Stronger
Disclaimer : Naruto is belong to Masashi Kishimoto, but Sasuke is MINE #dibakarsakura
Warning : OOC, Aneh, Gaje, Typo and Miss Typo bertebaran dimana-mana, penulisan tidak menggunakan kaidah EYD yang benar #apadah
Author Bacot Area : Okeh, akhirnya setelah ehemsetengahtahunlebihehem Aphro menghilang dari dunia perfanfic-an Indonesia#eh?, saya balik lagi tapi kali ini bawa FF pair Sasusaku, hehehehe Enjoy this one guys, Mind To RNR Mina?
"Apa yang kau lihat saat ini pada diriku,
Itu bukan aku yang sebenarnya.
Dendam, amarah, keputusasaan,
keinginan kuat untuk memiliki mu lagi
tak bisakah kau lihat itu dimataku saat ini?
yang kau lihat pada diriku saat ini, hanya sebuah topeng
Akasuna Mansion, Tokyo
Saat sinar matahari menyusup kedalam kamarnya dan mengusik tidurnya, ia tersadar Sasuke sudah tidak ada disampingnya. Wanita merah jambu itu mendengus kesal saat tak mendapati pria bersurai dark blue itu disana. Diamana dia? Biasanya Sasuke tidak pernah bangun sepagi ini. Masih dengan menggunakan piama sutranya, Sakura beranjak dari ranjangnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum turun kelatai bawah dan sarapan dengan Sasori dan kalau beruntung mungkin juga dengan suaminya.
Berendam air hangat rasanya bukan hal buruk di musim gugur, Sakura memainkan busa yang menutupi permukaan bath up-nya dan menikmati sensasi rilex air panas yang merendam hampir seluruh tubuhnya. Wanita itu menggosok beberapa bagian tubuhnya sesekali dan mengusap pelan perutnya yang sedikit mulai membuncit. Wanita itu tersenyum setiap kali menyentuh perutnya, sebuah kehidupan baru sedang di mulai disana. Ia merasa dejavu, ia pernah merasakan kebahagiaan seperti ini saat mengandung Kenzo dulu, sayangnya ia tak pernah bisa melihat putranya lahir, bahkan tidak dalam bentuk janin saat bayi itu harus di ambil dari rahimnya. Sakura menghela nafasnya, Itachi pernah memberitahu tempat rahasia dimana ia menguburkan Kenzo yang saat itu masih berusia tujuh bulan dalam kandungannya. Ia ingin kesana, tapi Sasuke dan Sasori pasti tak akan pernah mengizinkannya pergi sendirian kemana-mana. Kenzo. Seandainya bayinya itu lahir dengan selamat, ia pasti sudah berusia empat tahun sekarang, ia bisa membayangkan putranya itu akan menjadi miniatur mini dari suaminya, tapi sekali lagi kenyataan pahit menghantamnya Kenzonya sudah lama meninggal, bahkan ia tak pernah punya kesempatan untuk mengenal orangtuanya, ia tak pernah punya kesempatan untuk merasakan kehangatan keluarga Uchiha.
"Little blip, aku mohon tumbuhlah dengan sehat, hm? Nanti kita akan sering-sering mengunjungi kakakmu ya? Kau pasti akan mendapatkan banyak cinta dari kami semua." Ujarnya, Sakura menghela nafasnya ia merasa sudah terlalu lama berendam saat tubuhnya menggigil sendiri dan airnya sudah dingin. Wanita itu lalu bangkit dari tempatnya berendam dan menyelesaikan acara mandi paginya.
Saat ia turun kelantai satu, Sasuke sudah duduk diruang keluarga bersama Sasori. Pria itu terlihat tampan dengan setelan jas kantornya dan Sasori juga sama. Yang membedakan adalah, Jas mereka, Sasori sudah siap dengan jas kedokterannya dan Sasuke menggunakan setelan serba hitamnya seperti biasa. Sakura juga sudah dalam balutan pakaian kerjanya, sudah lama ia tidak pergi ke boutique miliknya, ia harus menyelesaikan beberapa hal untuk fashion line musim panasnya tahun depan dan koleksi musim dingin yang akan dia luncurkan nanti, lagi pula ia sudah tidak sabar bertemu Hana.
Saat Sakura berjalan medekat dengan stiletto miliknya, Sasuke menoleh dan memandangnya bingung, ia memandang Sakura dari atas kebawah membuat wanita bersurai merah muda itu menjadi risih.
"Sasuke-kun apa yang kau lihat?" ujarnya, Sasuke memandnag irish virdiannya
"Apa kau bercanda? Kau sedang hamil dan kau menggunakan Stiletto itu bekerja? Sakura, kumohon fikirkan sedikit bayi kita!" Ujarnya, Sakura memutar bola matanya bosan.
"Kandungan ku sehat, aku bahkan menggunakan Heels yang lebih tinggi dari ini saat kita di LA dan aku juga terbang dengan jet pribadi selama dua belas jam, kau ingat itu? Dan setelah itu semua kandunganku sehat. Sangat sehat malah." Ujarnya. Sasuke memutar bolamatanya bosan, tanpa banyak bicara pria Uchiha itu naik keatas dan tak lama kemudian kembali dengan menenteng sepasang flat shoes berwarna hitam, Sakura menaikkan sebelah alisnya saat sasuke berlutut dihadapannya.
"Lepas sepatumu!" ujarnya, Sakura menggeleng
"tidak mau!" ujar Sakura keras kepala, Sasuke berdecak kesal lalu pria itu mengangkat tubuh Sakura membuat wanita itu terkejut dan kembali mendudukkannya ke sofa kulit didekat mereka, lalu dengan sabar Sasuke melepas stiletto Sakura dan mengenakan flat shoes itu kekakinya.
"begitu lebih baik, aku tidak akan mau ambil resiko." Ujarnya, Sakura memutar bola matanya bosan.
"Sasuke-kun…" ia mulai merajuk sekarang, Sasuke hanya mendengus
"Tidak. Sekarang aku dan Sasori akan sarapan sebaiknya kau ikut juga." Ujarnya, Sasori yang mengamati mereka hanya terkekeh geli
"tidak mau! Aku ingin pakai sepatu itu." Sasuke mendengus da memandnag wanita bersurai pink itu.
"tidak Sakura, kau turuti aku sekarang atau seluruh heels dan wedges mu akan ku bakar? Semuanya!" tidak ancaman Sasuke benar-benar mimpi buruk, saat itu juga Sakura terdiam dan sambil menggerutu ia pasrah saat Sasuke membawanya keruang makan mengikuti Sasori yang sejak tadi sudah tertawa diam-diam melihat pertengkaran kecil mereka di pagi hari.
Steak tenderloin dan keripik kentang juga salad kelihatannya memang lezat untuk digunakan sebagai sarapan, tapi Sakura masih diam dan merajuk karena ulah suaminya pagi ini. Ia tidak memakan steaknya, benar-benar masih untuh tak tersentuh sementara Sasuke dan Sasori sudah hampir menyatap setengahnya dari sarapan mereka.
"Sakura…" Sasuke mendesah putus asa, dari sejak hamil anak pertama sampai sekarang mood swing istrinya benar-benar menjengkelkan.
"Sayang, kau harus menyantapnya dan susu ini juga. Aku harus berhadapan dengan Kakuzu setelah ini, jadi tolong jangan memperburuk hariku dengan ngambek seperti ini, hm?" Kali ini Sasuke sudah memotong steak Sakura dan menyodorkannya kedepan mulutnya.
"Kau bilang Kakuzu?" Tanya Sakura, Sasuke menghela nafasnya pelan,
"Ya, aku harus menggeledah rumahnya diam-diam dan menemukan bukti percobaan pembunuhan mu, aku ingin masalah sialan ini selesai secepatnya." Ujarnya, Sakura memandang kedalam manik kelam suaminya itu dan akhirnya menyerah, ia membiarkan Sasuke menyuapinya suapan pertama lalu setelahnya ia mengambil alih sarapannya sendirian,
"Sakura, kalau kau bertemu Hinata dimanapun tolong hindari dia." Ujar Sasori, Sakura berhenti memotong steaknya.
"Kenapa Sasori-senpai, aku malah senang kalau bisa membunuhnya." Ujarnya, Sasori menghela nafasnya
"percayalah, kau tidak akan mau berurusan dengan orang gila." Ujar Sasori, Hinata memang sudah gila kan? Buktinya dia rela mencoba membunuh Sakura dan menipu keluarga Uchiha hanya untuk mendapatkan Sasuke.
"bukankah dia memang sudah gila?" ujar Sakura, Sasori memutar bola matanya bosan dan Sasuke mendengus kesal
"Gila dalam arti sebenarnya. Yah, dia memang belum sampai ketahap itu tapi dia punya riwayat depresi yang serius. Dengar Sakura, Depresi akut dan seluruh masalahnya denganmu bukanlah kombinasi yang bagus." Ujar Sasori, Sakura mengangguk mengerti
"Bagaimana kalian yakin kalau dia benar-benar gila?" Tanya Sakura, Sasuke mengeluarkan tabung plastic transparan berisi beberapa kapsul berwarna biru kehadapan Sakura.
"Aku menemukannya di meja rias Hinata, sepertinya dia lupa membawa ini bersamanya saat kita di LA karena itu aku rasa dia berani bertindak gila seperti mencuri idemu dan berteriak di restaurant saat aku memberikan surat cerai padanya." Ujar Sasuke,
"Apa dia sudah lama mengalami ini semua?" Tanya Sakura, Sasori hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak tahu, tapi dari dosis obatnya sepertinya depresinya sudah parah sekali. Itu adalah obat penenang dosis tinggi, aku heran juga kenapa Hiazhi tidak membawa putrinya ke rumah sakit jiwa secepat mungkin untuk medapatkan pengobatan yang seharusnya." Ujarnya.
"baiklah, apa aku perlu membawa pistol juga?" ujar Sakura, Sasuke menggeleng pelan
"tidak, Natasha, Nate dan Zac akan mengawasimu kemanapun kau pergi. Kau paham?" ujar Sasuke, Sakura hanya mengangguk pelan. Ia tidak melakukan ini karena dia ingin, dia melakukan ini karena dia tak akan bisa hidup lagi kalau sampai ia kehilangan bayinya sekali lagi.
Kakuzu's apartement
Polisi korup itu meninggalkan kediamannya tepat jam sepuluh pagi, Sasuke masih duduk dengan tenang di dalam mobil sportnya, tak jauh dari situ Juugo, Suigetsu dan Karin ada di mobil yang lainnya. Mereka menunggu sampai Kakuzu menghilang di ujung jalan dan barulah setelah itu ia keluar dari dalam mobilnya. Ia sudah menggunakan Sarung tangan putih miliknya lalu bungsu Uchiha itu masuk kedalam bersama anak buahnya. Bukan apartement yang besar memang, sepertinya polisi itu sengaja membuat ia tak tampak mencolok sudah mendapatkan dana gelap.
"Cari sampai dapat, sisir seluruh bagian rumah ini. Kalian mengerti? Aku akan memeriksa kamarnya." Ujar Sasuke, ketiga anak buahnya itu langsung membungkukkan badannya saat Sasuke berjalan melewati mereka.
Hal pertama yang mencolok dari kamar polisi korup itu adalah kamarnya yang bau busuk. Sasuke tidak tahu kenapa bisa ada manusia yang tahan meuntuk tidur di kamar sebau ini? Pria itu menggeleng lalu teringat kalau Kakuzu sendiri adalah orang yang busuk, tidak heran kalau dia betah tidur di dalam kamar ini. Bungsu Uchiha itu melangkah hati-hati lalu ia dengan cepat menggeledah kamar itu, lemari, rak buku, meja kerja, tempat tidur bahkan dikamar mandinya puntidak ada sama sekali. Dalam hatinya ia meruntuki keceradasan polisi korup yang satu itu. Ia melihat kamar Kakuzu cukup berantakan, ia tidak akan mau repot-repot untuk membersihkannya kembali. Jadi sebagai sentuhan terakhir supaya semuanya semakin seru, Sasuke mengeluarkan sebuah plastik yang sejak tadi tersimpatn rapih di kamarnya, beberapa helai rambut ada disana. Dengan sengaja ia mengeluarkan helaian rambut itu di ambang pintu kamar lalu meninggalkannya disana, dia rasa sedikit bermain-main bukan masalah besarkan?
Saat ia kembali keruang tamu kondisi rumah polisi korup itu sama berantankannya dengan kamar tidurnya. Ketiga anak buah Sasuke langsung mendekat dan memberikan laporan mereka masing-masing. Tak ada yang menemukan barang bukti itu dimana-mana. Sialan, dimana bajingan sialan itu menyembunyikannya?
"Sasuke-sama… target kembali." Ujar Karin saat wanita itu melihat layar tabletnya,
"Sial. Kita pergi sekarang." Ujar Sasuke, dengan cepat keduanya pergi dari tempat itu dan masuk kedalam mobil mereka masing-masing.
Hyuga Corporation, Tokyo
Hinata beruntung posisinya sebagai direktur keuangan bisa ia dapatkan kembali di perusahaan ayahnya. Wanita itu bisa gila kalau hanya diam saja dirumah dan memikirkan pernikahannya dan Sasuke juga seluruh masalah yang melilitnya. Ia akan bercerai, ia tidak puny cara lain selain menandatanganinya atau perusahaannya akan bangkrut total, Uchiha menjamin akan meminjamkan dana untuk mereka jika ia menandatangani surat perceraian itu, Itachi sendiri yang memintanya tadi pagi. Ia tidak tahu ini akal-akalan mereka saja atau serius, tapi ia tidak punya waktu untuk bertaruh lagi sekarang, hampir seluruh miliknya sudah ia pertaruhkan untuk memiliki Sasuke.
"Sialan…" ia kembali mengumpat kasar, Hinata membanting bolpoinnya keatas meja lalu mengacak surai indigo panjangnya, nasibnya dan keluarganya ada di ujung tanduk sekarang. Tepat pada saat itu suara ponselnya memecahkan keheningan, dengan malas ia menjawab telfon itu.
"Halo…" ujarnya,
"Halo… Hinata, lama tidak bertemu ya?" ia tersentak, suara ini… Kakuzu, brengsek bagaimana ia bisa medapatkan nomor telfonnya.
"Apa maumu?" ujarnya galak,
"Apa mauku? Bukankah itu yang seharusnya ku tanyakan kepadamu? Apa maumu? Masuk kedalam apartementku tanpa izin dan memporak-porandakan isinya? Apa yang kau cari hah? Bukti-bukti kejahatan keluargamu? Sudah kubilang pada Neji, kalian tidak perlu khawatir bukti itu semuanya aman, tidak akan tersentuh!" ujarnya, Hinata mengerutkan dahinya? Bajingan ini benar-benar keterlaluan.
"Aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak datang ke apartement mu dan mengamuk seperti orang gila seperti yang kau keluhkan barusan!" ujarnya, suaranya ikut naik dua oktaf dari biasanya.
"tidak tahu apa? Hinata, kau benar-benar bodoh ya! Kau bahkan tidka tahu kau berurusan dengan siapa! Aku punya buktinya, sialan!" ujarnya, Hinata mematung, bukti? Bukti apa lagi, demi langit dan bumi urusan dengan keluarga Uchiha dan Akasuna saja sudah membuatnya lelah dan ingin melarikan diri, kenapa bajingan kepolisian ini harus mengganggu hidupnya dan menambah satu beban lagi?
"Kakuzu, aku benar-benar tidak ada waktu untuk bermain denganmu, aku sedang bekerja dan apa maksudnya dengan kau punya bukti hah? Brengsek, apa kau coba untuk memerasku lagi?" ujarnya,
"Aku menemukan rambutmu di ambang pintu kamarku, kau fikir aku tidak akan memeriksa hal sedetail itu?" ujarnya, manik lavender wanita Hyuga itu melebar.
"Bagaimana kau bisa yakin rambut sialan itu milikku hah?" ujarnya, Ia bisa mendengar tawa Kakuzu disana, bajingan ini benar-benar mempermainkannya.
"Aku melakukan tes DNA dan DNAnya cocok dengan mu serratus persen, aku sudah cukup main-main denganmu, Hinata! Hari ini juga aku akan menyerahkan bukti itu kepada kepolisian! Aku tidak mau terlibat lagi." Ujarnya, Hinata panik sialan apa yang harus dia lakukan.
"tunggu, aku bersumpah aku tidak pergi keapartementmu hari ini, aku mempercayakan bukti itu sepenuhnya padamu, bagaimana bisa kau melakukan hal itu padaku? Keluargaku sudah menjamin hidupmu selama ini, apa kau lupa?" ujarnya,
"Jangan berbicara tentang balas budi padaku, Hinata! Aku sudah menuruti semua permintaan kakakmu dengan memepertaruhakan pekerjaan ku dan hidupku, itu sudah lebih dari cukup. Aku muak dengan Hyuga seperti kalian, akan keserahkan hari ini juga!" ujarnya,
"Kalau kau menyerahkan bukti itu, kau akan terseret juga! Apa kau sudah gila hah?" untuk sesaat pria itu terdiam mendengarkan kata-kata Hinata,
"Sekarang dengarkan aku baik-baik, kau ingin hidupmu tentram dan aku juga menginginkan hal yang sama. Malam ini ambil bukti itu dan temui aku di taman kota. Kita akan menghancurkannya jadi saat mereka menuduh kita, kita semua selamat. Aku dapatkan kebebasan dan perusahaanku kembali, kau dapatkan pekerjaanmu, bagaimana?" Ujar Hinata
"Baiklah, aku akan menemuimu malam ini, tapi kau harus menjamin kalau aku akan mendapatkan ketentraman dan tidak akan kehilangan pekerjaanku." Ujarnya,
"Aku janjikan itu padamu. Kau bisa percaya padaku." Ujar Hinata sebelum menutup telfonya, wanita itu menggenggam ponselnya, ini semua pasti ulah Sakura, wanita itu berniat balas dendam padanya, tanpa fikir panjang wanita indigo itu mengambil tas tangannya dan menyambar kunci mobilnya sebelum pergi meninggalkan kantronya.
H & G Boutique, Tokyo
Sakura tengah menggambar sketh lain untuk design koleksi musim dinginnya yang lain saat Hana dan Itachi masuk keruangannya. Pasangan muda itu memeluk Sakura sebelum duduk di sebuah sofa letter L di tengah ruangannya.
"Itachi-Nii, Hana-Nee…." Ujar Sakura, keduanya hanya tersenyum dan mengangguk, Hana berpindah duduk di sebelah Sakura saat ia melihat perut Sakura yang sudah membesar sedikit,
"Adik iparku memang tidak main-main saat bilang kau sedang hamil pagi ini, Sakura selamat!" ujar Hana, Sakura hanya tersenyum sendu saat Hana mengatakan itu.
"Hey, apa-apaan wajah itu hah?" ujar Hana, Sakura menggeleng pelan
"Nee-chan, aku benar-benar minta maaf karena aku kau harus menderita seperti ini, Sasuke-kun sudah menceritakan semuanya yang terjadi kepadamu kemarin, ini semua salahku." Hana menghela nafasnya pelan lalu mengusap pelan punggung mungil Sakura.
"Tidak apa-apa Sakura, aku tidak menyesal. Kita satu keluarga sekarang kan? Dan kau sudha melalui banyak penderitaan, aku tidak bisa membuatmu menerima penderitaan yang lainnya, kau berhak memiliki kebahagiaan mu dan Sasuke yang tertunda. Aku tidak menyesal." Ujar Hana, tepat pada saat itu pintu ruangan itu terbuka dengan paksa dan Hinata menyembur masuk kedalam.
"Jalang sialan!" ujarnya lalu menarik Sakura dan sisi Hana, membuat Itachi dan Hana reflek berdiri dari tempat mereka duduk
"Hinata apa yang kau lakukan?" Suara Itachi terdengar menyeramkan dari biasanya tapi Hinata tak terpengaruh sama sekali, ia mendorong Sakura sampai wanita hamil itu membentur tembok dengan punggungnya, lalu mencekiknya.
"Sialan kau Sakura! Kau mengandung anak Sasuke, kau kembali ke kehidupan suamiku itu, membuatnya menghamilimu sekali lagi dan menceraikan ku, kau juga membuat perusahaan ayahku bangkrut, apa itu masih belum cukup?" ujarnya, Sakura mencoba menggapai udara untuk bernafas tapi Hinata mencekiknya dengan keras, sialan kalau ia menyerah sekarang, berakhir sudah hidupnya, Hana datang dan mencoba melepaskan tangan Hinata sementara Itachi sudah menarik wanita indigo itu untuk menjauh dari Sakura.
"Lepas! Lepaskan aku!" ujarnya, begitu cekikannya di leher Sakura terlepas, wanita merah jambu itu merosot kelantai, terbatuk-batuk dan berusaha menghirup udara.
"Lepaskan Aku Itachi! Aku harus memastikan kalau aku membunuh jalang ini dengan tangan ku sendiri!" Hinata masih meronta sampai akhirnya Itachi melemparnya ke Sofa.
"Kau sudah gila!" bentaknya
"Dia tidak mencoba membunuhmu dan kau masih protes tentang apa yang dia lakukan? Kai seharusnya malu dan berkaca pada dirimu sendiri! Kau mengatainya jalang, aku Tanya di sini siapa yang wanita jalang sebenarnya? Siapa yang merebut suami orang hah? Siapa yang mebuat bangkrut perusahaan keluarga ku sebelumnya? Kau beruntung dia tidak mencoba membunuhmu juga, wanita sialan!" hardiknya, Hinata memandang Itachi ngeri saat sulung Uchiha itu berdiri menjulang dihadapannya.
"Kau! Kau yang membuatku nyaris kehilangan Rahim ku, semua ini salahmu!" ia memuku dada bidang Itachi dan sekali lagi Itachi menariknya menjauh dari tubuhnya dan menghempaskan tubuh wanita indigo itu ke sofa, Hinata meringis pelan saat nyeri di perut bagian bawahnya kembali terasa.
"Kau masih bisa protes tentang itu? Lihat apa yang kau lakukan pada Istriku! Keluar Hinata, keluar sekarang sebelum aku yang melemparmu keluar dari sini dengan tanganku sendiri!" tak perlu di perintah dua kali, wanita indigo itu memperbaiki matel berpergiannya lalu meraih tasnya yang terjatuh dilantai sebelum pergi meninggalkan mereka, ia bahkan sempat menari surai merah jambu Sakura dan membenturkan kepala wanita itu ke tembok lalu melengos pergi tanpa mengucapkan maaf.
"Wanita jalang itu benar-benar…" Hana sudah berdiri dan akan mengejar tapi Sakura menahannya, rasa sakit menyambar kepalanya dan punggungnya
"Tolong jangan beri tahu Sasuke-kun…" ujar Sakura
"Jangan beri tahu aku tentang apa?" ketiga kepala yang berada diruangan itu menoleh saat mendengar suara Sasuke
"Kenapa Hinata ada disini?" ujar Sasuke, pria itu berpapasan dengan Hinata saat ditangga tadi,
"tidak apa-apa dia hanya…"
"Mencekik istrimu dan membenturkan kepalanya ke tembok." Sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya Hana sudah menyelesaikannya untuknya, medengar itu semua Sasuke mendekat kearah Sakura yang masih duduk di lantai,
"Sayang! Ya Tuhan! Kau baik-baik saja?" Sasuke mengamati wajah istrinya yang masih memerah dan meringis saat ia menyentuh kepalanya
"Aku baik-baik saja." Ujarnya, Sasuke membantu sakura berdiri dari tempatnya duduk dan membawanya ke sofa.
"Ini yang kumaksudkan, mulai saat ini lebih baik kau bekerja dari rumah saja, kau bisa menyuruh staf mu untuk datang dan mengambil designya atau mengirimnya lewat e-mail, Hana-nee bisa mengawasi kerjaan mereka disini." Ujar Sasuke, Hana mengangguk setuju
"rumah itu sepi sekali. Aku tidak tahan disana sendirian." Ujar Sakura, Sasuke menghela nafasnya
"Kau pindah kerumahku, kita ceritakan semuanya kepada Kaa-san, dengan begitu kau bisa aman dan tidak kesepian." Ujar Sasuke, Sakura menggeleng
"Aku tidak bisa merepotkan Kaa-san." Ujarnya, Sasuke menghela nafasnya, ia membantu Sakura bersandar ke tubuhnya dan membiarkannya menyelonjorkan kakinya, Hana sudah kembali bersama staf Sakura yang membawa nampan berisi air putih.
"Aku akan baik-baik saja." Ujarnya meyakinkan.
"Sakura akan lebih baik kalau kau tinggal dengan kami kau tidak perlu khawatirkan Sasori, Temari akan pindah kerumahnya mala mini jadi kau bisa tinggal dengan kami. Lagi pula, aku merasa membodohi orangtuaku dengan hal seperti ini. Kita tidak bisa membohongi mereka selamanya." Ujar Itachi.
"Ya, Aku tahu itu tapi…"
"Kau akan pindah, malam ini juga! Aku tidak menerima penolakan apapun." Ujar Sasuke, Sakura hanya bisa menghela nafasnya. Kalau sudah begini, ini pasti sudah keputusan final ia tak akan pernah bisa menolaknya.
Taman Kota, Tokyo
Keuntungannya menikahi Hyuga Neji dan menjadi istrinya selama beberapa tahun adalah, kau bisa menyusup dengan leluasa tanpa ketahuan bahkan kedalam kantronya. Beruntungnya Tenten dan Gaara karena mereka berhasil kembali menyusupkan Lee dan Shino kekantor Hyuga Neji dan memasang alat penyadap di ruangannya dan Hinata dengan begitu mereka bisa mengetahui informasi sepenting ini malam ini, ia berad didalam mobil Gaara bersama pria itu. Mereka sedang mengamati Kakuzu dan mereka tak sendirian, beberap personil FBI dan kepolisan Jepang yang lainnya ada disana, kalau Hyuga Neji bisa menyuap kepala kepolisian, maka Ia dan Sasori bisa melakukan hal yang lebih dengan mengancamnya menggunakan skandalnya dengan wanita murahan di club dan beberapa wanita simpanan yang pasti akan merusak repurtasinya.
Kakuzu sudah turun dari mobilnya, ia dan beberapa anak buahnya akan melakukan penangkapan malam ini, informasi Hyuga Neji yang ia dapat dari bar semalam sempat membuatnya frustasi untuk mecari cara membobol safe deposit box bajingan polisi itu, tapi ingatkan dia untuk berterimakasih kepada Tenten sekali lagi yang sudah memberikan rekaman hasil penyadapannya kepada Gaara siang ini. Tak hanya Kakuzu, bahkan Hinatapun akan mereka ringkus bersama bukti kejahatan mereka.
"Kiba menelfon." Ujar Tenten, Gaara mengambil alih ponsel wanita itu dan menjawabnya
"Ada apa?"Tanya Gaara,
"Kau benar, gudangnya ada di Osaka. Mereka akan menyelundupkannya malam ini dan aku berhasil meringkus Darui bersama antek-antek Yakuza yang lain dan juga satu kontainer Kokain yang mereka selendupkan dalam bentuk boneka panda. Ya ampun! Kenapa juga harus boneka selucu ini sih?" Gaara mendengus medengar penuturan sahabatnya itu.
"Bagus, pastikan mereka aman sampai di Tokyo, bagaimana Neji dan Hiazhi?" Tanya Gaara,
"ah… mereka? Anak buah Sasori dan Itachi berhasil menculik mereka saat dalam perjalanan kebandara, melarikan diri kurasa. Bagaimana Hianta dan Hanabi?" Tanya Kiba lagi,
"Hanabi sudah di tangani Lee, dia ada diruang interogasi sekarang. Aku baru akan melancarkan misiku, kita bertemu di Tokyo nanti." Ujarnya,
"Baiklah, akan ku pastikan mereka tidak bisa kabur." Ujarnya, Gaara memutus Sambungan Telfon lalu memberikannya kepada Tenten.
"Aku terkesan dengan hasil kerjamu, bagaimana kalau makan malam diluar besok malam denganku?" Tenten menatap pria yang duduk disebelahnya, apa dia mengajaknya kencan?
"Kita lihat nanti setelah ini." Ujarnya, saat Kakuzu sudah mendekat kearah Hinata dan mengeluarkan sebuah bungkusan plastic transparan yang besar Gaara memberi kode kepada anak buahnya untuk mengepung dan keluar dari persembunyian, saat itu Juga ia dan Tenten keluar dan menodongkan senjata mereka tepat di kepala Kakuzu dan Hinata.
"Tenten-nee, kau…" Tenten medecih pelan
"Apa kabar Hinata? Kau sudah banyak berubah ya?" ujarnya,
"Apa ini? Apa maksudnya ini!" ujar Kakuzu, Shino maju kedepan dan mengambil barang buktinya saat Kakuzu akan melawan Gaara dengan cepat mengambil pistolnya dan membuangnya ketanah setelah membuang pelurunya hingga habis.
"Kalian berdua ditahan." Ujarnya dingin, tubuh Hinata menegang
"Di tahan? Apa salah kami sampai kami ditahan?" tanyanya,
"kau dicurigai sebagai tersangka utama percobaan pembunuhan Uchiha Sakura dan terlibat dalam perdagangan narkoba dan senjata illegal yang di lakukan ayah dan kakakmu." Ujar Gaara, dalam hitungan deting sebuah logam dingin sudah mengikat pergelangan tangannya
"Aku tidak bersalah! Lepaskan aku! Aku tidak bersalah!" ujarnya, Gaara masih menodongkan senjatanya begitu juga dengan tenten dan menggiring mereka masuk kedalam mobil tahanan.
"jelaskan itu di pengadilan, Nona Hyuga. Aku harap kau sudah mempersiapkan pengacara." Ujarnya sebelum menutup pintu mobil tahanan dan masuk kedalam mobilnya sendiri.
"Jadi? Bagaimana?" tanyanya begitu ia dan Tenten masuk kedalam mobil pribadinya
"Bagaimana apanya?" Tanya Tenten,
"Tawaran makan malamku." Ujarnya, Tenten tertawa
"apa kau baru saja mengajakku kencan?" tanyanya, Gaara menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Mungkin Saja." Ujarnya, Tenten mendengus lalu menjawab
"baiklah, jemput aku jam tujuh." Ujarnya, Gaara tersenyum puas lalu ia menginjak pedal gas dan meninggalkan lokasi penangkapan.
TBC. Update di tengah malem bener-bener bukan gaya saya wkkwkww tapi saya bener-bener tergoda buat update fict ini, semoga ini tidak mengecewakan. Mungkin chapter depan sudah last chapter dan chapter depannya tinggal epilog. So, saya harap kalian semua puas. Mind To RNR mina?
