Stronger

Disclaimer : Naruto is belong to Masashi Kishimoto, but Sasuke is MINE #dibakarsakura,

Warning : OOC, Aneh, Gaje, Typo and Miss Typo bertebaran dimana-mana, penulisan tidak menggunakan kaidah EYD yang benar #apadah

Author Bacot Area : Okeh, akhirnya setelah ehemsetengahtahunlebihehem Aphro menghilang dari dunia perfanfic-an Indonesia#eh?, saya balik lagi tapi kali ini bawa FF pair Sasusaku, hehehehe Enjoy this one guys, Mind To RNR Mina?

"Apa yang kau lihat saat ini pada diriku,

Itu bukan aku yang sebenarnya.

Dendam, amarah, keputusasaan,

keinginan kuat untuk memiliki mu lagi

tak bisakah kau lihat itu dimataku saat ini?

yang kau lihat pada diriku saat ini, hanya sebuah topeng

topeng yang ku gunakan untuk merebutmu kembali "

Tokyo International Hospital,

Sakura mengikuti Itachi yang berlari menyusuri lorong unit gawat darurat rumah sakit international Tokyo. Wanita merah jambu itu berlari kecil bersama Itachi mengikuti Hana yang masih menggenggam tangannya erat dan mengerang kesakitan diatas ranjang rumah sakit yang kini tengah di dorong oleh beberapa perawat rumah sakit.

"Argh… Itachi-kun…" Itachi benar-benar ingin menulikan kedua telinganya seandainya ia bisa, ia benar-benar tak kuat lagi untuk mendengarnya menjerit kesakitan seperti ini.

"Hana, apapun yang terjadi. Berusahalah untuk tetap bersamaku, bersama Meiko dan bayi kembar kita." Hana masih menggerang kesakitan, air mata keluar dari sepasang irish kumbangnya, wanita itu memandang lurus tepat kearah onyx sekelam malam suaminya

"Itachi-kun…" Nafas wanita bersurai coklat itu semakin terengah, matanya hampir tertutup, Sakura berusaha membuat Itachi sedikit lebih tenang dengan menyentuh bahunya, wanita merah jambu itu menatap wajah pucat Hana dengan perasaan campur aduk.

"Maaf Uchiha-san. Anda harus menungu di luar." Ujar Salah satu perawat sambil menutup pintu ruang UGD saat mereka tiba disana.

\ Sakura duduk di deretan kursi ruang tungggu, tangannya ia katupkan tubuhnya bergetar dan air mata kembali mengalir diwajahnya. Perasaan bersalah itu menyergap begitu saja, Hana seharusnya tak berada di ruangan itu, ini belum waktunya wanita itu bertaruh nyawa untuk melahirkan bayinya, Hana harus berjuang lebih awal satu bulan dari waktu yang seharusnya dan ini semua salahnya, salah Sakura.

"Senpai…" Itachi duduk di sebelah Sakura menyandarkan tubuhnya kasar, surai hitam panjangnya yang terikat longgar terlihat berantakan, kerut di wajahnya terlihat semakin nyata, dan raut wajah khawatir itu belum juga hilang. Pria mana yang tak akan khawatir saat menunggu wanitanya bertaruh nyawa melahirkan putra mereka ditambah itu putra kembar dan lahir secara premature karena racun yang masuk kedalam tubunya.

"Gomenasai…" Lirihnya, Itachi menoleh. Pria Uchiha itu menghela nafasnya dan mengelus punggung mungil Sakura, Itachi juga merasa tak enak melihat wanita yang sudah dianggapnya adik menyalahkan dirinya sendiri

"Ini bukan salahmu Sakura, sejak awal baik aku maupun Hana dan Sasori sudah siap menerima konsekuensi apapun yang akan menimpa kami nantinya karena membantumu. Aku tak menyalahkan mu untuk hal ini dan aku percaya Hana juga begitu, dia hanya ingin melindungimu, itu saja." Lorong rumah sakit itu kembali sunyi, hanya ada suara nafas mereka yang bersahutan dan isak tangis Sakura. Pria bermarga Uchiha itu tiba-tiba bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati pintu ruang UGD mencoba melihat kedalam dan kembali mengerang frustasi saat tak berhasil melihat apapun sementara belum ada kabar apapun dari dokter maupun perawat yang ada, mau tak mau wanita merah jambu itu juga semakin panik.

"Uchiha-san?" Seorang dokter bersurai ke-emasan keluar dari ruangan UGD

"kami memindahkan istri anda ke ruang bersalin, ada yang harus saya tanyakan dan itu penting." Ujar dokter itu

"Kau tidak punya waktu untuk menanyakan hal sepenting apapun padaku, Tsunade-san. Tangani istriku terlebih dahulu setelah itu kita bisa bicara!" Ujar Itachi tak sabaran

"Justru ini berkaitan dengan istri dan bayi anda, Kemungkinan besar kami tidak bisa menyelamatkan keduanya. Anda harus memilih, Hana-san atau kedua bayi kembar anda." Sesaat ruangan menjadi hening, Itachi tiba-tiba melemas dan hampir terjatuh. Sakura menopangnya wanita itu tahu bagaimana rasanya menjadi Uchiha Itachi, bagaimana bisa dia di hadapkan pada dua pilihan yang menyangkut nyawa ketiga orang yang paling berarti yang ada dalam hidupnya.

"Jika aku menyelamatkan ibunya, apa yang akan terjadi?" suara Itachi melemah, Sakura memandang sulung Uchiha itu lagi-lagi dengan perasaan bersalah

"Kami belum bisa memastikan apa yang akan terjadi saat ini, Tuan. Segalanya dapat berubah di dunia kedokteran, kami tidak bisa memberikan janji apapun ke pada keluarga pasien yang kami tangani saat ini." Itachi mendesah pasrah, kalimat Hana terdengar dengan jelas seolah-olah wanita itu meneriakkan secara lantang di telinganya.

"Bayinya, dia meminta ku untuk menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungannya." Itachi tersenyum perih sebelum membiarkan dokter kandungan itu berlalu keruang bersalin.

'Jangan buat aku menyesal karena sudah membuat keputusan ini, Hana. Aku melakukan ini karena ini permintaanmu. Jangan berhenti berusaha untuk tetap hidup, Sayang. Aku dan ketiga anak kita benar-benar masih membutuhkan mu dalam hidup kami.' Kalimat itu terus ia ucapkan berulang-ulang sejak tadi sementara kedua kakinya melangkah menuju ruang bersalin, ia yakin Hana tak akan mudah menyerah begitu saja, Hana pasti akan berjuang untuk hidup dan kembali kepada mereka semua. Ia yakin itu semua akan terjadi.

Mansion Uchiha

Hinata bergerak gelisah di sofa yang ia duduki. Ketiga Uchiha yang lainnya memandangnya dengan pandangan membunuh. Hinata terus meruntuki tindakan gegabahnya tadi, Hanabi memang berencana membunuh Hana untuk menyingkirkan Itachi tapi bukan sekarang. Ia bermaksud melenyapkan wanita merah jambu itu tapi tindakan bodoh Hana dengan mudah menggagalkannya, Sekarang dia benar-benar harus siap menghadapi tiga orang Uchiha yang sudah siap memangsanya bak singa yang kelaparan.

"Pembunuh!" Hinata tersentak memadang Mikoto Uchiha yang kini sudah berdiri di hadapannya

"Kaa-san, Aku benar-benar tidak…." 'PLAK' Satu tamparan telak mengenai wajahnya kali ini bukan Mikoto, tetapi Sasuke yang sudah berdiri di hadapannya dan menyeretnya ke kamar mereka dan menghempaskannya ke ranjang begitu saja

"Kau tahu apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke, Suaranya dingin dan begitu menusuk seperti Es

"Aku tidak bermaksud membunuh Hana-nee, Sasuke-kun aku serius…" Sasuke memandang tajam Hinata

"Kau tidak bermaksud membunuh Hana-nee tapi kau bermaksud membunuh Guilliana, bukan?" Hinata hanya terdiam

"Apa yang sudah kau lakukan hari ini, Hyuga Hinata apa kau memikirkan akibatnya?" Hinata ingin sekali berteriak di depan wajah suaminya tapi lagi dan lagi dia menahan seluruh luapan emosinya

"Kau bisa membuat kerja sama perusahaanku dengan Akasuna batal dan tidak hanya itu, Sasori bisa menuntut mu ke penjara dan kau bisa merusak nama baik Uchiha dan Hyuga." Ujarnya

"Aku berusaha membunuhnya karena Sasuke-kun pasti akan pergi bersamanya dan meninggalkan ku. Sampai mati sekalipun aku tak akan pernah rela Sasuke-kun jatuh kedalam tangan wanita yang mirip Sakura itu!" Sasuke menahan tangannya yang hampir melayang ke wajah Hinata sekali lagi, pria itu menghela nafasnya

"Aku tak akan membantumu kali ini. Kau akan lihat seperti apap Aniki jika dia sudah marah dan membenci mu, tak hanya kau bahkan kerajaan bisnis yang di bangun Hyuga akan hancur." Sasuke mengambil mantelnya yang tersampir di kepala ranjangnya

"Mau kemana?" Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Hinata

"Rumah Sakit. Mungkin tak akan pulang lagi malam ini." Hinata berjalan menyusul Sasuke menahan lengan kekar pria itu agar tak pergi

"kalau aku tidak boleh ikut maka kau tidak akan keluar dari rumah ini." Dengan kesal Sasuke menghempaskan lengannya membuat cengkraman Hinata padanya terlepas

"kau fikir kau siapa? Bukan hakmu melarangku keluar dan masuk dari rumah ini. Aku juga tak mau memperkeruh suasana kalau kau datang, kau tak ingin Itachi-nii membunuhmu, kan?" Ujar Sasuke sebelum berlalu dari hadapan wanita itu, Hinata menatap punggung pria itu dan menjerit frustasi sekali lagi.

"BODOH!" dia menggapai apapun yang ada didekatnya melempar apapun yang bisa ia jangkau kemana saja dia inginkan. Fikirannya kacau, hatinya sakit dan dia ketakutan sekarang, Sasuke dan ancamannya adalah hal yang serius dan bukan main-main. Hinata mengambil ponselnya dan menghubungi Seseorang

"Nii-san…" Isaknya

"Ada apa Hinata? apa yang dilakukan Sasuke padamu?" Hinata menggeleng

"Gomenasai…" Lirihnya

"Ada apa Hinata? Berhenti membuatku bingung." Ujar Hinata

"Aku membuat kalian semua dalam bahaya besar sekarang." lirihnya, Neji menghela nafasnya, Pria Hyuga itu menerka-nerka kecerobohan apa lagi yang di lakukan adiknya

"Apa yang kau lakukan kali ini?" Tanyanya, ia bisa mendengar isak tangis Hinata yang terdengar frustasi dari seberang sana

"aku hampir membunu Hana-nee …" Seluruh tubuh Neji membeku seketika, ia ingin sekali menampar Hinata seandainya wanita itu ada dihadapanya saat ini.

"Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan hah? Aku baru saja mendapat masalah besar karena Itachi berhasil memanipulasi keuangan kita selama empat tahun ini dengan bantuan mata-matanya dan selain itu, Itachi sudah mengetahui rencana pembunuhan kita pada Sakura empat tahun yang lalu, dan sekarang karena kecerobohan mu sendiri kau sudah menempatkan kita di lubang seekor singa yang kelaparan!" Ujar Neji panjang lebar, Hinata hanya diam meruntuki kebodohannya

"Aku tak tahu apa lagi yang akan terjadi pada kita besok pagi, bisa-bisa perusahaan sudah tak ada nilainya lagi bagi kita, aku sedang berusaha menyelesaikan dua masalah sekaligus, pertama masalah Guilliana Akasuna dan mempertahankan saham Uchiha dan bagaimana caranya menstabilkan perusahaan yang bisa tumbang kapan saja dan sekarang kau membuat satu masalah lagi." Ujar Neji lagi, Hinata bisa mendengar pria itu mengerang frustasi

"Gomenasai Neji-nii aku mohon bantu aku sekali ini saja." Ujarnya, Neji menghela nafasnya

"Aku akan meminta Hanabi mengurusnya nanti, aku benar-benar sedang kalut dengan dua masalah ini." Ujar Neji sebelum memutus sambungan telfonnya.

Hinata memandang keluar jendela kamarnya. Langit malam begitu gelap dan untuk pertama kalinya selama empat tahun belakangan ini, mansion mewah dan megah keluarga Uchiha terasa seperti penjara baginya. Perusahaan ayahnya akan hancur jika kakaknya gagal dan dia akan masuk penjara jika Hanabi tak bisa melakukan apapun untuk membantunya. Jauh di dalam lubuk hatinya ia merindukan sosok dirinya yang dulu, Gadis Hyuga yang tak pernah mengotori tangannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan menghalalkan segala cara asal dia mencapai puncaknya dan menjadi yang pertama dalam segala hal, namun sisi lain dirinya terus memaksanya menjadi sosok yang jauh berbeda dengan siapa dirinya yang sebenarnya. Ia terus di paksa melakukan apapun yang menurutnya salah, memaksanya menganggap apa yang dia lakukan adalah jalan yang harus dia ambil sekalipun bukan.

Banyak melihat kekejaman ayah dan kakaknya mau tak mau membuat tameng pertahanan diri yang di bangun ibunya runtuh juga. setelah perceraian kedua orangtuanya Hiazhi mengurung Hinata di mansion mewah itu dan membuatnya melihat seperti apa kejamnya sang ayah, membuatnya berfikir menghalalkan segala cara tidaklah salah asalkan ia bisa mendapat apa yang dia inginkan. Kehausan itu yang akan menjadi hukumannya, hukuman karena ia mengkhianati sahabatnya, menipu suami dan seluruh keluarga Uchiha, menipu dirinya sendiri hanya untuk menjadi wanita nomer satu yang memiliki segalanya. Hinata memandang foto pernikahannya dengan Sasuke yang tergantung di atas kepala ranjang king size mereka, wajah datar pria itu tak memancarkan kegembiraan sama sekali melainkan penderitaan, sangat kontras dengan wajah Hinata yang tersenyum manis. Ia mulai membandingkan itu semua dengan Sakura. Sasuke tersenyum dan memeluk Sakura dalam foto pernikahan mereka, pria itu begitu bahagia bersama wanita merah jambu itu dan senyum itu kembali saat Guilliana datang.

Dia mungkin ingin Sasuke bahagia seperti saat pria itu bersama Sakura, tapi dia hanya ingin Sasuke bahagia bersamanya. Ia hanya ingin hati dan cinta pria itu untuknya bukan untuk Guilliana Akasuna. Hinata memandang kedua tangannya, tangan yang sudah pernah berlumuran darah sahabatnya sendiri, Sakura Haruno. Haruskan dia mengorbankan lebih banyak nyawa lagi hanya untuk mempertahankan Sasuke? Mendadak senyuman bengis itu terbentuk di bibirnya, tidak salah lagi, Hinata Hyuga tak akan mentoleransi siapapun yang berusaha menghalangi jalannya. Tidak sekalipun itu Itachi Uchiha.

Tokyo International Hospital

Sasuke memarkirkan mobil mewahnya dan langsung masuk kedalam gedung rumah sakit tempat Guilliana dan Kakanya menunggui Kakak iparnya, beruntung ia berhasil menenangkan Meiko yang menangis di rumah dan memaksa ikut dengannya, jadi ia terpaksa membawa gadis kecil itu ikut karena tak tega melihatnya menangis sesegukan ketakutan.

"Sasuke-jii, Kaa-chan dan adik Meiko akan baik-baik saja kan?" Isaknya, Sasuke mengelus punggung mungil gadis kecil itu dan berjalan cepat keruang bersalin

"Meiko tenang ya, Semuanya akan baik-baik saja." Ujar Sasuke, ia berbelok diujung koridor dan mendapati Itachi juga Guilliana menunggu cemas di sana, Meiko meronta minta di turunkan dari gendongan Sasuke, bungsu Uchiha itu menurunkan Meiko dari gedongannya membiarkan gadis itu berlari kedalam pelukan Ayahnya dan menangis di sana, sementara Guilliana memeluknya begitu melihat dia datang.

"Ini salahku, Sasuke-kun …." Ujarnya, Sasuke mempererat pelukannya dan mengelus punggung mungil Sakura

"Bukan Salahmu, Sayang. Sama sekali bukan." Ujarnya, Sasuke mengecup sayang puncak kepala Guilliana berusaha menenangkan wanita itu

"Sasuke… Bawa Guilliana pulang, dia terlihat kelelahan." Sasuke memandang Guilliana yang menggeleng kuat.

"Izinkan aku disini, Itachi-senpai . Aku ingin sekali menunggui Hana-nee dan memastikan Hana-nee baik-baik saja." Ujar Gadis cantik itu

"tidak perlu, Guilliana. Lihat wajahmu, kau sudah terlalu lelah dan aku minta tolong pada kalian bawa Meiko ke rumah Guilliana, setidaknya biarkan dia tenang untuk beberapa hari ini dengan tidak melihat wajah Bibinya di rumah." Ujar Itachi

"Tapi, Tou-chan …." Gadis kecil itu mulai merengek manja pada ayahnya, Itachi menggeleng tegas membuat anak kecil itu terdiam dan hampir menangis, tak tega melihat keponakannya menangis Sasuke mengambil alih Meiko dari gendongan Itachi,

"Tidak apa-apaMeiko-chan, kita akan kunjungi ibumu besok pagi." Ujar Sasuke, Meiko Mengangguk lalu mencium singkat pipi ayahnya yang di balas kecupan sayang Itachi di puncak kepala putri sulungnya.

"Jangan Nakal." Ujarnya, Meiko mengangguk lalu memeluk leher Sasuke

"Kalau begitu aku duluan, Aku sudah menghubungi Sasori-nii dia akan datang sebentar lagi." Ujar Sasuke

"senpai, aku pamit dulu. Sekali lagi Gomenasai ini semua salahku." Itachi menggeleng, dia menepuk bahu Sakura pelan

"Sama sekali bukan, kalian pulang lah, Sasori akan datang sebentar lagi tidak perlu khawatir lagi, saat ada perkembangan baru aku akan beri tahu. Jaga putriku baik-baik." Ujar Itachi, Sasuke mengangguk singkat sebelum berpamitan dan membawa Guilliana dan Meiko ke apatement mewah wanita merah jambu itu.

Sakura mengelus pelan surai gelap Meiko, Gadis kecil itu tertidur nyenyak dalam dekapannya setelah behenti menangis. Sakura mengecup sayang keningnya, setelah ia kehilangan bayinya Sakura sudah menganggap Meiko sebagai pengganti anaknya telah lama meninggal.

"Kau sangat menyayanginya ya?" Sakura menoleh mendapati Sasuke yang tengah memfokuskan pandangannya kearah jalan dihadapannya.

"Ya, aku selalu berharap memiliki anak perempuan. Lagi pula aku tinggal di paris bersama keluarga Itachi dan aku cukup sering membawa Meiko keluar negri bersamaku untuk acara Fashion line ku dan Hana-senpai." Ujar Sakura

"Dia kelelahan sekali." Sakura mengangguk mendengar Sasuke

"Dia menangis lebih dari Satu jam." Ujar Sakura, Ia kembali mengelus pelan surai gelap Meiko.

"Dia mengkhawatirkan ibunya, Aku juga selalu seperti itu kalau sedang mengkhawatirkan mereka." Ujar Sasuke, Pria itu mengurangi kecepatannya dan menyandarkan tubuhnya ke kursi pengemudi, mencoba membuat semua ototnya relax.

"Mereka?" Tanya Sakura

"Sakura dan Calon bayi kami." Wanita itu terdiam begitu saja mendengar penuturan Sasuke, Sakura terdiam menatap mobil-mobil lain yang berlalu-lalang melalui kaca jendela mobil

"Aku berharap mereka masih hidup, sekecil apapun kemungkinan itu ada. Aku berharap bisa melihat jagoan kecilku, kalau Kami-sama masih mengizinkannya." Ujar Sasuke

"Bayi kita sudah lama mati Sasuke-kun…" Sasuke menoleh saat merasa Guilliana membisikkan sesuatu

"Kau bilang apa?" Sakura menatap Sasuke dan berusaha menghapus air matanya

"Kau menangis?" Sakura menggeleng

"Ah… Kau menceritakan itu, aku jadi teringat Hana-Senpai, Itachi-senpai juga pasti merasakan hal yang sama dengan mu saat ini." Sasuke menggeleng, sekalipun tak puas mendengar jawaban Sakura ia tidak memaksa gadis itu mengatakan yang sebenarnya.

"tidak, setidaknya Itachi memiliki malaikat kecil yang cantik ini. sedangkan aku sendirian terjebak dalam sebuah sandiwara bernama pernikahan. Mempermainkan janji suci yang seharusnya ku jaga baik-baik." Ujarnya, Sakura menghela nafasnya gadis itu menahan tangisnya mendengar pengakuan langsung Sasuke dengan menyembunyikan wajahnya di kumpulan surai gelap Meiko.

"Kita hampir sampai." Ujar Sasuke, Sakura mencoba mengambil tas tangannya tanpa membangunkan Meiko dan bersiap untuk turun.

"Kau akan menginap?" Sasuke menimbang sebentar tawaran wanita merah jambu itu sebelum menyetujuinya dan turun dari mobil bersama Sakura dan Meiko yang tertidur pulas dalam gedongannya.

Tokyo International Hospital

Itachi meremas frustasi surai hitam panjangnya, sejak dua jam yang lalu proses kelahiran yang di lakukan Hana belum juga selesai. Tangannya menjadi sedingin es, keringat dingin tak berhenti mengaliri wajah tampan dan tegasnya. Ia takut, tentu saja ia takut. Anak dan istrinya tengah berjuang untuk tetap hidup di dalam sana sementara ia hanya duduk diam di sini. Pria itu mengusap kasar wajahnya dan berjalan mondar-mandir di depan ruangan bersalin. Sulung Uchiha itu tak menghentikan langkahnya sampai saat seseorang menepuk pelan bahunya. Sasori Akasuna, Sahabatnya akhirnya tiba.

"Bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Sasori

"Hyuga sialan itu bermaksud membunuh Sakura, dan Hana mengambil tindakan bodoh tanpa berfikir dan meminta persetujuanku." Sasori menghela nafasnya

"Duduklah." Itachi menggeleng dan kembali menatap pintu ruang bersalin itu dengan frustasi

"Kenapa dokter pirang itu lama sekali? Aku sudah hampir mati ketakutan menunggu istri dan anakku!" Gerutuan yang sama terus menerus ia keluarkan sejak tadi.

"Duduk dan minum ini!" Ujar Sasori sambil menyodorkan gelas kertas berisi kopi hitam tanpa gula yang biasa Itachi minum saat ia sedang benar-benar frustasi, ayah satu anak itu mengikuti anjuran sahabat merahnya dan duduk bersamanya

"Aku sudah merencanakan sesuatu dengan Hyuga Neji." Itachi mengalihkan pandangannya pada Sasori

"Apa lagi?" Tanya Itachi

"Aku menawarkan kerja sama dan memberikan suntikan dana yang cukup besar padanya." Itachi hampir saja menyemburkan Kopi yang tengah ia minum sekarang.

"Apa? Kau mau membuat usaha ku selama empat tahun ini memonopoli perusahaan itu menjadi sia-sia?" Sasori menggeleng pelan, hal ini benar-benar membuat sahabat baiknya ini sedikit terbelakang ternyata.

"Bukan begitu maksudku, fikirkan ini baik-baik Itachi. Kau tahu apa artinya semua rencanaku…" Itachi terdiam kemudian tertawa sinis

"Tetap saja belum cukup untukku, adiknya hampir menewaskan Istri dan Anakku, mereka sekarat di dalam sana." Ujar Itachi, Pria itu sudah menyusun beberapa rencana untuk menyiksa Hinata.

"Simpan itu untuk nanti, kita akan melakukannya pelan-pelan." Ujar Sasori, perhatian Itachi teralih saat pintu ruang Oprasi terbuka dan Hana yang tak sadarkan diri di dorong beberapa perawat ke ruang perawatan.

"bagaimana dia?" Tanya Itachi, Tsunade tersenyum manis padanya

"Mereka bertiga berhasil di selamatkan, hanya saja aku khawatir dengan Kondisi Hana." Itachi menatap serius dokter kandungan terbaik di jepang itu.

"Rahimnya mengalami kerusakan dan dia tak akan pernah bisa hamil lagi." Itachi memejamkan matanya menelan bulat-bulat pil pahit yang ia terima

"Pastikan tidak membahas hal ini dengan istrimu sampai ia benar-benar siap. Tak ada seorang wanita pun yang bisa menerima kenyataan seperti itu." Itachi mengagguk mengerti

"Bagaimana dengan kedua putraku?" Tanya Itachi

"beruntung anda cepat membawa istri anda kemari, jadi Bayi-bayi anda berhasil kami selamatkan, mungkin untuk beberapa hari ini mereka harus di rawat secara intensif." Ujar Tsunade

"Setidaknya mereka bertiga selamat. Terimakasih Dr, Senju." Ujar Itachi sebelum berlalu mencari ruang rawat tempat Hana di pindahkan saat ini. Ia akan mengabari Meiko besok, dan untuk sementara ia tak akan mengizinkan siapapun menjenguk istri dan anaknya yang baru saja lahir tanpa seizinnya, ini semua untuk kebaikan mereka. Untuk para Hyuga terutama Hinata, hukuman sudah menati mereka.

TBC. Sorry untuk beberapa bulan yang ga pernah Update ini, Aphro ga bermaksud begitu tapi ya apa boleh buat karena Aphro sibuk Natalan di rumah Oma jadi beginilah. Yah, so far FF ini semakin aneh menurut saya. Saya harap pembaca ga dibuat kebingungan dengan Chapter yang satu ini. Keep reading keep reviewing. Thnks

Aphrodite girl 13