotel milik Keluarga Uchiha.

"Kau anggun sekali, Guilliana -chan…" Sakura tersenyum mendengar pujian dari mertuanya itu

"Anda jauh lebih Anggun dan cantik, Baa-san." Ujar Sakura, Mikoto menggenggam tangannya. Seandainya saja saat itu Ia bertemu dengan Guilliana sebelum Sasuke menikahi Hinata dan keluarga Hyuga tidak membuat seluruh keluarga Uchiha dalam kondisi terjepit, ia pasti sudah menikahkan Guilliana kepada putra bungsunya itu. Bagaimana bisa wanita cantik ini begitu mirip dengan Sakura, meskipun mereka memiliki bayak perbedaan dalam beberapa hal.

"baa-san?" Suara lembut Guilliana berhasil membuat Mikoto tersadar dari lamunannya

"Baiklah, Ayo kita berangkat sekarang." Ujar Mikoto lalu menggandeng tangan Sakura mengajaknya masuk kedalam mobil mewahnya itu. Sakura Menghela nafasnya sejenak, ia harus bertemu Sasuke hari ini, dia harus bisa menahan dirinya sendiri untuk berpura-pura di hadapan suaminya kali ini. Sial, seandainya si jalang itu tidak membuatnya harus terjebak dalam keadaan ini dia pasti sudah hidup bahagia dengan Sasuke-nya sekarang.

Sakura menyusul Mikoto yang sudah terlebih dulu masuk kedalam mobil mewahnya, Wanita merah muda itu membalas senyum lembut Mikoto sekilas, lalu memandang kearah jendela melihat pemandangan yang mulai berubah setelah mobil mulai bergerak, membawanya ketempat dimana ia akan menemui Sasuke Uchiha. Pria yang ia rindukan.

Uchiha Corp

Sasuke masih berkutat dengan dokumen-dokumen yang baru saja di serahkan Sasori pagi ini, pertemuannya selama satu jam saat jam makan siang itu berhasil membuatnya tertarik dengan kerjasama yang di tawarkan perusahaan Akasuna kepadanya dan Kakaknya Itachi. Ia tahu Itachi pasti sudah banyak bercerita tentangnya pada Sahabat merahnya itu, sampai-sampai Sasori sepakat bergabung dengan perusahaan mereka untuk membangun sebuah proyek baru yang di tawarkan oleh perusahaan asing, Sasuke bisa melihat dengan jelas hasil kerja sama ini, kerja sama kali ini jauh lebih menjanjikan dari pada bekerja sama dengan segerombolan Tikus busuk Hyuga yang terlampau sering menekannya.

Dering ponselnya membuat perhatiannya teralihkan, pria berwajah tampan itu memandang kearah ponselnya sebelum menekan tombol berwarna hijau tanpa harus melihat nama si pemanggil

"Sasuke-kun kau dimana?" Sasuke tahu ini ibunya, pria itu menyandarkan tubuhnya berusaha mencari kenyamanan dari kursi berlengan yang ia gunakan

"Aku masih di kantor Okaa-sama, ada apa?" Tanya Sasuke, ia bisa mendengar ibunya menghela nafas di seberang sana

"Kau tidak akan datang?" Sasuke mengangkat alisnya bingung, di detik berikutnya pria itu menepuk dahinya sendiri, lupa jika hari ini ia harus menghadiri acara ulangtahun pernikahan orangtuanya/

"Tidak, aku pasti akan datang Okaa-sama. Sepertinya akan terlambat sedikit." Ujar Sasuke

"hn... Baiklah, tapi Sasuke-kun jangan ngebut saat mengemudi nanti ya? Tidak apa-apa kalau kau memang tidak bisa pulang tepat waktu, Okaa-sama paham. Tadi siang kakak mu menelfon, kalian sudah sepakat bekerja sama dengan perusahaan Akasuna, apa itu benar?" Sasuke mengangguk

"Hn." Ujarnya, kedua tangan pria itu kembali mengambil dokumennya setelah memasang headset ketelinganya terlebih dahulu

"Jadi bagaimana?" Tanya ibunya tak sabar, Sasuke tersenyum kecil. Ia tahu sejak ibunya mendengar semua keluh kesahnya sehari sebelum pernikahannya dengan Hinata, ibunya itu selalu berharap hal yang terjadi padanya akan cepat berakhir

"Aku setuju bekerja sama dengan mereka. Hanya Saja, bukan Sasori-senpai yang turun langsung. Ia bilang akan menyerahkan proyek besar ini pada adiknya, Guilliana. Okaa-sama pernah menceritakan wanita itu padaku kan?" Jelas Sasuke

"ya, dia di mobil bersama ku sekarang, Sasuke-kun. Mau bicara dengannya?" Sasuke menggeleng dan tersenyum geli sendiri

"Tidak usah Okaa-sama. Okaa-sama bisa mengenalkan ku nanti saat aku tiba di pesta. Jadi kalian pergi kepesta bersama?"

"Ya begitulah, nah sekarang lanjutkan pekerjaanmu. Hinata sudah membawakan baju pesta mu, bukan?" Sasuke mengangguk saat menatap paperbag yang tergeletak diatas sofa ruang kerjanya

"dia kemari saat aku meeting dengan nii-san dan Sasori-senpai tadi." Ujar Sasuke

"setidaknya dia masih menunjukkan kalau dia istri yang tau diri." Sasuke menggeleng sekali lagi mendengar perkataan tajam ibunya

"Sudahlah Okaa-sama, jangan terlalu memikirkan hal yang bisa membuat emosi Okaa-sama memuncak. Bersenang-senanglah hari ini. Aku pasti datang satu atau dua jam lagi setelah proposal menarik ini selesai ku baca." Ujar Sasuke,

"Hah... Semakin lama kau semakin mirip Fugaku-kun dan Itachi-kun. Jangan terlalu paksakan dirimu, kalau memang setelah pekerjaanmu selesai nanti kau lelah, kau bisa pulang saja. Aku dan ayahmu tidak memaksamu untuk datang." Sasuke menghela nafasnya

"Aku akan datang, lagi pula akan ada rekan bisnis baru yang akan Okaa-sama kenalkan padaku." Sasuke bisa mendengar tawa merdu ibunya di seberang sana

"Tentu. Sampai jumpa, Sayang." Sasuke tersenyum medengarnya, ibunya memang satu-satunya orang yang mampu memahaminya jauh lebih baik dari kakaknya walaupun tak sebaik Sakura. Sasuke memadang figura diatas meja kantornya, figura wanita cantik bersurai merah mudanya.

"Aku meridukanmu, Sakura." Ujarnya sebelum menutup proposalnya dan meninggalkan ruangannya.

Ball Room, Uchiha Hotel

Sakura sudah mendengar dari Mikoto kalau Sasuke akan datang terlambat, sementara Sasori sudah mengirim pesan padanya kalau dia sudah tiba di tempat acara dan sedang membahas bisnis mereka dengan putra tunggal sekaligus pewaris utama perusahaan Namikaze, Namikaze Naruto. Sakura menggenggam erat dompet pestanya, Sial kenapa dia jadi gugup begini. Ia hanya harus berpura-pura menjadi oranglain, tapi ini sulit Naruto dan Sasuke akan sangat mudah mengenalinya.

"Guilliana-chan... ayo masuk." Sakura memaksakan senyumnya saat Mikoto Uchiha dengan semangat menarik tangannya untuk ikut masuk kedalam Ball Room Hotel keluarga Uchiha

"dimana para pria itu ya?" Sakura hanya bisa menahan perasaannya saat semua orang memadang bertanya kearahnya dan Mikoto yang berjalan memasuki ruangan pesta, pertama karena Mikoto Uchiha terlihat begitu menawan dan berbeda dan kedua, kemungkinan mereka kaget melihat Sakura karena mereka pasti mengira ia sudah mati.

"Kau..." Sakura berhenti dan menatap bosan Hanabi Hyuga yang berdiri dihadapanya dan mengacungkan jari telunjuknya, Mikoto tak kalah sebal melihat tingkah tengil bocah berusia enambelas tahun dihadapannya

"Apa keluarga Hyuga tidak mengajarimu sopan-satun?" Sakura tersentak sendiri mendengar nada suara Mikoto terdengar dingin dan mengancam

"Ma...Maaf, Okaa-sama" Sakura tersenyum puas saat Hinata yang hadir menggunakan gaun rancangannya yang sama persis dengan gaun milik Emma Stone yang di gunakan saat red capet oscar itu datang dan membungkuk kearah Mikoto.

"Gaun itu, pilihan yang bagus Uchiha-san. Aku ingat itu design yang di pakai Emma Stone saat penerimaan piala Oscar dua bulan yang lalu. Gaun yang ku rancang dengan menggunakan lebih dari dua ribu berlian swarowsky yang khusus di datangkan dari afrika. Kau benar-benar bekilau." Ujar Sakura, wanita itu mengambil segelas campage yang ditawarkan seorang pelayan.

"Kau tahu, mungkin seharusnya kau menggunakan Lipstick berwarna Nude pink, ketimbang Burgury dan Heelsnya, kau seharusnya menggunakan heels yang sedikit lebih tinggi dari itu. Gaun itu di design untuk memperlihatkan kaki jenjangmu, Nyonya." Sakura bisa mendengar bisik-bisik mulai terdengar di sekitar mereka dan wajah Hinata memerah antara malu karena di kritik masalah penampilan habis-habisan di depan umum dan Marah karena kedatangan Sakura kepesta ini yang jelas-jelas mampu membahayakan posisinya

"Dan kau, nona Hanabi..." Sakura memperhatikan adik Hyuga Hinata itu dari atas ke bawah

"Kau terlihat sepuluh tahun lebih tua dari usiamu. Kau harus lebih banyak belajar bagaimana caranya memlih pakaian yang akan kau gunakan dan memadupadankan make up mu dengan tepat." Sakura tersenyum manis pada mereka, lalu berpaling kearah Mikoto

"Maaf, Obaa-san aku harus menemui Sasori-nii dulu, dia mendesakku untuk menemuinya dan Itachi-senpai juga Namikaze-san." Mikoto tersenyum lembut kearahnya

"Ah... silahkan, Guilliana-chan Selamat menikmati pestanya dan maaf atas gangguan kecil tadi." Hanabi mendelik dan menatap tajam Mikoto sebelum menghentakkan kakinya meninggalkan mereka, Sakura berjalan melewati Hinata

"kau beruntung karena aku mengkritikmu dan adikmu. Kalian sama-sama telihat payah dalam hal ini." Ujar Sakura sebelum berjalan kembali mencari Sasori. Hinata mengepalkan kedua tangannya, Wanita Sialan bahkan dia sudah berani mengibarkan bendera perang secara terang-terangan padanya.

Sakura menatap bosan pemandangan di sekitarnya saat ini, Mikoto tengah asik berbincang dengan salah satu kolega bisnis suaminya sementara Hinata terlihat tengah berkumpul dengan adik dan kakaknya, Sakura penasaran apa yang sedang di rencanakan tikus-tikus Hyuga itu itu tak mau ambil pusing soal Hinata, ia bisa menghadapinya nanti. Sakura kembali berjalan mengedarkan pengelihatannya mencari Sasori di tempat pesta itu.

"Hebat Guilliana!" Sakura menoleh mendapati Neji berjalan mendekat kearahnya, wanita itu memasang sikap angkuh dihadapan pria yang sudah menyewa orang untuk membunuhnya empat tahun yang lalu.

"Maaf?" Ujar Sakura, wanita itu mengamati penampilan Neji dari atas kebawah yang tak pernah berubah

"Tapi saya tidak mengenal anda…" ujar Sakura

' "jangan coba-coba membohongiku Haruno, aku tahu siapa kau. Sakura Haruno yang meninggal dalam skenario kecelakaan empat tahun lalu." Semua orang menoleh saat Neji mengatakan kalimat itu dengan lantang. Sakura tertawa.

"Apa buktinya, Tuan? Saya rasa anda salah besar dengan menuduh saya pura-pura menghilang dengan skenario seperti itu…" Ujar Sakura, Wanita itu menegak Campagenya

"Lagi pula, kalau tidak salah anda adalah putra sulu Hiazhi Hyuga,bukan? Anda harus bisa menjaga sikap anda di depan kolega bisnis anda." Ujar Sakura

"Kau tidak tahu apa-apa soal bisnis, kau sama saja dengan si merah Sasori Akasuna itu." tanpa pikir panjang lagi Sakura menyiram wajah Neji menggunakan Campage yang ada di tangannya

"Jangan pernah bicara sembarangan tentang kakakku. Kau fikir siapa dirimu hah? Skandal perselingkuhan dengan model asal Rusia, bisnis gelap, bekerja sama dengan mafia kelas atas untuk mendesak seluruh kolega dan saingan bisnismu, Kau tahu trick bisnis mu itu benar-benar memuakkan…"

"Kau…." Tangan Neji yang hampir menampar Sakura tiba-tiba berhenti saat seseorang menahannya, Semua orang menatap tak percaya siapa yang berdiri di sana. Uchiha Sasuke. Bahkan Sakura nyaris jatuh saat pria itu tiba-tiba muncul dan melindunginya

"Kalau kau memang pria, sebaiknya jangan pernah bersikap kasar pada wanita. Sekarang aku sadar kenapan Tenten-nee memilih bercerai denganmu. Hyuga Neji." Ujar Sasuke

"Nona Guilliana, Sasori-senpai dan Aniki sudah menunggumu diruangan lain, ada beberapa hal yang harus kita bicarakan." Ujar Sasuke

"Kau berniat mengikat perjanjian dengan perusahaan lain, Uchiha?" Sasuke berbalik memandang datar kearah Neji

"Itu hak perusahaan, kau lupa? Uchiha Itachi lah yang memegang kendali penuh atas perusahaan setelah Uchiha Fugaku, ayahku memutuskan berhenti dari dunia bisnis enam tahun yang lalu. Jadi ini adalah keputusan final dari Presiden Direktur." Ujar Sasuke

"Bagaimana dengan kerja sama kita?" Ujar Neji tak mau kalah

"Semua keputusan berada di tangan Itachi." Ujar Sasuke

"silahkan!" Sasuke mempersilahkan Sakura berjalan mendahuluinya lalu pria itu menyusul dari belakang.

Mikoto hanya menggelengkan kepalanya pestanya jadi hancur karena ulah besannya sendiri. Ia bersumpah demi apapun, ia jauh lebih senang berbesan dengan keluarga biasa saja seperti keluarga Haruno ketimbang dengan keluarga kaya tapi memiliki sifat seperti segrombolan monyet di hutan.

"Hinata!" Mikoto memanggil menantunya yang tengah menenangkan emosi Neji membuat gadis itu berjalan mendekatinya

"Ada apa Okaa-sama?" Tanya Hinata, Mikoto memandang wanita itu

"Aku kecewa berat dengan keluarga mu, Bukan berarti karena kami berhutang banyak pada mereka kami akan takut. Uchiha, selalu berhasil menemukan jalan saat ia tersesat di labirin. Sebentar lagi, kami akan membayar rasa terimakasih kami, ku pastikan saat itu salah satu nyonya Uchiha akan kembali kekeluarga asalnya." Ujar Mikoto sebelum menyusul suaminya yang tengah berbicara dengan beberapa kolega pentingnya

"Begitu ya? Kau yang akan ku buat tak berdaya sebelum kau bisa menyingkirkan ku. Mikoto Uchiha!" Hinata kembali ketempat kakaknya dan mengawasi punggung Sasuke dan Sakura yang berjalan menjauh.

"Guilliana Akasuna… Siapa kau sebenarnya?" Wanita indigo itu menggeleng sekali lagi sebelum mencari adiknya dan membawa mereka keluar dari Ball Room hotel megah itu. Hana yang mengamati mereka bersama Shion langsung bisa membaca maksud Hinata.

"Ibiki…" Ujar Hana

"Suruh beberapa Bodyguard mengawasi mereka, berikan hasilnya padaku segera." Ujar Hana, Pria bertubuh besar yang selalu mengikutinya hanya mengangguk paham. Hyuga, rencana apapun yang kalian buat tak akan mampu mengalahkan otak jenius Itachi Uchiha.

Sasuke membawa Sakura menaiki Lift yang membawa mereka keruang pertemuan dewan direksi diatas. Sasuke terus memaksa matanya agar berhenti mengamati wanita yang berjalan dengannya saat ini tapi ia tak bisa, ia tak bisa berhenti memandang wanita merah muda yang tengah berjalan bersamanya saat ini.

"Apa itu benar?" Sakura menoleh menatap Sasuke, Jantungnya berpacu dengan cepat mendengar pertanyaan suaminya saat ini

"Maaf?" Ujar Sakura

"Apa kau benar-benar adik angkat Sasori-senpai yang mengalami trauma saat melihat pristiwa penembakan kedua orangtua mu di London dan sejak itu tak pernah kembali ke Jepang?" Sakura menghela nafasnya lega, jadi Sasori sudah memainkan perannya

"Ya, itu benar." Ujar Sakura ia tersenyum canggung

"benarkah? Maksudku ini agak sulit untuk di terima bagiku kau …"

"Saya tahu anda mengira saya mendiang istri anda Sasuke-san, saya turut berduka cita sekalipun itu terlambat. Tapi sungguh Saya Guilliana Akasuna, dan bukan Sakura Uchiha." Ujar Sakura, hatinya terasa tercubit saat mengatakannya

"Kau tahu tentang istriku?" Sakura mengangguk

"Semua orang yang dekat dengan Sakura-san mengira begitu, Sejak saya bertemu dengan Kakak dan kakak ipar anda mereka juga mengira begitu. Bahkan ibu anda juga." Ujar Sakura, Sasuke mengangguk mengerti menahan pahit karena sekali lagi kenyataan menamparnya, memintanya untuk tersadar bila istrinya telah lama meninggal.

"Silahkan masuk. Mereka sudah menunggumu di dalam." Sasuke membukakan pintu ruangan rapat itu mempersilahkan Sakura masuk kedalam ruangan itu terlebih dahulu sebelum menyusulnya.

"SAKURA-CHAN!" Sakura meringis mendengar teriakan kaget Naruto, pria itu kini tengah berdiri dari tempatnya duduk membuat Itachi dan Sasori menggelengkan kepala mereka

"Dia adikku Guilliana, Naruto. Bukan Sakura!" Ujar Sasori lalu pria itu berdecak kesal Sasuke duduk di sebelah Kakaknya begitu juga dengan Sakura yang ikut duduk di sebelah Sasori. Naruto tak berhenti menatap Sakura, dia benar-benar mirip dengan Sakura tidak mungkin kalau dia adik Akasuna Sasori, lagi pula Sasori juga tidak memiliki adik.

"Dobe…" Sasuke memanggil nama Naruto, mengingatkan pada pria itu kalau hari ini mereka harus membahas bisnis ini, Sasuke juga tidak suka kalau Naruto memandang Guilliana Seperti itu, Entahlah tapi dia tak bisa membiarkan laki-laki lain menlihat Guilliana seperti itu, Sasuke tak tahu apa yang salah dengannya, ia hanya bereaksi seperti itu kalau ada pria lain yang mendekati Sakura, Sasuke menghela nafasnya dia harus benar-benar membuat Naruto menyelesaikan rapat ini secepat mungkin atau dia tak akan pernah berhenti memandangi Guilliana dan menyakini kalau dia adalah Sakura.

Naruto mengambil lima buah proposal yang sudah ia letakkan di meja tadi dan memasang layar proyektor. Pria itu mulai menjelaskan tentang proyek baru yang menurutnya bisa membantu Sasuke cepat lepas dari jeratan wanita Indigo itu. Naruto tak akan pernah rela melihat sahabat yang sudah ia anggap seperti saudaranya itu menderita karena wanita macam Hinata dan keluarganya.

"Aku berencana membuat proyek besar-besaran ini." Naruto memberikan sebuah berkas kepada mereka, Sakura mengangguk membaca proposal itu, Proyek yang menarik. Pembangunan sebuah Apartement mewah di Los Angles

"Aku dengar dari Sasori-senpaikalau anda tidak hanya seorang designer pakaian dan mode saja bukan, Guilliana -San?" Sakura mengangguk mendengar pertanyaan Naruto

"Nah, Aku ingin kau mendesign interior dalam apartement ini. Sasuke akan membantu mu, dia seorang arsitek dan pengusaha yang cukup handal dalam bidang ini." Sakura tersenyum, tanpa Naruto beritahupun Sakura sudah tahu tentang hal itu, terlebih perusahaan Uchiha adalah perusahaan multifungsional mereka bergerak dalam berbagai bidang, Sasuke bahkan harus kembali menyelesaikan kuliahnya di bidang bisnis setelah lulus sebagai arsitek dari Todai delapan Tahun yang lalu.

"Aku mengerti, Itachi-senpai sudah menceritakan banyak hal tentang Sasuke-san padaku." Sasuke mendelik kearah kakaknya dan hanya ditanggapi dengan senyuman oleh kakaknya

"Jangan dengarkan Itachi, tapi aku akan membantu mu dengan semaksimal mungkin." Ujar Sasuke, Sakura tersenyum lalu mengangguk. Sasuke tak pernah merasa sepetri ini, Satu-satunya wanita yang bisa membuat jantungnya berderbar hanya dengan Senyuman adalah Sakura, tapi wanita ini… Siapa dia sebenarnya?

"Kita bicarakan sisanya besok di kantor…" Sakura mengangkat tangannya mengintrubsi kalimat yang baru saja Sasuke bicarakan.

"Bagaimana kalau di Uchiha Corp?" Naruto memandang ke empat orang dalam ruangan itu, lalu mengangguk.

"Baiklah, Uchiha Corp jam sepuluh pagi." Ujar Naruto

"Kita kembali ke pestanya." Ujar Sasori pria bersurai merah itu mengacungkan jempolnya kearah Sakura.

"Akting yang sempurna." Bisiknya sebelum mengambil gelas winenya dan berjalan mengikuti Itachi dan Naruto yang berjalan terlebih dahulu.

Sasuke berjalan bersama Guilliana kembali ke ruang pesta, dugaannya pesta pasti sudah berakhir, sudah terlihat beberapa orang keluar dari ballroom megah itu. Sasuke tahu wanita yang ada bersamanya saat ini bukanlah Sakuranya, tapi entah bagaimana hatinya masih menyakini kalau Sakura masih hidup dan dia ada di sebelahnya. Tapi jika memang dia Sakura, untuk apa dia berpura-pura, dan untuk apa Sasori juga Itachi dan Hana menyembunyikan fakta ini darinya? "Sasuke-san?" Sasuke menoleh saat wanita itu memanggilnya

"apa kau benar-benar merindukan istrimu?" Sasuke menegak wine yang sejak tadi dia bawa

"dia segalanya untukku, dan saat dia pergi bagaimana mungkin aku akan baik-baik saja, aku hidup tapi aku merasa aku benar-benar sudah mati." Sakura tersentak mendengar kalimat suaminya, dia benar-benar merasa bersalah sekarang tapi dia juga tak bisa mengaku pada Sasuke kalau dia adalah istrinya.

"Untuk apa bertanya hal itu Guilliana-san?" Sakura berhenti berjalan Sasuke kini berdiri di hadapannya dan memojokkannya di tembok

"Karena kau terlihat sangat terluka. Aku bisa melihatnya dengan jelas dari matamu."Sasuke tersenyum getir, senyum yang Sakura samasekali tak ingin terlihat

"Seandainya kau tahu betapa miripnya kalian, aku benar-benar tak bisa kehilangannya." Sakura meneguk ludahnya sendiri saat wajah Sasuke mendekat kearahnya

"Sasuke-san anda... mppphhhh…" Dan saat itu juga Sasuke menciumnya, Sakura memejamkan matanya, membiarkan untuk sejenak Sasuke melepaskan kerinduannya.

Pesta sudah usai, Hinata baru saja berpisah dengan keluarganya lalu menyusul keluarga Uchiha yang masih berada di dalam Hotel. Wanita itu sedikit tersentak mendapati Sasuke dan Guilliana tengah berciuman di sudut ruangan.

"Sasuke-kun?" Sasuke melepaskan dirinya dan wanita merah jambu itu, sementara Sakura sendiri memandang mengejek kearahnya

"ah… maaf, kami tidak bermaksud begitu…" Ujar Sakura, ia bisa melihat wajah Hinata merah

"Kau… Wanita Jalang!" Tangan Hinata tertahan saat tangan besar Sasuke menahannya

"Jangan sakiti dia. Aku akan mengantarnya pulang, kau pulang dengan yang lainnya." Hinata baru akan membantah tapi Sasuke justru sudah menggandeng Sakura keluar ruangan pesta dan berpamitan dengan keluarganya. Hinata menghapus air matanya, bagaiamana mungkin? Wanita itu bahkan bisa mendapatkan hati Sasuke dalam waktu singkat sementara dirinya? Waktu empat tahun tak pernah cukup untuk mendapatkan hati pria itu.

Sasuke mengemudikan mobilnya kearah apartement Guilliana, keadaan menjadi semakin canggung sejak ia secara tiba-tiba mencium wanita itu selepas kembali dari ruang rapat tadi. Wajah sasuke memandang kearah sebelahnya, Wanita itu diam terpaku memandang keluar jendela.

"Maaf untuk yang tadi." Guilliana menoleh dan tersenyum canggung kearah Sasuke

"Aku sudah melupakannya." Sasuke mengangguk

"Besok perlu ku jemput?" Guilliana menggeleng

"Aku harus ke boutique dulu sebelum ke kantor mu untuk rapat lagi." Ujar Guilliana.

"Maksudku, bagaimana dengan makan siang atau sarapan diluar sebentar?" Ujar Sasuke, Sakura menghadap kearahnya

"Uchiha-san …"

"Sasuke saja…" Sakura tersenyum

"baiklah, Sasuke-san bagaimana bisa anda mengajak seorang wanita lain keluar sementara anda memiliki Istri secantik Hinata-san di rumah?" Tanya Sakura, Sasuke menggeleng

"aku tak mengharapkan dia menjadi istriku. Kalau bukan karena terpaksa aku tak akan mau menikahinya." Sakura tersenyum, ternyata Itachi benar Sasuke benar-benar masih setia padanya

"Aku rasa Sakura-san beruntung memiliki suami seperti anda." Sasuke tersenyum samar lalu menghela nafasnya

"Aku berharap dia dan putra kami masih hidup di suatu tempat. Aku merindukan mereka, dan saat aku melihatmu… Entahlah, aku berharap kalau kau adalah dia. Kalian sangat mirip dalam beberpa hal kecuali caramu bicara dan saat mensetujui proyek besar itu. Sakura seorang designer seperti mu dia juga seorang model, tapi dia bukan seorang wanita yang dengan mudah menerima proyek untuk mendesign sebuah Apartement mewah. Semua ide yang kau tuangkan, entahlah aku seperti melihatnya hidup dalam dirimu." Ujar Sasuke, Sakura mengalihkan padangannya menahan tangisnya

"Kalian sangat beruntung saling melengkapi satu sama lain."Ujar Sakura, Sasuke kembali mengemudikan mobilnya

"aku rasa aku bisa menemanimu untuk sekedar sarapan atau makan siang bersama besok.
" Sasuke tersenyum senang mendengar wanita di sebelahnya itu menyetujui ajakannya

"Kau tinggal diapartement? Kenapa tidak memilih tinggal bersama Sasori?" Sakura tertawa dan menggeleng

"Aku hanya anak angkat keluarga Akasuna. Sasori-nii memang sangat menyayangiku tapi, aku tak mau membebaninya terus menerus. Aku hanya ingin mandiri, itu saja." Sasuke tersenyum satu lagi kemiripan Guilliana dengan Sakura, Wanita dewasa yang mandiri.

"Aku akan mengantarmu." Ujar Sasuke

"Apa kau keberatan untuk mampir sebentar?" Tawar Sakura, Sasuke menatapnya lalu menangguk

"Apa kau masih ingin mediskusikan proyeknya?" Tanya Sasuke, Sakura mengangkat kedua bahunya

"Sedikit, dan selebihnya aku tertarik untuk mengenalmu…" Sasuke tertawa

"kau tidak takut dengan Skandal model-model yang dikira merebut suami orang eh?" tawa Sakura meledak, wanita itu menggeleng

"apa kau menganggap Hinata-san istrimu?" Sasuke menggeleng

"Kalau begitu untuk apa takut?" Sasuke hanya menggeleng, Wanita di sebelahnya ini benar-benar berani mengambil resiko.

Hinata berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, sesekali wanita itu mengecek ponselnya berharap Sasuke membalas pesan singkat yang ia kirim. Wanita itu menghempaskan tubuhnya keatas ranjang Kingsize miliknya, Sasuke belum kembali menurutnya dia pasti sedang bersama Guilliana sekarang. Hinata mengganti pakaiannya dan menyambar kunci mobilnya kedua kakinya melangkah cepat menuruni tangga.

"Mau kemana, Hinata?" Hinata berhenti saat mendengar suara sulung Uchiha itu menyapanya

"Ni… Nii-san aku mau menyusul Sasuke-kun." Ujar Hinata, Itachi berjalan mendekat kearahnya

"Dia akan pulang sebentar lagi, kembali ke kamar mu dan tidurlah." Ujar Itachi sebelum berbalik dan kembali naik kelantai dua rumahnya, tak lama kemudian bel pintu utama berbunyi beberapa kali, Hinata membuka pintunya mendapati Sasuke yang menatap malas kearahnya, Pria itu masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan hinata, ia melangkahkan kakinya ke kamarnya dan mengganti setelan kemeja nya dengan piama tidurnya.

"Sasuke-kun besok ingin sarapan apa?" Tanya Hinata

"Tidak perlu, aku tidak sarapan dirumah besok. Aku harus bertemu dengan kolega ku besok pagi, kami akan sarapan di luar." Hinata mengangguk pasrah saat Sasuke kembali mengacuhkannya dan menyelimuti tubuhnya.

Hinata memandang punggung Sasuke yang menghadap kearah berlawanan dengannya, Kolega bisnis dia bilang? Dia berani bersumpah yang di maksud Sasuke adalah Guilliana. Wanita itu, dia benar-benar menginginkan perang rupanya. Hinata mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk seseorang, wanita merah jambu itu harus mati besok juga. Harus atau dia akan kehilangan Sasuke selamanya.

TBC. 3 minggu baru Update u.u maaf kelamaan, Mina-san. Saya lagi UAS soalnya jadi harap maklum. Bagaimana dengan chapter yang satu ini? mau kasih saya Kritik dan Saran? Boleh dan di persilahkan silahkan isi kotak reviewnya ehhehehe maaf kalo masih banyak kekurangannya ya?

Note : Kalau ada yang bingung kenapa aku kadang nulis Sakura atau Guilliana, karena mereka dua-duanya adalah karakter yang Sama, Guilliana adalah Sakura yang sedang menyamar menjadi oranglain untuk membalas dendam. Keep reviewing yah

Aphrodite Girl 13