Disclaimer : Naruto is belong to Masashi Kishimoto, but Sasuke is MINE #dibakarsakura
Warning : OOC, Aneh, Gaje, Typo and Miss Typo bertebaran dimana-mana, penulisan tidak menggunakan kaidah EYD yang benar #apadah
Author Bacot Area : Okeh, akhirnya setelah ehemsetengahtahunlebihehem Aphro menghilang dari dunia perfanfic-an Indonesia#eh?, saya balik lagi tapi kali ini bawa FF pair Sasusaku, hehehehe Enjoy this one guys, Mind To RNR Mina?
"Apa yang kau lihat saat ini pada diriku,
Itu bukan aku yang sebenarnya.
Dendam, amarah, keputusasaan,
keinginan kuat untuk memiliki mu lagi
tak bisakah kau lihat itu dimataku saat ini?
yang kau lihat pada diriku saat ini, hanya sebuah topeng
topeng yang ku gunakan untuk merebutmu kembali "
Hyuga Mansion, Tokyo
Keheningan menyelimuti ruang makan mewah bergaya eropa jaman abad pertengahan itu. Meja panjang yang seharusnya mampu menampung sampai dua puluh orang itu kini hanya terisi oleh tiga orang saja dan beberapa pelayan yang berdiri di belakang mereka, bersiap kalau-kalau ada hal lain yang di butuhkan ketiga majikannya itu. Hening, tak ada pembicaraan yang mewarnai sarapan pagi di rumah mereka. Hanabi, putrid bungsu keluarga Hyuga itu menggenggam erat garpu dan pisaunya demi meredam perasaannya. Semuanya berubah, kehangatan yang pernah singah di keluarga itu perlahan menguar sejak perceraian kedua orangtuanya, bahkan sekalipun ada Hinata, wanita itu tidak bisa diandalkan seperti ibunya. Yang kakak perempuannya itu tahu hanya rasa iri, egois dan keras kepalanya untuk mendapatkan sesuatu. Dia merindukan kakaknya yang dulu, tapi semuanya sudah berubah. Bahkan kakaknya Neji berubah tiga ratus enam puluh derajat setelah kematian ibunya. Dia sering berselisih dengan ayahnya, rumah tangganya hancur, dan lama kelamaan dia semakin mirip dengan ayahnya. Dingin, tak berperasaan dan menghalalkan segala cara.
Neji tak jauh berbeda, dia merasa keluarganya sudah tak ada harapannya lagi. Tak bisa terselamatkan, seperti sebuah kapal lama-kelamaan keluarga ini pasti akan tenggelam. Ayahnya sudah membuat lubang pertama di kapal mereka jadi untuk apa bermain aman? Akan lebih baik kalau dia menambah lubang dalam kapal mereka dan tenggelam bersama. Dia sudah muak dengan semua ambisi yang membebani keluarganya, kalaupun harus tenggelam dia tak akan lari dan menyelamatkan diri seperti ayahnya, dia akan lebih memilih tenggelam dan mengakhiri hidupnya yang membosankan. Ia menghela nafasnya, melirik kearah Hyuga senior yang duduk di ujung mejanya. Bahkan dia tak terlihat menyesal setelah mengotori tangannya dengan darah sahabatnya, dia tak ada bedanya dengan adiknya, Hinata.
Tiba-tiba saja dering ponselnya memecah keheningan. Neji berdecak kesal saat mendapati nama orang yang memanggil itu ternyata adalah asistennya Lee.
"Ada apa Lee?" Pria itu menaikkan sebelah alisnya saat mendengar penuturan Lee, perlahan garis tegas rahangnya mengeras menahan emosi.
"Ini ulah Sasori?" Tanyanya, membuat dua pasang mata lavender yang ada di situ menoleh kearahnya.
"Brengsek. Ada korban? Arsip keuangan dan arsip penting lainnya aman?" Tanyanya, ia mengangguk mengerti.
"Bagaimana keamanan ruang server bisa tertembus seperti itu? Panggil beberapa petugas yang menangani ruangan itu keruanganku pagi ini jam 10. Aku akan tiba disana setengah jam lagi, pastikan ini tidak tersebar kemedia." Setelah menghampiri panggilan ia meraih jas dan kunci mobilnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Hiashi
"Ruang Server perusahaan kebakaran, aku masih belum tahu dengan pasti siapa dalang dibalik ini semua, jadi akan kuselidiki hari ini." Ujarnya, Hanabi memandang aneh kearah kakaknya.
"Kau menyebutkan nama Sasori tadi, dia terlibat?" Tanyanya, Neji menghela nafasnya.
"Sudah kubilang aku belum tahu pasti, tapi kalau sampai ia berarti bajingan itu sudah sadar, begitu pula Itachi. Brengsek, Hinata pasti keceplosan mengatakan sesuatu kepada suaminya yang bajingan itu." Umpatnya, Hiashi memandang tajam putra sulungnya.
"Apa yang kau lakukan kepada dua orang itu, Neji?" Tanyanya, Neji memandang tajam ayahnya.
"Tanyakan pada Putri kesayanganmu. Aku tidak mau melakukannya tapi dia mendesakku dengan hubunga kakak adik. Lagi pula, aku harus melakukan sesuatu untuk membuatmu melihat siapa diriku yang sebenarnya dan berhenti meremehkanku." Ujar Neji.
"Anak sialan!" 'Plak' Satu tamparan telak mengenai wajahnya,
"Apa yang kau lakukan kepada Sasori dan Itachi?" Neji memandang Sengit ayahnya.
"Aku mengirim pembunuh bayaran. Anak buah mafia Yakuza untuk membunuh keduanya. Asal ayah tahu saja, sejak Guilliana Akasuna muncul aku sudah diminta Hinata untuk menyelidiki siapa adik Sasori itu sebenarnya, dan dia adalah Sakura Uchiha, Seorang Model dan Designer juga Istri dari COO perusahaan Uchiha. Sasuke Uchiha."
"Kalau Sasori dan Itachi kubiarkan hidup, Tou-chan fikir apa yang akan terjadi kepada Kita? Hinata akan membusuk dipenjara, Hanabi juga tak akan ada bedanya. Dan Sasori Akasuna, Tou-chan adalah pembunuh kedua orangtuanya dengan dalih kecelakaan pesawat. Tou-chan fikir mereka akan diam saja? Mereka pasti akan membalas, dan perushaan juga tak akan selamat. Aku pernah memanipulasi saham Uchiha karena permintaan Hinata, dan sekarang Itachi sudah membalas dengan memanipulasi saham kita. Perlu kuberitahu, bahkan pebisnis kelas duniapun tak akan mau berurusan dengan Itachi Uchiha. Tou-chan mau ku biarkan mereka hidup? Akan ku lakukan, tapi kau harus siap kehilangan perusahaan dan ketiga anakmu." Hiashi terduduk di bangkunya memegang dada sebelah kirinya.
"Hanabi. Pil ku," Gadis itu mengangguk lalu berlari cepat kearah dapur mengambil pil yang diminta ayahnya.
"Kenapa semuanya jadi sepetri ini?" Gumamnya, Neji memandang tajam ayahnya.
"Tou-chan yang sudah memulai dari awal. Kau yang membuat ketiga anakmu sendiri terlibat, jadi saat kita harus terbakar. Kita akan terbakar bersama." Ujarnya, Lalu setelah membungkuk member hormat dia keluar ruang makan meninggalkan ayahnya.
Los Angels, California
Hinata membaringkan tubuhnya diranjang Hotel tempatnya dan Sakura juga Sasuke menginap. Wanita itu menyalakan laptopnya dan befikir keras untuk mendesign sesuatu. Besok mereka akan rapat dengan Namikaze Corp. Mereka sudah melihat design kontruksi Sasuke dan menyetujuinya dengan mudah, sekarang tinggal tim Sakura. Hinata sudah berusaha memutar otak untuk mendapatkan ide dan mulai mendesign tapi selalu gagal dan tidak seperti ekspetasinya. Konsentrasinya berkali-kali buyar setiap kali akan menggambar sesuatu lalu ia menghapusnya lagi dan lagi.
Hinata menghela nafasnya, Sasuke bahkan belum kembali sejak tadi siang, Wanita itu tersenyum miris. Pria itu tak akan datang, Hinata. Tak akan pernah. Kau tahu diamana dan dengan siapa dia sekarang, ia ingin membuang jauh-jauh bayangan yang menghantui fikirannya tapi ia tak bisa menampiknya, memang itu yang terjadi. Sasuke sedang bersama Guilliana, entah mereka sedang kemana dan sedang apa. Dia tak mau memikirkannya.
Sakura. Entah kenapa adik Akasuna Sasori itu mengingatkan dia akan sahabatnya itu. Masih biskah dia menyebut wanita itu sebagai sahabatnya, atau masih pantaskah dia menganggap dirinya adalah sahabat Sakura. Kata-kata Sasuke kemarin masih menghantuinya. Ya, dia sebenarnya tak berhak mengatai Guilliana Jalang. Dialah yang Jalang, dialah yang jahat dan hina. Bagaimana seorang wanita bisa membunuh sahabatnya sendiri hanya karena obsesinya pada seorang pria? Bagaimana seorang wanita terhormat bisa memanipulasi saham suami almarhum sahabatnya dan menjebaknya? Bagaimana sebagai seorang wanita dan sahabat dia bisa menghalalkan segala cara untuk menikah dengan pria yang di cintainya? Menjijikkan bukan? Tapi itulah dirinya.
Kebahagiaannya lenyap saat usianya Sembilan tahun karena perceraian orangtuanya, ibunya meninggal dan ia terkurung didalam sebuah sangkar emas buatan ayahnya. Melihat segala macam akal bulus ayahnya untuk mencapai segala tujuan yang ada dalam benaknya, berhasil membentuknya jadi sosok yang lain, berhasil membuat sisi kelam itu mendominasin dirinya dan mengurung sisi terangnya begitu saja. Ia tak pernah bahagia, yang ia tahu adalah dia dibesarkan sebagai alat, begitu juga kedua saudaranya.
Tapi lalu wanita merah jambu itu datang, dia memberikan warna yang baru bagi dirinya. Menunjukkan kalau dia bisa bahagia, menunjukkan kalau dia bukanlah alat tanpa jiwa dan perlahan-lahan dia bisa merasakan hidup sebagai manusia, atau setidaknya begitulah yang ada dibenaknya dulu. Tapi hubungan keduanya berubah begitu cepat. Sasuke, Pria itu adalah cinta pertamanya dia bisa memberikan apapun untuk pria Uchiha itu, tapi sekeras apapun dia mencoba agar pria itu melihat kearahnya dia tak akan pernah menlihatnya. Dia hanya mencintai satu wanita sampai akhir hayatnya, dan wanita itu adala Sakura Haruno.
Tubuhnya bergetar hebat, lembaran demi lembaran kejadian empat tahun yang lalu datang kembali menghantuinya. Pertemuannya dengan Sakura saat itu sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari dengan kakak dan adiknya. Sebenarnya, Hinata tak pernah mau melakukan pembunuhan itu, tidak dia bukan pembunuh, dia hanya seorang wanita yang menginginkan kebahagaiaannya kembali. Hanya itu.
Saat itu Sakura menemuinya setelah memerikasakan kandungannya. Wanita itu tersenyum lebar setiap kali membahas betapa protektifnya Sasuke kepadanya dan calon bayi mereka, dan betapa antusiasnya Sasuke menyiapkan kamar untuk buah hati mereka sampai dia rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli separuh isi toko perlengkapan bayi. Dia bahkan turun tangan sendiri untuk mendesign segala interior yang ada didalamnya. Air mata Hinata mengalir lagi. Dia ingat saat Sakura menunjukkan hasil USG kepadanya.
"Lihat Hinata, dia anak laki-laki. Sasuke-kun sangat ingin memiliki seorang putra dia pasti akan senang sekali saat mendengar berita ini." Kalimat Sakura itu terdengar jelas di dalam benaknya, wanita itu mengambil dompetnya dan mengeluarkan potret janin Sakura yang diberkan oleh sakura saat itu. Bentuk janinnya belum sempurna, tapi nyawa sudah dihembuskan kedalam jabang bayi itu. Hidung, mata dan bibirnya sekilas adalah miniatur Sasuke. Tangisnya pecah saat itu juga. Bagaimana bisa, bagaimana bisa seorang wanita bisa melakukan ini kepada wanita lain yang sedang mengandung dan menantikan kelahiran bayinya? Bagaimana dia bisa sejahat ini kepada sahabatnya sendiri hanya demi obsesinya.
"Gomenasai Sakura." Isaknya, ia memandang kedua tangannya yang bergetar. Bahkan dia masih dihantui mimpi buruk selama empat tahun belakangan ini , ini semua karena rasa bersalah dan rasa takutnya. Hinata, tahukah kau betapa berdosanya dirimu?
Ia tersentak dan menghapus air matanya, Sasuke masuk dan memandang dingin kearahnya, tapi pria itu langsung tertarik pada kertas yang di genggam Hinata. Hasil USG terakhir Sakura, foto perkembangan Kenzo-nya yang terakhir. Hatinya remuk redam saat melihat foto Kenzo yang masih berbentuk janin itu, bagaimana foto itu bisa ada pada Hinata?
"Bagaimana kau bisa memiliki foto itu?" Ujarnya, mati-matian dia berusaha untuk menahan suaranya agar tak bergentar.
"Sakura memberikan foto ini sebelum kecelakaanya." Ujarnya, Sasuke tersentak.
"Kau menemui dia sebelum dia meninggal?" Hinata mengangguk pelan. Sasuke terduduk di sofa yang berada di tengah ruangan.
"Bahkan sampai akhir dia masih menganggap mu sahabatnya. Kenapa kau tega melakukan ini kepadanya? Kepadaku dan kepada putraku?" Hinata tersentak, matanya membulat sempurna
"Apa maksudmu, aku… aku tidak tahu apapun, aku hanya bertemu karena saat itu kami sudah janjian akan bertemu setelah dia memeriksakan kandungannya." Sasuke tersenyum mengejek,
"Kau dan obsesimu itu menjijikkan, Hinata." Pria itu bangkitdari tempatnya duduk dan akan keluar lagi tapi Hinata memeluknya dari belakang.
"Aku tidak melakukan apapun, aku tidak tahu apapun. Jadi jangan marah padaku dan tinggalah disini malam ini." Tinggal? Sasuke melepaskan pelukan Hinata
"Menjauhlah sebelum kau benar-benar hangus terbakar." Ujarnya, Hinata menarik tangan Sasuke memaksa pria itu menatapnya.
"Lihat aku, sekali ini saja tolong lihat aku. Aku sudah mengotori tanganku sendiri sampai sejauh ini dan kau berharap aku akan mundur? Aku mencintaimu sampai sejauh ini, masihkah kau juga tidak melihatku? Sekali ini saja tolong lihat aku!" Sasuke menghentak kasar tangan Hinata dan memandang tajam,
"Cinta? Apa itu yang kau bilang sebagai cinta? Membunuh sahabatmu sendiri yang sedang mengandung, membunuh anak kami yang bahkan belum bisa melihat dunia? Apa yang bayi itu lakukan padamu? Apa salah Sakura terhadapmu? Dia menyayangimu sebagai saudaranya sendiri, saat seluruh sekolah menghinamu dia yang rela sakit hanya untuk membelamu, saat kau terlihat tak berdaya dia disana sebagai seorang sahabat dan saudara untukmu hanya agar kau bisa kuat lagi. Inikah yang kau lakukan hanya untuk memenuhi obsesimu? Dengan membunuhnya dan bayi kami, apakah itu balasan yang kau berikan kepada sahabatmu? Dengan apa yang kau lakukan kepada istri dan putraku kau fikir aku akan melihatmu? Aku percaya padamu awalnya, tapi ternyata dari awal kau lah yang merusak ini semua, aku pernah mencoba untuk menerimamu tapi kenyataan yang kudapatkan adalah aku terjebak dan aku tak bisa hidup tanpa memikirkan Sakura.
Saat pernikahan kita dimulai aku sadar aku akan memulai hidupku yang baru, tapi aku tak pernah punya kekuatan untuk menutup lembaran masalaluku dengan Sakura. Aku mencintai wanita itu, aku pernah berusaha mencintaimu karena kau adalah istriku saat ini tapi kenyataannya aku tetap mencintai Sakura. Sekeras apapun aku mencoba, kau selalu hilang dari pandanganku. Jadi, kotoran yang dengan sengaja yang letakka pada kedua tanganmu, benar-benar sia-sia." Hinata terdiam, isak tangis kembali terdengar.
"Kau tahu betapa menyakitkannya ini? Aku menderita sampai rasanya aku sudah mati!" Dengan satu kata terakhir itu Sasuke menghantam kaca di balik tubuh hinata sampai pecah dan darah segar mengalir deras dari tangannya yang terluka.
"Aku tak akan bisa mencintaimu apalagi melihatmu. Jadi mundurlah sekarang, sebelum kau lebih terluka dari ini." Ujarnya
"Terluka? Terbakar? Sejak kau mengumumkan kalau kau mencintai Sakura aku sudah terluka dan terbakar Sasuke-kun. Saat kau mengumumkan pertunangan mu dengan Sakura rasanya seperti kau menghujamkan belati keluka yang sama berkali-kali, dan saat kalian menikah rasanya aku sudah tak sanggup lagi bertahan, tapi aku menahannya. Sampai akhirnya dia mengandung anakmu, aku benar-benar sudah mati. Hinata yang dulu sudah mati dan aku adalah Hinata yang Sekarang. Ya, aku memang wanita tak berperasaan yang sudah membunuh anak dan istrimu, akulah wanita yang sudah merampas kesempatan putramu untuk melihat dunia, akulah yang sudah melenyapkan kebahagiaanmu yang sempurna empat tahun yang lalu.
Namun, Salahkah aku kalau kulakukan semua itu untuk mendapatkan kebahagiaanku? Aku mencintaimu, Sangat mencintaimu bahkan jika kau memintaku untuk mati saat ini juga aku akan melakukannya. Aku tidak perduli berapa banyak lagi nyawa yang harus ku singkirkan, aku tak akan mundur." Sasuke memadang muak kearah wanita dihadapannya.
"Kau… hanya akan menghancurkan dirimu sendiri pada akhirnya." Ujarnya, pria itu keluar dan membanting pintu kamar hotel Hinata kasar. Wanita itu jatuh terduduk. Jerit tangis pilu terdengar kembali, tangannya membanting apapun yang berada di hadapannya. Sasuke terdiam di depan kamar hotel Hinata, pria itu menghela nafasnya. Dia sudah berubah terlalu banyak, kenapa wanita yang dia anggap sebagai adiknya sendiri ini bisa melakukan hal semacam ini hanya karena dirinya. Sakura, Hinata. Dua wanita itu saling menyakiti karena dirinya? Ya, Tuhan. Ini benar-benar gila. Bahkan Hinata sudah bertindak terlalu jauh. Ia menggeleng pelan lalu bergerak kearah kiri dan berhenti di depan pintu lain.
Sakura's Room
Sakura tersentak kaget saat melihat Sasuke. Pria itu berdiri dengan ekspresi terluka dan tangan kanannya penuh dengan darah. Wanita itu memandang kearah Onyx Sasuke mencoba mencari jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi menghantui benaknya. Ia memandang khawatir kearah suaminya itu yang kini justru memeluknya dan terisak pelan disana.
"Semuanya salahku, kumohon maafkan aku." Sakura memandang bingung Sasuke, lalu wanita itu meminta pria yang dicintainya itu masuk kedalam kamar hotelnya.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat kacau sekali seperti ini?" Sasuke terdiam Saat Sakura tengah membersihkan lukanya.
"Kematian Kenzo dan kejadian yang memisahkan kita semua itu adalah salahku. Kau harus menderita sampai sejauh ini, ini semua salahku." Sakura menghentikan gerakkan tangannya, ia menghela nafasnya menahan tangisnya.
"Seandainya aku tahu sejak awal seperti apa Hinata, seandainya saja aku mengantarmu ke rumah sakit hari itu, Kenzo pasti ada disinikan? Kau pasti tak akan menghilang selama ini dan kau pastinya tak perlu menderita sejauh ini. Kali ini saja, kumohon maafkan aku." Ujarnya, Sakura menggeleng
"Kau tidak melakukan apapun kenapa harus meminta maaf seperti ini, Sasuke-kun?" pria itu memeluknya erat.
"Karena Aku, Hinata melakukan semuanya sampai sejauh ini. Ini semua salahku." Ujarnya lagi, Sakura mengerti sekarang,
"Dia mengatakannya kepadamu? Dia benar-benar mengaku?" Sasuke mengangguk, masih tak melepaskan pelukannya
"Apapun yang terjadi kali ini Sakura, aku tak akan pernah melepaskan tanganmu dari genggaman ku. Aku mencintaimu, aku juga tak akan membiarkan siapapun menyakiti bayi ini." Ujarnya, Sakura mengangguk mengerti dan mengeratkan pelukannya kepada Sasuke.
"Bukan hanya aku satu-satunya yang menderita, Sasuke. Kau adalah satu-satunya yang paling menderita dari padaku." Ujarnya, Pria itu memejamkan matanya biarlah untuk kali ini saja setelah empat tahun, dia membuang semua bebannya dan membaginya dengan wanita yang telah mengandung bayinya ini.
Hotel's Bar, Los Angels California
Wanita bersurai indigo itu duduk sendirian didalam bar. Ini sudah hampir tengah malam, tapi dia belum beranjak dari tempatnya duduk. Ia mengangkat tangannya meminta satu botol lagi kepada bartender bersurai platina yang tengah sibuk dengan pelanggan lainnya.
"Nyonya, anda sudah benar-benar mabuk." Ujarnya, Hinata mendelik kearahnya.
"Aku akan membayarnya, satu botol lagi" Ujarnya, Sambil menegak satu gelas Muscat yang ada ditangannya,
"baiklah, ini." Ujarnya, Hinata menyambar dengan cepat botol white wine ke tiganya dan menuangnya cepat kedalam gelas Kristal yang berada dihadapannya.
Hatinya rasanya sakit setiapkali mengingat penolakkan Sasuke dan pengakuan pria itu tadi. Dia hampir saja mendapatkan pria itu, tapi setiapkali pria itu mencoba Sakura selalu menghalanginya. Sakura, bahkan sekarang muncul sosok Guilliana Akasuna yang mirip dengan wanita itu, cih. Bahkan setelah dia matipun, dia masih bisa mengalahkannya dan menyebabkan masalah kepadanya. Hinata menghela nafasnya dan kembali menegak minumannya, airmatanya mengalir lagi.
"Aku tak akan bisa mencintaimu apalagi melihatmu. Jadi mundurlah sekarang, sebelum kau lebih terluka dari ini." Kata-kata Sasuke itu kembali berputar ulang dalam benaknya. Pria itu membencinya, benar-benar membencinya. Kenapa dulu dia tak menyadarinya dan langsung mundur saja, kenapa dia harus berbuat senekat ini dan mengorbakan sahabatnya sendiri. Kenapa dia bisa sampai senekat ini? Apa karena obsesinya? Atau hanya karena dia ingin mendapatkan lagi kebahagiaannya yang sudah lama dirampas darinya? Yang mana sebenarnya alasannya yang sesungguhnya, ah tidak pertanyaan yang benar adalah. Siapa dia yang sebenarnya, Sahabat Sakura? Dia bahkan terlalu hina untuk di bilang sebagai sahabat. Istri Sasuke? Sasuke bahkan tak menganggapnya sebagai istrinya, bagaimana dia bisa punya fikiran seperti itu sekarang?
"Nona, Tepat ini sudah akan tutup." Hinata mengangguk mengerti, setelah menyerahkan kartu kreditnya dengan terhuyung dia keluar dari bar hotel. Kedua kaki jenjangnya melangkah keluar bangunan hotel berjalan menyusuri taman hotel di tengah malam, ia duduk di bangku taman dan memandang bintang-bintang yang menghiasi langit malam. Ia melihat kearah kamar Sakura, dan disana ia bisa melihat dengan jelas bayangan Wanita itu dan Sasuke yang tengah berciuman. Ia memukul dada sebelah kirinya berkali-kali, menahan sesak yang bisa membunuhnya kapan saja. Ini hukumanmu, Hinata. Ini Hukuman mu.
Sasuke. Cinta pertama dan terakhrinya. Obesesi, Sasuke benar. Wanita itu hampir gila hanya karena obsesinya untik memilikinya. Dia terobsesi dengan kebahagiaan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dalam benaknya. Itulah dia, obsesi akan cinta dan kebahagaiaan itulah yang mendorongnya sampai seperti ini. Ia terlalu merindukan bagaimana rasanya dicintai banyak orang dan keluarga secara utuh makanya dia nekat seperti ini. Cintakah itu? Cintakah yang membuatnya melakukan semua itu? Benarkah itu cinta atau itu hanya keegoisan dan Obsesinya seperti yang dikatakan Sasuke?hal ini benar-benar membuatnya frustasi.
"Hey!" Hinata menoleh mendapati segerombolan pria berbadan besar mendekat kearahnya, ia berdiri tubuhnya gemetaran.
"Siapa kalian?" Keenam pria berbadan besar itu memandang tajam kearahnya membuat rasa takut menghantuinya, ia memandang kearah jendela kamar Sakura tapi lampu sudah padam dan dia tak mungkin melihatnya.
"Apa mau kalian?" Tiba-tiba seorang pria maju dan mengkang tangannya kebelakang, seorang yang lain menjambak rambutnya dan menampar wajahnya kencang.
"Aku hanya menjalankan perintah, Nona." Dan dengan Satu kalimat itu, tendangan keras mengnatam rusuknya, tak hanya sekali tapi berkali-kali bahkan mereka menendang dan menghajar perutnya, ia hanya bisa mencoba melindungi dirinya dan tak bersuara. Rasa panas dan nyeri menyambar kesekitar perut dan rusuknya saat pria-pria itu berhenti dan meninggalkan dia begitu saja.
Hinata mencoba bangun tapi bergerak sedikit saja, dia sudah kesakitan setengah mati. Brengsek, Siapa yang mengirim orang-orang itu? Sasori? Guilliana? Hana? Atau Itachi? Tubuhnya mati rasa tapi ia mencoba untuk bangkit dan berjalan tertatih kedalam hotel, Saat itu seseorang menghentikan langkahnya dan menggendongnya.
"Ki… Kiba…" pria bersurai coklat itu tak menjawab dan hanya membawanya masuk kedalam mobilnya sebelum mereka meluncur keluar dari lapangan parkir hotel.
Tokyo, Jepang.
Dering ponselnya memecah keceriaan yang ada didalam ruang rawatnya. Pria bersurai dark blue panjang itu menyambar ponselnya dan membuka pesan yang baru masuk ke ponselnya. Ia tersenyum puas saat membaca pesan yang baru saja masuk. Hinata, dia sudah pernah bilang kalau dia pasti akan membuanya membayar mahal kan? Jadi, kita anggap kau sudah membayar separuh dari yang seharusya kau bayarkan.
"Sayang?" Itachi beralih memandang istrinya
"Ada apa?" Tanya Hana, Itachi menggeleng
"Adikmu, dia akan kembali ke Jepang secepatnya." Ujarnya, Hana tersenyum lalu kembali memotong apel untuk Meiko dan Suaminya.
TBC. Saya tahu banget kok kalo chapter kali ini pasti jauh dari ekspetasi kalian. Tapi semoga ga sia-sia ya saya buat chapter ini? Saya Cuma mau ngejelasin aja kenapa Hinata jadi jahat dan perasaannya, jadi biar para Flamers yang ngeflame saya ini tau kalau saya tidak bermaksud untuk membashing Chara favorite mereka. Semoga memuaskan, dan terimaksih atas re-veiwnya . Saya belum bisa pastikan berapa chap lagi mungkin sekitar 3-4 lagi baru fict ini tamat. Arigatou Mina. Mind to RNR?
-Aphrodite girl 13
