Yeongweonhi Saranghae
By
Jihyun1289
a.k.a
Cho Sunghyun
…
Pairing :: ZhouRy, YeWook, KyuMin, KangTeuk, SiBum, HaeHyuk, HanChul (pair lain menyusul seiring jalannya chapter)
Rated :: T+ (aku gatau ini rated apa )
Disclaimer :: SuJu bukan milik saya, tapi saya milik SuJu *ngarep* #ditabok
Warning :: Boy x Boy, YAOI, BL, OOC(?), m-preg, gaje, typo(s), abal. DON'T LIKE DON'T READ! Tapi kalau Read, Review please… *bow*
a/n :: Annyeong^^ ga banyak cuap-cuap dari saya. Buat readers dan reviewers, gomawo… Ini udah JiFa usahain update. Padahal besok masih ada test, hehe ^.^v
Summary
"Ahjucci… Kapan Appa dan Eomma Kyunnie pulang?"/"Aku hamil!"/"Kenapa menangis, Wookie?"/Kau akan berkencan dengan Mimi ge yaaaa?"/Kau ini seksi sekali, Bummie…"/"Mochi, aku ingin kau…"/bagaimana kalau Zhou Oppa dan Henry Oppa menyanyi di stage yang ada di sana?"/"Adik Zhoumi"/"Masalahku? Aku tak punya masalah, tapi kau yang akan menghadapi masalah!"/"Aku ingin bertemu Kim Kyuhyun…"/ Tolong jaga bayi ini. Suatu saat aku akan mengambilnya/CHAP5 IS Up! Wanna RnR?
Enjoy it!
Chapter 5
Sore ini adalah untuk ketiga kalinya Kangin berkunjung ke rumah Leeteuk. Ya, tiga hari sudah berlalu semenjak pertemuan kedua mereka.
Kangin duduk di bangku ayunan belakang rumah Leeteuk. Suasana sore ini sangat nyaman. Sungmin terlihat terlelap dipangkuan Kangin. Sedangkan Kyuhyun yang duduk disebelahnya sibuk memainkan PSP hitam barunya.
"Yah, yah! Ahjucci! Kenapa ini cucah cekali?" teriak Kyuhyun kesal sambil mempoutkan bibirnya.
"Pelankan suaramu, Kyu… Kau tak lihat Minnie sedang tidur?" kata Kangin sambil mengusap surai hitam Sungmin saat menyadari gerakan kecil dari tangan Sungmin. Kyuhyun segera mematikan PSP itu dan beralih memandang wajah polos Sungmin yang sedang terlelap. Lama ia memandang wajah manis itu.
"Ahjucci… Kyunnie juga mau dipangku Appa..."
"…"
"Ahjucci… Kapan Appa dan Eomma Kyunnie pulang?"
"…"
"Kyunnie ingin melihat Appa dan Eomma…"
"…" Kangin hanya diam. Tak berniat sedikitpun membalas tiap ucapan Kyuhyun yang terdengar begitu polos namun terasa pilu.
"E'hem" Leeteuk yang ternyata dari tadi sudah berdiri di sana –dan mendengar ucapan Kyuhyun- berdehem. Menyadarkan Kangin dan Kyuhyun bahwa ada dia di sana.
"Ahjumma…" sapa Kyuhyun. Leeteuk membalasnya dengan senyuman.
"Ahjumma dengar… Kyunnie ingin bertemu Appa dan Eomma Kyunnie, ne?" Tanya Leeteuk yang sekarang sudah berdiri tepat di depan Kyuhyun. Kyuhyun hanya mengangguk sebagai jawabannya.
"Kalau begitu… Kyunnie harus berjanji tidak akan menangis… Tidak lagi merepotkan ahjussi… Dan juga tidak boleh bertengkar dengan teman Kyunnie" suara Leeteuk begitu lembut. Tangannya mengusap surai ikal Kyuhyun. Bibirnya tak henti-hentinya memasang senyum malaikat itu.
"Ahjussi bilang, kemarin Kyunnie bertengkar dengan teman Kyunnie, benar?" mata Leeteuk melirik Kangin yang masih memandangnya. Sepertinya ia lebih meminta keterangan pada Kangin.
"Dia bertengkar dengan Changmin, teman sekelas mereka. Jinjja… Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, sampai-sampai dia berani memukuli Changmin dengan tasnya" Kangin angkat bicara.
"Kenapa Kyunnie bertengkar?" Leeteuk menundukkan badannya. Membuat posisinya sejajar dengan Kyuhyun.
"Dia membuat Minnie teljatuh dan menangis!" seru Kyuhyun tidak terima. Leeteuk yang terkejut hanya menaikkan kedua alisnya.
"Kyunnie malah cama olang-olang yang membuat Minnie menangis! Meleka bukan teman Kyunnie!" Kyuhyun yang kesal kembali mengerucutkan bibirnya. Bahkan kali ini ia juga melipat kedua lengannya di depan dada.
"Kyunnie tidak boleh seperti itu… Kyunnie harus berteman dengan siapa saja, ne?" Leeteuk kembali berdiri. Menngangkat Kyuhyun ke gendongannya dan mendudukkan diri di samping Kangin.
"Ahjumma… Tiga hali lagi ada pekan hali Appa… Kyunnie cama ciapa, dong?" Tanya Kyuhyun yang membuat KangTeuk saling berpandangan.
"Dengan Appa Kyunnie" jawab Leeteuk kemudian. Kangin melebarkan mata tak percaya.
"Jinjja? Appa Kyunnie akan datang?" sorot mata Kyuhyun kembali ceria.
Kangin hanya menatap tak percaya pada Leeteuk. Leeteuk hanya mengedikkan bahu.
XoOoX
"Hyung… Aku hamil" ujar seorang namja -yang duduk di kursi penumpang bagian depan sebuah mobil sport putih- pada namja brunette yang masih focus menyetir.
"Hyung?" panggil namja tadi karena merasa tak mendapat balasan.
"Hn?"
"Aku hamil!"
"Lalu?" Tanya namja brunette itu dengan santai. Mata sipitnya tak sedikitpun memandang atau bahkan menoleh pada sosok yang kini mulai berkaca-kaca.
"Hiks… Kenapa hyung terkesan acuh? Apa hyung tak mau bertanggung jawab?!" namja itu mulai terisak.
"Kenapa menangis?" ujar namja brunette itu setelah berhenti dan menepikan mobil. Namja mungil itu tak menyahut. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hiks" isakkannya begitu pilu.
"Kenapa menangis, Wookie?"
"DIAM! Aku benci hyung! Hiks…" Wookie membuka telapaknya dan memandang garang pada sang kekasih yang masih menunjukkan ekspresi datar.
"Ka-"
Jglek
Wookie membuka pintu mobil itu dan segera berlari keluar setelah melepas seatbelt-nya. Yesung yang melihat itu tak tinggal diam. Dia berlari keluar menyusul Wookie.
"Wookie? Kau mau kemana?" tak perlu berteriak karna sekarang Yesung sudah berjalan di samping Wookie. Wookie tak menggubrisnya. Dia masih berjalan cepat dan menangis.
"Wookie, dengarkan hyung!" Yesung berhasil menghentikan Wookie. Diputarnya pelan bahu Wookie sehingga namja itu berhadapan langsung dengannya.
"Wookie…"
"…" Wookie masih saja menundukkan kepala. Tak terdengar sepatah katapun dari bibir mungil itu. Yang terdengar hanyalah isakan lirih.
"Wookie… Kenapa menangis?" Tanya Yesung sambil mengangkat dagu Wookie agar menatap wajahnya.
"Hyung tidak mau mengakui ja-hmpp" Wookie membekap mulutnya sendiri. Rasanya mual sekali. Perutnya seperti diaduk. Ia segera berlari meninggalkan Yesung untuk sekedar mencari toilet umum terdekat. Yesung yang tahu keadaan Wookie, segera berlari menyusulnya.
…
"Wookie, gwaenchanayo?" Tanya Yesung khawatir saat melihat wajah Wookie yang semakin pucat. Ia segera memapah Wookie keluar toilet. Masa bodoh dengan pandangan orang-orang sekitar.
"Wook-"
Brugh
Tubuh Wookie ambruk jika saja tak ada Yesung yang memapahnya. Dengan cekatan, Yesung menggendong tubuh Wookie ke dalam mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.
Flash Back End
XoOoX
"Henry, mau ke mana?" Tanya Bummie saat melihat putra sulungnya itu turun dari tangga dengan setelan baju yang rapi namun masih terkesan bergaya.
"Eom-ma, Appa sudah pulang?" Tanya Henry balik.
"Eomma Tanya, kau mau ke mana?" Tanya Bummie sekali lagi.
"Eh, anu… Itu, Eomma… Aku err…" Henry menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Anu apa? Itu apa? Kau ini kenap-ooohh… Kau akan berkencan dengan Mimi ge yaaaa?" Tanya Bummie dengan nada sedikit menggoda.
"Eh, darimana Eomma tahu?"
"Eoh? Jadi tebakan Eomma benar ya?"
"E-eoh? Bu-bukan begitu-aish…" Henry merutuki kebodohannya sendiri.
"Yasudah, sana! Palli!" usir Bummie dengan sopan. Henry hanya sweat drop dibuatnya, tapi dia pergi juga.
"Wae, Bummie?" Tanya Siwon yang tiba-tiba muncul dan langsung memeluk pinggang Bummie dari belakang.
"Henry akan berkencan dengan Zhoumi" jawab Bummie sebelum akhirnya membalik posisinya menjadi berhadapan dengan Siwon.
"Kencan? Hm… Henry sudah besar" ujar Siwon lalu tersenyum kepada Bummie yang juga tersenyum padanya.
Dengan perlahan Siwon mendekatkan wajahnya dengan wajah Bummie. Mencoba menghapus jarak antara mereka. Napas hangat mereka saling menerpa wajah satu sama lain. Kedua belah bibir itu bertemu. Siwon bergerak melumat dengan pelan. Amat lembut. Merasakan betapa manisnya bibir ranum yang seakan candu baginya. Seakan manis itu tak akan pernah habis. Posisi mereka begitu pas. Tangan Bummie yang semula diam, bergerak mengalungi leher Siwon.
"Emmhh" satu lenguhan keluar dari bibir Bummie. Membuat Siwon semakin gencar menyapu sudut bibir Bummie dengan lidahnya dan bergerak turun menuju pipi, rahang dan leher Bummie.
Lidah nakal Siwon bergerak semakin lihai. Ia ciumi leher putih bersih nan mengkilat –karna saliva- Bummie sebelum kembali menjilatnya. Menggigit kecil spot itu dan menghisapnya kuat. Menciptakan bercak merah keunguan di sana.
"Eottokhae?" Tanya Siwon sembari mengeluarkan seringaiannya. Bummie diam tak menjawab. Metanya menatap sayu wajah Siwon yang masih menyeringai.
"Aigoo… Kau ini seksi sekali, Bummie…"
"Ini belum apa-apa, chagi. Kita lanjutkan sampai besok, ne?" tanpa menunggu jawaban dari Bummie, Siwon langsung mengangkat tubuh Bummie, menggendongnya ala bridal style menuju kamar mereka.
XoOoX
Dua namja itu masih saja berdiam diri. Padahal mereka sudah hampir tiga puluh menit berada di café ini. Namja imut itu masih mengaduk-aduk melon juice-nya sambil mengamati sekitar. Menutupi rasa canggung.
"E'hem" suara deheman keduanya terdengar bersamaan. Keduanya saling menatap, lalu mati-matian menahan senyum atau bahkan tawa yang siap meledak.
"Kau-" lagi. Suara mereka terdengar bersamaan. Tapi kali ini mereka saling berbagi tawa.
"Haha, kau dulu" ucap namja bersurai kemerahan yang tentu saja kita tahu siapa dia. Zhoumi.
"Kau saja" perintah si Mochi.
"Aish… Mochi" Zhoumi mendelik ke arah Henry.
"Mimi ge..."
"Eh? Kau panggil aku apa?"
"Mwo? Memang aku bilang apa?"
"Mimi ge. Aish… Tak apalah. Oh, ada yang ingin aku katakan" ucap Zhoumi serius.
"Wae? Sepertinya serius sekali?" Henry mulai terlihat antusias. Zhoumi yang melihat ekspresi Henry jadi tertawa sendiri.
"Kenapa malah tertawa?" Tanya Henry ketus dan menatap sebal kepada Zhoumi.
"Kau ini… Jinjja…" berkali-kali Zhoumi mengambil napas untuk menahan tawanya.
"Mochi, aku ingin kau…" Henry menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan Zhoumi yang masih menggantung. Zhoumi mengambil napas sekali lagi. Kali ini untuk membuang rasa gugupnya.
"Mochi, sa-"
"Zhou Oppa!" pekik seorang yeoja dari belakang Zhoumi. Henry hanya memutar bola matanya jengah. Yeoja ini… Selalu saja mengacau!
"Seo? Sedang apa di sini?" Tanya Zhoumi kemudian menggeser duduknya untuk tempat duduk Seohyun.
"Nae Appa adalah pemilik café ini, Oppa…" jawab Seohyun riang.
"Dan aku tak menyangka Oppa akan ke sini" lanjutnya tanpa menghiraukan adanya orang lain di sana. Henry yang merasa diaucuhkan hanya bisa cemberut dan mencibir dalam hati.
"Apa yang kau lakukan di sini, Oppa?" Tanya Seohyun yang masih saja mengacuhkan keberadaan Henry.
'Kami sedang berkencan. Apa kau tak lihat? Mwo? Kencan?!' batin Henry kesal.
"Aku hanya mengobrol dengan temanku" jawab Zhoumi sambil tersenyum seramah mungkin.
'Teman? Ya! Aish… Lalu kau ingin dia menganggapmu apa, Henry? Kekasih? Jangan bodoh!' Henry merutuki pikirannya sendiri.
"Seo, ini Henry. Dan Henry, ini Seohyun" ujar Zhoumi memperkenalkan Henry dengan Seohyun.
'Memangnya aku tanya?' batin Henry.
"Oh, annyeonghaseyo… Seo Joo Hyun imnida, panggil saja aku Seohyun. Bangapsemnida"
'Sudah kenal, ppabo!' cibir Henry dalam hati.
"Choi Henry imnida. Kau bisa memanggilku Henry" jawab Henry yang terkesan ogah-ogahan.
"Wah… Oppa… Kau ini imut sekali!"
'Heh, memangnya aku menyuruhmu memanggilku 'Oppa'?'
"Gomawo" jawab Henry sambil berusaha tersenyum.
"Oppa, kenapa diam saja?" Tanya Seohyun pada Zhoumi yang masih terdiam.
"An-"
"Ah, Oppa, bagaimana kalau Zhou Oppa dan Henry Oppa menyanyi di stage yang ada di sana?" ujar Seohyun. Jarinya menunjuk sebuah panggung kecil, tempat biasa untuk penyanyi café-nya.
"Tap-"
"Kajja, Oppa!" belum sempat Zhoumi dan Henry menjawab, Seohyun sudah menarik tangan mereka menuju stage.
…
"Yeorobun!" Seohyun menggunakan mic untuk berbicara, sehingga menarik perhatian semua pengunjung.
"Malam ini ada dua tamu special yang akan menyumbangkan suaranya untuk menghibur kita" kata Seohyun sambil tersenyum kepada pengunjung.
'Memangnya aku sudah bilang bersedia?' batin Zhoumi dan Henry.
"Zhoumi dan Henry…" dan setelahnya, café yang memang tak terlalu luas itu dipenuhi riuh tepuk tangan pengunjung. Zhoumi dan Henry sendiri hanya bisa cengo di atas panggung saat Seohyun sudah turun.
Suara dentingan piano itu mulai terdengar. Zhoumi dan Henry masih mencoba mencerna apa maksud ini semua.
Oneuldo nae gieo geul ttarahae maeda
(Today, I wander in my memory)
Henry terkesiap. Suara Zhoumi mengundang perhatian dari seluruh pengunjung malam itu, tak terkecuali Henry.
Igil kkeuteseo seong – seongi neun na (I'm passing around on the end of this way)
Kali ini Henry beralih menatap pengunjung yang entah sejak kapan sudah berkerumun di depan stage.
Dasin bolsudo eomneun niga nareul but jaba . Naneun tto igireul mut neunda (You're still holding me tightly, even though I can't see you any more. I'm losing my way again) Henry melanjutkannya.
Neol bogosip dago. Tto angosip dago (I'm praying to the sky I want see you and hold you more) suara mereka terdengar bersamaan.
Jeoha neul bomyeo gido haneun nal (That I want to see you and hold you more)
Niga animyeon andwae (It can't be if it's not you)
Neo eobsinnan andwae (I can't be without you)
Na ireoke haru han dareul tto illyeo neul (It's okay if I'm hurt for a day and a year like this)
Naapa do joha (It's fine)
Naemam dachyeodo joha nan (Even if my heart's hurt)
Geurae nan neo hanaman sarang hanikka (Yes, because I'm just love with you)
XoOoX
"Aish… Kemana anak itu?" namja cantik ini masih saja berjalan mondar-mandir di depan pinut rumahnya yang tertutup rapat.
"Kau kenapa, Chullie?" Tanya namja lain yang langsung memeluk namja cantik itu –Heechul- dari belakang.
"Zhoumi kemana sih? Ini kan sudah malam! Kenapa tak pulang-pulang?" Tanya Heechul frustasi.
"Tumben sekali kau mengkhawatirkan Zhoumi?" goda Hangeng yang membuat Heechul semakin kesal.
"Apa aku tak boleh mengkhawatirkannya? Dia satu-satunya yang kita punya!" kata Heechul ketus. Hangeng yang mendengarnya hanya terkekeh geli.
"Aih… Arraseo…" ujar Hangeng sembari menumpukan dagunya di bahu kanan Heechul.
"Chullie… Bagaimana kalau kita buat yang kedua?" Tanya Hangeng. Heechul hanya menautkan alis tak mengerti.
"Bicaralah dengan jelas, Hannie!" perintah Heechul yang dihadiahi dengan kecupan di tengkuknya.
"Aku ingin Hanchul" jelas Hangeng dengan masih mengecupi tengkuk Heechul.
"Nugu?" Tanya Heechul yang masih saja dibingungkan oleh kata-kata Hangeng.
"Adik Zhoumi" Heechul hanya bisa menganga mendengar penuturan Hangeng.
"Apa maksud-ya! Turunkan ak-"
Brugh
"Akh!" rintih Heechul setelah Hangeng dengan seenaknya menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tengah yang cukup lebar.
"Hannie…" Heechul hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah saat Hangeng dengan perlahan berjalan mendekatinya dan membuka kancing piyama yang ia kenakan.
"Hannie… Bagaimana kalau nanti Zhoumi pulang dan…"
"Dan apa, chagiya?"
"Hannie… Ini i-ini kan ruammphh" terlambat. Hangeng seolah tak tahu tempat. Ia segera menyambar bibir Heechul dan melumatnya dengan ganas. Tak tanggung-tanggung, jemarinya sudah bergerak melepasi satu-persatu kancing piyama Heechul.
XoOoX
Siang ini di SM University ada pengumuman yang mengejutkan. Ya, mengejutkan tentu saja. Seorang Kim Yesung -senior yang paling disegani sekaligus ketua club music SM- mengumumkan bahwa dia telah menikah dengan seorang namja, yang tak lain dan tak bukan adalah Kim Ryeowook.
'Aish… Aku harus bicara dengan Yesung hyung!' batin Wookie yang saat ini berjalan dengan cepat menuju ruang club music.
"Eoh? Itu Kim Ryeowook? Yang katanya istri Yesung sunbae? Wah… Dia manis juga!" kata seorang namja kepada namja lain yang tak sengaja berpapasan dengan Wookie di koridor.
'Aish…' geram Wookie dalam hati.
"Kim Ryeowook… Sungguh tak pantas jika harus bersanding dengan Yesung Oppa!" cibir seorang yeoja berpakaian minim saat melihat Wookie lewat di depannya. Wookie yang mendengar itu, mau tak mau menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiri yeoja itu.
"Apa masalahmu, nona Jung?" Tanya Wookie saat ia telah berhadapan dengan yeoja Jung itu.
"Masalahku? Aku tak punya masalah, tapi kau yang akan menghadapi masalah!" jawabnya dengan santai sambil melipat lengannya di depan dada.
"Apa maksudmu, Ssica?" Wookie mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mencoba meredam emosinya.
"Lihat saja nanti, Ryeowook-ssi" ujar Jessica lalu pergi meninggalkan Ryeowook yang masih menatap heran ke arahnya.
"Jinjja… Apa yang akan dilakukan saver Yesung hyung padaku nantinya?" Wookie bertanya-tanya penuh dengan rasa takut dan khawatir pada dirinya sendiri. Tapi ia tak ambil pusing. Toh tujuannya saat ini adalah menemui Yesung. Ia membalikkan tubuhnya dan saat yang bersamaan-
"Dor!"
"Eh-hwaa!" pekik Wookie karena tiba-tiba dikejutkan oleh Yesung yang sudah berdiri di belakangnya sejak kepergian Jessica tadi.
"Eoh, chagiya, kau kenapa?" Tanya Yesung dengan tampang bodohnya. (#digampar) Wookie hanya sweat drop mendengar pertanyaan Yesung.
"Sudahlah, itu tak penting" jawab Wookie kemudian.
"Oh ya, apa maksud hyung mengumumkan status kita?" Tanya Wookie mengintimidasi Yesung.
"Mwo? Bukannya kau sudah setuju?" Yesung balik bertanya.
"Tapi tidak perlu di seperti tadi juga, 'kan? Untuk apa sampai membuat panggung dari kursi, di tengah lapangan basket, mengumpulkan banyak orang, dan memakai toa!" omel Wookie.
"Waeyo? Lalu harus bagaimana, eoh?" Tanya Yesung tak mengerti. Wookie hanya menghela napas lelah, kemudian berjalan meninggalkan Yesung yang masih memasang tampang bodoh.
"Wookie, chakkaman!" teriak Yesung dan segera berlari menyusul Wookie.
…
"Waeyo? Kenapa lesu begitu, eoh? Arra, arra… Aku salah, mianhae…" kata Yesung yang menyadari mimic wajah Wookie yang terlihat suram. Mereka sedang duduk di bangku taman belakang.
"Hyung… Aku ingin bertemu Kyuhyun…" lirih Wookie dengan suara sedikit bergetar.
"Kalau begitu kita cari Kim songsaengnim saja" saran Yesung.
"Bukan Cho Kyuhyun, tapi Kim Kyuhyun…" bahu Wookie bergetar. Menandakan namja ini tengah menangis. Tak ada isakan yang terdengar. Wookie menangis dalam diam. Dan Yesung paham betul bagaimana perasaan Wookie saat ini. Ia merengkuh tibuh Wookie dan menciumi puncak kepalanya.
"Aku ingin bertemu Kim Kyuhyun…"
XoOoX
"Hyukkie, apa kau sibuk?" Tanya Seorang yeoja melalui sambungan telepon.
'Umm… Sebenarnya aku sedang keluar bersama Hae. Waeyo?' jawab Eunhyuk jujur.
"Apa kau bisa kemari? Aku sangat membutuhkanmu…" ucap yeoja itu memelas.
'Hm… Tak biasanya. Tapi baiklah aku akan ke sana sekarang'
Klik
Yeoja itu –Lee Sora- menutup sambungan teleponnya. Menelungkupkan kepalanya di atas meja. Terlihat sangat suntuk dan lelah.
…
"Seungri, habiskan makananmu dulu…" seorang yeoja paruh baya sedang berlarian mengejar namja cilik yang masih saja tak mau menghabiskan makanannya. Sedangkan yeoja lain yang masih muda, tersenyum melihat tingkah menggemaskan Seungri –namja cilik tadi-.
"Sudahlah, Eomma… Mungkin dia kenyang" kata yeoja muda tadi sambil berjalan menuju sofa.
"Sora, kau meninggalkan Hyukkie lagi?" Tanya yeoja paruh baya itu pada anaknya.
"Eomma seperti tak tahu saja… Ini 'kan jadwal Hae main ke rumah. Aku tak mau menjadi obat nyamuk!" gurau Sora yang tak mengalihkan pandangan dari layar televise 21 inch itu.
"Kau in-"
-ting tong… Ting tong
"Malam-malam seperti ini… Siapa yang akan bertamu?" Tanya Sora heran.
"Kau bukalah pintunya. Eomma akan membereskan meja makan dulu" Sora segera beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu.
Cklek
Sreeett
Aneh sekali rasanya. Saat Sora akan membuka pintu, pintu itu terasa mendorong sesuatu yang berat.
"Ommona! Eomma!" teriak Sora yang melihat bayi merah yang tertidur pulas di atas keranjang bayi.
Tolong…
Tolong jaga bayi ini. Suatu saat aku akan mengambilnya. –Kyuhyun Kim- Kamsahamnida...
"Sora?"
…
"Arrgh…" Sora terbangun dari tidur singkatnya.
"Apa mungkin bayi itu? Aish… Kenapa Hyukkie belum datang juga?" monolog Sora.
"Ya, Noona! Aku sudah menekan bel dari tadi, ternyata kau tertidur? Dasar!" gerutu Eunhyuk yang sudah duduk di kursi depan meja kerja Sora.
"Jangan marah-marah begitu, Hyukkie… Noona, ada apa menyuruh kami kemari?" Tanya Donghae dengan sopan dan mendudukkan diri di samping Eunhyuk.
"Aku ingin kalian mencari seorang anak bernama Kyuhyun. Dia namja dan umurnya sekitar 3 tahun" jelas Sora to the point. Donghae dan Eunhyuk saling pandang.
"Kyuhyun?" kata keduanya bersamaan.
"Ne, Kyuhyun. Ini alamat pengadopsinya" jawab Sora sembari menyerahkan secarik kertas berisikan alamat pengadopsi Kyuhyun.
'Kyuhyun? Apa anak yang waktu itu? Tapi nama Kyuhyun banyak, 'kan? Kyuhyun bukannya anak dari Yesung-ssi dan Wookie-ssi?' Donghae dan Eunhyuk hanya bertanya-tanya dalam hati.
To Be Continue
R
I
V
I
E
.
P
L
E
A
S
E
^^Gomawo^^
*hug and kiss*
