Stronger

Disclaimer : Naruto is belong to Masashi Kishimoto, but Sasuke is MINE #dibakarsakura

Warning : OOC, Aneh, Gaje, Typo and Miss Typo bertebaran dimana-mana, penulisan tidak menggunakan kaidah EYD yang benar #apadah

Author Bacot Area : Okeh, akhirnya setelah ehemsetengahtahunlebihehem Aphro menghilang dari dunia perfanfic-an Indonesia#eh?, saya balik lagi tapi kali ini bawa FF pair Sasusaku, hehehehe Enjoy this one guys, Mind To RNR Mina?

"Setelah semua penderitaan yang kita lalui,

Setelah semua rasa sakit dan penderitaan yang kita alami,

Aku bahagia, karena pada akhirnya kau adalah tempatku kembali."

A/N : This is the truth, this chapter is the last one and the epilog will come soon. Ini chapter terakhirnya, tapi saya masih akan membuat epilognya. Setelah dua Tahun saya mencoba membuat FF yang masih banyak kekurangannya ini, saya berterimakasih kepada semua readers yang sudah setia menunggu dan membaca fanfict ini, bahkan merivew, Fav and follow. Saya ga tau mau bilang apa lagi tapi pastinya saya mengucapkan banyak terimakasih untuk support dan kritik juga saran-saran yang luarbiasa. Terimakasih untuk para Senpai yang mau memberi banyak masukan. Saya menghargainya. Dan ngomong-ngomong soal fanfict, saya sedang mempersiapkan fict yang baru. So, di tunggu ya.

.

.

.

.

.

Akasuna Mansion, Tokyo

Sasuke benar-benar tidak main-main saat memintanya pindah rumah. Disinilah dia sekarang, di dalam walk in closet miliknya di Mansion Akasuna milik Sasori. Wanita itu tengah menggerutu tidak jelas sambil mengepack dua buah koper besar dan beberapa dus besar berisi sepatunya. Beberapa pelayan keluar masuk untuk memindahkan barangnya ke sebuah mobil Van milik keluarga Uchiha yang sudah disiapkan Sasuke untuk mengangkut sepatu dan tas-tas kesayangan Sakura itu. Dengan melipat pakaian terakhir miliknya Sakura mengakhiri pekerjaannya. Ia menutup kopernya lalu membiarkan pelayan membawanya keluar. Sasuke sudah berdiri diambang pintu wajah pria itu terlihat lega dan cerah.

"Ada apa?" Tanya Sakura heran, Sasuke mendekat dan menangkup wajah wanitanya dengan kedua tangannya yang besar dan kokoh,

"Semuanya sudah berakhir. Kau bisa tenang sekarang." Ujarnya, Sakura memandang bertanya kearah suaminya, Sasuke sudah kembali menggunakan cincin pernikahan mereka saat sebelumnya ia menggunakan cincin pernikahannya dan Hinata, Sasuke mengeluarkan kotak beludru miliknya dan mengambil cincin pernikahan Sakura lalu menyematkannya di jari manisnya.

"Mulai detik ini, kau akan kembali menjadi Sakura Uchiha. Bukan lagi Guilliana Akasuna." Ujarnya, Sakura masih diam mematung, bagaimana bisa? Ia memandnag bertanya kearah suaminya

"Sudah berakhir? Bagaimana bisa? Kau bilang bukti yang dimiliki Kakazu tidak bisa di dapat, sekarang kenapa tiba-tiba mereka bisa di tangkap?" Tanya Sakura, Sasuke membawanya keluar dari Walk in closet miliknya dan duduk di ranjang mereka berdua.

"Gaara dan Tenten yang menangkap mereka kemarin malam. Mereka berhasil menyadap kantor milik Neji dan Hinata. Begitu mengetahui kalau keduanya akan menghancurkan bukti kejahatan keluarga Hyuga, bukti atas percobaan pembunuhan mu dan penmbunuhan pasangan keluarga Akasuna. Mereka membuntuti Kakuzu dan menangkap mereka berdua.

Tidak hanya itu, Kiba juga berhasil menangkap Darui dan antek-antek Yakuza mereka yang lain, Lee sedang mengintrogasi Hanabi. Sidangnya akan di gelar lusa." Ujar Sasuke

"Perceraian mu dan Hinata?" Tanya Sakura, Sasuke tersenyum samar

"Kami sudah resmi bercerai. Entah bagaimana caranya Itachi berhasil membuat Hinata menandatangani surat perceraiannya itu dan mengurusnya ke pengadilan." Ujar Sasuke, Sakura merasa lega, wanita itu memeluk suaminya

"Akhirnya." Ujarnya. Sasuke membalas pelukan Sakura lalu mencium bibir ranum istrinya.

"sentuhan terakhir, ayo kita pamit pada Sasori lalu pulang dan jelaskan ini semua kepada Okaa-san dan Otou-san." Ujar Sasuke, Sakura mengangguk setuju lalu bungsu Uchiha itu menggenggam tangannya dan membawanya kelantai satu.

Sasori dan Temari sedang duduk diruang tengah. Keduanya terlihat sedang melihat album foto yang entah itu berisi apa. Sakura dan Sasuke menghampiri mereka, Sasori memandang pasangan Uchiha itu dan tersenyum menyambut mereka.

"Aku lihat kau benar-benar akan pulang." Ujar Temari, Ia menuangkan ocha untuk Mereka.

"Ya Temari-nee, Sasuke –kun bilang mereka sudah ditangkap kemarin malam. Jadi, karena itu aku akan kembali kerumah Sasuke-kun." Ujarnya, Sakura memandang Sasori yang sejak tadi memandang lurus kearah mereka berdua

"Terimakasih banyak untuk bantuannya selama ini Sasori-senpai. Kau benar-benar ibu periku." Ujar Sakura, Sasori tertawa rendah begitu juga Sasuke

"Panggil aku Nii-san saja Sakura. Aku ini anak tunggal, kedua orangtuaku sudah lama meninggal dan aku sendirian. Aku akan senang kalau kau tetap mau jadi adikku setelah masalah ini selesai. Ingatlah, kapapun kalian butuh bantuan, kalian harus segera menghubungiku aku akan sangat senang kalau bisa membantu." Ujar Pewaris tunggal Akasuna itu.

"Sasori-nii, aku berterimakasih karena sudah menjaga Sakura selama ini, aku tidak tahu apa lagi yang harus ku lakukan untuk membalas apa yang sudah kau dan Aniki lakukan untuk ku dan istriku." Kali ini Sasuke yang angkat bicara, Sasori mengangkat gelas Ochanya dan menyesapnya

"Jadilah bestman ku di pesta pernikahanku minggu depan dan jaga adikku sampai anak kalian lahir dengan selamat. Itu sudah cukup. Lagi pula, Sasuke kami melakukan ini semua karena kami memiliki tujuan yang sama. Awalnya aku berfikir ini hanya akan jadi acara membalas dendam saja tapi ternyata aku mendapatkan hal yang lebih berharga.

Aku tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Itachi sebagai sahabatku sejak kecil dan sejak itu aku sudah menganggapnya sebagai saudara ku dan setelah kami bekerja sama melakukan ini semua akhirnya setelah sekian lama aku tidak pernah merasakan lagi bagaimana rasanya memiliki keluarga, aku kembali merasakannya. Itu semua karena kalian.

Aku jadi punya seorang adik yang harus ku jaga, aku jadi belajar bagaimana caranya menjalankan perusahaan. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya punya dua orang saudara laki-laki yang bisa kuajak minum diluar saat aku sedang penat. Yah, kalian memang tidak tinggal disni lagi setelah ini, tapi setidaknya kalian masih adik ku. Jaga Sakura untukku." Sasori mengulurkan tinjunya dan di sambut oleh Sasuke, pria Uchiha itu melirik jam tangannya

"Kami harus pergi sekarang, Nii-san. Kirimkan saja undangan pernikahannya nanti aku pasti akan datang bersama Sakura." Ujarnya Sasori terkekeh pelan lalu memberikan mereka pelukan hangat

"Sakura, aku benar-benar akan sangat senang kalau kau bersedia merancang gaun pengantinku." Ujar Temari, Sakura tersenyum lembut

"Ya, Temari –nee datang saja kerumah Sasuke-kun. Aku tidak akan ada di butik sampai aku melahirkan, Sasuke-kun sudah menyuruhku mengambil cuti hamil lebih awal." Sakura mendengus diakhir kalimatnya

"Baiklah. Jaga kesehatanmu." Ujar Temari, Sakura mengangguk lalu memberikan wanita itu pelukan begitu juga Sasuke, ia ikut memeluk temari sebelum mereka keluar dari mansion mewah itu dan meluncur ke kediaman utama Uchiha.

Ruang Introgasi, Kantor Kepolisian Tokyo

Gadis berusia tujuh belas tahun bersurai coklat gelap itu menunduk tak berani menatap lawan bicaranya, tubuhnya gemetaran karena ketakutan. Hanabi Hyuga, ia sudah duduk di ruang introgasi ini sejak kemarin dan dia masih enggan untuk buka suara. Ia tidak mau di penjara, ia tidak mau keluarganya juga sampai di penjara. Dia tidak mau berakhir disana.

"Lee!" Seseorang masuk kedalam ruangan menghampiri mereka, atau lebih tepatnya menghampiri lawan bicaranya

"Sudah ada kemajuan?" tanyanya, Kiba memandang Lee dan Hanabi bergantian

"Belum. Dia masih belum mau bicara apapun." Kiba menghela nafasnya, gadis remaja memang merepotkan

"kau keluarlah, biar aku yang tangani ini." Ujarnya,

"Tapi bagaimana dengan introgasi Darui?" Kiba menyodorkan clip board miliknya kearah lee dan sebuah rekaman kepadanya

"Ini. Buat laporannya dan serahkan ke kapten besok pagi. Sidangnya tinggal sebentar lagi." Ujarnya, Lee mengangguk patuh lalu keluar dari ruang introgasi itu, Kiba mengunci pintu ruangan kedap suara itu dan melepas matelnya,

"Hanabi Hyuga?" ujarnya, Hanabi masih tak bergeming Kiba menghela nafasnya lalu melepaskan vest kepolisiannya dan tempat senjatanya diatas meja

"Kau takut kalau aku akan menembak mu?" Tanyanya, Hanabi memandang barang-barang yang di letakkan diatas meja oleh Kiba

"Kenapa?" ia mencicit kecil, Kiba menaikkan sebelah alisnya sebelum duduk kembali di hadapan bungsu Hyuga itu

"Aku tidak ingin membuat mu tertekan jadi kau bisa bicara dengan mudah tentang apa yang telah kau dan keluarga mu lakukan selama ini." Ujarnya, Hanabi memandang takut-takut kearah Kiba

"Apa kami akan dihukum mati?" Kiba menaikkan sebelah alisnya lalu menggeleng

"aku tidak yakin soal itu. Nah sekarang, Nona Hyuga apa kau terlibat dalam kasus percobaan pembunuhan Sakura?" Tanya Kiba

"Ya, aku yang memberikan alamat itu kepada Sakura-nee, hanya itu yang aku lakukan itupun karena Hinata-nee memaksaku." Ujarnya

"Apa yang Hinata katakana saat meminta bantuanmu?" ujar Kiba, ia tengah mencatat setiap keterangan yang ia dapatkan dari bungsu Hyuga ini.

"Nee-san, tidak bilang akan membunuh Sakura-nee, dia hanya bilang mau memberi Sakura-nee sudah mengkhianatinya dengan menikah denga Sasuke-nii, dia bilang dia tidak akan membunuhnya, tapi yang terjadi keesokan hari nya aku mendengar berita duka itu dari keluarga Uchiha." Ujarnya,

"Kau kalau kakakmu memanipulasi saham perusahaan keluarga Uchiha dan menjebak Fugaku Uchiha?" Tanya Kiba lagi, Hanabi diam sesaat dan menggeleng pelan.

"Aku tidak tahu. Otou-sama tidak pernah mengizinkan aku terlibat dalam urusan bisnisnya. Kalau kau Tanya Neji-nii atau Hinata-nee aku rasa mereka akan dengan senang hati memberikan jawabannya kepadamu." Ujarnya, Kiba mengangguk paham, tidak banyak yang akan ia dapatkan dari gadis remaja ini.

"Baiklah kalau begitu, Matsuri!" Kiba berbicara lewat microfon yang ada di sebelahnya lalu setelah itu seorang wanita berusia awal dua puluhan masuk kedalam ruangan setelah sebelumnya kiba membuka slot kuncinya

"Bawa dia kembali kedalam sel, bawa Hiashi Hyuga kesini." Ujarnya, Sepasang irish lavender milik Hanabi membulat karena panik ia mencoba meronta tapi tidak bisa melepaskan diri

"dengar, Hanabi." Matsuri berhenti di ambang pintu.

"kalu kau benar-benar hanya melakukan peran kecil itu tanpa tahu kalau Hinata akan membunuh Sakura, hukumanmu tidak akan seberat kedua kakakmu dan Ayahmu. selama ada di dalam penjara kau harus menyadari kesalahan yang di buat keluargamu dan kau harus mencoba berubah. Kau sudah berbuat salah jadi kau harus bertanggung jawab. Kalian boleh pergi." Kiba kembali memakai vest dan tempat senjatanya saat Matsuri dan Hanabi keluar dari ruangan introgasi itu, tak lama kemudian Hiashi Hyuga masuk dengan di kawal ketat oleh Shino.

"Kau…" Hiashi memandang tajam kearah pria Inuzuka di hadapannya,

"lama tidak bertemu bukan, Hiashi-san. Aku fikir setelah penangkapan anak buah mu dan Neji di New Jersey kau tidak akan melakukan bisnis kotormu, ternyata bisnis itu masih berjalan ya?" ujar Kiba, Hiashi tidak menjawab, Shino berhasil memaksanya duduk di kursi kayu di hadapan kiba lalu ia keluar meninggalkan mereka berdua.

"Apa yang kau tahu tentang mereka." Kiba menyodorkan foto orangtua Sasori dan Sakura, lalu ia menyodorkan foto Omoi dan Darui kehadapan kepala keluarga Hyuga itu,

"Pasangan Akasuna adalah rekan bisnisku dan wanita merah jambu itu adalah istri pertama dari Sasuke Uchiha. Aku benar kan?" Kiba mendecih pelan melihat pria itu

"Apa kau terlibat dalam pembunuhan mereka?" Hiashi tersenyum licik

"Dalam bisnis kau harus menyingkirkan penghalang dengan cara apapun. Aku di besarkan dengan cara seperti itu Inuzuka, seorang pebisnis akan kalah saat kehilangan tender dan klien mereka, Fugaku dan Pasangan Akasuna itu mengancam posisiku aku harus menyingkirkan mereka." Ujar Fugaku

"Kau membunuh pasangan Akasuna kenapa kau tidak mencoba melakukan hal yang sama kepada pasangan Uchiha senior itu?" Tanya Kiba lagi, Hiashi tertawa rendah lalu memandang tajam kearahnya,

"Kalau aku membunuh Fugaku, aku tidak akan bisa menyetir keluarga Uchiha dari dalam. Itachi, si pebisnis jenius sialan itu pasti akan di tunjuk sebagai CEO berikutnya dan Sasuke adiknya akan menjadi COO menggantikan posisi yang dulu di duduki kakaknya, kau fikir mereka tidak akan membalas dendam? Beruntungnya aku berhasil menyusupkan putriku kesana, saat itu Kagami, adik dari Fugaku adalah CFO dari perusahaan itu, aku membunuhnya. Setelah itu Hinata mencuri data penting keuangan perusahaan Uchiha dan memanipulasinya, kami menjebaknya. Sederhana bukan? Tapi akhirnya aku bisa menguasai mereka. Aku bisa menyetir Itachi tapi sayangnya anak itu terlalu jenius dan memilih merintis cabang di paris bersama istrinya, aku tidak punya cara lain selain membuat Sasuke menikah dengan anak perempuanku dan menjadikannya boneka. Dengan begiu Uchiha akan berada di bawah kendaliku. Posisiku akan aman." Kiba menggeleng pelan, pria ini benar-benar brengsek

"Kau bukan yang nomor Satu, Hyuga. Perusahaan Namikaze masih bertahan di posisi itu. Bagaimana kau bisa bangga dalam posisi kedua." Ujarnya, ia membuka lembar berikutnya

"Aku juga berencana membunuh Minato tapi kau sudah menangkapku dan keluargaku." Kiba menaikkan alisnya, pria tua bangka ini memang tidak pernah puas.

"Begitu kah? Memalukan." Ujarnya

"apa yang kau lakukan pada pasangan Akasuna?" Tanya Kiba,

"aku membunuh mereka. Aku menyuruh beberapa orangku untuk bekerja disana sebagai tangan kanan Ayah Sasori, lalu mereka melaporkan berita palsu tentang kebangkrutan cabang perusahaan mereka di paris, aku membajak pesawat jet pribadi yang mereka tumpangi dan anak buahku tersayang Oliver Mendez adalah pilot mereka, ia menabrakkan pesawat itu di pegunungan Alpen, kalau aku melakukan hal itu tidak akan ada yang menyangka kalau mereka meninggal karena kecelakaan, bukan?" Kiba makin geram dengan penuturan orang yang ada dihadapannya ini

"Apa kau terlibat tentang Sakura?" Tanya Kiba, Hiashi terdiam

"Itu urusan anak-anak ku. Aku tidak ikut campur kecuali untuk urusan penipuan dan manipulasi data itu." Kiba mengangguk mengerti,

"Shino. Bawa orang ini kembali ke selnya. Bawa Neji dan Hinata sekaligus kesini." Ujarnya, Shino masuk kedalam ruangan itu lalu ia kembali tak lama kemudian dengan Hinata dan Neji bersamanya.

"Kau…" Hinata menggeram saat melihat wajah Kiba.

"bagaimana Rahim mu?" Kalau Hinata bisa mencakar habis wajah pemuda dihadapannya ini, dia pasti akan melakukannya

"Brengsek!" umpatnya, Kiba hanya tersenyum mengejek sebelum mengajukan pertanyaan,

"Kalian cukup jelaskan percobaan pembunuhan Sakura. Apa yang kalian lakukan padanya dan terutama kepada Itachi." Dua orang dihadapannya terlihat diam mematung.

"Aku yang merencanakan pembunuhan itu, Aku menyuruh Hanabi memberikan alamat itu kepada Sakura dengan dalih kalau aku sedang meeting disana, tapi sebenarnya aku dan Neji-nii sedang mendiskusikan rencana pembunuhan yang akan kami lakukan terhadapanya.

Aku tidak tahu kalau Itachi mengikuti kami. Aku baru menyadarinya saat ia membututi mobil Sakura, Saat mobil itu menabrak mobil truk bahan bakar itu. Aku ada disana, di dalam mobil, Neji-nii dan aku bersembunyi agar Itachi tidak bisa melihat kami." Kiba masih terus mencatat

"Darui menghajar Itachi kan? Kau bisa jelaskan itu?" Tanya Kiba lagi,

"Aku menelfonnya dari dalam mobil saat melihat Itachi akan menyelamatkan Sakura, lagi pula sepertinya bajingan sialan itu sudah menyadari keberadaanku dan Hinata. Aku menyuruh Darui membunuhnya juga tapi siapa sangka dia masih bisa selamat.

Saat ia sudah pingsan, atau aku merasa dia sudah pingsan kami keluar dari mobil, Hinata menyulut api nya dengan pematik api dan menjatuhkannya disana. Aku tidak tahu kalau ternyata Itachi masih sadar dan berpura-pura mati dihadapan kami." Neji berhenti, Kiba ikut berhenti menulis di catatannya.

"terakhir, bisnis kotor mu itu. Aku ingin kau beri semua nama sindikat yang ada dan menjadi bawahanmu. Semuanya, jangan ada yang terlewat." Ujar Kiba

"kau mau apa? Mereka tidak akan bisa kau tangkap dan bisnis gelap itu tidak akan pernah bisa kau tutup." Ujarnya, Kiba tersenyum sinis kearah Neji,

"Asal kau tahu saja, bawahan mu Darui sudah buka mulut tentang bisnis ini. Aku hanya butuh daftar nama orang-orang penting disini. Shino!" Pria berkacamata itu kembali muncul diruang introgasi,

"bawa mereka kembali ke selnya." Ujarnya, Kiba ikut keluar dari ruangan itu setelah mengambil perekam suaranya dan mengecek kembali catatannya, ini gila. Keluarga ini benar-benar gila.

Uchiha Mansion, Tokyo

Suara Heels dan lantai kramik yang beradu menyambut mereka begitu mereka tiba di mansion mewah milik keluarga Uchiha. Mikoto dan Fugaku, juga Itachi dan Hana datang menyambut mereka. Mikoto memberikannya pelukan hangat dan erat, wanita Uchiha senior itu juga terisak di dalam bahunya.

"Ya Tuhan! Sakura, putriku kembali. Kenapa harus berpura-pura di depanku? Kenapa harus menyembunyikan ini semua dari kami, nak? Ya Tuhan! Sakura, terimakasih karena masih hidup!" Ia membalas pelukan hangat ibu mertuanya itu dan mengusap punggung Mikoto pelan,

"Okaa-san, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak ada maksud untuk membohongi kalian sama sekali, aku hanya tidak ingin kalian terlibat. Itu hanya akan mebuat kalian berada dalam bahaya." Ujarnya, Mikoto terisak lagi tapi lalu melepaskan pelukannya saat Fugaku melingkakan tangannya ke sekeliling bahunya,

"Sakura." Wanita itu memeluk ayah mertuanya, sosok yang telah lama menggantikan posisi ayah kandungnya sejak lama.

"Aku turut prihatin atas kehilangan putra kalian, tapi sepertinya Kenzo akan memberikan kebahagiaan yang lain. Kali ini berhati-hatilah dan jangan terlalu lelah, kami ingin melihat cucu kami yang berikutnya lahir dengan selamat." Ujar Fugaku, Sakura tersenyum dan mengangguk mengerti

"Kita masuk kedalam, aku sudah buatkan makan malam untuk kalian. Sakura. Aku masih belum percaya kau sudah kembali." Mikoto terus merangkul Sakura dan membawanya masuk kedalam, Sasuke memandang mereka dari belakang, lusa adalah sidang kasus ini setelah sidang itu selesai maka tidak aka nada lagi yang bisa mengusik kehidupan keluarganya. Pria itu menghampiri Itachi yang tengah menggendong Meiko.

"Sasuke-Jisan!" gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya minta di gendong, Sasuke terkekeh geli dan mengambil alih keponakan kesayangannya itu dari kakaknya

"Sekarang kau menculik putriku." Sasuke tergelak mendengar Itachi menggerutu, sementara Meiko hanya menjulurkan lidahnya kearah sang ayah

"habis touchan tidak mau belikan mainan rumah Barbie itu untukku!" oh gadis kecil ini sedang merajuk, Itachi mendengus

"bukannya Touchan tidak mau, Meiko-chan. Tapi kau sudah terlalu besar untuk main boneka." Sasuke terkekeh geli, dia jadi ingin punya anak perempuan.

"Bagaimana kalau Jisan yang belikan satu untuk Meiko-chan, tapi harus dapat ranking dulu disekolah." Anak berusia enam tahun itu mengangguk setuju lalu menautkan kelingkingnya ke jari kelingking Sasuke

"Janji." Ujarnya riang,

"kalian mau sampai kapan disitu?" Hana menghampiri mereka sambil berkacak pinggang di depan pintu masuk ganda

"Ya, kami masuk sebentar lagi. Kau masuklah." Ujar Itachi, lalu ia dan Sasuke mengikuti Hana dari belakang masuk ke dalam rumah megah itu.

Lettuce Restaurant, Tokyo

Saat Gaara mengajaknya makan malam diluar kemarin malam, ia fikir pria ini pasti sedang bercanda atau otaknya sedang rusak. Tapi, nyatanya malam ini ia di kejutkan dengan kemunculan kapten muda FBI itu di depan pintu apatementnya tepat jam tujuh malam. Ia harus membuat Gaara menungguny berdandan selama setengah jam lebih sebelum akhirnya mereka makan di restaurant bintang lima ini. Seorang pelayan masuk mengambil piring bekas makanan untama yang baru saja mereka santap dan kembali memberikan dua potong Quick tarte tatin kehadapan mereka dan menuangkan Bollienger Rose kedalam gelas campagne berkaki panjang mereka yang telah kosong, baru setelah itu mereka keluar dari VIP room yang dipesan Gaara.

"menakjubkan juga seorang kapten FBI seperti mu memiliki uang sebanyak ini." Ujarnya, gaara tekekeh medengar penuturan Tenten

"Aku masih memiliki saham sebanyak dua puluh lima persen di perusahaan Sabaku, Kankuro dan Temari yang mengurusnya aku tidak punya waktu untuk itu. Aku lebih menikmati pekerjaan ku yang sekarang." Tenten meneguk campagne miliknya,

"ini nikmat sekali." Ujarnya,

"Bollinger Rose, itu adalah Campagne terbaik di dunia. Aku bisa tahu hanya dari melihat warnanya saja." Ujarnya, Tenten menaikkan alisnya

"Aku tidak tahu kau tahu banyak soal anggur." Ujarnya, Gaara tertawa rendah

"Aku hanya tahu apa yang aku sukai, Tenten." Ujarnya, Tenten meletakkan gelasnya dan mulai memotong Quick Tarte Tatin miliknya,

"Apa yang kau sukai?" Tanya wanita bersurai coklat itu, Gaara ikut memotong dessert nya lalu menyantapnya.

"Pekerjaanku, kau dan anggur." Ujarnya, Tenten nyaris tersedak makanannya sendiri saat Gaara menyebutkan hal itu.

"Gaara, kau tahu kan kalau…" Wanita itu sudah berhenti total dari kegiatan makannya

"tidak ada masa depan bagi seorang FBI? Tenten itu konyol, pekerjaan kita memang menuntut banyak hal untuk di korbankan termasuk hidup kita sendiri. Tapi berfikiran kalau kita tidak punya masa depan, itu semua omongkosong." Ujarnya, Tenten tersenyum Samar.

"habiskan makan malamnya setelah itu aku akan mengantarmu pulang sebelum larut malam." Ujarnya, Tenten mengangguk mengerti

"Asal kau tahu, Kapten. Aku tidak akan tidur dengan mu di kencan pertama." Gaara tergelak

"Jadi itu yang kau fikirkan sejak tadi?" oh sialan, pria ini menggodanya. Wajahnya pasti sudah berubah menjadi merah.

"bu…bukan begitu, kau tahu kan kebanyakan laki-laki seperti kalian itu bajingan." Gaara tergelak lagi,

"Bukan berati aku juga seperti itu Tenten, tidak semua pria itu bajingan seperti mantan suamimu." Ujarnya, Tenten mendengus,

"Kau sebut nama itu lagi aku akan membunuhmu disini." Gaara tekekeh geli memperhatikan wanita yang tengah merajuk didepannya saat ini.

"makanlah." Ujarnya lagi, Tenten mengikuti kemauan pria yang duduk dihadapannya ini lalu menyantap makanannya. Ia tahu kalau ia sudah bercerai lama sekali dari Neji dan Gaara berhasil mencairkan hatinya yang beku selama ini, tapi bisakah ia menerima pria itu? bagaimana kalau kenyataan akan menamparnya dan membuangnya ke lubang yang sama sekali lagi? Sialan, dia tidak ingin memikirkan itu, mungkin ibunya benar dia harus membuka hatinya untuk seseorang dan menerimanya perlahan-lahan, bukankah semuanya butuh proses yang tidak cepat untuk menjadi berhasil? Ia rasa memberikan pria di depannya ini kesempatan bukanlah ide yang buruk sama sekali.

.
.

.

.

.

.

Gedung Pengadila Tinggi, Tokyo

Hatinya bergetar begitu kedua kakinya menginjak jalanan beraspal di depan gedung bercat putih dihadapannya. Ia memejamkan matanya, hari ini keadilan akan dirinya akan kembali ia dapatkan. Sakura menghela nafasnya, ia lega karena ia akan mendapatkan apa yang menjadi haknya kembali dan orang yang membuatnya mederita akan di hukum dengan setimpal tapi, disisi lain hatinya bergetar entah kenapa. Ada perasaan tidak rela melihat sahabatnya akan dihukum, tapi ini adalah kehidupan kan? Kita harus mempertanggung jawabkan semua hal yang telah kita lakukan entah bagaimana caranya. Ia memejam kan matanya, bayangan masalalu persahabatannya dengan Hinata kembali terlintas dalam benaknya, hatinya berdenyut nyeri saat mengingat kembali apa yang di lakukan Hinata. Ia sudah memaafkan wanita itu sejak mereka masih ada di LA, tapi membiarkannya lepas tanpa menerima hukuman adalah hal yang salah. Sakura ingin wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu belajar dari kesalahan agar tidak jatuh kelubang yang sama sekali lagi.

Ia tersentak saat tangan kekar milik Sasuke merangkul bahunya, pria itu memandnagnya sebentar lalu memperat rangkulan tangannya di sekitar bahu Sakura dan mengajaknya melangkah bersama masuk kedalam gedung peradilan itu. Sasuke ada disisinya dia tidak perlu takut lagi Sekarang. Saat ia masuk Itachi sudah ada disana terlebih dahulu duduk di kursi yang di khususkan untuk Saksi di sebelah Hidan. Sementara keluarga Hyuga dan antek-anteknya duduk persis di depan Hakim kepala dan para Jaksa. Sakura duduk di barisan terdepan bersama Sasuke dan keluarga Uchiha yang lain. Mereka menyaksikan persidangan itu, dimulai dari kesaksian Itachi dan Hidan sampai pembelaan yang di lakukan oleh pengacara keluarga Hyuga. Hinata hanya diam, Sakura memperhatikan sahabat lamanya itu dalam diam, sebagian hatinya merasa lega tapi sebagian hatinya lagi terluka. Dia tidak tahu bagaimana caranya Hiashi bisa mengubah anak-anaknya mejadi seperti itu. dia tidak habis fikir dengan cara mendidik keluarga Hyuga itu.

"Atas adanya semua bukti, keterangan saksimata dan penyelidikan yang telah di lakukan oleh pihak kepolisian dan FBI, dengan ini para terdakwa di jatuhi hukuman Seumur Hidup dengan denda ganti rugi yang harus di bayarkan sebesar dua miliar yen." Dengan keputusan terakhir hakim itu palu di ketuk tiga kali, Sakura memejam kan matanya, ia lega setidak nya ini bukan hukuman mati.

Saat para tersangka di giring untuk keluar dari ruangan sidang Hinata berhenti di hadapannya, Sasuke berusaha melidunginya tapi Sakura mencegahnya. Wajah wanita itu pucat saat Sakura melihatnya sepasang lavendernya sudah redup entah sejak kapan.

"Aku tahu rasanya tidak pantas hanya mengatakan ini setelah apa yang aku lakukan kepadamu dan anakmu yang bahkan belum lahir. Aku menyesal, tapi minta maaf tetap tidak akan pernah cukup kan, Sakura? Aku akan menebusnya dengan menjalani hukuman ini, aku benar-benar menyesal. Mungkin memang seharusnya aku tidak pernah melakukan hal itu, tapi mengatakan hal ini juga tidak ada gunanya sekarang. Aku benar-benar menyesal atas semua yang sudah kulakukan. Aku tidak akan mengganggumu dan keluargamu lagi. Hiduplah dengan baik." Ujarnya, Sakura tak bisa menahan tangisnya, wanita itu memeluk Hinata,

"Aku… sudah memaafkanmu, daripada apa yang ku alami bukankah kau juga menderita karena masa kecilmu. Jalanilah hukumannya dan renungkanlah semua, cobalah untuk memaafkan dirimu sendiri dan mulailah terbuka dengan orang lain. Kau juga harus hidup dengan baik. Aku akan mengunjungimu kapan-kapan." Ujarnya, Hinata ingin membalas pelukan sahabatnya itu tapi kedua tangannya sudah terborgol

"aku harus pergi." Ia memandang Sasuke sebentar sebelum membiarkan Tenten kembali mengawalnya masuk kedalam mobil tahanan.

"Kau bisa memaafkannya?" Sasuke memandang Sakura, wanita bersurai merah muda itu balas memandang pria dihadapannya itu.

"Ya. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa membencinya lebih dari ini. Aku sudah mencapai batasnya. Sasuke-kun, semuanya sudah berakhir jadi tolong jangan ungkit-ungkit lagi hal ini." Ujarnya, Sasuke menghela nafasnya,

"Sesulit apapun aku mencoba untuk memahamimu. Aku tidak bisa melakukannya, kau memang seorang wanita yang sempurna Sakura. Bagaimana bisa aku mendapatkan wanita sesempurna dirimu. Ya, ini sudah berakhir." Ujarnya, ia mengecup puncak kepala wanita yang tengah mengandung itu.

"Aku mencintaimu." Ujarnya, Sakura tersenyum

"Kau tahu aku juga mencintaimu." Ujar Sakura,

"Anak-anak, ayo kita pulang. Kita akan makan malam dengan Sasori dan Naruto malam ini." Ujar Mikoto, Sasuke sudah merangkul pinggang istrinya dan berjalan bersama keluar dari gedung peradilan itu bersama keluarganya.

Sasuke membukakan pintu mobil sport mewahnya untuk Sakura. Sekilas wanita itu bisa melihat wajah Hinata dari mobil tahanan yang mengangkutnya dan Hanabi. Wanita itu tersenyum lembut yang di balas oleh Hinata. Ia tahu wanita bersurai indigo itu sudah menyakitinya sampai sejauh ini. Tapi ia tidak bisa membenci wanita itu lebih jauh lagi, bukankah Tuhan bisa memaafkan umatnya yang memiliki dosa berat sekalipun? Lalu kenapa dia tidak bisa memaafkan sahabatnya yang sudah menghancurkan hidupnya? Sulit memang, tapi itu semua adalah masa lalu yang telah berlalu. Ia hanya ingin menutup lembaran masalalunya dan melihat kedepan. Ia ingin melahirkan bayinya dengan selamat dan kembali kedalam pelukan hangat suaminya, kembali mendapatkan kebahagiaan yang sempat tertunda.

THE END.

Ini benar-benar endingnya kwkwkkw, tapi jangan lupa buat check epilognya di chapter berikutnya. Ga terasa ya? Udah dua tahun fict ini saya buat dan akhrinya tamat. Mungkin disepanjang sejarah FF stronger chapter ini yang paling panjang? Entahlah, tapi pastinya saya berterimakasih untuk seluruh readers, yang silent readers maupun yang sering meriview, saya minta maaf kalau saya tidak pernah bisa mebalas satu persatau but, aku tetap membaca semua reviewnya. Terimakasih untuk kritik dan sarannya, kalian semua membantu saya dalam berkarya, saya benar-benar mengucapkan terimakasih. Setelah Fict ini, saya akan publish fict baru so, just waiting for another fict ya. See ya.

Aphrodite Girl 13