Stronger Disclaimer : Naruto is belong to Masashi Kishimoto, but Sasuke is MINE #dibakarsakura Warning : OOC, Aneh, Gaje, Typo and Miss Typo bertebaran dimana-mana, penulisan tidak menggunakan kaidah EYD yang benar #apadah Author Bacot Area : Okeh, akhirnya setelah ehemsetengahtahunlebihehem Aphro menghilang dari dunia perfanfic-an Indonesia#eh?, saya balik lagi tapi kali ini bawa FF pair Sasusaku, hehehehe Enjoy this one guys, Mind To RNR Mina?
"Apa yang kau lihat saat ini pada diriku,
Itu bukan aku yang sebenarnya.
Dendam, amarah, keputusasaan,
keinginan kuat untuk memiliki mu lagi tak bisakah kau lihat itu dimataku saat ini?
yang kau lihat pada diriku saat ini, hanya sebuah topeng topeng yang ku gunakan untuk merebutmu kembali "

Tokyo International Hospital Sasuke turun dari mobil sport hitam miliknya, ia bergerak memutari mobil itu dan membuka pintu sisi penumpang di sampingnya. Sakura turun dengan Meiko dalam gendongannya, gadis kecil itu meringkuk nyaman dalam gendongannya, sesekali Sakura mengelus lembut surai raven milik gadis kecil Itachi Uchiha itu. Sasuke memandang iba kearahnya, setelah memarkirkan mobilnya ia mendapingi Sakura dan Meiko masuk kedalam gedung rumah Sakit. Penerbangannya ke LA akan di undur karena kejadian semalam, pihak Namikaze Corp bisa mengerti alasan mengapa ia justru meminta Obito dan Rin yang berangkat menggantikannya dan Sakura ke LA hari ini.
"Guilliana baa-chan…" Sakura menunduk memandang sepasang heazel milik gadis kecil itu sudah membesar dan berkaca-kaca, bibir mungilnya tidak berhenti menggigiti jempolnya meredam rasa khawatirnya.
"Ya, Sayang?" Ujarya, Meiko menunduk "Apa Otou-san akan baik-baik saja?" Tanyanya, Sakura memandang Sasuke sebentar, ia menghela nafasnya.
"Ya, Sayang. Ayahmu akan baik-baik saja." Meiko mengangguk "Kita akan lihat adikku juga?" Sakura dan Sasuke kompak mengangguk sebagai balasan akan pertanyaan putri kecil Itachi yang ada di dalam gendongannya tersebut. Dalam hatinya Sakura merasa berat untuk melangkah masuk menapaki lantai-lantai koridor rumah sakit. Hana belum tahu apapun tentang kondisi suaminya, itulah yang ia takutkan. Reaksi Hana dan Temari saat mendengar keadaan pasangan mereka dan kondisi dua pria itulah yang Ia takutkan. Sakura memandang Sasuke, ia merasa bersalah sekarang, ambisinya lah yang menyebabkan ini semua.
"Sasuke-kun…" Ujarnya, Sasuke menoleh lalu meraupnya dalam pelukannya.
"Bukan salahmu, Sayang. Sama sekali bukan." Ujarnya menenangkan, mereka terus melangkah, siap tidak siap Hana harus tahu tentang kondisi suaminya.
Hana's Room Dokter Tsunade dan perawat baru saja meninggalkannya sendirian diruang rawatnya. Sepasang irish Heazelnya memandang jam dinding yang tergantung di tembok ruang rawat VIP nya itu. Dia menghela nafasnya, air matanya mengalir begitu saja. Apa yang harus ia katakan pada Itachi? Rahimnya rusak. Bodoh. Dia benar-benar wanita bodoh. Rahimnya harus diangkat secepatnya tapi dia tidak bisa membuat keputusan tanpa suaminya. Sial, Hinata dia akan membayar mahal untuk yang satu ini.
"Ohayou kaa-san!" Hana menoleh mendapati gadis kecilnya berada dalam gendongan Sakura dan Sasuke bersama mereka, Sakura menurunkan Meiko dari gendongannya dan gadis kecil itu langsung berlari cepat kearahnya.
"Nee-san…" Sakura memeluk Hana singkat sebelum duduk di sebelah ranjang kakak iparnya. Hana Tersenyum menyambut adik iparnya itu, ia memandang kearah pintu masuk berharap suaminya juga akan masuk sebentar lagi, tapi ia tetap tidak melihat sosok Itachi muncul dari balik pintu.
"dimana Itachi?" kedua orang dewasa di ruangan itu hanya diam membisu.
"Sasuke, dimana kakakmu?" Sasuke memandang Hana sebentar lalu menghela nafasnya, ia mendekat dan duduk di sebelah ranjang Hana, membiarkan Meiko duduk dalam pangkuannya.
"Kami mendapat serangan mendadak dari gerombolan Yakuza tadi pagi." Hana menutup mulutnya dengan tangannya. "Itachi-nii dan Sasori-Senpai, mereka tertembak dan terluka cukup parah." Air mata mengalir begitu saja di wajah cantiknya, Hana memejamkan matanya berusaha meredam rasa sakit yang kini menghujamnya, Kami-sama apa lagi sekarang?
"Bagaimana kondisinya, Sasuke?" Tanya Hana, Sasuke memejamkan matanya dan menggeleng "kehilangan banyak darah dan sedang kritis. Tapi Nee-san tenang saja, aku percaya Nii-san akan baik-baik saja." Hana Menggeleng, Itachi jelas sedang tidak baik-baik saja. "Apa ini ulah Hyuga Hinata?" Sakura mengangguk mantap "Dan Keluarganya." Tambahnya, Hana mengepalkan tangannya "Sasuke, tolong ambilkan kursi rodaku. Aku ingin bertemu Itachi-Kun…" Ujar Hana, Sakura dan Sasuke berpandangan sejenak keduanya mengkhawatirkan keadaan Hana.
"Tapi Nee-san…" Hana menggeleng kearah Sakura, membuat wantita itu. menggeleng pasrah dan membiarkan Hana meninggalkan rungannya bersama suaminya dan Meiko.
Sakura menghela nafasnya, ia ingin bertemu dengan Itachi tapi ia ingin menjenguk Sasori terlebih dahulu. Bagaimanapun juga pria itu yang paling banyak membantunya. ia fikir panjang lagi kedua kaki jenjangnya bergerak melangkah ke arah lain, kamar rawat Sasori Akasuna.
Temari's Office Wanita bersurai pirang itu masih asik tenggelam dalam pekerjaannya, sepasan irish Jadenya sibuk mengamati laporan bagian keuangan dengan teliti. Wanita itu mengalihkan padandangannya kearah jam dinding di ruangannya lalu kearah figura yang mengabadikan potretnya dengan sang tunangan yang berlatar menara eifel. Foto yang ia dan Sasori ambil satu tahun yang lalu tepat setelah pertunngan mereka di paris, senyum manis tersungging di bibirnya. Apa yang sedang dilakukan pria itu ya? Penasaran, Temari menekan tombol speed dial pada telfon di meja kantornya.
"Tolong sambungkan ke kantor Akasuna Sasori, Moegi." Ujarnya pada asistennya itu. Setelah menunggu beberapa menit seorang wanita terdengar dari balik telfon menjawabnya.
"Selamat pagi, Temari-sama." Ini suara Key, kenapa asisten Sasori yang menjawab?
"Key? Apa Sasori tidak masuk kantor hari ini?" Tanyanya, "Ha'i, Temari-sama apa anda belum menerima kabar dari keluarga Akasuna?" Temari memejamkan matanya "Sasori-sama mendapat serangan dari kelompok mafia Yakuza. Beliau sekarang sedang dirawat di rumah sakit internasional Tokyo…." Tanpa menunggu kalimat dari Key selesai Temari sudah menyambar tas dan kunci mobilnya dengan cepat dan berlari melewati asisten dan beberapa Staff lainnya yang memandannya heran. Tak perlu di Tanya lagi siapa dalangnya, Temari sudah bisa menebak dengan pasti siapa yang menjadi dalang dari semua ini. Keluarga Hyuga, sudah pasti itu mereka.
Sasori's room Sakura masih duduk disana memandangi Sasori yang masih belum sadar dari keadaan komanya, hening adalah kata yang akan ia pilih untuk menggambarkan suasana di kamar rawat Sasori sekarang. Hanya deru suara mesin oksigen dan mesin EKG yang mengisi keheningan diantara mereka. Sakura menggenggam tangan Sasori, ia berterimakasih kepada Kami-sama Karena Sasori dan Itachi masih hidup dan ia juga berterimakasih karena mereka selalu melindunginya. Ia hanya berharap pria yang sudah ia anggap kakaknya ini kembali bangun dari Koma, dan tak merasakan sakit lagi sesudahnya.
"Bangunlah Sasori-nii. Kita masih punya tugas yang belum kita selesaikan." ujarnya, gadis itu memandang selang yang terpasang di hidung pria yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu, ia hanya berharap keajaiban akan datang dan sepasang irish itu akan terbuka dan menatapnya lagi, memberikan dia rasa aman seperti yang ia dapatkan dari kakak kandungnya sendiri.
Itachi's Room Hana masih duduk dan menggenggam erat tangan Itachi yang terasa dingin. Suara EKG mengisi keheningan yang ada diantara mereka. Sasuke sudah membawa Meiko ke cafeteria untuk sarapan dan memberi waktu untuknya bersama Itachi berdua. Wanita itu memandang wajah pucat suaminya, surai panjang hitam milik itachi terikat berantakkan, wajahnya pucat dan sepasang irish onyxnya masih senang bersembunyi dibalik kelopak matanya yang tertutup rapat. Kami-sama ia tidak mau kehilangan pria ini. Itachi adalah nafasnya, nyawanya, detak jantungnya, separuh dari jiwanya. Sama seperti Sasuke mencintai Sakura maka seperti itulah cintanya kepada Itachi. Bahkan lebih.
"bangunlah, Anata. Mau sampaikapan kau tidur terus seperti ini? Kau tidak merindukanku dan sikembar? Atau Meiko? Apa kau akan terus tertidur dan membuat kami menunggu?" ujarnya, ia mencium lembut punggung tangan Itachi dengan sayang.
"bangunlah, kau tidak mau melewatkan perkembangan kedua jagoanmu, kan? Sayang aku tahu kau lebih kuat dari ini. Bangunlah, buka matamu. Jangan pergi tinggalkan kami." Sekali lagi ia berucap, sepasang irishnya memandang wajah pucat Itachi.
"Nee-san…" Hana menoleh mendapati Sakura berdiri disana, Hana menghapus airmatanya menyunggingkan senyum getir kepada adik iparnya.
"dia masih belum bangun sakura." Ujarnya, wanita itu menangis sejadi-jadinya dalam pelukan adik iparnya.
"Itachi-kun belum mau membuka matanya. Sakura bagaimana ini?" Ujarnya, tangisnya pecah, Sakura memeluk Hana mencoba menenangkan nyonya muda Uchiha itu.
"Nee-san semuanya akan baik-baik saja." Ujarnya, Hana masih teru terisak dalam pelukannya. "Aku bisa mati kalau dia mati, Sakura." Ujarnya. Sakura menggeleng menghapus air mata Hana "Tidak. Tidak boleh. Fikirkan Meiko, Daichi dan Daisuke. Lagi pula Nee-san Itachi-nii pasti selmat." Ujarnya, Hana memejamkaan matanya, ya Tuhan kapan kau akan membuat Itachi Uchiha membuka kedua matanya itu?
"Nee-san kumohon maafkan aku. Ini Salahku." Tak ada balasan dari bibir Hana, Yang ada hanya isakkan dan gelengan lemah darinya.
Mansion Uchiha Hinata menekan tombol off remote control Tvnya dan saat itu juga layar tvnya menghitam dan kesunyian tercipta di dalam kamarnya. Ia tersenyum puas, Sasori dan Itachi tinggal menunggu kematian mereka, sekarang tinggal Guilliana Akasuna. Ia tersenyum licik, ribuan cara sudah tersusun rapihdalam benaknya. Ia tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membunuh wanita bersurai merah jambu dan menempatkan kembali Uchiha di bawah kendali Hyuga dan hidupnya akan selamat. Ya itu benar tinggal dua langkah lagi dan hidupnya akan damai lagi. Ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunannya, wanita itu membuka pintu kamarnya dan mendapati Guilliana berdiri di sana memandangnya Tajam.
"mau apa kau kesini?" Sakura memandang sengit kearahnya dan senyum mengejek terpampang jelas di wajahnya.
"Kenapa Hinata?" Tanyanya, Hinata mengalihkan pandangannya kearah lain, "Aku tidak ingin melihat selingkuhan suamiku ada dihadapanku." Seketika itu juga tawa Sakura meledak. "Selingkuhan? Ya Tuhan, aku seburuk itu ya? Ckckck." Dan lagi tawa mengejek kembali ia dengar "Dasar Jalang!" Tangan Hinata sudah melayang akan menampar Sakura, tapi lagi-lagi tangan besar Sasuke menahannya "Siapa yang kau panggil Jalang, Hinata?" Ujar Sasuke,ia memandang tajam Hinata membuat wanita itu memandang sengit kearahnya.
"wanita yang kau lindungi saat ini, Sasuke-kun." Ia memberikan penekanan di setiap kata yang ia ucapkan "jaga bicaramu, Hinata! Kau sudah keterlaluan!" Sakura menahan Sasuke yang akan melayangkan balik tamparan kearah Hinata "Dengar Hinata, kau akan membayar semua yang sudah kau lakukan." Ujar Sakura, dengan itu wanita bersurai merah jambu itu berbalik dan meninggalkan Sasuke yang masih berdiri berhadapan dengan Hinata.
"ini terakhir kalinya Hinata, dan aku bersupah kau tidak akan pernah bisa menyentuh keluargaku setelah ini." Ujarnya, Sasuke melangkah masuk kedalam kamarnya, mengambil koper besar dan melangkah masuk kedalam Walk in closet nya. "Kau mau kemana Sasuke-kun?" Tanya Hinata, Sasuke hanya diam tak menjawab tapi ia sibuk modar-mandir sejak tadi memasukkan pakaiannya kedalam kopernya.
"Penerbangan kita Ke LA besok pagi. Sebaiknya kau siap-siap. Tiketmu ada disana." Ia menunjuk meja rias Hinata "Kita bertemu di bandara besok pagi. Jangan terlambat." Ujarnya, dengan satu hentakkan keras ia menutup kopernya.
"Kita tidak pergi bersama?" Sasuke memandang wanita itu tajam.
"Tidak, aku akan menginap di apartement Guilliana hari ini. Kau tahu, hanya berjaga-jaga kalau dia tidak di serang seperti kakak dan rekan bisnisku tadi malam." Ujarnya, Baru ia akan beranjak keluar dari kamarnya tapi tangan Hinata menahannya.
"Kau tidak bisa pergi kemanapun, Sasuke-kun tidak akan pergi kemanapun!" wanita itu menggeleng kuat, Sasuke memutar bola matanya bosan dan dengan mudah melepas cengkraman wanita itu.
"Tidak bisa? Apa hak mu untuk melarang, Hinata?" Tanya Sasuke tajam, wanita itu balas memandangnya "Karena aku Istrimu yang Sah, dan jalang itu adalah perempuang penggoda yang berusaha mengambil mu dari sisiku." Sasuke memandang sengit kearahnya "Jalang? Wanita penggoda? Mau ku beritahu siapa yang jalang Hinata?" Wanita itu terdiam, ia menunduk tak berani memadang Sasuke "apakah wanita yang membunuh sahabatnya sendiri saat sedang mengandung dan menjebak suami sahabatnya dengan manipulasi saham perusahaan agar menikahinya tidak termasuk jalang, Hinata? Apakah merusak rahim kakak iparku, merencanakan pembunuhan kakak, rekan bisnis dan mengancam hidup ibuku dan keluargaku hanya untuk mendapatkan apa yang kau mau bukan seorang wanita yang jahat, Hinata? Bukankah wanita seperti itu pantas di sebut Jalang dan Murahan?
Ya, kau seorang Hyuga. Kau mungkin sempurna, tapi itu hanya kulit luarmu. Kau ingin tahu kenapa aku tidak pernah mencintaimu? Aku hanya mencintai Sakuraku hingga aku mati. Kau tahu kenapa aku tidak pernah menyentuhmu? Karena aku hanya akan menyentuh Sakura dan hanya dia berhak menjadi ibu dari anak-anakku. Aku pernah hampir mendapatkan kebahagiaan yang sempurna Hinata, tapi seseorang dan kluarganya berhasil melenyapkan kebahagiaan ku dan menjadikannya sebuah kenangan. Aku tersiksa selama empat tahun ini apa kau tahu? Sekarang aku menemukan apa yang aku cari dan itu bukan dari dirimu. Kau ingin tahu kenapa aku menikahimu? Itu semua Karena aku begitu membencimu." Dengan penekanan di akhir kalimatnya itu Sasuke meninggalkan wanita itu diam mematung di depan pintu kamarnya.
Air mata itu mengalir begitu saja di wajahnya. Sasuke membencinya, dia pasti sudah tahu semuanya. Itachi dan Sasori pasti sudah memberitahu semuanya. Ia jatuh terduduk di lantai kamarnya, tubuhnya ia sandarkan ke kaki ranjangnya dengan kasar. Kata-kata Sasuke barusan benar-benar menyayat hatinya. Pria itu membencinya, pria itu menikahinya karena dia membencinya. Kenapa? Kenapa harus Sakura yang di cintai Sasuke sampai akhir hayatnya, kenapa harus wanita miskin itu? Kenapa harus dia, dan kenapa setelah empat tahun dia meninggal dia muncul sebagai Guilliana Akasuna. Ia menjerit histeris dan melempar apapun yang dapat di jangkaunya. Sasuke tidak boleh lepas dari genggamannya. Pria itu tidak bisa pergi dari hidupnya. Tidak, tidak bisa, dia tidak bisa mengjinkannya. Sasuke adalah miliknya, selamanya akan menjadi miliknya.
Seluruh tubuhnya gemetar, keringat digin mulai mengalir di pelipisnya. Hinata bangkit dari posisinya, wanita itu membuka laci nakas di sebelah ranjangnya. Dengan cepat ia mengaduk-aduk isinya dan menemukan tabung transparan berisi puluhan pill kecil berwarna putih di dalamnya. Obat penenang. Ia mengambil beberapa tablet dan meminumnya dengan cepat. Perlahan tapi pasti ia jatuh diatas ranjangnya dan tak sadarkan diri.
Itachi's Room Tokyo International Hospital Suara EKG masih terdengar jelas didalam ruangan itu. Hana masih setia duduk di sana, Meiko sudah diantar pulang Sasuke dan Sakura tadi siang, dan wanita itu masih menolak untuk meninggalkan suaminya barang sebentar saja. Ia kembali menggenggam telapak tangan Itachi. Kantung berisi cairan infuse dan darah masih terus diberikan, selang oksigen masih dengan setia terpasang diantara kedua rongga hidungnya, tapi pewaris utama Uchiha Corp itu belum membuka matanya. Hana takut. Dia takut suara EKG yang menyanyikan detak jantung dan kehidupan suaminya itu akan berubah menjadi lonceng kematian yang meruntuhkan dunianya. Tapi ia terus menggeleng menolak fikiran negatif yang sudah hinggap dalam benaknya sejak tadi. Itachi pasti akan sadar, cintanya ini tidak akan pergi meninggalkannya, dia adalah seorang bajingan kalau sampai pergi begitu saja tanpa memikirkan dia dan ketiga anak mereka.
"Bangun Itachi-kun, kenapa kau bermain-main seperti ini. Kau membuatku khawatir brengsek." Ujarnya, umpatan kembali keluar dari bibirnya yang sudah putus asa.
"hiks…" ia kembali terisak dan membenamkan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Saat itulah dia merasa seseorang menepuk halus puncak kepalanya. Ia menoleh dan mendapati Itachi sudah membuka kedua matanya, ia tersenyum lemah.
"Air…" suaranya serak, dengan cepat Hana menuangkan air yang ada di nakas di samping ranjang rawat Itachi dan mengambil sedotan lalu membantu suaminya itu minum pelan-pelan.
"kau benar-benar brengsek Itachi Uchiha. Aku hampir saja akan menyusulmu kalau suara EKG itu berubah menjadi lonceng kematian bagi mu." Itachi hanya tersenyum lemah mendengar omelan istrinya itu.
"Aku butuh dokter Hana. Kau boleh memarahiku nanti." Wanita itu mengangguk senyuman masih tersungging di bibirnya. Kami-sama terimakasih.
Sasori's Room, Tokyo International Hospital Temari masih memandangi tunangannya yang baru saja sadar dari komanya itu. Wanita itu sedang menunggu dokter selesai memeriksanya. Setelah dokter itu keluar ia mendekat dan duduk di tepi ranjang tunangannya. Sasori langsung memeluknya.
"Sasori…" Pria itu mengelus pelan punggung rampingnya.
"Aku sudah kembali, Sayang. Tidak apa-apa." Temari menggeleng,
"Kumohon, berhentilah. Semakin jauh kau melangkah untuk balas dendam hidupmu akan semakin berbahaya." Sasori memejamkan matanya dan dia menggeleng pelan "Kau tahu bagaimana mereka membunuh orangtuaku Temari, percayalah padaku ini tak akan lama. Setelah ini selesai aku bersumpah padamu aku tak akan meninggalkanmu lagi." Ujarnya, Temari tak bisa bilang tidak. Wanita itu memang mencintai Sasori lebih dari dia mencintai hidupnya sendiri, tapi ia tahu Sasori lebih mencintai keluarganya dari pada nyawanya sendiri.
"Tolong, Ponselku." Temari memandang heran tuangannya itu, tapi tanpa banyak bertanya ia langsung menyerahkan ponselnya kepada Sasori. Temari mengamati tunangannya itu saat ia menekan satu tombol, Speed dial. Siapa yang dia hubungi.
"Ibiki." Ujarnya, Temari diam-diam mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Keamanan ruang server perusahaan Hyuga, apa bisa kau tembus?" Tanyanya, Ia bisa melihat ekspresi keras dari wajah Sasori.
"Hn. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya tapi buat tikus-tikus itu membayar mahal atas apa yang sudah mereka lakukan padaku. Tidak, aku baik-baik saja. Aku tunggu laporanmu satu jam lagi. Tidak, jangan bunuh siapapun amankan tempat itu dan pastikan mereka mengalami kerugian besok pagi." Setelag berkata seperti itu Sasori menutup telfonya "Kau mau berbuat apa lagi?" Tanya Temari, Sasori tersenyum lemah "Membuat mereka membayar." Ujar Sasori, Temari memadang bertanya kepadanya tapi jawaban yang di berikan tunangannya itu hanya sebuah senyuman misterius.
"Apapun itu tolong jangan buat dirimu dalam posisi berbahaya lagi." Katanya. Sasori mengangguk paham, dia megecup singkat puncak kepala temari sebelum membiarkan temari membantu tubuhnya berbaring lagi dan ia memjamkan matanya untuk istirahat.
Sakura's Apartement Sakura masih bergelung nyaman diatas ranjangnya di dalam pelukan Sasuke. Surai Hitam pria itu terlihat berantakkan habis bercinta. Dia benar-benar mencintai pria ini. Sakura menggerakkan jari telunjuknya kesepanjang garis wajah tegas suaminya itu. Merasa tidurnya terganggu sepasang onyxnya yang mempesona itu terbuka dan memadangnya.
"Jangan membuatku menerkammu sekali lagi, Uchiha Sakura." Sakura hanya tersenyum kecil mendengar penuturan suaminya,
"Kalau kau berani melakukannya, kita tidak akan bisa ke LA besok karena aku pasti tidak akan sanggup berjalan." Ujarnya, Sasuke menyunggingkan senyum mesum kearahnya.
"Aku bisa menggendongmu." Sakura meninju pelan bahu suaminya itu. Keduanyta tertawa bersama setelah itu dan keheningan kembali tercipta setelahnya.
"Sakura…" Panggil Sasuke, wanita itu menoleh memandangnya.
"Ya, Sasuke-kun…" ujarnya, Sasuke membuka selimut diantara mereka dan memandang tubuh telanjang Sakura.
"Aku mengkhawatirkna Itachi-nii." Sakura menghela nafasnya dan memeluk Sasuke.
"Hana-nee sudah bilang kalau dia sudah sadar Sasuke-kun dia juga meminta kita untuk tidak khawatir. Jadi tenanglah dan jangan berfikiran negatif." Ujarnya, Sasuke mengangguk mengerti. Ia kembali memeluk Sakura, tapi wanita itu mendorong tubuhnya kasar dan berlari secepat kilat kedalam kamar mandi.
"Huekk…" Sasuke langsung menyambar celana tidurnya dan memakainya tanpa menggunakan atasannya dan menyambar lingerie Sakura lalu menyusul wanita itu kedalam kamar mandinya "Sayang…" ujarnya, Sakura masih sibuk mengeluarkan seluruh isi perutnya did ala closet dan baru selesai mengguyurnya dan membersihkan wajahnya di westafel, Sasuke memberikan lingerie itu membiarkan sakura memakainya, wajah wanita itu mendadak menjadi pucat setelah muntah-muntah.
"Sayang, semuanya baik-baik saja?" Tanya Sasuke lagi, Sakura mengangguk. Wanita itu membiarkan Sasuke menuntunnya kembali kedalam kamar dan membantunya duduk di tepi ranjangnya.
"Kau makan apa saja tadi?" Sakura mengingat-ingat, seingatnya dia tidak makan yang aneh-aneh sepanjang hari ini.
"Aku makan seperti biasa, Sasuke-kun." Ujar Sakura, Sasuke memandang gadis itu. "Apa kau meminum pil mu?" Sial. Bagai tersambar petir Sakura langsung terdiam. "Tanggal berapa?" dia bertanya Sasuke yang tahu kemana arah pembicaraan Sakura itu langsung menjawab.
"30 november." Sakura menyentuh keningnya. "Sakura, jangan-jangan kau…" Wanita itu tersenyum dan memeluk suaminya, benarkah? Mungkinkah perkiraannnya dan Sasuke kali ini benar. Kami-sama , dia berharap kali ini dugagaan mereka benar. Sasuke langsung memeluknya dan menggumamkan terimakasih berkali-kali di telinganya.
TBC. Yah duah 8 bulan ga update saya benar-benar minta maaf -_-". Yang pertama saya ga bisa buka-buka FFN karena provider saya nge block situs FFN. Saya berterimakasih sama temen-temen FFN yang udah bales status FB saya dan kasih solusi, sampe akhirnya saya bisa lanjut fic ini lagi. Well, delapan bulan itu sebenernya saya udah siapkan chap 12 ini dari 4 bulan yang lalu tapi kemudian laptop saya rusak dan semua data saya di hapus jadi saya hari re-write chap 12 ini. Saya berharap kalau chap ini tidak mengecewakan, dan saya sadar masih banyak sekali kesalahan yang saya buat disini. Oleh karena itu saya mohon Reviewnya. Arigatou Mina.
-Aphrodite Girl 13-