Yo ho..ho.. Minna..
Terima kasih semuanya yang sudah merelakan waktunya untuk melirik fict ini. Jujur nih aku ga nyangka bakalan ada yang tertarik… sekali lagi aku ucapkanterima kasih,..
Yak, aku akan berusaha membuat cerita ini semenarik mungkin, dan jika ga menarik minta maaf…
Nah… silahkan di lanjut…
…
…
…
Pertengahan musim gugur. Angin yang semakin sering berhembus kencang membuat udara semakin dingin. Hembusan yang cukup kencang menabrak ranting-ranting pohon membuat suara berderik, belum lagi daun-daun Maple berwarna merah yang melayang-layang di udara lalu jatuh ke tanah semakin mendramatisir suasana baik itu siang maupun malam hari.
Gadis bersurai pink itu semakin merapatkan sweater merah yang melekat di tubuhnya, memperhatikan lingkungan sekitar tempat tinggal barunya dari balkon kamarnya yang menghadap kearah jalanan, suasana sepi dan tenang yang tak jauh beda dari kota kecil tempat tinggalnya dulu ,meskipun saat ini dia berada di Tokyo-ibukota Jepang. Sakura menghela nafas panjang, dengan berat hati dia meninggalkan balkon kamarnya dan menuju kamarnya bergabung dengan dua sahabatnya yang sedang duduk santai di kotatsu.
Ahh.. soal tempat tinggal, mereka bertiga memilih tinggal gratis di salah satu kerabat Sakura yang kebetulan juga salah satu dari guru di Konoha leaf.
"Sial, aa..aaa.. aku menyerah." Naruto menjatuhkan kepalanya di atas meja sambil berteriak frustasi. "Kakashi-sensei benar-benar kurang kerjaan, kenapa memberikan soal sebanyak ini, semuanya sulit-sulit."
Yamanaka Ino hanya memutar mata bosan, sudah ketiga kalinya Naruto berteriak-teriak di depannya. "Jangan teriak, orang di bawah bisa dengar. Lagian aku heran, bagaimana bisa kau yang otaknya pas-pas'an masuk kelas unggulan, sedangkan aku yang lebih pintar darimu masuk di kelas lain."
"Aaaaaa…. Apa maksudmu pas-pas'an? Aku lebih pintar darimu." Jawab Naruto penuh emosi sambil menunjuk-nunjuk ke muka Ino. Sakura memutar mata bosan, mulai lagi pertengkaran konyol duo kuning-pirang.
"Ish, buktinya menjawab empat soal saja tidak bisa."
"K-kau. Coba kau kerjakan soal-soal ini."
Naruto dengan semangat meletakkan buku soalnya di atas buku pelajaran Ino, dengan santainya nona Yamanaka melihat soal matematika milik Naruto dan dengan gerakan cepat meraih pensil serta kertas kosong di atas meja dan mulai focus mengerjakan. Sakura hanya mendesah melihat dua rekannya terlibat pembicaraan atau pertengkaran—yang menurutnya tidak penting itu—hanya bisa diam, soal yang menurut Naruto sulit itu ternyata di kerjakannya hanya dalam waktu lima belas menit, dan apa maksudnya banyak, soalnya hanya empat buah saja. Rasanya ingin sekali Sakura menggetok kepala kuning Naruto tapi di urungkannya, dia sedikit penasaran dengan reaksi Ino yang sok bisa mengerjakan itu.
...
...
一緒
...
...
5 menit .
..
15 menit.
…
3o menit.
….
Sakura mendengus geli melihat Ino dan kembali focus membaca buku tebal di tangannya, bukannya meremehkan si nona Yamanaka, tapikan kepintaran Ino itukan-
"He..he.. ternyata sulit juga ya."
-sama Pas-pas'an nya.
Naruto dengan senyum bangganya mulai meledek Ino yang hanya menyengir lebar. "Dasar tukang gossip, bisanya cuma omong besar."
"Apa katamu!"
BRAAAKKK..
"Bisakah kalian diam, aku sedang belajar." Sakura tetap fokus pada buku tebal di tangannya, setelah menggebrak meja yang membuat dua temannya terdiam.
Naruto dan Ino hanya bisa bergumam pelan sambil melirik gadis musim semi itu, mereka takut menghadapi Sakura yang kadang berlebihan kalau sedang emosi, bisa-bisa Sakura melempar ranjang miliknya pada mereka berdua.
Ino kembali focus pada buku pelajarannya sambil melirik diam-diam kearah Sakura, karena di lihat gadis Haruno tetap diam sambil membaca dan sama sekali tidak menunjukkan peningkatan Emosi, Ino akhirnya sedikit mengajak ngobrol.
"Hm..Sakura."
"Hn."
"Ini sudah empat hari di sekolah itu dan mereka belum melakukan apapun."
"Hn.''
"Sakura, kita harus bagaimana?"
Sakura menghentikan membacanya dan mendongak menatap Ino yang sedang manatapnya bingung. "Ikuti saja permainan mereka dan bertingkah senormal mungkin." Sakura menjawab ogah-ogahan.
"Ehh.. kenapa Sakura-chan?" Naruto yang diam-diam mendengarkan pembicaraan Ino, ikut protes dengan kata-kata Sakura.
"Kalian tak pernah mendengar nasehat para orang tua dulu." Sakura menatap datar dua temannya yang menggeleng bersamaan.
"Sudahlah, pokoknya kita diam saja dan jangan melawan." Ino yang awalnya ingin protes saat mendengar kata-kata Sakura tapi diurungkan niatnya saat melihat mata hijau Sakura yang tampak tegas.
"Ha'i." Ino dan Naruto menjawab kompak.
Mereka bertiga kembali dengan acara belajarnya, yang masih di selingi pertengkaran Naruto-Ino.
…
…
ISSHO一緒
Disclamer © Masashi Kishimoto
Warning : typo, gajee, AU, dan lain sebagainya
…
…
…
Gadis cantik bersurai indigo itu melangkah anggun menyusuri koridor sekolah yang lumayan ramai dan berjalan menuju kelasnya. Wajahnya tetap datar memandang ke depan, semua sapaan dari murid-murid lain yang kebetulan bertemu di koridor pun, sama sekali tak di tanggapinya, dalam benak gadis cantik itu hanya secepatnya sampai di kelas. Dengan langkah semakin cepat gadis itu menuju kelasnya dan andai semua lebih meneliti lagi raut wajah gadis Hyuuga itu, wajah datarnya berubah tegang dan cemas entah karena apa, seperti ketakutan.
Sesampai di kelas Hinata mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kelas dan menemukan sekelompok gadis-gadis di pojokkan belakang yang sejenak menoleh ke arahnya tapi kemudian kembali focus pada kelompoknya,sepertinya membicarakan sesuatu. Hinata tak mempedulikannya dan bergegas menuju ke bangkunya, meski dia membatin heran, tak biasanya mereka datang pagi-pagi dan bergerombol seperti itu.
''Jadi kapan kita laksanakan.''
Hinata terdiam mendengarkan gadis-gadis itu bicara, entah kenapa dia merasa ingin tahu pembicaraan mereka dan melirik kearah gerombolan itu.
"Kita mulai istirahat siang ini."
"Baguslah aku tidak sabar pada si pink itu, seenaknya duduk di tempat special."
Tubuh Hinata menegang, entah siapa yang berbicara itu , sepertinya pembicaraan mereka seperti mengandung sesuatu dan dia yakin ini ada hubungannya dengan murid pertukaran yang kemarin datang, mengingat salah satu dari mereka menyebut 'si pink' dan hanya satu orang yang punya rambut pink di sekolah ini.
Hinata meremas rok miliknya, kedua telapak tangannya berkeringat, kedua mata peraknya mendongak kearah pintu saat mendengar seseorang –ah-dua orang melangkah memasuki kelas. Pink dan kuning, Hinata menggigit bibir bawahnya, tubuhnya bergetar ketakutan, ya.. dia sangat mengerti dengan 'tempat special' itu, dan gadis pink itu dalam bahaya tapi haruskah dia menolongnya.
…
…
一緒
…
...
Uzumaki Naruto memasuki sekolahnya dengan semangat yang berlebihan menyapa murid-murid yang di temuainya di loker dan sepanjang koridor meski tak mendapat sapaan balik dari mereka, Naruto tetap senyum cerahnya. Sedangkan dua temannya yang berjalan di belakangnya hanya menatap bosan, sesekali merapatkan blazer mereka menghalau udara dingin.
"Sampai jumpa istirahat nanti, Sakura dan kau, Naruto-baka." Ino bergegas pergi ke kelasnya dan di balas anggukan Sakura serta lambaian penuh semangat dari Naruto tentu saja sambil menggerutu..
"Sakura-chan, kenapa kau lesu begitu?"
"Tidak-." Sakura memutar mata bosan melihat Naruto yang masih menyapa murid lain yang lewat di depannya, meski di alas decihan sinis dari mereka. "Dan bisakah kau hentikan tingkah konyolmu itu ,Naruto."
"Kenapa? Bukannya kau yang bilang bertingkah senormal mungkin." Naruto memasang wajah polos di depan Sakura.
"Ya..ya.. terserah kaulah."
Sakura membuka pintu kelas dan di ikuti Naruto di belakangnya. Naruto melihat sekeliling, dan menemukan beberapa murid perempuan yang berkelompok di belakang sedang melihat ke arahnya dengan seringai kecil di bibirnya. Naruto berjalan kearah bangkunya dan menemukan Hinta-teman sebangkunya yang menatapnya gelisah sambil meremas rok lipitnya. Eh.. Naruto mengernyit heran, Ada apa?
"O-oha-you." Hinata tersenyum terpaksa ke arah Naruto yang sudah duduk di sebelahnya.
"Ohayou mo, Hinata-chan." Naruto memasang senyum cerahnya lagi.
Sakura mengernyit heran dari bangkunya saat mendengar Naruto dengan lantangnya memanggil Hinata dengan tambahan-chan. Dalam batin gadis pink itu sedikit bertanya sejak kapan mereka dekat, setahunya Hinata selalu berwajah datar dan sama sekali tak peduli pada Naruto.
Hinata semakin meremas kencang roknya, entah kenapa perasaan khawatir hinggap di hatinya. Hati nuraninya berkata agar dia mengatakan pada Naruto soal gerombolan di belakang itu, tapi otaknya mengatakan diam saja toh dia tak mengenal dua murid baru itu, Hinata menundukkan kepala mengambil keputusan apa yang akan di ambilnya, dan ternyata-. "A-ano Namikaze-san, bisakah kau-" Kata-kata Hinata terputus saat Naruto dengan suara kencang mengintrupsinya.
"Ish, Hinata-chan, bukannya sudah ku bilang panggil saja Naruto." Naruto tersenyum semakin lebar, tak biasanya gadis Hyuuga itu mengajaknya bicara apalagi sampai menyapa duluan.
"T-tapi-." Hinata mengutuk lidahnya Naruto yang selalu memotong kata-katanya.
"Aaa.. panggil aku NA-RU-TO."
"Haah.. baiklah, sekarang bolehkah aku bicara." Naruto mengangguk menatap kearah Hinata yang berwajah datar tapi gelisah ."Bisakah kau meminta Haruno-san agar pindah tempat duduk."
Naruto mengernyit heran. Kenapa gadis di depannya ini dengan tiba-tiba meminta Sakura untuk pindah tempat duduk. "Kenapa?"
"Karena itu tempat special." Hinata berbicara sedikit pelan waktu mengatakan 'tempat special'.
"Hmm... tempat special? Apa itu? Kenapa tak bicara pada Sakura langsung."
"Karena kau temannya."
"Kau juga bisa jadi temannya. Sakura-chan itu orangnya sangat baik dan ramah."
"Tidak, aku tidak bisa." Suara Hinata mendadak naik membuat sekitarnya memandang kearahnya, dan itu membuatnya sedikit salah tingkah.
"Kau kenapa sih?"
"Pokoknya beritahu pada Haruno-san." Hinata menghadap kearah depan, tak peduli pada Naruto yang kebingungan."Dan berhentilah mengajak aku bicara."
Naruto hanya terbengong, bukannya gadis ini yang mengajaknya bicara duluan tapi sekarang dia dimarahi karena mengajak gadis Hyuuga itu bicara, sebenarnya di sini siapa yang salah bicara?. Aneh, pasti ada sesuatu? Naruto bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke bangku Sakura yang sedang membaca buku, Haah.. sedikit mendesah melihat kelakuan Sakura yang tidak bosannya membaca padahal baru sampai di kelas, dasar.. kutu buku.
…
…
一緒
…
...
"Sakura-chan."
"Ada apa?" Sakura menatap Naruto yang berjalan kearahnya.
Naruto langsung duduk di sebelah Sakura yang masih kosong. "Teman sebangkumu lagi-lagi tidak masuk."
"Sepertinya begitu. Ada apa?"
"Ini soal Hinata-chan. Dia mengatakan sesuatu yang aneh." Naruto menggaruk kepalanya kikuk, sampai sekarang dia tak mengerti maksud dari kata-kata Hinata.
"Sejak kapan kau akrab dengan Hyuuga."
"Kenapa? Aku juga ingin sedikit akrab dengan salah satu di antara mereka. Ahh.. aku ingin cerita sesuatu."
"Hn."
"Hinata-chan bilang kau harus pindah dari tempat ini, karena bangku ini-." Naruto menunjuk meja di depan Sakura. "Tempat special."
"Tempat special? Apa maksudmu?" Sakura mengerutkan kedua alisnya membuat kacamata yang di kenakannya sedikit turun.
"Entahlah. Itu yang dia katakan."
"Aneh."
Sakura menutup bukunya dan terdiam mengerahkan otaknya untuk berpikir. Apa maksudnya dengan tempat special? Apa bangku ini sudah di tempati, sepertinya tidak karena Kakashi-sensei menyuruhnya menempati bangku ini. Atau dulu ada murid yang mati bunuh diri di bangku ini, dan arwahnya selalu menghantui orang yang duduk dibangku ini, memikirkan itu membuat kulitnya merinding, karena dia takut yang namanya arwah dan itu bisa jadi itu alasannya tapi sedikit mustahil.
Atau teman sebangkunya ini, yang membuat bangku yang dia tempati jadi istimewa—itu bisa jadi. Tapi siapa yang duduk di sebelahnya?
Naruto sedikit heran dengan tingkah Sakura yang tadi kelihatan berpikir dan kini menoleh kearah meja yang di duduknya dengan wajah yang menyiratkan sesuatu.
"Naruto, apa kau tahu siapa yang duduk di sebelahku?"
Naruto hanya menggeleng."Mana aku tahu, bukannya aku juga murid baru sama denganmu.'
"Hn. Bisakah kau tanya pada Hyuuga-san."
"Kenapa tidak tanya pamanmu."
"Itu merepotkan."
"Itu sama saja senganku, kau tahu kan gadis itu sedikit sulit di ajak bicara." Naruto sedikit protes.
"Coba saja."
Naruto hanya bisa menerima permintaan atau perintah dari Sakura, dengan sedikit menggerutu dia berjalan kearah bangkunya kembali.
...
...
一緒
...
...
Yamanaka Ino memandang bosan sekelilingnya. Dia sudah duduk tenang di bangkunya tapi dia tak menemukan teman semejanya yang biasa berangkat duluan darinya. Ino mengedarkan pandangan ke seluruh kelas, dan lagi-lagi semua murid memandangnya sinis sambil memperlihatkan seringai kecil padanya. Ino hanya memutar mata bosan, blue ocean nya bergerak memandang pintu kelas yang tertutup dan berharap akan terbuka dan pemuda itu yang akan memasukinya. Konyol kenapa dia mengharapkan pemuda itu, apa karena pemuda itu seorang yang mau beramah tamah padanya di sekolah ini ,atau ada sesuatu yang sudah terjadi padanya. Ino menggelengkan kepalanya mengusir sesuatu hal yang barusan dia pikirkan , dan kegiatannya itu terhenti,saat telinganya mendengar suara pintu di buka, tiba-tiba Ino tersenyum manis saat melihat seorang murid laki-laki berambut hitam klimis dengan senyum yang terpatri di bibirnya melangkah kearahnya.
"Ohayou, Ino-chan."
"Ohayou mo, Sai-kun. Tumben berangkat telat."
"Aku bangun kesiangan." Sai duduk di sebelah Ino lalu mengeluarkan buku pelajaran pagi ini.
Ino tampak tersenyum malu-malu, melihat Shimura Sai yang tampak segar pagi ini membuat segaris merah timbul di pipi putihnya, sepertinya dia berhasil menemukan pria keren di sekolah ini.
"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu." Sai menoleh kearah Ino yang tampak tersenyum kearahnya
"Y-ya. Ada apa?" Ino langsung salah tingkah saat ketahuan melihat Sai, pipinya semakin bersemu merah, malu.
Sai hanya tersenyum balik sambil mngacak poni menjuntai milik Ino. "Dasar. Itu pertanyaanku kan. Ada apa kau mlihatku seperti itu,hm?"
Ino semakin salah tingkah, mana mungkin kan dia mengaku memperhatikan pemuda di sampingnya itu karena tertarik, bisa-bisa dia di anggap aneh oleh Sai. Ino merapikan poninya sambil berpikir mencari alasan untuk di katakan pada Sai. Ah.. ketemu.
"A-ano Sai-kun, kenapa murid-murid melihatku seperti itu."
Sai mengikuti pandangan Ino yang melihat segerombol murid-murid perempuan yang melihat tidak suka kearahnya dan gadis pirang di sebelahnya. Sai memandang tajam ke arah murid-murid itu, gerombolan itu pun bubar ke tempat duduknya masing-masing, Ino yang melihatnya hanya heran.
"Biarkan saja. Mungkin mereka hanya iri pada kecantikan Ino-chan."
"Ahh.. kau pintar sekali menggoda ya."
"Tidak. Ino-chan memang cantik kok." Ino semakin salah tingkah, jemarinya menyisir poninya sambil malu-malu, wajahnya semakin memerah.
"Hmm. Lalu soal rumor murid pertukaran yang di bully itu, apa benar?"
"Entahlah."
Bersamaan jawaban Sai, suara bel masuk berbunyi, Ino yang ingin bertanya lebih lanjut terpaksa harus meredam pertanyaannya. Jawaban dari pemuda di sebelahnya tampak ambigu, 'entahlah' benar-benar jawaban yang tidak masuk akal bagi Ino, sepertinya dia harus mencari info lebih banyak lagi. Ino hanya mendengus pelan dan terpaksa mengikuti pelajaran yang membosankan untuknya.
'Sepertinya harus benar-benar mengikuti permainan mereka, membosankan'
...
...
一緒
...
...
Jam istirahat siang berkumandang, murid-murid yang tersiksa dengan perlajaran pagi ini, bergegas merapikan bukunya dan sesegera mungkin keluar dari kelas menikmati jam istirahat yang bagi mereka seperti surga—tak terkecuali Naruto yang segera menyeret Sakura ke kantin dan secepatnya memesan ramen yang di inginkannya, Sakura hanya memutar mata bosan, sudah biasa melihat tingkah Naruto soal ramen.
Sakura segera menduduki meja kosong berbentuk persegi dengan kursi yang mengitari setiap sisinya di tengah ruangan dan menunggu pesanannya yang di bawa serta oleh Naruto, itupun karena dia di paksa menyebutkan pesanannya oleh Naruto. Pandangannya menjelajah kantin yang sudah di penuhi oleh murid-murid lain, Sakura dapat melihat beberapa murid perempuan di kelas juga menduduki salah satu meja di kantin tak jauh dari mejanya, dan masih sama gadis pirang teman sekelasnya melihatnya sinis seperti waktu pertama kali menginjakkan kaki di kelas ,dan gadis itu duduk bersandingan dengan seorang murid perempuan bersurai merah berkacamata yang juga memandang sinis kearahnya. Sakura mendengus, haah- sekolah ini benar-benar sangat membosankan.
"Maaf menunggu lama." Ino yang baru datang langsung duduk di depan Sakura.
"Sakura-jidat. Mana Naruto." Ino mengikuti jari telunjuk Sakura kearah kerumunan, terlihat Naruto yang mencoba keluar tampak kesusahan membawa nampan yang di atasnya ada mangkuk besar yang dia tahu pasti isinya ramen—makanan favorit Naruto dan pesanan lain yang di yakininya milik Sakura.
"Kau tak pesan sesuatu."
"Nanti saja." Ino menjawab sambil memperbaiki rambut kuncirannya.
Naruto berjalan kearah meja yang di tempati dua sahabatnya, dan segera menaruh nampannya.
"Itadakimasu." Dengan seyum lebar Naruto mengawali acara makannya dan segera membelah sumpit , dan menyumpit mie di mangkuknya dan mengarahkan ke mulutnya. "kwaliwan twidwak mwakwan."
Sakura hanya mendengus geli kemudian mulai memakan sandwich yang dia pesan.
...
...
一緒
...
...
Seorang bersurai merah panjang berjalan sempoyongan dengan nampan yang tampak penuh, dengan diam-diam dan langkah pelan dia berhenti di belakang Sakura, sementara dari arah belakang gadis merah itu seorang gadis lain bersurai merah pucat dengan tangan di rentangkan di depan dan sengaja mendorong punggung gadis merah itu. Bagai gerakan slow motion, nampan penuh yang di pegang gadis merah itu menyeruduk kepala Sakura dan semua isi nampan itu tumpah ke atas kepala pink Sakura serta berhamburan ke meja bahkan masuk kedalam mangkok ramen Naruto yang masih setengah.
Braakk... praang..
Sakura yang masih menguyah sandwich di mulutnya, merasakan sesuatu menubruk kepala bagian belakangnya membuatnya terhuyung ke depan lalu sesuatu yang basah menimpa rambut pinknya dan mengalir kedagu menuju seragamnya, bersamaan dengan itu kedua emerald Sakura terbelalak saat melihat benda beraneka ragam berjatuhan di depannya bahkan mendarat sempurna di mangkuk Naruto.
'Sudah di mulai ya' Batin Sakura sambil meringis merasakan nyeri di kepala belakangnya.
Naruto hanya melongo saat sesuatu seperti benda segitiga putih dengan corak hitam di salah satu sisi masuk ke dalam ramennya dan melumer jadi satu, Naruto mendongak untuk melihat apa yang terjadi saat mendengar sesuatu yang jatuh dan pecah , benda putih yang sama jatuh di mangkuknya berhamburan di meja, piring bekas yang berada di depan Sakura serta nampan serta gelas pecah di lantai. Dari semua itu hal yang membuatnya kaget penampilan Sakura yang menunduk dengan rambut dan seragam basah serta penuh dengan benda hijau seperti sayuran.
"M-maaf, aku tak sengaja."
Ino yang kaget dengan keadaan segera melihat pelaku di belakang Sakura. Gadis merah berkacamata dengan senyum kecil yang terlihat seperti seringai bagi Ino.
'akhirnya mereka ...haah.. hari teraniaya tiba'
...
...
...
to be continue
...
...
...
Hai.. hai...
Ha..ha.. ;-D ... tau ga aku sempat salah bikin summary.. maaf, aku terlalu was-was alias takut, dan lebih salahnya lagi, ternyata banyak typo di sini.. TIDAAAKKKKKK... maaf- aku ga tau kalau waktu itu ga baca fict ku sendiri.
Oh ya.. anggap aja... setting ceritanya ini di kota Tokyo... OKE... dan soal pairing aku salah lagi,pairing tu yang sebenarnya Sasusaku, Naruhina, Saino. maaf.. sekali lagi.{Salahnya banyak banget ya}
Dan chap depan di mulai NaruSakuIno di bully.. nih. lanjutin bacanya ya..Minna.
Waktunya balas review;
Eysha cherryblossom;
Ha..ha.. maap... aku emang salah waktu itu aku sedikit gugup, tapi langsung ku benerin kok. terima kasih repiew lagi.
Anita nuruifatma;
TYpo... banyak banget di chap kemarin. aku sempat schook baca sendiri.
terima kasih sudah di ingatkan.
Lala. yoichi 1;
Oke... di lanjut nih.
Yuka Namikaze;
Udah update nih, baca lagi ya.. trima kasih.
Akasaka Ryuunosuke;
Lanjuut.. oke.. silahkan.. di baca .
makasih. ;)
Icha;
Arigatou.. ini udah di lanjut..
semoga masih penasaran aja... ..;p
Fii-san;
Terima kasih.. silahkan di baca lagi...
repiew lagi.
Anka-chan;
yak.. ni udah.. silahkan di lanut..
repiew lagi ya.
Arufi Rizuki Yoshida;
Uwaah..a..oke... jangan sampai lupa.. kalo lupa aku tagih ni..#becanda.
update..udah nih.
Mina Jasmine;
Uwaah... SIIIPP... ikutin trus ya.. ;D
Mumpung liburan.. oke aku update langsung nih..
Salam kenal juga ..
amexki chan gak log;
yap.. yang kemarin anggap masih prolog juga boleh.
review ya. makasih
...
...
...
Dan akhir kata saya ucapkan...
Terima Kasih banyak.. teman-teman jangan lupa repie lagi.
...
...
...
KDR'4'7'14
...
...
