Hai….hai.. Minna,
Akhirnya aku bisa lanjut juga, maaf ya … yang udah nunggu lama fict ini, baru bisa lanjutin soalnya banyak banget halangan dan rintangan menerpa diriku ini (#hoeek#kumat). Oh.. ya teman-teman ada yang aku ralat lagi nih, chap kemarin tu banyak yang salah tulis semisal sekolah barunya si NaruSakuIno tuh, kemarin sampai chap 2 aku nulis KONOHA LEAF SCHOOL ya, sebenarnya yang bener tuh HIDDEN LEAF SCHOOL tapi ya udahlah nanggung di terusin aja.. Maaf-maaf ya…
Ya sudahlah.. semoga setelah ini lancar-lancar saja.
Silahkan di baca
…
…
Chapter; 3
…
…
Suara tawa terdengar menggema di ruangan persegi bercat cream itu, sangat berbanding dengan suasana luar yang menghening karena waktu memang memasuki jam malam. Tiga manusia berbeda gender dan surai yang ada di dalam ruangan itu sama sekali tak mempedulikan waktu yang merapat tengah malam, ketiganya terlihat masih sibuk dengan kegiatan masing-masing dengan ekspresi berbeda pula antara satu dengan yang lain, meski saat ini mereka duduk bersebelahan di karpet.
Mari kita lihat kegiatan mereka, si gadis pink-Sakura Haruno tampak berwajah serius dengan alis saling bertaut sedang menikmati novel bersampul merah miliknya, si pemuda kuning-Naruto Namikaze tampak menyengir dengan mata berbinar-binar menatap cup ramen instannya yang mengepul uap panas di meja depannya, sedangkan si pirang-Ino Yamanaka yang duduk di dekat Naruto hanya menatap bosan layar laptop di atas meja di depannya.
Tunggu , jika mereka berwajah seperti itu jadi siapa yang tertawa? Meski Naruto masih setia menyengir lebar tapi itu di lakukan tanpa suara. Mungkinkah hantu? Hantu kan suka muncul malam hari-katanya sih.
"Berhentilah tertawa. Kau membuatku muak." Ino mendengus kesal menatap lawan bicaranya di layar laptop yang sedang tertawa.
Yup.. mereka sedang melakukan SKYPE l(#namanya itu ya, coz author ga tau#) dengan seseorang di sana dan sama seperti kemarin, mereka bertiga berkumpul di kamar milik Sakura, dan ternyata suara tawa tadi berasal dari lawan bicara Ino, seorang gadis manis bercepol. Ino mengernyit sebal, setelah dengan gamblangnya dia bercerita soal insiden tadi siang di sekolah, si pendengar malah langsung tertawa tak berhenti.
"Maaf Ino. Aku hanya membayangkan saja, kalian di jahili." Gadis itu masih tertawa kecil, sedang Ino memutar mata bosan. "Apalagi Sakura yang jadi korban pertama. Mengerikan."
"Ya, mereka semua jerk. Andai saja waktu itu kau lihat, seberapa menyedihkannya penampilan Sakura." Ino melirik kearah Sakura dan di balasan decihan tak suka si gadis musim semi itu. "Dan lihatlah hasil karya mereka pada wajahku yang mulus." Ino mengangkat poni pirang menjuntainya dan terlihatlah sebuah lebam kebiruan di dahinya yang tertutup poni panjangnya.
Ino menggeram marah mengingat kejadian tadi siang di sekolah, setelah insiden Sakura yang terkena siraman makanan di kantin. Ino bermaksud membantu membersihkan seragam Sakura di toilet tapi belum sempat dia keluar dari kantin, seseorang dengan sengaja menjulurkan kakinya tepat saat dia melangkah, alhasil dia langsung oleng menubruk depan dan tepat jidatnya mengenai sudut meja. Sakura yang melihatnya mendelik kaget waktu melihat Ino tersungkur merintih kesakitan sambil memegang dahinya, dan bersamaan itu terdengar lengkingan tawa dari seluruh kantin, Naruto yang melihat kejadian itu bergegas membawa keduanya ke ruang kesehatan.
…
…
Mengingat kejadian itu, rasanya Ino ingin sekali menguliti seluruh siswa yang sudah menertawakannya, ini sebuah penghinaan untuknya dan Ino tidak akan membiarkannya meski bukan saat ini membalasnya, bukannya pembalasan lebih kejam daripada perbuatan.
"Ah. Sayang sekali wajah yang kau banggakan sudah ternoda. Aku turut berduka cita. Pig."
"Cih. Mereka harus terima akibatnya."
"Jadi dibalas?"
Ino menghela nafas panjang, sambil melirik kearah Sakura yang masih asyik dengan bukunya. "Tidak. Sakura melarangnya."
"Kenapa?" Gadis bercepol itu mengernyit heran, dan di jawab gedikkan bahu oleh Ino. "Ah ya Ino, apa kau sudah dapat incaran di sana?"
Ino tersenyum senang melupakan emosi sesaatnya tadi. "Tentu saja. Tenten"
Tenten si gadis bercepol yang merupakan teman sejak kecil dari trio NaruSakuIno, dan dia itu salah seorang murid Konoha Leaf Shcool yang jadi salah satu siswa rotasi tukar pelajar dan di tempatkan di sekolah lama trio NaruSakuIno—Niitsu High shcool. Dan selama ini Tenten yang memberi informasi tentang KLS kepada Ino termasuk tentang pembully'an itu.
Ino langsung bicara panjang lebar tentang seseorang di Konoha Leaf, incaran yang di maksud Tenten bukan musuh tapi-
"Siapa?"
" Orangnya tampan sekali, dia juga sangat sopan padaku, tidak seperti murid yang lain. Namanya Shimura Sai. Kau kenal?"
-cowok keren. Itulah incaran sebenarnya untuk Yamanaka Ino.
"Aaa. Aku kenal si muka tembok itu. Kau bercanda? Keren mananya? Dia itu menyebalkan.." Tenten tertawa kecil melihat tingkah Ino yang tadi tersenyum malu-malu tapi tak berapa lama kemudian berubah garang saat Tenten mengatakan 'muka tembok'.
"Apa maksudmu dengan muka tembok? Dan siapa yang kau maksud menyebalkan, haah?"
Tenten dengan segera mengalihkan pembicaraan kearah lain, mengenal Ino sejak dulu cukup membuatnya mengerti jika dia berdebat atau bahkan menghina cowok incaran Ino , akan berbuntut panjang.
"A-a . Di kelas Sakura juga ada cowok keren kan? Julukannya Prince charming of KLS. Sudah bertemu?."
"Hee, benarkah? Siapa? Sakura tidak cerita apapun. Namanya siapa?" Ino yang begitu mendengar kata 'prince charming' langsung kembali melupakan emosinya, Sakura meski dia fokus pada buku tapi juga mengikuti pembicaraan Tenten-Ino hanya bias menghela nafas , melihat Ino yang semangat mendengar kata cowok.
"Dia murid paling pintar di sekolah, sainganmu Sakura-chan. Namanya Sasuke U-." Perkataan Tenten terputus mendengar teriakan Naruto.
"Kenyaaaanggg." Naruto berteriak senang sambil mengelus perutnya yang membesar, kemudian ikut bergabung di depan laptop, Ino yang di geser secara paksa oleh Naruto hanya mendecih pelan. "Ah, Tenten, bagaimana di sana?"
Tenten, gadis bercepol itu tersenyum manis sambil mengacungkan jempol kanannya. ''Aman. Aku bisa mengendalikan yang di sini."
"Jika mereka macam-macam bilang saja padaku." Naruto tersenyum lebar, Ino yang ada di sampingnya hanya memutar mata bosan.
'Sok kuat' batin Ino bosan dan tak bertanya lagi tentang cowok keren pada Tenten, mungkin moodnya jadi buruk karena suara Naruto.
'Sasuke? Siapa?' batin gadis pink itu, rupannya diam-diam dia juga menyimak serius pembicaraan para sahabatnya.
…
…
"Tenten. Ada lagi yang ingin kau bicarakan? Ini sudah malam." Sakura yang sepertinya menyudahi acara membacanya menatap layar laptop di depan Ino, tapi masih di posisi awal dia duduk.
"Ah ya. Bolehkah aku minta tolong?" Tenten tersenyum kecil melihat Sakura. Sungguh tipe Sakura, langsung to the point.
"Hn?"
"Bisakah kalian berteman dengan salah satu murid perempuan di sana? Dia juga satu kelas denganmu,Saku." Tenten mengambil nafas panjang. Memejamkan mata sejenak kemudian menatap ke depan, tepat kearah mata hijau Sakura yang masih bergeming di tempatnya. "Dia anak yang baik, sebenarnya dia juga ramah tapi sedikit pemalu dan penakut. Ku harap kalian bisa menjadikannya teman."
"Siapa namanya?" Ino menatap serius kearah layar laptop.
"Namanya Hyuuga Hinata."
"Heeeeee."
"Tolong bertemanlah dengan Hinata Hyuuga."
…
…
...
ISSHO 一緒
Disclamer Masashi Kishimoto
Warning; typo, gajee, AU, OOC dan lain sebagainya
…
…
Don't Like Don't Read
…
…
Rumah bertingkat dua bercat putih itu terlihat ramai akhir-akhir ini. Rumah yang di huni pria single bermasker itu, yang biasanya sepi kini terlihat ceria sejak kedatangan tiga remaja itu, setiap pagi awalan untuk beraktivitas dan sore hari menjelang malam, sudah dapat di pastikan suara candaan dan teriakkan kesal sering membahana dari dalam rumah itu bahkan tetangga sekitar sering merasa terganggu. Seperti pagi ini-
Meja makan yang biasa sepi itu kini tampak ramai, tiga remaja yang berseragam sama itu sedang terlibat percakapan yang entah tentang apapun itu, tapi yang jelas itu bukan soal pelajaran maupun sekolah, mereka bertiga terlihat keasyikkan tanpa melihat waktu yang semakin mendekati jam sekolah. Seorang pria dewasa bersurai silver yang berdiri di dapur hanya tersenyum melihat ke arah ruang makan yang di tempati tiga bocah itu, lalu manik hitamnya melirik ke arah jam yang menempel di dinding kemudian kembali kearah ruang makan. Yah- meski mereka sangat berisik tapi pria dewasa itu sama sekali tak keberatan, dia yang tinggal sendiri di rumah dua tingkat ini memang sangat kesepian sejak dulu tapi sejak kedatangan keponakannya dan dua sahabatnya, rumah yang biasanya sepi ini menjadi sangat ramai.
"Baiklah. Apa kalian akan tetap mengobrol di sini? Atau berangkat sekolah?" suara baritone dalam khas lelaki dewasa berkumandang menghentikan tawa dari tiga bocah tadi.
"Ck. Kenapa cepat sekali sih? Aku kan masih lapar." Ucap Naruto sambil melahap sandwich di tangannnya.
"Mau makan apa lagi semua sudah kau habiskan?" Ino hanya memutar mata bosan sambil melihat kearah piring kosong di tengah meja. "Kau rakus. Aku dan Sakura saja baru makan sepotong."
Naruto hanya menyegir lebar, omongan Ino memang benar, dia sudah menghabiskan semua roti sandwich dalam waktu cepat sedangkan yang lain makan sepotong saja baru habis.
"Bukannya Kakashi Ji-san harus berangkat juga?" Sakura bangkit berdiri setelah menghabiskan sarapan paginya.
Hatake Kakashi yang menjabat sebagai guru matematika di KLS dan juga sebagai paman dari Haruno Sakura hanya menghela nafas. Dan soal hubungan kekeluargaan mereka, hanya Ino, Naruto dan para guru di sekolah yang tahu, sementara di depan murid-murid lain di sekolah ,mereka akan berperan menjadi orang asing sebatas guru dan murid saja.
"Hmm. Aku masih ada urusan? Kalian berangkat saja duluan." Pria bersurai perak itu tersenyum meski tak kelihatan karena tertutup masker.
"Palingan kau ingin membaca buku oranye anehmu itu kan." Naruto ikut berdiri dan merapikan bajunya.
PLETAK.
"Ittai.. sakit" Naruto langsung meringis memegang kepalannya yang barusan terkena jitakanmau maut dari senseinya.
"Ini bukan buku aneh. Buku ini bisa menambah pengetahuan." Kakashi mengeluarkan sebuah benda persegi berwarna kuning oranye dengan tulisan 'icha-icha' dari saku celananya dan menatapnyadengan mata berbinar-binar.
Tiga bocah itu hanya bersweatdrop ria melihat tingkah gurunya yang kelihatan seperti maniak.
"Cih. Dasar pervert. Pantas saja sampai sekarang belum punya istri,"
PLETAK.
"Ittai… Sensei sakit." Naruto sekali lagi meringis sakit mengelus kepala kuningnya.
Kakashi hanya menyipitkan matanya memandang kearah Naruto yang sama sekali tak menunjukkan raut takutnya. Sakura dan Ino hanya mendesah melihat kelakuan mereka, lalu bergegas memakai jaket tebal untuk melindungi dari angin musim gugur dan segera keluar dari rumah tanpa peduli dua orang yang masih bertengkar itu.
…
…
Shimura Sai berjalan pelan kearah kelas dengan senyum yang biasa hadir di wajah tampannya, sesekali dia menundukkan kepala saat beberapa siswi menyapanya di koridor bahkan ada yang memanggilnya manja dari kejauhan tapi sama sekali tak di pedulikannya. Baginya ini sudah jadi resiko sebagai Sai yang merupakan salah satu dari idola sekolah yang banyak di incar para murid perempuan, bukannya dia menginginkannya tapi mau bagaimana lagi jika para siswi di sekolahnya sudah mengidolakannya.
Sai menghentikan jalannya saat melihat seseorang yang di kenalnya sedang berjalan di depannya , surai hitam indigo panjang yang berayun selaras dengan langkahnya yang sedikit cepat. "Hinata."
Hinata menghentikan langkahnya saat terdengar suara familiar yang memanggilnya dari belakang, dengan segera dia menoleh melihat siapa yang memanggilnya meski dia sudah bisa menebak siapa orangnya.
"Ohayou Sai-kun." Hinata tersenyum menyapa Sai yang berjalan kearahnya dengan senyum tipis seperti biasa.
"Ohayou mo." Sai berjalan mendekati Hinata, dan berjalan berdampingan meneruskan langkah menuju kelas mereka. "Jadi dia belum datang, bukannya mestinya hari ini sudah masuk."
Hinata tersenyum kecil, semua murid yang menyapa mereka berdua hanya terdiam dengan segaris merah di pipi melihat gadis Hyuuga itu tersenyum , mengingat dia selalu berwajah dingin di depan yang lain. "Entahlah, kemarin dia bilang akan sekolah tapi tak taulah."
"Haah.. padahal banyak sekali yang menanti kedatangannya di sekolah."
"Ya. Semua para fansgirl nya." Hinata dan Sai tersenyum sambil terus berjalan.
"Emm..Hinata-chan, kurasa kau lebih cocok tersenyum daripada berwajah dingin seperti biasanya."
Hinata yang awalnya tersenyum langsung berhenti dan senyum di wajahnya langsung pudar di gantikan wajah datar. "Jangan bercanda. Aku tidak mau memperlihatkan hal seperti itu pada orang lain lagi, Sai-kun."
"Sekarang berbeda dengan yang dulu, ada kami yang akan melindungimu." Sai mengelus puncak kepala Hinata sambil tersenyum tulus.
"T-tapi a-aku-." Hinata menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Sai.
"Haah. Baiklah, jika terjadi sesuatu bilang saja langsung padaku."
Hinata yang melihat senyum tulus dari Sai turut tersenyum bahagia, memperlihatkan senyum tulus untuk sahabat tak masalahkan. Sai dan dia yang merupakan sahabat terbaiknnya, yang akan selalu melindunginya dan menerimanya.
"Ah. Dua dari murid baru masuk ke kelas mu." Hinata mengangguk. "Ku dengar salah satu dari mereka punya nilai tertinggi di sekolah lama mereka."
"Mereka dari Niigata." Hinata tertawa kecil, dan itu tak terlewatkan di manik hitam Sai.
"Kota di pinggir laut ya. Hmm,salah satu dari mereka masuk ke kelasku. Hinata, kau tertarik dengan salah satu mereka?" Sai tersenyum pada Hinata.
"T-tidak. A-aku c-Cuma." Hinata menunduk, entah menyembunyikan apa tapi dari pandangan Sai terlihat semu kemerahan di pipinya.
"Ku dengar salah satunya laki-laki." Hinata hanya mengangguk. "Kau suka?"
"T-tidak m-mungkin S-sai kun."
"Kenapa? Tidak masalah kan jika kau suka dengan orang itu."
Wajah Hinata berubah sendu, 'suka' rasanya gadis indigo itu kesulitan untuk mengerti kata itu, berteman saja dia enggan apalagi menyukai seseorang, meski saat ini dia punya dua sahabat baik, ya—baginya dua sahabat nya itu cukup untuknya. Sai yang melihat perubahan mood Hinata, sedikit menyesal, mengenal Hinata sejak dulu membuatnya mengerti apa yang membuat gadis cantik itu bersikap dingin pada semua orang terkecuali untuknya dan seorang lagi.
"Ku dengar si pemilik nilai tertinggi itu seorang gadis."
Hinata mengangguk, dia tahu Sai mencoba mengembalikan moodnya kembali ."Ya. Sepertinya sahabatku akan memiliki saingan, nilai-nilainya hampir sama dengannya."
"Benarkah. Sepertinya jadi seru, kau tahu kan sifatnya tidak suka kalah. Semoga saja gadis itu akan baik-baik saja."
Hinata mengangguk dan meneruskan perjalanannya sampai di depan kelas XII A dia pun berpisah dengan Sai penghuni kelas XII B sebelahnya.
…
…
Sakura dan Ino berjalan di koridor sekolah menuju kearah loker, mengambil beberapa barang yang di perlukan untuk hari ini. Karena Ino dan Sakura tidak sekelas, jadinya loker mereka pun terpisah agak jauh, dengan segera Ino menuju ke arah lokernya dan mengambil beberapa buku pelajaran lalu bergegas menuju kearah Sakura yang entah kenapa mematung di depan loker , seperti tak berniat membukannya.
"Memangnya loker itu bisa terbuka jika kau pandang begitu saja." Ino memutar mata bosan. "Cepat buka, bukannya tadi kau bilang ingin cepat masuk kelas."
Sakura tak juga membuka lokernya, entah kenapa dia punya firasat ada sesuatu di dalam lokernya saat ini.
"Ada sesuatu." Sakura melirik kearah Ino, si gadis pirang hanya mengernyit bingung mengartikan dua kata ambigu dari Sakura. "Ada sesuatu di dalam lokerku. Kau tak dengar mereka tertawa di belakang?"
Ino langsung melihat sekeliling, dan benar saja, di balik koridor menuju dalam sekolah, segerombol gadis tertawa sambil melihat kearahnya. Ino hanya memutar mata bosan, pasti mereka sudah merencanakan sesuatu dan itu pasti akan sangat merugikan.
"Mau di buka?"
"Hn."
"Ya sudah. Cepat buka." Ino yang tidak sabaran segera menarik knop loker Sakura dan bersamaan itu sesuatu berhamburan keluar jatuh ke lantai. Karena memang loker tak di pasang kunci hanya pintu yang menutup jadi seseorang bisa memasukkan sesuatu ke dalam loker.
BRUK..SRAK..BRUK.
Ino hanya melongo melihat sesuatu yang jatuh di bawah Sakura. Bungkus roti, wadah bekas jus buah, dedaunan kering yang jelas semua itu sampah bekas yang seharusnya di buang ke tempat sampah, kini berjatuhan dari loker milik gadis pink itu. Sakura sendiri hanya mendesah pasrah melihat sampah-sampah yang berjatuhan dari lokernya, marah—tentu saja, siapa yang mau loker pribadinya di jadikan tempat sampah tapi mau bagaimana lagi di tempat ini dia harus berperan baik-baik setidaknya sampai saatnya tiba.
"Siapa yang sudah menaruh ini semua?" Ino bergidik ngeri melihat banyaknya sampah yang masih berjubel di loker.
"Yang jelas bukan aku."
Suara tawa jelas-jelas terdengar di telinga Sakura, bahkan beberapa siswa yang berjalan melewatinya pun dengan sengaja melempar gumpalan kertas kearah kepala pink Sakura. Ino yang melihatnya menggeram, dia langsung beranjak kearah siswa yang melempar kertas tadi tapi langsung di tahan oleh Sakura.
"Lepaskan tanganku. Jidat."
"Jangan membuat keributan. Di sini kita harus menjaga nama baik sekolah kita." Ino hanya mendengus sebal.
Sakura membersihkan sisa-sisa sampah dalam lokernya dan menemukan sesuatu yang menempel di atas novel miliknya—kertas putih yang sengaja di temple di sampul novel. Sakura mengambil kertas itu dan membacanya, Ino yang penasaran apa yang di baca Sakura , akhirnya ikut membaca.
Cepat dari tempat lain, NERD
Jika tak ingin celaka.
"Apa maksudnya?" Ino hanya menatap heran kertas di tangan Sakura. Gadis Haruno itu sendiri hanya mengendikkan bahu binggung.
"Entahlah." Sakura berjongkok meraih sampah di lantai tapi belum sempat di memegangnya, suara panggilan yang mengisyaratkan namanya menggema di area loker sekolah.
"HARUNO SAKURA. YAMANAKA INO"
…
…
"HARUNO SAKURA. YAMANAKA INO''
Sakura dan Ino segera menoleh keasal suara. Seorang pria dewasa berpakaian ala guru sekolahan dengan wajah penuh dengan bekas luka berjalan kearah mereka berdua wajah menyimpan emosi, ya—Sakura dan Ino mengenal pria tadi yang merupakan salah satu senseinya yang bertugas sebagai pengawas lingkungan sekolah, Morino Ibiki. Ino yang berdiri di samping Sakura langsung menggenggam jemari Sakura, jujur saja mereka sangat tidak ingin berurusan dengan guru killer satu ini dan seketika dua gadis yang sedang berdiri di depan loker itu merasakan firasat buruk.
"Saku, aku punya firasat buruk." Ino berbisik pada Sakura dan di balas anggukkan. Mereka berdua berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Apa yang sudah kalian lakukan? Membuang sampah sembarangan, haah." Suara Ibiki menggelegar di area loker, membuat murid-murid yang melihatnya sedikit merinding ketakutan. Siapa yang tidak mengenal sensei satu ini, selalu mengawasi para murid sampai bagian terkecil pun dan jika ada seorang saja yang melanggar peraturan sekolah dapat di pastikan hukuman sadis siap menanti.
"S-soal i-ni bisa kami jelaskan, Ibiki-sensei. Bukan kami pelakunya, maksudku sampah-sampah ini sudah ada di dalam loker Sakura dan saat kami buka pintu loker, sampahnya berjatuhan.'' Ino menjawab takut-takut.
"Mereka bohong Ibiki-sensei. Tadi kami lihat mereka dengan sengaja membuang sampah di sini."
Ino menatap tajam seorang siswi berambut merah berkacamata mendekati mereka dengan seringai kecil di wajahnya. Ino mengenali gadis merah itu, gadis yang sama dengan pelaku kejadian kemarin di kantin, dan dia juga salah satu dari gerombolan siswi yang tertawa di belakangnya tadi. Ckk.. gadis merah ini ingin membuat masalah dengannya, Ino menggeram marah, kedua tangannya mengepal erat.
"Apa maksudmu?"
"Kau dan-." Gadis merah itu mengacungkan jari telunjuk kearah Ino lalu kearah wajah Sakura. "Si kutu buku . Dengan sengaja menyebar sampah ini."
"KAU." Ino mendesis marah, semua yang di katakan si gadis merah hanyalah fitnah dan Ino sangat yakin pelaku sebenarnya adalah gadis ini. "Ini pasti perbuatanmu."
"Haah. Sekarang kau menuduhku, dasar anak kampung." Murid-murid mulai berkumpul melihat, suara tawa dan cemoohan untuk Sakura dan Ino mulai terdengar.
Ino menggeram marah, 'anak kampung' sebutan itu membuatnya cukup terhina, meski dia berasal dari kota kecil di pinggiran laut, yang tentu saja berbeda dengan tempatnya tinggal sekarang di tengah ibukota, Niigata—tempat tinggalnya dulu tidak kalah maju dari Tokyo, bahkan pemandangan di sana jauh lebih indah dari Tokyo yang penuh gedung-gedung tinggi. Lagipula, Niitsu High School-sekolah lamanya tidak kalah maju meski jauh lebih megah dari Konoha Leaf School.
"K-kau-."
"DIAAMM." Ibiki berteriak menghentikan pertikaian dua muridnya itu, sebelum hal-hal yang tak di inginkan terjadi, biasalah pertarungan ala wanita-main cakar dan jambak—dan bila itu terjadi maka akan sulit memisahkan mereka berdua.
"T-tapi Sensei ini bukan salah kami." Ino masih mencoba membela diri.
"Aku bilang DIAM." Ibiki menatap tajam kearah Ino.
"T-tapi kan -." Ino tidak jadi melanjutkan perkataannya, saat manik hijau itu melirik tajam kearahnya dari balik lensa.
"Gomen Ibiki-sensei. Kami akan membersihkan sampah-sampah ini." Sakura berojigi di depan Ibiki.
Ibiki melirik kearah Sakura yang sejak tadi diam , kini berojigi di depannya.
Sebenarnya dia cukup penasaran dengan keponakan dari salah satu guru di tempatnya bekerja ini, yang dia dengar gadis pink ini memiliki nilai tertinggi di sekolah lamanya. Selain itu sejak tadi gadis pink ini tak juga mencoba untuk membela diri, hanya gadis pirang di sampingnya yang tetap ngotot merasa tak bersalah, bukannya dia tak ambil peduli pembelaan dari Yamanaka Ino tapi melihat sampah yang tersebar di bawahnya membuatnya sedikit sangsi dengan gadis pirang itu, apalagi Sakura Haruno sama sekali tak menyangkalnya, mereka murid baru tapi sudah melanggar peraturan, mereka berdua pantas di hokum kan.
"Kau tak mencoba membela diri. Haruno."
"Iie. Saya akan menerima hukuman dari anda."
"Sakura." Sakura melirik lagi kearah Ino. Gadis pirang itu kembali terdiam.
"Baiklah, kalian ku hukum membantu di perpustakaan setelah pulang sekolah nanti. Kalian mengerti."
"Ha'i." Sakura dan Ino menjawab bebarengan. Ibiki segera melangkah pergi meninggalkan tempat itu, utnuk memeriksa area sekolah yang lain tapi belum sempat dia beranjak suara lain mengintrupsinya.
"Sensei, kenapa mereka hanya di hukum membantu di perpustakaan? Mereka melanggar peraturan, harusnya mereka di hukum lebih berat lagi."
"Benar mereka kan melakukan pelanggaran." Suara murid-murid lain mulai terdengar mencela Sakura dan Ino.
"Seharusnya di hukum berat." Suara lain menimpali, Karin yang melihat ada teman untuk memojokkan dua murid baru itu menyeringai senang.
"Berhenti bicara, Uzumaki Karin. Atau kau juga ingin di hukum."
Karin—si gadis merah menundukkan kepala, di hukum—cih, dia sangat tidak menginginkannya tapi dia masih ingin menjahili dua anak baru itu. "G-gomen Sensei."
"Cepat masuk ke kelas masing-masing. Sekarang juga."
Ibiki Morino berjalan menjauh dan belok di koridor yang menuju tengah sekolah. Area loker menghening, Sakura dan Ino bergegas membersihkan sampah-sampah sedangkan murid yang lain mulai membubarkan diri kembali menuju kelas masing-masing.
Karin berjalan angkuh kearah Sakura dan Ino, dan berdiri tepat di depan Sakura dengan tangan menyilang di depan dada, si gadis Haruno yang merasa ada seseorang yang berdiri di depannya itu, segera menengadah menatap kearah Karin. "Dengar nerd sebaiknya kau turuti kata-kata di kertas itu, jika tidak-." Karin melihat di depan Sakura ada bekas jus kotak, dengan menggeram dia menghentakkan kakinya ke kotak bekas jus tadi hingga menjadi gepeng. Lalu menendangnya kearah Sakura dan beranjak pergi. "Kau akan jadi seperti ini. Ingat itu, jaa~."
"Kuso. Berani sekali dia berbuat begitu." Ino yang akan berdiri menyusul Karin, lagi-lagi di hentikan oleh tangan Sakura yang mencengkeram pergelangannya. "Lepas tanganku. Jidat."
"Berhenti Ino. Kau mau membiarkanku mengurusi ini sendiri?." Sakura menatap jijik kumpulan sampah yang masih tercecer di sekitarnya.
"T-tapi dia sudah menghinamu." Ino masih tak terima perlakuan Karin.
"Biarkan saja, dia bias kita urus nanti. Sekarang kita urusi sampah ini."
"Haah. Baik-baik Sakura-sama, kita akan mengikuti permainanmu."
Mereka kembali berkutat dengan sampah, setelah selesei membuang sampah, mereka bergegas masuk ke kelas masing-masing, dan tentu saja mereka telat masuk, tapi karena beralasan di hukum oleh Ibiki Morino akhirnya mereka berdua di perbolehkan masuk ke kelas masing-masing.
…
…
…
Sepanjang pelajaran Sakura hanya mendesah bosan, dari pagi sampai akhir jam sekolah dia hanya bisa diam di bangkunya sendiri—ya hanya sendiri karena teman sebangkunya lagi-lagi tidak masuk sekolah, meskipun adapun belum tentu juga dia mau akrab dengan teman sebangkunya, hanya saja jika ada orang di sampingnya kan tidak sepi begini.
Lagipula, aneh saja sepertinya pihak sekolah juga tak mencoba mencari tahu dari murid lain. Sakura penasaran sebenarnya teman sebangkunya ini anak yang seperti apa? Laki-laki kah? Atau perempuan kah? Ingin bertanya pada murid lain—jangan mimpi – mereka saja melihatnya sinis, bagaimana mau tanya?.
Sakura melirik ke dua bangku di depannya, Naruto terlihat mencoba mengajak si gadis Hyuuga itu bercanda meski sama sekali tak di pedulikan balik, kasihan kau Naruto. Sejujurnya Sakura sendiri merasa aneh dengan gadis bersurai indigo itu. Mereka tidak berteman tapi kenapa kemarin dia memperingatkannya untuk pindah tempat agar tak mendapat masalah, dan jika memang si gadis indigo itu ingin berteman dengannya setidaknya dia tak akan bersikap dingin pada Naruto bahkan sekitarnya, tapi sepertinya gadis itu memang anak baik-baik.
'Tolong bertemanlah dengan Hinata Hyuuga' Sakura mendengus mengalihkan pandangannya kearah jendela, menatap awan yang ber'arak di langit biru membuatnya tenang, mengingatkannya pada kota tempat tinggalnya serta teman-temannya. Berteman ya? Sepertinya bisa dia coba.
TENG..TENG…TENG
Suara lonceng usai pelajaran berbunyi, semua murid tampak bersorak senang, dengan penuh semangat mereka membersihkan mejanya dari buku-buku pelajaran. Sakura mendesah sepertinya dia akan pulang terlambat hari ini, alasannya—tentu saja dia masih ingat hukuman dari Ibiki-sensei tadi pagi, untung saja ada Ino yang ikutan di hukum meski sendiri pun tak masalah karena tempat di mana dia di hukum nanti adalah tempat kesukaannya.
"Sakura-chan, ayo pulang." Naruto berdiri di samping bangkunya.
"Kau duluan saja, aku dan Ino masih harus menyelesaikan hukuman dari Ibiki-sensei." Sakura memasukkan buku pelajaran ke dalam tas selempangan warna hitam miliknya dan bangkit berdiri melewati Naruto menuju pintu kelas. Tadi, Naruto sendiri langsung bertanya pada Sakura saat istirahat siang, perihal kenapa dia terlambat masuk kelas , seingatnya kan dua gadis itu berangkatnya kan duluan, dan tentu saja Sakura bercerita tentang yang kejadian pagi tadi, meski langsung to the pointnya.
'Haah, kalau Sakura-chan dan Ino di sekolah , di rumah aku kesepian. Aku tidak mau kalau harus berdua saja dengan Sensei maniak buku itu. Lebih baik aku ikut mereka' batin Naruto sambil berdiri diam di tempatnya.
"Sakura-chan. Aku boleh membantukan, kalau pulang sekarang di rumah nanti aku kesepian.'' Naruto tersenyum lebar.
"Hn?''
''Aku dengan senang hati membantumu, lagipula aku tidak mau di rumah bersama paman mesum'mu itu." Naruto tertawa lebar dan Sakura hanya mendelik sebal pada Naruto, meskipun dia juga mengakui kalau Kakashi itu mesum tapi kan dia tetap pamannya, dan dia tidak suka jika ada yang menjelek-jelekkannya. Ngomong-ngomong, bukannya tadi gadis pink itu juga sempat menjelekkan pamannya,ya kan?.
"Iku zo.. Sakura-chan." Naruto berlari semangat kearah Sakura dan langsung menggandeng tangan Sakura menuju keluar kelas dan ternyata sudah ada Ino yang menunggunya bersender di amping pintu.
"Hee, Naruto kenapa kau masih di sini?" Ino mengernyit bingung melihat adanya Naruto di samping Sakura.
"Aku berbaik hati meringankan hukuman kalian. Ayo pergi." Naruto yang masih menggandeng Sakura langsung berjalan agak cepat, membuat Sakura kewalahan menyeimbangkan langkahnya.
"Matte yo, Sakura ..Naruto." Ino berlari mengejar kedua temannya yang berjalan agak jauh di depannya.
…
…
Perpustakaan. Tempat di mana puluhan –ah tidak-tidak bahkan ratusan buku berbagai genre tersimpan, tempat 'jendela dunia' itu bermukim, entah itu buku tua maupun buku baru semua ada di sini. Jika kalian membayangkan perpustakaan HLS , bisa di jabarkan seperti ini, rak kayu tinggi yang berjumlah puluhan yang berdiri tegak berjejer berderet seperti domino di bagian tengah ruangan maupun pinggir, serta puluhan kursi dan meja tempat membaca yang di letakkan di bagian pinggir kanan-kiri rak buku, dan suasana ruangan yang hening dan tenang—sama seperti perpustakaan yang lain.
Sakura dan dua sahabatnya memasuki perpustakaan sekolah dan langsung menemui penjaganya, seorang wanita cantik dengan surai ungu panjangnya sedang serius menatap kearah computer.
"A-ano Sensei."
"Ah ya, ada yang bisa ku bantu. Hmm, aku belum pernah melihat kalian? Anak baru ya?"
"Ah ya. Kami siswa pertukaran pelajar."
"Oh." Wanita bersurai ungu panjang itu melirik kearah Sakura yang sibuk memperhatikan sekeliling perpustakaan. "Jadi, kau keponakan dari Kakashi-kun ya?"
Sakura yang baru sadar di perhatikan langsung mengangguk. Sebenarnya Sakura tadi sibuk memperhatikan ruangan perpus, sepertinya dia tak sabar untuk menyentuh buku-buku itu. Tapi tunggu dulu, tadi sensei di depannya ini memanggil pamannya dengan –kun, sepertinya ada sesuatu dengan dua orang dewasa itu."Ya."
"Kenalkan namaku Yugao Uzuki. Salam kenal." Wanita yang memperkenalkan diri sebagai Yugao itu tersenyum manis kearah tiga murid di depannya. "Jadi? Kalian akan meminjam buku?"
"Sebenarnya kami ke sini, karena di hukum untuk membantu di perpustakaan."
"Oh. Baiklah. Kebetulan sekali, kalian bisa membantuku mengembalikan buku-buku itu di tempatnya." Yugao menunjuk beberapa tumpuk buku di samping kiri mejanya. "Ku dengar Sakura-chan sangat suka membaca."
Sakura mengangguk, Ino dan Naruto yang melihat tumpukan buku itu langsung merinding, keduanya bukan orang yang rajin membaca buku jadi jika harus meneliti buku dan mencari tempat asal buku di ruangan sebesar ini, membuat keduanya bergidik ngeri.
"Ayo." Sakura berjalan mendahului keduanya dan segera meraih setumpuk buku di tangannya lalu menuju kearah rak-rak buku.
"Haah, oke. Ganbatte ne.'' Ino mencoba menyemangati diri sendiri lalu berjalan dan meraih setumpuk buku lalu mengikuti kearah Sakura. Tapi baru setengah jalan dia berbalik melihat Naruto yang tak kunjung mengambil buku, masih berdiri di tempatnya."Naruto,cepatlah. Aku ingin menyeleseikan hukuman ini secepatnya."
"A-ano sepertinya aku mengundurkan diri saja." Naruto meringis takut memandang meja yang masih tersisa beberapa tumpukkan buku.
"Apa maksudmu?"
"Tiba-tiba aku ingat punya janji dengan seseorang, jadi aku pergi dulu. Selamat berjuang."
"Hei, tunggu Naruto-baka." Ino berteriak lantang, tak menyadari di mana dia sekarang atau memang terbawa emosi.
Naruto terkikik senang dan dengan cepat membalikkan badan menjauhi Ino yang sudah berteriak emosi padanya, tapi ternyata ketika dia berbalik sudah ada seseorang yang berdiri di belakangnya."Wooaahhh. Sakura-chan, s-sejak k-kapan berdiri di belakangku."
"Kau mau kemana,Naruto?"
Naruto sendiri masih mengelus dada kaget karena melihat kemunculan Sakura yang secara tiba-tiba berdiri di belakangnya, tapi bukannya tadi Sakura pergi membawa tumpukan buku kearah rak bagian dalam tapi kenapa sekarang dia berdiri di depannya, bukannya buku-buku tadi cukup tebal dan berat lagipula jika Sakura sudah menaruh di tempat asal kenapa waktunya cepat sekali.
Ck.. jangan-jangan Sakura punya jurus ninja seperti di buku komik yang selalu dia baca, kalau tidak salah nama jurusnya—Hiraishin no Jutsu. Meskipun ini pikiran konyol tapi siapa tahukan? Atau jangan-jangan Sakura punya sihir yang membuat berpindah lokasi secara cepat, Naruto yang membayangkan kemungkinan-kemungkinan konyol yang mampir di pikirannya langsung merinding ngeri.
"A-ano a-aku m-mau-."
"Dia mau kabur." Ino berteriak lantang dan tentu saja mendapat peringatan dari penjaga. Ino hanya cengengesan sambil membungkuk meminta maaf.
"Benarkah?" Sakura menatap Naruto.
"T-tidak kok. Tadi aku Cuma mau menaruh tasku di meja ini saja.'' Ucap Naruto sambil melepas tas selempangannya keatas meja.
"Kalau begitu, ayo cepat bantu kami." Sakura melewati Naruto dan kembali meraih tumpukan buku dan berjalan kearah rak dalam lagi. "Dan jangan coba-coba kabur."
Naruto hanya bisa pasrah, bukannya dia tidak bisa kabur dari perpustakaan, hanya saja jika tak menuruti Sakura atau bahkan sampai membuat gadis pink itu marah, bisa-bisa dia tidak di ajari di semua mata pelajaran yang sulit bahkan bisa-bisa dia di usir dari rumah paman gadis pink itu, mau tinggal di mana nanti dia. Ino yang merasa menang –entah karena apa, tertawa senang.
…
…
Tumpukan buku telah kembali ketempatnya masing-masing, Naruto yang sudah sudah ikut membantu langsung duduk sambil menaruh kepala kuningnya di atas meja samping tas selempangannya yang di ikuti Ino yang juga langsung duduk di samping Naruto.
Sakura yang sendiri yang sudah selesei dari tadi, berniat meminjam beberapa novel untuk di baca nanti di rumah.
Sakura berjalan kearah rak dalam bagian novel-novel classic kuno, dengan langkah pelan tanpa suara dia berjalan sendiri di suasana hening perpustakaan, tapi secara tiba-tiba dia menghentikan langkah saat terdengar suara samar-samar di telinganya, seperti suara rintihan pelan. Sakura yang penasaran pun mengikuti sumber suara itu dan arahnya menuju ke belakang rak tinggi pojok sendiri, Sakura yang sudah semakin penasaran tingkat tinggi semakin mendekat, apalagi suara yang tadinya dia kira rintihan kini terdengar jelas seperti desahan dan erangan..
"Emmh..mmmhh." .
"Ahh… mmm.. hhh." Sakura pun berjalan melewati rak dan menemukan sebuah meja yang letaknya terpojok tersekat rak tinggi tadi membuatnya terlindungi dari pandangan, dan letaknya tepat di samping jendela.
Tapi sayangnya langkahnya terhenti membatu dengan mata hijaunya mendelik kaget tertutupi kacamata miliknya melihat pemandangan di depannya. Dan jujur dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang?
Di depan mata Sakura sekarang, dua manusia berbeda gender sedang duduk saling memangku berhimpitan tepatnya si pemuda yang memangku si gadis, duduk di bangku sudut dekat jendela, penerangan area pojokkan itu yang berasal dari matahari sore di luar jendela tepat di samping pasangan itu, membuat Sakura dapat melihat dengan jelas kegiatan dua orang itu dari depan sedikit menyerong kesamping, selain itu karena tempatnya berdiri tak jauh dari mereka sekitar dua meter saja.
Seorang pemuda yang bersurai hitam kebiruan—Sakura melihatnya begitu mungkin effeck sinar matahari—dengan potongan rambut keatas bagian belakang sedang memangku seorang gadis bersurai hitam panjang yang menengadahkan wajahnya keatas sambil mengeluarkan suara desahan.
Yang membuat Sakura menganga itu pose mereka berdua serta seragam mereka berdua yang tampak berantakan, si pemuda yang memakai kemeja putih di keluarkan dengan rambut yang tampak berantakan karena ulah tangan si wanita sedangkan wajah si pemuda tak kelihatan karena sedang tersembunyi di leher si wanita—yang entah sedang melakukan apa itu? Tangan kanan pemuda itu melingkar erat di pinggang gadis bersurai hitam tadi, sedangkan yang kiri bertengger manis dipaha mulus si gadis .
Dan soal penampilan si gadis berambut hitam tak kalah berantakan, kemeja putihnya kancingnya terbuka di bagian atas menampilkan separo dadanya yang maih tertutupi bra hitam, rok lipit warna merah kotak-kotaknya sudah tersingkap keatas mungkin perbuatan tangan si pemuda , dan suara apa itu? Menjijikkan. Sakura merasakan wajahnya memanas melihat adegan yang menurutnya sangat fulgar itu, malu—ya sih walau sedikit tapi sebenarnya wajahnya memerah itu karena marah karena tempat yang baginya surga itu terkotori oleh tidakan asusila, tapi entah kenapa kakinya tidak bisa berbalik pergi, ataupun mendekat untuk mengusir dua makhluk itu, emerald miliknya masih menatap kegiatan sepaang makhluk tuhan dI depannya .Yaah—setidaknya sampai suara baritone rendah dan dingin itu menyapa pendengarannya.
"Kau mau jadi penonton saja, atau ikut bergabung juga, pinkie."
Sakura tersentak kaget mendengarnya, heeh— sejak kapan pemuda itu menatapnya? Dan apa seringai yang menjijikkan itu di tujukan untuknya?. Dan apa katanya tadi 'bergabung'?
'Kuso' batin Sakura kesal sambil menatap manik onyx pemuda yang masih menatapnya sambil tetap menampilkan seringai seksinya.
…
…
…
TBC
…
…
…
Hai…hai…Minna-san.
Bagaimana? Sudah lamakah menunggu lanjutan fic ini , maaf ya…soalnya kan lagi cari ide nih. Tapi gimana chap ini menarik kah? Kok kayaknya banyak kekurangan ya dan lagi sepertinya kepanjangan. Kemarin juga banyak kesalahan .(#pundung di pojokkan#).
Oh.. ya sudah tahukan si cowok yang nongol terakhir? Siapa yang mau nebak?.dan chap depan cowok ini bakalan muncul.
Terima kasih ya yang udah review, follow dan favorit fict, suenangnya aku.
Dan balasan reviewnya udah ku rangkum di sini;
Kenapa NaruSakuIno ga negebalas?
Kan mereka masih anak baru jadikan mesti jaga image dulu kan, masak baru dating udah bikin ulah, bisa-bisa di keluarin. Tapi tenang aja pati akan di balas, di tunggu aja.
Kapan Sasuke muncul?
Chap depan bakal muncul, tenang saja.
Ada yang Tanya Hinata kenapa?
Jawabannya…. Jeng-jeng-jeng…. Ikutin chap aja. Biar jadi pertanyaan dulu.
Ada yang tanya soal tempat tinggal?
Aku di Kediri- east java- my home sweet home.
Oh ya kayaknya setiap karakter perlu di bahas masing-masing ya, tapi nanti kalau udah pada kumpul kan masih beberapa yang muncul jadi sabar ya, ada beberapa chara di sini bakal ku bikin OOC.
Thanks to:
Ntika blossom – Eysha CherryBlossom – anita nurulfatma – Ah Rin – Tafis – Arufi Rizuki Yoshida – Fii san – NamikazeARES – lui h – guest – indah20499 – icha – AngelzVr – Mi chan – nyakoi chan – xoxo – Uzumaki Eng – cherryl sasa – YashiUchiHatake – Iwasaki ifha.
…
…
Akhir kata ARIGATOU MINNA san.
REVIEW please..
…
…
