Stronger

Disclaimer : Naruto is belong to Masashi Kishimoto, but Sasuke is MINE #dibakarsakura,

Warning : OOC, Aneh, Gaje, Typo and Miss Typo bertebaran dimana-mana, penulisan tidak menggunakan kaidah EYD yang benar #apadah

Author Bacot Area : Okeh, akhirnya setelah ehemsetengahtahunlebihehem Aphro menghilang dari dunia perfanfic-an Indonesia#eh?, saya balik lagi tapi kali ini bawa FF pair Sasusaku, hehehehe Enjoy this one guys, Mind To RNR Mina?

"Apa yang kau lihat saat ini pada diriku,

Itu bukan aku yang sebenarnya.

Dendam, amarah, keputusasaan,

keinginan kuat untuk memiliki mu lagi

tak bisakah kau lihat itu dimataku saat ini?

yang kau lihat pada diriku saat ini, hanya sebuah topeng

topeng yang ku gunakan untuk merebutmu kembali "

Guilliana's Apartement

Sasuke bangun lebih pagi hari ini, ia memandang wajah cantik wanita merah jambu yang kini tengah terlelap dalam pelukannya. Seperti melihat Sakuranya ia tersenyum dan mengecup singkat puncak kepala wanita itu penuh sayang. Guilliana mengeliat dalam tidurnya sebelum membuka kelopak matanya menapakkan sepasang irish Emeraldnya dan tersenyum mendapati Sasuke yang berada di sampingnya.

"Selamat pagi." Ujarnya, Sakura bangun dari tempat tidurnya dan memberikan kecupan singkat di bibir bungsu Uchiha itu.

"Sudah ada kabar dari Itachi-senpai?" Sasuke menggeleng, Sakura beranjak dari tempat tidurnya membuka tirai kamarnya

"Belum. Tapi dia pasti akan langsung menghubungi kita jika ada kabar bagus." Ujar Sasuke, pria itu mengikuti Sakura yang berjalan ke balkon kamarnya dan memeluk wanita merah jambu itu dari belakang

"Kenapa kau menangis semalam saat aku menyinggung soal Sakura dan calon anak kami?" Sakura terdiam mendengar pertanyaan Sasuke

"Tidak, aku sudah mengatakan alasannya padamu kan, Sasuke-kun ?" Sasuke menggeleng

"Kau menyembunyikan sesuatu dariku, kan? katakan padaku Guilliana-chan , ada apa?" Sakura menggeleng

"Tidak, tidak ada apa-apa." Sakura melepaskan pelukan Sasuke membuat bungsu Uchiha itu memandang heran dirinya

"Aku harus bangunkan Meiko dan siapkan Sarapan, kau mandilah." Ujarnya sebelum berlalu meninggalkan Sasuke sendirian di kamar.

Sakura menuruni tangga apatementnya dan mendapati Natasha sudah ada di dapur bersama Trent, sepertinya mereka baru selesai melakukan tugas jaga malam mereka dan berencana untuk beristirahat sekarang. keduanya membungkuk singkat saat Sakura lewat dan masuk kedapur memasak sarapan simple untuk Meiko dan Sasuke juga dirinya. Natasha dan Trent meninggalkan dapur itu setelah berpamitan dengan Sakura untuk istirahat. Wanita merah jambu itu menghela nafasnya berkali-kali, Sasuke sangat peka membaca ekspresi wajahnya dan dia hampir saja ketahuan.

Sakura membalik omelet yang dibuatnya dan mematikan kompornya saat dering telfon megganggunya , Sakura mengangkatnya saat melihat nama si pemanggil. Sasori menelfonnya sepagi ini, mau tidak mau pertanyaan besar itu kembali muncul di kepalanya.

"Ada apa Sasori-nii?" Tanya Sakura saat melihat Meiko menuruni tangga dengan wajah masih mengantuk dan baju tidurnya yang sedikit kebesaran.

"Guilliana-baasan…" Panggilnya, Sakura menghampirinya dan menggendongnya

"Meiko masih disana?" Tanya Sasori, Sakura mengiyakan pertanyaan kakaknya

"Jadi, Nii-san ada apa menelfonku pagi-pagi begini?" Tanya Sakura sambil mengaduk susu coklat yang khusus ia buatkan untuk Meiko dan meletakkannya diatas meja

"Aku akan ke perusahaan Hyuga hari ini." Sakura menghentikan kegiatannya dan menghela nafasnya kasar.

"untuk apa? Nii-san tidak bermaksud memberi mereka kesempatankan?" Sasori tertawa,

"Akan terlihat seperti itu, tapi sebenarnya itu jebakan ku." Ujarnya, Sakura duduk di hadapan Meiko dan memperhatikan anak berusia lima tahun itu menyantap sarapannya

"Bagaimana kondisi Hana-nee ?" Tanya Sakura, Meiko langsung menghentikan kegiatan makannya dan meminta ponsel Sakura tak sabaran, wanita merah jambu itu terkekeh geli melihat tingkah keponakannya

"Meiko ingin bicara padamu, Nii-san ." Ujarnya

"Ah… kebetulan, Itachi menitipkan pesan untuknya. Berikan ponselmu pada anak menggemaskan itu." Ujar Sasori

"Tunggu sebentar." Sakura memberikan ponsel itu kepada Meiko dan membiarkan anak berusia lima tahun itu mengoceh tak sabaran sementara ia meninggalkannya sebentar dengan pengawasan Zac yang baru saja masuk keapartementnya.

Sasuke memandang liontin yang sangat ia kenali itu sekali lagi. Bagaimana Guilliana bisa memilikinya? bahkan foto di dalamnya adalah foto Ia dan Sakura yang saat itu sedang hamil 7 bulan. Bagaimana bisa Guilliana memiliki barang-barang milik Sakura, terlebih lagi ia sangat ingat Sakura tak pernah melepaskan liontin ini dari lehernya. Irish sekelam malam Sasuke menatap kotak kecil lain dalam laci meja rias wanita itu, Sebuah cincin yang sangat mirip dengan cincin yang selalu ia kenakan, Cincin pernikahannya dengan Sakura. Bagaimana mungkin Guilliana memiliki semua ini.

Sasuke menatap kesekelilingnya dan memeriksa seluruh sudut kamar. Rak buku, semua buku-buku milik Guilliana hampir mirip dengan koleksi yang dimiliki Sakura, design interior kamar wanita itu juga sama. Betapa bodohnya dia kenapa ia baru menyadari semuanya sekarang? Apa mungkin Guilliana adalah Sakura? Tapi kalau memang benar dimana putra mereka? bagaiaman caranya wanita itu bisa selamat, dan kenapa dia harus berpura-pura dihadapannya? Sasuke menggenggam erat kedua benda penemuannya itu dan memasukkannya ke celana bahannya, dia harus mendapatkan penjelasan dari wanita itu nanti.

"Sasuke-kun?" Sasuke menoleh kearah pintu Saat Guilliana masuk dan membuka kimono tidurnya di depan pintu kamar mandi, sekilas Sasuke melihat bekas luka yang menurutnya familiar.

"Guilliana…" Wanita itu menoleh, Ia memandang bertanya pada Sasuke, Pria itu mendekat dan menyentuh pelan luka di bahu sebelah kanan wanita itu

"Dimana kau mendapatkan luka ini?" Guilliana terdiam dan ikut meraba luka itu, wajahnya berubah menjadi sendu

"Beberapa tahun yang lalu saat latihan polo di universitas." Bohong, jelas itu yang Sasuke tahu

"kau mendapatkannya saat kita mengalami kecelakaan mobil setelah pesta pertunangan karena aku mabuk." Sakura tercengang mendengar kalimat itu dari sasuke, Sasuke melepas gaun tidur Sakura dan meraba sebuah tanda melintang panjang di dekat perutnya

"dan ini?" Sakura membuang wajahnya tak berani menatap langsung wajah Sasuke

"Aku pernah hampir di rampok di paris dan melakukan perlawanan penjahat itu membawa pisau dan aku tertusuk di bagian sana." Ujarnya

"Salah, kau mendapatkannya saat berusaha kabur dari produser yang hampir memperkosa mu, dan itu bukan luka tusukan, tapi sayatan." Sakura menahan air matanya

"Kenapa kau menanyakan itu semua?" Sasuke mengeluarkan dua beda yang dia temukan

"Katakan padaku kenapa kau bersembunyi dan membohongi suamimu sendiri, Uchiha Sakura?" Sakura tercekat tak tahu harus bagaimana lagi, Sasuke memegang kunci dari indetitasnya, cincin pernikahan dan liontinnya

"Aku…" Sasuke menatap sendu wanita itu sebelum memeluknya, tak membiarkan Sakura lepas sekali lagi dari genggaman tangannya

Tokyo International Hospital

Itachi terbangun saat merasa seseorang mengelus lembut kepalanya, ia mendongak dan mendapati Hana tersenyum lemah kepadanya. Pria itu memberikan kecupan singkat di kening wanita bersurai coklat itu.

"Dimana, Daisuke dan Daichi?" Itachi tersenyum Saat Hana menanyakan bayi kembar mereka

"Harus di rawat intensif selama beberapa hari, kau jangan Khawatir." Hana tersenyum lemah

"Tapi aku belum memberikan asi kepada mereka, mereka berdua pasti kelaparan." Itachi menggeleng

"perawat tidak akan membiarkan mereka kelaparan begitu saja, percaya padaku." Ujar Itachi, Hana mengangguk

"Boleh aku melihat mereka berdua?" Itachi menimbang sebentar

"Akan ku tanyakan pada dokter, kau tunggu di sini." Pria itu memencet tombol merah di kepala ranjang rumah sakit Hana, lalu menggenggam tangan wanitanya

"terimakasih. Kau benar-benar wanita yang hebat."

"Aku hanya berusaha untuk memberikan kado terindah dalam setiap menit kehidupanmu, dan sebagai seorang wanita, aku hanya bisa melakukan ini untukmu." Itachi menggeleng dan mengecup singkat bibir pucat wanitanya

"sejak awal, aku tak pernah menyesal menerima perjodohan ini. Kau memang wanita yang paling tepat untuk bersanding di sampingku." Ujarnya Hana tersenyum dan saat itu pintu ruang rawatnya terbuka.

"Maaf mengganggu kalian sebentar." Ujar Dokter bersurai blonde itu, sambil tersenyum ramah dan menghampiri Hana

"kedua bayi kalian sudah jauh lebih baik sekarang, hanya saja mereka harus tetap di rawat dengan serius untuk beberapa hari kedepan. Aku harap kau tidak keberatan." Ujar Tsunade, Hana mengangguk

"Aku percayakan mereka padamu, dokter." Ujarnya. Tsunade tersenyum ramah lalu memeriksa keadaan Hana.

"Kau ingin menjenguk mereka?" Tanya Tsunade, Hana mengangguk dan menatap penuh harap

"Tentu saja, dengan ijin anda." Tsunade membenarkan letak stetoskopnya lalu mengangguk

"Silahkan saja." Ujarnya, wanita cantik itu segera memandang Itachi dan hanya di balas senyuman tipis olehnya.

"Terimakasih banyak, dokter." Ujarnya

"Itachi-kun ayo! Aku tidak sabar melihat mereka." Hana bangun dari tempat tidurnya namun segera merasakan nyeri di bagian bawah perutnya

"Pelan-pelan. Tunggu disini sebentar, akan ku ambilkan kursi roda." Ujarnya, Itachi meninggalkannya sebentar sementara Tsunade memandang khawatir kearahnya.

"Dokter, apa aku baik-baik saja. Kenapa rasanya ada yang salah dengan bagian bawah perutku?" Tsunade hanya menggeleng

"Itu karena kau baru melahirkan, terlebih kami terpaksa membuat mu melahirkan karena kau keracunan." Ujarnya, Hana mengangguk mengerti. Itachi masuk membawa sebuah kursi roda dan dengan Hati-hati membantu Hana duduk diatas kursi rodanya. Sulung Uchiha itu meninggalkan ruangan rawat Hana membawa wanita itu mengunjungi kedua putra kembar mereka yang baru saja lahir kedunia.

Hyuga Corporation

Sasori memandang sinis gedung pencakar langit yang akan dimasukinya sebentar lagi. dulu ia bersumpah demi nama ayahnya, demi darah ayah dan ibunya yang tumpah karena persaingan bisnis tak sehat yang di lakukan sang pemimpin perusahaan kepada keluarganya, ia tak akan pernah melangkahkan kakinya bahkan hanya untuk menginjak halaman gedung mewah ini. Tapi hari ini, demi membalaskan semua dendamnya dan menyempurnakan permainan sahabatnya si sulung Uchiha, pria merah itu rela menanggalkan semua kesombongan dan melanggar sumpahnya. Ia akan menghancurkan Hyuga, dengan cara yang jauh berbeda dengan cara yang sempat ia rencakan sebelum bergabungnya Itachi, Hana dan Sakura.

"Kau sudah datang?" Sasori memadang Hyuga Neji yang masih terlihat angkuh saat menyambutnya

"Seperti yang kau lihat." Ujarnya

"Kenapa tidak langsung masuk kedalam saja dan menunggu diluar? Dewan direksi sudah menunggumu." Ujarnya

"Kau sedang membutuhkan bantuan perusahaanku, pastikan kalau kau bersikap baik padaku." Ujarnya, ia bisa melihat senyum tak sudi itu terpampang jelas di wajah sulung Hyuga itu namun dengan mudah mengabaikannya.

Neji mengantar Sasori keruangan Meeting di ikuti beberapa anak buah mereka. Keduanya saling diam tak bersuara, tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk memulai pembicaraan sama sekali, Aura permusuhan itu dapat terbaca dengan jelas di wajah mereka. Neji membuka pintu ruang Meeting dan mempersilahkan Sasori masuk. Putra tunggal keluarga Akasuna itu bisa melihat deretan para tetua Hyuga yang juga merupakan dewan direksi perusahaan mereka dan beberapa pemegang Saham yang lain.

"Senang kau menepati janjimu untuk datang, Akasuna-san." Ujar Hyuga Hiazhi, Sasori tersenyum mengejek

"Aku tak akan mengingkari janjiku." Hyuga Hiazhi membalas senyumannya saat mendengar Sasori menyelesaikan kalimatnya

"Dan jangan kira aku akan masuk ke perangkap dua kali, Hyuga-san ." Ujar Sasori sebelum duduk di kursinya di ikuti beberapa anak buahnya

"Katakan padaku kenapa kau berniat membantu kami?" Tanya Neji

"Mudah, aku melihat perusahaan ini mungkin masih bisa berdiri lagi. Aku mempelajari bisnis di Eropa selama beberapa tahun ini sekalipun aku menetap disana dan lebih tertarik dengan rumah sakit dan pasienku." Ujar Sasori

"Kenapa kau tidak membiarkan adik merah jambu mu itu turun tangan?" Sasori tersenyum sengit memandang Neji

"Tak akan ku biarkan kalian menyakitinya bahkan menyentuh ujung rambutnya, lagi pula dia sedang menyelesaikan Proyek kami dengan Uchiha." Ujar Sasori

"Jadi, kembali ke masalah awal kita. Kenapa kau ingin membantu kami? Kau berniat membalas dendam?" Sasori tertawa

"bukan, tentu saja bukan seperti itu. Aku justru bermaksud memberikan sedikit suntikan dana kepada kalian, itu saja." Ujarnya, Neji memandang nya curiga

"Kau berniat lain, aku bisa melihat itu dari wajah mu." ujarnya, Sasori tersenyum kecut

"Kau terlalu mencurigaiku, mungkin ada masalah pribadi disini antara kita. Tapi aku bukan seseorang yang akan membawa masalah pribadi ku dalam bisnis yang ku pimpin." Bohong, Sasori tentu sedikit berbohong pada ayah dan anak Hyuga ini

"Baiklah. Jadi kau akan membantu kami? Apa Syaratnya?" Tanya Hyuga Hiazhi

"mudah, aku akan menyuntikan dana pada kalian dan memberikan kalian sebuah proyek." Sasori memberikan proposal

"Aku dengar adik bungsu mu seorang designer interior bukan?" Tanya Sasori

"Hanabi belum di perbolehkan terjun langsung karena ia belum menyelesaikan studinya, dan aku berharap kau menyerahkannya kepada Hinata." Ujar Neji

"kalau begitu minta dia ke kantorku besok untuk bertemu adikku." Ujar Sasori

"untuk apa?" Tanya Neji, sulung Hyuga itu jelas terlihat geram

"dia memerlukan bantuan seseorang untuk mendesign interior hotel mewah berkelas internasional. Aku harap adik mu bersedia karena ini akan menjadi awal perusahaanmu." Sasori mengulurkan tangannya

"Deal?" Ujarnya, Neji memadang tangan Akasuna Sasori yang menggantung di udara ia terlihat berfikir sebentar sebelum membalas jabat tangan rekan bisnisnya. Ia tak punya pilihan lain, selain menyetujuinya.

Sakura's Apartement

Sakura sudah rapih dengan pakaian kantornya dan begitu juga Sasuke. Meiko sudah diantar kerumah sakit tadi pagi oleh Zac begitu menerima telfon dari Sasori dan kini hanya tinggal mereka berdua saja yang ada di rungan itu. Hanya suara nafas mereka yang bersahutan dan detang jarum jam yang berganti. Sakura memainkan kedua jari telunjuknya mencoba untuk tidak memfokuskan dirinya pada Sasuke yang sedang menatapnya.

"Katakan padaku kenapa kau tega membohongi suami mu sendiri?" Sakura menghela nafasnya

"Sasuke-kun, Aku sama sekali tak bermaksud begitu aku hanya ingin membalas dendamku dan aku tak ingin kau terlibat." Ujarnya, Sasuke menggenggam tangannya

"Kau ingat kenapa aku memilihmu? Bagaimana aku melawan semua para tetua dan berusaha keras meyakinkan mereka untuk menerimamu? Saat ku bilang aku rela memberikan seluruh hidupku hanya untukmu? Apa kau masih ingat itu semua?" Ujarnya, Sakura hanya bisa mengangguk

"Aku serius saat mengatakan itu, Sakura. Kau seharusnya membiarkan Itachi-nii menghubungiku, kau seharusnya tidak membiarkan aku menderita selama empat tahun ini dan membuatku mengkhianati janji pernikahan kita. Kau seharus-nya memberitahuku tentang semuanya bukannya bersembunyi seperti ini." ujarnya, Sakura hanya diam

"Katakan padaku, dimana Kenzo?" Sakura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, jelas yang ditanyakan Sasuke adalah calon bayi mereka yang berusia tujuh bulan saat itu

"Maaf…"Ujarnya, Sasuke berpindah dan merangkulnya, membiarkan Sakura menangis dalam pelukannya.

"Maafkan aku Sasuke-kun …" Sasuke mengelus pelan punggung mungilnya

"katakan padaku, apa yang terjadi denganmu dan Bayi kita? Kau belum menceritakan semuanya dengan jelas." Ujar Sasuke

"Aku kehilangan calon jagoan kecil kita. Maafkan aku karena tak bisa menjaganya, aku terlalu lemah untuk bertahan hidup saat itu, akibat ke-lemahanku bayi kita yang menjadi korbannya." Sasuke mati-matian menahan rasa Sakit yang menimpanya, bayi yang ia harapkan sudah lama meninggal, ayah macam apa dia yang tidak bisa menjanya?

"Jangan salahkan dirimu seperti itu." ujarnya, Sasuke memeluknya semakin erat, membuatnya merasa lebih tenang dan berhenti menyalahkan dirinya sendiri.

Sasuke mempererat pelukannya dan mengecup berkali-kali puncak kepala merah jambu Sakura. Ia ingin Sakura tahu jika apapun yang di lakukannya selama ini, ia tak akan pernah membencinya karena selama ini ia hanya bisa mencintainya, bukan membencinya. Entah dengan berbagai alasan apapun itu.

TBC. Yah aku tahu banget kok kalo ini Chapter teraneh mungkin yang paling aneh dari semua yang teraneh di chapter ini. jujur aja aku udah lama ga update karena cari pencerahan dan akhirnya dapet, semoga aja ga ada readers yang kabur ya. Mind to RNR mina?